disclaimer: semua karakter milik Masashi Kishimoto
warning: canon-setting. boruto!timeline. some chessy family fluffs.
characters: Inojin Y. Sai Y. Ino Y. Boruto U. Shikadai N. Chocho A.
.
.
Growing Up
.
~OooO~
.
"Inojin yakin tidak mau ikut?"
"Iya, Inojin yakin Kaa-chan!"
"Benar tidak apa-apa Inojin sendirian?" Wanita cantik dengan surai keemasannya yang dikuncir kuda itu bertanya sekali lagi untuk memastikan. Ia berlutut di depan sang putra yang berdiri di ambang pintu. Alisnya menekuk khawatir, pancar netranya hangat khas keibuan, sementara kedua tangannya menyentuh bahu Inojin dengan lembut.
"Tidak apa apa Kaa-chan!" balas sang putra dengan suaranya yang kekanak-kanakan. Meskipun begitu, nadanya mengalun penuh keyakinan, "Kan Inojin umurnya sudah 10 tahun," ia mengangkat kedua tangannya ke udara, membuka lebar-lebar kelima jarinya, membentuk gestur angka yang dimaksud, "Inojin sudah besar dan sudah mandiri. Inojin tidak akan apa apa," Nada bangga mewarnai kalimatnya, dan senyum cerahnya melebar, membuat pipinya yang bulat kemerahan layaknya persik ikut terangkat.
Meskipun telah mendapat reasuransi demikian dari sang putra, Ino masih tak bisa menghilangkan rasa khawatirnya. Keraguan sarat terpancar di air mukanya yang jelita, "Tapi Kaa-chan masih khawatir," dalihnya, "Kaa-chan panggilkan Nenek saja ya?" Ino mencoba menawarkan alternatif.
"Ih, Kaa-chan!" Inojin memprotes spontan, "Kan kemarin aku sudah bilang tidak perlu! Nenek juga sudah punya acara sendiri dengan teman-temannya. Aku tidak mau menganggu."
"Atau kamu tinggal di rumah Paman Shika atau Paman Chouji dulu? Kaa-chan bisa mintakan—"
"Tidak usah, Kaa-chan," Inojin menggeleng tegas, bersikeras, "Inojin tidak mau merepotkan," Ia menyentuh kedua tangan ibunya yang ada di bahunya, berusaha menyakinkannya, "Sudah Kaa-chan berangkat saja dengan Tou-chan. Inojin akan baik-baik saja kok."
Ino masih tampak enggan, "Tapi—"
"Tou-chaaaaaaan! Tolong!"
Inojin merengek minta tolong pada sang Ayah yang sedari tadi bersandar di dinding, hanya tersenyum mengamati interaksi sang istri dengan putra tunggal mereka.
Bibir mungil Inojin mengerucut, dan bola matanya yang besar menyiratkan sorot memohon. Ia tahu Ayahnya tak akan segan membantunya. Diantara orangtuanya, Ayahnya memang yang paling suka memanjakannya, "Tolong beritahu Kaa-chan aku tidak akan apa-apa, Tou-chan," pintanya dengan memelas.
Sai masih menpertahankan senyumannya. Ia melangkah mendekat, satu tangan terjulur untuk mengusak kepala mungil Inojin, membelai surai keemasan yang diwarisinya dari Ino, "Kaa-chan cuma khawatir. Tou-chan pun begitu," tangan Sai bergerak untuk meluruskan poni-poni Inojin sekarang. Ia selalu suka rambut Inojin yang selembut sutra,"Inojin tidak apa apa kok kalau mau ikut dengan kami. Kami tidak keberatan—"
"Tou-chan jangan malah ikut ikutan!" Inojin merengek. Bibirnya masih mengerucut, tanda cemberut.
Tak lama kemudian ia pun menghela nafas, "Tou-chan, Kaa-chan," mulainya, menatap kedua orangtuanya bergantian, "Inojin tidak mau ikut. Inojin tidak apa-apa ditinggal sendiri di rumah. Inojin akan baik baik saja. Kan dari kemarin Inojin sudah bilang," sekali lagi ia memberi eksplanasi, berharap kali ini Ayah dan Ibunya akan menyerah dan mengerti.
Sejak kemarin mereka memang masih mendebatkan ini. Tapi Inojin punya pilihannya sendiri, "Lagipula, Inojin tidak mau menganggu waktu berduaan Kaa-chan dan Tou-chan. Ini kan ulang tahun pernikahan kalian. Aku juga tidak mau kalau nanti kalian berduaan dan aku malah dilupakan,"
Ino mengelak, "Tidak begitu kok—"
"Iya begitu! Kaa-chan dan Tou-chan sukanya mesra-mesraan sampai kadang lupa," Mata Inojin menyipit, menatap sang ibu dengan sangsi, "Sungguh tidak apa apa. Kalian jangan khawatir,"
Ino menghela nafas berat sebagai tanda bahwa ia akhirnya mengalah, seketika membuat Inojin sumringah.
"Ya, baiklah kalau begitu," Sebagai kompensasi, ia merentangkan kedua tangannya untuk membawa tubuh Inojin ke dalam dekapan. Ia memeluk Inojin erat-erat, menciumi kepalanya dan menghirup aroma rambutnya yang wanginya mirip dengan aroma mawar.
Sengaja Ino mencuri kesempatan untuk bisa memeluk Inojin lebih lama, mengabaikan protesan sang putra yang mulai mengomel karena pelukannya yang terlalu erat. Meski enggan, Ino akhirnya melepaskan, memberikan akses bagi Sai untuk bergantian memeluk putra mereka.
"Kaa-chan sudah memasakan berbagai kauzu dan sudah Kaa-chan taruh di kulkas. Kalau Inojin lapar, Inojin bisa menghangatkan di microwave. Inojin tahu caranya kan?" papar Ino sembari menatap Inojin lekat-lekat. Putranya itu mengangguk-angguk sebagai respon, "Atau Inojin bisa delivery order. Sudah disimpan dengan baik uang yang tadi diberi Tou-chan?"
"Sudah," Bocah sepuluh tahun itu mengangguk lagi, "Tapi kalau mau ditambah lagi juga boleh," lanjutnya dengan sebuah cengiran usil terpatri.
Ino mencubit pipi Inojin gemas, "Kamu bisa saja. Ibu juga menaruh beberapa uang di lemari kamar utama kalau misal Inojin membutuhkan,"
"Iya Kaa-chan. Terima kasih,"
Ino tersenyum, melanjutkan memberi wejangan, "Jika Inojin membutuhkan sesuatu, Inojin bisa ke rumah nenek atau Paman Shika atau paman Choji, mengerti?"
"Iya, Kaa-chan,"
"Jangan masak sendiri. Jangan menyalakan api. Jangan main jauh jauh—"
"Iya, Kaa-chan—"
"Jangan main terlalu malam. Jangan gampang percaya dengan orang asing. Jangan lupa menutup pintu dan jendela sebelum tidur—"
"Jangan main klarinet. Jangan makan keju. Jangan pakai topi sombrero," Inojin mencibir, membuat Ino cemberut, "Kaa-chan terdengar seperti di kartun Spongebob. Iya aku mengerti kok Kaa-chan. Intinya jangan melakukan hal-hal yang berbahaya, ya kan?"
Ia melanjutkan narasi Ino yang sudah ia hafal diluar kepala. Bagaimana tidak? Ino sudah merepetisi wejangannya untuk yang ketiga kalinya. Inojin tahu orangtuanya bisa jadi sebegitu protektif di saat-saat tertentu. Tapi walau begitu, Inojin tidak merasa terkekang.
Inojin memahami mereka hanya khawatir. Mereka berdua belum pernah meninggalkannya bebarengan ke luar desa sebelumnya. Meski memiliki posisi penting di pemerintahan Konoha, jarang sekali Ino dan Sai mendapat misi bersamaan. Dan jikapun demikian, salah satu diantara mereka pasti tetap berada di desa, sehingga mereka tidak perlu mencemaskan Inojin. Diantara kedua orangtuanya, Ibunya memang yang lebih sering berada di desa karena posisinya sebagai Ketua Divisi Sensori menuntutnya untuk mengawasi keamanan desa dan mengkomandonya dari dalam. Ayahnya yang lebih sering mendapat misi ke luar.
"Inojin mengerti, Kaa-chan, Tou-chan," Ia sekali lagi menambahkan, sembari melirik ke arah jam dinding yang menggantung di sudut ruangan, "Kaa-chan dan Tou-chan sebaiknya segera berangkat! Nanti keretanya keburu pergi!" Inojin mengingatkan kedua orangtuanya. Meskipun sebenarnya Ino dan Sai dapat menggunakan choju giga Sai, namun untuk perjalanan ini mereka memang sengaja mengambil kereta untuk sarana transportasi.
Konoha sudah semakin maju dengan peradaban teknologi, lagipula. Selain lebih menghemat chakra mengingat jarak yang cukup jauh untuk sampai ke tempat destinasi, Ino dan Sai memang ingin menikmati perjalanan mereka menuju desa Sunyi melalui jalur darat.
Ino mengiyakan, menyadari bahwa mereka memang semakin dikejar waktu. Namun sebelum ia benar-benar beranjak dari sana dengan Sai, ia memberi nasihat pamungkas kepada sang putra,
"Janji bahwa kalau ada apa-apa Inojin akan menghubungi Kaa-chan dan Tou-chan segera ya? Inojin harus janji, Inojin akan menjaga diri dengan baik, oke?" Ia mengulurkan tangan kanannya, jari kelingkingnya terangkat. Gestur yang sejak dulu dilakukannya dengan Inojin ketika mereka mengikat janji.
Inojin menautkan kelingkingnya dengan sang ibu, mengangguk, "Iya janji Kaa-chan," Ia tersenyum kepada Ino kemudian mendongak pada Sai di sampingnya, "Ka-chan dan Tou-chan juga jaga diri baik-baik ya,"
"Tentu Inojin," itu Sai yang menyahut. Ia berikan satu usapan terakhir di kepala Inojin sebelum benar benar menarik tangannya untuk mengambil tas bawaannya dengan Ino yang tadi sempat diletakannya di lantai.
"Pokoknya—"
"Kaa-chan!" potong Inojin lagi ketika Ibunya sudah bersiap untuk mengisi telinganya dengan wejangan jilid kedua.
Ino membuang nafasnya, mengerucutkan bibir setelahnya. Ia tahu ia terlalu khawatir, tapi naluri seorang ibu, mau bagaimana lagi? Sejujurnya ia berharap Inojin akan ikut dengan mereka berdua, tapi putranya itu tidak berkenan dan memilih tinggal di rumah saja. Ino bukan tipe orangtua yang suka memaksa, jadi pada akhirnya mereka menuruti saja keinginan Inojin.
Memberi satu pelukan lagi untuk sang anak sebelum dia benar-benar meninggalkannya, Ino menggumam dengan sendu,
"Kami akan merindukanmu, Inojin,"
"Kaa-chan ini bertingkah seolah kalian akan pergi sebulan saja. Padahal kalian hanya akan pergi 2 hari, " Inojin menggerutu.
Sai terkekeh kecil melihat tingkah dua pirang kesayangannya itu, "Sudah ayo, Ino. Benar yang dikatakan Inojin, nanti kita bisa ketinggalan kereta," Ino menuruti sang suami. Ia akhirnya bangkit dari posisi berlututnya untuk berdiri di samping Sai.
Merasa memiliki ide, Sai lantas mengeluarkan gulungan kecilnya dari saku, meraih kuas dan menarikannya di permukaannya. Inojin hanya diam memperhatikan, diam-diam kagum akan gerakan tangan Ayahnya yang begitu luwes dan cepat menorehkan tinta di atas gulungan. Suatu saat, Inojin berharap ia akan bisa sehebat Ayahnya dalam choju giga.
Ia melihat Ayahnya merapal jutsu, suara 'poof' mengiringi dan munculah seekor kelinci dari gulungan. Ayahnya meraih hewan dari tinta itu, menundukan tubuh untuk kemudian diserahkannya ke telapak tangan Inojin yang terbuka dengan senang hati.
Sai menyunggikan senyum simpul—senyum favorit Inojin. Ia berujar dengan nada lembut, nada yang hanya digunakannya untuk Ino dan Inojin seorang, "Inojin, kelinci ini nanti akan menemani Inojin agar tidak kesepian. Jaga dia baik-baik ya?"
Inojin mengangguk patuh, membalas senyum Sai, "Tentu, Tou-chan,"
Setelah memberi Inojin sebuah pelukan, Sai menarik diri dan meraih tangan Ino untuk ditautkan. Ino mengeratkan pegangan tangannya pada ruas-ruas jemari Sai, mengangkat satu tangannya untuk melambai kepada Inojin, "Kaa-chan dan Tou-chan berangkat dulu ya, Sayang. Jaga dirimu dengan baik,"
"Hati-hati, Kaa-chan, Tou-chan!" seru Inojin balik.
Ia mengantar mereka hingga depan pagar rumah, melambai antusias. Ia melihat bagaimana Ino tampak tak rela untuk mengakhiri kontak mereka. Ino masih saja menoleh ke arah Inojin lewat bahunya bahkan hingga di ujung gang, sampai harus dibujuk Sai dengan agak menarik tangannya untuk mempercepat langkah.
Inojin tertawa dalam hati. Ibunya itu terkadang memang bisa jadi begitu dramatis.
Inojin berharap, ibunya tidak akan nekat da tiba-tiba meminta turun dari kereta untuk pulang ke rumah.
Begitu orangtuanya telah menghilang dari penghujung jalan, helaan nafas terlantunkan dari belah bibir Inojin. Rasanya cukup mengharu biru sih—ada rasa sedih yang tertinggal dalam setiap perpisahan, tapi Inojin tidak ingin berfokus pada hal itu. Ia akan melihat dari sisi positifnya.
Sendirian di rumah berarti ia bisa lebih bebas. Ia jadi punya otoritas sendiri.
Bisa bebas bermain dengan PSP-nya bersama teman-teman. Syukurlah ibunya memberinya izin bermain PSP. Biasanya Ino hanya akan memberikan PSP kepada Inojin ketika akhir pekan saja. Selain itu, Inojin juga bebas membeli makanan yang disukainya. Bebas menonton tv. Bebas bersantai-santai—YESSSS. Itulah beberapa alasan kenapa Inojin akhirnya memilih untuk tinggal di rumah saja.
Inojin tersenyum lebar-lebar. Membayangkan dua harinya ke depan yang pasti akan menyenangkan.
Oke. Setelah ini ia akan pergi menemui Boruto dan Shikadai untuk bermain game di Thunder Burger.
.
'Kebebasan—aku datang!'
.
~OooO~
.
Thunder Burger yang awalnya sangat ramai—terutama di jam jam makan siang dan pulang kantor—mulai satu per satu ditinggalkan pelanggan yang kembali ke rutinitasnya masing-masing.
Antrian mulai memendek seiring waktu berlalu. Kursi-kursi mulai lenggang tak berpenghuni.
Tak dinaya jarum jam telah menunjuk angka 4 sore. Beberapa pelayan sibuk membersihkan meja-meja yang telah kosong dengan kain lap dan cairan disinfektan yang dimasukan ke dalam tabung spray.
Namun hal tersebut tak berlaku di meja nomor 7 yang ada di paling sudut resto. Meja itu dihuni oleh ketiga bocah lelaki yang semuanya menyangga PSP di tangan. Atensi mereka tersita sepenuhnya ke layar yang berpendar, tangan-tangan mereka di kedua sisi bergerak lincah menekan tombol.
Inojin juga turut menggerakan analog. Ia, Shikadai, dan Boruto menjadi satu tim untuk melawan musuh online mereka dari Sunakagure, Shinki team—kalau tidak salah itu adalah sepupu Shikadai.
Karakter milik Boruto dan Shikadai sudah maju menyerang duluan, sementara karakter pilihannya masih bersembunyi di benteng, menyusun strategi jitu.
Inojin tak sengaja menangkap salah satu karakter musuh berjalan di depannya tanpa kecurigaan berarti. Pedangnya mengacung dan tim lawan pun dibuat sibuk meladeni kroci-kroci tentara si musuh utama.
Merasa mendapat kesempatan, Inojin menjalankan karakternya dengan mendekati diam-diam sang lawan, pedang di tangan dan Inojin langsung menggerakan tangannya di tombol untuk mengayunkan pedang, membabat habis karakter musuh hingga jatuh limbung ke tanah. User atas nama arayastaycool pun hilang dari layar beberapa detik kemudian.
"Ha! Mati kamu arayastaycool!" teriaknya pada layar, membuat kelinci choju giga Ayahnya yang duduk mengamatinya di sebalahnya ikut melompat kaget.
Kalau ada Ibunya disini, Inojin pasti sudah kena jitak. Apalagi kalau Inojin main malam-malam melewati jam tidurnya. Selain berisik, ibunya tidak suka kalau ia marah-marah sendiri ke layar. Terkadang memainkan permainan ini membuat Inojin terlalu terlarut dalam kompetisi sengitnya. Kadang Inojin suka kelepasan dengan ikut-ikut teriak, tertawa keras, atau mengumpat—makanya Ibunya tidak suka.
Boruto yang duduk di seberangnya pun turut berseru senang, "Kerja bagus Inojin!" pekiknya, tanpa sekalipun melangihkan pandangan dari layar. Ia tengah sibuk melawan karakter Shinki sekarang, sementara Shikadai berfokus pada misi sebelum tim lawan bangkit kembali.
Inojin melanjutkan petualangannya. Ia menekan analog dengan cekatan, terus menerus menekan tombol serang ketika ia dikerumuni oleh tentara tentara raja. Sepuluh, lima belas, dua puluh—Inojin berhasil menumbangkan satu per satu tentara raja dengan ciamik. Senyum bangga menggores bibir.
Namun senyumnya seketika luntur—kala karakter lain tiba-tiba muncul dari belakang tanpa diantisipasinya.
Tanpa sempat melakukan perlawanan, pedang musuh pun dengan cepat menghunus. Karakternya yang hanya punya darah tinggal setengah pun seketika tergeletak tak berdaya.
"Arghhhh—matilah aku!" raung Inojin dengan nelangsa. Untung resto cukup sepi sehingga ia tidak banyak mengundang perhatian.
'Dasar bocil-bocil', mungkin begitu batin para pelanggan melihat sekumpulan anak yang begitu terlarut secara emosional dengan permainan online mereka itu.
Inojin mendengus keras. Ia meletakan PSP-nya di meja, seketika mood-nya terjun bebas. Tak butuh waktu lama sampai akhirnya Shikadai mendecak dan Boruto berteriak, terpaksa mengakui kekalahan tim mereka dari tim Shinki di sana.
Boruto turut melempar PSP-nya di meja—untung saja tidak rusak. Keningnya berkerut-kerut, kesal setengah mati, "Padahal tinggal sedikit lagi kita menang!" keluhnya, kemudian meraih kentangnya di meja, memakannya dengan brutal untuk melampiaskan frustasinya.
Shikadai menghela nafas di sampingnya, "Yah mau bagaimana lagi. Shinki memang ahli sih,"
"Kita main lagi saja, yuk?" Inojin menawarkan. Ia meraih lagi PSP-nya dari meja, menoleh pada Shikadai dan Boruto di seberang meja dengan semangat menggebu.
"Maaf Inojin, aku tidak bisa," Shikadai mengusak rambutnya, tersenyum menyesal, "Aku disuruh Ibu pulang ke rumah sebelum jam setengah lima untuk membantu memasak untuk acara klan nanti malam,"
"Aku juga sudah janji dengan Himawari untuk tidak pulang kesorean sih. Hari ini ulang tahun Kaa-chan soalnya," kali ini Boruto yang menimpali. Jawaban kedua temannya seketika membuat semangat Inojin runtuh. Bahunya merosot dan sorot matanya meredup.
Yah, jadi dia main dengan siapa dong?
"Aku traktir lagi deh, bagaimana? Kalian bisa pesan apa saja kok," Inojin masih mencoba bernegosiasi. Tadi dia memang sempat mentraktir burger kedua untuk teman-temannya itu. Kaa-channya memberinya lebih dari cukup uang jajan untuk dua hari ke depan. Ceritanya sih dia ingin menyogok kedua temannya agar berkenan bermain lebih lama.
"Bukan masalah itu," tampik Shikadai, "Aku tidak mau Ibuku mengamuk. Bisa gawat nanti,"
Iya sih. Benar juga. Bibi Temari yang mengamuk memang menyeramkan. Inojin sudah sering lihat.
Boruto mengangguki ucapannya, "Dan aku juga tidak akan tega membuat Hima menangis,"
Mendapat penolakan dari kedua temannya seketika membuat Inojin sedih.
Bahunya melemah dan sorot matanya langsung meredup. Kalau Boruto dan Shikadai pulang, ia jadi tidak punya teman mengobrol dan bermain. Ia punya si kelinci di sisinya sih, tapi dia kan tidak bisa diajak bicara.
"Kau mau ikut ke rumahku, Inojin?" Shikadai yang menyadari perubahan raut muka Inojin pun menawarkan, "Aku tahu kalau Paman Sai dan bibi Ino tidak di rumah. Jadi kau bisa main ke rumahku, menginap pun tidak masalah. Aku yakin orang tuaku tidak akan keberatan,"
Inojin terdiam selama beberapa saat untuk mempertimbangkan, tapi kemudian ia menggeleng.
Sebenarnya tawaran Shikadai cukup menggiurkan, tapi ia harus menolak. Lagipula Shikadai sedang ada acara dengan anggota klan Nara. Mana mungkin Inojin menganggu dengan main ke sana? Yah, walau ia tahu ia bukan orang asing di klan Nara sih. Inojin yakin ia akan diterima dengan senang hati di sana. Mereka kan InoShikaCho.
Meskipun begitu, ia tetap sungkan. Ia juga sudah bilang kepada orang tuanya bahwa dia tidak akan merepotkan Paman Shika atau Paman Chouji. Inojin kan mandiri. Dia bisa sendiri kok.
"Tidak perlu, 'Dai"—Itu adalah panggilan khusus Inojin untuk sang sahabat. "Aku tidak apa-apa kok. Aku mau pulang saja kalau begitu,"
Meski dengan berat hati, Inojin memilih bangkit dari kursi, yang lalu diikuti oleh kelincinya dan kedua temannya yang lain untuk meninggalkan Thunder Burger. Tentu setelah mereka merapikan meja dan membuang sampah fast food mereka ke tempat sampah yang telah disediakan. Kaa-channya selalu mengajarkannya untuk selalu membersihkan dan merapikan bekas makanannya sendiri setelah ia selesai, dimanapun Inojin berada. Hal itu juga akan meringankan pekerjaan orang lain.
Mereka berjalan bersamaan di bawah mentari sore yang kini ada di ufuk barat, bersiap untuk kembali ke pembaringan. Ketiga anak lelaki itu mengobrol dengan seru, sampai akhirnya mereka harus berpisah jalan menuju ke rumah masing-masing.
Meninggalkan Inojin di perempatan jalan bersama dengan kelincinya, mengamati dalam diam punggung kedua temannya yang perlahan menjauh pergi.
Inojin menunduk ke bunny—ia memutuskan menamai kelincinya begitu—dan berkata dengan sebuah helaan nafas menyertai,
"Sepertinya hanya tinggal aku dan kau, bunny,"
Bunny hanya menggerakan hidungnya yang berkumis panjang, mengamati sang tuan yang nampak tidak bersemangat. Menghela nafas sekali lagi, Inojin memutar kaki dan melanjutkan langkahnya menuju ke kompleks klan Yamanaka, berseru pada kelincinya untuk bergegas mengikuti, "Ayo, bunny,"
Kelincinya itu siap tanggap, dengan cekatan menemani Inojin di sisinya dengan melompat-lompat, berusaha menyesuaikan kecepatan langkah kaki sang tuan.
Sepanjang jalan, kepala Inojin tertunduk, mengamati alas kakinya yang menapak jalanan beraspal dalam bisu. Entah kenapa ia merasa langkahnya kakinya teras berat daripada biasanya. Tak seperti umumnya.
Biasanya Inojin akan bersemangat ketika ia pulang ke rumah karena akhirnya ia bisa beristirahat. Namun yang kali ini berbeda. Mungkin karena tidak ada siapapun di rumah, jadi pasti nanti terasa sepi. Inojin tidak biasa dengan sunyi.
Ia ingin membangun semangatnya kembali, berusaha fokus pada sisi positifnya.
Sendiri di rumah juga tidak masalah, ya kan? Setelah ini ia bisa istirahat santai, bermain psp-nya lagi, bisa makan sepuasnya, nonton televisi, main lagi, makan lagi, lalu—
"Eh? Chocho?"
Inojin menghentikan rencana yang telah disusunnya dalam kepala, seiring dengan langkah kakinya yang ia paksa untuk berhenti. Ia melihat siluet sosok familiar di ujung jalan, di salah satu toko aksesoris.
Inojin tiba-tiba merasa semangatnya terisi kembali melihat sosok familiar itu. Ia berlari mendekat, diikuti oleh kelincinya yang mengikuti di belakangnya.
"Chocho!" serunya lantang.
Dan benar saja, sahabat perempuannya itu langsung mendongak dan mengalihkan pandang dari etalese kaca, mengernyit, "Inojin?"
Ketika Inojin sudah sampai di hadapan Chocho, barulah ia bertanya, "Kamu sedang apa?"
"Sedang melihat gelang, tentu saja. Masak lagi lihat ikan?" jawabnya retoris. Kini ia kembali menunduk untuk mengamati gelang-gelang yang di pamerkan, mengabaikan Inojin.
Inojin balas mencibir, "Ya tahu, aku kan cuman basa-basi!" balasnya sengit. Ia tak ambil pusing. Ia dan Chocho memang suka seperti ini. Walau mereka saling bertengkar—seperti salah satu kartun kesukaannya, Tom dan Jerry—tapi tak ada keraguan sedikit pun bahwa mereka memang saling menyayangi. Mereka InoShikaCho, lagipula.
Masih belum ingin pulang ke rumah, Inojin berakhir dengan menemani Chocho memilih gelangnya. Sesekali Inojin akan memberikan opini gelang mana yang sekiranya cocok. Sayangnya, opininya kebanyakan berkontradiksi dengan Chocho—dan mereka malah berakhir berdebat.
Chocho suka dengan yang pink, tapi menurut Inojin lebih bagus gelang yang ungu karena yang pink terlihat norak. Mereka beradu pendapat, yang lalu berujung ke Chocho yang tidak jadi membeli gelang.
"Sebenarnya aku tidak berniat beli sih, cuman mau lihat-lihat saja." timpal Chocho dengan santai, yang membuat Inojin memekik gemas.
Menghela nafas setelahnya, Inojin lalu bertanya pada sahabat perempuannya itu, "Chocho mau main ke rumahku, tidak?"
"Tidak mau," spontan Chocho menjawab, sembari mereka melangkah pergi menjauhi toko, "Aku mau bobok cantik,"
Inojin mengerjapkan matanya, "Bobok cantik itu apa, Chocho?"
"Bobok supaya jadi cantik, Inojin," Chocho menjelaskan, "Memangnya kamu tidak disuruh tidur siang oleh Mamamu?"
"Kaa-chan dan Tou-chan sedang pergi," Inojin memberitahu, "Dan lagipula ini kan sudah sore,"
"Ya sama saja. Kalau kata di TV, kita butuh istirahat yang cukup karena kita masih dalam masa pertumbuhan. Supaya tinggi, tidak bantet kayak kamu," Chocho mengibaskan kuncir rambutnya, yang seketika mendapat protes tak terima dari Inojin, "Aku nggak bantet, chubs!" tapi diabaikan oleh Chocho begitu saja.
"Aku butuh istirahat cukip soalnya aku kelelahan karena harus menghabiskan dua mangkuk ramen tadi,"
Inojin menatapnya malas, "Kamu kecapaian karena makan?"
"Makan juga butuh tenaga, tahu!"
Sebuah dengusan menjadi tanggapan. "Ya sudah deh, padahal aku tadi mau mengajakmu main di rumah dan makan keripik kentang—"
"Kamu punya keripik kentang?"
Chocho yang awalnya nampak tidak tertarik kini berubah seratus delapan puluh derajat.
Matanya yang bulat berbinar-binar, ia menarik lengan Inojin kuat-kuat, menyeretnya dengan terburu ke kediaman Yamanaka,
.
"Kenapa tidak bilang dari tadi sih? Ayo kita ke rumahmu, whitey!"
.
~OoooO~
.
Waktu sudah menunjuk angka pukul setengah 8 malam. Kini Chocho tengah menikmati kartun Barbie-nya dengan bungkus keripik kentangnya yang kelima di tangan—sementara Inojin berkutat dengan buku sketsa di pangkuan setelah ia selesai mandi tadi.
Mereka tadi melakukan banyak hal. Meskipun Inojin dan Chocho sering kedapatan bertengkar, tapi begitu sudah berdua, mereka bisa melakukan hal-hal menyenangkan bersama. Mulai dari makan camilan bersama, menggambar dan mewarnai bersama, mengecat kuku, merangkai flower crowns, dan memainkan rambut satu sama lain—Chocho mengucir rambut Inojin menjadi two pig tails, sementara Inojin mengepang surai brunette Chocho.
Suara orang bercakap-cakap, lalu sesekali disusul oleh suara alunan lagu dari Barbie yang bernyanyi, mengalun dari sela pori-pori speaker televisi. Lagu itu mengiringi suara gesekan ujung pensil Inojin yang menggores permukaan kertas. Tangan kanannya menari lugas, membubuhkan warna-warna di ruang sketsa yang telah selesai digambarnya. Kepalanya dimiringkan untuk mengamati detail-detail goresan yang ditorehkannya, menimang-nimang.
"Kamu gambar apa, Inojin?"
Mungkin Inojin terlalu terlarut dengan kegiatannya sampai ia tak menyadari kalau Chocho ternyata sedang mengamatinya menggambar. Kepalanya melongok ke buku sketsanya di hadapan.
"Ini gambar bunga Zinnias,"
Chocho bertanya lagi, "Bunga Zinnias artinya apa?" Ia tahu dari Inojin kalau setiap bunga punya artinya sendiri. Makanya dia penasaran dengan arti bunga yang satu ini.
"Zinnias artinya..."
Rindu.
Tiba-tiba saja serasa ada tangan-tangan tak kasat mata yang mencubitnya—perih, ketika kata itu menunggu di ujung lidah. Kulitnya berdesir aneh, seperti ada sensasi dingin yang mengaliri dan tetiba saja sesuatu seperti memberatkan tenggorokannya, membuatnya kesulitan bicara.
"...rindu. Bunga zinnias artinya rindu,"
Ia paksa suaranya keluar akhirnya.
Rindu.
Apakah itu yang dirasakan Inojin?
Apakah ia sekarang merindukan orangtuanya?
Secepat itu?
"Kamu kangen sama Paman Sai dan Bibi Ino ya?"
Inojin menggigit bibirnya. Pertanyaan Chocho tepat sasaran, tapi... tapi ia tidak bisa mengakuinya. Maka Inojin pun berkilah,
"Tidak juga kok,"
Chocho tiba-tiba saja memeluknya, sebelum Inojin sempat bereaksi atau berontak. Ia menepuk-nepuk kepala Inojin, menawarkan simpati,
"Kalau kangen juga tidak apa-apa kok,"
Inojin menelan ludahnya. Entah kenapa tiba-tiba saja matanya serasa memanas. Tapi ia buat kelopak matanya berkedip, menarik paksa air yang tadinya mulai menggenang di pelupuk. Tidak. Inojin tidak boleh cengeng!
Chocho lantas melepaskan pelukannya, dan Inojin membuang muka, berharap Chocho tak menyadari ekspresi sedihnya dan pipinyi yang memerah karena malu. Chocho bangkit dari sofa, meregangkan lengannya dan berkata, "Aku pulang dulu ya, Inojin. Nanti Mama Papaku keburu khawatir,"
Inojin mendongak, "Kamu mau pulang sekarang?" Ia berharap nada kecewanya tak disadari Chocho. Namun ia juga tidak boleh egois dengan menahan Chocho. Apa yang dikatakan Chocho benar. Kalau kelamaan disini orangtuanya pasti akan khawatir. Apalagi ini sudah malam. Ia menghela nafas pada akhirnya,
"Ya sudah, hati-hati pulangnya Chocho,"
Chocho mengangguk, dan Inojin pun mengantarkan sahabatnya hingga depan pagar rumah, melambai sampai jumpa.
Ketika Chocho sudah benar-benar pergi, Inojin melangkahkan kakinya kembali ke ruang tamu. Ia melemparkan tubuhnya kembali ke sofa, menghela nafas berat.
Kelerengnya yang sebiru laut mengedar pandang. Ia baru menyadari betapa luasnya rumahnya kalau sedang sendiri begini. Begitu luas dan... sepi.
Yang mengisi hening hanya suara jarum jam yang berdetik ritmis. Tidak ada suara-suara berarti.
Tak ada suara gesekan ujung kuas dengan kanvas Ayahnya yang mengisi sunyi. Tak ada suara Ibunya yang meneriaki Inojin untuk bergegas mengerjakan tugas rumah dan tak bermain game terus-terusan.
Tak ada Ayah dan Ibu.
.
Hanya ada Inojin seorang diri... dan kelincinya.
.
Pandangannya terjatuh kepada bunny yang sedari tadi mengamati Inojin dari coffee table. Kepalanya miring ke samping, sorot matanya penuh tanda tanya, seolah ingin bertanya ada apa gerangan.
Sosok bunny mengingatkan Inojin pada Ayahnya lagi.
Bagaimana pagi tadi Ayahnya membuat sebuah hewan artifisial dengan intensi agar Inojin tak kesepian. Ayahnya dari dulu memang suka melakukannya.
Semenjak Inojin kecil, Ayahnya sudah suka membuatkan hewan dan gambar-gambar lucu dari jurusnya. Inojin sudah terlalu akrab dengan gambar-gambar hidup Ayahnya. Mulai dari menemaninya bermain, menjaga Inojin, menghibur Inojin yang sedang menangis atau sedih. Ajaibnya karikatur ayahnya itu memang selalu berhasil membawa perasaan riang dan damai hadir di sanubari.
Tak sengaja pandangannya juga jatuh pada bunga zinnias yang tadi dilukisnya.
Bunga zinnias mengingatkan Inojin pada sang ibu.
Inojin tumbuh dengan bunga.
Ia ingat semenjak kecil ibunya suka sekali membawanya ke Yamanaka Flower Shop, mengenalkannya dengan bunga-bunga, mengajari arti setiap kelopaknya, mendongengkannya tentang flora, dan mengajarkan Inojin untuk merawat bunga-bunga dengan kelembutan hati yang menyertainya.
Kata ibunya juga, ibu dan ayahnya suka sekali memanggil Inojin dengan sebutan "flower child".
Terkadang Ibunya juga akan memanggilnya "my baby flower", bahkan meski Inojin sudah besar seperti sekarang pun—dan ia sudah meminta ibunya berhenti karena ia malu jika didengar teman-temannya, tapi Ibunya masih saja suka memanggilnya begitu.
Ibunya bilang, ia dan Ayahnya ingin Inojin tumbuh seperti bunga.
Mekar selayaknya bunga. Yang membawa keindahan untuk orang-orang di sekitarnya.
'Kaa-chan, Tou-chan... kalian sedang apa sekarang?'
Inojin bertanya-tanya,
'Apa kalian juga memikirkan Inojin di sana?'
Inojin terduduk di sofa, termenung di tempatnya. Diantara keheningan yang seolah mencekam. Diantara kesendirian yang serasa mencekik.
Rasanya pandangan matanya mulai mengabut. Dadanya bergerumuh. Tubuhnya terasa kebas.
Jadi begini ya rasanya kesepian?
Jadi begini rasanya benar-benar sendiri tanpa orangtuanya?
Orangtuanya hanya pergi untuk dua hari tapi rasanya sudah sesepi ini.
Inojin tak berani membayangkan jika orangtuanya benar-benar pergi dari dunia ini dan meninggalkannya sendiri... apa yang akan ia lakukan?
Tidak. Tidak. Inojin tidak boleh berpikir seperti itu. Kata Ayah, berpikir jelek justru akan memanifestasi kejadian yang buruk.
Menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikriannya, bocah lelaki itu memutuskan untuk mengakhiri hari ini dengan tidur lebih awal. Mungkin dengan tidur, hari esok akan terasa lebih cepat berlalu. Sampai akhirnya Ayah dan Ibunya pulang ke rumah.
"Ayo kita tidur, bunny," Inojin merentangkan tangannya dan membawa kelinci Ayahnya dalam dekapan. Setelah memastikan bahwa pintu rumahnya sudah terkunci rapat, Inojin melangkah menuju ke kamarnya yang terletak di koridor paling ujung.
Ia melewati kamar utama orangtuanya, dan seketika langkahnya berhenti, mengkontemplasi.
'Mungkin tidur di kamar Tou-chan dan Kaa-chan akan lebih baik...' pikirnya.
Maka dengan determinasi itulah, Inojin mengambil selimut dan boneka beruangnya yang selama ini tak pernah alpa untuk menemaninya tidur. Boneka beruangnya itu adalah hadiah pemberian dari orangtuanya ketika Inojin berulang tahun yang ketiga. Inojin sangat menyayangi boneka itu. Teman temannya tidak ada yang tahu soal ini, tapi Inojin tidak bisa tidur jika ia tidak memeluk bonekanya.
Ia membaringkan diri di kasur king size orangtuanya, memejamkan mata untuk menghirup nafas dalam-dalam.
Hidungnya dapat menangkap aroma familiar Sai dan Ino dari seprai dan bantal yang menjadi alas tidurnya.
Dan rasa familiar itu membawa Inojin bernostalgia. Mengingatkannya akan betapa menyenangkannya presensi dan peluk hangat orangtuanya. Yang saat ini tak bisa dirasakannya keberadaannya.
Sejujurnya jauh dalam lubuk hatinya, Inojin ingin ikut orang tuanya pergi saat itu.
Tapi dia cukup besar untuk mengerti jikalau orang tuanya juga butuh waktu untuk berdua. Terlebih ini adalah ulang tahun pernikahan mereka yang ke dua belas tahun.
Selain itu, Inojin ingin membuktikan bahwa ia sudah besar. Inojin adalah anak yang mandiri. Dan ia ingin orangtuanya berbangga pada dirinya karena bisa ditinggal sendiri. Ia bisa saja menelfon orangtua sekarang, tapi Inojin tidak ingin menganggu. Lagipula seperti katanya tadi pagi, seharusnya dia sudah besar kan? Dia seharusnya tidak masalah tinggal sendirian kan?
Tapi ternyata...
Inojin masih belum besar ya...?
Nyatanya baru sebentar saja dia sudah sekangen ini.
Dia sudah rindu pada orangtuanya.
Walau kenyataannya mereka baru berpisah tadi pagi dan orangtuanya juga hanya akan pergi 2 hari lamanya.
Tapi...
Inojin rindu.
Inojin ingin bertemu.
Realisasi itu menghantam Inojin lebih keras dari apapun.
Satu tangannya tanpa sadar mengenggam selimut yang memeluk dirinya erat. Tangannya mulai berkeringat, dan selimutnya mulai terasa panas. Rasa kebas itu datang lagi melingkupinya.
.
Hampa.
.
Ia merasakan hampa.
.
Tidak hanya rumah yang terasa hampa.
Tapi sesuatu di dalam sana pun juga.
Rasa hampa itu serta merta mendorong pelupuk matanya kembali memanas. Ia ingin menangis. Dan ia benci fakta itu.
Kenapa dia cengeng sekali sih?
Seharusnya dia kan sudah besar. Ia sebentar lagi akan jadi remaja.
Dia sendiri yang yang menyakinkan Ayah dan Ibunya kalau dia akan baik baik saja.
Tapi sekarang, dia justru menangis.
Dia... payah sekali ya?
Inojin memiringkan tubuh dan meraih kelinci chouju giga Ayahnya di lengan kiri, kemudian boneka beruangnya di lengan kanan.
Ia dekap kedua benda itu ke dadanya erat-erat. Meskipun mereka tidak dapat mensubtitusi kehadiran Ino dan Sai di sisinya, tapi Inojin berharap ia bisa bersandiwara dalam angan. Berpura-pura menganggap bahwa Sai dan Ino ada di sisinya dan memeluknya dalam dekap hangat mereka.
Inojin makin mendekatkan pipinya ke bantal, menghirup sisa aroma Ino dan Sai yang tertinggal di fabrik.
Kelopak matanya perlahan menutup, membiarkan air mata yang sedari tadi ditahannya jatuh satu per satu menuruni pipi dan mengenai bantal yang ada di bawah kepalanya.
'Tou-chan... Kaa-chan...'
Di sela isak tangisnya yang membelah sunyi, Inojin menyuarakan pikirannya. Ia membisikan pengakuan terdalamnya,
.
"Tou-chan... Kaa-chan... Inojin rindu,"
.
Untuk kali pertama, Inojin tidur dengan perasaan kosong yang menghimpit dada.
.
~OooO~
.
Inojin menarik paksa dirinya dari dekap hangat dewa morpeus. Ia bisa merasakan pipinya yang terasa lembab, dan tenggorokannya yang sesak karena tumpahan air matanya sepanjang malam.
Memandang ke arah jendela, ia bisa melihat bahwa pagi telah datang menjelang. Bias bias mentari dari ufuk timur yang menyirami tubuhnya membawa sebuah kehangatan menyenangkan.
Ia bisa merasakannya, pun dengan samar-samar surai rambutnya yang dibelai lembut. Gerakan tangan itu penuh afeksi—konstan dan hati-hati, layaknya sebuah alunan crescendo.
Usapan di kepalanya nyaris mengantaR Inojin untuk terlelap lagi saking nyamannya sentuhan itu—kalau saja ia tidak sadar akan satu fakta penting.
Dia kan sendirian di rumah.
Jadi siapa yang mengelus rambutnya—
Tunggu.
.
Sentuhan ini pun serasa familiar. Jangan-jangan...
Jantungnya seketika menghentak. Kelopak matanya ia paksa buka lebar-lebar, dan ia pun berbalik badan.
.
Menemukan sang Ayah yang bebaring miring di sisinya, dengan seulas senyum hangat terpatri di lengkungan bibirnya. Bagaimana bisa...?
.
"Halo, Inojin," sapa Ayahnya.
Inojin hanya terdiam. Bola matanya membulat dan kelopak matanya mengerjap-ngerjap untuk beberapa saat. Ayahnya kok—
.
"Tou-chan kok bisa ada disini?!"
Ia menyuarakan kegundahannya. Ekpresinya bingung setengah mati.
.
Jangan jangan ini hanya ilusi? Atau mungkin genjutsu musuh?
.
Sementara Sai hanya terkekeh, satu tangannya lagi-lagi terulur untuk menyentuh pucuk kepala Inojin dan mengusap-usap surai platinanya sekali lagi. Sentuhan itu terlalu nyata. Ia yakin ini bukan genjutsu semata.
"Tou-chan dan Kaa-chan memutuskan pulang lebih awal pagi ini dengan choju giga,"
Bahkan mereka sampai memilih choju giga ketimbang naik kereta? Berarti sebegitu terburunya? Apa karena ada panggilan misi mendadak dari desa?
"Tapi kenapa?"
Sai masih mempertahankan senyumnya. Kali ini tangannya merambat turun ke pipi Inojin, membelainya, "Kaa-chan-mu mendengarmu memanggilnya,"
Inojin berkedip, hendak berkelit karena ia merasa tidak memanggil orangtuanya lewat apapun. "Aku tidak—"
"Lewat telepati," Ayahnya memberi eksplanasi, "Kaa-chan mendengarmu memanggilnya dari telepati," Senyum Ayahnya melembut, "Kau sudah mulai banyak perkembangan dengan jutsu klan Yamanaka ya Inojin? Kau memang benar putra Ino. Kau hebat seperti Kaa-chan-mu,"
Inojin masih berusaha mencerna perkataan Ayahnya.
Jadi... ia tanpa sadar memanggil orangtuanya dari telepati?
Memang sudah beberapa bulan ini Inojin giat berlatih jutsu klan Yamanaka. Diantara jutsu klan Yamanaka, Inojin memang paling mahir dalam telepati. Jutsu telepati dapat digunakan tanpa perlu merapal jutsu. Dan jika Inojin menghubungi Ino tanpa bahkan ia sadar, berarti itu adalah hasil dari alam bawah sadarnya. Alam bawah sadarnya lah yang membentuk konseksi dengan pikiran Ino di seberang sana.
"Tou-chan juga melihat Inojin lewat kelincimu," Mendengarnya seketika membuat Inojin mengedar pandang untuk mencari kelincinya. Namun sayang, ia tak berhasil menemukannya. Mungkin Ayahnya sudah melepaskan jutsunya sehingga kelincinya hilang diantara partikel udara. Inojin pasti akan merindukannya. Ia mendongak lagi pada Ayahnya, dan Sai pun kembali menjelaskan,
"Lewat kelincimu, Tou- chan bisa melihat Inojin menangis kemarin,"
Panas langsung menjalari pipi, seketika membuat permukaan kulitnya memberkas rona delima.
Inojin sangat malu. Ia malu karena ia ketahuan menangis kemarin.
Padahal ia sudah percaya diri bahwa dia akan baik-baik saja. Benar-benar memalukan. Seperti menjilat ludah sendiri.
Sai yang melihatnya hanya tersenyum simpul. Ia mengusap pipi putranya dengan punggung tangannya yang hangat, "Ibumu sangat khawatir memikirkanmu di sana,"
Inojin spontan menolehkan kepala lewat bahunya. Akhirnya ia bisa melihat sang ibu di sisi lain tempat tidur. Kelopak matanya terpejam, dan desah halus nafasnya mengalun harmonis. Sepertinya ia masih lelap tertidur. Inojin tersenyum lembut, menyadari betapa sang Ibu tampak sangat cantik ketika tertidur damai seperti itu.
Ia kembali mengerling pada sang Ayah, menunggunya kembali bercerita,
"Kami tidak biasa meninggalkan Inojin terlalu lama sendirian, jadi kami cukup khawatir,"
Inojin menduduk. Sorot matanya meredup. Dan bahunya merosot lesu. "Karena aku masih lemah ya, Tou-chan? Makanya kalian sangat khawatir?"
"Bukan begitu," tampik sang Ayah, "Kami bukannya tidak percaya pada kemampuan Inojin. Kami tahu Inojin bisa menjaga diri dengan baik. Tapi karena kami orang tua Inojin. Sudah tugas kami untuk mengkhawatirkan Inojin," Senyum Ayahnya begitu menenangkan. Pancar netranya meneduhkan layaknya rindang pepohonan. Suaranya mengalun merdu,
"Kami akan selalu khawatir padamu, Inojin. Tidak peduli Inojin sudah berusia 10, 20. Inojin akan tetap jadi bayi kami. Itu perasaan yang tak bisa kami singkirkan begitu saja sebagai orangtua,"
Inojin menggigit bibirnya. Rona merah muda kembali menjalari pipi, "Maaf karena mengacaukan liburan Tou-chan dan Kaa-chan,"
"Kau tidak mengacaukannya, Inojin." Sai menempelkan dahinya dengan sang putra, kebiasaan yang dilakukannya semenjak Inojin kecil saat dirasanya putranya membutuhkan pelipur, "Meskipun hanya satu hari, tapi kami tetap berterima kasih. Karena Inojin, Tou-chan dan Kaa-chan bisa menghabiskan waktu bersama berdua," ujarnya, "Tapi rasanya akan jauh lebih lengkap dan menyenangkan kalau kita pergi bertiga bukan?"
Bibir Inojin akhirnya mengurva, "Iya, Tou-chan. Terasa jauh lebih menyenangkan kalau pergi bersama-sama,"
Sai tersenyum, "Besok weekend bagaimana kalau kita pergi bertiga untuk merayakan ulang tahun pernikahan kami?"
Inojin mengedipkan mata, matanya berkilat ragu, "Tapi Kaa-chan dan Tou-chan yakin tidak mau berduaan saja, begitu?"
"Tenang saja. Tou-chan dan Kaa-chan sudah sering menghabiskan waktu bersama setelah Inojin tidur—"
Jawaban Sai membuat Inojin mengerutkan kening tidak mengerti,
"Maksud Tou-chan?"
Belum sempat Sai memberi penjelasan secara gamblang—mereka mendengar suara erangan dari sisi lain tempat tidur. Ino ternyata sudah bangun—syukurlah.
Inojin masih selamat.
Setelah merentangkan tangan ke udara untuk meregangkan otot-ototnya, Ino menolehkan kepala. Bola matanya melebar begitu ia menjatuhkan pandangan pada Inojin yang mendongak padanya,
"Inojin, kamu tidak apa apa, sayang?" Ia menempelkan telapak tangannya yang hangat ke pipi sang putra, menangkup wajahnya yang lagi-lagi bersemu malu.
"Tidak apa apa Kaa-chan," katanya, "Kan sudah ada Kaa-chan dan Tou-chan disini," Inojin tersenyum lebar, "Aku rindu kalian!"
Senyum lembut Ino melengkung mengimuti, "Kami juga begitu,"
Sang ibu lantas membubuhkan kecupan di pipinya. Sementara Sai tak ketinggalan menambahkan kecupan di kening Inojin, membuat rona merah di pipi Inojin makin pekat memberkas.
Sai dan Ino tertawa kecil melihatnya. Putra mereka memang menggemaskan.
Walau sempat diterpa ragu, namun Inojin akhirnya menarik satu lengan Ino dan satu lengan Sai untuk ia dekap bersama bonekanya.
Ia bawa lengannya lebih dekat ke dada, memeluknya erat-erat.
Perlahan namun pasti, ia bisa merasakan tangan tangan orangtuanya merambat untuk lalu memeluk tubuhnya, membuat Inojin seketika tersenyum puas.
Sudah lama sekali mereka tidak tidur bertiga semenjak Inojin punya kamar sendiri.
.
Kelopak matanya mulai menutup lagi, berniat untuk melanjutkan tidurnya. Desah nafas bahagia lolos dari bibirnya. Dalam hati mengucap syukur ia punya orangtua terbaik seperti mereka.
.
'Terima kasih, Tou chan, Kaa-chan. Aku sayang kalian'
.
FIN.
a/n: I'm not really proud of this work, tapi semoga suka. Sayang banget sama SaInoJin huhu :'). Mohon maaf kalau ada error di penulisan maupun yang lainnya. Terima kasih sudah berkenan membaca :D
