Birthdie by Meltavi
Boboiboy © Animonsta Studios
Fanfic ini aku tulis tidak mengharapkan keuntungan apapun, hanya untuk kesenangan semata^^
Warning(s) : AU, bro!HaliTauGem, tragedy, angst, typo, gaje, agak sadis(?), dll.
Selamat membaca^^
.
.
.
"Tidak apa-apa. Ayo kita pergi."
Taufan menatap kedua iris delima Halilintar, mencoba meyakinkan sang kakak untuk terus berjalan membelah kerumunan. Halilintar balas menatapnya. Dia memakai topi hitam dan masker putih, sehingga hanya memperlihatkan matanya. Taufan menggenggam tangannya yang sedikit bergetar, lalu menariknya pelan ke lautan wartawan yang menghalangi jalan mereka.
"Bagaimana perasaanmu setelah keluar dari penjara?"
"Apa benar kau yang membunuh pemilik toko Kokotiam?"
"Berikan kami penjelasan mengenai kejadian itu."
"Halilintar!"
"Halilintar!"
Bidikan kamera terus mengejar, pertanyaan tak masuk akal semakin diteriakkan, Taufan hampir tidak bisa menemukan celah untuk keluar dari desakan orang-orang media itu. Ia terus menggenggam tangan Halilintar, bisa dirasakannya sang kakak sudah sangat risih atas pertanyaan yang membabi buta. Taufan mendecak kesal. Ia bergerak maju mencari jalan pintas, tak peduli beberapa orang ditabraknya dengan kasar.
Butuh usaha keras sampai akhirnya kedua saudara kembar itu tiba di sisi mobil yang Gempa bawa. Taufan segera membukakan pintu untuk mereka berdua, lalu bergegas pergi dari sana. Para reporter itu terlihat kecewa menatap kepergian mereka. Taufan menghembuskan napas lega diikuti Gempa.
"Hah ... Akhirnya bisa menghirup udara." Taufan menyenderkan kepalanya di sandaran kursi, memejamkan matanya untuk beberapa saat.
"Kenapa mereka tetap tidak menyerah, sih? Sudah jelas-jelas pelakunya bukan kak Hali." Gempa berujar kesal. Meski begitu matanya menatap ke jalanan fokus dengan tangannya yang sesekali menggerakkan stir.
Taufan menggeleng pelan. Ia menegakkan tubuhnya, menengok ke arah Halilintar yang memandangi jendela mobil. "Kak Hali baik-baik saja?"
Kepala Halilintar menoleh. Ia mengangguk kecil sebagai balasan, namun tidak mengeluarkan suara apapun.
"Jangan terlalu dipikirkan, Kak. Mereka semua salah, Kak Hali tidak mungkin melakukannya. Ya 'kan, Gem?"
Gempa melirik spion tengah dan mengangguk. "Benar. Mereka hanya membuat omong kosong saja. Aku dan Kak Taufan percaya pada Kak Hali."
Halilintar hanya diam. Taufan tersenyum tipis dan membiarkan sang kakak sibuk dengan pikirannya. Mungkin Halilintar butuh waktu untuk semua yang dihadapinya sekarang. Dan itu pasti sangat berat. Taufan bahkan tak yakin akan sekuat sang kakak bila di posisi itu. Yang harus ia lakukan bersama Gempa adalah menemani Halilintar, mau bagaimanapun keadaannya.
Sebulan yang lalu, Halilintar dituduh menjadi tersangka kasus pembunuhan toko coklat ternama, Kokotiam. Saksi mengatakan bahwa ia melihat Halilintar menusuk pemilik toko terkenal itu sampai kehilangan nyawa. Namun bukti yang ditemukan oleh polisi tidak mampu membuat Halilintar ditetapkan menjadi pelaku. Akhirnya polisi membebaskannya setelah memenjarakannya selama sebulan karena tidak ada bukti yang kuat. Namun semua orang masih menyalahkan Halilintar seenaknya.
Taufan dan Gempa takut mental Halilintar akan terganggu akibat stereotip orang-orang untuknya. Mereka mengenal baik sang kakak. Jadi tidak mungkin Halilintar melakukan perbuatan keji itu. Ia hanya dijebak karena kebetulan menjadi pelanggan pada hari kejadian.
"Nah, sudah sampai!" Gempa mematikan mesin mobil. Mereka kini telah tiba di rumah. Halilintar menatap suasana rumah mereka yang ia tinggalkan selama sebulan. Ia tidak bisa menampik bahwa hatinya sangat merindukan tempat ini.
"Ayo Kak, masuk! Kita sudah buat kejutan untuk kepulangan Kak Hali!" seru Taufan. Ia turun dari mobil, menyisakan Halilintar yang masih duduk di sana.
Dengan gerakan pelan, Halilintar mengikuti kedua adiknya masuk. Taufan menunggunya di daun pintu dengan senyuman lebar. Setelah ia melewati pintu, Taufan berjalan di belakangnya. Mata Halilintar menemukan spanduk yang digantung di ruang tamu, berisi tulisan 'SELAMAT DATANG KAK HALI'. Juga beberapa hiasan yang biasa digunakan untuk perayaan ulang tahun.
"Kak Hali ingat hari ini hari apa?" Gempa di depannya bertanya dengan senyum tertahan. Halilintar mengangkat alisnya, tak mengerti. "Hari ini hari ulang tahun kita, Kak. 13 Maret!" Gempa berucap riang. Wajah adiknya tampak senang sekali karena bisa merayakan ulang tahun mereka bersama-sama.
Kemudian Taufan menarik tangannya. Halilintar menoleh pada adik pertamanya itu. Ia membiarkan Taufan membawanya ke sofa ruang tamu dan mendudukkannya di tengah sofa. "Karena ini bertepatan dengan kepulangan Kak Hali, jadi kita buat kejutan!"
Dilihatnya Gempa berjalan ke arah dapur, lalu muncul lagi dengan membawa kue tart di tangannya. Gempa meletakkannya di meja tepat di hadapan Halilintar. Kedua adiknya itu kemudian duduk di sisi kanan dan kirinya. Membuatnya tak bisa menahan senyum tipis di balik masker putihnya.
"Ayo Kak, kita tiup lilinnya!" Perkataan Gempa dibalas anggukan olehnya. Halilintar kemudian melepas maskernya, memperlihatkan wajah datarnya yang sedari tadi tertutup. Ia mendekat ke kue di depannya, bersiap meniup lilin berangka 19 itu.
"Satu."
"Dua."
"Tiga."
Fuuuhh!
Asap kecil terbang ke udara bersamaan dengan api yang berhasil padam. Taufan dan Gempa bertepuk tangan, sementara Halilintar hanya diam di tempatnya.
"Selamat ulang tahun untuk kita!"
"Yeay! Selamat ulang tahun!"
Di tengah-tengah euforia kegembiraan itu, Halilintar hanya menunjukkan wajah tanpa ekspresi. Namun Taufan dan Gempa tidak mempermasalahkan, dan melanjutkan pesta kecil-kecilan mereka. Yang terpenting adalah Halilintar di sini. Bersama mereka untuk merayakan hari kelahiran mereka.
"Oh iya! Aku lupa mengambil pesanan kita di Burger Ria!" Taufan tiba-tiba berucap panik. Gempa menoleh, memutar matanya malas karena kecerobohan sang kakak kedua.
"Kak Taufan gimana sih," Gempa menunjukkan wajah datarnya. Taufan terkekeh malu, kemudian bangkit dari duduknya.
"Aku ambil dulu. Sisakan aku kuenya ya!" katanya seraya menyambar kunci mobil di meja. Sosok Taufan lalu hilang dari balik pintu rumah, suara mobil yang menderu menandakan ia telah pergi.
"Kak Taufan ada ada saja," Gempa geleng-geleng kepala. Ia menatap sang kakak pertama yang sedari tadi memperhatikan mereka. "Kak Hali tunggu di sini, ya? Aku mau ambil piring untuk kita makan."
Halilintar mengangguk. Tepat Gempa meninggalkannya, Halilintar tak sengaja menemukan pisau yang Gempa letakkan tadi untuk memotong kue. Jantung Halilintar berdegup cepat kala pisau itu menarik perhatiannya. Halilintar mengernyit. Tubuhnya seolah menyuruh dirinya untuk mengambil benda tajam itu. Dan ia menurutinya. Tangan kanannya kini menggenggam gagang pisau itu. Halilintar menatapnya lamat-lamat. Entah kenapa, seperti ada kesenangan dalam dirinya ketika berhasil memegang benda ini. Halilintar tanpa sadar tersenyum. Ia menatap bayangan wajahnya di mata pisau itu. Halilintar kemudian bangkit, melangkah menuju dapur tempat Gempa berada.
Gempa mengambil tiga piring untuk ia dan kedua kakaknya. Setelah itu ia membalikkan badan, berniat kembali ke ruang tamu. Namun pergerakan Gempa terhenti ketika mendapati Halilintar berdiri di ambang pintu dapur.
"Kak Hali?" panggil Gempa. Ia menghampiri kakaknya tanpa menyadari ada pisau di genggamannya. "Kak Hali haus? Atau ingin sesuatu?" tanya Gempa. Namun Halilintar hanya menatapnya dingin, seolah dirinya telah melakukan kesalahan.
"Kak Hali baik-baik saja?" Gempa semakin mendekat. Perasaan takut mulai menghampirinya karena tatapan sang kakak yang semakin tajam. Ia tahu Halilintar sedang dalam masalah berat, Gempa hanya ingin membantunya.
"Kak Ha–"
JLEB.
Gempa membelakkan mata kala merasakan benda tajam menusuk perutnya. Piring yang sedang ia pegang seketika jatuh, menimbulkan bunyi pecahan nyaring yang memekakkan telinga. Gempa mengerang kesakitan karena merasakan benda tajam itu menusuk perutnya begitu dalam. Pisau itu lalu dicabut pakaa oleh Halilintar, membuat darahnya mengalir deras membasahi lantai.
"A-akh ... " Tangan Gempa refleks memegangi luka di perutnya. Ia mengernyit kesakitan, pemandangan Halilintar di depannya benar-benar kabur. Rasa sakit yang tak tertahankan di perutnya membuat Gempa membungkuk, lalu tak lama ambruk, meringkuk di lantai yang perlahan digenangi darahnya.
"K-kak ... Ha–li ... " Susah payah Gempa memanggil kakaknya, bermaksud meminta tolong. Tenggorokannya amat tercekat. Matanya yang berkaca-kaca memandang Halilintar yang masih berdiri di dekatnya. Gempa berusaha menemukan sorot kehangatan yang biasanya ada di mata kakaknya. Namun hanya ada sorot dingin di sana, begitu asing. Seperti bukan Halilintar.
Darah terus mengalir dari lukanya. Dan semakin banyak. Gempa memejam kuat, ia terus merintih kesakitan. Kesadarannya perlahan-lahan mulai memudar. Gempa mencoba mencari udara dengan mulutnya, namun seperti tak ada udara yang mau berbaik hati mengisi paru-parunya. Selama beberapa menit berjuang menarik napas, Gempa akhirnya menyerah. Membiarkan kegelapan mengambil alih tubuhnya.
-0-
Taufan mematikan mesin mobil. Pemuda itu lalu mengambil kantung plastik di bangku penumpang sebelah kemudi sebelum keluar dari mobil. Ia berjalan memasuki rumahnya, dan mengangkat alisnya bingung ketika tidak menemukan siapapun di ruang tamu.
"Kak Hali? Gempa?"
Hening. Kebingungan Taufan semakin bertambah kala merasakan sunyi yang entah kenapa begitu mencekam. Diletakkannya kantung plastik yang ia bawa tadi ke atas meja, tepat di samping kue tart yang masih utuh. Bahkan lilin yang mereka tiup tadi masih setia di tempatnya. Itu artinya, sang kakak maupun adiknya belum menyentuh kue itu barang sedikitpun.
Taufan kemudian melangkah ke arah dapur. Berpikir mungkin saja mereka berdua tengah berada di sana untuk menyiapkan makanan lain. Namun karena suasana yang begitu sepi membuat Taufan sangsi. Kakinya terus berjalan diiringi perasaan khawatir yang muncul, sampai akhirnya tiba di ambang pintu dapur. Dada Taufan mencelos ketika matanya menemukan Gempa tergeletak di lantai dengan bersimbah darah, dan juga serpihan beling di dekatnya.
"GEMPA!"
Taufan berteriak panik sambil bersimpuh di samping adiknya, mengangkat tubuh Gempa untuk disandarkan ke pelukannya. Kedua mata adiknya memejam. Wajahnya pucat pasi dan bibirnya hampir mendekati warna biru. Jantung Taufan berdegup kencang ketika menyadari darah itu berasal dari luka menganga di perut sang adik. Tangan Taufan bergetar hebat menyentuh luka itu, darah masih keluar dari sana meski sedikit. Kepala Taufan menggeleng. Tubuhnya bergetar ketakutan. Ia merengkuh tubuh Gempa, mengecek apakah masih ada detak jantung atau hembusan napas dari adiknya.
"G-gempa ... Gempa, bangun ... GEMPA!" Taufan meraung keras seraya mengguncang tubuh adiknya yang sangat lemah. Taufan semakin mengeratkan dekapannya, terisak keras memanggil nama adiknya. Ia benar-benar tidak tahu apa yang terjadi. Hari ini harusnya mereka bersenang-senang, tapi kenapa jadi seperti ini?
"Gempa ... " Usahanya sia-sia. Taufan tak merasakan pergerakan apapun dari sang adik. Tangan kirinya menyentuh wajah Gempa, berharap mata itu terbuka. Namun Taufan harus menelan kenyataan pahit. Bahwa adiknya memang sudah pergi.
"Tidak, Gempa ... Gempa ...!"
Taufan terus menangis histeris, tubuh Gempa di pelukannya semakin lama semakin dingin. Taufan tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Semua terasa begitu cepat dan sama sekali tak pernah ia sangka. Dan kenapa harus sang adik yang menderita.
Di sela-sela tangisnya, Taufan tiba-tiba teringat sang kakak. Pemuda itu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru dapur, namun ia tak menemukan sosok Halilintar. Taufan ingin bertanya kepada kakaknya, apa yang sebenarnya telah terjadi selama ia pergi. Ditatapnya wajah Gempa yang pucat sekali lagi. Adiknya pasti dibunuh. Gempa tidak mungkin menusuk dirinya sendiri hingga nyawanya melayang. Ia harus menemukan pembunuh adiknya. Tapi sebelum itu, ia harus mencari Halilintar.
Baru saja ia ingin bangkit, Taufan tersentak ketika merasakan mata pisau ditempelkan di kulit lehernya. Seperti siap untuk memutus pembuluh nadinya kapan saja. Taufan ingin menoleh untuk mengetahui siapa yang mengacungkan pisau padanya, dan mungkin yang telah membunuh Gempa. Namun sosok itu sudah berpindah tempat ke depannya, lalu berjongkok dengan masih menempelkan pisau di lehernya.
Dadanya kembali dihantam kenyataan pahit. Taufan menatap tidak percaya orang di depannya. "Kak ... Kak Hali ...?" Suara Taufan hampir tidak terdengar. Halilintar balas menatapnya dengan dingin, membuat Taufan mulai mengaitkan segalanya. "Kak Hali ... apa yang kakak lakukan–?'
"Diam."
Suara rendah itu menyadarkan Taufan bahwa yang di depannya kini bukan lagi Halilintar yang ia kenal. Taufan memandangnya kecewa. Ia menggelengkan kepala, berharap apa yang matanya lihat sekarang bukan hal yang nyata. Mimpi, pasti ia bermimpi. Namun apa yang ia rasakan benar-benar sangat nyata. Jasad Gempa yang masih di pelukannya, dan tatapan Halilintar yang terus menghujamnya.
"Kak Hali ... Kita sudah percaya pada Kak Hali ... Tapi kenapa ... "
"Kubilang diam."
Pisau itu ditekan oleh Halilintar, membuat sebuah luka goresan memanjang di leher Taufan. Namun Taufan mengabaikan rasa perih di sana. Karena itu sama sekali tak sebanding dengan rasa ngilu di hatinya.
Sakit. Sampai Taufan ingin berteriak sekeras mungkin rasanya.
Orang yang ia percayai selama hidupnya ... tidak mungkin ...
"Aku ingin membunuhmu."
Setetes air mata berhasil jatuh dari pelupuk mata Taufan. Ia berusaha menahan tangis, tapi sangat sulit dilakukan. Dulu, Halilintar sering mengatakan itu sebagai bentuk candaan jika sikapnya membuat Halilintar murka. Tapi Taufan sungguh tidak pernah menyangka kakaknya akan mengucapkan kalimat itu dengan serius. Pelukannya pada Gempa semakin erat, kini ia hanya bisa mendekap tubuh Gempa pasrah, bersiap menyusul sang adik.
Jika memang itu yang diinginkan Halilintar, Taufan tidak apa-apa.
"Kak Hali ... "
Taufan menatap kakaknya berkaca-kaca. Berharap menemukan rasa belas kasihan di mata kakaknya. Namun sorot mata itu menunjukkan kebencian yang mendalam. Taufan berusaha menegarkan hatinya, meski dadanya terasa sangat sesak. Dengan bibir bergetar, Taufan mencoba mengucapkan kalimat yang mungkin menjadi ucapan terakhirnya.
"Selamat ulang tahun ... Kak Hali ..."
Tepat setelah kata itu diucapkan, Halilintar menggesek pisau itu keras pada leher Taufan.
.
.
.
.
Kasus pembunuhan pemilik toko Kokotiam kini dipecahkan. Polisi berhasil menemukan barang bukti berupa pisau berukuran sedang di hutan Pulau Rintis, bersidik jari tersangka sebelumnya, Halilintar. Ketika tiba di kediaman tersangka, polisi menemukan dua jasad di dapur, yang diketahui merupakan adik kandung Halilintar sendiri. Kini tim kepolisian tengah mengejar tersangka untuk kembali diringkus dan menetapkannya sebagai buronan.
.
.
.
.
finizh
A/N :
tragedy ga sih ini? /dibakar
kenapa nggak ada ide ulang tahun di otakku yampun, adanya ide angst bunuh2an semua. jan jangan aku psikopat? /MEL
sebenernya daridulu pengen bikin Halilintar jadi psikopat, tapi kenapa susah bngt nuangin jdi tulisannya ya /disetrum
oiya tadinya tuh aku mau buat Halilintar menderita bipolar di sini. tapi bingung euy, jadinya psikopat aja deh /walaupun bingung juga awalnya gimana dia bunuh orang/
udah sih itu aja. btw aku lagi kangen elemental siblings, jadi kayanya mau bikin ff tentang mereka banyak nanti sksksksk
makasih banyak yg udah sempetin baca. have a nice day ^^
