"Advice" by Meltavi

Boboiboy © Animonsta Studios

Fanfic ini aku tulis tidak mengharapkan keuntungan apapun, hanya untuk kesenangan semata^^

Warning(s) : AU, HaliYa, romance, comfort, college!AU, typo, gaje, dll.

Selamat membaca^^

...

..

.

Halilintar merebahkan kepalanya di atas meja belajarnya. Mengabaikan laptop di depannya yang masih menyala, juga beberapa notif masuk dari grup kepanitiaan yang tidak pernah berhenti sedari pagi. Pemuda itu memejamkan matanya beberapa detik, berusaha menyingkirkan rasa pening di kepala.

Setelah puas melakukannya, Halilintar kembali menegakkan tubuhnya. Matanya yang sayu menatap datar laptop yang masih anteng menampilkan file proposal kegiatan kampusnya. Bukan itu saja yang harus ia kerjakan malam ini. Terhitung ada 4 lagi yang menunggu, dan Halilintar hampir gila rasanya. Sampai kapan ini berakhir?

Helaan napas dikeluarkan. Halilintar melirik ponselnya, menemukan satu notifikasi yang langsung menarik seluruh atensinya. Dari Yaya.

[Kamu masih ngerjain acara kepanitiaan? Istirahat dulu Hal. Kamu dari pagi lho ngerjain itu semua.]

Segaris senyum langsung terukir di wajah pemuda yang dikenal dingin oleh seantero kampus itu. Halilintar membaca lagi pesan dari kekasihnya. Hatinya mendadak hangat hanya karena sederet kata penuh perhatian yang dikirim Yaya. Halilintar sadar, hanya Yaya yang dapat membuat dirinya tersenyum.

Alih-alih membalas pesan dari Yaya, Halilintar menekan ikon telepon. Ia bangkit dari duduknya sambil menempelkan benda tipis itu di telinga. Suara panggilan tersambung menyapa telinganya sembari ia berjalan ke arah balkon. Halilintar berdiri di sana, membiarkan angin malam menyapa kulitnya hingga suara Yaya terdengar.

"Halo, Hali? Ada apa?"

Halilintar lagi-lagi tersenyum. Mendengar suara Yaya saja rasanya senang sekali.

"Nggak papa. Aku cuma mau denger suara kamu." ujar Halilintar. Ia menumpukan sikunya di atas pagar pembatas, kedua iris matanya tak henti menatap lampu-lampu kota di bawah sana.

"Kukira kenapa. Tiba-tiba telepon, nggak kayak kamu biasanya," sahut Yaya. Halilintar terkekeh. "Atau jangan-jangan ... kamu ada masalah? Di kepanitiaan?"

Halilintar buru-buru membalas sebelum Yaya berspekulasi lebih banyak lagi.

"Nggak, bukan itu, kok. Aku cuma lagi capek aja, makanya mau denger suara kamu ... " ucap Halilintar, tanpa menyadari nada suaranya memelan. Tak ada sahutan dari Yaya selama beberapa detik. Halilintar mengernyitkan dahi, ia kembali berucap saat suara Yaya tiba-tiba terdengar lagi.

"Aku disini, kok." Yaya diam sebentar sementara Halilintar menunggunya. "Kamu bisa cerita ke aku kalo ada apa-apa. Kamu tuh, Hal, selalu maksain diri. Nggak pernah ngasih waktu buat istirahatin diri kamu. Selalu kejam sama diri sendiri. Padahal nggak salah kok buat istirahat sebentar."

"Iya, aku tau ..." gumam Halilintar pelan.

"Tau tapi nggak pernah dilakuin." cibir Yaya.

Halilintar memelotot tak terima. "Pernah, ya."

"Kapan? Waktu kita ke pantai? Itu juga aku yang maksa. Kalo nggak aku paksa, pasti kamu tetep ngerjain tugas organisasi kamu yang nggak pernah habis itu."

Halilintar meringis. Ia kembali diam mendengar rentetan omelan dari sang kekasih.

"Aku selalu khawatir sama kamu, Hal. Jiwa ambisius kamu itu bagus, tapi nggak baik juga kalo berlebihan. Sekarang aku tebak, kamu belum makan dari pagi?"

Seketika tubuh Halilintar menegang. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "U ... dah, kok."

"Nggak usah boong."

Pemuda itu meringis. Ia memang belum makan apapun sejak pagi, hanya mengisi perutnya dengan secangkir kopi hangat agar tidak mengantuk. Memang salah jika berbohong pada seorang Yaya Yah.

"Sekarang makan. Tutup laptop kamu, istirahat dulu sebentar. Setelah itu lanjut lagi. Okey?"

"Okey ... " Pandangan Halilintar mengarah ke bawah. Ia memainkan tangannya di atas pagar, menunggu Yaya berbicara lagi. Tindakannya tersebut hampir seperti anak kecil yang sedang mendengarkan nasihat ibunya.

"Jangan sampai sakit, ya. Aku tahu kamu kuat, tapi jangan maksain diri juga. Semangat buat acaranya. Kamu pasti bisa."

Halilintar tersenyum. "Makasih, ya."

"Sama-sama. Telpon aku ya kalo ada apa-apa."

"Iya. I love you."

"Love you too."

.

.

.

.

finizh


A/N :

Maav kayaknya aku meleleh sendiri setelah menulis ini.

Sebenarnya ini request-an dari LovelyIvankaEliz beberapa minggu (atau bulan?) yang lalu. Aku minta maaf karena baru buat aaaaaaaa dan juga sangat singkat karna ide ini cuma seuprit. Semoga suka ya.

Btw Halilintar adalah aku yang sekarang, bedanya aku nggak ada ayang WKWKWKKWKWK /sad

Maap jadi curhat hehe.

Mungkin segitu aja. Lanjut mengsibuk dulu huhu, nanti bikin story lagi kalo ada waktu luang.

Makasih ya yang udah sempetin baca, ya. See u~