Cause to Yearn

Disclaimer: DMM.

Warning: OOC parah, typo, dll.

Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini. Semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi, dan untuk ulang tahun Shimazaki Touson (25/03/2022).


Kitamura Toukoku sudah tidak mengerti, semenjak Shimazaki Touson menjemputnya dari kamar dengan uluran tangan seolah-olah Touson adalah pangeran, dan Toukoku ia pahami sebagai tuan putri. Karena ramainya pesta ulang tahun baru akan diundang nanti malam, Touson langsung menyajikan yakizakana untuk sarapan. Lengkap dengan sup miso, serta semangkuk nasi yang ketika Toukoku mau duduk pun, Touson repot-repot mendorongkan kursi.

"Langsung dimakan, Toukoku. Nanti beritahu aku bagaimana rasanya."

Jika itu adalah rasa dari perlakuan Touson, satu-satunya kata yang Toukoku ingat berada di hadapan Touson hanyalah manis. Namun, dia bukanlah kembang gula ataupun kue yang harus dibagi-bagikan, agar ia manis sebab orang-orang pun memanggilnya demikian. Touson baru begini apabila ia melihat Toukoku. Benar-benar istimewa membuat Toukoku tahu, merah tengah melukis di pipinya. Bukti bahwa Touson begitu berharga bagi Toukoku

"Rasanya enak, kok. Sekarang selain menulis, Touson pun pintar memasak, ya, tetapi kenapa repot-repot?"

Netranya berhenti sejenak dari menatap yakizakana yang tulang-tulangnya mulai menonjol. Touson juga belum menyuap nasi ke mulut, karena ia hendak memperhatikan Toukoku yang mengernyit bingung. Sebuah keharusan yang ketika itu menjelma keinginan jua, segala-galanya akan spesial walaupun hanya sesederhana mata yang merefleksikan Kitamura Toukoku. Meskipun semua orang dapat melakukan yang Touson perbuat.

Tanggal 25 Maret adalah ulang tahun Touson, dan itu rahasia umum. Tentu Toukoku berpikir seharusnya dialah yang menyibukkan diri. Dialah yang semestinya membuatkan, kemudian mengajak Touson sarapan. Bukankah aneh apabila terbalik 180 derajat? Sebenarnya apa yang sekarang ini Touson pikirkan?

"Apa aku salah karena sebelumnya enggak pernah begini?"

"Tidak, kok. Berarti Katai, Shuusei, sama Kunikida akan bergabung nanti?" Mana mungkin salah. Toukoku hanya terkejut dengan Touson yang tiba-tiba saja menumpahkan semuanya. Tiada lagi yang ia tahan-tahan ataupun ia simpan. Hati Toukoku jelas menikmatinya, tetapi sekali lagi ia tegaskan ini adalah ulang tahun Touson. Harusnya tetap Touson yang Toukoku manjakan.

"Aku sudah membicarakannya dengan mereka."

"Membicarakan apa?"

"Buat siang ini khusus aku dan Toukoku. Habis sarapan keluar, yuk. Bunganya sudah bermekaran di taman."

Musim semi telah menggantikan salju sejak tiga minggu lalu. Ajakan tersebut tentunya Toukoku setujui, tetapi sebelum itu Toukoku menyuapi Touson sebagai awal dari balas budi. Lagi-lagi juga Touson mengulurkan tangannya, untuk mendampingi bagian samping Toukoku. Jelas ia menerimanya yang kali ini, hati Toukoku lebih bermekaran. Rasanya seperti memaafkan masa lalu, membahagiakan masa kini, dan mecerahkan masa depan di saat bersamaan.

Mereka pun menuju taman dengan saling menggenggam. Daun-daun yang berserakan di atas kursi lebih dahulu Touson singkirkan, barulah ia mempersilakan Toukoku. Caranya duduk bahkan Touson perhatikan saksama. Ia terpesona, lalu bokongnya nyaris tergelincir mencium tanah andaikata Toukoku terlambat menahan.

"Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu," ucap Touson secara mendadak, seolah-olah ia yang ceroboh tidak pernah ada. Lagi pula selama Toukoku ada, Touson mana mungkin jatuh. Jatuh cinta pun adalah puisi yang takkan terjadi pada Touson, sebab sebelum itu Toukoku akan menangkap tangan Touson. Agar Touson tidak kesakitan, karena jatuh itu bukankah selalu identik dengan rasa sakit?

"Apa itu?"

"Aku ingin bekerja keras demi Toukoku."

"Eh ...? Tiba-tiba banget." Pipi yang tidak gatal Toukoku garuk-garuk dengan telunjuk yang canggung. Padahal selama ini Touson mana pernah tak manis. Selalu ada yang pertama, kedua, ketiga, serta seterusnya, tetapi sikap Toukoku yang begini seolah-olah berkata, Touson baru pernah seperti itu. Atau ia hanya rindu, sehingga semua-muanya akan senantiasa Touson baru kali ini melakukannya.

"Nanti malam ayo kita palak Shuusei."

"Maksudnya meminta pajak ulang tahun, ya? Boleh, tuh, akan kutemani."

"Bagus juga istilahnya. Lebih halus daripada aku bilang memalak. Entar Shuusei marah-marah."

Mendengar itu Toukoku tertawa kecil. Hening pun kembali dihadirkan, selagi Touson asyik memperhatikan pohon sakura, sedangkan Toukoku entahlah sibuk mencari apa. Sewaktu ia berhasil menemukan hal dalam bayangannya, Toukoku menyelipkannya pada daun telinga Touson. Ternyata adalah kamelia membuat Touson mengerjap-ngerjap kaget.

"Camelia-nya berwarna putih, lho, Touson."

"Hanakotoba-nya apa memangnya?"

"Kekaguman terhadap seseorang. Sangat menggambarkanku yang menyukai karya-karyamu, bukan?" Touson manggut-manggut menandakan persetujuan. Seolah-olah belum cukup dengan satu camelia, Toukoku berinisiatif mencari warna yang berbeda. Pilihannya jatuh pada camelia pink yang bedanya, kali ini Toukoku menyematkannya di dada Touson.

"Kalau yang ini?" Walaupun belum Toukoku jelaskan, entah bagaimana Touson tahu maknanya lebih spesial bagi Toukoku. Pemuda anggun itu lantas tersenyum lembut, barulah ia memeluk Touson tanpa sebelumnya memikirkan kata peluk. Benar-benar sebuah ungkapan hati yang membuatnya terharu.

"Kerinduan seseorang terhadap orang lain, Touson, dan bagiku itu adalah untukmu seorang. Apakah aneh? Padahal kita sering bertemu sekarang."

"Apa pun yang Toukoku ungkapkan, mana mungkin aneh. Pasti selalu indah, karena Toukoku juga indah."

Pada akhirnya Toukoku tahu, Touson yang berencana menghabiskan separuh waktunya dengan Toukoku adalah bentuk kerinduan juga. Semua ini berkaitan dengan masa lalu mereka, di mana Kitamura Toukoku ditemukan gantung diri di Taman Shiba tanggal enam belas Mei. Umurnya masih 25, sedangkan Touson meninggal di usia 71. Sudah 46 tahun Touson hanya mengeja kenangan agar dirinya tak memudar, sebab segala-galanya sudah ia taruh pada Toukoku.

Lalu sekarang ini, keduanya pun menjalani kehidupan selaku reinkarnasi sastrawan. Sebelum kekuatan alkemis berhasil memanggil jiwa Kitamura Toukoku, Shuusei pernah bercerita Touson tidak sedikit pun bersemangat dalam menyentuh ulang tahunnya sendiri. Ia tetaplah bersikap sebagai Shimazaki Touson yang biasa, tetapi Kunikida, Shuusei maupun Katai tahu, mata Touson selalu mencari. Tatapannya tak sedikit pun berhenti memandang kejauhan yang asing, seakan-akan Touson percaya sesuatu pasti menampakkan diri.

Tidak lain maupun bukan, tentu saja itu adalah Toukoku.

Kerinduannya terhadap Touson yang tidak sekali pun Toukoku ingat dengan jelas, karena ia berada di akhirat yang selalu membingungkan bagi manusia, mungkin adalah apa yang membuat Toukoku berhasil menemui Touson sekali lagi. Kemudian Touson pun merasai hal yang serupa, jadilah hari ini dapat tercipta. Bukan hari-hari yang lain di mana Touson sekadar membasmi shinshokusha, bersama anak-anak naturalis, atau mengejar-ngejar Akutagawa Ryuunosuke buat diwawancarai.

Syukurlah sekarang ini mereka bertemu, sehingga Toukoku tahu perasaan itu dinamakan kerinduan terhadap seseorang bernama Shimazaki Touson.

Tidak mengetahuinya tentu hanya membuat Toukoku menyesal, karena Touson adalah orang baik. Dia juga keren, mengagumkan, pintar, dan menggemaskan. Melupakan seseorang sepertinya adalah kesalahan besar yang kini membuat Toukoku menangis.

"Kenapa menangis, Toukoku? Matamu kelilipan? Teringat sesuatu yang buruk, kah?"

"Bukan begitu, kok. Sepertinya aku bahagia karena baru tahu, mengingat seseorang yang kusayangi adalah sesuatu yang luar biasa. Touson pun ingat, kan, aku mati gantung diri? Rasa-rasanya sayang sekali, karena aku tak bisa mengingatmu selama 46 tahun ke depan atau bahkan lebih. Dulu aku ini bodoh banget, ya, ternyata. Maaf."

"Meskipun hanya setahun atau bahkan sehari, aku pasti senang karena pernah diingat olehmu. Mengingat seseorang tak melulu menjadi hal yang mudah untuk diterima, kemudian ada orang sehebat dirimu yang memasuki kehidupanku. Itu adalah kali pertamanya aku bersyukur, dan yang terakhir yaitu sewaktu Toukoku meninggal."

"Kenapa begitu?"

"Mungkin itu hanyalah lari dari kenyataan, tetapi aku betul-betul berpikir untunglah Toukoku pergi duluan. Dengan begitu kau takkan pernah melupakanku lagi, karena untukku akhirat dan dunia yang sekarang masih terhubung. Aku percaya di alam baka sana, Toukoku selalu mengingat kemudian menungguku."

"Jadi, aku pun akan meminta maaf padamu. Maaf, karena aku membuatmu menunggu sangat lama. Tetapi terima kasih juga karena telah menungguku."

Usai mengucapkan itu Touson membalas pelukan Toukoku. Angin sepoi-sepoi masih bernyanyi dengan cinta yang damai, sedangkan mereka menikmatinya dengan cara masing-masing. Touson terus tersenyum ketika biasanya berwajah horizon. Sementara Toukoku memanggil Touson sebagai Haruki. Nama asli Touson, dan sebuah tanda bahwa Touson adalah orang yang akan selalu bermekaran, dalam hati Kitamura Toukoku.


Tamat.


A/N: HBD touson. Bukan comfort chara-ku, tapi tetap aja aku suka touson. Awalnya mau bikin yang lebih panjang kayak touson mewawancarai satu per satu bungou, mengenai apa arti ulang tahun buat mereka, tapi karena deket-deket tgl 25 ternyata sibuk, akhirnya aku kejer tayang aja bikin fic 1,2k. Untunglah keburu, dan maaf banget semisal OOC. Nekat sih pake touson x toukoku itu, karena aku kurang tahu karakterisasi toukoku kek mana. Tapi yah meraba-raba saja. Lagian ini hanya 1,2k jadi gak kecirian banget lah semisal OOC (?)

Thx buat yang udah baca, fav, follow, review, atau numpang lewat doang. Mari bertemu di fanfic lainnya~