"K…Kenchin," panggil Mikey ragu ketika ia menghampiri Draken yang duduk sendirian di tangga kuil markas Toman. Darken hanya menoleh sekilas pada Mikey lalu kembali sibuk menatap langit di malam hari.
Tatapan dingin Draken dalam waktu sepersekian detik itu membuat Mikey cemas. Namun, tak menghentikan langkah kakinya menuju sahabat terbaiknya itu. Perlahan Mikey duduk di sisi Draken. Matanya yang penuh harap menatap Draken dalam diam. Nampaknya Draken masih terguncang atas kepergian Emma beberapa waktu lalu. Meskipun saat bertarung melawan Tenjiku Mikey bisa merasakan semangat membakar jiwanya, namun sekarang semangat itu kembali pudar.
"Kenchin," panggil Mikey sekali lagi dengan nada sendu.
Draken tetap tak menggubris. Ia sibuk memusatkan perhatianya pada semua hal di sekelilingnya kecuali Mikey.
Mitsuya yang sedang berkumpul dengan beberapa anggota toman termasuk Chifuyu, dari kejauhan menatap Mikey dan Draken. Beberapa hari ini ia terus memperhatikan interaksi Mikey dan Draken yang nampak semakin renggang. Akan tetapi ia tidak tahu tindakan benar apa yang bisa ia lakukan untuk memperbaiki hubungan mereka. Jadi ia hanya diam mengamati saja. Berharap Mikey dan Draken bisa segera berbaikan seperti biasanya.
Draken yang tiba-tiba bangkit membuat Mikey terkejut. Mikey membuka mulutnya untuk memanggil Draken, akan tetapi suara dari pita suaranya tak kunjung keluar. Dengan mata yang memancarkan kesedihan, Mikey hanya diam menatap punggung Draken yang semakin menjauh.
Dan semakin menjauh darinya.
Perang dingin antara Draken dan Mikey pun terus berlanjut. Para sahabat Mikey bisa melihat jika dua orang terkuat di Toman sedang tidak baik-baik saja. Mikey sesungguhnya mengusahakan untuk berbaikan dengan Draken. Sayangnya Draken tidak punya minat sama sekali bahkan untuk menatap Mikey barang sedetik saja.
Di manapun Mikey berada, di sekolah, di markas, Draken pasti langsung menghindari Mikey. Sebisa mungkin tidak melakukan kontak apapun dengan Mikey. Tidak peduli bagaimana upaya Mikey agar mereka ada di tempat yang sama untuk berbincang, Draken tetap meninggalkannya. Dan ini membuat Mikey khawatir.
Hingga datang suatu hari ketika Mikey memutuskan untuk mendatangi kamar Draken di brotel tanpa peringatan. Tentu saja penjaga brotel membolehkannya masuk karena Mikey dikenal sebagai sahabat terdekat Draken.
Dengan santainya Mikey duduk di ranjang Draken. Sebuah senyuman terbentuk di bibirnya karena ia tahu kali ini Draken tidak bisa lari ke mana-mana. Beberapa saat ia menanti kepulangan sahabatnya itu sambil melihat-lihat isi kamar Draken. Sebuah senyuman terbentuk di bibir Mikey saat melihat foto-foto yang tergantung di dinding kamar. Di sana ada foto mereka saat dunia masih baik-baik saja.
'Aku harap kami bisa seperti ini lagi nanti,' batin Mikey.
Suara pintu kamar yang dibuka membuat Mikey menoleh menatap seseorang yang hadir di dalam kamar itu bersamanya. Draken berdiri diam di ambang pintu. Sepasang mata Draken akhirnya bertemu pandang dengan Mikey, membuat Mikey senang. Akan tetapi senyuman di bibir Mikey memudar ketika mengetahui tatapan macam apa yang Draken berikan padanya: kemuakan dan kemarahan yang dipendam kuat.
"Bisakah kau pergi saja?" kata Draken dingin. Kilatan di matanya menunjukkan penekanan akan ketidaksukaannya dengan kehadiran Mikey.
"Kenchin-"
"Pergi sekarang atau kau kuhajar." Draken memotong ucapan Mikey. Tubuhnya yang tinggi dan kekar mendekati Mikey. Berusaha mengintimidasinya.
"Setidaknya katakan sesuatu padaku Kenchin!" Protes Mikey.
"Aku barusan sudah bilang agar kau pergi!"
"Aku tidak mau pergi."
Ucapan Mikey membuat pandangan Draken semakin nanar.
Kepalan tangan Draken terangkat tinggi. Sekuat tenaga tinjunya menghantam sisi wajah Mikey yang masih memar. Seketika wajah Mikey berpaling ke satu sisi. Kakinya menahan tubuhnya agar tidak tumbang. Pukulan Draken sangat menyakitkan, luar biasanya rintihan sama sekali tak keluar dari mulut Mikey.
"Setelah semuanya yang terjadi. Kau masih butuh penjelasan?!" Teriak Draken pada Mikey.
Mikey terdiam. Ia paham betul maksud Draken. Semua hal yang terjadi memang kesalahannya. Ia gagal menyelamatkan Pah dari penjara. Ia juga menyebabkan Baji mati. Kemudian Emma. Ia bahkan tidak bisa melindungi orang yang sangat dikasihi Draken.
Wajar jika Draken membencinya dan ingin ia musnah dari hidup Draken.
Ia merasa sangat malu dan hampa.
"Kenchin. Aku minta maaf," ujar Mikey lirih seraya menunduk menahan rasa malu.
Permintaan maaf Mikey justru semakin menyulut kemurkaan Draken. Sekali lagi tinjunya ia layangkan ke sisi wajah Mikey. Tangan kiri Draken mencengkeram kerah baju Mikey erat. Dengan kuat ia mendorong Mikey hingga punggungnya menghantam tembok. Kernyitan tertahan di wajah Mikey tak menghentikan tangannya untuk sekali lagi menghajar wajah Mikey. Lagi dan lagi hingga darah mengalir dari lubang hidung dan mulut Mikey.
Draken berhenti memukuli Mikey ketika ia merasakan beban tubuh Mikey sepenuhnya terletak di tangannya yang memegang kerah. Mikey tak sadarkan diri seperti terakhir kali ia memukuli Mikey setelah kematian Emma. Mata Mikey terpejam erat. Tak nampak sedikitpun ekspresi kesakitan dari wajah Mikey. Ia hanya nampak seperti sedang tertidur lelap dalam mimpi yang indah.
Draken tidak menyukainya.
Ia pun melepaskan kerah Mikey. Membiarkan tubuh Mikey jatuh berdebam menghantam lantai. Dalam diam Draken menatap sosok sahabatnya yang babak belur terbaring menyamping di lantai. Darah mengaliri lantai kamar yang selalu ia jaga agar tetap bersih. Dada Mikey naik turun sementara nafasnya kasar-tersendat-sendat-karena luka di tubuhnya yang parah. Rambut emas Mikey menutupi sebagian besar wajahnya yang kecil.
Draken ingat bagaimana rasanya menyentuh rambut emas itu. Sangat lembut sampai rasanya seperti menyentuh sutra. Di tengah keramaian pun mudah sekali untuk mengenali Mikey melalui rambutnya. Di kejauhan rambutnya nampak lebat dan sangat halus. Membuat siapapun ingin mencoba menyentuhnya untuk merasakan kelembutannya.
Draken mendesah lelah. Ia segera memalingkan wajahnya. Bergerak melepaskan seragam Toman dan berbaring membelakangi Mikey yang tergolek lemah seperti kain pel bekas pakai. Ia pun memejamkan matanya. Sebisa mungin berusaha mengenyahkan bayangan dan memori di dalam kepalanya.
Mengenyahkan memori ketika Mikey tersenyum padanya bak cahaya mentari.
