Derap langkah kaki seorang pria mengisi kekosongan lorong di rumah kayu sederhana itu. Pria tersebut lalu berhenti di depan sebuah pintu kamar. Dia membukanya perlahan, lalu kakinya menapak pelan memasuki ruangan putih dengan sedikit aksen berwarna aquamarine-gold di langit-langitnya. Dia kemudian duduk di sisi kiri kasur ber-size king yang terdapat di tengah ruangan.

Mata Amato menyorot teduh pada tiga anak yang berbaring di kasur besar itu. Bibirnya sejak tadi mengukir senyuman lembut yang lebar. Di sisi kiri kasur ada anak kembar pertamanya, Gempa. Sedangkan di sisi kanan kasur ada Ice, si anak kembar kedua. Sementara ditengah keduanya ada Glacier, si bungsu yang tidur sambil dipeluk oleh kedua kakak kembarnya. Mereka bertiga sama-sama mengenakan piyama berhoodie telinga beruang.

Amato yang melihat pemandangan menggemaskan tersebut menutup mulutnya demi menahan jeritan. Tapi sebagai gantinya dia tetap menjerit di dalam hati. Ah, jika saja bukan karena perintah Kanjeng Mama, Amato nggak akan tega membangunkan bayi-bayi beruangnya itu.

Sosok papa itu kemudian mengambil ponsel di saku celananya. Dan mengabadikan momen tersebut dengan memotretnya. Dia juga memasang status whutsapp dengan caption berbunyi 'Bangunin bayik beruang tercayank '.

Setelah memperbaharui statusnya, dalam hitungan detik Amato segera mendapatkan feedback dari keluarga, rekan kerja, bahkan tetangga. Amato tersenyum ketika ada yang menanggapi dengan emoticon ataupun sapaan. Tapi begitu ada yang bercanda dengan mengatakan 'boleh minta satu?' atau 'ambil satu gratis dua 'kan?' dan kalimat serupa lainnya yang membuat bibir Amato langsung manyun dengan estetik mengalahkan bebek.

"Enak aja, bikin sendiri dong!" dengkusnya.

"Papa..."

Amato langsung mengabaikan ponselnya yang terus berdenting, demi melihat wajah bantal anak kembar pertamanya. Gempa yang terbangun karena dentingan ponsel papanya, langsung duduk dan mengucek matanya yang masih terpejam-tertutup. Dengan sabar Amato menunggu sepasang netra emas itu terbuka sepenuhnya.

Sang papa tersenyum tipis, tangannya mencubit pelan pipi remaja berusia empat belas tahun itu. Sehingga membuat sang empunya pipi mengerjap-ngerjap kaget melihatnya. Amato langsung tertawa geli karena reaksi kaget anak sulungnya itu terlihat lucu dimatanya.

"Padahal beberapa bulan lagi kalian akan SMA. Tapi kenapa masih muka bayik gini sih~?"

Tangan Amato yang satu lagi ikut mencubit pipi Gempa. Dia menarik-narik pipi tembam itu sambil bergumam dengan ekspresi seolah sedang bercanda dengan anak bayinya.

Sementara Gempa menatapnya cemberut. Dalam hati dia sedikit kesal karena papanya nggak pernah sekalipun memujinya dengan kata tampan, gagah, ataupun manly. Jika pun berbicara seperti itu, papanya malah mengatakannya pada anak orang lain.

Namun rasa kesalnya segera lenyap ketika Amato mengelus dan menepuk-nepuk rambut coklat lebatnya dengan penuh kasih sayang.

"Bantuin Mama nyiapin sahur, ya? Papa mau bangunin duo beruang hibernasi itu dulu."

Gempa mengangguk patuh sambil tersenyum manis. Lalu segera pergi mendatangi sang Mama. Setelah Gempa benar-benar pergi, Amato langsung memegang dadanya. Baru satu dari tiga bayi beruang yang dibangunkan. Tapi Amato merasa sudah overdosis gula. Mohon jangan telpon ambulan dulu, Amato masih kuat kok!

Kemudian Amato beralih ke sisi kanan ranjang. Dia menggoyangkan bahu Ice, akan tetapi jagoannya satu itu tak berkutik sedikitpun. Lalu kemudian berbagai cara Amato lakukan untuk membangunkannya, seperti menepuk pipinya, memanggil-manggilnya, membuat sedikit keributan dan sebagainya. Namun, hasilnya Ice masih saja tertidur.

Dengan geram Amato lalu menarik-narik pipi tembam Ice sedikit kuat. Karena usahanya yang belum berhasil itu Amato menghela napas. Bayi beruangnya yang satu ini memang nggak terkalahkan dalam lomba tidur. Lihat saja bagaimana dia tidur, tak ada bedanya dengan orang mati. Jika seandainya orang sekampung datang meneriakinya untuk bangun pun, Amato yakin dia nggak akan bangun.

Pada akhirnya Amato memutuskan langsung menarik hati-hati tangan Ice untuk membuatnya terduduk. Akan tetapi, setelah terduduk pun Ice masih tetap tertidur. Malah dengkurannya semakin keras saja.

Amato menggeleng lelah. Tapi dia segera tersenyum lebar begitu mendapat sebuah ide. Amato mendekati telinga anaknya yang kebo itu lalu berbisik.

"Sop ayam spesial Kanjeng Mama. Kalau lambat nanti Glacy habiskan."

Tepat sedetik Amato selesai bicara, mata Ice langsung terbuka lebar sehingga menampakkan netra aquamarine-nya. Dia lalu segera berlari turun seperti orang dikejar setan. Amato terkekek puas melihatnya. Kejadian di mana Glacier menghabiskan satu panci sop ayam sendirian sehingga membuat orang serumah kelaparan ternyata ada untungnya juga. Jangan tanya bagaimana perut kecilnya sanggup menampung makanan itu.

"Baiklah, tinggal satu! Semangat Amato!"

Amato menatap sosok kecil yang tertidur mati persis Ice tadi. Tapi dia malah tersenyum lebar. Amato menjemputnya dalam dekapan dan memangkunya. Dia mencubit pelan pipi tembam bocah itu sambil menimang-nimangnya.

"Baby bear~ ayo sahur. Nanti makanannya habis dimakan Ice bear lho~"

Lalu hanya dengan sekali usaha, Amato sudah dapat membuat bocah berumur lima tahun itu terbangun. Perlahan netra Glacier yang berwarna aquamarine, dengan pupil emasnya yang berkilau terlihat. Amato terdiam. Padahal dia hanya melihat anaknya membuka mata. Tapi bagi sang papa rasanya dia baru saja menyaksikan matahari terbit dari laut.

"Papa Bear...,"

Dengan lirih Glacier memanggil Amato. Dia menatap sekelilingnya dengan mata sayu, mencari-cari sesuatu.

"Ice bear dan Gummy Bear di mana?"

Yang dimaksud Glacier adalah kedua kakak kembarnya. Amato tersenyum, digendongnya Glacier seperti koala sambil berjalan ke luar kamar.

"Mereka lagi bantuin Mama nyiapin sahur. Baby Bear ikut sahur juga, ya? Jadikan puasa penuhnya?"

"Hm," Glacier menggumam. Dia menguap kecil lalu merapatkan diri ke dada sang papa. Dalam hitungan detik Glacier kembali jatuh tertidur.

"Dasar baby bear, untung sayang~"

Amato terkekek dan memeluk Glacier gemas. Merasa dipeluk erat oleh sang papa, Glacier kemudian menduselkan wajahnya dan balas memeluknya lebih erat. Tawa yang sangat pelan keluar dari belah bibir mungilnya. Tanpa Glacier sadari, dia baru saja membuat sang papa mendapat kejutan di jantungnya.

Kemudian, setelah semua itu. Amato berjanji nggak akan menolak lagi untuk minum kopi hitam herbal super pahit racikan Kanjeng Mama. Dia berpikir mungkin dengan meminumnya dapat menetralisir kadar gula berlebih akibat anak-anak kesayangannya itu.


Di buku sebelah ada keluarga kucing, kalau di sini keluarga beruang. Di buku sebelah baby Gentar, di sini ada baby Glacier. Oh, jangan lupakan baby Gempa yang sudah main dalam dua cerita #sedangterbaby-baby

Yang ingin baca cerita baby Gentar sila pergi ke lapak jingga saya~

300422