Sinar baskara menyusup menembus tirai putih yang menyelimuti bingkai jendela, pertanda hari benar-benar telah berganti. Layaknya hari-hari sebelumnya, tidak ada yang berubah dari ruangan serba putih itu, mulai dari sebuah lemari kokoh yang satu-satunya berwarna cokelat khas kayu jati, meja kerja dan kursi di sebelah lemari itu, tak lupa dengan buku yang terbuka nyaris di pertengahannya. Sebuah tempat tidur tepat berada di bawah arah pancaran cahaya mentari, dilengkapi nakas kecil dengan segelas air yang terisi tiga per empat di atasnya. Ruangan yang tampak bersih itu terasa seperti tak berpenghuni, walaupun ada seorang gadis yang terlelap di sana, tertutupi selimut sebatas leher.

Akan tetapi, terlalu cepat untuk menyimpulkan semua itu mulai hari ini, karena nyatanya, sesuatu yang berbeda telah terjadi, menghilangkan kehampaan total dalam ruangan tersebut.

Gadis yang sempat dibicarakan perlahan membuka mata, mencoba beradaptasi dengan pencahayaan di sekitarnya. Asing dengan ruangan tempatnya berada, dia mencoba untuk setidaknya bisa duduk bersandar pada dinding, namun sekujur tubuhnya mati rasa, memaksanya untuk terdiam menatap langit-langit.

"Uh …."

Baginya, menggerakkan tangan saja begitu sulit. Walau begitu, sulit bukan berarti mustahil, dan dia pantang menyerah dengan terus mencoba. Berhasil memegang kepalanya sudah lebih dari sekadar pencapaian untuknya, dia amat bangga dengan kesuksesannya.

"Aku ... ada di mana?"

[Subjek 006 telah sepenuhnya sadar.]

Menjawab keterkejutan si gadis, sebuah buku terbuka di atas meja bertransformasi menjadi robot mini berjubah yang dapat terbang. Mata artifisialnya memancarkan sinar hijau, memindai subjek yang dikatakan sebagai "Subjek" dari ujung rambut hingga ujung kaki. Wanita muda berambut cokelat lusuh itu tidak bisa berbuat apa-apa, selain menyaksikan robot mungil yang sedang menjalankan tugasnya.

[Kondisi normal. Melaporkan laporan hasil pemindaian secara lengkap kepada Profesor Lucien.]

Pertanyaan pertama yang muncul dalam benaknya setelah eksaminasi adalah, kenapa buku bisa berubah menjadi robot?

Sebelum pertanyaan-pertanyaan lain menghantui otak dan membuat si gadis sakit kepala, sosok yang kali ini manusia keturunan Adam hadir secara normal, yang masuk melalui pintu yang awalnya sama sekali tak gadis itu sadari. Pintu itu berwarna putih bersih tanpa corak, terlihat sepenuhnya menyatu dengan dinding ruangan, sehingga tak heran bila ada yang tidak sadar dengan eksistensi akses keluar-masuk di sana.

[Selamat datang, Profesor Lucien.]

"Profesor Lucien ...?" Sang gadis refleks membeo.

"Lucien saja sudah lebih dari cukup," tanggap profesor muda bernama Lucien itu dengan senyuman. Senyum yang hangat, namun entah mengapa begitu familier. "Selamat pagi. Apa yang kamu rasakan, Nomor 6?"

Mendengar panggilan Nomor 6 itu diarahkan padanya, dia termenung. Benar juga, kenapa—

"A-Aku siapa, Lucien ...?"

dia sama sekali tak bisa mengingat namanya?


farewell, lacrimosa

Mr. Love: Dream Date/Queen's Choice © Papergames with Elex

Plot and nearly the whole idea © himmedelweiss

Lucien-centric, Artificial Intelligence and Evol exists, semi-canon, possibly OOC(s), death chara(s), miss PUEBI, failed visualization, other mistakes that couldn't be mentioned. Spoilers for those who haven't read until Chapter 25.

No commercial profit taken from this fic

A goodbye fic for Mr. Love: Dream Date/Queen's Choice from himmedelweiss


Kontras dengan kepanikan Nomor 6, Lucien tampak tenang dengan masih mempertahankan senyum. "Maaf, aku juga ... tidak mengetahui namamu."

"Eh? Bagaimana bisa?"

"Aku menemukanmu sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri ... di sebuah hutan belakang universitas tempatku bekerja." Entah hanya Nomor 6 saja yang masih merasa anomali dengan interaksinya bersama Lucien, atau memang Lucien terlihat ragu saat menyebutkan lokasi tempatnya menemukan Nomor 6. "Tidak ada identitas yang bisa kutemukan, jadi kuputuskan untuk merawatmu di laboratorium pribadiku setelah sebelumnya kamu sempat dirawat di rumah sakit."

"Lucien seorang dokter?" tanya Nomor 6 lagi.

"Ilmuwan di bidang psikologis, tepatnya." Robot mini yang sempat terlupakan kini mendarat di atas bahu kanan Lucien. "Aku mendapat laporan bahwa kamu sudah sadar, maka dari itu aku langsung datang ke sini. Apakah kamu baik-baik saja?"

Sebenarnya pening telah berhasil menguasai kepalanya, namun Nomor 6 tetap mengangguk. "Hanya pening, sedikit. Aku baik, te-terima kasih. Hanya saja aku tidak bisa mengingat apa-apa …."

"Maaf," sesal Lucien, "andai saja aku bisa menemukan identitasmu atau keluargamu selama kamu koma …."

"Koma?" Nomor 6 tampak kaget. "Aku ... sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri?"

Lucien terdiam sejenak, sebelum akhirnya menjawab dengan suara pelan, "Terhitung sampai hari ini, kamu sudah koma selama hampir tiga bulan."


Selamat datang di Kota Loveland, sebuah kota kecil yang amat asri dan sangat menjunjung tinggi kesehatan dan kebersihan. Dibantu berdiri oleh Lucien, Nomor 6 bisa menyaksikan satu titik kecil bagian dari kota Loveland melalui kaca jendela. Ada taman bunga beraneka warna dan jenis. Ada pun jalan setapak menuju suatu tempat yang tidak bisa Nomor 6 lihat karena tidak tergapai indra penglihatannya. Kata Lucien, itu jalan menuju hutan kecil sekaligus jalan raya besar yang sangat sibuk.

"Aku akan membawamu jalan-jalan ketika kondisimu sudah pulih. Selama itu, aku akan melatih motorikmu," tutur Lucien. "Kamu juga bisa terbang, kalau kamu mau."

"Terbang?" ulang Nomor 6. "Terbang maksudmu itu, seperti robot asistenmu, Lucien?"

Lucien tertawa kecil. "Tentu saja. Dalam tiga bulan terakhir, kota Loveland sudah beralih peradaban menjadi lebih dari sekadar modern. Futuristik, sesuatu yang awalnya hanya menjadi bahan karya fiksi sains, sekarang menjadi nyata. Kota Loveland adalah pelopornya. Terbang hanya salah satu hal umum yang bisa kamu lakukan."

"Aku mau mencobanya!" respons Nomor 6 ceria.

Terlalu antusias, Nomor 6 refleks melompat, membuat keseimbangannya goyah dan hampir jatuh, kalau saja tubuhnya tidak ditangkap langsung oleh Lucien. Dua pasang mata bertemu dan saling mengunci atensi, mengimitasi adegan klise ala drama romantis. Agak lama mereka dalam posisi tersebut, sebelum akhirnya Lucien berdeham dan membantu Nomor 6 kembali menyeimbangkan tubuhnya.

"Berhati-hatilah," pesan Lucien. "Sekarang waktunya istirahat, Nomor 6."

"Maafkan aku." Nomor 6 menggaruk tengkuknya, merasa tidak enak. "Tapi Lucien, bisakah aku meminta padamu satu hal?"

"Tentu."

"Bisakah kamu memanggilku dengan sebuah nama? Apa pun nama yang kamu berikan, akan aku terima, asalkan bukan angka seperti sekarang. Kumohon ...?"

Sesaat, lavender kembar sempat terlihat melebar. Lucien sangat ahli dalam mengatur emosinya. "Mengapa begitu?"

"Aku merasa aneh dipanggil begitu," jawab Nomor 6. "Juga aku ingin tahu, mengapa aku dipanggil Nomor 6? Apakah ada lima pasien tanpa identitas sepertiku yang sudah pernah kamu rawat sebelumnya, Lucien?"

Profesor muda bertubuh jangkung itu hanya mengulas senyum. "Kamu orang yang sangat spesial, jadi aku harus memberimu nama yang sangat spesial juga. Selama memikirkan namamu, apa tidak masalah bagimu jika aku tetap memanggilmu Nomor 6, sampai setidaknya aku tahu nama yang sesuai untukmu, atau mendapatkan informasi soal identitasmu yang sebenarnya?"

Nomor 6 mengangguk. "Apa kamu mau berjanji, Lucien?"

Tanpa bisa diprediksi, Lucien memeluk Nomor 6 cukup erat. Tidak ada yang bisa Nomor 6 lakukan selain membalas pelukan itu. Lucien terlihat seperti sudah melalui banyak hal yang menyakitkan, entah mengapa itu yang dirasakan Nomor 6 dari pelukan Lucien.

"Aku berjanji. Aku berjanji."


Selamat datang di Kota Loveland, sebuah kota kecil yang amat asri dan sangat menjunjung tinggi kesehatan dan kebersihan. Hari-hari selanjutnya, Lucien rutin mengunjungi Nomor 6 untuk menunjukkan aneka foto tempat-tempat indah di Kota Loveland.

"Ini New Light Mall, pusat perbelanjaan terbesar di Loveland. Beberapa kios sudah diisi oleh robot yang akan melayani pesanan. Malahan, jika kamu punya mesin pencetak tiga dimensi inovasi LFG di rumah, kamu bisa berbelanja sendiri dari rumah dengan hanya tinggal mengisi daftar pesanan, kemudian kode QR yang kamu dapatkan cukup dipindai pada mesin itu, lalu pesanan akan diantar, atau mungkin lebih tepatnya dicetak melalui mesin yang sama," jelas Lucien panjang lebar.

"Lucien punya mesin LFG itu?" tanya Nomor 6 lugu.

Mengangguk, Lucien melanjutkan, "Karena masih prototipe, maka barang yang dicetak membutuhkan waktu yang cukup lama tergantung jumlah dan ukuran pesanan. Tetap saja, zaman yang terus berkembang memang penuh dengan kejutan."

"Aku tidak ingat semua hal jadi secanggih itu …."

"Apakah kamu sudah mengingat sesuatu?"

"Wabah flu."

Celetukan Nomor 6 memancing kuriositas Lucien. "Oh?"

"Hanya tentang itu, seperti Loveland pernah diterpa wabah flu, begitu. Aku masih tidak ingat apa-apa, tetap saja," terang Nomor 6 kecewa.

"Kamu tidak perlu memaksakan diri. Kita masih punya banyak waktu." Lucien tersenyum sembari mengacungkan telunjuknya. "Aku juga ingin melihat bagaimana kamu tumbuh dan berkembang, Nomor 6."


Lima hari setelah sadar, Nomor 6 yang sudah berhasil duduk meski hanya sekitar lima menit, kini berbaring sama seperti saat dia baru bangun dari tidur panjangnya. Ditemani robot mini yang duduk di samping bantalnya, Nomor 6 memejamkan matanya, memikirkan banyak hal.

"Mengapa Lucien ... nama dan wajahnya, seperti tidak asing?"

[Kata kunci terdeteksi : Lucien]

Nomor 6 melebarkan mata, terperanjat dari posisinya hingga nyaris duduk saking kagetnya. Terdengar bunyi statis halus hampir tak terdengar dari si robot, sebelum akhirnya memberitahukan informasi secara singkat mengenai kata kunci yang dideteksinya.

[Profesor Lucien merupakan salah satu profesor muda di kota Loveland. Menyelesaikan seluruh pendidikannya di Inggris, Profesor Lucien kembali ke Loveland dengan satu tujuan.]

Tujuan yang diklasifikasikan sebagai rahasia, Nomor 6 cukup pintar untuk mengetahuinya. Tentu Lucien tidak akan sembarangan memasukkan seluruh informasi pribadinya dalam robot ciptaannya.

"Apa kau bisa mengubah suasana kamar ini, Robot Kecil?" tanya Nomor 6. "Warna putih itu sangat membosankan—ah!"

Sepasang tangan robot mini memanjang menyentuh kedua sisi pelipis Nomor 6. Ada sensasi listrik kecil menggelikan yang menyetrum kepalanya, tapi tidak terasa menyakitkan sama sekali. Bersamaan dengan proses pengekstrak informasi, sekali lagi mata si robot memancarkan cahaya hijau, kali ini ke seluruh area ruangan, mengubah suasana serba putih menjadi hutan rimbun beratapkan langit malam beribu bintang, walau masih menyisakan perabotan yang ada termasuk jendela yang membiaskan sinar matahari.

Nomor 6 terpukau. Bayangan imajinasi dalam otaknya diwujudkan menjadi realita, meski Nomor 6 tahu kalau semua ini hanya rekayasa optik. Walau tak ingat siapa dirinya, tapi berkat Lucien, Nomor 6 tetap percaya kalau sekarang dia berada dalam zaman yang dipenuhi dengan teknologi. Ditambah lagi Lucien tadi sempat menyebutkan bahwa Nomor 6 bisa terbang ke mana pun dia suka, tentunya saat kondisinya dinyatakan pulih dan siap untuk menjelajah keluar, membuatnya sangat bersemangat dan tidak sabar menunggu momen itu datang.

"Ini indah!" pekik Nomor 6 senang. "Aku memikirkan hutan karena Lucien bilang dia menemukanku di hutan belakang universitas, tapi entah kenapa melihat semuanya bisa terwujud secantik ini, aku ingin menikah di tempat seperti ini!"

[Kata kunci terdeteksi : menikah]

Suara robot membebaskan Nomor 6 dari euforia. Kali ini, informasi yang diberikan membuat Nomor 6 tertegun, kemudian hanyut dalam kesedihan yang merasuki sanubarinya. Hujan hologram tercipta karena emosi Nomor 6 masih terhubung dengan ruangan tempatnya berada.

"Lucien ... mengapa ...?"


"Apa yang kaulakukan padanya?"

Lucien menyesap tehnya. Sama sekali air mukanya tak memperlihatkan emosi apa pun saat Victor bertanya dengan penuh penekanan. "Bukankah seharusnya aku yang bertanya begitu padamu? Kau yang bersama dengannya terakhir kali, benar?"

Victor mengembuskan napas panjang. Kedua tangannya masih menyilang di depan dada. "Hades yang menciptakan wabah, dan kau yang menyelesaikannya. Dari fakta ini, aku yakin kau terlibat dengan Black Swan. Kutanya padamu sekali lagi, apa yang kaulakukan padanya?"

"Aku tidak melakukan apa-apa."

Pria yang menjabat sebagai CEO LFG itu berdiri, merasa dialog yang tercipta sekarang tidak ada gunanya. "Jika kau melakukan sesuatu yang membahayakannya, aku tidak akan memaafkanmu, dan jika aku tahu dia dalam bahaya, kau adalah orang pertama yang akan kucari. Aku pergi."

Ancaman Victor tidak membuat Lucien gentar. Hingga Victor pergi dari laboratorium pribadinya, Lucien sama sekali tidak beranjak, sampai sebuah alarm menyusup ke dalam alat komunikasi transparan yang terpasang di telinga kanannya, menyadarkannya.

[Nomor 6 menunjukkan tanda-tanda hilang kendali. Pemeriksaan lebih lanjut gagal dilaksanakan.]


"Lucien! LUCIEN!"

Kedatangan Lucien disambut oleh pekikan dan isakan dari Nomor 6. Selimut sudah terlempar satu meter dari tempat tidur, dan Nomor 6 terlihat sedang meringkuk dan memeluk tubuhnya sendiri. Air matanya terus mengalir hingga membasahi bantal dan seprai. Sebelum Lucien datang, hologram proyeksi visi otak Nomor 6 sudah lenyap karena histeris yang dialaminya.

"Ada apa? Apa kamu merasa sakit?" tanya Lucien. Dia menepuk lembut lengan Nomor 6, berusaha menenangkannya. "Apa yang sudah terjadi?"

"Kenapa Lucien ... kenapa kamu tidak bercerita padaku sejak awal, Lucien?" lirih Nomor 6. Diremasnya tangan Lucien begitu erat. Lucien bisa merasakan tremor yang sedang menyerang Nomor 6. "Kenapa? kamu tidak bercerita padaku ... kalau kamu mengenalku ...?"

Lucien tak segera menjawab. Tangisan Nomor 6 makin kencang. Selama ini, walau kondisi Nomor 6 relatif stabil, Lucien sudah sejak lama menduga bahwa guncangan psikis Nomor 6 bisa terjadi kapan saja. Maka dari itu, ketika abnormalitas perilaku Nomor 6 terdeteksi, dengan program yang Lucien tanamkan, robot asisten yang selalu menemani Nomor 6 akan langsung melaporkan situasi pada Lucien seperti sekarang.

"Kumohon, tenangkan dirimu, Nomor 6," bujuk Lucien. "Akan kujelaskan semuanya padamu."

"Apa sebenarnya kamu mengetahui namaku, Lucien?"

"Sebelum aku menjawab pertanyaan itu, aku ingin bertanya satu hal." Nada suara Lucien berubah menjadi sangat serius. Ada kesan dingin di dalamnya, berhasil membuat Nomor 6 terdiam. "Apa yang telah kamu dengar dan ketahui?"

"... Menikah."

Robot yang masih melayang di sebelah Nomor 6 lagi-lagi mengeluarkan bunyi statis.

[Kata kunci terdeteksi : menikah

Pernikahan adalah salah satu momen sakral dalam kehidupan manusia. Laki-laki dan perempuan yang saling mencintai disatukan oleh janji suci, bertekad untuk hidup selamanya. Tidak semua pernikahan dapat terjadi meski sepasang manusia saling mencintai. Profesor Lucien dan Subjek adalah salah satunya.]

"Subjek yang dimaksud olehnya adalah aku, bukan?" desak Nomor 6. "Jawab aku, Lucien."

"Apakah kau benar-benar ingin mengetahui kebenarannya?" balas Lucien. "Ini bisa menyakitimu lebih dari sekarang. Aku—"

"Apa kamu pikir dengan menyembunyikan kebenaran tidak akan menyakitiku, Lucien?"

Semua terjadi di luar dugaan Lucien yang sekarang tersentak dalam kebisuan. Mengapa Nomor 6 bisa memberikan respons sehidup ini? Tidak memiliki pilihan lain, Lucien mulai membeberkan realita tanpa dusta.

"Dulunya aku adalah tunanganmu," gumamnya getir. "Seharusnya kita sudah menikah tiga bulan yang lalu, kalau saja ... aku tidak mati."


Nomor 6 terbangun dengan kondisi berkeringat dingin. Dari jendela, terlihat malam telah menguasai bentala dengan eksistensi bulan separuh bersama sekawanan bintang. Tidak ada Lucien di kamar, sementara beberapa bagian tubuhnya seperti kepala dan anggota gerak telah terpasang kabel, yang tersambung dengan robot mini Lucien.

Tangannya beralih menepuk sisi kanan kepala, mencoba mengingat hal-hal yang terakhir kali dijelaskan Lucien sebisa mungkin. Dia dan Lucien sudah bertunangan dan, jika saja tragedi tidak terjadi, mereka sudah menjadi pasangan suami-istri sekarang. Situasi pandemi flu tengah memuncak. Ada sekelompok orang yang menghajar Lucien dan beberapa peneliti lainnya di depan Ultima Bioresearch, karena mereka tidak kunjung menemukan antivirus dan banyak konspirasi justru menyatakan bahwa merekalah di balik penyebab semua bencana itu.

"Argh!" erangnya. "Lucien!"

Rasa sakit mulai menyerang kepala. Karena terhubung dengan si robot, memori yang sedang berputar dalam benak si gadis terproyeksikan pada langit-langit kamar di hadapannya. Lucien yang terjerembab dengan sebilah pisau kecil yang menusuk perutnya. Lucien yang dibawa ambulans. Lucien yang dibawa menuju instalasi gawat darurat. Lucien yang masih berusaha menggenggam tangannya dan mengulas senyum pedih. Lucien yang mengatakan, "Aku sungguh ... mencintaimu." kemudian tidur untuk selamanya ….

Seperti menonton film di bioskop, tetapi ini kenyataan, dan jauh lebih menyakitkan karenanya.

Dia tidak pingsan di dalam hutan seperti yang Lucien katakan di hari pertama dirinya sadar. Kini Nomor 6 ingat semua itu, semua yang terjadi padanya sebelum jatuh pingsan—lebih tepatnya koma—karena syok berat. Air mata begitu cepat mengalir, namun tak ada sedikit pun niat untuk menghentikannya.

Kedua tangannya dia regangkan, memaksakan seluruh tubuhnya yang terasa mati untuk bergerak mendekati berkas cahaya yang memperlihatkan ingatannya, meraba bayang Lucien yang harus menanggung sakit karena sesuatu yang sama sekali bukan salahnya.

Mengapa semua ini harus terjadi? Mengapa Lucien harus pergi meninggalkannya, di saat mereka seharusnya bisa mengikat janji suci di bawah pohon kamfer sesuai janji mereka? Mengapa Lucien harus ... mati?

"Jika aku boleh bertanya, apakah kamu menyesal telah berpartisipasi dalam Proyek Alter Ego, Nomor 6?"

Entah sejak kapan Lucien sudah berdiri di ambang pintu. Nomor 6 tidak menjawab pertanyaan itu. Dia hanya memperhatikan Lucien yang berjalan mendekatinya, kemudian duduk di tepi tempat tidur.

"Lucien …."

Lucien sempat menjelaskan, dalam jeda antara ketika Nomor 6 mendapat kabar Lucien telah meninggal dan ketika Nomor 6 jatuh dalam kondisi koma, Nomor 6 telah menandatangani Pakta Imortalitas dan berpartisipasi dalam Proyek Alter Ego.

Atas dasar alasan manusia yang tak sanggup kehilangan orang yang dicintainya, Proyek Alter Ego merupakan sebuah proyek yang mendukung ide dan merealisasikan kecerdasan buatan yang dapat meniru penampilan, kepribadian, serta emosi orang yang telah meninggal. Walau tidak etis secara kemanusiaan, tetapi banyak yang mendukung proyek ini dan ikut berpartisipasi dalam sesi uji coba selama setahun. Nomor 6 adalah salah satunya.

Sayangnya, kecerdasan buatan tidak memiliki ingatan dari manusia aslinya, sehingga orang-orang terdekatnyalah yang harus mengisi memori si kecerdasan buatan agar sedekat dan seidentik mungkin dengan sosok asli. Dari penjelasan ini, Lucien tidak bisa mengingat nama asli Nomor 6, dan Nomor 6 yang sudah lama koma mengalami amnesia. Nomor 6 adalah kode partisipan, sehingga itulah yang digunakan oleh Lucien untuk memanggil pemiliknya.

"... Apa yang terjadi padaku? Mengapa setelah kamu menjelaskan semua itu, pandanganku menggelap?"

"Aku meyakininya sebagai syok. Otakmu terlalu banyak menerima informasi yang mengejutkan." Lucien mendesah pelan. "Maafkan aku. Seharusnya aku mengetahui kalau ini akan terjadi."

"Aku tidak menyesal." Nomor 6 memejamkan matanya. "Aku sempat tidak mengingat bahwa aku mencintaimu, yang berarti aku gagal dalam proyek ini, 'kan? Tapi setidaknya, aku ingat sekarang, dan aku tidak mau kehilanganmu lagi, Lucien."

"Walau aku bukan Lucien yang sama dengan Lucien yang menemanimu selama ini?"

"Aku tidak peduli," jawab gadis itu. "Kumohon, berjanjilah padaku ... untuk tidak meninggalkanku lagi."

Perjanjian kali ini, Lucien tak memberi afirmasi.


Dusta itu seperti narkotika. Setelah mencoba sekali, akan sulit untuk terbebas dari belenggunya dan akan terus mencari cara untuk mendapatkannya, atau dalam kasus dusta, melakukannya lagi. Semakin banyak menciptakan dosa itu, akan semakin sulit untuk mengakui kebenarannya.

Nomor 6 merupakan subjek yang terlalu hidup, melampaui perspektif dan ekspektasi Lucien terhadap kecerdasan buatan. Berpartisipasi dalam Proyek Alter Ego, Nomor 6 adalah kreasinya yang terkini dan sejauh ini telah memperlihatkan hasil yang cukup memuaskannya.

Misi Proyek Alter Ego adalah untuk mengurangi angka depresi dan bunuh diri yang terjadi akibat kehilangan orang yang sangat berharga. Wabah flu memang sudah berakhir tiga bulan yang lalu, namun tidak dengan dampak yang ditimbulkannya. Orang-orang kehilangan sosok yang membahagiakan mereka, berakhir frustasi, jatuh dalam kesedihan mendalam, dan memilih jalan terakhir dengan meninggalkan dunia ini.

Lucien barangkali sudah menggantungkan lehernya pada seutas tali, kalau saja Proyek Alter Ego tidak menyelamatkannya.

Lucien menciptakan Nomor 1 seminggu setelah Proyek Alter Ego dimulai. Prototipe proyek ini menemui kegagalan hanya dalam beberapa menit, di mana Nomor 1 tidak dapat memproses perintah dan pancaindra buatannya tidak berfungsi kemudian hilang kendali. Selama tiga bulan, Lucien sudah memperbarui kecerdasan buatan berlabel Proyek Alter Ego sebanyak lima kali. Nomor 6 sudah dapat menggunakan pancaindranya, mampu melaporkan ada masalah palsu pada tubuhnya selayaknya manusia normal, merespons ucapan orang lain seperti yang seharusnya, mengolah emosi dengan baik, dan yang terpenting, sembilan puluh sembilan persen sama dengan orang yang diinginkannya untuk ditiru.

Semua yang terjadi tidak lebih dari sekadar karangan Lucien sang penulis takdir untuk Nomor 6. Lucien sengaja menjabarkan bagaimana kondisi kota Loveland impiannya, bagaimana hubungannya dengan Nomor 6 seakan dialah yang merupakan kecerdasan buatan bagi Nomor 6, juga secara sadar berusaha memicu emosi Nomor 6 untuk melihat seberapa hidup dan semampu apa Nomor 6 mengendalikan perasaannya. Semuanya tak lebih dari sandiwara yang kali ini berhasil memuaskan Lucien; hanya butuh satu langkah lagi untuk mencapai mimpinya.

Sebuah pigura foto memperlihatkan Lucien dengan gadis yang serupa dengan Nomor 6. Foto itu diambil ketika keduanya sedang menerbangkan layang-layang, dan Lucien ingat sekali waktu itu sedang musim semi, jauh sebelum wabah mematikan dalam sejarah Kota Loveland datang. Gadis itu adalah korban terakhir, tetapi bukan ditaklukkan oleh virus, melainkan menghilang secara misterius. Tidak ada seorang pun yang mengetahui keberadaannya, bahkan kebanyakan orang telah melupakan bahwa gadis itu pernah ada dan hidup dalam satu garis waktu yang sama dengan mereka, dengan Lucien yang hingga kini masih berusaha merangkai asa menjadi realita.

"Aku merindukanmu."

Lucien selalu berprinsip, bahwa pengorbanan harus selalu dilakukan untuk meraih sesuatu yang diinginkannya. Kebohongan demi kebohongan dia rangkai untuk Nomor 6 dan juga dirinya sendiri, semuanya untuk kebahagiaan mereka berdua.

Atau egoisnya, sebenarnya hanya untuk Lucien sendiri.


Selamat datang di Kota Loveland, sebuah kota kecil yang amat asri dan sangat menjunjung tinggi kesehatan dan kebersihan. Kota ini sempat terkenal di seluruh dunia karena berita mengenai flu misterius yang menimpa hampir seluruh penduduk kota, kemudian hilang tak berbekas secara ajaib pula, padahal tercatat bahwa vaksin yang ditemukan belum sepenuhnya diberikan kepada seluruh lapisan populasi Loveland. Tidak ada yang mengetahui alasan di balik kemunculan dan lenyapnya virus flu yang telah menciptakan teror di seluruh penjuru Loveland. Apa pun itu, kebanyakan warga Loveland tidak terlalu peduli selama mereka kembali bisa menjalankan aktivitas sehari-hari.

Jelas, hilangnya flu misterius bukan berarti tidak disertai dengan kabar pahit. Seperempat populasi Kota Loveland meninggal akibat wabah yang berlangsung cukup lama. Kematian akibat flu terbesar yang terdata dalam satu waktu berlokasi di sebuah area mirip gudang terbengkalai, di mana ratusan jiwa melayang dan seisi gudang dipenuhi warna merah menghitam dan bau besi berkarat khas darah. Tidak hanya itu, tercatat juga jumlah korban bunuh diri selama beberapa bulan terakhir sebanyak dua kali lipat total korban wabah penyakit, menjadikannya alasan yang terkesan logis bagi Lucien dalam memprakarsai Proyek Alter Ego, menutupi motif yang sebenarnya.

Meskipun salah satu petinggi organisasi kriminal—setidaknya itu cap yang diberikan oleh masyarakat Loveland berkat STF—atas nama Hades telah ditangkap sebagai tersangka penyebab wabah flu mematikan, kasus kematian massal di dalam tempat penangkaran itu masih belum bisa terpecahkan. Hades memang mengakui perbuatannya, malah dapat dianggap pengakuan tersebut dideklarasikan dengan penuh kebanggaan. Akan tetapi, mengenai kematian massal yang dikatakan menjadi epilog dari wabah yang diciptakannya, Hades mengatakan bahwa masyarakat Loveland sendirilah yang saling bunuh dan sama sekali tidak ada campur tangan darinya.

Pasca kejadian, merasa Evolver dapat membahayakan masyarakat, STF di bawah perintah Komandan Leto mulai berusaha mengamankan para Evolver satu per satu. Mereka dibawa ke sebuah tempat yang tidak ada satu pun warga sipil ketahui; mereka hanya perlu menjalani hidup tenang, atau bagi Evolver, melarikan diri dengan status buron dan hidup nomaden.


Eli membanting map hitam dengan perasaan frustasi. Di hadapannya, Lucien duduk tenang tanpa bicara. Masih ada kaitan dengan kematian massal dan berdasarkan pengakuan korban selamat, seorang wanita yang juga masuk ke dalam lokasi waktu itu dinyatakan menghilang dari tempat kejadian. Sebagai kenalan si wanita, Lucien sudah dipanggil sebanyak tiga kali termasuk hari ini untuk dimintai keterangan.

"Sebagai orang yang tinggal di sebelah apartemen korban, apa kauyakin tidak mengetahui apa-apa tentang keberadaan korban?" tanya Eli repetitif.

"Kalau saja aku tahu, maka aku pasti sudah memberitahumu mengenainya," andai Lucien. "Di hari itu, kami sama sekali tidak bertemu karena aku menginap di laboratorium pribadiku, sehingga aku benar-benar tidak tahu keberadaannya."

Eli terdiam. Selama tiga kali menginterogasi Lucien, harus Eli akui kalau dia hanya mengulang pertanyaan yang sama terus-menerus, dan Lucien juga memberikan jawaban dan keterangan yang sama sekali tak berubah dan tanpa celah. Merasa pemeriksaan lagi-lagi menemui jalan buntu, Eli memutuskan untuk mengakhiri interogasi.

"Jika kau mengetahui sesuatu yang berkaitan dengan kasus ini, tolong segera beritahu kami," ujar Eli formalitas.

"Tentu," Lucien mengangguk, "terima kasih atas kerja kerasmu dengan berusaha menuntaskan kasus tragedi ini."

"Terima kasih juga karena kaulah yang telah menyelesaikan krisis di Loveland. Semua orang begitu menghormatimu," balas Eli.

Belum lama Lucien pergi meninggalkan kantor STF, Komandan Leto menghampiri Eli dari belakang. Memberi gestur hormat, Eli memusatkan perhatiannya pada sang komandan penuh dengan kepatuhan.

"Ada yang ingin kubicarakan denganmu. Suatu inovasi yang akan meningkatkan kualitas manusia Loveland, dan aku ingin kau yang memikul tanggung jawab pekerjaan mulia ini."

"... Baik, Komandan."


Gavin, maafkan aku. Aku sangat mengagumimu karena perjuanganmu mempertahankan keadilan sangat menginspirasiku. Bahkan, aku sudah menganggapmu lebih dari saudara. Maka dari itu, aku juga ingin mengikuti jejakmu, melakukan apa yang menurutku benar dan dapat menyelamatkan semua orang. Hanya saja, mungkin ketika kita bertemu lagi, kau akan sangat membenciku, dan kita akan menjadi musuh besar.


"Ares, lama tidak melihatmu."

Artemis menyambut kedatangan Ares dengan dingin. Ares hanya melirik Artemis sekilas, sebelum mulai bertanya, "Di mana Helios? Dia memintaku bertemu dengannya."

Wanita cantik berkostum serba hitam itu tak mengeluarkan sepatah kata pun. Kerlingan matanya mengarah pada lorong gelap. Mengerti dengan teka-teki Artemis, Ares memasuki lorong menuju ruang rapat setelah menggumamkan terima kasih.

"Aku telah mengawasimu."

Helios berdiri tepat di samping Ares, menatapnya begitu tajam dan menusuk. Ares hanya berujar, "Katakan apa yang membuatmu memanggilku ke sini."

"Aku ingin menyelamatkannya."

Ares menegakkan kepalanya, kali ini membalas tatapan tajam Helios. "Apa maksudmu?"

"Dia masih ada di sana, terkurung dalam dimensi lain." Helios memulai penjelasan singkatnya. "Aku akan mengakses kabin itu, kemudian membebaskannya dari sana, dan membawanya kembali ke sini."

Ares tahu, kabin yang dimaksud adalah Kabin Hitam. Semula, yang dipikirkannya adalah, satu-satunya cara untuk mewujudkan rencana evolusi manusianya sekaligus melindungi Sang Ratu adalah dengan membuka Kabin Hitam. Hal itulah yang membuatnya mendekati gadis yang memiliki gen Evol dari Ratu itu, berhubungan baik dengannya, agar bisa membangkitkan kekuatannya dan memasuki Kabin Hitam, termasuk melalui mimpi gadis itu.

"Lihatlah, dia tersesat dan kebingungan. Dirimu yang lain juga mencekiknya sampai hampir mati di sana."

Ares tidak tahu apakah Helios sedang menyindirnya atau tidak. Ares tidak peduli. Yang Ares acuhkan sekarang adalah, betapa besar kesalahannya dengan berusaha menciptakan duplikat manusia berbekal halusinasi dan kerinduan bercampur obsesi. Ini bukan pengorbanan, tetapi awal apokalips yang bisa saja terjadi jika tidak segera dihentikan.

"Selama aku pergi, kupercayakan semuanya padamu, Ares."

Kini Ares tahu, apa yang harus dilakukannya.


Lucien memasuki kamar khusus yang dibuatnya untuk Nomor 6. Gadis itu masih tertidur dengan bibir yang melukis senyum. Senyum yang begitu indah, namun fana. Tidak akan bisa mengobati impiannya, dan dengan adanya Proyek Alter Ego, ini hanya akan membuatnya semakin gila.

Lucien menepuk kepala robot asisten mininya, bertitah, "Lakukan proses deaktivasi."

[Perintah diterima. Sedang mempersiapkan proses deaktivasi Subjek 006. Dalam waktu dua puluh detik, Subjek 006 akan memasuki fase inaktif dan tidak dapat dibatalkan.]

Operasi deaktivasi berlangsung sunyi. Kecerdasan buatan itu masih mempertahankan senyumnya, senyum yang akan abadi dan takkan pernah pudar oleh apa pun. Lucien ingat ketika Nomor 6 memintanya untuk berjanji agar tidak meninggalkannya lagi. Jika pada waktu itu Lucien tak mampu menjawab, maka kali ini dia dapat berjanji dengan begitu mantap,

"Aku berjanji."

karena ketika takdir berhasil membawa gadis itu kembali, Lucien telah bertekad tidak akan melepas dan membiarkannya pergi dari kehidupannya, lagi.

Tidak perlu ada air mata, karena sejak awal, menangis takkan pernah dapat menuntaskan masalah dan mencabut akar kesedihan dari tanah relung hatinya secara sempurna.


tamat


A/N :

Ketika fanfiksi ini telah dipublikasikan, berarti Mr. Love: Dream Date atau server SEA Mr. Love sudah resmi ditutup.

Desember 2020 adalah momen ketika aku memainkan gim ini. Stan Zenchou a.k.a Victor, tetapi sempat jatuh pada pandangan pertama pada Ruuchama a.k.a Lucien. Hal ini yang mendasari kenapa fanfiksi ini ditulis dengan Lucien sebagai karakter utamanya. Ada banyak simbolis di sini, walau aku tidak yakin akan semuanya bisa tertebak, sih, hehe.

Tanggal 6 Juni 2022 akan menjadi hari yang pahit bagi komunitas MLDD. Bagi yang melanjutkan petualangan di MLQC, doaku untuk kalian selalu menyertai. Dan bagi yang tidak melanjutkan sama sepertiku, kuharap kalian semua bisa bangkit dari rasa sedih, kecewa, atau semacamnya yang kalian rasakan. Kebahagiaan tidak ada yang selamanya, kita harus tahu itu..

Aku sudah merencanakan fanfiksi ini kurang lebih sebulan yang lalu, tetapi baru kutuntaskan hari ini. Terus terang, aku merasa jauh dari kata puas, tapi aku bisa apa X"D dan judulnya ... sebenarnya dibanding judul, ini lebih kumaksudkan untuk kalian. Say goodbye to all your tears, everybody.

Akhir kata, terima kasih karena telah membaca sampai sini. Sampai jumpa di lain kesempatan!

~himmedelweiss 06/06/2022


side story


Nomor 6 sama sekali tak bisa tidur. Entah perasaan apa yang menggerayangi tubuhnya malam ini, yang jelas rasanya sangat tidak menyenangkan dan begitu mengganggu. Jika Lucien sampai tahu, pasti pemuda itu akan melayangkan kekhawatiran yang juga membuat Nomor 6 ikut khawatir. Oleh karena itulah, Nomor 6 mencoba memejamkan mata sekali lagi, mencoba bernegosiasi dengan alam bawah sadarnya untuk yang kesekian kalinya agar mau menurut dan diajak pergi ke dunia mimpi.

Indra aural Nomor 6 menangkap suara decitan pintu yang terbuka. Di saat-saat begini, Nomor 6 malah refleks tersenyum. Bahkan laba-laba yang sedang merangkai jaring semi transparan di sudut langit-langit kamar pun tahu kalau dia pura-pura tidur sekarang ini. Cepat atau lambat, Lucien pasti akan menepuk pipi Nomor 6, bertanya dengan nada menerka-nerka, "Kamu belum tidur, 'kan?"

Satu hampir dua menit berlalu, tapi tidak ada hal apa pun yang terjadi. Nomor 6 bisa merasakan figur tinggi nan maskulin itu mengisi titik kosong di sampingnya, tapi heran mewarnai pikiran Nomor 6 yang menjadi bertanya-tanya. Mengapa Lucien hanya diam saja?

Sesuatu jatuh ke punggung tangan Nomor 6. Rasanya seperti tetesan air, diikuti dengan kedua teman satu rasnya yang sama-sama memberikan kehangatan, kemudian mengalir jatuh ke alas tempat tidurnya. Nomor 6 masih tidak membuka matanya, walau kuriositas telah membuncah dan kini sedang berusaha menampar kelopak matanya untuk segera menghadapi visi realita.

"Lakukan proses deaktivasi."

[Perintah diterima. Sedang mempersiapkan proses deaktivasi Subjek 006. Dalam waktu dua puluh detik, Subjek 006 akan memasuki fase inaktif dan tidak dapat dibatalkan.]

... Deaktivasi? Apa ... itu ...?

Suara Lucien yang terdengar serak dan dingin menyebar ke setiap ruang telinganya. Nomor 6 mulai tidak bisa mendengar dengan jelas, aromaterapi lavender Lucien tidak lagi tercium baunya, ototnya melemas, tubuhnya terasa melayang absurd, berikut dengan kesadarannya yang seperti menghilang perlahan-lahan.

Begitu besar keinginan Nomor 6 untuk menggapai Lucien yang sekarang berdiri dekat dengannya, tapi Nomor 6 seakan tak memiliki kontrol atas seluruh bagian tubuhnya. Nomor 6 tak lagi bisa membuka mata untuk melihat Lucien. Nomor 6 tak lagi bisa membuka mulut untuk meminta tolong pada Lucien. Hingga pada momen kesadarannya nyaris benar-benar direnggut keputusasaan, Nomor 6 secara ironi bisa mendengar suara Lucien berbisik penuh determinasi, entah memang kenyataan atau Nomor 6 saja yang berhalusinasi.

"Aku berjanji."

Mulai sekarang dan selamanya, Nomor 6 akan selalu tersenyum, meski dia sudah mati.


ALTER EGO PROJECT

Founder : Professor Lucien

Status : Discontinued

[Deactivation of the almost-completed AI of Subject 006]


no more tears, no more lamentation. farewell.


~himmedelweiss 06/12/2022