disclaimer: semua karakter milik Masashi Kishimoto
warning: wolf!AU. ABO. Shitty smut scene. Some disturbing thoughts. Wolf forms. DLDR.
characters/ships: saiino. Slight GenShizu. Mention of others.
.
.
Sayembara
.
~OooO~
.
Serigala berbulu keemasan itu mendekur.
Rintihannya terdengar takut. Sepasang iris biru lautnya berpendar, mengamati sekumpulan serigala yang menunggu aba-aba dari seberang. Serigala-serigala itu siap menerjang, memasang kuda-kuda dengan keempat kaki mereka yang kuat. Iris mata mereka yang berwarna cokelat dan merah pekat menyala terang. Sorot mereka lapar. Bergelora akan nafsu. Mata mereka yang berkabut gairah membuat Yamanaka Ino lagi-lagi bergidik takut.
Ia,Yamanaka Ino, adalah seorang serigala hybrid, berusia 20 tahun, berstatus sebagai omega yang masih untaken. Untaken—yang artinya dia tidak punya mate. Dan saat ini ia sedang mengalami heat pertamanya. Sementara sekumpulan serigala hybrid itu adalah para peserta sayembara ini.
Salah satu dari mereka akan menjadi calonnya untuk mating.
Ya. Sayembara ini dibuat untuk memuaskan heat sialan Ino. Entah siapa dari serigala-serigala itu yang akhirnya memenangkan pertandingan bodoh ini—maka dialah yang berhak menjadi pasangan mating-nya.
.
Siapa cepat, dia dapat.
.
Siapa cepat, maka dialah yang akan mendapatkan Ino.
.
Seolah Ino adalah sebuah hadiah tak bernyawa.
.
Tapi benar kan?
Pahit rasanya menerima realita, namun sayembara ini memang tengah menempatkan dirinya sebagai hadiah untuk diperebutkan.
.
Benar-benar... bodoh.
.
Ketika ia memutuskan untuk menjalani ritual sial ini, Ino sama sekali tak mengekspektasi para peserta yang datang akan sebanyak ini. Ia sama sekali tak menyangka ada sekitar—entahlah, mungkin ada 20 serigala, atau bahkan lebih—yang hadir untuk mengikuti. Alpha dan Beta. Entah berapa jumlah mereka pastinya.
Namun mereka semua sama. Para serigala itu sama-sama untaken seperti dirinya. Dan mereka memperebutkan hadiah yang sama.
Dirinya.
Ino tahu betul, dia dalam masalah besar.
Dengan jumlah sebanyak itu, Ino pesimis ia bisa bersembunyi sepenuhnya sampai waktu perburuan benar-benar selesai. Rasanya hampir mustahil dengan banyaknya alpha yang berpatisipasi. Seseorang—salah satu dari sekumpulan—itu, cepat atau lambat pasti akan menemukan persembunyiannya. Mereka akan mengklaimnya saat itu juga, terlebih dengan pheromone-nya yang sekuat ini.
Aroma yang menguar dari tubuh Ino selama masa heat sangatlah kuat seiring malam menjelang. Ia bagai sebuah daging yang disiapkan jadi santapan utama. Aroma heat yang menyelimuti tubuh Ino punya aroma memabukan, memberikan efek kepada siapa saja yang berada di kedudukan hierarki lebih tinggi, beta dan alpha untuk memangsa. Para alpha atau beta akan terangsang secara naluriah ketika hidung mereka menangkap aroma heat seorang omega, mendorong insting mereka untuk melakukan persetubuhan.
Terlebih ia masih untaken dan berada dalam masa subur.
Keadaannya yang siap untuk dibuahi membuat insting Alpha dan Beta yang nenghirup aromanya makin menggila.
Sekali lagi Ino memerap—merengek di bawah nafas dalam wujud serigalanya. Kepalanya tertunduk dalam. Ia berusaha menyembunyikan dirinya di balik kaki-kaki anggota pack-nya yang berdiri protektif di depan Ino, memagarinya layaknya sebuah benteng. Ino berterima kasih akan hal itu.
Saat ini Ino merasa sangat terintimidasi dengan banyaknya jumlah alpha dan beta yang jadi peserta perburuan.
Ino ketakutan setengah mati.
Pemimpin packnya—sang the Alpha, Genma, kini tengah berbicara di depan sekumpulan serigala itu, memberi beberapa patah kata sambutan—basa-basi sebelum event utama benar-benar resmi dimulai. Ino tahu jika para serigala itu ada dalam wujud manusianya, mereka pasti tengah memutar mata atau mendengus bosan mendengarkan ucapan Genma. Mereka tampak tidak sabar, terlihat dari iris mata mereka yang berkilat-kilat berbahaya.
Ino menegak ludah, dalam hati berterima kasih pada Genma karena sudah mengulur waktu lebih lama sebelum lno benar-benar harus menggantungkan nasibnya pada takdir.
Secara tidak langsung Genma memberinya waktu lebih lama untuk mempersiapkan diri. Mempersiapkan raga. Hati.
Dan kewarasannya, tentu saja.
Wanita di samping Genma—Shizune, seorang omega yang sekaligus mate sang the Alpha, diam-diam mengulurkan tangan untuk menyentuh puncak kepala serigalanya. Ia mengusap-usap kepala Ino, menyisir bulu-bulu keemasannya diantara ruas jemari. Ino memfokuskan pikirannya pada gerakan tangan Shizune yang teratur. Gerakan ritmis itu memberinya distraksi dari rasa cemasnya yang mencekik jiwa. Ia membalas afeksi Shizune dengan menyurukan kepalanya di betis wanita itu, memberinya beberapa jilatan apresiatif sebagai rasa terima kasih.
Di sisi lain, Ino tahu Shizune merasa amat bersalah saat ini.
Semua ini—sayembara ini sebenarnya adalah pilihan Ino sendiri. Tak ada yang memaksa. Dan ia memilihnya secara sadar.
Namun Shizune masih merasa bersalah kepada Ino.
Shizune tahu dan yakin, bahwa ia adalah alasan Ino menjatuhkan opsi mengadakan ritual ini. Ia tahu Ino memiliki opsi lain. Ino tidak perlu memilih ritual gila ini, kalau saja bukan karena apa yang terjadi antara dirinya dan Genma.
Memang benar Ino punya opsi lain. Ia tidak harus memilih sayembara ini. Ia punya dua opsi. Yang pertama, dia bisa saja memilih anggota packnya yang masih untaken untuk memuaskan heat-nya.
Namun sayang, tak ada sisa anggota untaken di pack tempat Ino bernaung. Mereka semua sudah berpasang-pasang. Shizune dengan Genma, Shikamaru dan Temari, Choji dan Karui, serta Kiba dan Tamaki. Ino sudah tak punya siapa-siapa lagi.
Sejatinya, seorang serigala hybrid pasti memiliki mate-nya masing-masing. Sudah merupakan takdir alam, bahwa bangsa mereka diciptakan berpasang-pasang.
Ada pasangan alpha-omega, beta-omega, atau alpha-beta.
Sepasang soulmates—begitu mereka menyebut, terjadi ketika seorang serigala hybrid berhasil bertemu dengan jodoh mereka yang sebenarnya—jodoh yang telah digariskan suratan takdir. Sepasang soulmates nantinya akan terikat sehidup semati.
Setiap serigala akan tahu, apakah serigala di depan mereka itu adalah soulmates mereka atau bukan hanya dengan mencium aroma mereka. Aroma sepasang seoulmates digambarkan bagai sebuah magnet berbeda kutub. Mereka akan saling tarik menarik, saling terpikat satu sama lain. Sekali kerling, kau akan tahu apakah dia mate sejatimu atau bukan.
Dan ketika mereka melakukan mating— penyatuan tubuh untuk kali pertama—mark atau tanda kembar akan muncul di leher masing-masing.
Selama dua puluh tahun dia hidup, Ino tak pernah merasakan daya tarik itu pada siapapun. Ia belum bertemu dengan mate-nya, meskipun ia bergaul selayaknya manusia. Menjalankan kehidupan layaknya manusia normal, berinteraksi dengan bangsa sesama hybrid, mengikuti gathering atau perkumpulan besar antar pack satu dengan pack lain. Pertemuan besar itu biasanya diadakan sebulan sekali.
Pack-pack akan saling berkunjung dan berkumpul, tujuannya adalah memberi kesempatan lebih besar bagi serigala untaken untuk saling berinteraksi dan akhirnya bertemu dengan mate-nya.
Ino terkadang suka bercanda dan menyebut gathering itu sebagai ajang perjodohan. Well, walau perjodohan ini memang lebih diikat oleh takdir semesta. Karena yang mereka temui dalam ajang ini adalah jodoh yang benar-benar ditakdirkan untuk mereka. Their one and only.
Dan layaknya sebuah cerita romansa, Ino banyak mendengar para hybrid menemukan mate sejati mereka saat gathering-gathering itu berlangsung. Pertemuan itu terbukti jitu. Karena nyatanya, memang banyak hybrid yang berangkat dalam keadaan untaken, dan pulang-pulang sudah membawa pasangan. Shikamaru dan Temari, contohnya.
Sayangnya, Ino tidak termasuk ke dalam golongan orang yang beruntung itu.
Sudah berpuluh-puluh gathering ia hadiri, namun ia tak berhasil menemukan mate-nya. Ia mulai percaya bahwa semua itu hanya mitos belaka. Atau kadang, Ino suka berhipotesa mungkin mate-nya memang sudah mati. Sehingga Ino tak bisa lagi menemukannya.
Pilihan kedua selain mencari secara mandiri, adalah dengan membiarkan pimpinan pack memberinya kepuasan ketika ia mengalami heat. Yang itu artinya, Ino mengizinkan Genma untuk menyentuh dan membuahinya. Memang sudah kewajiban seorang pemimpin pack untuk mengurus semua anggotanya dengan baik.
Untuk kasus omega yang mengalami heat tanpa mate seperti dirinya ini, biasanya pemimpin pack yang diberi tanggung jawab memuaskan dahaga birahi sang omega. Tidak peduli apakah sang pemimpin memiliki mate atau belum.
Itu adalah sebuah tradisi yang sangat konyol.
Dan Ino amat sangat membencinya.
Sayang, bangsa hybrid serigala punya aturannya sendiri.
Sebuah heat haruslah dipenuhi dan tidak boleh disembunyikan.
Sebuah heat yang dialami seorang omega dianggap oleh bangsa mereka sebagai anugrah.
Heat menjadi sebuah momen spesial bagi bangsa serigala. Karena heat adalah masa dimana seorang omega mengalami masa subur untuk dibuahi. Bangsa hybrid serigala sudah semakin punah—entah mati karena sakit atau diburu manusia, sehingga ketika omega mengalami heat, maka itu dianggap sebagai kesempatan emas untuk memperluas keturunan.
Jika ada seorang omega yang heat-nya tak dipenuhi dan malah justru disembunyikan, baik oleh packnya atau anggotanya sendiri, maka hal tersebut dianggap sebagai sebuah penghianatan dan pelanggaran tradisi.
Reputasi mereka akan terancam, terpuruk ke tingkat yang paling rendah, tak dianggap dan tak lagi dihargai di kalangan bangsa serigala. Bahkan bisa saja mereka diusir dari pack mereka dan malah jadi lone wolf yang terlunta-lunta.
Sebuah heat yang tidak dipenuhi juga akan terasa amat menyiksa. Terlebih tanpa kehadiran seorang mate di sisi omega itu.
Sewajarnya, para omega mengalami heat ketika mereka telah mencapai usia matang, yaitu 18 tahun. Biasanya para omega di usia itu sudah bertemu dengan mate-nya masing-masing.
Umumnya para omega mendapat heat secara otomatis setelah pertemuan dengan mate mereka. Aroma mate masing-masing dipercaya akan memantik hasrat dan gejolak hormon yang meledak-ledak. Namun ada juga kasus, seperti Ino misalnya, yang mendapatkan heat pertamanya sebelum mate-nya muncul.
Heat seorang omega baru akan bisa berakhir setelah ia mendapatkan sentuhan dari seorang Alpha atau Beta yang bisa memuasakan raganya. Jika tidak dipuaskan dengan melakukan penetrasi, heat itu tak akan kunjung berhenti dan berakhir menyiksa diri.
Meskipun begitu, Ino tidak mungkin bisa memilih opsi kedua. Ino tidak mungkin membiarkan Genma membuahinya.
Tidak ketika ia dan Shizune tengah berusaha mendapatkan keturunan setelah bertahun-tahun mencoba. Tidak setelah bertahun-tahun Shizune mengalami heat, tapi hasilnya masih saja nihil. Tidak ketika ia tahu betapa Shizune sering menangis meratapi apa yang terjadi.
Bagaimana jika ia dan Genma sekali melakukannya, dan Ino hamil? Bagaimana perasaan Genma dan Shizune nantinya?
Bagaimana pula dengan perasaannya?
Itu terlalu menyakitkan untuk dipikirkan.
Ino tak akan mampu melakukannya.
Meski ia dan Genma tak menaruh rasa apapun satu sama lain—ia sudah menganggap Genma sebagai kakak sendiri, demi Tuhan—Ino tak mau mengambil resiko itu.
Jika dia benar-benar hamil nanti, tentu dia akan menyakiti hati Shizune. Dia akan menyakiti Genma. Dan dia akan menyakiti dirinya sendiri.
Ino tidak mau ia jadi alasan kehancuran hubungan orang lain. Meski mungkin di kalangan bangsa merea hal itu adalah sesuatu yang biasa, Ino tidak mau. Ia tidak sudi.
Ketika ia mengatakan itu pada Genma beberapa malam yang lalu, Genma langsung menatapnya dengan sorot bersalah yang teramat sangat, menggumam, "Jadi kau akan memilih..."
"Ya. Aku akan memilih melakukan ritual sayembara itu," Ino mengangguk. Ia berusaha memantapkan hati, mencoba menyakinkan diri dengan keputusan yang diambilnya, "Kau bisa mengumumkan ini ke pack-pack yang lain, memberitahu pada alpha dan beta mereka yang masih untaken untuk mengikuti sayembara ini,"
Genma mengangguk saat itu, meski dengan berat hati. Ia mendongak, menatap Ino lekat-lekat dengan penyesalan dalam,
"Ino, maafkan aku—"
"Bukan salahmu," Ino menarik paksa sudut bibirnya.
.
Memang bukan salah Genma. Atau Shizune.
.
Tapi mungkin... ini bisa salah jadi Ino.
.
Salahnya yang tak kunjung bisa menemukan mate-nya. Salahnya kenapa heat sialan ini harus datang ketika ia belum memiliki mate di sisinya.
.
Sayembara semacam ini sudah semakin jarang di zaman sekarang. Ritual semacam ini hanya dilakukan jika seorang omega yang mengalami heat benar-benar tidak memiliki pasangan, dan sang omega tidak memilih pemimpin packnya.
Sayembara menjadi satu-satunya solusi.
Bangsa serigala membutuhkan omega untuk melahirkan bayi-bayi terkuat. Seorang omega membutuhkan Alpha atau Beta yang kuat untuk membantu mereka mendapat keturunan unggulan.
Sayembara ini memiliki filosofi bahwa siapapun yang menang nantinya—maka dialah yang terkuat.
Dan yang terkuat inilah yang berhak mendapatkan 'hadiah'-nya.
Sayembara ini tentunya memiliki aturan. Omega yang heat—dalam kasus ini adalah Ino—akan diberi waktu satu jam penuh untuk berlari dan sembunyi.
Sang omega diminta untuk menggunakan insting dan otak jenius mereka untuk mengelabuhi. Omega tersebut didorong untuk bisa memberikan teka-teki dan membuat para peserta kesusahan mencari.
Siapa yang menang, berarti dia memang yang benar-benar layak.
Ketika satu jam telah berlalu, barulah sekumpulan Alpha dan Beta itu diberi tanda mulai. Setelah aba-aba diucapkan, baru mereka mulai bisa berburu. Mereka akan diberikan waktu selama satu jam juga untuk mencari mangsa mereka.
Siapapun yang berhasil menemukan Ino terlebih dahulu dalam kurun waktu satu jam, maka dia adalah pemenang turnamen ini.
Ketika seorang peserta berhasil menemukannya, Ino akan membiarkan hybrid itu memuaskan nafsunya dalam wujud manusia. Kemudian Ino memiliki hak untuk menjadikan pemenangnya sebagai mate atau tidak.
Ketika Ino tidak memilihnya sebagai mate, maka itu bukan masalah. Mereka hanya akan bersetubuh, lalu berpisah. Ketika Ino mendapat heat lagi nanti, ritual itu akan diadakan lagi—kecuali jika Ino sudah memiliki mate-nya sendiri sebelum heat keduanya menghampiri.
Ia tahu itu bukan merupakan situasi yang ideal. Situasi ini terlalu seksis. Terlalu diskriminatif.
Menjadikan Ino seperti sebuah doorprize semata untuk diperebutkan.
Namun mau bagaimana lagi? Ini sudah merupakan tradisi turun temurun. Ino tak punya pilihan lain.
Ia hanya perlu berusaha sekeras yang ia bisa. Ia akan menyembunyikan diri dengan baik sampai waktu berburu telah habis. Jika ia berhasil melakukannya, maka itu bukan salahnya. Itu artinya para alpha dan beta yang mengikuti sayembara ini dianggap tidak ada yang layak. Jika muncul situasi seperti itu, barulah Ino diizinkan untuk mengonsumsi supressant untuk mengatasi heat-nya, mengingat tak ada serigala yang pantas untuk membuahinya.
"Aku pasti bisa," batin Ino, merepetisinya berkali-kali dalam kepala. Ino sudah punya rencananya sendiri. Ia sudah punya strategi untuk bersembunyi.
Sekawanan serigala di depannya mulai tak sabaran, sementara Genma masih sibuk menjelaskan peraturan.
Ino bisa menghirup aroma mereka yang sangat mengintimidasi, membuatnya berjingit. Namun diantara deru angin yang menerpa, entah kenapa ada sebuah raksi manis yang mengundang. Hanya samar-samar, memang. Hilang timbul begitu saja.
Di satu ketika, Ino punya dorongan untuk mendekat, namun ada satu ketika aroma sekawanan serigala yang bercampur di udara itu membuatnya sangat terintimidasi hingga rasanya ingin lari. Ia sungguh tak tahu apa yang terjadi.
Genma sudah berhenti bicara sekarang.
Dan Ino bisa merasakan jantungnya mulai bertalu-talu. Darahnya berdesir-desir tak tentu.
.
Ia tahu—inilah saatnya.
.
Ini saat dimana ia biarkan takdir mengambil alih segalanya.
.
Genma berbalik, bertukar pandang dengan Ino yang ada di belakang Shizune. 'Apa kau siap?' Sebuah pertanyaan non verbal itu terutarakan lewat kontak mata.
Ino menganggukan kepalanya. Dan Genma pun mengangkat tangannya.
Ia berbisik padanya diantara partikel udara,
.
"Lari, Ino,"
.
Dan ketika ia menurunkan lengannya ke sisinya, Ino pun berlari.
Secepat.
Dan sejauh yang ia bisa.
.
.
Jauh dari dalam lubuk hatinya, Ino berharap, andai saja, ia juga bisa berlari dari realita memuakan ini.
.
~OooO~
.
"Kau dapat undangan untuk menghadiri sayembara,"
.
Pemuda berambut sehitam arang itu menoleh. Atensinya yang sedari tadi tertuju pada objek di atas kanvas langsung tersita. Ia harus merelakan kegiatan memoles sketsanya tertunda sementara. Kuasnya ia genggam di tangan, memutar-mutarnya asal.
"Sayembara apa?" tanyanya, kepala dimiringkan penasaran.
"Sayembara omega yang sedang heat, Sai," kata lelaki berambut kelabu itu—Shin, sembari mendekat pada Sai yang terduduk di kursi tinggi depan atelier, "Kau pernah baca soal itu kan di sejarah bangsa kita? Saat seorang omega untaken mendapatkan heat dan ia belum memiliki pasangan, maka sayembara ini bisa jadi alternatifnya,"
"Aku tidak mau ikut," Sai berkata acuh tak acuh.
"Kau harus ikut. Itu sudah aturannya. Semua pack yang memiliki Alpha dan Beta untaken harus ikut sayembara ini. Tanpa terkecuali. Dan perlu aku ingatkan, bahwa kau juga seorang Alpha untaken, Sai," Shin memberi opini. Ia memainkan alisnya, nyengir jahil, "Kalaupun kau tidak menang, kau bisa saja bertemu dengan mate mu di sana kan? Sama seperti gathering, pasti akan banyak orang yang berkumpul. Tidak hanya alpha dan beta yang ada di sana. Terkadang kandidat juga membawa keluarga mereka, sekalian untuk cari peruntungan. Dan mungkin salah satu dari mereka adalah mate-mu, siapa tahu kan?"
"Aku tidak tertarik mencari mate, nii-san. Kau tahu itu," Sai menyilangkan kakinya, membalas menatap Shin dengan skeptis.
Shin memutar mata sebagai respon, "Aku tahu, tapi bukan kau yang membuat aturan. Kalau kau tidak ikut, pack kita bisa dapat masalah,"
Sai mendenguskan nafas, "Zaman sekarang masih memilih sayembara seperti itu? Bukankah seorang omega untaken yang heat bisa dibantu oleh pemimpin pack-nya?"
Shin mengangkat bahu, "Sepertinya alpha pack-nya sudah memiliki pasangan,"
"Dia masih bisa melakukannya meski dia sudah punya mate kan?" Sai mengangkat alisnya tinggi-tinggi, tak mengerti.
Hal itu juga berlaku di packnya. Di pack nya ada ia, Shin dan omega-nya yaitu Yagura, Yamato dan Anko, Kakashi dan Mei. Mereka semua sudah punya pasangan masing-masing kecuali Sai.
Sai ingat, dulu ketika Anko mendapat heat pertamanya—sebelum Yamato datang dan bergabung dengan pack mereka—Kakashi selaku pemimpin pack yang membantu Anko mengatasi heatnya, meskipun Kakashi sudah bermating dengan Mei.
Mungkin rasanya tidak ideal, namun memang sudah begitu aturan mainnya. Mereka tak punya opsi lain. Ada tradisi yang harus dihormati dan dipatuhi.
"Yeah, kau benar. Tapi aku dengar gosip..." Shin merendahkan volume suaranya. Sai hanya menggeleng-gelengkan kepala, dan sebuah helaan nafas pun meluncur dari bibirnya. Ia membawa kuasnya untuk kembali menggores palet lalu memoleskannya di atas kanvas. Ia tidak mau peduli dengan Shin dan segala gosipnya. "Kau ini terlalu banyak bergosip, nii-san..."
"Ini cukup serius, tahu. Kurasa ini yang menjadi alasan kenapa omega ini memilih melakukan sayembara ketimbang membiarkan The Alpha-nya mengambil alih," Shin memberitahunya dengan antusias. Kini ia sudah menarik sebuah kursi tinggi untuk mendudukan diri sejejar dengan Sai, siap membagi gosip.
Sekali lagi Sai menghela nafas, namun ia memutuskan untuk menghibur kakaknya itu. Meskipun begitu, ia masih tak melepaskan perhatiannya dari mahakaryanya, sehingga Sai pun menanggapi ala kadarnya, "Apa yang kau dengar?"
"Aku dengar, si pemimpin pack ini sudah menemukan pasangannya. Tapi mereka belum bisa punya keturunan..." Shin berbisik. Informasi dari Shin entah kenapa membuat Sai tertarik. Ia menghentikan gerakan tangannya seketika. Menarik tangannya dari atas kanvas untuk memberi Shin tensinya, Sai mulai menyimak perkataannya dengan sungguh-sungguh sekarang.
"Si omega ini sepertinya tahu. Sehingga ia pun memilih opsi untuk mengambil ritual ini, karena..."
"Karena dia takut kalau dia hamil, dia akan membuat pasangan alphanya sakit hati?" Sai menebak. Pandangannya lurus ke depan, menerawang.
Shin di sampingnya mengangguk mahfum, "Sepertinya begitu," ia melipat kedua tangannya, kini gantian ia yang menghela nafas, "Tindakan yang dilakukannya itu—"
"—bodoh,"
Sai langsung menyahuti tanpa pikir panjang.
Benar. Apa yang dilakukan oleh si omega itu memang bodoh.
.
"—dia mengobarkan dirinya demi kebahagiaan orang lain."
.
Terlalu bodoh, menurut Sai.
.
Namun di saat bersamaan, aksinya itu heroik.
Dan tiba-tiba saja, Sai jadi tertarik.
.
Sai memang tidak ada niatan untuk menang. Ia juga tidak berniat mencari mates atau apa. Sai mulai percaya bahwa matesnya mungkin sudah mati duluan sehingga ia tak kunjung bertemu dengannya.
Ia hanya tertarik untuk melihat seperti apa omega ini. Omega yang selfless. Yang berani sekali lebih mementingkan kebahagiaan orang lain ketimbang dirinya sendiri.
Ia menoleh pada Shin kemudian, "Kapan sayembaranya akan diadakan?
Shin mengangkat alis, cukup terkejut tiba-tiba Sai berubah pikiran secepat itu, "Besok Sabtu, dimulai pukul dua belas siang,"
"Dimana tempatnya?"
"Pack mereka ada dekat di hulu sungai Konoha,"
Sai mengangguk, sebelum ia memilih kembali melanjutkan karyanya yang lagi-lagi tertunda. Ia berambisi untuk menyelesaikan lukisannya hari ini juga sebagai kado ulang tahun Yamato yang ke dua puluh delapan.
Sementara Shin yang terduduk di samping Sai hanya termenung mengamati adiknya yang sibuk berkreasi.
Tidak biasanya Sai mau berpartisipasi dengan event event seperti itu. Bahkan untuk datang ke gathering saja Sai sering absen. Yah, meski memang sayembara kali ini bersifat wajib, tapi ia merasa ada binar lain yang berkilau di mata legam Sai yang saat ini masih menari di atas sketsa.
Ia mengenal adiknya dengan baik.
Dan ia tahu, adiknya mulai dibuat penasaran dengan si omega ini.
Sudut bibirnya terungkit.
.
.
Entah kenapa Shin tiba-tiba punya firasat, Sai tak akan pulang dengan tangan kosong kali ini.
.
~OooO~
.
Sai sampai di dekat hulu sungai Konoha tepat pada pukul dua belas kurang lima belas menit.
Sai berdiri dalam balutan turtle neck hitamnya yang dibungkus dengan sebuah coat dan trouser abu-abu, dilengkapi dengan sepasang sneaker hitam. Obsidiannya menari, mengedar pandang untuk mengamati.
Jujur, ia sama sekali tak menyangka akan sebanyak ini partisipan yang hadir. Ia bisa melihat ada beberapa Alpha dan Beta yang mondar-mandir ke sana kemari untuk bersiap-siap. Ada yang melakukan pemanasan, ada yang tengah mengisi energi dengan asupan, dan ada pula yang hanya bersantai.
Dan seperti kata Shin kemarin, tak hanya alpha dan beta saja yang datang, ada pula omega-omega lain yang memang sengaja di bawa oleh keluarga atau pack mereka untuk bertemu dengan pack tetangga. Cari peruntungan, syukur-syukur bisa bertemu dengan soulmates masing-masing di acara ini.
Mungkin hanya Sai yang punya intensi berbeda. Selain hanya untuk memenuhi kewajibannya menghadiri undangan—ia tak punya opsi lain, lagipula—alasan Sai mengikuti sayembara ini semata-mata untuk melihat omega yang menjadi sasaran dalam turnamen ini.
Omega itu... entah kenapa membuat Sai penasaran.
Sai tak punya ambisi untuk menang. Ia hanya akan menjadi observer—pengamat, dan membiarkan lawan-lawannya yang lain memenangkan pertandingan.
Lima menit sebelum sayembara resmi dimulai, Sai melihat seorang lelaki tinggi berambut kecokelatan berjalan dari arah cabin dan meminta perhatian. Sepertinya ia adalah pemimpin pack ini.
Seketika suasana menjadi lebih hening, dan mereka mendengarkan dengan seksama perintah dari sang The Alpha. Pria itu lantas memberi instruksi bagi para peserta untuk berkumpul di sisi selatan sungai, dan Sai pun mengikuti bersama kawanan yang lain. Si pemimpin pack mengatakan bahwa sayembara akan segera dimulai, sehingga mereka diminta untuk bersiap-siap dengan merubah diri.
Setelah memastikan barang bawaannya aman, Sai dan para peserta yang lain mulai melucuti baju yang menanggal di tubuh. Menyisakan diri mereka bertelanjang bulat. Sudah bukan hal yang asing di kalangan serigala hybrid seperti mereka melihat tubuh telanjang satu sama lain.
Sai menutup kelopak matanya, berkonsentrasi untuk mengubah dirinya ke wujud serigalanya. Ia bisa merasakan tubuhnya mulai gemetar, tremor yang melandanya terasa sangat familiar. Tak butuh waktu lama bagi Sai untuk mengubah dirinya menjadi wujud serigala sepenuhnya.
Bulu serigala Sai berwarna hitam tinta. Serigalanya berukuran tinggi besar dengan iris yang menyala merah terang—khas seorang Alpha. Sai mendekur, menggerakan keempat kakinya untuk berdiri lebih mendekat, menyimak penjelasan si pemimpin yang kini tengah merangkai kata pembukaan.
Sai bisa melihat para peserta yang lain juga telah mengubah wujud mereka satu per satu, dan kini mereka telah berkumpul dalam satu kawanan besar. Sedetik setelah itu mereka bisa melihat beberapa orang keluar dari cabin dan berjalan ke sisi sang pemimpin yang kini berseberangan dengan kawanan peserta, sengaja menjaga jarak. Sai tak sengaja berhasil menangkap siluet serigala berbulu keemasan dari balik kaki-kaki anggota pack itu.
Mungkinkah itu si omega itu?
Sai bisa merasakan beberapa Alpha dan Beta di sekitarnya mulai menggeram tak sabaran. Beberapa diantaranya bahkan ada yang melonglong gelisah. Kehadiran si omega yang tengah mengalami heat itu membuat nafsu kawanan serigala ini berkecamuk di udara. Bahkan Sai bisa merasakan dirinya mulai merasa tidak nyaman. Phoremone yang menguar dari serigala itu terlalu kuat.
Samar ia juga bisa mencium aroma manis yang menguap dari seberang. Hanya samar-samar saja. Tiba tiba bisa datang, dan tiba-tiba saja bisa pergi. Apakah ini juga bau dari omega itu? Apakah memang bau serigala yang heat semenyenangkan ini ya?
Tapi seingat Sai, dulu aroma Anko tidak senikmat ini...
.
Sai baru menemukan jawabannya sedetik kemudian.
.
Ketika sang pemimpin selesai membacakan peraturan, dan kemudian orang-orang yang berdiri menghalanginya menjauhkan diri—memberi Sai akses lebih lebar untuk menangkap sosok serigala dari seberang—Sai tahu.
Detik itu juga ia tahu, tatkala ia bisa merasakan bola matanya membulat. Ketika tubuhnya berubah mengkaku dan jantungnya bergemuruh hebat.
Ia tahu.
Ia tahu begitu matanya terjatuh pada omega itu. Begitu angin yang membawa pheromone itu menyapa indra penciumannya sekali lagi.
.
Sai tahu.
.
Sai tahu ia tidak bisa membiarkan orang lain mendapatkan omega itu lebih dulu darinya.
Ia bersumpah, ia tidak akan membiarkan itu terjadi.
.
Karena omega itu…
…Omega itu adalah soulmate-nya.
.
Serigala dalam dirinya ingin melonglong dalam suka cita.
.
Ia akhirnya menemukan pasangannya. Ia menemukan separuh jiwanya.
.
Sai menemukan mate-nya.
.
Mate-nya yang kini justru berlari menjauh darinya.
.
Sai menahan diri sekuat tenaga untuk tak langsung mengejar, detik begitu omeganya memutar kaki untuk berlari.
Meskipun serigala berbulu keemasan itu adalah omega-nya, sayembara tetaplah sayembara. Dan sayembara memiliki peraturan yang harus ia patuhi. Kalau tidak hati-hati, ia akan terkena diskualifikasi. Sai harus rela menunggu selama satu jam sebelum ia dan serigala yang lain diperkenankan untuk mengejar. Ia harus mau bersabar.
.
Sai gelisah.
Waktu satu jam terasa begitu lama. Dan sangat amat menyiksa.
Sai pikir itu adalah waktu menunggu paling panjang dalam hidupnya. Alpha dalam dirinya sudah meraung-raung tak sabaran.
Ketika satu jam akhirnya terlewati, dan sang pemimpin pack memberi aba-aba untuk memulai, Sai bersama kawanan serigala yang lain pun langsung berlari. Mereka berlari secepat yang mereka bisa menembus hutan.
Ia membiarkan desir angin yang dingin mengenai seluruh tubuhnya, membelai seluruh bulunya yang hitam bagai arang. Keempat kakinya bergerak cekatan dan lihai, menghindari akar-akar kayu besar yang menghalang jalan. Suara gemerisik dedaunan yang bergesekan menjadi pengiring perjalanannya menemui predestinasi.
Sai berlari dan berlari, hingga akhirnya kedua iris merah itu berhasil menangkap hamparan sungai kecil yang membentang di hadapan. Riaknya gemilau, begitu indah, laksana surgawi. Kawanan serigala lain langsung bergerak untuk masuk ke dalam air untuk menyebrang. Sai juga hampir melakukan hal yang sama—namun ia buru-buru mengerem laju kakinya.
Ia memilih untuk menunggu.
Mengira sang omega menyebrang sungai sebenarnya adalah alasan yang logis.
Namun Sai merasa bahwa omega itu adalah seorang yang cerdik. Ia pasti membuat jebakan untuk mengecoh mereka.
Sai harus bisa memikirkan strategi. Ia tak boleh gegabah, atau ia akan kalah. Ia harus berpikir dengan otak dan instingnya. Bukan dengan genital dan birahinya.
Sai ingin menertawakan diri sendiri saat ini. Ia rasa Shin pun juga begitu.
Sejak awal ia tak memiliki niat untuk memenangkan kompetisi, tapi lihatlah dirinya sekarang. Konyol sekali.
Sai menutup mata, hidungnya terangkat untuk mengendus udara. Ia tahu ia memiliki keuntungan di sini—ia bisa menangkap aroma omega itu lebih akurat ketimbang peserta yang lainnya. Hidungnya lebih tahu kemana sekiranya omega itu pergi. Aroma sang omega di udara saling bercampur kesana kemari dan itu cukup membingungkan. Samar Sai bisa menangkap aromanya dari seberang sungai, tapi ia juga bisa menangkap aromanya dari arah selatan. Jika tidak berhati-hati, maka Sai bisa terkecoh dengan mudah. Ia hanya perlu berkonsentrasi.
Maka Sai bawa moncong hidungnya menyusuri sisi sungai, mendengus tanah dengan hati-hati. Ia bisa mencium aroma memabukan itu dari sana, dan ia pun mengikuti instingnya. Sai masih terus mengikuti kemana sekiranya jejak aroma itu pergi, mengandalkan penuh penciumannya.
Semakin ia menuju ke arah selatan, semakin kuat bau itu menghampiri. Sampai akhirnya ia bisa menemukan dedaunan yang terjatuh di tanah, dekat semak-semak. Jika tak teliti, petunjuk itu mudah saja terlewatkan, namun mata tajam Sai untunglah dapat menangkapnya. Dedaunan kecil yang jatuh itu memberi tanda bahwa seseorang masuk ke balik semak-semak di sana.
.
Itu pasti omeganya.
.
Sai menahan diri untuk tak mengaum senang.
Maka ia pun mulai berlari menembus semak-semak, menyusuri hutan untuk menemukan dimana omeganya bersembunyi.
.
.
Sai melantukan doa,
Semoga ia tak terlambat.
.
~OooO~
.
Ino memutuskan untuk bersembunyi di balik semak belukar ini.
Ia merasa tempat ini cukup aman. Ino sudah berusaha membuat jebakan di sungai, sengaja mondar-mandir di sekitar sungai untuk mengacaukan baunya di udara. Ia berharap, dengan menggunakan trik itu, para kawanan serigala itu akan kebingungan dan memutuskan memilih menyebrangi sungai—berlawanan arah dari tempat Ino berada.
Begitu ia menjauh dari sungai, Ino berlari secepat yang ia bisa. Hati-hati untuk tak menggesek ranting dan tak memberi petunjuk apapun. Sampai akhirnya ia menemukan tempat di balik semak-semak tinggi ini. Tempat yang menurutnya cocok untuk dijadikan tempat sembunyi.
Ino menjatuhkan tubuh serigalanya, meringkuk di tanah.
.
Harap-harap cemas, ia pun menanti ujung takdirnya.
.
Dua puluh menit berlalu begitu saja, dan Ino mulai dibuat yakin bahwa tak ada satu pun serigala yang berhasil menemukan tempat persembunyiannya—saat tiba tiba saja, ia menangkap suara.
Telinganya yang sensitif menangkap gemerisik suara semak-semak yang bergeser, niscaya membuat Ino menegang.
Tubuhnya mengkaku, darahnya beku, dan jantungnya bertalu.
.
Oh, tidak!
Seseorang berhasil menemukannya.
.
Maka Ino paksa tubuh serigalanya bangkit, meski harus dengan susah payah. Heat-nya makin parah semakin waktu mendekati purnama. Ini benar-benar menyiksa.
Namun ia tak boleh menyerah. Ia harus berlari menjauh sebelum serigala yang berada dalam radius tak jauh darinya itu muncul dari balik semak-semak dan menemukannya. Ino harus menghindar.
Ia mengendus udara, berusaha menerka dimana posisi serigala yang berhasil menemukannya itu.
Seharusnya aroma serigala itu membuatnya ketakutan dan terindimasi, membuat Ino ingin menjauh sejauh mungkin darinya.
Ya.
Seharusnya.
.
Tapi efeknya justru sebaliknya.
.
Aroma itu menguar kuat, memanggil-manggil Ino untuk mendekat.
Tubuhnya gemetar hebat. Aroma ini benar-benar manis. Benar-benar membelenggu Ino hingga ia hanya bisa terpaku di tempat.
.
Ia ingin melihatnya. Ia ingin melihat serigala itu.
.
Ia harus melihatnya.
.
Seperti mendengar doanya, serigala itu akhirnya muncul dari balik semak.
.
Ino sekejap dibuat terpesona.
.
Serigala berbulu hitam itu punya tubuh tinggi besar.
Bulunya lebat, legam selayaknya angkasa malam. Sangat indah. Dua buah telinganya berdiri tegak, moncong serigalanya runcing dengan hidung kecil berwarna hitam. Dua kelereng merah itu berkilat-kilat diterpa bias rembulan, berkilau bagai batu rubi.
Ino tahu sekarang.
Kenapa semenjak di garis start sana ia bisa merasakan ada sesuatu yang menarik dirinya ke kawanan serigala lapar itu. Kenapa ia merasakan semua sensasi ini.
Kenapa sekarang jantungnya berdetak tak beraturan. Kenapa kerongkongannya terasa begitu kering. Kenapa tubuhnya tiba-tiba mulai merasakan panas yang lama-kelamaan membuatnya gerah. Gerah akan gairah.
Manik biru laut Ino seketika bersitatap dengan serigala itu.
.
Biru bertemu merah—dan semuanya menjadi masuk akal.
.
Pandangan mereka mengunci satu sama lain. Ingin berpaling pun rasanya sulit.
Dan detik berikutnya, waktu seolah berhenti.
Ino bisa melihat posture serigala sang alpha turut berubah kaku, dan ia pun gemetar lagi. Setiap vibrasi yang melanda tubuhnya mengirim aroma yang membuat Ino mabuk kepayang.
Semua reaksi ini—kini Ino mengerti.
.
Alpha yang ada di seberang itu adalah mate-nya.
.
Pasangannya.
Satu-satunya untuknya.
.
Bau menyenangkan yang begitu kuat menguar dari tubuh sang alpha itu. Aroma penuh dominasi menyegap penciumannya hingga membuat nafasnya tercekat. Pendar tajamnya irisnya yang merah menyala masih mengunci miliknya, enggan melepaskan barang sedetik saja. Ino dibuat menegak ludah.
Ino hanya bisa termangu, tubuhnya mengkaku seiring serigala itu berjalan mendekat. Pelan namun pasti, ia melangkah kepadanya. Aura dominan yang menguar dari tubuhnya tidak bisa membohongi wolf manapun yang mencium aromanya bahwa ia adalah seorang alpha yang kuat.
Tepat ketika sang alpha hanya tinggal beberapa langkah darinya, serigala lain tiba-tiba muncul dari arah barat.
.
Sama-sama alpha, namun ukuran tubuhnya lebih kecil dari serigala berbulu hitam itu.
.
Selama beberapa detik mereka hanya saling bersitatap. Bola mata Ino bergerak ke serigala hitam dan cokelat itu bergantian. Sorotnya was-was.
Ino bisa merasakan tensi tinggi di sana. Dua pasang bola mata merah itu berkilat-kilat berbahaya, menatap sengit satu sama lain.
Ino berharap mereka tidak perlu melakukan pergulatan fisik. Seharusnya serigala cokelat itu tahu bahwa serigala hitam itu lah yang datang terlebih dahulu, otomatis menjadikannya sebagai pemenang. Ia hanya perlu menyerah.
Lagipula, Ino juga tak punya hasrat untuk disentuh oleh serigala cokelat itu. Ia hanya ingin tubuhnya dimiliki secara mutlak oleh serigala hitam itu. Mate-nya.
Dia hanya ingin sentuhannya dan bukan yang lain.
Namun terkadang bangsa serigala bisa jadi makhluk paling tidak terprediksi. Makhluk paling keras kepala yang pernah ada.
Mungkin juga serigala cokelat itu sedang tidak berpikir logis karena nafsu yang terlanjur membutakan otak.
Tiba-tiba saja, ia nekat melompat untuk menyerang. Mengajak sang alpha berbulu hitam untuk berduel.
Ino menatap takut-takut, jantungnya makin berdebar tak karuan. Kakinya ia bawa mundur untuk menjaga jarak. Ia hanya mampu terdiam mengamati pergulatan sesama alpha itu.
Sai spontan menggeram, taring-taringnya yang tajam tanpa bisa dicegah kini bertransformasi. Ia balas melompat ke arah serigala cokelat itu. Dan pergulatan pun tak bisa lagi dihindari lagi.
Mate-nya mengayunkan lengan, mencakar leher si Alpha dengan kukunya yang tajam hingga ia jatuh terhuyung ke tanah dan mengerang kesakitan. Serigala cokelat itu bangkit lagi dan kembali melakukan perlawanan dengan menggigit sisi tubuh lawannya, namun serigala hitam itu lebih cepat. Ukuran tubuhnya yang lebih besar tentu memberinya keuntungan sendiri.
Ino melihat mate-nya tanpa ragu menggigit leher serigala itu, dan tanpa kesulitan menghempaskan tubuh serigala itu dengan rahangnya. Membiarkannya terpental hingga menabrak batang pohon di seberang, tubuhnya menggesek tanah beberapa meter hingga menyisakan luka. Mate-nya menggeram keras, suaranya memantul diantara pepohonan hutan. Irisnya yang semerah darah berkilat marah, menantang serigala cokelat itu untuk kembali berduel jika ia berani.
Serigala cokelat itu akhirnya menyerah. Ia langsung memutar tubuh dan berlalu menjauh, mengakui keunggulan sang serigala hitam.
Memastikan bahwa si penganggu telah pergi menjauh, sang Alpha menolehkan kepalanya kembali kepada Ino yang menatapnya takut.
Pendar mata yang awalnya murka sirna. Sorot matanya berubah. Melembut seiring ia kembali melangkah mendekat.
Ino bisa merasakannya.
Tatapan marah itu serta merta menghilang. Iris mata itu memang berwarna merah pekat, menakutkan—namun anehnya, di saat yang sama kelereng itu membawa sebuah kehangatan, menawarkan rasa aman dan nyaman untuk dirinya.
Ketika sang alpha akhirnya berada dalam jarak personalnya, Ino bisa merasakan ujung hidung mereka saling menyentuh satu sama lain. Ia bisa menghirup aroma memabukan itu makin jelas.
Aroma menyenangkan ini... Oh Tuhan.
Aromanya menguasai ia begitu kuat, hingga Ino tak kuasa ambruk ke tanah, meringkuk sebagai gestur submisif.
Serigala itu mengikuti Ino ke tanah, menggeram di lehernya. Kemudian melarikan ujung hidungnya ke telinga dan leher Ino, mengusak wajahnya disana dan sesekali memberinya jilatan dengan lidahnya, membuat Ino makin gemetar. Hangat nafas dan lidahnya yang basah membuatnya hampir tak bisa menahan diri untuk meminta lebih.
Serigala itu masih menciumi tubuhnya, memujanya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Meletakan teritorinya di sana. Memastikan ia meyelimuti Ino seluruhnya dengan scent alpha-nya. Merangkak ke kepala Ino, mate-nya itu mengeluarkan suara deruan rendah di dekat telinganya. Suaranya yang berat mengirim sensasi menggelitik di perut Ino.
.
Serigala hitam itu kemudian menarik diri. Ia membawa kepalanya ke udara, dan melonglong tinggi menembus seantero hutan hujan.
.
Suara longlongan itu memiliki arti.
.
Sang pemenang telah terpilih.
.
~OooO~
.
Mereka sudah mengubah diri mereka ke wujud manusia.
Kedua tubuh yang tak tertutup sehelai kain itu pun saling berhadapan. Keadaan mereka yang telanjang bulat tak mereka pikirkan—meski jujur saja, Ino berusaha menahan mati-matian untuk tak menatap terlalu lama. Sai punya tubuh yang sempurna, menurutnya.
Detik ketika mereka sama-sama mendongak, kedua netra mereka saling beradu. Hitam dan biru.
Iris crimson itu telah luntur, berganti hitam jelaga. Hitam yang kini menatap dirinya lekat-lekat, niscaya membuat sanubarinya menghangat.
Untuk sepersekian detik mereka membiarkan diri mereka terhanyut. Dan Ino bersumpah, seperti ada aliran listrik tak kasat mata yang tercipta dari sana. Jadi beginikah rasanya ketika akhirnya bertemu dengan the one-mu?
"Siapa namamu?"
Tak dinaya, mate-nya yang justru buka suara terlebih dahulu. Suaranya mengalun sempurna, seperti melodi orkestra.
"I-ino..." Ino menarik nafas, berusaha keras menahan suaranya agar tidak bergetar, "Ino Yamanaka, kau?"
Ino Yamanaka.
Sai menyukai nama itu.
Nama itu seketika menjelma menjadi sebuah adiksi.
Ia membutuhkan nama gadis itu—karena nama gadis itu yang akan ia sebut-sebut diantara belah bibirnya ketika mereka mencapai kenikmatan duniawi nanti.
"Kau bisa memanggilku Sai," ia tersenyum pada gadis itu. Ia juga membutuhkan Ino untuk menyebut namanya dalam setiap desah lirihnya ketika Sai memberinya ekstasi. Sai ingin namanya disebut-sebut oleh gadis itu dengan suaranya yang mendendang merdu.
Tiba-tiba Sai mendekatkan wajahnya hingga sejajar dengan telinga Ino, berbisik di sana. Deru nafasnya yang hangat menyapu permukaan kulit Ino, membuat bulu romanya meremang.
Suaranya berubah berat, dominan dan posesif saat ia berkata,
"Mate..." desahnya parau, namun begitu jelas, berdengung di telinga,
.
"Milikku..."
.
Tubuh Ino lagi-lagi gemetar. Lagi-lagi ia juga harus menahan diri untuk tidak mendesah.
Ino membenci dirinya. Otak dan hatinya tidak saling bekerja sama, ada bagian dari dirinya yang ingin lari dari semua ini, tapi ada bagian dari dirinya yang lain yang justru ingin berada dalam kungkungan nyaman Alpha-nya.
Gejolak pikirannya terhenti, kala Ino merasakan nafas pria itu berubah makin memburu. Bibirnya yang dingin turun untuk kemudian mengecup lehernya. Lama. Seolah ia mengunci takdir mereka sebagai soulmates di sana.
Sai lalu menarik diri, dan ia memastikan untuk menatap Ino lurus-lurus, meminta konsen, "Bagaimana kau ingin melakukannya?" tanyanya lembut. Ia berbeda dari Alpha kebanyakan. Yang kebanyakan keras dan kasar.
Hati Ino kontan menghangat. Mungkin itu hanya gestur sederhana yang tak seberapa, namun dari buku yang ia baca, kebanyakan Alpha yang dihadapkan dengan omega yang sedang dalam masa heat suka berbuat semena-mena. Mereka akan langsung menerjang karena nafsu sudah terlanjur membutakan raga.
Namun Sai berbeda. Meskipun mungkin melawan nalurinya, Sai menyempatkan diri untuk bertanya. Ia ingin membuat ini menjadi lebih mudah untuk Ino, dan ia mengapresiasinya.
Ino memberinya seulas senyum sebegai rasa terima kasih. "Aku..." ia menunduk, merona delima, "Aku... tidak tahu. Aku menyerahkannya padamu. Tapi eum... aku hanya meminta... tolong lakukan dengan lembut?"
Ino mendongak, disambut oleh selengkung senyum di bibir Sai yang tak luntur jua. Tak ada sorot menghakimi di sana, membuat Ino menjadi lebih rileks karenanya.
Sai mengecup keningnya, dan jantung Ino berdentum tak karuan karena gestur afeksi itu, "Tentu," ia berbisik, "Kau hanya perlu percaya padaku,"
Ia mengangguk. Ino memberanikan diri mengecup pria itu lebih dahulu. Dimulai dari sudut bibir Sai, lalu kecupan seringan kapas itu perlahan turun ke dagu, lalu ke lehernya.
"Mate..." Ino mendesahkan kalimat itu.
Sai gemetar mendengar desah lirih itu tepat tertuju di telinganya. Perlahan membangkitkan sesuatu di dalam sana, kini meraung ingin menggedor keluar. Tubuhnya memanas, dan Sai tahu sia-sia saja untuk menahan semuanya. Namun meskipun begitu, Sai harus tetap memikirkan Ino. Ia tak boleh menuruti insting Alpha-nya yang meraung-raung. Ino ketakutan, dan ia sudah meminta Sai untuk melakukannya dengan lembut. Sai akan menepati janji itu.
Maka ia benturkan hidungnya dengan hidung gadis itu. Satu tangannya bergerak untuk meraih dagu sang omega, yang akhirnya ia gunakan untuk menawan bibir nan ranum itu. Ciumannya tegas, lugas— dan mampu membawa Ino ke awang-awang.
Tautan itu baru terpisah ketika paru-paru akhirnya menjerit, memaksa mereka mengambil jeda untuk meraup udara.
Sai berkata di sela-sela kecupannya di bibir Ino, menggumam, "Aku akan melakukannya dengan lembut. Tapi beritahu aku jika sakit, oke?
Ino mengangguk cepat. Nafsu telah membutakan rasionalnya. Ia menghempaskan dirinya di atas tanah. Ia bisa merasakan hawa di sekitar mereka memanas secara drastis, pun dengan suhu tubuh mereka seiring mereka berbagi kontak—kulit ke kulit.
Mereka tak melepaskan tautan bibir yang terjalin. Kali ini justru bertambah dengan permainan lidah yang berdansa harmonis di rongga mulut. Sai mengerang tertahan di mulut sang omega, kala dirasakannya Ino memainkan tangannya di dada bidangnya. Turun ke bawah dengan gerakan seduktif, menelusuri dan merasakan deretan abs yang menghias perut porselen Sai. Setelah puas, kedua tangan itu kembali naik, kini berpindah untuk merasakan biceps Sai yang kuat dan tegas, meremas-remasnya apresiatif.
Kala mereka melepaskan bibir masing-masing, kini gantian Ino yang mendesah merasakan tangan Sai yang memainkan kedua titik sensitif di dadanya. Menyentuh, meremas, memelintir, bahkan tak tanggung tanggung untuk melarikan lidahnya di sana.
Tangan sang alpha makin berani. Setelah puas menelusuri dada dan abdomennya, kini ia telah mencapai titik paling sensitif Ino diantara kedua kakinya. Ia tak langsung memberikan Ino kepuasan seketika, ia memilih menggodanya dengan menjilati rusuknya, lalu belly button-nya.
Saat ia sampai diantaranya kedua kaki Ino, Sai menggigit permukaan kedua pahanya yang putih bersih. Makin mendekat dan mendekat ke daerah sensitifnya, tersenyum saat Ino mengerang lebih keras.
Nafasnya terengah, desperate, dengan untaian kata "Please, Sai," atau "Please, ahhh,"
Sai tak segan mengabulkan apa yang diinginkan oleh omeganya.
Sang omega pun menjerit suka cita tatkala Sai dengan lihai memainkan mulutnya si bawah sana. Ino tak lagi menahan diri untuk mendesah keras semakin Sai menambah intensitas kecepatan bibirnya di klitorisnya.
Tak perlu waktu lama bagi Ino untuk menemukan puncak kenikmatannya, menjeritkan nama Sai dengan lenguhan panjang kala sesuatu dalam dirinya itu lepas—yang ditangkap Sai dengan senang hati bagai menghisap cairan nektar.
Begitu memastikan cairannya telah seluruhnya keluar, Sai kembali mengecupi mahkotanya, kemudian mengecupi lagi pahanya dari atas dan turun hingga ke lututnya.
Ino merona merah muda melihat Sai yang tersenyum padanya di antara kedua kakinya. Bibirnya basah akan cairan, mengingatkan Ino akan orgasmenya barusan. Ino langsung membuang muka dan menutup matanya rapat untuk mengurangi rasa malunya.
Sai terkekeh kecil. Sang alpha mengecup paha omeganya seki lagi, kemudian membawa tubuhnya ke atas untuk mencium bibir Ino. Tangannya membelai pipi sang omega hingga kelopak mata yang menyembunyikan bola mata indah itu akhirnya terbuka kembali.
Sai tersenyum lembut, dan membisiki telinganya dalam geram rendah, "Rasamu manis, Ino,"
Ino kontan merona. Ia membuang muka, dan Sai justru makin punya dorongan untuk keranjingan menggodanya. Ia menyukai reaksi omeganya itu. Kali ini ia berganti mencium dan menggigiti sekitar permukaan bahu dan leher Ino, membuat sang omega akhirnya luluh.
Ino melingkarkan kedua tangannya di bahu kokoh Sai untuk menariknya mendekat, berbagi panas tubuh yang kembali memunculkan nafsu yang menuntut urgensi.
Sadar akan kebutuhan oksigen yang mendesak, mereka melepaskan jerat bibir. Ino meletakan keningnya dengan sang alpha, nafasnya terengah kala ia berbisik, "Bolehkah aku ada di atasmu?" ia bertanya, ragu-ragu.
"Tentu," Sai bergumam di telinga, di sela ciuman memabukan yang ia bubuhkan tak henti di bibir Ino. Sai rasa, ia terlanjur kecanduan dengan manisnya bibir itu.
Ino menahan pekik kala posisi mereka dibalik secepat kilat oleh sang alpha. Sai mendudukan tubuh Ino di pangkuannya, memeluk pinggangnya erat.
"Kau bisa melakukannya sekarang," Sai tersenyum simpul, yang dibalas Ino dengan senyum serupa.
Ino lantas merunduk, kali ini membiarkan dirinya yang bermain-main dengan tubuh mate-nya itu. Sekali lagi ia memainkan tangan di permukaan dada Sai. Ino menyukai sensasi ketika ia bisa merasakan debar jantung Sai di bawah telapak tangannya.
Ino biarkan dirinya terbuai, memuaskan Sai dengan kecupan dan gigitan yang ia beri dengan senang hati di atas kulit pucatnya.
Sesuatu si bawah sana meminta atensi. Dan Ino beranikan diri untuk memberi genitalnya kecupan-kecupan ringan, menjulurkan lidahnya untuk menarikannya di sana. Sai mendesah keras kala Ino mengulum miliknya dengan pelan dan hati-hati. Merasakan bagaimana miliknya terselimuti oleh hangat rongga mulut mate-nya, membuat Sai hampir kehilangan kewarasan karena nikmat yang tak terkira.
Ia meraih sisi kepala Ino untuk mengusap wajahnya, memberinya pujian secara non verbal. Sebelum Sai sempat membiarkan orgasmenya lepas, Sai meminta Ino untuk bangkit dan menciumnya lagi. Ia melampiaskan semua perasaannya dalam ciuman itu.
Segala hal tentang soulmates ini benar-benar sangat aneh. Tapi ajaib.
Karena meskipun baru pertama kali bertemu, Sai merasa ia sudah terjerat adiksi akan semua tentang Ino. Matanya, senyumnya, ciumannya, suaranya, sifatnya—apakah ini cinta?
Rasa tak sabar makin mendesak jiwa, dan Sai tahu Ino juga merasakan hal yang sama.
Sang Alpha meraih pinggul Ino setelahnya. Memastikan ia telah mendapat anggukan, Sai mencari destinasi yang akan membawa mereka menuju kenikmatan yang sejak tadi mereka cari. Kenikmatan yang akan membawa heat Ino merasakan kepuasan puncaknya.
Sai tahu omega memiliki lubrikasi sendiri, sebuah reaksi alami dimana bagian bawah sang omega akan basah dan mengeluarkan cairan yang cukup setiap mereka terangsang. Lubrikan yang dihasilkan oleh sang omega memang tergolong banyak, dan hal itu akan membantu proses penetrasi lebih cepat dan mudah. Namun Sai tetap berkomitmen untuk melakukannya dengan hati-hati. Ia tak ingin menyakiti Ino.
Ino menjadikan bahu Sai sebagai tumpuan, membawa tubuhnya sedikit ke atas untuk memberi ruang. Memastikan ia berada dalam posisi yang tepat, Ino perlahan-lahan menurunkan tubuhnya untuk menyambut kebanggaan sang Alpha yang telah siap untuk dimanjakan. Sai membantunya dengan memegangi pinggulnya, mengusap-usap kulitnya untuk membuat Ino tenang.
Mereka melenguh keras bersamaan kala Ino berhasil melingkupi Sai. Sensasi itu begitu memabukan, membawa mereka ke awang-awang. Dinding-dinding Ino berkontraksi, menjepit Sai tanpa ampun.
Ino dengan kedua mata tertutup, dan kedua tangan meremas bahu tegap Sai, mengambil tarikan demi tarikan nafas. Berusaha menyesuaikan tubuhnya di bawah sana yang menjalin Sai, dengan sabar menunggu rasa nyeri itu hilang.
Sai mengamati dengan khawatir wajah gadis itu yang mengernyit sakit. Namun kelegaan melingkupi diri, kernyitan itu segera menghilang kala satu titik itu berhasil dijangkau olehnya. Sai mendistraksinya, tangannya menelusuri pinggang dan sisi tubuh Ino dengan telapak tangannya yang besar dan tegas.
"Ah, Sai, ah—"
Ia lagi-lagi memainkan kedua nipple Ino, usapan-usapan itu berhasil menghilangkan rasa sakit dan menggantikannya dengan kenikmatan tak tertahan. Ino mendesah, kemudian sedikit mengangkat tubuhnya ke atas dan membenturkan tubuhnya ke bawah.
Sai turut mengerang, merasakan sensasi panas itu makin melingkupinya dan menjepitnya, kala Ino menaik turunkan tubuhnya selama berkali-kali di atas pahanya. Sai ikut membantu gerakan omeganya, hingga membawa mereka dalam sebuah gerakan harmonis, mengejar kenikmatan yang dinanti-nanti oleh keduanya.
Saat Ino menjerit beberapa saat kemudian, Sai sadar ia telah menemukan titik itu. Ia mencengkram pinggang Ino dan membantu sang omega untuk kembali menumbuk titik kenikmatannya di dalam sana. Lagi dan lagi. Lebih cepat. Lebih keras.
Di sela tarian mereka, Ino memerangkap pipi Sai dengan susah payah, dan memastikan ia memandangnya tepat di mata. "Sai—ah," ia memanggil namanya diantara desah nafasnya, "ah, Kau bisa menandai aku," pintanya.
Sai sedikit mengurangi kecepatan gerakannya, menatapnya ragu-ragu, "Kau yakin—"
Ino meraih bibirnya untuk memberinya sebuah ciuman panjang. Nadanya mantap, sewaktu ia berkata,
.
"Tandai aku, Sai..."
.
Sang alpha menuruti permintaannya.
Bola mata jelaganya kembali berubah semerah darah. Dan taring-taringnya turut muncul ke permukaan.
Ino bisa merasakan tremor yang menggerayangi tubuhnya melihat bola mata merah itu ada dalam jarak sedekat ini. Iris merah yang berkabut gairah itu menatapnya lekat-lekat, tak sudi melepas jerat. Sepasang mata itu benar-benar menghipnotisnya dalam candunya.
Sai menarik tengkuk Ino dengan lembut, membawa kepalanya ke sisi leher omeganya itu.
.
Perlahan namun pasti, Sai menancapkan taringnya disana.
Secara resmi membubuhkan klaimnya atas Ino sebagai mate-nya.
.
Ino menahan rasa sakitnya hingga air matanya pun tumpah ruah. Itu menyakitkan—sialan, tapi Ino bahagia. Ia rela menyerahkan dan menawarkan segalanya pada lelaki itu.
Ia ingin sepenuhnya jadi milik Sai.
Tanda di lehernya itu langsung membentuk wujud seketika. Sebuah tanda yang serupa tato—berbentuk seperti kepala singa yang ujung goresannya seperti lilitan api. Ino melihat dengan takjub bagaimana tanda itu juga perlahan muncul di sisi leher Sai. Ino tak mengerti makna sebenarnya dari tanda mating mereka itu, tapi yang ia tahu—
Tanda kembar itu menjadi pengikat mereka sebagai sepasang soulmates.
Mengunci takdir mereka sebagai pasangan sejati. Pasangan sehidup semati.
Rasa sakit dan panas dari tanda itu perlahan sirna. Sai mengecupi kulit Ino dan tanda klaimnya yang ada di lehernya, memujanya bagai sebuah benda sakral. Sebuah gembok terlarang untuk dibuka sembarang orang.
Sai menarik diri dari dirinya, namun Ino buru-buru menahannya dengan sebuah pagutan, berbagi perasaan yang membuncah.
Perlahan-lahan, iris mata Sai yang tadinya kemerahan itu kembali ke warnanya semula. Ino mengajak Sai untuk kembali bergerak dengan menaik turunkan tubuhnya sekali lagi, yang direspon Sai dengan suka hati.
Suara erang dan desah nafas mereka memenuhi dan kembali beresonasi. Bersahut-sahutan di antara pohon-pohon hutan yang berdiri layaknya jeruji. Mereka menikmatinya, berbagi pandang sementara tubuh mereka di bawah sana saling bertemu dan menyambut. Mereka menikmati momen ini, bagaimana tubuh mereka terjalin dan melengkapi satu sama lain seperti keping puzzle.
"Sai—"
"Ino—ahh,"
Ketika gerakan Ino melemah, dan ia menjepit mate-nya makin erat— mereka menyadari klimaks kenikmatan itu akan segera teraih.
Satu hantaman keras, dan Ino memeluk tubuh Sai makin erat. Ia mendongakan kepala dan menjerit, melampiaskan kenikmatan yang dirasakannya.
Suaranya menggema diantara kesunyian hutan, namun Ino tak menaruh peduli.
Sai membuntuti belakangan. Ia balas memeluk punggung mate-nya. Mendekapnya erat ke dada, Sai biarkan dirinya lepas kendali. Geramannya keras, dan ia melepaskan apa yang ada pada dirinya di dalam jalinan tubuh mereka, menanti dengan sabar hingga puncak ejakulasinya benar-benar habis.
Sementara Ino di atas tubuhnya kembali melenguh, menerima dengan senang hati sensasi panas dan hangat yang membanjiri dirinya di dalam sana.
Saat ekstasi itu benar-benar habis, dan nafas mereka kembali mengalun normal, mereka kembali berbagi pandang.
Ino membawa dahinya yang terselimuti peluh mendekat pada dahi lelaki itu. Membiarkannya beristirahat disana, sembari mereka mencoba menetralkan nafas dan akal sehat mereka. Tak peduli akan apapun, termasuk cairan lengket yang menghias tubuh mereka.
Ino membutuhkan momen ini, ia tahu dan ia sadar, memang disinilah tempatnya berada.
Rasanya lucu sekali.
Ino mengawali sayembara ini dengan perasaan takut luar biasa. Ia benar-benar tak ingin ditangkap, tapi sekarang, dia ada dalam dekap seorang alpha yang memenangkan turnamen ini untuknya. Ia tak menyangka ia akan menemukan mate-nya dalam sayembara bodoh ini.
Terkadang, takdir memang begitu lucu ya.
"Maafkan aku..."
Ino tiba-tiba mendengar lelaki itu bergumam di bahunya, seketika membuatnya menoleh kebingungan, "Maafkan apa?"
"Maaf karena tidak berusaha mencarimu lebih keras lagi," Sai tersenyum masam, "Kalau saja aku berusaha lebih baik, aku akan bisa menemukanmu dan kau tidak perlu mengikuti ritual ini—"
"Aku tidak menyesal," potong Ino begitu saja, membuat Sai terhenyak, "Semenyebalkan dan memuakannya sayembara ini, sayembara ini yang menuntunmu padaku. Dan aku bersyukur kau menemukanku," sudut bibir Ino tertarik untuk mengulas senyum, "Terima kasih, Sai..."
Sai merasa trenyuh. Ia meraih satu tangan Ino untuk membubuhkan sebuah ciuman di punggung tangannya, bergumam di kulitnya, "Aku yang justru berterima kasih..."
Ino membiarkan perasaan hangat itu menyusup dalam sanubarinya. Ini akan menjadi salah satu momen terbaik dalam hidupnya.
Ia benar benar tak menyangka ia punya mate sekarang. Ia tak lagi sendiri. Dan ia merasa sangat beruntung ia memiliki alpha atentif seperti Sai.
Ino tiba-tiba mendengar lelaki itu terkekeh, membuatnya bertanya-tanya ada apa gerangan,
"Tidak," Sai tersenyum, "Shin nii-san pasti akan senang sekali jika ia tahu ini,"
Alis Ino naik tinggi. Tapi Sai tak menjawab pertanyaannya. Ia memberi respon non verbal dengan menarik kepala Ino dan memagutnya dalam dekap bibirnya.
Ino tak tahu siapa itu Shin-nii san dan kenapa ia harus senang soal ini—Ino pun juga menyadari, masih banyak hal yang tak ia ketahui dari Sai.
Mereka masih harus banyak belajar dan mengenal satu sama lain. Banyak hal yang harus mereka bagi dan pahami. Tetapi Ino dengan senang hati melakukannya. Ia dan Sai punya banyak waktu untuk merangkai kisah mereka.
.
Mereka punya selamanya.
.
Mungkin bagi sebagian orang, kisah mereka tidaklah sempurna dan ideal—namun Ino tak akan menukar ini dengan apapun jua.
.
Ia bahagia, untuk kali pertama setelah sekian lama.
FIN.
.
a/n: yah lagi-lagi bikin smut :') Entah kenapa juga pingin banget bikin saiino ABO dan jadilah fic ini. Selalu pingin bikin yang pendek tapi jadinya Panjang huhu. Semoga tidak bosan ya. Mohon maaf kalau masih ada kesalahan penulisan. Semoga suka.
Pingin bikin sequelnya atau jadiin ini multichap tapi belum tau sih apakah jadi. anyway, terima kasih banyak sudah menyempatkan membaca :D
