"Hinomaru ... nama untuk bendera Jepang, tapi bagus juga sebagai nama sastrawan. Mizan ... kalau tak salah, bahasa Arab yang artinya 'timbangan' ... pas juga, dia ini mahasiswa Hukum. Evangelica ... terdengar manis seperti malaikat sekaligus tegas seperti penginjil, cocok dengan ilmu Filsafat. Nuru, nuru~"
Siang itu di pojok kampus Kunugigaoka, seorang pria berbicara sendiri dalam kiosnya sambil terkekeh-kekeh. Tenang dulu, orang ini bukan pasien skizofrenia yang kabur dari rumah sakit sebelah kampus, hanya penderita self-diagnosed waham delusional yang juga sering disangkalnya sendiri.
Menjadi tukang fotokopi di era milenial begini membuat pria berambut hitam yang juga seorang dosen itu punya banyak sumber inspirasi nama anak yang unik. Orang tua zaman now memang rata-rata kreatif. Bisa jadi tabungan nama untuk buah pernikahannya dengan Aguri Yukimura, dosen ilmu gizi, di masa depan nanti.
Pria itu dikenal dengan panggilan Korosensei, yang siang ini delusional state-nya: maximum level! selagi kipas-kipas mengusir panas dengan kertas bekas dan membayangkan sedang makan siang bergizi seimbang yang dimasakkan oleh Aguri, dosen perempuan yang tahu namanya saja tidak. Sebetulnya masih lebih baik makan bakso bermicin di kantinnya Pak Mario, tapi beliau sedang isolasi mandiri lantaran kena Covid. Langganan bakso dekat rumah pun tutup sementara selama pandemi. Alhasil di siang hari yang panas ini, dengan masker senantiasa siaga di depan muka, Korosensei hanya bisa menghalu. Setengah berharap masih punya mahasiswa bimbingan skripsi kesayangan yang bakal mentraktirnya gelato lezat di hari sepanas ini, sayangnya yang bersangkutan sudah lulus.
Ah, mari kembali pada topik perihal nama anak.
Tanpa Korosensei perlu bertanya, nama-nama mahasiswa yang mestinya lahir setelah tahun 2000 dari berbagai negara itu berseliweran di depan matanya terutama kalau ada yang minta laporannya dijilid. Sambil mengoleksi nama-nama di dalam pikiran, Korosensei juga diam-diam mengasosiasikan nama yang bersangkutan dengan sesuatu yang mudah diingat. Misalnya, mahasiswa farmasi kampus sebelah yang sempat cekcok dengan anak bimbingan skripsi kesayangannya beberapa tahun silam. Nama belakangnya Yeager, yang kalau betul memang berakar dari bahasa Jerman maka artinya: pemburu. Tampang si calon apoteker memang berantakan dan kurang tidur tapi ada sorot determinasi yang kuat di mata hijaunya, persis seorang pemburu, demikian pikir Korosensei yang halu.
Satu hal yang diyakini Korosensei: mestinya nama yang terpampang di kertas adalah milik orang yang nge-print atau fotokopi, 'kan?
Nah, suatu ketika Korosensei mendapati seorang mahasiswa yang unik. Kertas yang dicetaknya selalu menunjukkan nama yang berbeda-beda.
.
.
.
.
.
Disclaimer:
BoBoiBoy (c) Animonsta Studios
Assassination Classroom (c) Yuusei Matsui
Attack on Titan (c) Hajime Isayama (mentioned only)
Gaudeamus Igitur & Ambyar Brothers Universe (c) Belladonna Cantabile
.
Alternate Universe, current COVID-19 pandemic situation.
Boboiboy's Elemental Siblings:
1. Gempa
2. Halilintar
3. Taufan
4. Solar
Human!Korosensei, Nurse!Maehara.
.
.
.
.
.
A Question of Honour (c) Roux Marlet
-tidak ada keuntungan material apa pun yang diperoleh dari karya ini-
.
.
.
.
.
***...***...***
A QUESTION
OF HONOUR
***...***...***
.
.
.
.
.
"Ini Bang. Totalnya sekian, ya."
Korosensei menatap layar yang disodorkan dan menyahut, "Oke," sambil diam-diam mengamati sosok unik yang beberapa kesempatan terakhir menarik perhatiannya.
Mendirikan kedai fotokopi di tengah dua institusi pendidikan yang juga berdekatan dengan sebuah rumah sakit adalah strategi jitu Korosensei, masih dalam rangka menabung biaya nikah. Tabungan sudah nyata, calonnya saja yang masih maya. Koreksi, tabungan Korosensei saat ini semi-maya juga, karena ada mahasiswa yang membayar jasa print dan fotokopinya lewat dompet digital.
Iya, mahasiswa yang sedang nongkrong di depan etalasenya saat ini. Pemuda itu tak pernah bawa dompet betulan ke tempat ini, hanya bermodal flashdisk dan ponsel saja beserta virtual account yang sering bertransaksi ke rekening si dosen.
"Kamu angkatan 2021 ya?" celetuk Korosensei. "Mahasiswa baru? Belum pernah orientasi kampus?"
Pemuda berkacamata itu mendongak dari ponselnya. "Hm? Eh, iya."
Korosensei menunjuk ke luar. "Sepedamu jangan diparkir di sana. Nanti diciduk atau digembosin bannya. Mending pindah ke kanopi samping kios sini, aman."
"Oh? Terima kasih infonya."
Selagi pemuda itu beranjak untuk memindahkan sepeda, Korosensei membacai tulisan tangan yang rapi di atas kertas panjang. Judul-judul dokumen dalam flashdisk yang akan dicetak, yang Korosensei tebak lagi pasti dengan nama-nama yang berbeda. Dia melempar pandang ke seberang jalan.
Pemuda itu bertubuh kecil dan kurus, dari gerak-geriknya yang agak kikuk masih tingkat pertama sepertinya (yang ternyata benar), kacamata model visornya warna jingga norak dan kalau ke sini dia selalu pakai jaket putih bertabur aksesori yang sama noraknya. Jangan lupakan topi putih yang miring empat puluh derajat ke sebelah kiri di atas kepalanya yang berambut entah cokelat entah hitam saking tersembunyi. Sepertinya mahasiswa Royal Capital, karena kalau mahasiswa Kunugigaoka pasti berseragam.
Menurut Korosensei yang sudah pernah melanglangbuana ke berbagai negara sebelum jadi dosen Kunugigaoka, barangkali anak itu kepengin jadi artis Korea tapi tak kesampaian.
Si mahasiswa baru jalannya pincang, kakinya yang satu lebih pendek dari yang lain. Dia agak kesulitan saat menuntun sepedanya, napasnya tampak terengah di balik masker yang jadi syarat bepergian di masa sekarang.
Jiwa asli seorang guru di sanubari Korosensei terpanggil. Anak ini korban bully kakak tingkat sepertinya, tapi entah kenapa Korosensei merasa tebakannya kurang pas. Dia akan coba memancingnya habis ini.
Pemuda itu kembali sambil membersihkan tangan menggunakan hand sanitizer yang dibawanya. Korosensei bicara duluan saat tamunya sudah duduk lagi di depan etalase,
"Nge-print makalah kok namanya beda semua. Kamu joki ya? Ngaku aja, aku nggak akan bilang siapa-siapa, kok."
Hening yang menyusul sekitar empat detik. Pemuda itu masih menunduk dalam diam, otomatis menurunkan lidah topinya—dan Korosensei menarik lepas topi itu.
"HEI—"
Si pemilik topi tersentak kaget, berusaha meraih kembali topi putihnya, tapi karena berdiri terburu-buru dia langsung hilang keseimbangan. Beruntung refleks sang mantan assassin (menurut klaimnya sendiri) dengan sigap menangkap tangan anak itu sebelum kepalanya menghantam kaca etalase. Korosensei menatap wajah panik itu dengan kaget dan heran.
"Kamu ... kamu anaknya Prof. Gempa bin Amato, dekan Fakultas Kedokteran Royal Capital itu?"
Ada jeda lagi, hanya sedetik, sebelum si mahasiswa baru menarik tangannya dan menyemprot balik,
"Masya Allah. Kak Gempa masih kepala tiga, dia abang saya bukan bapak saya!"
Memang, beberapa dosen fakultas kesehatan Universitas Royal Capital terutama yang sudah bergelar guru besar kadang juga mengajar di Institut Kesehatan Kunugigaoka. Korosensei membalas,
"Salah sendiri, dia kayaknya tua banget sih."
"Iya lah. Kak Gem selalu banyak mikir makanya sudah mulai ubanan."
"Heh, kamu sendiri juga ubanan, tuh." Korosensei menunjuk rambut putih di antara helaian gelap yang selama ini ditutupi topi.
"Ini piebaldism, kekurangan pigmen rambut, sekeluarga kami begini semua. Abang kira Kak Gempa umur berapa?"
"Umm. Lima puluh?"
"Jahat banget, sumpah. Nggak lihat apa mukanya imut-imut kinclong gitu? Sama kayak yang di hadapan Abang sekarang."
Korosensei mengerjap, agak terkejut menemui kasus narsisme akut terang-terangan yang sedemikian rupa. Dia membalas, "Ya kali, aku ketemu Prof. Gempa aja cuma satu-dua kali, itu pun di kantin, kondisi perut lagi orkestra keroncong. Mana sempat lihat wajahnya sebegitu detail? Memangnya aku stalker?"
"Hmm, kelihatannya Abang berbakat kok jadi stalker."
Kalimat ringan bernada songong itu membuat Korosensei merasa terhina. Pernah jadi mata-mata tidak sama dengan penguntit dalam kamusnya.
"Sudahlah. Jadi kamu juga anaknya Amato bin Aba, si dokter bedah jantung nomor satu Malaysia itu?"
Pemuda itu tidak menjawab retorikanya. Alih-alih, dia malah melancarkan amunisi,
"Selo amat ngurusin urusan orang. Abang jomblo ya? Ngaku aja, saya nggak akan bilang siapa-siapa, kok."
Ouch. Hati Korosensei langsung cidro ... mana radionya dengan timing yang sangat pas sedang memutar refrain lagu koplo, "Senajan aku lara, ning isih kuat nyonggo ... tatu sing ono ndodo ..."
"Sini, kembalikan topiku," tuntut si pemuda, menanggalkan segala formalitas. Sorot di balik kacamata itu tampak berang.
Korosensei merapikan kertas-kertas yang keluar dari mesin cetaknya, lalu diserahkannya topi itu bersama tumpukan kertas dan seutas nasihat,
"Kuharap kamu berhenti melakukan ini."
Kepala dengan rambut dwiwarna itu terdongak, nadanya sengak,
"Memangnya Abang siapa? Tahu apa tentangku? Tahu namaku aja enggak!"
Pemuda itu menyambar kertas dan topinya, balik badan menuju sepeda dengan langkah pincang.
Korosensei mengulum senyum. "Namamu Solar bin Amato, 'kan?"
Pemuda yang dipanggil Solar menoleh sambil melotot. "DASAR STALKER!"
Korosensei menunggu sampai pemuda itu berlalu dengan sepedanya tanpa memaki lebih lanjut, lalu menelepon seseorang.
"Halo ... Maehara-kun? Aku mau tanya, dong. Dulu kamu pernah diajar kuliah Prof. Gempa enggak? Eh, apa? Kamu habis ditikung lagi sama pacarmu yang LDR? Kalau begitu Sensei ikut berduka, ya. Semoga akhirnya dia bahagia dan langgeng bersamanya. Nih, lagunya di radio pas banget buatmu."
"Senajan aku lara, ning isih kuat nyonggo ... tatu sing ono ndodo ..."
"SENSEEEEEEEEI!"
.
.
.
.
.
***...***...***
A QUESTION
OF HONOUR
***...***...***
.
.
.
.
.
"Stalker apanya. Lha namanya terpampang jelas di flashdisk."
Perangkat penyimpan data berwarna putih yang masih menancap itu memang ada stikernya berisi identitas si pemilik. Ck ck ck, cicak pun ikut mendecak bersama Korosensei. Pemuda bling-bling tadi mestinya akan kembali tak lama lagi. Harga flashdisk dengan kapasitas sebesar ini tidaklah murah, apalagi kalau Solar menyimpan banyak data orang lain di sini. Akankah bermasalah untuk bisnis si pemuda? Hm, kalau saja Korosensei bisa menyebutnya bisnis. Dia tidak bisa diam saja setelah menangkap basah seorang joki tugas: seorang yang dibayar orang lain untuk mengerjakan tugas orang tersebut. Tidak jujur? Jelas.
Betul dugaan Korosensei. Solar memang kembali seperempat jam kemudian, wajahnya bercucuran keringat, lalu menyandarkan sepedanya cepat-cepat.
"Flashdisk-ku ...," gumam Solar kehabisan napas, melirik cemas ke langit yang menggelap di luar sana.
"Masih nancep tuh, di laptop. Ambil sendiri sini."
"Duh Gusti, terus aku harus lompatin etalase gitu, Bang?"
"Iya, biar tahu rasa. Orang lain kerja keras dengan jujur dan kamu malah jadi penyedia jasa curang."
Solar menarik napas dalam, kesal bukan kepalang, tapi abang tukang fotokopi sok tahu ini minta ditonjok rupanya. Mana bisa dia lompat setinggi seratus empat puluh sentimeter tanpa ancang-ancang. Memangnya ini lapangan loncat tinggi? Dan, dengan kaki yang seperti ini pula ...
"Aku tahu joki itu biasanya pinter-pinter. Kalau nggak pintar, nggak mungkin bisa ngerjain tugas orang lain, lah. Tapi pintar dan cerdas itu beda."
Solar seolah bisa mendengar kalimat selanjutnya yang tak terucapkan dari Korosensei, "Kamu itu termasuk yang nggak cerdas meski pintar."
Petir menyambar, hujan mulai turun.
"Alamak!" pekik Solar. "Tolong dong Bang, jangan mempersulitku di sini."
"Mempersulit? Oh ya, kamu sendiri nggak sadar sudah mempersulit negara ini buat maju?"
Sungguh panas telinga Solar sekarang, tapi dia lebih peduli untuk pulang tanpa kehujanan. "Flashdisk-ku, tolong."
Korosensei mengarahkan ibu jarinya ke belakang dengan cuek. "Di situ ada pintu, masuk aja lewat situ."
Solar mendecak keras dan berjalan memutar, menarik lidah topinya semakin dalam. Barangkali pulang hujan-hujanan nanti bakal bisa mengobati harga dirinya yang sudah diinjak-injak orang asing sok tahu ini. Jaket putih trendinya tidak waterproof dan segera basah dalam sekejap selama beberapa detik Solar memutari kios itu. Dasar sial. Nyaris terpeleset pula ia di depan pintu yang dimaksud, untung si pemilik sigap membuka pintu dan menahan badannya.
Lagi-lagi pria itu menahannya biar tidak terempas jatuh seperti di depan etalase tadi. Padahal, tentu saja makin lucu melihat orang yang kauhina terjatuh harfiah, bukan? Bukankah harkatnya sudah lebih dahulu kaujatuhkan sedemikian rupa? Solar mengepalkan tangan, hatinya pedih teringat perkataan pria itu tadi.
Belum sempat bicara apa pun, Solar bersin satu kali.
"Duduk dulu, kuambilkan handuk sebentar."
Solar yang merasa kepalanya mulai pening sehabis bersin tak habis pikir. Apakah pria ini berkepribadian ganda? Tadi dia begitu pedas mengatai Solar, lalu sekarang?
"Kamu nggak terbiasa kena hujan, ya?" tanya Korosensei selagi Solar mengeringkan badan dengan handuk kecil pemberiannya.
"Mau ngejek apa lagi?" balas Solar dengan suara lemah, lalu bersin sekali lagi. Hujan sedikit saja memang tak berefek baik buat tubuhnya.
"Maskermu juga basah, tuh. Kuberi satu, nih." Sebuah masker medis betulan disodorkan.
"Abang mau apa sih baik-baikin aku begini? Mau nyulik aku?" tanya Solar nge-gas.
"Wah, kok kamu berburuk sangka begitu. Aku cuma mau wawancara kamu sebentar."
"Wawancara?" Jeda tercipta karena Solar bersin lagi. "Memangnya ini biro karier?"
"Nggak baca tulisan di depan? Nuru-nuru Print and Copy Center. Dari mana biro karier?"
"Terus?" tuntut Solar.
"Kamu benar. Aku nggak tahu apa-apa tentangmu dan aku seenaknya nge-judge. Kamu pasti tersinggung."
"Oh, jelas," balas Solar berapi-api. "Dan Abang membuatku terjebak di sini. Aku nggak bisa pulang sekarang."
"Nggak bawa jas hujan? Nanti kupinjami."
"Aku nggak diperbolehkan berkendara waktu hujan," timpal Solar, suaranya melirih lagi.
Korosensei menahan lidahnya dari celetukan maut, "Dasar anak manja" dan semacamnya. Solar menyambung,
"Aku pernah kecelakaan karena itu."
Sorot mata sang dosen melembut. Sepertinya anak ini mau bercerita sebentar lagi.
"Nurufufu~ Jadi? Boleh kumulai wawancaranya?"
"Tolong. Off the record."
Rupanya Solar melihat Korosensei mengeluarkan ponsel.
"Aku bercanda. Ponselku mati, kok. Rahasiamu aman di ruangan ini. Nurufufu~"
Solar meremas lengan jaketnya yang setengah basah. "Aku kecelakaan waktu umur lima tahun, baru belajar naik sepeda dan sudah sok berani menghadang hujan. Ujung-ujungnya aku opname seminggu dan sejak saat itu fobia darah."
Korosensei mendapati jeda lagi. Solar sedang merenung, menatap ke sepatunya yang berselisih jarak. "Apa karena itu kakimu ...?"
"Oh, nggak. Ini ... aku cacat sejak lahir."
Korosensei mengernyit. "Tapi kamu tetap diajari naik sepeda?"
"Ayah nggak mau aku jadi anak manja."
Di situ, Solar berhenti lagi cukup lama sebelum melanjutkan, "Abang mau tahu kenapa aku jadi joki, 'kan?"
"Itu pertanyaanku semula."
"Aku kuliah di FK Royal Capital."
"Tempat kakakmu mengajar?"
"Ya."
"Lalu?"
"Aku juga kuliah di Kunugigaoka."
Korosensei tidak menduganya. "Tapi kamu—eh, tunggu dulu. Karena belum ada kelas luring, mestinya belum ada kewajiban pakai seragam, ya. Tadi sudah kuduga kamu mahasiswa Royal Capital."
Solar mengangguk. "Dan Farmasi Kunugigaoka."
"Nyuya?!" Korosensei terkejut betulan sekarang.
Mata kelabu Solar menyipit. "Apa? Nggak boleh?"
"Gilaaaaak. Kamu mau double degree? Medical Doctor sama Bachelor of Pharmacy sekaligus?" Korosensei sampai membelalakkan mata hitamnya. "Kamu sanggup?"
Yang ditanya tak langsung menjawab, lagi. "Justru karena sekarang masih kuliah daring, aku masih bisa mendua. Kalau ada jadwal yang barengan, satunya kurekam, kusimak kalau yang satu sudah selesai. Yang penting stand on cam."
"Kedokteran dan Farmasi, lho ..." Korosensei masih takjub. "Kenapa bisa begitu?"
"Dari dulu aku suka ilmu kimia. Aku pengin jadi peneliti obat, penemu vaksin dan obat-obat baru. Lagipula aku takut darah, mana mau aku jadi dokter? Tapi, Abang sudah tahu 'kan, keluargaku ..."
Korosensei menuntaskannya, "Ayahmu dan ketiga kakakmu semuanya dokter."
"Ya," desah Solar lelah. "Semua ternama di bidang masing-masing. Kak Gempa jadi dokter bedah saraf, ditambah dapat gelar profesor di sini. Kak Halilintar mengikuti jejak ayah sebagai dokter bedah jantung. Bahkan Kak Taufan yang sengklek dan sukanya main itu, berhasil juga jadi dokter, spesialis anak."
"Lalu anak keempatnya Amato malah nggak mau jadi dokter," simpul Korosensei. Solar mengangguk.
"Setengah tahun yang lalu aku lulus sekolah menengah, kemudian aku mendaftar ke dua jurusan di kampus yang berbeda, semuanya diterima, dan jadilah seperti ini. Kak Gempa yang membiayai kuliahku di FK Royal Capital. Mana bisa aku minta uang lagi untuk kuliah Farmasi?"
Korosensei masih merasa bermimpi, mendapati tekad kuat yang langka tapi salah jalan ini. "Makanya kamu cari uang sendiri—"
"Yup."
"Kenapa nggak cari beasiswa?"
"Anaknya Amato berburu beasiswa? Jelas nggak memenuhi persyaratan pertama: kendala finansial."
"Kalau beasiswa prestasi? Ada 'kan, yang nggak mempersyaratkan kesulitan finansial sebagai yang utama?"
"Yah, jangan dikira aku nggak pernah nyoba," gerutu Solar. "Begitu mereka tahu nama ayahku, biasanya aku langsung dicoret dari daftar."
"Sebegitu kaya ya, dokter bedah ternama," komentar Korosensei sambil gigit jari. Solar tidak membalas dan selama bermenit-menit kemudian keduanya sama-sama sibuk dalam renungan masing-masing.
"Solar, kamu tahu yang kamu lakukan ini nggak benar?"
"Iya, aku tahu."
"Kamu bisa kuliah di jurusan yang kamu sukai, tapi dengan uang yang nggak halal."
Solar tampak tak suka mendengarnya. "Aku kepepet."
"Solusinya jelas. Drop aja kuliah kedokteranmu, kalau memang kamu lebih passion ke farmasi."
Kengerian melintas di wajah Solar. "Aku bisa dibunuh Ayah."
"Aku bukannya mau sok tahu dan sarkastis, tapi bukannya ayahmu dokter? Dokter nggak membunuh orang. Kalau assassin, iya."
Si mahasiswa hanya diam.
"Udah pernah coba bicara ke keluargamu?"
Solar menggeleng. "Ayahku orangnya keras ..."
"Kalau abangmu? Sekarang kamu tinggal bareng Prof. Gempa 'kan?"
"Kak Gempa sibuk."
"Tapi kamu paling dekat dengannya?"
"Nggak juga, meski di sini kami tinggal serumah. Selisih umurku dengan Kak Gempa dua puluh satu tahun."
"Nyuya? Berarti Prof. Gempa itu seusia denganku dong?"
"Memangnya Abang umur 37?"
"Nggak. Tiga-sembilan."
"Kak Gempa lebih muda dua tahun darimu," balas Solar nyengir di balik masker.
"Kok bisa? Kalau kamu mahasiswa baru, 'kan umurmu paling sekitar delapan belas?"
"Aku umur enam belas. Aku berhasil lulus kelas akselerasi sekolah menengah," Solar berujar bangga menjurus besar kepala.
"Hmm, pantesan. Kamu memang masih bocah ternyata."
"Bang, itu mulut tolong bisa dikasih filter nggak sih?!"
.
.
.
.
.
***...***...***
A QUESTION
OF HONOUR
***...***...***
.
.
.
.
.
Dalam lima belas menit antara Solar pergi dari kiosnya sampai kembali lagi, Korosensei berhasil mendapatkan beberapa fakta dari anak bimbingan skripsinya yang sekarang sudah bekerja sebagai perawat anestesi di rumah sakit yang jauh dari Kunugigaoka.
"Umm, Prof. Gempa? Kayaknya pernah sih, beberapa kali."
"Orangnya, karakternya, kayak gimana?"
"Sebentar, ada fotonya nggak Sensei? Aku tuh pelupa kalau cuma dikasih nama."
"Maehara-kun, kamu memang nggak bisa diharapkan, ya."
"Eeh? Dengan apa coba kita pertama kali mempopulerkan Ambyar Brothers kalau bukan lewat medsosku?"
"Halah. Kalau nggak pakai foto Sensei waktu itu, apa kita bakal selaris itu?"
"Sensei, I'm in the middle of an O.P! Bisa cepet nggak?" seru Maehara Hiroto dengan bahasa gado-gado, tak lupa latar suara beep dari monitor tanda vital yang mestinya ada di ruang operasi. "Mana ini O.P cito dan aku belum makan siang!"
"Duh, kasihan. Nih, kukirim fotonya Prof. Gempa."
"Dari tadiiiii," gerutu Maehara. Sejurus kemudian dia bersuara lagi, "Iya pernah! Dosen ini baiiiiik banget, dia ngajar bab Neurosurgery. Pembahasannya enak dipahami, padahal dia orang Malaysia ya?"
Korosensei tersenyum simpul. "Benar, orang Malaysia. Kamu tahu apa lagi soal Prof. Gempa?"
"Hmm, seingatku dia baru dilantik profesor pas tahun terakhirku kuliah. Iya, pas aku skripsi dibimbing Sensei. Harusnya pelantikan guru besarnya itu barengan Prof. Levi, dosbingnya Eren yang angker itu lho! Tapi kalau nggak salah, waktu itu Prof. Gempa ada suatu keperluan, sampai perlu cuti setengah tahun. Jadi pelantikannya diundur."
"Tahun berapa itu seharusnya?" selidik sang dosen.
"Seharusnya ... berarti tahun 2016. Astaga, sudah hampir enam tahun yang lalu ya, Sensei. Aku merasa tua."
"Cuih, kalau kamu tua, Sensei apa dong?"
Maehara di seberang sambungan hanya tertawa singkat. "Sudah dulu ya Sensei, nanti dokter operatorku marah-marah."
.
.
.
.
.
***...***...***
A QUESTION
OF HONOUR
***...***...***
.
.
.
.
.
"Ayahmu sakit?"
Solar mengangguk, padahal ceritanya barusan sudah jelas. Amato terkena leukemia, kanker darah, stadium akhir. Kemoterapi bisa memperpanjang umur, tapi tidak bisa menyembuhkan secara total.
"Leukemia yang tipe apa?"
"CLL, Chronic lymphoblastic leukemia."
"Diagnosisnya kapan?" Korosensei terus bertanya, tahu jenis yang satu itu dikenal juga sebagai slow killer.
"Tahun 2016. Aku bahkan belum lulus sekolah rendah waktu itu ..."
"Dirawat di mana? Kuala Lumpur?"
"Iya lah. Kak Taufan yang merawatnya sendiri. Kak Halilintar tinggal di Kalimantan, tapi juga sering ke KL. Kak Gempa tadinya sudah mau mengundurkan diri dari Royal Capital biar bisa pulang ke KL dan tetap di rumah, tapi ..."
Korosensei melihat ada setetes air di bawah pipi Solar.
"... Ayah bilang, Kak Gempa harus bertahan di sana, karena sedikit lagi dapat gelar profesor. Nanti Solar juga akan kuliah di Royal Capital. Waktu itu kondisi Ayah buruk sekali, kami semua mengira dia sudah mau meninggal. Makanya ... mana mungkin aku bisa bilang padanya kalau aku nggak mau jadi dokter ... oh, astaga. Kupikir aku nggak bakal menangis di depan orang asing."
Korosensei hanya mengambilkan tisu dalam diam. Untuk beberapa menit Solar terisak-isak, seluruh wajahnya merah menahan buncahan emosi.
"Tapi ayahmu juga bertahan hidup ... sampai sekarang."
"Iya, Ayah pejuang yang kuat. Tapi setahun terakhir ini kondisinya menurun lagi. Abang tahu ayahku sekarang umur berapa? Dia hampir tujuh puluh tahun, waktu menikah dulu umurnya tiga puluh—hitung saja selisih umur Kak Gempa ke Kak Hali dua tahun, Kak Hali ke Kak Taufan setahun, lalu lahirlah aku delapan belas tahun setelah Kak Taufan dan sekarang umurku enam belas. Covid juga berbahaya untuknya, aku nggak tahu berapa lama lagi Ayah bisa bertahan. Paling nggak, dia akan bisa meninggal dengan tenang selama tahu aku masih kuliah Kedokteran. Jadi sampai waktu itu tiba, yang sepertinya nggak akan sampai enam-tujuh tahun lagi, aku juga harus bertahan. Setelah itu ... barulah aku bisa melepas kuliahku di FK."
Petir masih menyambar-nyambar di luar. Tampaknya hujan sore itu bakal awet. Solar kembali bersin.
.
.
.
.
.
***...***...***
A QUESTION
OF HONOUR
***...***...***
.
.
.
.
.
Ketukan lembut terdengar di pintu, disusul suara seorang pria,
"Assalamualaikum ..."
Gempa bin Amato mendongak, membalas, "Waalaikumsalam," sambil mengernyit keheranan. Siapa di kampus ini yang memberi salam demikian? Sosok lelaki asing berambut hitam muncul di ambang pintu kantornya.
"Anda Prof. Gempa bin Amato?" tanya orang itu.
"Saya lebih suka dipanggil langsung dengan nama," balas Gempa sembari tersenyum, meski jelas tertutupi masker seperti lawan bicaranya. "Silakan duduk."
"Terima kasih, Pak Gempa."
"Gempa saja. Kamu sepertinya seusia denganku?" Gempa sendiri tidak lagi memakai formalitas, mengamati lekat-lekat tamunya yang bermata hitam dan juga masih tampak muda.
"Aku tiga puluh sembilan."
"Oh, harusnya aku yang memanggilmu Pak," kekeh Gempa.
"Sama-sama langsung nama saja, kalau kamu lebih suka begitu. Namaku Koro, dosen Keperawatan Kunugigaoka."
"Oh ya? Keperawatan?" Gempa mengernyit keheranan.
"Aku juga buka usaha kios fotokopi dan print Nuru-nuru."
Mata keemasan Gempa membulat. "Oh! Yang di situ rupanya kamu. Dengar-dengar memang pengusahanya seorang dosen, tapi aku baru tahu orangnya sekarang."
"Nurufufu. Silakan mampir kapan-kapan, harga murah meriah, kertas berkualitas," Korosensei mengeluarkan jurus jitu marketing-nya. Dalam hati dia senang karena ternyata pribadi Gempa sesuai dengan yang dibayangkannya. Semoga langkah selanjutnya akan mudah ...
"Jadi ada perlu apa ke sini?" Gempa bertanya.
"Aku bertemu adikmu beberapa hari yang lalu."
"Solar?" Gempa mengangkat alis. "Ah iya, dia bilang memang sedang perlu banyak print tugas." Tiba-tiba Gempa melotot. "Eh, kamu nggak demam? Batuk? Pilek? Nyeri tenggorokan?"
Diberondong begitu, Korosensei jadi kaget juga. "Ehm, enggak kok ..." Kenapa perasaannya tidak enak?
"Solar demam sudah tiga hari. Tadi pagi dia swab PCR, takutnya kena Covid. Hari apa kalian bertemu?"
Astaga, anak itu demam rupanya. Apa karena kena hujan waktu itu?
"Tiga hari yang lalu. Hari Selasa."
"Ya, malamnya Solar demam."
"Sepertinya dia kehujanan." Bukan sepertinya lagi, Korosensei tahu dengan jelas Solar kehujanan dan bersin-bersin setelahnya. Saat akhirnya Solar pulang, hujan memang sudah berhenti, tapi mestinya jaketnya masih lembab.
"Dia nggak bilang kalau kehujanan," sahut Gempa bingung. "Kuharap bukan Covid."
"Bagaimana kabarnya?"
"Tadi pagi demamnya sampai 40 derajat, makanya kuantar swab."
"Waduh. Kuliahnya bagaimana?"
"Dia menyimak kelas sambil berbaring. Sudah kubilang absen dulu saja, tapi dia bersikeras."
"Kelihatannya Solar menyukai kuliahnya?" Korosensei memancing.
"Solar itu selalu serius belajar. Mungkin nanti dia mau menyusulku jadi profesor di sini. Cocok jadi akademisi."
"Akademisi, barangkali lebih ke peneliti?"
"Ya, bisa saja."
"Apa Gempa tahu, Solar sebetulnya nggak mau jadi dokter?"
Untuk pertanyaan tak terduga itu, Gempa terbelalak.
"Dari mana kamu tahu?" bisik sang profesor.
"Jadi, kamu sendiri sudah tahu?" Korosensei bertanya balik.
Gempa menggeleng. "Tapi, dulu sekali, Solar pernah bilang pada ayah kami seperti itu. Waktu itu dia masih kecil sekali ... mungkin belum terlalu yakin pada cita-citanya."
"Yah, Solar bilang begitu padaku tiga hari yang lalu. Dia kuliah Farmasi di kampusku."
"Double?" balas Gempa tak percaya.
Korosensei, yang sudah mengecek sendiri register mahasiswa jurusan Farmasi, mengangguk. Dia mengamati ekspresi Gempa yang campur aduk.
"Astaga, astaga ...," gumam sang profesor muda. "Ke mana saja aku? Kenapa dia tidak cerita? Dan kamu, kamu siapa sebenarnya?"
"Sudah kubilang tadi, aku juga dosen di kampus sebelah, sekaligus pengusaha fotokopi," sahut Korosensei lugas. "Tapi aku memang sedikit memaksa Solar bercerita. Karena dia melakukan sesuatu yang tidak jujur dan aku tak bisa diam saja."
Gempa terbelalak lagi, wajahnya mendadak pucat. "Solar melakukan apa ...?"
"Jadi joki tugas kuliah. Berbagai jurusan, berbagai angkatan. Lewat online sepertinya."
.
.
.
.
.
***...***...***
A QUESTION
OF HONOUR
***...***...***
.
.
.
.
.
BRUKKK!
"Huweeeee ..."
"Ayo Solar! Berhenti menangis! Berdiri lagi!"
"Sakit ..."
"Kamu pasti bisa."
"Aku nggak bisa!"
"Anak Ayah pasti bisa!"
"Kakiku pendek!" pekik Solar berumur lima tahun, putus asa setelah kesekian kalinya jatuh dari sepeda.
"Pedalnya sudah Ayah modifikasi untukmu. Ayo, jangan menyerah. Kamu pasti bisa naik sepeda."
"Ayah, apa ini nggak berlebihan?" Halilintar bertanya pelan-pelan selagi si bungsu tertatih-tatih menuruti perintah sang ayah. "Solar bisa berjalan saja sudah Alhamdulillah."
"Jangan mau kalah dengan kecacatan. Ayah nggak mau Solar jadi beban orang kalau besar nanti."
Halilintar tidak bisa membantahnya.
"Kamu juga Halilintar, selesaikan pendidikan profesi doktermu sesegera mungkin. Kamu pasti bisa seperti Gempa."
Si sarjana kedokteran tersentak. "Ya, Ayah."
.
.
.
.
.
"Kenapa cuma dapat lima puluh, Solar?"
"Soalnya sulit-sulit, Ayah ..."
"Kamu pasti nggak serius belajar. Balik badanmu."
Solar berumur enam tahun balik badan dan untuk pertama kalinya mendapat sabetan rotan di pantatnya. Jeritannya bahkan membuat Taufan yang waktu itu baru saja selesai magang shift malam terlonjak bangun.
"Solar kenapa ...?" tanyanya dengan nada mengantuk pada Halilintar yang sekamar dengannya.
"Habis dihajar Ayah, kayaknya nilainya jelek," sahut si sulung singkat, matanya fokus pada buku teks anatomi tebal di tangan, tapi tetap melihat adiknya bangkit dari tempat tidur. "Jangan, Taufan."
"Dia baru umur enam! Aku saja pertama kali disabet rotan umur sebelas."
Halilintar terdiam.
"Yang jelas, sabetan rotan nggak membuatmu makin pintar," gerutu Taufan sambil meraba pantatnya sendiri, masih ingat bekas-bekas pukulan di waktu lampau. "Kalau aku yang dihajar, oke lah, aku tahu diri, aku 'kan nakal. Solar itu anak baik, selalu nurut, nggak pernah membantah. Kenapa kalau nilainya jelek? Ayah terlalu konvensional. Kalau mau menghukumnya, potong saja uang sakunya."
.
.
.
.
.
Solar bin Amato yang berumur tujuh tahun tak tahu kenapa dirinya begitu bodoh. Kakak-kakaknya pintar-pintar, bahkan ada yang sudah jadi dokter seperti ayahnya. Kalau begini terus, dia akan ketinggalan. Lagipula Ayah selalu memukulnya kalau nilai ujiannya tidak sempurna. Sabetan rotan di pantat hampir jadi rutinitas tapi Solar tidak bisa terbiasa. Dia tidak mau kena pukul lagi ... maka di suatu hari, Solar melakukan sesuatu yang lebih bodoh lagi.
Dia menyontek saat ujian.
Nilainya sempurna, tapi wali kelasnya tahu dan memanggil Amato ke kantor.
Entah apa yang disampaikan wali kelas pada sang ayah, yang pulang dengan raut murka yang sangat mengerikan. Halilintar saja pucat pasi saat berpapasan di pintu depan.
"Memalukan."
Bukannya terhindar dari pukulan, seluruh tubuhnya malah jadi sasaran. Solar sangat menyesal, tapi penyesalan selalu datang terlambat.
"Ayah ... nggak pernah ... ngajarin kamu ... untuk jadi penipu! Orang curang! Rendah! Sampah!"
Setiap pukulan rotan sang ayah dilayangkan sepenuh tenaga dan sepenuh amarah.
"Ampun ... Ayah ... huhu ... Solar salah ... Solar minta maaf ..."
"Anak Ayah ... nggak ada ... yang jadi penipu! Kenapa ... kenapa juga ... kenapa ... kamu mesti ... dilahirkan ..."
Solar tidak terlalu ingat apa yang terjadi setelahnya. Dia bangun dengan wajah Taufan yang bermata bengkak kemerahan di hadapannya dan langsung memeluknya erat. Si anak nomor tiga menangis bersama Solar, sementara Halilintar duduk di dekat mereka, memalingkan muka juga untuk menyembunyikan air mata.
Ketika pukulan Amato tadi sudah semakin menggila, Gempa melempar diri ke tengah-tengah mereka untuk melindungi Solar. Amato berhenti memukul ketika tahu Gempa terkena sabetannya. Ada adu argumen sementara Solar yang terlalu ketakutan dan kesakitan sudah pingsan. Halilintar dan Taufan memindahkan adik bungsu mereka ke kamar sementara Gempa dan Amato berdebat.
"Kak Taufan ... jadi benar, Ibu meninggal gara-gara aku, ya?"
Pertanyaan pertama Solar setelah sadar dari pingsan mencabik-cabik hati kedua kakaknya.
.
.
.
.
.
***...***...***
A QUESTION
OF HONOUR
***...***...***
.
.
.
.
.
"Solar tumbuh besar tanpa sosok seorang ibu," Gempa menerangkan. "Ibu kami sudah hampir umur lima puluh waktu mengandung Solar. Adikku itu bonus menjelang menopause," kenang si profesor sambil tersenyum sendu. "Perdarahan pasca melahirkan. Ibu kami tidak tertolong, Solar sendiri lahir dengan kaki cacat."
Korosensei masih menyimak penuh perhatian, matanya ikut berkaca-kaca.
"Dari dulu Ayah memang keras. Aku sendiri pernah kena sabet rotan gara-gara terlalu malam pulang sama teman, tapi memang Taufan yang paling sering kena sih. Dia pernah coba merokok dan minum-minum, dasar. Sudah tahu salah, sudah tahu Ayah seperti itu, tetap saja dicoba. Itu masa sebelum Solar lahir."
"Masa muda yang penuh rasa ingin tahu," komentar Korosensei bijak.
Gempa diam sejenak, mungkin sedang mengenang masa muda yang dimaksud, meski belum terlalu lama juga berlalu. "Terhadap Solar, Ayah keras padanya sejak anak itu masih kecil. Di satu sisi itu bagus, adikku memang tidak menjadi anak manja yang berlindung di balik kecacatannya. Di sisi lain ... Solar jadi terlalu keras pada diri sendiri."
.
.
.
.
.
***...***...***
A QUESTION
OF HONOUR
***...***...***
.
.
.
.
.
"Ayah itu maunya apa?!" teriak Gempa yang juga marah. "Ayah nggak pernah puas sama nilai ujian Solar, makanya jadi begini!"
"Kamu nyalahin Ayah, Gempa?" desis Amato. "Kamu, dari semua orang?"
Gempa yang di tahun itu baru akan memulai ujian disertasinya tak bisa menahan diri menangis, "Salah siapa lagi? Ukh ... tolong, Ayah ... jangan lampiaskan kepahitan Ayah pada Solar ..."
Amato bungkam. Dia ikut meneteskan air mata sembari mendudukkan diri di kursi kerjanya.
"Sejak Ibu tiada, Ayah jadi aneh," Gempa meneruskan tanpa takut meski sambil terisak. "Apa karena sudah terlalu lama sejak terakhir punya bayi, Ayah? Jeda delapan belas tahun sejak Taufan lahir dan Ayah tak tahu caranya menjadi seorang ibu?"
Amato masih belum bicara.
"Aku bisa jadi pengganti Ibu untuk Solar," ujar Gempa. "Tapi Ayah, ya satu-satunya ayah kami. Kami—aku dan Halilintar dan Taufan—kami semua juga sayang Ibu. Nggak ada di antara kami yang nggak sedih waktu Ibu meninggal. Solar ... Solar bahkan nggak pernah ketemu Ibu."
Gempa membenamkan wajahnya di balik telapak tangan, menangis tersedu-sedu. Bermenit-menit. Tak hanya dia yang menangis.
"Gempa ...," Amato akhirnya buka suara, lirih. "Maaf. Ayah sudah salah."
"Jangan minta maaf padaku, Ayah," sahut Gempa dengan suara gemetar. "Ayah sudah melukai hati seseorang yang belum paham apa yang benar dan apa yang salah ..."
.
.
.
.
.
"Kak Taufan ... jadi benar, Ibu meninggal gara-gara aku, ya?"
Taufan menyambar, "Bo-bohong! Siapa yang bilang begitu? Pasti bercanda!"
Mata kelabu Solar membulat. "Eh, tadi Ayah sempat bilang—"
"Mana ada! Kamu pasti mimpi!" balas Taufan agak histeris. "Iya bener! Tadi 'kan Solar pingsan!"
Solar menatap kakak ketiganya, sorot matanya sedih dan kebingungan, lalu berusaha mencari jawaban dengan menoleh ke kakaknya yang nomor dua.
"Allah sayang banget sama ibu kita, makanya Ibu dipanggil duluan oleh-Nya," ujar Halilintar lembut sambil mendekati kedua adiknya. "Kita yang masih di dunia, masih punya tugas lain sebagai hamba-Nya."
Kalau situasinya tidak setegang ini, Taufan bakalan meledek Halilintar yang pastinya mengutip kotbah salat Jumat yang lalu. Solar melongo dengan lugunya selagi kepalanya ditepuk-tepuk oleh Halilintar.
"Tugas lain! Umm," gumam si bungsu sambil mengelap air matanya. Tiba-tiba mata kelabunya berbinar. "Aku tahu!"
.
.
.
.
.
"Aku! Anak muda ... Kebenaran~!"
Taufan di ruang makan mendengus menahan tawa, Halilintar menginjak kakinya. Gempa terpana, Amato juga sama.
"Musuh kecurangan, sahabat kejujuran~!" Solar yang pede abis meneruskan proklamasinya. "Mulai hari ini, Solar akan jadi anak yang jujur!"
Gempa langsung menangis lagi, terharu bagaikan seorang ibu yang bangga melihat anaknya bisa mengikat tali sepatu sendiri. Amato bangkit dari kursi dan meraih Solar ke pelukannya.
"Solar ... maafkan Ayah, ya."
"Um! Solar juga minta maaf, Ayah. Menyontek itu curang, Solar nggak akan mengulanginya lagi."
"Ayah nggak akan pukul Solar lagi."
Si bungsu mendongak dengan sorot berharap. "Ayah janji?"
Amato tersenyum penuh penyesalan. "Ayah janji, asal Solar juga janji untuk selalu jadi anak yang jujur."
Suara ingus disedot yang demikian keras membuyarkan suasana, disusul pekik kesakitan oleh pemilik suara yang sama.
"Aw! Kak Hali!"
"Ish, berisik."
"Memangnya Kak Hali nggak ikut terharu lihat adegan fuwa-fuwa begini? Kak Gempa aja sampai tersedu-sedan gitu."
"Ya tapi ingusnya nggak usah dileletin ke bajuku juga kali?!"
"Ehe~"
.
.
.
.
.
Solar punya tiga orang kakak dan semuanya terasa begitu jauh darinya. Umur mereka memang berbeda jauh dan demikian pula wawasan mereka. Sulit bagi Solar mengikuti percakapan kakak-kakak dan ayahnya. Terlebih, karena semuanya dokter, bicara menggunakan istilah medis di rumah hampir sama saja dengan bernapas. Solar berusaha mengejar. Dia tekun belajar.
Waktu ayahnya jatuh sakit, Solar belum terlalu mengerti. Dia mengira Ayah akan sebentar saja di rumah sakit lalu pulang, seperti waktu dia dulu kecelakaan sepeda. Ternyata rumah Ayah sejak saat itu adalah rumah sakit. Dokter Amato menjadi pasien di kantornya sendiri.
Solar tetap tekun belajar dan menjaga kejujuran, berharap dengan menuruti nasihat sang ayah maka penyakit ayahnya akan segera pergi. Prestasi akademik datang seiring ketekunan dan kejujuran, Solar berkembang pesat dan cepat. Sampai suatu ketika, ada badai kencang yang mengguncang.
Gempa tertegun saat menjemput Solar di sekolah siang itu. Adiknya yang berumur sepuluh tahun itu tidak membawa tasnya, tubuhnya basah kuyup dan ... bau comberan. Kepalanya tertunduk.
"Solar ..." Gempa berjongkok untuk melihat wajah sang adik. Pucat pasi, bibirnya tertekuk ke bawah dengan gemetar. Gempa tak bisa berkata-kata, ia melepas jaketnya dan membimbing Solar masuk ke mobil. Kalimat pertama yang diucapkan Solar dengan lirih adalah,
"Kebenaran ... sudah kalah."
Tangis Solar baru pecah ketika Gempa sudah berbelok di blok pertama.
.
.
.
.
.
"Belagu!"
"Dasar sok suci!"
"Jalannya pincang tuh, makanya mikir juga nggak bisa benar."
Sebetulnya apa yang benar dan apa yang salah? Solar meragu. Dia yakin seyakin-yakinnya bahwa yang mau dilakukannya adalah benar, sedangkan yang mau dilakukan seisi kelas adalah salah.
Saking menjengkelkannya guru matematika mereka, satu kelas sepakat memboikot sang guru dengan berkompak tidak mengerjakan tugas rumah. Ketua kelas bahkan setuju.
"Yang nggak setuju, berarti pengkhianat kelas!"
Sejengkel-jengkelnya Solar terhadap seorang guru, dia tidak paham apa korelasinya dengan tidak mengerjakan PR. Pekerjaan rumah adalah kewajiban pelajar. Tak ada signifikansinya siapa yang menyuruh. Kelas Solar mengecap sang guru menjengkelkan juga karena ini: ada beberapa murid yang ketahuan menyalin PR murid lain dan satu kelas dihukum dengan ujian dadakan hari itu juga.
Tuh, 'kan. Akar masalahnya juga karena ada yang tidak jujur. Dan sekarang, sekelas mau tersesat lebih jauh lagi? Solar tidak bisa mengerti, jadi dia tetap mengerjakan PR-nya. Apa yang salah dari itu?
Yang salah dari tetap berada di jalan yang jujur adalah: dunia memusuhimu. Dalam kasus Solar, teman-teman sekelas adalah "dunia" kecilnya.
Solar berhasil jaga imej dengan tidak menangis setelah dengan sengaja disandung dan didorong jatuh ke selokan. Dia tidak menangis waktu isi tasnya diobrak-abrik dan dibuang ke tempat sampah. Dia juga tidak menangis saat dikata-katai tentang kecacatannya.
Dia baru menangis setelah merasa aman. Di dalam mobil Gempa, Solar selalu bisa menjadi adik kecil kakaknya.
.
.
.
.
.
"Sudah wangi~ bersih~ bersinar!" Taufan berlagu sambil mengacak-acak rambut Solar dengan handuk.
"Kayak iklan sabun cuci," komentar Halilintar singkat, padat, terlalu jelas.
"Duh, Kak Hali ini selera humornya jongkok banget."
"Apa?!"
Gempa memeluk adiknya yang sangat wangi habis dimandikan Taufan. "Solar nggak usah nangis lagi. Kakak bertiga mendukungmu."
Solar masih terisak satu kali. "Apa Solar salah?"
Gempa menggeleng kuat-kuat. "Solar benar. Teman-temanmu yang salah."
"Kalau aku benar, kenapa aku yang kalah? Kenapa aku yang jatuh ke selokan?"
Harus ada yang menopang Gempa supaya tidak ikut jatuh saking sedihnya dan beruntung Halilintar menolongnya (setelah mengeplak kepala Taufan dengan buletin kedokteran yang dibacanya) dengan berujar,
"Jumlah orangnya banyak, belum tentu perilakunya benar. Nanti surga bakalan penuh dong kalau semua orang 'benar'."
"Amiiin, Pak Ustaz sudah berkicau Saudara—aw!"
"Fan, kamu tahu 'kan aku nyimpen skalpel di laci?" ancam Halilintar sadis seiring cubitan di lengan. "Mau ngerasain jadi pasienku?"
"Ehehe~ ampun Kak ..."
.
.
.
.
.
***...***...***
A QUESTION
OF HONOUR
***...***...***
.
.
.
.
.
"Dan Solar ... kamu tadi bilang, Solar jadi joki tugas?"
Gempa amat sangat tertegun kali ini. Dia tidak bisa percaya apa yang dikatakan pria di hadapannya, tapi pria bernama Koro itu sepertinya tidak berbohong. Seorang yang susah payah menemuinya di kampus tetangga, bahkan mestinya harus mencari tahu dulu jadwal work from office-nya bulan ini, bahkan juga mengucap salam yang membuat Gempa tersentuh di negeri orang ... tidak mungkin semua itu dilakukan hanya demi bualan semata. Dan anehnya, Gempa tidak merasa tersinggung dengan kelancangan pria itu mencampuri urusan keluarganya. Orang ini punya sesuatu, aura menenangkan yang membuat heran si profesor muda.
"Dia tidak mengelak waktu kutuduh terang-terangan."
Gempa masih termenung untuk beberapa saat dan Korosensei menanti dengan sabar.
"Aku ... berterima kasih," ujar Gempa akhirnya. "Kurasa aku akan bicara pada Solar sore ini juga."
"Kuharap begitu. Ayah kalian—maaf—tidak lama lagi, bukan?"
"Enam tahun sudah begitu panjang. Kurasa begitu," sahut Gempa sedih. "Sepuluh tahun adalah rekor terpanjang penderita CLL menurut penelitian. Dan Ayah sudah tua."
Korosensei menunduk bersimpati.
"Ah, maaf. Kamu sudah repot-repot ke sini demi kepentinganku, tapi aku tidak menyuguhkan apa-apa." Gempa bangkit berdiri dan hendak meraih air dalam kemasan di meja kerjanya, tapi Korosensei menolaknya dengan halus.
"Tak apa, tadinya aku hanya berniat mampir sebentar. Ada perlu di kampus ini juga."
"Oh ya? Maaf, jadi aku menunda keperluanmu, dong."
"Tidak juga, nurufufu~"
"Sekali lagi terima kasih, Koro."
"Dengan senang hati, Gempa. Oh iya, aku mau nanya satu hal," Korosensei sengaja menjeda biar agak dramatis, "kenapa kalian nggak beli printer sendiri? Aku juga punya toko printer dan laptop di belakang Rumah Sakit Shiganshina."
Di luar dugaan, Gempa tidak termakan jurus marketing si pengusaha. Dia tersenyum sedemikian sampai matanya menyipit.
"Solar suka naik sepeda," jawabnya singkat.
.
.
.
.
.
***...***...***
A QUESTION
OF HONOUR
***...***...***
.
.
.
.
.
"Jadi kita bisa simpulkan bahwa efek farmakodinamika dari Neostigmin berkebalikan dari Atracurium, dan obat-obat lain dalam golongan yang sama, neuromuscular blocking agent ..."
Sore itu Gempa mendapati Solar tertidur di ranjang, ponsel menyala menampilkan kelas daring yang narasumbernya ternyata ia kenali. Profesor Levi Ackerman, guru besar Farmasi Royal Capital yang juga rekan satu studi S3-nya dahulu.
Jadi Solar benar-benar kuliah dua jurusan, ya ... batin Gempa ikut takjub. Ditatapnya wajah sang adik yang masih lelap. Kuliah Kedokteran saja bisa membuat Gempa sakit leher dan pinggang karena kebanyakan duduk dan membacai buku teks tebal, apalagi men-double dengan kuliah di bidang eksakta yang masih berhubungan esensinya.
Hampir tanpa sadar, Gempa mengusap lembut rambut dwiwarna yang serupa miliknya sendiri itu.
"Solar, kamu hebat," bisiknya.
"Ng?"
Yah, orangnya malah terbangun dengan kaget. Mata kelabunya berkedip-kedip cepat, kemudian melotot. Diraihnya ponsel yang masih bersuara, lalu dengan pandangan horor membalas tatapan kakaknya. Suara Prof. Levi masih membahana seputar farmakodinamika obat.
"Ini ... aku ... aku bisa jelasin, Kak."
"Ya, Solar. Aku menunggu penjelasan," sahut Gempa, senyumnya masih ada.
.
.
.
.
.
***...***...***
A QUESTION
OF HONOUR
***...***...***
.
.
.
.
.
Sepanjang hidupnya Gempa berlari. Dia sudah mulai berlari sejak masih sekolah, mengejar kelulusan pendidikan dasar dan menengah dalam hitungan cepat. Dia mengambil kuliah Kedokteran seperti yang diharapkan ayahnya, meraih gelar profesi dokter di usia dua puluh dua, langsung mendaftar pendidikan spesialis bedah dan Strata Dua di tahun yang sama. Strata Tiga dan banyak penelitian tingkat internasional ditempuh bersamaan dengan pendidikan subspesialis bedah saraf. Kampusnya berafiliasi dengan Universitas Royal Capital di Jepang, sehingga Gempa juga sering bepergian ke negara itu.
Di usia tiga puluh satu tahun, dia akan jadi warga negara Malaysia termuda yang dilantik menjadi profesor, seorang dokter bedah saraf yang juga akademisi. Namun Gempa tak juga mendapatkan apa yang dia tunggu.
Malahan, ayahnya jatuh sakit, seminggu sebelum pelantikan Gempa sebagai guru besar di Universitas Royal Capital. Kabarnya sang ayah kritis, bisa meninggal kapan saja. Tanpa buang waktu lagi Gempa mengambil penerbangan pertama ke Kuala Lumpur.
Amato terlihat sangat tua dan lelah di atas ranjang. Seluruh rambutnya telah putih, tak hanya sejumput saja. Dia memanggil keempat anaknya, mulai dari yang terbesar. Gempa adalah yang pertama berlutut di sisi ranjang ayahnya.
"Gempa," mulai sang ayah dengan tangannya di puncak kepala si sulung, "kamu pemimpin yang hebat, dokter bedah saraf yang hebat, calon profesor yang hebat. Ayah titip adik-adikmu."
Gempa tak terlalu menyimak apa "wasiat" sang ayah kepada Halilintar dan Taufan pada giliran berikutnya saking sibuknya menangis. Meski sudah matang dari segi usia dan mapan secara finansial, Gempa merasa tak siap waktu ayahnya bicara seperti tadi. Lara dari kehilangan ibu secara mendadak belum juga tersembuhkan dan kini Gempa yang tak pernah punya kesempatan "menjadi anak-anak" harus menanggung satu lagi tanggung jawab besar. Gempa menangis untuk mengasihani diri sendiri, tapi adik-adiknya mengira ia sedih karena ayah sudah akan meninggal.
Barulah saat Amato memanggil Solar dan meletakkan tangannya di atas kepala si bungsu, Gempa menemukan kembali penguasaan dirinya.
Adiknya, Solar, baru berumur sepuluh tahun. Anak itu sudah menjalani hidup yang keras. Selama ini Gempa mengejar sesuatu yang abstrak agar ayahnya tidak menanggungkan ekspektasi yang berlebihan terhadap si bungsu yang memiliki keterbatasan fisik. Gempa kuliah cepat, mencapai segala sesuatu dengan cepat disertai gelimang prestasi sampai maksimal, semuanya hanya demi sang adik bungsu agar bisa memiliki masa kecil yang bahagia meski tak punya ibu.
Gempa sudah salah. Pada kenyataannya masa kecil Solar tidaklah bahagia, tapi saat ini belum terlambat. Solar masihlah adik kecilnya. Si bungsu menangis sesenggukan waktu Amato bicara,
"Solar ... kalau sudah besar nanti kamu temani Gempa di Royal Capital. Ayah yakin kamu juga bisa jadi dokter dan profesor yang hebat seperti kakakmu. Tetaplah jadi orang yang jujur."
Solar kecil hanya membungkuk sedikit di tepi ranjang, karena kalau dia berlutut akan jadi terlalu rendah bagi sang ayah untuk memegang kepalanya. Anak berusia sepuluh tahun itu mengangguk pelan, tidak bisa bicara karena heboh menangis.
Dalam tahun itu, Gempa menunda pelantikannya sebagai profesor, tetap berada di kampung halaman sampai segalanya stabil. Taufan memutuskan menetap di Kuala Lumpur untuk merawat ayah mereka. Halilintar ditugaskan oleh negara untuk bekerja di Kalimantan namun sudah berjanji untuk sering pulang. Setelah insiden Solar jatuh ke selokan, Gempa bulat tekad mengajak adiknya itu untuk ikut pindah ke Jepang sesuai amanat Ayah.
"Pendidikan menengahnya lebih bagus daripada di Malaysia, kejujuran juga sangat dijunjung tinggi di sana. Universitasnya pun bagus-bagus. Setelah Solar lulus sekolah nanti, Kak Gempa akan bantu kamu untuk kuliah di kampus Kakak."
Solar menggeleng. "Aku mau ikut Kak Gempa ke Jepang, tapi aku nggak mau jadi dokter."
Gempa teringat bahwa adiknya pernah bicara hal yang sama pada ayah mereka, waktu kecelakaan sepeda yang membuatnya jadi takut melihat darah. "Apa karena Solar takut darah? Tenang saja, Kak Taufan juga nggak jadi dokter bedah, kok. Solar masih bisa jadi dokter yang lain."
.
.
.
.
.
Tak pernah terlintas di pikiran Gempa bahwa yang dimaksud Solar waktu itu benar-benar apa adanya, seperti yang pernah diucapkannya jauh sebelum itu kepada sang ayah. Solar tidak mau jadi seorang dokter. Si anak bungsu tidak mau mengikuti jejak ayah dan ketiga kakaknya.
Kalau diingat-ingat lagi, Solar suka menghabiskan waktu di perpustakaan rumah, membacai buku-buku kedokteran dengan penuh minat. Terkadang dia bertanya pada salah satu kakaknya tentang istilah yang kurang dipahaminya.
"Jadi untuk melumpuhkan otot manusia, kita perlu Atracurium untuk mencegah asetilkolin berikatan di neuromuscular junction ... ini maksudnya gimana, Kak Gem? Neuromuscular Junction itu apa? Berapa detik waktu yang diperlukan antara obatnya masuk sampai orangnya beneran bisa dilumpuhkan?"
"... Solar, kamu habis baca novel apa?! Kenapa nanya kayak gitu?!"
Waktu itu, Solar tidak jadi bertanya lebih lanjut.
Gempa akhirnya sadar, dia harus belajar menahan mulutnya dan lebih banyak mendengarkan adiknya berbicara.
.
.
.
.
.
***...***...***
A QUESTION
OF HONOUR
***...***...***
.
.
.
.
.
Sejak pertama kali mengenal ilmu kimia di sekolah menengah, Solar mencintainya lebih daripada fisika, biologi, matematika, dan hal saintifik lainnya. Solar rajin melahap buku-buku kedokteran milik kakak-kakaknya, tapi dia lebih tertarik pada apa yang terjadi pada tubuh manusia akibat sebuah obat. Paracelsus, Bapak Toksikologi, menyebutkan bahwa semua zat adalah racun, dosisnya saja yang membuatnya jadi tidak beracun. Udara dan air saja, kalau masuk ke tubuh secara berlebihan, bisa jadi beracun. Sepertinya seru dan menantang untuk belajar ilmu tentang racun—kalau ilmu ini sampai dikuasai orang yang tidak jujur, bisa bahaya, 'kan?
Pandemi COVID-19 membawa banyak hal baru untuk dipelajari: antivirus dan vaksin, serta obat-obat penunjang lainnya misalnya pereda badai sitokin dan bahkan stem cell. Solar semakin mantap jadi peneliti di bidang farmasi, melibatkan tabung-tabung reaksi kimia dan larutan warna-warni, berkutat dengan cincin segienam benzena dan ikatan karbon berganda. Namun, jurusan itu bakal dipandang sebelah mata kalau disandingkan dengan sejarah keluarga Amato yang selalu ada di jalur profesi dokter. Apalagi banyak yang bilang mahasiswa farmasi itu "buangan" karena tidak lolos seleksi Fakultas Kedokteran. Solar sih tak peduli dengan stigma ngawur itu.
Semua ilmu itu bermanfaat, demikian si abang tukang fotokopi berkata tiga hari yang lalu. Tidak ada ilmu yang sia-sia, apalagi yang dijalani dengan minat sepenuh hati.
"Dan mumpung sedang pandemi, justru kamu punya alasan untuk memakai video call saja alih-alih menemui ayahmu langsung. Diciduk di bandara terus malah dikarantina, siapa yang mau?"
Solar tidak mau kelihatan menyukai ide brilian si abang. Dia harus memikirkannya masak-masak dulu. Namun, begitu sampai di kontrakan yang ditempatinya bersama Gempa, Solar malah kena demam. Pasti karena sempat kehujanan.
.
.
.
.
.
"Wuaaaaah. Terima kasih banyak, Kak Gamma!"
"Ambil, ambil saja semua. Aku sudah nggak butuh."
Mata Solar berbinar-binar melihat tumpukan buku teks Farmasi di depan mata. Dia sedang bertamu ke kos-kosan seorang kakak tingkat yang dengan sukarela menghibahkan bukunya pada si mahasiswa baru karena sudah selesai studi. Solar bisa menghemat banyak uang dengan ini.
"Selamat untuk kelulusannya, Kak."
"Ergh ... makasih. Kalau aku nggak lulus tahun ini, aku bakal didepak dari kampus."
"Boleh aku tanya ... Kak Gamma kenapa ... em, nggak jadi deh."
"Kenapa aku nggak lulus-lulus? Karena otakku cetek. Hahaha."
"Ouh." Solar jadi speechless, makanya tadi enggan meneruskan bertanya.
"Di samping itu, waktuku habis buat kerja, buat biaya kuliah."
"Eh. Kak Gamma kerja apa?" Setahu Solar orang ini tipe mahasiswa kupu-kupu: kuliah-pulang-kuliah-pulang.
"Ngerjain tugas dan skripsi orang. Gampang, lewat medsos."
Solar melongo. "Skripsi orang dikerjain? Tapi skripsi Kakak sendiri terbengkalai?"
"Aku butuh uangnya, Solar. Keluargaku nggak kaya-raya sepertimu."
"Memangnya ngerjain tugas orang gitu bisa dapat berapa Kak?" Solar yang diam-diam juga butuh uang jadi tertarik.
"Yang jelas bisa buat bayar uang kuliah dan hidup indekos." Gamma tersenyum miring. "Ini mata pencaharian gelap yang cuan-nya banyak. Kamu nggak akan percaya ..."
Mata Solar melebar mendengarkan sejumlah nominal.
"Dan ... bisnis beginian, laris?" Solar tak percaya.
"Sangat laris."
"Kukira Jepang itu negara yang jujur."
"Solar ... di mana pun kamu, apa pun suku bangsa, agama, atau rasmu ... ketidakjujuran itu selalu ada. Miris, tapi itu faktanya."
.
.
.
.
.
"Solar mau tahu sesuatu?" tanya Gempa setelah Solar mencurahkan semuanya, termasuk pengakuan dosanya dan penyesalannya.
"Apa, Kak?" Solar agak kaget, ternyata kakak sulungnya tidak marah.
"Ayah itu berharap banyak padamu sejak kecil, karena dari hasil tes IQ kamu tertinggi. Aku 130, Halilintar dan Taufan 120. Kamu? Kamu 160 di umur enam tahun. Ayah saja 150. Kamu itu jenius, tapi kamu belum mengeluarkan potensimu yang sesungguhnya. Apa mungkin karena kamu takut? Karena kamu terbeban? Bahwa kamu harus jadi dokter suatu hari nanti padahal bukan itu cita-citamu?"
Mendadak Solar merasa cengeng. Oh tidak, nanti matanya jadi berkantung, padahal dia sedang kehabisan kompres timun.
"Kita telepon Ayah nanti malam, ya," undang Gempa dengan suara lembut yang sama. Solar akhirnya mengalah pada risiko kantung mata dan memeluk kakaknya erat, seolah sedang memeluk ibu yang tak pernah ditemuinya.
.
.
.
.
.
***...***...***
A QUESTION
OF HONOUR
***...***...***
.
.
.
.
.
"Jadi begitu, Ayah. Aku minta maaf. Aku sudah berbuat salah, lagi, tapi aku akan berhenti melakukannya. Semester ini, aku juga akan berhenti kuliah di FK Royal Capital."
Ekspresi di wajah Amato yang renta tak terbaca. Dia belum bersuara sama sekali sejak Solar membuka percakapan lewat panggilan video lintas negara.
"Ayah, Solar sudah berjuang keras," terdengar suara Taufan di latar. Mestinya dia yang bantu memegangkan ponsel di depan sang ayah. "Ini hampir seperti double degree, kebayang nggak sih capeknya? Belum lagi masih ngerjain tugas orang lain. Dan dia melakukan semuanya demi Ayah. Solar nggak mau mengecewakan Ayah, tapi dia sendiri yang lebih tahu apa yang menjadi minatnya."
Tumben sekali Kak Taufan sebijak ini? Mungkin dia sudah banyak berguru pada Kak Halilintar ...
Solar melanjutkan, "Setelah ini aku mau menebus dosa. Aku mau bantu-bantu di kios fotokopian dekat kampus, lalu uangnya kusumbangkan ke panti asuhan. Sebagai ganjaran kuliah satu semester dengan uang ... ilegal."
Gempa ikut menyimak sambil terharu. Ah, masa dia mau menangis lagi hari ini, besok ada bimbingan mahasiswa skripsi ... dibayangkannya mahasiswa berkata, "Prof. Gempa kok matanya bengkak, apa habis ditonjok istri?"
Padahal Gempa belum punya istri, lagipula salah apa Gempa sampai ditonjok. Lamunan ngawur Gempa terusik oleh suara Amato yang lembut,
"Solar ... kalau kuliahmu Farmasi ... berarti wisudamu sekitar tiga atau empat tahun lagi. Ayah ... masih sanggup ... kalau tiga-empat tahun saja."
Aduh, bendungan air mata Gempa bubar seketika. Air mata Solar juga mengalir mendengarnya, dan ponsel di seberang juga bergoyang-goyang, menandakan Taufan juga sesenggukan diam-diam. Sayangnya Halilintar sedang ada operasi malam itu jadi tidak ikut berdialog.
Sudah merupakan fakta bahwa menjadi dokter perlu masa pendidikan yang tidak sebentar. Enam tahun sudah paling cepat, itu pun baru dokter umum.
Solar mendeterminasi, "Ayah tunggu saja ... aku akan lulus cepat dan jadi peneliti obat!"
Tentu saja, sambil tetap berada di jalan kebenaran.
.
.
.
.
.
***...***...***
A QUESTION
OF HONOUR
***...***...***
.
.
.
.
.
Author's Note:
a matter/point/question of honour (=something you feel you must do because of your moral beliefs)
"A Question of Honour" juga adalah judul sebuah lagu yang dipopulerkan oleh Sarah Brightman pada tahun 1995.
Cerita ini sedikit terinspirasi dari beberapa pengalaman nyata orang yang Roux kenal ditambah pengalaman Roux sendiri. Yes, I'm a pharmacist. Roux belajar peminatan klinis-komunitas jadi kerjanya di rumah sakit, sedangkan Solar di sini lebih ke research & development yang kerja di industri/pabrik obat.
Semoga pesannya tersampaikan :)
.
Kali ini saya mencoba bikin Gempa sebagai anak sulungnya Amato dan anaknya cukup empat aja XD dan, kalau ada yang bingung dengan nyempilnya lagu koplo Didi Kempot berbahasa Jawa di tengah alur yang sedang serius, itu karena universe yang dipakai sebagai latar belakang Korosensei di sini diambil dari fanfiksi humor kolaborasi Roux dengan seorang teman, emirya sherman. Kolaborasi di bawah nama Belladonna Cantabile itu adalah crossover Assassination Classroom dengan Attack on Titan, makanya ada Eren Yeager dan Prof. Levi juga disebut di sini.
.
Akhir kata, terima kasih sudah membaca. Kritik dan saran sangat diterima!
Stay safe, stay healthy!
28.02.2022
.
.
.
.
.
***...***...***
A QUESTION
OF HONOUR
***...***...***
.
.
.
.
.
EXTENDED ENDING
.
"Hari ini Aguri masak apa, ya? Hmm, mari kita lihat ..."
Di pertengahan tahun yang baru, Korosensei masih saja menghalu. Sambil mendengarkan lagu-lagu sendu, barangkali untuk inspirasi konten di YouTube yang sudah sembilu. Siang itu, beberapa bulan sejak pandemi mulai terkendali, rupanya ada seorang tamu.
Seorang mahasiswa, berseragam khas Kunugigaoka, dengan kacamata jingga norak namun tanpa topi putih bermotif corak. Langkahnya pincang, tapi sinar matanya riang.
"Nurufufu ... selamat datang di Kunugigaoka, Solar bin Amato."
Solar balas tersenyum, masih di balik masker. "Halo lagi. Ngomong-ngomong, aku belum tahu namamu."
"Namaku Koro."
"Koro? Hanya itu?"
"Iya. Korosensei, kalau kau mau nama yang lebih panjang."
"Namamu aneh sekali."
"Lebih aneh mana sama Cahaya Baskara?"
Solar membelalak. "STALKER JAHANAM!"
"Eh, Mahasiswa Baru. Mulutnya tolong di-filter ya, nanti kulaporkan Pak Dekan, lho."
Solar masih ternganga, tidak kelihatan karena pakai masker tentunya. "Dari mana Abang bisa tahu nama itu?"
"Ya ampun, kamu ngasih aku alamat rekening online yang ada identitas samaranmu sebagai joki. Gimana aku nggak tahu?"
Si mahasiswa mengerjap di balik kacamata, lalu mendengus. "Uuh, maaf ya Bang. Lupakan saja, itu sudah masa lalu. Sumpah, Abang ini bikin deg-degan aja."
"Nurufufu. Boleh kutahu, 'Baskara' artinya apa?"
Korosensei sudah siaga mengambil buku notes dan pulpen. Biasa, koleksi nama (calon) anak. Solar menjawabnya,
"Baskara dari bahasa Indonesia, artinya matahari. Atau bahasa Sanskerta, artinya bersinar."
Mata Korosensei berkedip-kedip senang sambil menulis. "Wah, cocok sekali dengan nama aslimu. Namamu dan nama kakak-kakakmu juga unik semua, tahu. Gempa, Halilintar, Taufan, Solar. Kayak elemen-elemen di tata surya."
"Entahlah. Seleranya Ayah."
"Kamu tahu arti namaku? Korosensei itu 'Guru yang Tidak Bisa Dibunuh' alias korosenai-sensei."
Solar melotot, kaget. "Eh. Tunggu, jadi Abang tuh dosen?!"
"Nurufufu~"
