A/N: Alternatif ending dari cerita With Him.

...

..

Naruto dan Goutubun bukan punya saya.

Warning: Lemon, Smut, OOC, AU, Typo, Oyakodon, explicit content, vulgar language.

Pairing: Ichika x Naruto x Rena.

...

..

With Him: Alternatif ending.

...

Tiga setengah tahun sudah berlalu, Naruto melalui semua ini dengan sendiri. Tak ada sosok pendamping yang berada di sisinya, dia tak mengharapkan para gadis atau wanita yang mengincarnya karena memang mereka hanya ingin bermain-main saja.

Berharap Ichika kembali? Tentu, Naruto masih terus mengharapkannya.

Naruto menatap para muridnya yang lulus, mereka semua bahagia saat hari kelulusan tiba. Dia akan merindukan mereka yang lulus.

Sebuah senyuman dia ulas, tatapannya begitu hangat pada murid-muridnya yang ada di bawah sana. Musim semi ini membuatnya merindukan Ichika, dia tak mendapatkan kabar dari gadis itu sama sekali. Bahkan teman-temannya tak ada yang tahu dimana gadis itu berada, dia hanya memberikan sebuah surat pada kepala sekolah dan tak mengatakan apapun pada Bibinya itu.

Ichika benar-benar menghilangkan jejaknya dari Naruto, dia tak ingin di ikuti oleh pemuda itu. Mungkin saat ini umurnya sudah sembilan belas tahun, dan sifatnya akan bertambah dewasa.

Orang tua Ichika juga tak ada sama sekali di kerumunan orang-orang yang ada di bawah.

"Sensei..."

Naruto menoleh, dia menatap sosok wanita berambut merah panjang dengan wajah yang terlihat tegas. "Maafkan saya, tapi anda siapa?"

"Maafkan saya yang belum memperkenalkan diri, nama saya Nakano Rena, ibu kandung dari Nakano Ichika, salam kenal."

Naruto mengedipkan matanya beberapa kali, orang yang ada di depannya ini adalah ibu kandung Ichika, dia masih terlihat sangat muda.

"Ah, ibu dari Nakano-kun. Ada yang bisa saya bantu?"

"Begini, saya ingin mengetahui anak saya."

Naruto menghirup napasnya, kemudian mengeluarkannya dari mulut. Hari yang dia tunggu telah datang, hari dimana ibu kandung Ichika datang ke sekolah untuk bertanya dimana anak gadisnya itu.

"Ikut saya ke ruang guru!"

Rena menganggukkan kepalanya, dia mengikuti Naruto yang pergi ke ruang guru. Dia memberikan sebuah tempat duduk pada Rena, dan dia sendiri duduk di kursi miliknya.

"Jadi Nakano-san, anda menanyakan dimana anak anda sekarang?" Rena mengangguk kecil. "Tentu saja jika saya tahu, akan saya beritahukan dimana Nakano-kun berada, namun untuk saat ini saya tak tahu dimana anak anda berada."

"..."

"Saya sebagai guru sudah mencari anak anda, namun hasilnya nihil. Tak ada tanda-tanda dari Nakano-kun dimanapun saya mencarinya."

"Ta-tapi apakah anda sudah menanyakan hal ini pada teman-teman Ichika? A-apakah mereka tahu dimana Ichika sekarang?"

Naruto hanya menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Rena. "Tak ada yang tahu dimana dia sekarang, saya sendiri sangat khawatir dengan anak anda sampai saat ini...

...Namun saya mengkhawatirkan kondisi mental dari anak anda. Mentalnya hancur setelah dia memutuskan keluar dari rumah keluarga Nakano."

"I-itu..."

"Jika anda bertanya kenapa saya tahu, karena saya adalah guru konseling. Semua curhatan dari siswa-siswi saya tampung serta memberikan mereka arahan yang benar di saat mereka ada sebuah masalah di dalam keluarga atau di luar keluarganya." Tatapan Naruto saat ini menajam, dia memberikan tatapan intimidasi pada wanita itu. "Saya tahu masalah anda yang terus saja bertengkar dengan suami Anda, ngomong-ngomong, bagaimana suami anda saat ini?"

"Ka-kami bercerai."

"Bagus, pilihan yang bagus untuk anda, tapi tidak untuk Ichika. Seorang anak akan terguncang mentalnya saat melihat kedua orang tua mereka bertengkar hebat, atau selalu bertengkar di depannya. Sikap dan perilakunya akan sangat berubah saat itu juga, mungkin dia akan memberikan senyuman palsu atau sebagainya."

"..."

"Saya tak berpikir hal lainnya setelah mengetahui semua uneg-uneg Ichika saat itu, saya juga tak memberikannya pilihan untuk kabur dari rumah anda."

"La-lalu?"

"Dia memutuskan semuanya sendirian, dia seolah ingin mandiri tanpa kedua orang tuanya, terlebih akan ada pikiran dimana anak tak ingin anda lahirkan atau yang paling parah dari ini adalah, dia akan bunuh diri untuk menghilangkan semua beban pikirannya." Naruto menggerakkan tubuhnya mencari posisi yang nyaman baginya. "Apakah anda punya anak lainnya? Atau hanya Ichika yang menjadi anak anda?"

"Tidak, hanya Ichika saja anakku."

Naruto hanya menghela napas mendengar jawaban dari Rena. Dia merilekskan tubuhnya. "Jadi anda sudah siap dengan beberapa kemungkinan yang akan terjadi saat itu juga?"

"A-apa yang akan terjadi pada anakku?"

"Pertama; dia mungkin akan menjadi istri dari orang tanpa sepengetahuan anda selaku orang tuanya, kedua; dia akan punya anak diluar pernikahan, atau yang paling parang; Ichika akan menjadi seorang pelacur untuk menghidupi dirinya sendiri, tapi resiko yang terakhir itu tak mungkin terjadi karena saya tahu Ichika tak akan melakukan hal tersebut."

Rena menghela napas lega karena Penjelasan Naruto membuat dirinya tegang. "A-anda jangan bercanda."

"Itu hanya kemungkinan yang akan terjadi, tergantung Ichika sendiri, semua pilihan akan dia pilih. Saya tak tahu apa yang akan dipilih anak anda nantinya."

Rena hanya bisa tersenyum sedih mendengarkan perkataan Naruto barusan. Dia mencerna semua perkataannya, memang benar semua kemungkinan itu akan terjadi pada Ichika, dan Rena sendiri harus bersiapa dengan semuanya.

Dia juga harus bersiap jika Ichika datang dengan seorang anak kecil serta seorang pria yang mungkin tak dikenal oleh dirinya, mungkin pria itu baik atau jahat.

Semuanya bisa terjadi, tergantung pilihan yang akan dipilih oleh gadis itu, dia sendiri harus merelakan Ichika dijaga oleh seorang pria yang sangat dicintainya.

Karena Ichika sudah dewasa sekarang. Umurnya sudah sembilan belas tahun dan akan menjadi dua puluh tahun nantinya.

"Jadi apa yang akan anda lakukan sekarang? Menebus dosa Anda atau..." Rena mendongak menatap Naruto yang sudah berdiri di depannya. Dia melepas celana panjangnya dan mengeluarkan penisnya yang sudah berdiri tegak. "Atau melakukan seks denganku untuk menebus semua dosamu."

Rena menatap Naruto dengan wajahnya yang sudah membiru, ada juga rona merah yang menyelimuti kedua pipinya. Dia ngeri melihat ukuran penis Naruto, dan malu saat Naruto mengeluarkan penisnya.

"A-apa yang anda lakukan? I-ini termasuk pelecehan seksual."

Naruto pun duduk kembali di kursinya, dia menarik Rena hingga wanita yang telah melahirkan Ichika itu duduk di atas pahanya. Penis Naruto menempel di sela-sela pantat seksi Rena.

Naruto memeluk pinggul Rena, membuat wanita itu merona seketika. "Perlu diketahui, putri kandungmu sendiri sudah melakukan hubungan seks denganku, dan dia mungkin sudah punya anak hasil dari spermaku." Naruto mengelus pantat yang masih dibalut oleh rok itu dengan lembut. "Rena Nakano; bibir seksi, wajah cantik, mata biru yang mirip dengan Ichika, lalu rambut merah yang uhhh... Sempurna. Kau sebagai seorang wanita berusia lebih dari tiga puluh tahun ini sangat cantik, terlebih sudah memiliki anak."

"Le-lepaskan sensei."

"Anakmu sudah aku cicipi. Sekarang, bagaimana jika aku mencicipi ibunya?" Naruto kemudian mendekatkan bibirnya ke leher Rena, dia mencium leher Rena serta memberikan sebuah bercak merah di sana.

Wanita itu langsung memenjamkan matanya dengan salah satu tangannya yang meremas kepala pirang Naruto, napasnya mulai memburu saat itu juga.

Ciuman Naruto semakin naik ke atas, hingga dia mensejajarkan wajahnya dengan wajah cantik Rena. Naruto pun mencium bibir wanita itu dengan mesra, awalnya Rena memberontak saat dia di cium oleh Naruto, dia masih menutup bibirnya dari bibir Naruto.

Namun Naruto tak kehilangan akalnya sama sekali, dia pun menarik tangan kanannya dan mulai melepas kancing kemeja bagian atas yang dikenakan oleh Rena, Naruto juga mencopot bra yang dikenakan oleh wanita itu tanpa di sadar oleh Rena.

"Mhhh!!!"

Rena baru menyadari hal itu setelah permukaan kulitnya disentuh oleh tangan Naruto, dia kembali memberontak untuk melepaskan dirinya. Namun, Naruto malah menemukan titik lemahnya. Puting susunya di cubit oleh Naruto membuat bibirnya terbuka, dan menjadi kesempatan bagi pemuda itu untuk memasukkan lidahnya ke dalam mulut Rena.

"Mhhhah!" Rena masih memberontak, dia mencoba untuk mendorong tubuh Naruto. "Le-lemmhhh!!!"

Tangan kiri Naruto yang ada di pantat Rena pun menyingkap rok yang dikenakan wanita itu, kebetulan rok yang dikenakan agak longgar, jadi dia bisa leluasa menyingkapnya. Naruto segera menyingkap rok Rena dan menarik celana dalam yang dikenakan wanita itu.

Naruto menggerakkan sedikit tubuhnya, dia juga mengangkat tubuh Rena untuk mengarahkan penisnya masuk ke dalam liang senggama wanita itu. Naruto merasakan bahwa ujung penisnya sudah menemukan dimana pintu masuk ke dalam tubuh Rena.

"Kumohon mmhhh... Ja-jangan..."

"Sayangnya ini tak bisa dihentikan nyonya."

Naruto menggenggam pantat Rena dengan kedua tangannya, dia menurunkan pinggul ramping itu hingga semua penisnya masuk ke dalam vagina wanita itu. Rena mendongak merasakan benda yang sudah lama tak dia rasakan masuk ke dalam tubuhnya.

Wajahnya sudah sangat merah, dia mengeluarkan napas panjangnya saat penis itu berhasil merangsek masuk ke dalam tubuhnya. Rena merasakan juga puting susunya menegang ereksi, Naruto mendongak menatap wajah Rena yang terlihat keenakan saat penisnya masuk ke dalam vagina wanita itu.

"Jadi nyonya, apakah ini enak?"

Rena tak menjawabnya sama sekali, pikirannya mulai kosong karena penis Naruto yang terasa nikmat itu. 'A-aku menikmatinya?! I-ini bercanda kan?! A-aku menikmatinya!'

Pandangan Rena pun turun, dia menatap Naruto yang terlihat tersenyum padanya. Wanita itu kemudian mencium bibir Naruto dan mengerakkan pinggulnya naik turun, dia mulai menerima segala kenikmatan yang diberikan oleh guru dari putrinya itu.

Kedua tangan Rena mengalung manja di leher Naruto, payudaranya bergerak mematul mengikuti gerakan pinggulnya. Penis Naruto sendiri keluar masuk di dalam vagina Rena, pemuda itu merasakan hal yang sama setelah tiga tahun tak menyetubuhi seorang wanita.

"Vaginamu rasanya sama seperti Ichika... Uhhh..."

"Ahhhh... Ahhh... Ahh..."

Rena hanya mendesah nikmat untuk membalas pujian Naruto. Pikirannya sudah kosong, dia hanya ingin penis Naruto saat ini setelah sekian lama dia tak bersenggama.

"Senseimmmhhh!!"

Rena kembali mencium Naruto, gerakan pinggulnya kali ini dia percepat karena dia ingin klimaks untuk yang pertama kalinya setelah perceraiannya dengan sang suami.

Naruto meremas pantat Rena dengan kencang, dia menenggelamkan penisnya ke dalam vagina Rena. "Aku keluar!"

"Ahhhhnnn!!!"

-o0o-

"Berakhir dengan membawamu ke apartemenku, Rena-san."

"Ara, Naruto-san, apakah aku akan mengganggumu di apartemenmu?"

Naruto tersenyum menatap Rena. "Tidak, aku agak kesepian, jadi aku ingin ada yang menemani."

"Neesan ini dengan senang hati menemani loh. Tak usah khawatir."

"Terima kasih Rena-san."

Sesampainya di depan apartemen Naruto, pemuda itu mengerutkan dahinya saat dirinya membuka pintu tempat tinggalnya. Dia melihat dua buah sepatu dengan berbeda ukuran.

Naruto mengedipkan matanya beberapa kali, sebelum dia melepaskan pelukan Rena padanya, membuat wanita itu heran saat Naruto melepaskan pelukannya.

"Naruto-san?"

"Ichika!"

"Ah, selamat datang sensei!"

Naruto langsung melepaskan sepatunya dan berlari untuk memeluk Ichika, dia sangat merindukan gadis itu setelah sekian lama tak bertemu, Ichika sendiri membalas pelukan Naruto padanya.

"Kemana saja kau, aku merindukanmu."

"Aku hanya mengasingkan diri saja sensei."

Rena yang melihat momen itu pun cemberut, ada perasaan tak suka saat anaknya itu memeluk Naruto.

"Jadi neesan akan ditinggal disini atau bagaimana?"

Ichika langsung melepas pelukannya, dia menatap terkejut saat melihat sang ibu ada di sana. "Ka-kaasan?! Kenapa kau disini?!"

"Kenapa katamu? Aku disini untuk menemani Naruto-san yang kesepian, kau sendiri kenapa tak ada di sampingnya?" Rena berjalan masuk ke dalam, dia menatap tajam Ichika.

"Aku hanya mengasingkan diri, dan merawat Miku. Memang kenapa? Kau sendiri, dimana kau berada saat aku ada di rumah? Bisa-bisanya kau bertengkar dengan ayah tepat di depan anaknya."

Keduanya saling tatap dengan sengit, mereka seolah tak mau kalah.

"Naruto-san/sensei, kau memilih siapa?!"

Naruto yang ditanyai pun tak bisa menjawab, dia bingung jika harus diberikan pilihan seperti itu. "Mu-nungkin aku harus menikahi ka-kalian."

"Haaah?!"

"Cih, dasar."

Rena dan Ichika langsung memeluk lengan Naruto, mereka masih saling tatap satu sama lain.

"Pergi dari senseiku, nenek sihir!"

"Kau yang harusnya pergi, anak durhaka!"

Miku yang mengintip kejauhan pun hanya bisa bengong melihat kedua orang tuanya serta neneknya sedang bertengkar.

"Ka-kalian tolong tenang."

""Tidak!!""

...

..

...

End

...

..

...

"Bagaimana sensei? Apa enak?"

"Punyaku sepertinya lebih nikmat, naruto-san."

Saat ini kedua wanita itu berada di dalam kamar Naruto dengan payudara mereka yang saling mengapit penis ereksi Naruto, keduanya berlomba dalam memperebutkan penis Naruto.

"Uhhh..."

Naruto hanya mendesah nikmat karena mereka berdua menggerakkan payudaranya masing-masing naik turun.

"Ahhk!"

Sperma hangat pun keluar dari penis Naruto, menutupi wajah cantik serta payudara mereka.

"Jadi sensei/Naruto-san, siapa yang enak?"

"Ke-keduanya enak sih..." Jawab Naruto sambil menggaruk pipinya.

Keduanya cemberut sambil menggembungkan pipi mereka, kemudian kembali saling tatap satu sama lain.

Aura persaingan bisa dirasakan oleh pemuda pirang itu, dan dia hanya bisa menikmati apa yang mereka berdua lakukan padanya.

"Ahh, Harem."