disclaimer: Jujutsu Kaisen belongs to Gege Akutami
warnings: alternate universe. ooc. m-rated.
.
Itadori Yuuji dan Fushiguro Megumi adalah hidup Kugisaki Nobara.
Yuuji adalah pria yang akan menemaninya kemanapun, memberinya apapun. Senyumnya yang manis menjadi penyembuh ketika spirit Nobara layu didera pahitnya realitas.
Megumi adalah pria yang akan selalu menjadi manusia yang paling mengerti dirinya, mampu menyelami sisi lain dirinya yang paling tak terjangkau sekalipun. Tempat ternyaman Nobara untuk menggugurkan resah.
Dua lelaki itu menyelamatkan dirinya dari kejamnya dunia.
.
fire string
by Nao Kamiya
.
Yuuji adalah pria yang selalu memberinya senyuman sehangat mentari.
"Hei, sudah baikan?" Yuuji berjalan mendekati ranjang dimana tubuh Nobara terkulai ketika menyadari kelopak mata gadis itu bergetar membuka.
Nobara mengerjap.
Hal yang dapat diingat Nobara adalah demam dan nyeri yang merembeti otot-ototnya semalam. Sisanya, yang terputar ulang di kepalanya yang masih bersisa pening samar-samar adalah dirinya yang bersimpuh di pintu apartemen Yuuji dengan basah di sekujur tubuh.
Tindakan bodohnya yang lain untuk nekad menerjang hujan badai tanpa perlindungan apapun.
Dan lari ke tempat dimana Itadori Yuuji berada adalah salah satu kebiasaannya ketika ia membuat kecerobohan-kecerobohan dalam kehidupan.
Sakit, misalnya. Seperti sekarang.
Gadis bersurai sewarna ginger itu agak terburu-buru saat beringsut memposisikan diri duduk di ranjang. Tangan Yuuji meraba keningnya, mencoba menerka suhu badan sahabat perempuannya itu.
"Aku sudah tidak apa-apa..." Nobara menurunkan tangan Yuuji dengan pelan. Memberi lengkung tipis yang lemah di bibirnya.
"Terima kasih, Yuuji."
Senyum balasan terbit di bibir si pria.
"Yah, panasmu memang sudah turun, sih," mata emas kecoklatan pria itu kemudian mengamati Nobara sekali lagi dengan seksama. "Oh, aku bawakan kau bubur. Sebaiknya lekas kau makan, oke?"
Yuuji beralih pada semangkuk bubur kaldu yang sebelumnya ia letakkan di nakas sebelah ranjangnya. Mangkuk itu masih menguarkan kepulan uap tipis.
"Bubur? Taruhan, kau pasti tidak memasaknya sendiri, kan?" Nobara yang sepertinya berangsur-angsur telah menemukan dirinya yang biasanya kini tertawa. Paham betul bahwa Yuuji tak pernah cukup pintar untuk membedakan gula dan garam.
Yuuji merengut, "Hei, hei. Tak usah mengejekku begitu, dong" pria berambut merah muda pastel acak-acakan itu menyipitkan matanya, pura-pura terluka. Tapi detik berikutnya ia mengudarakan tawa. "Jelas aku membelikannya untukmu," pungkasnya.
Nobara meloloskan dengusan jenaka sebelum menerima suapan bubur yang diulurkan Yuuji. Makanan bertekstur lembut itu langsung terasa mengisi perutnya yang benar-benar keroncongan, kuah kaldunya yang menguarkan aroma gurih tapi tidak berlebihan itu memberinya sensasi hangat yang menyenangkan saat melewati kerongkongannya.
Dalam hati, gadis itu bersyukur. Bersyukur karena lelaki yang ditakdirkan menjadi sahabatnya adalah Yuuji. Matanya menari-nari pada tiap lekuk wajah pria itu. Mengamati dua belah pipi yang agak tirus itu, kemudian lari ke mata kecoklatan yang masih setia memancarkan binar bening yang hangat. Sepasang mata yang detik ini hanya tertuju ke padanya.
Memutar kembali semua yang pernah dilakukan oleh sahabatnya itu, membuat dada Nobara menghangat. Tiba-tiba rasa sayangnya kepada Yuuji menjadi berlipat-lipat.
Lihat, sepasang mata itu begitu berkilauan, Nobara.
Diam-diam, gadis itu selalu menyukai sepasang netra kepunyaan sahabatnya itu.
Untuk beberapa lama, adegan menyuap makanan itu tidak diinterupsi oleh kata-kata apapun. Hal yang tentu diluar kenormalan untuk Yuuji si ceria yang banyak omong dan Nobara yang lekat dengan sifat judes dan angkuh.
Yuuji terdiam bukan karena kehabisan bahan obrolan. Yang benar saja, adalah hal yang mustahil baginya untuk memutar otak sekuat tenaga hanya demi berbicara dengan Nobara. Interaksi yang paling mudah seumur hidupnya adalah dengan gadis oranye ini. Alasan yang sedikit aneh baginya adalah ketika ia menemukan sunyi yang ia biarkan tercipta itu terasa begitu nyaman.
Sekali lagi, Yuuji diam bukan karena habis akal untuk mengudarakan kata. Yang menjadi alasan lainnya adalah ia yang mendapati mata gadis itu jauh mengebor mata miliknya. Begitu intens, seolah terobsesi untuk menyelam ke dalam dirinya, mencari-cari setiap celah kebenaran dalam sosok Itadori Yuuji.
Nobara seolah ingin menelanjanginya. Membuatnya kemudian merasakan sekelumit perasaan yang timbul, menghentak dari bawah perutnya.
Dan... dan, tak hanya sepasang mata gadis itu saja yang mencuri fokusnya. Turun sedikit ke bawah, bibir mungil yang sedikit terbuka itu...
Detik berikutnya adalah Yuuji yang refleks mencondongkan tubuh untuk memberi kecupan singkat di bibir Nobara.
"Yu-yuuji..."
Gadis bersurai ginger sebahu itu menemukan wajahnya memanas. Semburat merah tipis yang menyembul di pipi Yuuji menjadi analisa pertama yang ia tangkap. Pipinya sendiri mungkin jauh lebih bersemu.
Jejak kejut itu masih terpeta di matanya yang sedikit terbelalak, menatap lelaki yang wajahnya masih sangat dekat dengannya dengan tanya samar. Alih-alih bersiap menyembur murka pada sahabat lelakinya yang baru saja mencuri ciuman darinya, mulutnya terkatup diam.
Setarikan bibir yang khas itu muncul. Sosok Yuuji yang kasual menjadi balasan dari kejut Nobara.
"Um... tiba-tiba aku sangat ingin menciummu, karena kau sangat cantik hari ini. Boleh, kan?" masih dengan cengiran yang belum turun, Yuuji mendendangkan kalimat keterangan itu begitu mulus, begitu polos.
Nobara masih berusaha meredam gemuruh kencang dalam rongga dadanya. Berusaha meniadakan rasa bibir Yuuji yang beberapa saat lalu menekan bibirnya.
"Sepertinya aku menyukaimu, Nobara."
Rangkaian kata itu meluncur masih dengan nada seringan kapas khas Yuuji. Untuk sekali ini Nobara membenci sifat alami lelaki itu yang tidak pernah membawa beban rumit di otaknya.
Yuuji menatapnya lembut.
"Aku jatuh cinta padamu."
Belum sempat memberikan reaksi yang semestinya, gadis itu dihujani pernyataan cinta bertubi.
Nobara menyayangi Yuuji, itu sudah pasti. Nobara benar-benar sadar tentang Yuuji yang menjadi salah satu hal terpenting dalam hidupnya.
Ya, salah satu.
Karena satu pria lainnya juga penting di tiap tarikan napasnya. Pria yang juga menjadi lentera untuk dirinya yang rapuh dan tukang mengadu.
Kilasan wajah Fushiguro Megumi mencambuk ingatannya kemudian.
.
.
Sepanjang ingatannya menapakkan kaki di Tokyo, mereka bertiga selalu bersama.
Nobara, Yuuji dan Megumi.
Seperti banyak kisah persahabatan di belahan dunia manapun, jalinan erat pertemanan itu mengalir dengan sendirinya. Terbangun begitu saja tanpa mereka menghitung berapa banyak waktu telah berlalu. Terbentuk dari yang mulanya klise sampai terasa terlampau kental. Kasih sayang adalah komposisi yang, entah diakui maupun tidak, mengisi celah-celah kekosongan dalam diri yang berlubang oleh kelemahan masing-masing.
Nobara, Yuuji dan Megumi.
Seperti sebagaimana jalinan sayang persahabatan itu mengikat mereka, cinta tahu-tahu tumbuh begitu saja. Pengabaian percik-percik awal cinta itu kemudian membuahkan setumpuk tebal hasrat untuk memiliki.
Mereka tak mampu menampik ketika perasaan yang lebih kuat itu muncul. Sama seperti tunas yang menyembul keluar ketika tanah tak lagi mampu menahannya untuk tetap terpendam. Rasa yang lebih kuat untuk memiliki itu, acap kali ditaburi beberapa besar bongkah obsesi. Sesuatu yang bakal tumbuh menjadi lebih besar.
Entah sejak kapan dirinya menginginkan Nobara untuk dirinya sendiri. Megumi tidak tahu pasti. Mulai tidak rela melihat beberapa potong momen kedua sahabatnya tercipta tanpa melibatkan dirinya. Yang ia sadari, ia benar-benar tidak ingin Yuuji mencuri senyuman Nobara lebih banyak lagi.
Mungkin, hanya mungkin. Megumi adalah orang pertama yang tersulut obsesi, lebih awal dari Yuuji yang menyukai Nobara dengan inosennya, dengan ringannya.
Maka dari itu, Megumi tidak pernah menyiakan kesempatan agar waktu bisa lebih lama mereka habiskan berdua. Mencoba membuat gadis itu menoleh padanya lebih lama. Mencoba untuk selalu berada disampingnya, terutama ketika Nobara berkubang dengan hari-harinya yang pelik, berat, nestapa, dan satu-satunya hal yang ingin dilakukan gadis itu hanyalah menangis.
Nobara menyayangi Megumi. Sama seperti Nobara menyayangi Yuuji.
Nobara akan selalu hapal sisi-sisi mana saja dalam dirinya untuk Yuuji, dan sisi-sisi mana yang hanya untuk Megumi.
Jika Yuuji ada untuk membuat hatinya menghangat, maka Megumi ada untuk membuat hasratnya terbakar.
Dengan begitu, Nobara berpikir bahwa kedua pria itu sama-sama entitas yang bisa memainkan api dalam dirinya.
.
.
Perasaan Nobara kepada Megumi lolos begitu saja ketika pria bersurai sekelam kegelapan itu memagut bibirnya. Memberinya ciuman basah yang lama, memberinya sensasi kegembiraan membuncah dengan degub-degub melenakan.
Pengalaman bercinta Nobara adalah kala satu malam yang ia habiskan dengan tangisan atas kefrustrasiannya terlampau menyakitkan, sehingga Megumi memeluknya untuk memberinya ketenangan. Megumi yang memeluknya sudah menjadi adegan kasual kalau-kalau dirinya mulai mendrama. Tapi pelukan kali itu menjadi lain ketika terpaan hangat napas pria itu menyapu tengkuknya.
Gadis bermahkota ginger itu tidak memberi penolakan. Lantas mendorong Megumi untuk lanjut mengecup lekukan itu, kemudian terus turun ke bawah, melanjutkan perjalanan lidahnya menelusuri tiap inchi tubuh Nobara.
Sama seperti detik ini. Dua pasang mata yang sedang beradu itu saling memandang penuh nafsu.
Satu pagutan teramat basah dilepas, menyisakan napas terengah mereka berdua yang mengisi keheningan kamar itu.
"Nobara..."
Nama gadis itu mengudara dengan sisa-sisa napas dangkal Megumi. Lelaki itu kemudian membelai anakan surai sewarna ginger Nobara, menyelipkannya ke belakang telinga dengan lembut. Sepasang mata beriris kelamnya menyapu wajah gadis itu dengan lekat. Dari bilah mata coklatnya yang di kanan, lalu ke bilah matanya yang kiri, memerhatikan hidung kecilnya, lalu bibirnya yang masih memerah dan sedikit bengkak.
Megumi dalam hati harus mengakui sekali lagi bahwa sahabat wanitanya ini memang cantik. Tak pernah dalam benaknya beberapa bulan lalu berharap dapat begitu intim menyalurkan perasaannya yang terpendam selama ini. Kedekatan ini masih begitu ajaib baginya. Ada bagian di dalam dirinya yang menolak mempercayai bahwa Nobara yang bercinta dengannya adalah kenyataan.
Ia benar-benar menyukai gadis galak ini.
Nobara mengalungkan lengannya ke leher Megumi, memberi ciuman dalam lainnya. Selanjutnya kedua tubuh itu kembali saling merapat, seolah menarik satu sama lain untuk terus menekan.
Jemari Megumi yang bebas membelai payudara Nobara, mencari puting yang sudah keras dan menyembul di balik kaus ketat yang gadis itu kenakan, sementara sebelah tangannya yang lain menekan kepala oranye itu untuk memperdalam perang lidah.
Suara desahan-desahan rendah mengudara. Kini Megumi turun untuk mengecup payudara itu setelah menyingkap kaus yang menutupinya, melakukan stimulus yang cukup untuk membuat tubuh Nobara menggelinjang. Mulai dari menjilat, mengulum, mengisap dan memberi jejak-jejak ciuman yang besar.
Gadis itu kemudian mendesah kencang, balas mengecupi leher, dada dan perut Megumi, mendorong pria itu merebah ke ranjang sementara ia berposisi di atas.
Mata sewarna madu ranumnya masih memancarkan kilat birahi ketika mendongak untuk menatap pria bersurai kelam yang sudah dipenuhi peluh itu sekali lagi.
"Kau tampan sekali, ugh." Nobara mengeluh. Baginya, menyukai perasaan yang timbul ketika jemarinya menari mengikuti tiap lekuk wajah pucat itu adalah suatu pengkhianatan dalam dirinya. Gadis itu juga menyukai tiap detil liukan bulu mata Megumi yang legam, panjang dan lentik. Membuatnya iri.
Megumi terkekeh "Aku terlalu tampan untukmu."
Belum sempat Nobara mengeluarkan balasan mencemooh, pria itu lebih dulu menarik kepalanya merapat. Merengkuhnya erat-erat. Gadis itu tak bisa memprotes. Hangat tubuh Megumi tentu lebih enak daripada mengumpat.
Sepertinya Megumi benar-benar menyamankan diri dengan posisi itu seiring dengan napasnya yang melandai. Mau tak mau Nobara yang kepalanya rebah di dada bidang itu kini mulai bisa mendengar detak jantung Megumi, diam-diam menghitungnya seperti menghitung waktu.
"Hei," panggilnya kemudian setelah beberapa saat.
"Hm?" respon Megumi sambil masih terpejam.
Nobara menggigit bibir bawahnya, jemarinya mengelus permukaan dada Megumi yang terbalut kaus navy polos.
"Kau masih sahabatku, kan? Setelah semua ini?"
Gadis itu bisa merasakan napas itu tertahan sejenak. Agaknya pertanyaan yang ia katakan barusan cukup mengejutkan Megumi.
"Kau sahabatku. Seperti biasanya."
Megumi meloloskan jawab itu begitu saja. Ia tentu sepenuhnya sadar dan belum lupa bahwa apa yang bisa dilakukannya dengan Nobara sampai sejauh ini berangkat dari menemukan dirinya telah jatuh cinta. Jatuh cinta yang ia harus akui setelah melalui ratusan denial yang menyita kewarasannya.
Tentu, tentu. Megumi adalah lelaki biasa yang jatuh cinta dan ingin memiliki gadis yang ia cintai.
Tapi, keegoisannya itu bukan jadi hal yang paling penting ketika menyadari bahwa semua ini tak mudah bagi Nobara. Persahabatan tidak sesederhana itu untuk dipertaruhkan, ketika hati mulai mendesak untuk menginginkan lebih. Megumi teramat memahami Nobara, lengkap dengan bagaimana lika-liku pemikiran si gadis oranye itu bekerja. Terkadang pemahamannya pada sahabat wanitanya itu melebihi pemahaman gadis itu pada dirinya sendiri.
Seperti sebuah anggukan pembenaran atas segala deduksinya, kini ia dapat merasakan tubuh Nobara yang bergetar. Isakannya mulai terdengar. Megumi yang masih mendekap Nobara kemudian mulai membelai rambut pendek gadis itu dengan sabar, seraya memberinya kalimat penenang seringan kapas.
"Hai, hai. Menangislah sampai puas."
Nobara, di dalam benaknya sekarang, tengah merutuki dirinya sendiri. Merutuk tentang ia yang sebenar-benarnya bukanlah gadis yang kuat, bukan pula seorang yang dikenal tanpa takut dan tanpa keraguan, tetapi hanya manusia ordinari yang ujung-ujungnya goyah dengan integritasnya sendiri. Dirinya yang selama ini ia sendiri percaya cukup keras kepala untuk tetap sarkas pada cinta dan tidak melukai persahabatannya, hilang sudah.
Dalam sisa isakan itu, Nobara mempercayai satu hal.
Ia adalah manusia curang. Curang karena berdebar oleh Yuuji. Curang karena bercinta dengan Megumi. Curang karena telah mencintai dua sahabatnya sekaligus...
.
.
.
/owari/
