What If

Levi chose Erwin instead of Armin?

Warning: Female!Levi

Attack on Titan belongs to Hajime Isayama

Hopefully you enjoy it and happy reading!

Setelah menyerahkan sisanya pada Hange, Erwin bangkit dari duduknya. Levi yang berdiri dekat dinding tenda pun mengernyit saat melihat Erwin yang justru berjalan ke arahnya. Benar saja, sesampainya Erwin di dekat Levi, dia segera merangkul pinggang Levi dengan posesif.

"Bagaimana menurutmu?" tanya Erwin tanpa menatap lawan bicaranya.

"Apa?" Levi balik bertanya.

"Dia," jawab Erwin sambil memfokuskan pandangan pada Yelena dan Hange.

Levi yang memahami kode Erwin pun ber-oh pelan sambil membenarkan posisi Armin (anak mereka) dalam gendongannya. "Matanya terlalu blak-blakan untuk seorang pria. Aku memahami jika dia masih berumur 15 tahun karena Eren dulu juga begitu. Tapi, dilihat dari sisi manapun, usianya pasti lebih dari itu."

Erwin yang mendengar analisis Levi pun mengangguk. Dia juga memikirkan hal yang sama.

"Kalau begitu, bolehkah aku menemui seorang wanita nanti malam? Ada banyak yang ingin kubahas dengannya," tanya Erwin sambil mengambil alih Armin dari gendongan Levi. Erwin tau jika tangan Levi sudah pegal karena menggendong Armin hampir satu jam terakhir.

Levi yang ditanyai begitu pun kembali mengernyitkan dahi. "Siapa? Kalau hanya berdiskusi dengan Hange, untuk apa meminta izinku?"

"Oh, bukankah tadi kau sendiri yang bilang?" Erwin memastikan sambil menepuk-nepuk punggung Armin. Sepertinya dia terbangun karena baru saja berpindah dari tangan Levi ke tangan Erwin.

Levi melebarkan matanya saat menyadari sesuatu. "Pria itu—tidak, maksudku, Yelena itu perempuan?"

Erwin mengangkat salah satu alisnya. "Bukankah sudah jelas? Lagipula, kau sendiri yang tadi menyimpulkan kalau dia terlalu mudah dibaca untuk ukuran seorang pria kan?"

"Ooh, begitu. Kukira kau mau menemui salah satu anggotamu. Kau tau kan? Anggota perempuanmu masih muda dan cantik-cantik." Levi yang kini bersedekap pun berkata sambil mengamati anggota Survey Corps perempuan yang ada di dalam tenda tersebut.

"Kenapa? Kau cemburu?"

Levi yang mendengarnya langsung salah tingkah. Wajahnya memanas karena menyadari kebodohannya saat mengalihkan pembicaraan tadi. Dia tak menyadari kalau kata-katanya tersirat kecemburuan. Levi yang tidak mau memperlihatkan wajah merahnya pun membuang wajah ke arah selain Erwin.

"Siapa yang bilang aku cemburu?"

"Kau iya, Sayang." Perlahan Erwin mengubah arah pandang Levi dengan menarik dagunya. Levi tidak menolak, bahkan sama sekali tidak berusaha mengelak. Wajahnya yang masih memerah kini diamati dengan seksama oleh Erwin, membuat wajahnya semakin merona.

"Kita di tempat umum, Erwin," lirih Levi saat Erwin masih berlama-lama mengamati wajahnya.

"Aku tau," jawab Erwin sambil tersenyum. Ruas jari telunjuknya diusapkan sekilas ke hidung Levi. Bukannya rona di wajahnya menghilang, perbuatan Erwin malah membuat telinganya ikut memerah.

"Jadi, aku diizinkan?" tanya Erwin setelah tatapan intensnya berubah menjadi tatapan biasa.

"Pergilah. Tapi, kembalilah sebelum tengah malam. Tidak baik seorang pria dan wanita tanpa ikatan berada dalam satu ruangan lewat tengah malam."

Erwin terkekeh kecil mendengarnya. "Tentu aku ingat, Levi. Itu kata-kataku saat pertama kali kau datang ke ruanganku karena kau tidak bisa tidur."

Levi hanya mengangguk mendengarnya. Namun, tak disangka, Erwin menambahkan kalimatnya setelah Levi merespon. "Lagipula, aku tau kau tak bisa tidur tanpaku."

"Er—!" Levi berseru tertahan saat mendengarnya. Lagi-lagi Erwin terkekeh melihat reaksi Levi.

"Baiklah. Aku akan ke kamar dulu, meletakkan si kecil ini di kasur. Kurasa, senyaman apapun gendongan kita, dia akan lebih nyaman jika tidur di kasur. Awasi Hange, aku khawatir dia terlalu bersemangat mendapat ilmu baru dari dunia luar."

Levi hanya menganggukkan kepala sebagai tanda dia menerima perintah dari Erwin. Setelah Erwin mendapat konfirmasi dari Levi, Erwin pun meninggalkan ruangan tersebut menuju kamar mereka—kamar Erwin dan Levi.