Klan Oikawa terkenal sejak dahulu kala akan kecerdasan dan kekuatannya. Mereka loyal, rupawan, dan tak kenal takut. Sudah tak terhitung berapa banyak klan yang mereka bantai. Tak terhitung berapa banyak wilayah yang mereka kuasai atas nama tuannya. Tak heran mengapa klan ini begitu menjadi 'kesayangan' setiap daimyo yang naik tahta. Belum cukup dengan itu semua, klan Oikawa, setiap generasi selalu menghasilkan alpha - alpha terbaik. Banyak dari mereka yang menjadi hakim, sastrawan, hingga jendral militer.
Hidup sangat mudah untuk mereka, ketika nasib dan takdir mudah dipermainkan dengan uang dan jabatan. Seakan - akan langit ada di genggaman mereka.
Hal ini juga yang mengilhami klan ini untuk menjadikan warna langit sebagai identitas mereka. Kastil mereka terbuat dari kayu mahoni terbaik masih berdiri selama lebih dari ribuan tahun. Kokoh dan megah. Di sinilah para 'penakluk' dilahirkan. Namun jauh dari segala reputasi baik yang telah menjadi pengetahuan dasar masyarakat Miyagi, klan ini diam - diam menyembunyikan sebuah aib. Aib yang sangat busuk hingga setiap anggota keluarganya bersumpah untuk membawa rahasia ini hingga mati. Dua puluh tahun yang lalu, istri Oikawa Matsuyuki melahirkan seorang anak lelaki. Alih - alih bahagia dan bangga seperti kelahiran anak pertamanya, Oikawa Issei, anak ini bagaikan arang yang mencoret namanya. Kotoran yang di lempar ke wajahnya.
Dia seorang omega.
Menurut tradisi lama, setiap bayi omega yang lahir harus segera di kembalikan ke tanah sebelum suara tangisannya menembus dinding rumah. Matsuyuki pun akan melakukan hal yang sama jika saja sang istri tidak mencegahnya. Ditengah isakannya yang lemah, nafasnya yang susah payah dia kumpulkan, wanita itu berkata,
"Hamba yang rendah ini memohon kepada Tuan. Hanya kali ini, hamba mohon untuk di dengarkan. Janganlah Tuan menyakitinya, sebab hamba telah memberikan nyawa ini untuknya. Kelak, bayi cantik ini akan meneruskan perjuangan kita. Dari rahimnya akan lahir penerus - penerus hebat. Alpha - alpha tangguh dan sempurna sesuai kehendak leluhurnya. Mohon untuk merawatnya dengan kasih sayang, sebab hamba sangat mengasihinya."
Beberapa hari kemudian ibu dari bayi malang itu kembali ke surga. Menyerahkan tugasnya kepada bayi tersebut untuk dilanjutkan di kemudian hari. Oikawa Matsuyuki melepas kepergian wanita yang dicintainya itu dengan lima puluh sapi dan seratus biksu untuk mendoakannya dalam upacara pemakaman yang dirayakan selama seminggu penuh. Selama sebulan, seluruh Miyagi berkabung.
.
.
.
Oikawa Matsuyuki membangun sebuah benteng jauh di dalam kastilnya. Terbuat dari batu - batu kokoh yang tidak mudah di tembus dengan kavaleri manapun. Dibelinya tiga puluh budak wanita, lidah mereka di potong untuk membuat mereka bungkam. Dihibahkannya bayi itu ke tangan mereka, lalu mereka semua di buang ke dalam benteng. Di dalam benteng itu di penuhi oleh berbagai jenis bunga, sebuah kolam, dan sebuah rumah. Disinilah bayi itu dibesarkan oleh para budak, dirawat hingga tumbuh dewasa.
Setahun kemudian Matsuyuki menikah lagi, bahkan mengambil beberapa selir. Namun kesepian di hatinya tidak mudah diusir. Kehadiran wanita yang telah memberinya dua orang anak itu sungguh menempati setiap relung hatinya. Tidak menyisakan bahkan sedikit tempat bagi wanita lain untuk menggantikannya. Istri dan selir - selir itu hanya menghangatkan ranjangnya, bukan hatinya. Hingga akhirnya dia mengembalikan semua wanita itu kembali ke keluarga mereka bersama sepuluh kuda dan tiga kodi sutra serta tiga peti permata. Setiap orang diberi jumlah yang sama untuk mencegah rasa dengki yang mungkin akan menimbulkan perselisihan di masa depan.
.
.
.
Waktu berjalan, bayi itu telah tumbuh menjadi seorang pria yang cantik. Tubuhnya tidak terlalu mungil seperti omega pada umumnya. Wajahnya oval dengan garis rahang halus dan hidung yang mancung. Bibirnya tipis berwarna seperti bunga sakura yang tumbuh di dalam kediamannya. Rambutnya panjang sebetis, sehalus sutra, dan berwarna coklat seperti kayu kastil sang ayah. Matanya belo dengan iris coklat madu dan bulu mata lentik yang mengirim getaran geli di hati setiap kali dia berkedip. Meski dia seorang omega, Matsuyuki tidak ingin membesarkan seorang anak yang bodoh. Dia mengirim para pengajar terbaik setiap hari ke dalam benteng. Namun mereka harus memenuhi satu syarat, tidak boleh membicarakan satu katapun tentang apa yang ada di dalam benteng kepada siapapun di luar sana. Mereka semua disumpah mati olehnya. Aib ini tidak boleh sampai bocor apapun yang terjadi.
Omega itu diberi nama Tooru. Tidak ingin memberinya nama yang lebih lembut karena dia tetaplah seorang lelaki. Hanya saja tubuhnya menjijikan. Setidaknya itu yang dipikirkan oleh Masayuki.
Tidak ada seorang pria yang bisa hamil..
Kecuali dia.
Menaruh rasa sedih, marah dan jijiknya, Masayuki hanya menjalankan amanat dari mendiang istrinya. Pikiran - pikiran untuk menyingkirkan anak itu selalu hadir dalam kepala, namun secepat mereka hadir, secepat itu pula dia tepis. Anak itu akan selamanya ada di dalam bentengnya. Selamanya tersegel di sana. Hidup dalam surga kecil palsu yang Masayuki buat agar membuatnya tidak tersentuh bahkan oleh debu dari luar. Selama dia di sana, mereka akan aman. Klan mereka akan baik - baik saja.
Tooru tumbuh sebagai anak yang pintar. Dia pandai bermain koto, merangkai bunga, menjahit, membaca, dan menulis puisi. Kesehariannya hanya diisi dengan hal - hal seperti itu. Membosankan, namun Tooru tetap menyukainya. Suatu hari di musim panas, kakaknya datang berkunjung.
"Kakanda!" sambutnya ceria begitu melihat sosok saudaranya.
Oikawa Issei. Alpha muda berusia dua puluh lima tahun, bertubuh tegap, sedikit berotot, tingginya seratus sembilan puluh senti, berjalan melewati jalan setapak batu yang panas. Tooru tidak bisa menahan rasa girangnya sampai membuatnya tergupuh - gupuh menghampiri sosok tercintanya itu.
Ketika dua saudara itu berdekatan, Tooru mengulurkan tangannya yang disambut oleh Issei. Menarik pinggang kecil itu mendekat ke tubuhnya. Membawanya dalam dekapan penuh rindu yang erat. Oikawa membenamkan hidungnya ke bahu sang saudara. Menghirup aroma asli tubuh besar itu untuk menangkan hatinya yang selalu gelisah setiap malam. Aroma Issei yang khas bercampur sedikit asam karena keringat malah seperti candu bagi sang omega alih - alih jijik karenanya. Mungkin karena mereka berbagi daging dan darah yang sama, tidak perlu ada perasaan tidak nyaman akan aroma satu dengan lainnya.
"Selamat datang," bisik Tooru. Issei yang jarang tersenyum; karena karakternya juga aturan kuno keluarga yang percaya bahwa seorang alpha seharusnya tidak boleh menunjukkan perasaan karena itu dapat mencederai wibawa mereka, pun akhirnya luluh juga. Sebuah senyum tipis terukir di bibirnya sebelum akhirnya menjawab,
"Aku pulang."
Issei tumbuh sangat bertolak belakang dengan Tooru. Alih - alih hidup dalam surga kecil dan tersembunyi, Issei hidup dalam neraka dunia. Dia telah memegang pedang ketika usianya baru lima tahun, dan dikirim ke sekolah militer setahun kemudian. Di sana, jangankan makan dengan layak, bisa tidur beralas jerami saja sudah sangat baik. Semua anak laki - laki maupun perempuan dalam klan, selama mereka bukan omega, mereka akan dikirim ke sana; guna menjadi prajurit sejati yang dapat menjadi 'senjata' daimyo. Issei belajar berbagai banyak hal di sana; seperti strategi perang, strategi pertahanan, sastra, seni berpedang, medis, hingga cara bertahan hidup.
Pada usia tiga belas tahun, Issei pertama kalinya ikut dalam perang perebutan wilayah timur dengan klan Ushijima. Mereka gagal saat itu dan terpaksa mundur setelah banyaknya korban yang jatuh. Issei hingga hari ini tidak bisa melupakan bagaimana peristiwa mengerikan itu terjadi. Bagaimana teman - temannya tewas dengan cara yang tidak manusiawi. Dia terus bermimpi buruk setiap malam dan jadi takut untuk tidur karenanya; sebab jeritan dan potongan potongan tubuh rekan - rekan seperjuangannya tidak rela meninggalkan pikiran.
Di dorong oleh ambisi sang ayahanda, ketakutan, kesedihan, amarah, dan penyesalan, ketidakberdayaan berubah menjadi kekuatan yang mengerikan. Jika tidak bisa membuat Ushijima jatuh dengan kekuatan dari luar, maka hancurkan mereka perlahan dari dalam. Issei ingat betul bagaimana ketika dia berdoa di leluhurnya, para jenderal dan cedekiawan yang telah berjasa demi kejayaan klan sebelum akhirnya mengirim pesan kepada mata - mata untuk membakar kastil Ushijima tepat ketika bulan pada posisi tertinggi. Mereka lari berhamburan bagaikan semut yang dihancurkan sarangnya. Ditengah ketidakberdayaan itu, pasukannya datang dan menyerang orang - orang yang sibuk menyelamatkan diri. Tidak membiarkan mereka hidup; menyerahkan mereka pada maut.
Sementara Tooru menjahit, Issei telah menebas tubuh musuh - musuhnya. Kenyataan pahit nan ironis bersaudara yang terlahir dengan tubuh yang berbeda. Pemberi dan pembawa kehidupan.
Perangnya terus berlanjut hingga ia dewasa. Issei tumbuh menjadi panglima muda dari klannya dengan seribu pasukan berkuda dan seratus pembawa panji di punggungnya. Pergi selama berbulan - bulan untuk menaklukkan daerah - daerah demi menjadi milik daimyo yang klannya layani. Tidak terhitung sudah berapa banyak orang yang dia bunuh menggunakan pedangnya. Tidak terhitung sudah berapa banyak para istri menangisi suami mereka dan anak - anak kecil menangis mencari orang tua mereka. Desa mereka dibakar, harta mereka dirampas, para omega dibawa pulang, sisanya di telantarkan atau berakhir menjadi budak.
Dia lelah, baik fisik maupun hatinya. Ini semua bertentangan dengan keinginan dan pandangannya. Perang tidak membawa apa - apa selain kesedihan dan kemalangan. Issei yang di elu - elukan kekuatannya, ternyata tidak sekuat itu. Hanya di sini, di benteng terpencil dalam kastil mereka, dia bisa menjadi dirinya sendiri. Issei yang lembut dan sedikit dingin.
Enam bulan dia menghitung kepergian Issei dan akhirnya hari ini dia kembali padanya. Bau Tooru yang harum dan lembut-entah wangi alami atau sabunnya-membuat seluruh tubuh Issei rileks.
"Aku merindukanmu," ucap Tooru. Suaranya teredam karena dia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Issei pada malam ketika keduanya dalam satu ranjang yang sama.
"Aku juga," balas Issei. Issei adalah alpha kedua yang Tooru tahu dan dekat. Sang ayah hampir tidak pernah datang mengunjunginya lagi sejak Tooru mendapatkan masa birahi pertamanya. Tooru perlahan mulai lupa dengan sosoknya, mulai membiasakan diri meski hatinya masih merintih rindu untuknya.
Issei menginap di benteng Tooru selama empat hari sebelum akhirnya harus pergi lagi. Tooru hari itu kembali bersedih, satu - satunya teman bicara harus meninggalkannya demi tugas negara.
"Kapan kakanda akan kembali lagi?" Issei menggelengkan kepalanya.
"Aku juga tidak tahu," ucapnya. Hatinya pun sama beratnya untuk meninggalkan tempat ini.
Menunduk, Tooru bermain dengan ujung haori hijau mudanya.
"Ayahanda tidak pernah mengunjungiku lagi. Sudah lima tahun sejak terakhir kali beliau datang dan melihatku," katanya pelan namun Issei mendengar. Sambil tersenyum kecil, tangan Issei terulur, menyentuh sisi wajah adiknya. Mengelus pipi sehalus kapas tersebut dengan jempolnya yang kasar.
"Ayahanda sangat sibuk. Mohon Tooru mengerti," balasnya. Tooru yang polos mengangguk.
"Baik."
Dia mengeluarkan sebuah buah kantung sutra kecil dari dalam lengan kimononya lalu mengikat salah satunya di ujung pegangan pedang Issei.
"Ini omamori yang aku buat sendiri. Di dalamnya ada sedikit potongan rambutku. Dikatakan bahwa Bishamon akan melindungi prajurit yang membawa omamori ini. Sebab rambut ini adalah tanda, bahwa ada seseorang yang menanti mereka di rumah."
"..."
Issei mengangguk dan berpamitan dengan Tooru. Kepergiannya di lepas dengan lambaian lembut dan doa tulus dalam hati sang omega. Tidak tahu bahwa mungkin saja, Bishamon tidak sebaik itu kali ini pada saudaranya.
.
.
.
TBC
