Hari Jadi - Shikadai x Yodo by Joruri Hime
Boruto © Masashi Kishimoto & Ikemoto.
Rate : T
Genre : Romance, Slice of life.
Warning : ShikaYodo/DaiYodo AU, Aged-Up Chara, Typos, OOC.
.
.
.
Jam sudah menunjukan pukul 11.40 malam, namun seorang pria tampan bermata indah dengan kuncir tinggi seperti nanas itu masih sibuk bekerja membersihkan gelas-gelas bekas pelanggan lalu menaruh kembali dengan rapih ke tempatnya. Shikadai Nara namanya, seorang barista handal yang bekerja di bar tengah kota.
Shikadai mendesah pelan saat melihat jam di tangan kirinya. Namanya juga bar di tengah kota metropolitan, semakin malam semakin ramai pengunjung. Namun stand coffee tempatnya bekerja akan tutup dua puluh menit lagi. Yang buka hanya stand minuman seperti cocktail, wine, sake, dan minuman beralkohol lainnya.
Bar sedang memutar lagu Ariana Grande ft. Justin Bieber – Stuck With You saat langkah Shikadai tertuju pada stand di mana tempat temannya bekerja. Kemudian Shikadai bersandar di sisi meja stand.
"Yo!" sapa Shikadai sambil tersenyum kepada bartender tampan didepannya.
"Yo." balas Kawaki sambil memberikan gelas berisi mocktail buah kepada Shikadai.
"Shift malam lagi?" tanya Shikadai sambil terkekeh kemudian menyesap mocktail yang diberikan Kawaki.
Kawaki hanya mengangguk seraya memberi tanggapan.
"Sudah baikan?" lanjut Shikadai sambil memutar-mutar pelan gelas mocktail tersebut.
"Sudah." kata Kawaki singkat sambil mengelap bagian meja yang basah.
"Sudah ku bilang jangan nekat untuk merokok lagi." Shikadai kemudian tertawa.
"Berisik." kesal Kawaki sambil memutar bola matanya.
"Kau akan tergoda untuk merokok terus kalau bekerja di bar. Kenapa tidak coba kerja kantoran seperti Boruto. Lagipula akan lebih banyak waktu di malam hari bersama Sumire kan." Shikadai memberikan saran dengan konotasi meledek, kemudian menyesap mocktailnya lagi.
"Kau pikir kantor mana yang akan menerima pria dengan rambut acak-acakan, tindik alis dan kuping, serta tato diwajah? Kantor polisi?! Belum lagi otak ku tak sepandai kau dan Boruto." Jawab Kawaki dengan kesal sambil merebut gelas berisi mocktail ditangan Shikadai.
"Hey, aku belum selesai minum!" protes Shikadai sambil terbatuk.
"Kau sangat berisik. Lagipula bukannya kau ada kencan dengan kekasihmu yang sinis itu? Sana pulang." tanya Kawaki yang tak kalah sinis.
"Yo yo~ Chill. Yodo cantik, tidak sinis. Dan stand ku akan tutup 10 menit lagi." ujar Shikadai sambil melirik jam ditangannya.
"Lebih baik kau bersiap tutup stand coffee mu sebelum ada pelanggan lagi yang memesan." ancam Kawaki kemudian fokus untuk membuat pesanan pelanggannya.
"Oke-oke. Aku duluan."
Shikadai berjalan kembali ke stand coffee tempatnya bekerja untuk mematikan mesin dan menutup stand kemudian bersiap pulang.
Selesai membereskan stand, Shikadai mengambil ponselnya yang bergetar di saku celana. Belum satu menit melihat ponsel, Shikadai membulatkan matanya kemudian mengambil jaketnya di bangku lalu berjalan cepat keluar bar.
Sampai di depan bar, Shikadai langsung menuju kearah perempuan cantik bersurai blonde panjang dengan blue jeans dan jaket berwarna hijau tua yang sewarna dengan jaketnya. Shikadai kemudian memeluknya dari belakang lalu meletakan dagunya di pundak kanan sang perempuan sehingga kekasih cantiknya tersebut tersentak pelan. Namun tak lama sang kekasih tersenyum kemudian mengusap lembut tangan Shikadai yang melingkar di perutnya.
"Kenapa menyusul? Kan sudah ku bilang tunggu saja di rumahmu, nanti aku jemput." kata Shikadai pelan di sisi tengkuk kekasihnya.
"Kamu lama tau. Kalau menunggu lagi nanti bisa-bisa kita bukan malam malam, tapi sarapan pagi." bibir cantik Yodo sekarang maju kedepan.
Shikadai terkekeh kemudian mencium pipi kanan Yodo, "Oke-oke, kita jalan sekarang ya?"
Shikadai berdiri tegak kemudian memakai jaketnya, lalu meraih tangan Yodo dan mereka berjalan bersama menuju tempat makan pinggir jalan favorit mereka sambil bergandengan tangan.
Manusia hanya bisa merencanakan, namun tetap Tuhan yang menentukan. Contohnya hari ini, dimulai dari Shikadai yang mendapatkan kerja shift malam, kemudian kesialan berlanjut di mana tempat makan favorit mereka tutup dan berujung berkencan di apartemen Shikadai. Toh, jam juga sudah menunjukan pukul setengah satu malam.
Mereka berdua masuk lalu melepas jaket dan hanya menyisakan kaos putih polos serta jeans. Shikadai menyalakan kotatsu table sebelum ia masuk kedalamnya dan bersandar pada dudukan sofa. Kemudian Yodo langsung beranjak ke dapur untuk melihat apa yang bisa mereka makan malam ini.
"Hanya ada ini di dapur mu, Shikadai Nara." kata Yodo sambil meletakan coklat panas dan ramen cup yang baru diseduh diatas kotatsu table.
"Hehe, aku belum belanja bulanan." kata Shikadai kemudian tersenyum kearah kekasihnya, "Tidak apa kan?" tanya Shikadai ke Yodo.
"Ya, ini sudah cukup." jawab Yodo yang kemudian mengambil tempat di samping kekasihnya yang duduk di bawah meja penghangat. Shikadai merangkul pinggang Yodo dari samping lalu mengecup kepala kekasihnya.
"Tidak jadi kencan di luar lagi ya? Padahal ini hari jadi kita." ujar Shikadai pelan, takut kekasihnya kecewa.
"Tidak apa-apa, aku mengerti keadaan. Lagipula selagi masih bisa bertemu denganmu itu tidak akan jadi masalah." kata Yodo sambil menyamankan posisinya dan bersandar didada Shikadai.
"Oh iya, aku lupa." Shikadai merogoh sebelah kiri kantong celananya kemudian mengeluarkan keychain berbahan resin berbentuk tessen dengan tiga bulatan sebagai pola tessen, dan sisanya diisi dengan bunga-bunga kering cantik berwana ungu. Lalu ada juga bentuk kepala rusa dengan ukuran yang lebih kecil.
"Eh?" ujar Yodo bingung kemudian mengambil gantungan yang ada ditangan Shikadai, "Cantik sekali. Mirip kipas ibu kamu. Tapi rusanya mirip kamu," lanjut Yodo sambil terkekeh.
"Itu aku custom khusus untuk kamu. Anyway, Happy First Anniversary." kata Shikadai kemudian mengecup pucuk kepala Yodo.
Yodo tertawa geli membayangkan Shikadai memesan barang perempuan, mengingat Shikadai selalu mengeluh merepotkan soal ini dan itu. Seperti pekerjaan, walaupun otaknya sangat cerdas tapi dia tidak suka terlibat dengan banyak kertas dan hal-hal merepotkan seperti dunia kantoran. Sampai akhirnya dia memilih jalannya sediri untuk menjadi barista karena tidak ada target yang membuat stres.
Yodo menatap kekasihnya kemudian mengecup bibir Shikadai sekilas, "Terima kasih."
Yodo mengambil ponselnya yang ada diatas kotatsu, kemudian memperlihatkan layar ponselnya ke depan wajah Shikadai.
"Hadiah dariku belum sampai, masih dijalan. Happy First Anniversary, Sayang." lanjut Yodo.
Shikadai membulatkan mata indahnya saat melihat apa yang dibeli Yodo untuk dirinya, kemudian dia melihat Yodo dengan mulut terbuka.
"Hey, apa kau gila?" ujar Shikadai dengan nada tinggi.
Dia sungguh terkejut karena kekasihnya membelikan lima brew coffee manual dan dua mesin brew coffee modern, yang di mana masing-masing harganya berkisaran dari satu juta sampai tiga juta. Dan oh! Ini adalah hari jadi mereka berdua, bukan ulang tahunnya.
Lelaki tampan itu sesak nafas mengingat dia hanya memberikan gantungan kunci berbahan resin untuk kekasihnya.
"Habisnya aku tidak mengerti mana saja yang akan kamu pakai. Jadi aku beli semua, beda bentuk, beda fungsi kan?" kata Yodo dengan rasa tidak bersalah. Ya memang dia tidak salah.
Shikadai memijat pelipisnya pelan, kekasihnya sungguh membuat sakit kepala. Kemudian dia menghela nafas pelan lalu menatap wajah Yodo.
"Nanti uangnya aku ganti, nyicil." kata Shikadai berusaha selembut mungkin agar Yodo tidak tersinggung.
Tapi kemudian Yodo bangkit, duduk dengan posisi tegak menghadap Shikadai.
"Ini kan hadiah, aku tidak butuh refund!" Yodo marah.
"Tapi-" ucapan Shikadai terputus.
"Kamu mau bertengkar di hari jadi kita?" tanya Yodo dengan serius.
Oh, kesialan berikutnya. Tentu saja Shikadai tidak mau!
Shikadai menghela nafas berat kemudian meraih pipi Yodo secara lembut dengan kedua tangannya, lalu mengusap wajah cantik kekasihnya itu perlahan.
"Bukan begitu maksudku, dasar merepotkan." Shikadai menghela nafas lagi kemudian melanjutkan kata-katanya, "Cuma ini terlalu mahal, bukan bermaksud meyinggungmu. Aku sangat senang dengan hadiahnya. Tapi uangmu itu... Apa kamu tidak ada kebutuhan lain? Iya aku tau kamu tidak akan bertanya apa yang aku butuhkan karena ini kejutan. Tapi... hah..." Shikadai kehabisan kata-kata, karena dia tau jika melawan wanita tidak akan ada habisnya. Yodo dan ibunya sama, keras kepala.
Yodo hanya mengerutkan keningnya dengan penjelasan Shikadai. Kemudian Shikadai menyatukan keningnya ke kening Yodo. "Yuk makan, pasti ramen dan coklat panasnya sudah dingin." Kata Shikadai selembut mungkin.
Namun Yodo masih terdiam dengan wajah yang masih ditekuk.
Merepotkan! batin Shikadai meronta.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud memarahi dan menyinggung kamu. Aku sungguh senang atas hadiahnya. Terima kasih, Cantik." kata Shikadai lembut kemudian mencium bibir Yodo dan melumat sebentar bibir bawah kekasihnya, "Sudah ya, aku tidak mau bertengkar." ciuman Shikadai kini pindah di kening Yodo.
Yodo tersenyum kemudian mengecup hidung Shikadai.
"Ayok kita makan!" ajak Yodo bersemangat.
Shikadai hanya tersenyum, dan kemudian mereka bersiap untuk menyantap ramen yang sudah dingin itu sambil Shikadai berfikir hadiah apa yang harus dia beli nanti untuk ulang tahun Yodo dan hari jadi mereka berikutnya.
Merepotkan!
.
.
.
End
