Yaya mengambil napas panjang lalu menghelanya pelan. Wajahnya terlihat sendu, binar matanya tak lagi ceria seperti dulu. Ia duduk di salah satu bangku rumah sakit besar di Pulau Rintis. Menatap lantai putih di bawahnya lamat-lamat, tidak memedulikan dokter maupun suster yang berlalu-lalang di depannya. Di genggamannya terdapat boneka babi kecil, tampak sudah pudar warnanya karena selalu ia bawa kemanapun.

Setelah dirasa cukup menguatkan hatinya, Yaya bangkit dari kursi. Berjalan menuju pintu bernomor 105 tak jauh dari kursi yang ia duduk tadi. Pelan, Yaya membuka pintu itu. Telinganya langsung menangkap suara mesin penopang kehidupan dan air conditioner ruangan. Yaya berusaha mencoba tersenyum, sebelum kakinya melangkah tanpa suara ke ranjang rumah sakit di tengah ruangan tersebut.

Suaminya. Terbaring di sana dengan lemah tanpa tahu kapan akan bangun.

Yaya duduk di kursi samping nakas. Ia mengusap rambut sang suami lembut, menatap rindu wajahnya meski sebagian tak terlihat karena tertutupi masker oksigen.

"Hari ini cukup berat, Fan." kata Yaya memulai monolognya. Memang aneh berbicara pada orang yang sedang koma, tapi Yaya berkeyakinan Taufan bisa mendengarnya. "Aku lagi-lagi nggak fokus di tempat kerja sampai atasanku memarahiku..." Yaya berhenti sesaat ketika suaranya terdengar tercekat. Ia membayangi Taufan memeluknya erat dengan mengatakan akan menghabisi bosnya tersebut karena sudah berani memarahinya. Namun, Yaya tidak bisa merasakan itu sekarang.

"Terus, tadi dokter berbicara padaku..." Satu tetes air mata berhasil lolos keluar. Yaya dengan cepat mengusapnya. Ia memandang ke atas, menahan agar air matanya tidak keluar. Ia tidak boleh menangis meski Taufan memejamkan mata. Akan tetapi Yaya sangat sulit untuk menahannya, membuat dadanya sangat sesak. "...kalau kamu sangat sedikit kemungkinannya untuk bangun... lalu aku marah... " Yaya melipat bibirnya agar suara isak tangisnya tidak terdengar. Ia memejamkan matanya kuat, sedang air matanya sudah mengalir satu per satu. Bahunya mulai bergetar. Namun Yaya kembali meneruskan ucapannya. "...kamu pasti bangun... kamu nggak bakal ninggalin aku..." Yaya terisak. Tak kuat lagi untuk menahannya.

Suara monitor dan tangisannya beradu dalam ruangan hening itu. Yaya membenarkan wajahnya di kedua tangannya, menunduk dalam untuk meredakan tangisnya seorang diri. Walaupun dirinya mengatakan bahwa ia tidak akan menangis di depan Taufan, namun Taufan mengatakan sebaliknya.

Kamu boleh menangis sepuasnya di depanku, gaperlu takut buat keluarin semua kesedihan kamu. Karena aku bakal disini, dengerin semua keluh kesah kamu, Yaya.


"My Universe" by Meltavi

Boboiboy © Animonsta Studios

Warn : AU, TauYa!marriage life, romance, hurt/comfort, angst(?), gaje, nggak sesuai EYD, dll.

Happy Reading!

.

.

.


Yaya masih mengingat dengan jelas semuanya. Tepat emoat bulan yang lalu, ia dan Taufan mengalami kecelakaan mobil yang mengakibatkan Taufan koma. Kenangan buruk yang ingin Yaya hapus dari ingatannya, karena kenangan itu tak henti-hentinya menyiksa tiap sudut relung hatinya. Tapi, Yaya tidak bisa berbuat apapun kala kenangan itu dengan kurang ajarnya kembali datang.

"Baiknya kita namakan siapa ya anak kita?" tanya Yaya sambil tersenyum sementara tangannya mengusap lembut perutnya yang membuncit.

Taufan menoleh sebentar pada istrinya sebelum kembali menatap jalanan di depan. Tangannya dengan lihai menggerakkan stir mobil. "Hmm, siapa ya?" Taufan ikut berpikir. Kakinya menginjak pedal rem pelan kala melihat kemacetan karena lampu merah di depannya. "Kalau namanya Adam bagaimana?" usulnya. Perhatiannya kini sepenuhnya pada sang istri, sembari menunggu mobil di depannya maju.

Yaya tampak berpikir sesaat mendengar usulannya. Taufan terkekeh geli melihat ekspresi lucu dari istrinya itu. Mau kapan dan dimana pun, Yaya tidak pernah tidak menggemaskan di matanya. Bahkan dengan pakaian sederhana yang ia pakai sekarang, wajah cantiknya tidak pernah hilang.

"Boleh. Tapi kita belum tau anak kita laki-laki atau perempuan," ujar Yaya. Taufan mengangguk setuju. Pedal gas kembali ia injak ketika melihat mobil di depannya maju. "Oh! Atau kita menamakannya Hawa jika dia perempuan!" seru Yaya kemudian.

Taufan menoleh sebentar ke arahnya lagi, pemuda itu tampak tidak keberatan. "Aku tidak masalah selama kamu menyukainya." katanya. "Yang terpenting," Tangan kiri Taufan melepas stir, beralih menggenggam tangan Yaya yang sedang mengusap perutnya. Yaya menoleh dengan senyuman manis. "Kamu dan anak kita selamat saat persalinan nanti." lanjut Taufan, lalu mencium tangan Yaya hangat. Tak mau melepaskannya, Taufan tetap menggenggam tangan Yaya, dan meletakkan kaitan jemari mereka di dekat kopling.

"Aamiin." kata Yaya mendoakan. Ia mengeratkan genggamannya dengan sang suami. Menunggu masa depan mereka yang sebentar lagi akan tiba. Yaya sungguh tak sabar menantikan bayi pertamanya lahir ke dunia.

Mobil mereka masuk ke dalam tol yang menghubungkan kota Kuala Lumpur dan Pulau Rintis. Hari ini mereka sepakat untuk bersilaturahmi dengan Tok Aba dan orang tua Yaya. Pulangnya, mereka berencana bertemu dengan teman-teman lamanya. Kebetulan hari ini Taufan sedang libur, dan Yaya langsung mengusulkan perjalanan ini, tentunya dengan sederet nasihat untuk selalu menjaga kesehatan selama perjalanan dari Taufan sebelum berangkat.

Suaminya itu memang lebih protektif semenjak ia mengumumkan kehamilannya. Hal kecil berupa perhatian dari Taufan sering Yaya dapatkan, meski sebenarnya Taufan tidak perlu melakukannya. Seperti menurunkan suhu AC rumah, membantunya mengerjakan pekerjaan rumah saat sedang senggang, mengambilkannya minuman, membukakan pintu mobil untuknya, dan masih banyak lagi. Yaya tentu amat senang mendapatkan perhatian kecil itu. Walau kadang perhatian Taufan sedikit berlebihan. Tapi itu semua merupakan bentuk kasih sayang Taufan kepadanya.

"Kamu ngantuk? Kalau ngantuk tidur aja, nanti aku bangunin kalau sudah sampai," ucap Taufan ketika menyadari dirinya menguap. Tangan kirinya bersiap mengubah posisi jok mobil untuk Yaya tidur, namun Yaya mencegahnya.

"Nggak kok, aku cuma nguap aja tadi," ujar Yaya. Taufan menggelengkan kepalanya sambil mengusap pipi Yaya lembut.

"Kalau nguap berarti mengantuk, sayang," katanya.

Yaya tersenyum geli dipanggil sayang oleh suaminya. Ia memegang tangan kiri Taufan yang masih memainkan pipinya, sementara pandangannya fokus ke depan. "Aku ngebayangin kamu jadi ayah nanti." ucap Yaya membuat Taufan menoleh. Yaya menatap manik mata suaminya. "Kamu pasti bakal jadi ayah yang baik, yang perhatian ke anak kita." lanjut Yaya dengan seulas senyum manis.

Taufan tertawa kecil. Ia mengusap perut buncit istrinya penuh kelembutan. "Kamu juga pasti bakal jadi ibu yang baik," balasnya.

Keduanya sama-sama mengulum senyum. Tak bisa menahan rasa kebahagiaan di hati masing-masing. Taufan sangat bersyukur memiliki Yaya, pun sebaliknya. Mereka saling mengisi kekurangan satu sama lain, membuat keduanya terlihat sempurna untuk bersanding.

Mobil Taufan melaju kencang di jalan tol yang sepi itu. Yaya sudah mulai memejamkan mata, sementara Taufan tetap fokus menyetir. Namun ia tidak tahu, sebuah truk dari arah berlawanan melaju sangat kencang, dan mulai kehilangan arah karena rem blong. Taufan tetap menginjak gas, sesekali melirik Yaya yang sudah tertidur pulas. Ia kemudian terkesiap kala mendengar suara klakson panjang, sedang matanya mendapati truk besar tiba-tiba melaju ke arahnya.

Taufan dengan refleks membanting stir ke kiri, kakinya menginjak rem kuat sehingga terdengar jelas decitan ban mobilnya bertubrukan dengan aspal. Meski sudah membanting stir, tabrakan tidak terelakkan. Truk itu berhasil menghantam sisi kanan mobilnya, membuat mobilnya terseret ke tengah jalan. Jendela di sampingnya pecah, kepala Taufan terbentur serpihan kaca itu. Seketika Taufan merasakan pening luar biasa di kepalanya. Bau anyir perlahan menyebar, membanjir pelipisnya hingga leher.

Penglihatan Taufan mengabur. Namun ia memaksakan diri untuk mengecek kondisi istrinya. Dilepasnya sabuk pengaman yang melingkari pinggangnya susah payah, sementara tubuhnya berusaha ia angkat agar lebih dekat dengan Yaya.

"Yaya... " Taufan memegang wajah Yaya yang terkena serpihan kaca. Istrinya mendapat luka di dahinya, darah perlahan mengalir dari sana. Taufan mengguncang bahu Yaya, mencoba membangunkan sang istri. "Yaya... kumohon... " panggilnya dengan suara lirih. Seluruh tubuhnya terasa nyeri, namun Taufan mengabaikannya.

Keselamatan Yaya lebih penting dari nyawanya sendiri sekarang.

"Panggil ambulans! Panggil ambulans! Cepat!" Taufan bisa mendengar sayup-sayup suara orang-orang yang datang. Ia mencoba mempertahankan kesadarannya, dan membuka pintu di sebelah kiri Yaya, agar istrinya itu bisa keluar dari mobil lebih dulu. Namun pintu itu macet akibat tabrakan tadi, membuat Taufan mengerang keras karena takut istrinya kenapa-kenapa.

Tiba-tiba seorang pria tua muncul di samping mobilnya, tepat di dekat jendela sisi kiri mobil. Taufan dengan cepat meminta bantuannya.

"Tolong… tolong keluarkan istri saya... dia sedang hamil... " kata Taufan dengan napas tersengal. Ia merasakan denyut hebat di kepalanya, membuat ia hampir kehilangan kesadaran.

Pria tua itu menangkap maksudnya dengan cepat dan segera membantunya membukakan pintu sisi kiri mobil yang macet. Taufan sekuat tenaga mendorongnya, dibantu oleh pria tua itu yang menariknya dari luar. Setelah berusaha, pintu akhirnya berhasil terbuka. Pria itu langsung membawa istrinya keluar dari mobil, meninggalkan dirinya yang terluka parah.

Taufan memandang seisi mobilnya yang hancur sebagian. Seluruh tubuhnya makin melemas, seperti ada yang menyedot tenaganya dari dalam. Ia menatap foto dirinya dan Yaya yang sengaja digantung di kaca spion tengah. Pandangannya terus mengabur, sementara telinganya mendengar sayup-sayup suara dari luar.

"Masih ada satu orang di dalam!"

"Dia sekarat!"

"Cepat panggil ambulans!"

"Awas mobil!"

"Minggir!"

TIIIINNNNNNN!

Taufan mendengar teriakan histeris dari orang-orang, sebelum dirinya merasakan benturan keras lagi dari sisi kanan. Seketika, pandangannya berubah menjadi gelap.

.

.

.

.

.

Telah terjadi kecelakaan mobil di tol penghubung Kuala Lumpur dan Pulau Rintis. Sebuah mobil hitam ditabrak oleh truk yang datang dari lawan arah, diketahui karena rem blong. Namun naasnya, mobil itu kembali ditabrak oleh sebuah sedan yang melaju kencang hingga mobil mengalami kerusakan parah. Diketahui penumpang mobil berisi sepasang suami istri, hingga kini kami hanya bisa mengkonfirmasi bahwa sang istri selamat, sementara suaminya belum diketahui.

.

.

.

.

.

Kenyataan pahit menyerang Yaya tanpa ampun. Setelah mengetahui dirinya kecelakaan bersama sang suami, Yaya harus menerima kenyataan bahwa bayi yang dikandungnya keguguran. Tidak berhenti disitu, ia mendapat kabar bahwa Taufan mengalami koma akibat pendarahan hebat di kepalanya.

Dunianya seolah runtuh. Yaya seperti tidak ada ruang untuk bernapas. Dadanya terasa sesak, dan Yaya sudah sangat lelah menangis. Entah berapa banyak air matanya yang keluar, namun sepertinya belum cukup untuk mengurangi penderitaannya.

Matanya tidak lagi ada binar keceriaan. Yang ada hanya sendu dan kosong. Calon buah hatinya sudah pergi, dan Yaya sama sekali tidak siap jika Taufan ikut meninggalkannya.

"Yaya!"

Seseorang memanggilnya. Yaya tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari sang suami yang terbaring di ICU. Ia hanya bisa menatapnya dari sini, terhalang kaca bening yang memisahkan jarak mereka. Kedua tangannya berada di roda kursi yang sedang ia duduki. Kondisinya belum sepenuhnya baik, mengharuskan dirinya memakai kursi roda.

"Yaya... "

Sebuah tangan menyentuh lengannya. Yaya menoleh pelan, menatap wajah sahabatnya yang baru saja datang. Ia tidak mengeluarkan suara apapun. Hanya bergeming seperti mayat hidup.

Paham kondisi Yaya sekarang, Ying berlutut di samping kursi roda dan mengusap bahu Yaya, berusaha menguatkannya. Kata-kata penyemangat sudah tidak berarti lagi, Ying hanya perlu menemani Yaya menghadapi ini semua.

"Ying... " Yaya bersuara hampir tak terdengar. Ying diam, menunggu sahabatnya melanjutkan ucapannya. "Kalau Taufan meninggalkanku... "

"Sshhh, Yaya..." Ying beringsut memeluk Yaya. Bahu sahabatnya bergetar, isak tangisnya mulai terdengar. Air mata gadis itu sudah mengalir deras entah sejak kapan. Sambil menahan tangis, Ying berusaha menenangkan Yaya.

"Aku... Aku benar-benar tidak bisa menghadapinya Ying... "

Tangis Yaya pecah di koridor ruang ICU itu. Mengiris hati siapa saja yang mendengarnya.

Hanya satu yang Yaya inginkan. Taufan bangun dan kembali ke pelukannya.

.

.

.

.

.

"Ah, hujan," seru Yaya kala setitik air menyentuh wajahnya. Ia mengangkat telapak tangannya, menangkup beberapa tetes air yang turun. Langit di atas sana memang sangat gelap. Yaya sengaja datang ke rooftop gedung kantornya untuk mencari angin.

Yaya selalu suka hujan. Pun dengan Taufan. Suaminya itu kadang mengajaknya keluar ketika hujan turun, hanya untuk melihat ribuan tetes air itu turun dari langit. Hujan selalu menenangkan bagi mereka berdua. Dan kenangan indah mereka sebagian besar ada ketika hujan.

Hari ini hari sabtu. Yaya datang ke kantor untuk melanjutkan proyek yang sedang timnya kembangkan. Kemarin ia sempat membuat kesalahan yang mana sangat berdampak ke seluruh tim. Ia ingin menggantinya hari ini. Berusaha memperbaikinya, meski beberapa teman satu timnya memaklumi karena fokusnya sering terpecah belah.

Namun Yaya tidak mau merepotkan lagi. Ia tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan. Kehidupan tetap berjalan semestinya, waktu pun tidak akan berhenti atau mundur. Hanya ada pilihan untuk maju. Jadi Yaya harus bisa bangkit, menguatkan dirinya sebisa mungkin. Taufan juga akan sedih bila melihat dirinya terus terpuruk.

Waktu menunjukkan pukul 12 siang. Rapat dimulai satu jam lagi, masih ada kesempatan untuk Yaya mengisi perut. Ia pergi ke kafetaria yang berada di lantai dasar gedung. Ketika keluar dari lift, Yaya berpapasan dengan Gopal yang memang satu kantor dengannya.

"Yaya!" seru Gopal. Yaya membalasnya dengan senyum. "Bagaimana rasanya kerja lagi? Menyenangkan?" tanya Gopal penasaran.

Yaya memang baru bekerja lagi setelah dua bulan kecelakaan. Ia sengaja melakukannya agar pikirannya bisa teralihkan, meski tidak sepenuhnya.

"Yah, lumayan. Pusing juga," balas Yaya terkekeh. Gopal tertawa, lalu menepuk pundak temannya itu. Ia sangat mengerti apa alasan Yaya memilih untuk bekerja lagi.

"Tidak apa-apa. Disini tidak terlalu berat kok pekerjaannya." Yaya hanya mengangguk-angguk mendengar perkataan Gopal. "Oh ya. Hari ini kamu ke rumah sakit?" tanya Gopal kemudian.

Yaya mengangguk. "Iya, seperti biasa. Kenapa? Kamu mau menjenguk Taufan?"

"Rencananya sih begitu. Nanti kukabari kalau pekerjaanku sudah selesai," kata Gopal. "Aku naik dulu ya. Sampai jumpa!"

Yaya melambaikan tangan seraya tersenyum. Pintu lift tertutup, membawa Gopal naik ke lantai atas. Yaya kembali melanjutkan langkahnya menuju kafetaria. Memesan roti isi ayam suwir favoritnya dan segelas jus apel. Ia kemudian duduk di kursi kosong dekat jendela lebar. Menatap rinai hujan di luar dengan aroma sejuk kafetaria.

"Hujannya deras sekali... " gumam Yaya pelan. "Aku kangen kamu, Fan... " Ekspresi Yaya berubah sendu. Saat sendiri Yaya jadi mudah memikirkan Taufan. Ia sangat merindukan pemuda itu, suaranya, pelukan hangatnya, dan perhatian kecilnya.

Yaya sering membayangkan Taufan benar-benar ada di hadapannya. Menemaninya dari pagi hingga malam, serta melindunginya dari semua bahaya yang menghampiri. Ketika kecelakaan pun, Yaya masih merasakan kehangatan Taufan di sekitarnya. Sebelum dirinya ditarik keluar mobil, dan mobil Taufan kembali mengalami tabrakan cukup parah.

Yaya mengingat dengan jelas perkataan pria tua yang menyelamatkannya. Bahwa Taufan meminta tolong untuk mengeluarkannya terlebih dahulu, tidak peduli dengan dirinya sendiri yang terluka parah. Yaya menangis mengetahui hal tersebut. Ia sering menyalahkan dirinya bahwa dialah penyebab Taufan koma. Namun, Yaya tidak bisa berbuat apa-apa selain berdoa dan menunggu kesadaran Taufan. Walaupun dokter bilang kemungkinannya kecil, Yaya tetap yakin Taufan tidak akan meninggalkannya begitu saja.

Roti isi itu diambil olehnya, Yaya menggigit sedikit dengan pikiran penuh. Ia harus mengisi tenaga sebelum rapat nanti. Jika tidak, mungkin fokusnya akan hilang dan dirinya membuat kekacauan seperti kemarin lagi.

Menyesap jusnya, Yaya kembali menggigit roti isinya. Pada saat ia menelan makanannya, ponselnya bergetar panjang. Tanda telepon masuk. Dirogohnya saku celananya untuk mengambil benda itu. Ketika Yaya membuka ponselnya, jantungnya sontak berdegup cepat kala membaca nama si penelepon.

Rumah Sakit Kuala Lumpur is calling...

Yaya bergeming di tempat. Ia ingin sekali mengangkatnya, namun Yaya sangat takut mendengar kabar yang akan disampaikan untuknya. Terakhir kali ia menerimanya, Yaya mendapat kabar Taufan mengalami gagal jantung. Ia sangat histeris pada saat itu, dan langsung berlari ke rumah sakit tanpa berpikir panjang. Untungnya, Taufan berhasil diselamatkan meski kondisinya tidak membaik. Dan Yaya takut jika kejadian itu terulang lagi.

Drrttt. Drrttt.

Suara getaran itu menyentak lamunan Yaya. Yaya menahan napasnya, jempolnya bersiap menekan tombol hijau di layar ponselnya. Ia harus siap menerima apapun kenyataannya. Dengan tangan gemetar, dijawabnya panggilan itu dan mendengarkannya dengan seksama.

"Ibu Yaya! Pasien Taufan... "

Jantungnya kembali berdetak cepat. Yaya dengan segera bangkit, berlari meninggalkan kantor tanpa peduli hujan membasahinya. Ia menghentikan taksi di depan gedung kantornya agar lebih cepat ke rumah sakit.

"Rumah sakit Kuala Lumpur, Pak. Tolong cepat ya." kata Yaya ketika masuk ke dalam taksi. Sang supir mengangguk mengiyakan dan menuruti perkataan Yaya.

Yaya bergerak gelisah. Kabar yang diterimanya sungguh membuatnya mengeluarkan air mata. Bahkan ia tidak sadar air matanya jatuh. Yang ia pikirkan hanya Taufan. Tidak memedulikan apapun lagi, termasuk rapat yang seharusnya ia hadiri nanti.

Sayangnya, jalanan macet parah dikarenakan hujan yang sangat deras. Yaya semakin gelisah dan ingin sekali keluar dari taksi untuk berlari ke rumah sakit. Waktu tempuh dari kantor ke rumah sakit hanya satu jam, namun Yaya tidak tahu berapa lama ia akan sampai karena kemacetan ini.

Kepalanya masih teringat apa yang dikatakan suster. Pasien Taufan telah sadar, dan dia baik-baik saja sekarang. Perkataan yang selalu Yaya nantikan selama empat bulan ini. Kabar yang selalu ia tunggu dengan sabar, kini telah tiba. Taufan kembali kepadanya. Taufan tidak meninggalkannya.

Perasaan rindunya pada sang suami justru semakin bertambah. Yaya tidak sabar bersitatap dengan mata itu lagi, mata yang selalu menatapnya teduh dengan irisnya yang indah. Taufan adalah dunianya. Dunia yang amat Yaya sayangi, dan Yaya rela menukarnya dengan apapun yang ia punya.

Taksi yang ia tumpangi melaju cepat membelah jalanan setelah kemacetan mereda. Yaya menggigit bibirnya, terus bergerak tidak tenang di kursinya.

Setelah satu jam setengah terlewati, taksi memasuki area rumah sakit. Yaya meminta diturunkan di tempat parkir saja. Sesudah membayar, Yaya berlari memasuki rumah sakit tanpa memedulikan kerudungnya yang berantakan, serta bajunya yang basah sedikit. Suara langkah kakinya bergema di seluruh koridor rumah sakit, membuat beberapa orang menoleh kepadanya. Namun Yaya tidak peduli itu semua dan terus berlari hingga tiba tepat di depan kamar Taufan.

Tubuhnya bergeming di sana. Yaya mengatur napasnya, mencoba menenangkan diri sebelum menemui kembali suami tercintanya. Dibukanya pintu kamar tersebut dengan tangan gemetar. Yaya terdiam terpaku di pintu. Kedua irisnya menatap lurus pada pemuda yang amat ia rindukan. Taufan duduk di ranjangnya, dengan wajah masih pucat serta infus yang masih setia di tangan kanannya. Masker oksigen pemuda itu sudah dilepas, menandakan kondisinya baik-baik saja. Jantung Yaya berdegup tidak keruan, sementara Taufan tersenyum di sana melihat kedatangannya.

"Habis hujan-hujanan?"

Suara itu...

Tanpa berpikir panjang, Yaya langsung berlari ke arah Taufan dan mendekapnya erat. Menenggelamkan seluruh wajahnya di pundak pemuda itu. Seolah mengadu kepada Taufan karena dunia ini telah membuatnya menderita. Ia menangis di sana, menumpahkan seluruh kesedihan yang ia rasakan selama empat bulan ini.

Meski terkejut didekap tiba-tiba, Taufan perlahan membalas pelukan istrinya. Tangannya masih terlalu kaku untuk digerakkan, namun Taufan memaksa untuk menggerakannya karena begitu rindu dengan istrinya. Mengusapnya lembut seperti yang biasa ia lakukan. Yaya memeluknya begitu lama, Taufan membiarkannya sampai Yaya puas. Karena dari perkataan dokter, ia koma selama empat bulan. Taufan tidak bisa membayangkan Yaya sendirian selama ini menunggunya bangun.

"Aku kangen sama kamu... " kata Yaya sambil terisak.

Taufan melepaskan pelukan mereka. Jarinya mengusap pipi Yaya yang basah oleh air mata. Ditangkupnya wajah gadis kesayangannya itu dengan kedua tangannya, sementara matanya menelusuri wajah istrinya yang sembab karena menangis.

"Cantik." ucapnya jujur. Mendengarnya Yaya malah semakin menangis, membuat Taufan kaget dan langsung mendekapnya di dada. "Cup cup cup. Gapapa kok, aku ada disini," Taufan menenangkan Yaya dengan sabar, mengelusnya lembut seperti berhadapan dengan anak kecil.

Yaya yang merasa nyaman dipeluk suaminya, semakin menempelkan wajahnya di dada Taufan sampai tidak ada jarak di antara mereka. Ia seperti tidak mau lepas dari sang suami. Karena mungkin saja, Yaya sedang bermimpi dan Taufan akan menghilang dari pandangannya dalam sekejap mata.

Namun, sosok suaminya terasa begitu nyata. Membuat Yaya yakin bahwa semua ini bukanlah mimpi. Penderitaan Yaya telah berakhir karena dunianya kembali. Taufan adalah dunianya.

Karena pegal sedari tadi duduk, Taufan membawa Yaya berbaring bersamanya. Beruntung ranjang rumah sakit cukup besar sehingga bisa dimuati dua orang. Yaya masih setia menyembunyikan wajahnya di dada Taufan. Sementara Taufan menepuk-nepuk pelan punggung kecil istrinya.

"Yaya,"

"Hm?" Yaya menggumam tidak jelas. Ia mendongakkan kepala dan menatap Taufan, menunggu suaminya meneruskan ucapannya. "Ada apa?"

Namun Taufan hanya diam menatapnya. Tepatnya pada perut Yaya yang sudah tidak buncit. Ia ingin sekali melontarkan pertanyaan, namun Taufan takut dugaannya benar dan akan menyakiti Yaya lagi.

"Fan? Kamu baik-baik aja?" tanya Yaya khawatir. Ia bergerak ke atas agar bisa lebih leluasa menatap wajah sang suami. Ketika menyadari ternyata Taufan memperhatikan perutnya, Yaya mengerti. Ekspresinya langsung berubah cemas dan ia segera mengelus pipi Taufan lembut.

"Anak kita... " Yaya ingin menjelaskan. Namun Taufan mengecup dahinya tiba-tiba, membuat Yaya terpaku.

Kemudian Taufan bersuara. "Sudah... tidak apa-apa. Jangan cerita kalau itu bikin kamu sakit lagi... " Yaya terdiam lama. Taufan seolah langsung bisa mengerti apa yang terjadi hanya mendengar dari nada suaranya. Perlahan, bulir air mata meluncur jatuh dari kelopak mata Yaya. Taufan mengelus kepalanya pelan, menenangkannya lagi.

"Maafin aku, Fan… Maafin aku... "

"Ssshhh, kenapa minta maaf? Kamu nggak salah, sayang," ujar Taufan. Yaya menggeleng di dalam dekapannya. Tangan Taufan terus menepuk kepala Yaya dengan kasih sayang sebelum berbicara lagi. "Harusnya aku yang minta maaf karena biarin kamu hadepin ini semua sendirian... Pasti berat banget buat kamu, Yaya." Benar. Ini adalah salahnya karena tidak bisa menyetir mobil dengan benar. Andai Taufan bisa lebih fokus, maka ia dapat menghindari kecelakaan itu dan mereka semua baik-baik saja. Namun nasi sudah menjadi bubur.

"Semuanya udah baik-baik aja, Fan. Karena kamu udah sadar, cuma itu yang terpenting bagi aku." kata Yaya. "Makasih udah bertahan buat aku, karena aku bener-bener gabisa bayangin kalau harus kehilangan kamu juga..."

Taufan berusaha menahan tangisnya. Ia juga tidak bisa membayangkan kehilangan Yaya. Saat membuka matanya tadi, Taufan tidak menemukan Yaya dimanapun. Membuatnya sedikit panik karena takut Yaya tidak selamat dalam kecelakaan itu. Namun susternya berkata bahwa Yaya sedang bekerja, membuat Taufan bernapas lega.

Kini istrinya berada di pelukannya. Meski ia harus kehilangan calon buah hatinya, Taufan masih memiliki Yaya. Istrinya yang sangat ia cintai. Mereka hanya perlu ikhlas, menghadapinya bersama dan saling menguatkan. Maka semuanya pun akan baik-baik saja.

Mereka berdua saling berpelukan erat di ranjang, memberi kehangatan satu sama lain. Selain dunianya, Taufan adalah tempat Yaya berpulang. Dan ia rela menukar apapun yang ia punya demi bisa bersama dengannya.

.

.

.

.

.

Fin

A/N :

Halo aku kambek~ akun lama aku lupa password ih, jadi bikin baru lagi :")

Akhirnya aku bisa nulis lagi (walaupun masih kaku bngt karna dah setaun ga nulis WKWKWKWKWK)

Kuliat-liat ffn sepi bngt, jdi pengen ramein lagi, itung2 refreshing dari dunia kuliah yang–gatau mau jelasinnya gimana

Okedeh itu aja. Thank u udah baca dan have a nice day! ^^