BoBoiBoy (c) Monsta
Plot by Cuzhae
Penulis tidak mengambil keuntungan materiel apapun— fiksi ini hanya untuk kesenangan semata
Warning: OOC, typo, alur tidak sesuai dengan animasi aslinya, reader insert!
Pairing: Merriage!AU Halilintar x Yaya
(Name) = nama reader/OC kalian.
Masalah gender terserah kalian, ya. Umur (Name) di sini kisaran anak SMP. Kalau ternyata kalian lebih tua dari itu *plak* anggap saja segitu.
Well, enjoy for reading ~
Jalanan macet membuat Halilintar menggerutu, dirinya sudah lelah ingin cepat pulang. Dari jarak dua mobil di depan terdengar keributan orang dan berkerumun. Halilintar turun untuk mengecek apa penyebab kemacetan ini.
Rupanya ada insiden tabrak lari. Dari sepenglihatan Halilintar, korban kecelakaan itu merupakan seorang anak kecil. Kepala anak itu mengeluarkan darah yang kemungkinan disebabkan benturan langsung dengan jalanan aspal dan luka ringan di tangan serta kaki. Dia terbaring tak sadarkan diri.
Anehnya korban tabrakan itu tergeletak dan dibiarkan begitu saja. Dari sekian banyak orang yang melihatnya, mereka tampak tidak ada yang berkenan mengulurkan bantuan.
Dasar. Bukannya cepat diberi pertolongan malah dijadikan bahan tontonan. Kasihan sang anak kalau tidak segera diobati.
"Aduh, dia anak siapa, ya?"
"Apakah tidak ada yang kenal dengan anak ini?"
"Anak hilang, mungkin ...?"
Dasar manusia sok peduli. Seapatis apa pun dirinya, setidaknya hati Halilintar masih dapat tergerak.
Melihat situasi tak mengenakkan ini, Halilintar jadi teringat masa kecilnya. Dia yang terjatuh dibiarkan begitu saja meski tak jauh dari tempatnya ada sang ayah. Pria itu hanya melirik putranya tak peduli.
Sungguh ironis.
"Huh... biar saya saja yang membawanya ke rumah sakit terdekat," pungkas Halilintar.
Kumpulan manusia itu menyingkir.
Tanpa membuang waktu Halilintar membopong anak itu ke dalam mobil, menempatkannya di kursi tengah. Lalu melesat ke rumah sakit, setelah dua mobil yang di depannya menyingkir. Akan butuh waktu lama lagi bila harus menunggu ambulans datang.
Perjalanan pulang harus tertunda. Halilintar melirik bangku belakang, kalau dipikir-pikir kenapa juga ia berbaik hati menawarkan tumpangan. Pria penyuka kopi itu mendengkus geli, sepertinya ia (sedikit) ketularan dengan kerendahan hati Yaya.
"Untuk beberapa hari ke depan jangan dibiarkan banyak bergerak dulu, ya, takutnya jahitan di kepalanya terbuka," jelas dokter.
Pandangan Halilintar mengerling ke anak yang baru diselamatkannya. Tindakannya ini sudah benar, 'kan?
Setidaknya dalam lima hari ini ia menyempatkan diri untuk menjenguk si anak. Halilintar harus bertanggung jawab sepenuhnya meski ia tahu bukan dirinyalah penyebab si anak terluka.
IoI
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam..."
Begitu pintu terbuka, Yaya dikejutkan dengan apa yang dibawa oleh suaminya. Siapa yang kaget saat suami pulang membawa seorang anak yang tidak diketahuinya dalam keadaan tertidur.
Yaya mengekor ke kamar mereka, memperhatikan Halilintar merebahkan anak itu. Tanda tanya besar bersarang di kepala.
"Dia siapa?" tanya Yaya.
"Anak hilang."
Huh?
Halilintar memeluk Yaya dari belakang, menuntun sang istri untuk duduk di tepi kasur. Menopangkan dagu pada bahu sang istri.
"Beberapa hari yang lalu terjadi kecelakaan ... dan dia menjadi korbannya."
Pikiran Yaya mulai berseliweran dengan kemungkinan yang ada.
Apa jangan-jangan suaminya yang jadi pelakunya?
Tidak, tidak, mana mungkin ... 'kan?
"Kamu nggak lagi mikir kalau aku yang nabrak, 'kan?" tanya Halilintar. Melepaskan pelukannya.
Skakmat! Yaya dalam hati memohon ampun karena sudah su'udzon (berprasangka buruk).
"A-aa ... m-masa iya aku mikir gitu," ucap Yaya sedikit gagap.
Halilintar hanya mengendikkan bahu tak acuh dan tersenyum tipis.
"Karena tidak ada yang mau menolongnya, akhirnya aku berinisiatif sendiri," cerita Halilintar.
Wow, Yaya (agak) takjub. Seorang Halilintar mau direpotkan oleh orang asing. Sepengetahuannya Halilintar bukanlah orang yang mau repot.
Kemudian pria itu menceritakan kejadian beberapa waktu lalu.
"Orang-orang di jalan hanya melihatnya. Lalu aku membawanya ke rumah sakit, selagi menunggu anak itu bisa diinterogasi …"
Tunggu … interogasi?
"… aku langsung ke kantor polisi untuk melapor dan bertanya tentang identitas si anak. Tapi kata polisi belum ada kasus yang mencari anaknya," lanjut Halilintar.
Yaya agak miris mendengarnya. Di mana rasa iba mereka? Apakah sudah menjadi tren memvideokan kecelakaan dan setelahnya baru menolong? Dan semua itu untuk kepopuleran semu belaka.
Beberapa saat seusai Halilintar bercerita, mata anak itu tampak berkedut, lalu mengerjap dan melihat ke sekeliling.
"Aku ... di mana? Aku siapa? Kenapa aku tak bisa ingat apa-apa?"
Anak itu bertanya penuh kelinglungan. Ish, ish, ish, masih muda masa pikun, sih.
Ctak!
Sebuah jitakan kecil tapi nyelekit mendarat di kepala yang diperban anak itu.
"HOI, SAKIT TAU!" jerit dia tidak santai. Pasutri itu menatap datar anak itu.
"Tidak sopan, berteriak di depan orang dewasa. Dan jangan pura-pura pikun seperti itu," komentar Halilintar.
"Hilang ingatan," ucap Yaya meralat.
"Oke-oke, aku bercanda," ucap anak itu seraya mempoutkan bibirnya. "Lagian ya ... kalian mesraan terus. Aku malah dicuekin. Hmph!"
Sebenarnya anak itu tersadar begitu tubuhnya dibaringkan di kasur. Namun dia pura-pura pingsan saat mulai terdengar perbincangan antara Halilintar dan Yaya. Setidaknya ia bisa tahu seperti apa orang yang berbaik hati sudah menolongnya dari acara mengupingnya.
Mohon untuk adik-adik di rumah untuk tidak meniru perbuatan tidak sopan ini.
"Kamu siapa?" tanya Yaya.
Dengan lantang sang anak menjawab. "Anak Mama!"
"Mama-mu siapa?" tanya Halilintar.
"Istrinya Papa," jawab anak itu sekali lagi.
"Papa-mu?"
"Kan suaminya Mama. Ih, gitu aja masih nanya."
Yaa ... tidak salah sih. Tapi kok ya ... menyebalkan.
Sungguh, Halilintar saat ini terlanjur jengkel dengan kelakuan anak hilang yang masih setia dengan cengiran kecilnya.
"Maksudnya namamu siapa? Na-ma ka-mu?" tanya Halilintar dengan tersenyum ramah.
"Oh~ bilang dong dari tadi," ucapnya tanpa rasa bersalah. "Perkenalkan, namaku (Name). Yang paling menggemaskan, baik, sabar, rajin menabung, daaann ... paling cakep!"
Bah! Naj- eh narsis maksudnya.
"Akh! Makasih, ya, Kakak cantik sudah baik hati menolongku," ucap (Name) lalu memegang tangan Yaya.
"Tapi yang menolongmu itu orang di sebelahku." Yaya melirik takut-takut ke arah suaminya yang masih tersenyum ramah.
"Oh, benarkah? Terima kasih, Om ganteng!"
Semoga pendengaran Halilintar salah. Masa iya dirinya dipanggil Om? Umurnya belum terlalu tua untuk sebutan Om.
"Kamu masih SD, 'kan?" tanya Halilintar tanpa bersalah.
(Name) terbelalak kaget. "Enak saja, aku udah SMP, ya!"
"Hee~ masa? Coba kulihat. Kecil, pendek, dan wajahmu belum terlihat tegas."
Yaya tertawa hambar. Sedikit tidak percaya Halilintar bisa melontarkan sindiran seperti itu.
"Jadi (Name) … rumahmu di mana? Biar kami antar," Yaya bertanya sembari mengusap pucuk kepala (Name) dengan lembut.
(Name) mengapit dagunya. "Hmm… aku nggak ingat!" Cengiran kecil terpatri di akhir kalimatnya.
Masa, sih, umuran (katanya) SMP belum hafal alamat rumah?
"Eh, tapi kayaknya aku bawa nomor Papa, deh." Mata (Name) lalu mencari tasnya. "Kakak tau tasku di mana?"
Yaya mengambilkan tas (Name) di ruang tamu. Lalu diberikannya pada (Name). Anak itu langsung mengubek-ubek isi tasnya dan memberikan nota kecil.
Meraih nota dari (Name), Halilintar mengetikkan nomor yang tertera di sana lalu pergi keluar kamar untuk menghubungi ayahnya (Name).
"Kakak mau tanya … Kok kamu bisa ketabrak, sih? Seharusnya kamu tidak berlari-larian di jalan raya."
Selagi suaminya sibuk mengubungi ayah dari (Name), Yaya kembali mengajak (Name) mengobrol.
"Bukan kok! Tadinya aku mau ngejar kucing, eh tau-tau ada mobil ngebut datang." Kedua tangan (Name) mengepal lalu ia menubrukkannya satu sama lain. "JGER! Mobilnya nyundul aku."
'Ketabrak, Dek. Bukan kesundul,' batin Yaya. Bibirnya berkedut menahan tawa.
Penggunaan bahasa yang unik. Rasanya kurang tepat bila dikatakan 'tersundul mobil' untuk menggunakannya dalam situasi kecelakaan lalu lintas.
Yaya berdeham pelan, "Ekhem… Nama Kakak, Yaya … dan yang telah menolongmu adalah suami Kakak, namanya Halilintar."
(Name) hanya mampu mengangguk pelan. Dia memang sudah kenal dengan Halilintar karena pria itu selalu datang saatnya dirinya di rumah sakit. Rasa pening di kepala membuat ia tidak bisa berbicara heboh seperti beberapa saat lalu. Dipejamkan matanya perlahan.
Dalam benaknya (Name) bersyukur ia selamat dari kecelakaan mengerikan itu. Jika diingatkan kembali, (Name) takut bagaimana jika saat itu juga ia kehilangan nyawa.
Halilintar kembali dan memandang (Name) yang matanya tertutup.
"Yaya … dia tidak pingsan, 'kan?" tanya Halilintar sedikit panik. Gelengan kepala sebagai jawaban dari Yaya.
"(Name) sepertinya merasakan sakit dari lukanya, dia terlalu banyak gerak. Aku tak bisa membantunya untuk yang satu ini." Sejenak Yaya menghela napas lalu kembali berucap, "bagaimana? Papa (Name) mengangkat teleponnya?"
"Iya, dia bilang akan menjemputnya sebentar lagi."
Yaya menghela napas lega mendengarnya. Setidaknya ayah (Name) masih ingat anak. Pasti beliau mencemaskan anaknya karena hilang sampai berhari-hari.
Halilintar lalu berlutut di samping (Name) dan menyisir lembut kepala sang anak dengan jemarinya. Seulas senyuman terpatri di wajahnya.
"Kamu pintar juga, (Name). Selalu menyelipkan nomor orang tuamu di saku. Dan dengan sikap ceriamu itu pasti kau punya banyak teman," tutur Halilintar. "… berbeda denganku, mereka semua teman palsu."
(Name) membuka kembali matanya lalu menatap Halilintar dengan canggung.
"Om—"
"Panggilnya Kakak. Aku belum setua itu," potong Halilintar cepat.
(Name) memutar bola matanya malas. "Iya, deh, iya. Kakak, dimanapun itu pasti ada saja orang yang munafik. Orang dekat dengan kita pasti ada maunya. Misalnya, maaf nih ya.. bukannya sombong, aku kan termasuk anak pintar di kelas, banyak yang mendekatiku karena itu. Entah minta contekan atau sekadar minta diterangkan ulang. Enggak beneran tulus."
Benar, seperti Halilintar dulu. Orang mendekatinya agar bisa kecipratan sedikit dari kekayaannya. Mudahnya hanya karena uang. Sikap yang mereka tunjukkan semata-mata agar terlihat baik di mata kembaran. Namun di belakangnya membicarakan sesatu yang belum tentu benar tentang mereka.
IoI
Tatapan kesal terpancar dari mata rubi Halilintar. Sedari tadi Yaya terus melayani (Name). Dia menatap kesal (Name), tidak senang bila Yaya mengabaikan dirinya dan lebih memerhartikan tamu dadakan— (Name).
"Makan sendiri 'kan bisa. Nggak usah minta disuapin sama Yaya, dong," protes Halilintar. Tangannya melipat di bawah dada komplit dengan muka sebalnya.
'Halin merajuk?' Yaya membatin.
"Yah, kan aku lagi sakit. Gimana sih?!" balas (Name) tak kalah sengit, "tuh, tanganku aja diperban gini." Menunjukkan tangannya berbalut kain perban.
Mereka akhirnya berdebat satu sama lain untuk menentukan siapa yang paling benar. Memang sih, Yaya sendiri hafal betul bagaimana tabiat suaminya. Tidak suka apabila ditentang, apalagi dengan anak yang belum puber ini. Dua-duanya kemudian terus saling adu mulut.
"Sudahlah, kalian berdua. Jangan ribut seperti anak kecil begitu, ah," tegur Yaya. Kelamaan telinganya bisa-bisa berdengung.
"Aku bukan kecil, Yaya!/Jangan panggil aku anak kecil, Kak!" seru Halilintar dan (Name) kompak. Menoleh cepat ke arah Yaya.
Tapi biarkan sajalah, asal tidak berlebihan. Lucu juga, sih, melihat mereka berdua saling adu argumen. Bisa Yaya lihat raut wajah Halilintar yang penuh kesumat. Kalau masalah sepele semacam ini saja Halilintar marah, bagaimana kalau sudah dikaruniai anak? Akankah dia mau mengalah kepada anaknya? Tidak, tidak, bayangan hadirnya buah hati masih jauh agaknya.
"Kak Yaya, aku haus …," pinta (Name) dengan suara parau. Mungkin akibat dari tadi berteriak terus.
"Kamu nggak usah nyuruh-nyuruh Yaya."
"Yaudah deh.. Kakak Halilintar aja yang ambilin minumnya," usul (Name). Melihat Halilintar menggeram ia kembali berkata, "eits, jangan marah. Kakiku juga sakit dan nggak bisa digerakin."
"Baru ditolongin sedikit aja ngelunjak. Ngajak berantem?!"
"Maaf aja, ya.. ini bukan iklan milk*ta."
Di tengah keributan yang belum ada titik terangnya ini, tiba-tiba pintu depan terbuka dengan cukup keras.
BRAK!
"KAKAK?! KAKAK NGGAK DIAPA-APAIN, 'KAN?!"
Seorang anak kecil (betulan) bersurai cokelat dengan mata bulat berwarna biru cerah muncul dengan teriakannya.
"Abil?! Kamu kesini sama siapa?" tanya (Name) penuh kebingungan. "dia adikku ngomong-ngomong," lanjutnya melihat raut tanya pada wajah Yaya.
"Oh, pasti Om ini yang nyulik Kakak, mukanya kelihatan jahat."
'Haduh… ini siapa pula, datang-datang langsung nuduh?' batin Halilintar.
"Abil nggak boleh gitu, mereka ini yang nolongin Kakak."
Anak yang dipanggil Abil itu mempoutkan bibirnya serta memainkan kedua telunjuknya gugup saat mendengar teguran dari sang kakak, (Name).
"Kamu juga kalau masuk rumah orang ketuk pintu dulu," tegur (Name) lagi dengan sedikit sentakan.
Genangan air muncul di kedua matanya dan bersiap untuk meluncur dalam satu kedipan.
Tak terima ia dimarahi oleh (Name), Abil kemudian memunggungi mereka semua. Pundung menghadap sofa.
"Kakak jahat … Padahal Abil kan pengen ketemu Kakak," rajuk Abil dengan pelan.
"Abil… kamu kesini sama siapa? Kok tahu Kakak (Name) ada di sini?" tanya Halilintar dengan hati-hati. Mengusap punggung kecil Abil.
Tidak Yaya sangka ternyata Halilintar bisa juga bersikap lembut.
"Assalamu'alaikum, maaf permisi …," sebuah suara muncul lagi. Kali ini seorang pria dewasa. "Saya Papanya (Name) juga Abil. Maaf ya, mereka ngerepotin."
Ayah dua anak itu menggaruk tengkuknya sambil tertawa canggung.
Halilintar tersenyum tipis. "Tidak kok, Pak. Mereka berdua anak ceria dan menggemaskan. Istri saya saja dari tadi menahan diri untuk tidak mencubit pipi tembeb Abil." Tawa kecil lolos dari mulut Halilintar. Muka Yaya memerah, malu ketahuan oleh sang suami.
Kemudian Papa (Name) meminta izin untuk membawa pulang kedua anaknya. Memangku (Name) hati-hati.
"Saya ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya. Kebaikan kalian akan saya balas suatu hari nanti," tutur Papa (Name) lalu pamit pulang pada Halilintar juga Yaya.
Abil masih merengut sebal saat diajak pulang oleh sang ayah. Lalu dua buah permen disodorkan padanya.
"Udah, jangan cemberut gitu. Abil jadi nggak imut lagi …," ucap Halilintar. Mengusak rambut Abil.
Sang anak langsung tersenyum lebar dan mengekori ayahnya dari belakang.
"Astaga… mereka imut banget, sih," ucap Yaya bersorak ria.
"Iya, jadi pengen punya anak, 'kan?" canda Halilintar.
Sontak wajah Yaya memerah malu. Memukul pelan bahu sang suami. "A-apaan sih?! Aku nggak ngomong gitu, ya!"
Namun, Halilintar malah tertawa lepas melihat wajah istrinya yang merengut sebal, hampir mirip dengan Abil tadi.
"Ih, udah dong.. Jangan ketawa terus."
"Hahaha… iya-iya deh maaf. Ya ampun, kamu lucu banget, sih…."
"Halin!"
The end.
Halo, udah lama aku gak berkunjung ke sini. Semoga dapat menghibur para pembaca
So, jangan lupa buat review.
_
08 Februari 2022
