Disclaimer: Naruto and all characteris belong to Masashi Kishimoto

SasuhinaGaahina fanfiction

Alternatif Universe

Ooc, Typo, DLDR

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Happy Reading! :)

Hinata melirik pada samping kanannya dan seketika raut wajah terlukanya tak dapat ia sembunyikan begitu melihat pria yang telah menghancurkan hatinya semalam berada tepat di sebelahnya, keinginan untuk terisak saat itu juga begitu kuat sehingga ia dengan cepat mengalihkan wajahnya dan merunduk semakin dalam.

Demi Kami-sama ia begitu memohon dalam hati setidaknya biarkan ia tenang untuk sesaat, Hinata belum siap bertemu seseorang yang berhasil mempermainkan hatinya begitu dalam.

"Ayo, kau akan merasa lebih nyaman duduk di sana." Sasuke dengan lembut menyentuh tangan Hinata untuk mengajaknya berdiri, tapi dengan cepat gadis itu hempaskan.

"Jangan menyentuhku dan jangan berbicara padaku!" Bisik Hinata dengan nada dingin dan bergetar, matanya menatap tajam Sasuke begitu merah berusaha mati-matian menahan air mata agar tak keluar lagi. Tapi dengan cepat gadis itu alihkan kembali pandangannya, duduk membelakangi Sasuke.

Pria Uchiha itu untuk sesaat terdiam cukup syok, tak mengerti mengapa Hinata terlihat sangat marah dan terluka seperti ini.

"Kau tidak bisa tiba-tiba memintaku melakukan hal itu, aku sedang tak ingin memaksamu." Ujar Sasuke datar berpikir Hinata hanya sedang merajuk seperti biasa.

Terlihat pundak gadis itu menghela napas dengan berat dan hanya mengabaikan ucapan Sasuke. Pria itu bergerak mendekat dan merapihkan sedikit untaian rambut Hinata ke belakang telinga lalu bibirnya berbisik pelan.

"Duduklah bersamaku di depan, aku tak akan membuat perjalanan ini membosankan untukmu." Bibir pria itu begitu dekat seolah berusaha memberikan kecupan kecil pada sisi wajah Hinata. Mendapat perlakuan seperti justru membuat Hinata benar-benar tak bisa menahan air matanya, hatinya begitu ngilu menyadari jika semua ucapan dan sikap pria itu kini benar-benar hanyalah kepalsuan.

"Hentikan! Kumohon hentikan! tak bisakah kau sekali saja mendengarkan apa yang benar-benar aku inginkan..." Hinata dengan cepat berdiri dan berbalik menghadap pada pria itu, satu titik air mata mengaliri tak tertahan di pipinya dan dengan tergesa gadis itu seka. Napasnya sudah terengah-engah menahan sekuat tenaga agar tak menangis.

'Kami-sama kenapa rasanya sesakit ini.' batinnya sudah benar-benar menangis, eksistensi Sasuke di dekatnya langsung berhasil meluapkan kepedihannya.

"Hinata, aku tak bermaksud menyakitimu." Sasuke ikut berdiri dan berusaha mendekat dengan raut wajah tak mengerti.

"Tapi sayangnya, kau sudah melakukanya!" Balas Hinata tajam kemudian mendorong bahu Sasuke mencoba keluar dari barisan kursi dan segera memanggil-manggil petugas maskapai.

"Permisi... Permisi... Permisi..." Ujar gadis itu panik dengan nada sedikit tinggi.

"Ya Miss ada yang bisa saya bantu?" Seorang pramugari mendekat dengan ramah bertanya.

"Tolong usir pria ini dari dekatku, dia tak seharusnya berada di sini." Balas Hinata memohon.

Sasuke semakin mengerutkan keningnya menatap sikap gadis itu.

"Tuan, tolong tunjukkan kartu boarding pass anda." Pinta sang pramugari.

Sasuke mengangkat satu alisnya menatap pramugari itu, tak percaya akan situasinya saat ini. Merasa Sasuke hanya diam saja untuk beberapa saat Pramugari itu kembali mendesak.

"Tolong segera tunjukkan kartu boarding pass anda, jika tidak anda harus segera keluar dari pesawat ini karena sepuluh menit lagi kami akan lepas landas."

Sasuke memutar matanya dan dengan malas mengeluarkan selembar kertas kecil panjang dari saku celananya. "Sebuah pertanyaan bodoh menanyakan hal itu, jika aku sudah bisa memasuki pesawat ini." Sindir Sasuke tak suka.

Sang pramugari segera melihat kertas itu dan begitu melihat nama pria di hadapannya wanita tinggi itu seolah tertampar menyadari sesuatu. "Ah, Tu-tuan Uchiha ma-maaf atas ketidak nyamanan ini. Silahkan ambil tempat duduk anda dengan nyaman, kami akan mengantarkan keperluan anda jika dibutuhkan."

Sang pramugari segera mengangguk-angguk meminta maaf, karena boarding pass itu benar atas nama Uchiha Sasuke yang telah ia cari tahu kursi penumpang Hinata dari Ino dan me-refund tempat duduknya dengan nama Sasuke. Serta alasan yang lebih besarnya adalah karena Pramugari itu mengetahui dengan jelas keluarga Uchiha merupakan salah satu investor terbesar di maskapai mereka, karena ini perjalanan dinas maka tentulah perusahaan tempat Hinata bekerja memilih maskapai yang masih satu naungan dengan group perusahaannya.

"Maaf Miss, Tuan Uchiha memang pemilik kursi yang berada di samping anda. Kalau begitu saya permisi." Sang Pramugari mengangguk pada Hinata dan Sasuke kemudian kembali berjalan ke depan sambil membantu mengarahkan orang-orang yang baru memasuki pesawat agar segera duduk.

"Haaah... Aku tidak percaya ini." Kedua tangan gadis itu terangkat ke samping wajahnya seolah lelah dengan segala kekuasaan Sasuke.

"Kalau begitu biar aku saja yang keluar dari pesawat ini." Lanjutnya dan dengan cepat berusaha mengeluarkan barangnya dari kabin di atas tempat duduk.

"Hei hei, ada apa denganmu? Jika kau marah seperti ini aku tak tahu letak kesalahanku." Tuntut Sasuke mencoba menghentikan gerakan gadis itu. Beberapa orang di sekitar mereka mulai melirik dengan pandangan tanya atas sedikit kegaduhan yang Sasuke dan Hinata ciptakan.

"Lepas, lepaskan aku Uchiha Sasuke! Hiks... Hahh... Lepas!" Hinata terus memberontak saat tubuh pria itu berusaha melingkupinya dan memeluknya dari belakang.

"Hiks... Kumohon lepaskan aku..." Pinta gadis itu kini dengan pelan dan lelah, karena Sasuke cukup bertenaga dan ia dalam kondisi lelah belum memakan apapun semenjak kemarin sore.

"Ssshhh... Tenanglah, aku tak akan menyakitimu, akan kulepaskan jika kau mau menceritakan apa yang terjadi." Sasuke terus membisikkan kata-kata penenang sambil memeluk Hinata erat dari belakang, sementara Hinata masih terus terisak.

"Miss anda baik-baik saja? Apa orang ini mengganggu mu?" Tanya seorang pria paruh baya yang khawatir akan kondisi gadis itu.

"Kumohon kita pindah saja ke depan, disini terlalu banyak orang. Aku akan mendengarkan apapun keluhan mu bahkan jika kau ingin menampariku. Kumohon?" Sasuke mendesak kembali karena kini mereka mulai menjadi pusat perhatian.

"Kumohon ya, ayo jangan menangis." Pria itu mulai berusaha membalikan tubuh Hinata dan segera menyeka air mata gadis itu, untunglah Hinata tidak menolak lagi karena dia pun merasa tak enak mengganggu penumpang lain jika Sasuke terus memaksa.

"Dia baik-baik saja, hanya pertengkaran rumah tangga." Jawab Sasuke asal agar langsung membungkam orang-orang yang memperhatikan mereka berdua. Kini dengan perlahan Sasuke menggenggam satu tangan Hinata dan mengajaknya berjalan ke depan dimana ia sudah memesan dua kursi businessclassyang pada penerbangan kali ini tidak terlalu banyak penumpangnya.

"Duduklah." Sasuke menyentuh pundak Hinata hati-hati mempersilahkan gadis itu duduk, kemudian ia ikut duduk di sampingnya dengan satu tangan mereka yang masih tertaut.

"Sekarang maukah kau menceritakan apa yang terjadi?" Tangan kanan Sasuke yang bebas merangkum sisi wajah Hinata agar mereka saling berpandangan.

Hinata memandang berkaca-kaca pada mata sekelam malam itu, ia ingin meledak-ledak marah tapi mengapa sikap Sasuke begitu polos seolah tak terjadi apapun?

"Hahh ..." Tes... Setitik air dengan nakalnya kembali mengaliri pipinya, bibirnya bergetar kelu untuk berucap.

"Kumohon, bicaralah. Kau tahu? Aku ketakutan setengah mati saat kau tiba-tiba tak ada di pesta dan ponselmu tidak aktif. Kau merasakannya? Debaran jantungku begitu cepat hingga terasa sakit menghawatirkan mu." Sasuke membawa genggaman tangan mereka ke tengah dadanya, membuat mereka sama-sama merasakan degup jantung tak beraturan itu.

"K-kau mem... mempermainkanku." Bisik Hinata akhirnya dengan nada serak, masih memandang terluka.

Pria itu mengerutkan dahi ingin bertanya lebih lanjut, namun tiba-tiba suara pengumuman dan pramugari yang mendekat mengingatkan agar mereka segera memasang sabuk pengaman karena pesawat akan segera lepas landas. Untuk sesaat Sasuke terpaksa melepaskan tautan tangan mereka untuk memasang sabuk pengamannya dan akan membantu Hinata meskipun gadis itu menahannya.

Sekitar 15 menit akhirnya pesawat take off dan turbulensi pesawat mulai stabil.

"Apa yang aku lakukan sehingga kau berpikir aku begitu?" Tanya Sasuke kembali saat keadaan sudah mulai tenang.

Hinata hanya mendengus geli dan melirik Sasuke tak percaya.

"Sasuke, aku bukanlah wanita bodoh. Kau sengaja membiarkan aku menunggu di meja karena kau harus menyembunyikan sesuatu dariku kan? Kau mungkin tak menyadarinya, tapi aku melihatnya dengan jelas." Ucap Hinata menatap tajam Sasuke, kini energinya mulai berganti dengan kemarahan.

"Dan hal apa yang kau lihat itu?" Balas pria itu santai.

"Aku melihatmu memeluk seorang wanita dengan begitu mesra, dan kau bahkan mencium rambutnya, dan dan k-kau membiarkan dia duduk dipangkuan mu dengan hanya seutas kain di tubuhnya." Suara Hinata sedikit terbata-bata karena tenggorokannya begitu sakit bahkan hanya untuk menggambarkan kembali kejadian itu.

"Jika kau memiliki wanita lain, tolong berhenti berbicara padaku dan bertingkah seolah kau peduli!" Peringat Hinata dengan nada tegas.

Melihat ekspresi Hinata yang seakan ingin murka pria itu justru menyeringai kecil. "Jadi, kau baru saja menjelaskan bahwa kau cemburu hm?" Tanya Sasuke menaikan satu alisnya menggoda.

"Cemburu?! Apa? Tidak! Bukan seperti itu! Ah, sudahlah kau tak akan pernah mengerti." Gadis itu kini merajuk dan akan berbalik memunggungi Sasuke, tapi segera pria itu tahan lengannya.

"Tunggu, oke baiklah akan kujelaskan." Sasuke sedikit menggaruk bawah rahangnya merasa bingung.

"Pertama kau salah sangka, aku tak berusaha menutupi apapun darimu. Aku hanya mengobrol sebentar dengan mereka untuk menjelaskan bahwa aku sedang bersamamu dan memberitahu agar mereka menerimamu dengan ramah. Kedua, wanita itu bukanlah jenis "wanitaku" seperti yang kau maksud, dia-- adalah adik perempuanku." Jelas pria itu tenang.

Mendengar penjelasan itu Hinata langsung ternganga, tidak bukan merasa mengerti tapi justru semakin marah.

Gadis itu dengan kesal mendorong bahu Sasuke cepat. "Uchiha brengsek! Berhenti membodohiku! Kalian tidak mirip sama sekali, dan kau berani memberitahuku kalian adalah saudara? Wah, lelucon macam apa ini?!" Mulutnya terbuka tak percaya.

"Lihat? Kau tak akan percaya jika kita tidak bertemu langsung dengannya, karena itu aku mencoba menjelaskan dulu keadaannya. Namanya adalah Shion, dan secara teknis dia bukanlah adik kandungku, tapi kita sudah bersama sejak 17 tahun yang lalu." Pria itu berhenti sesaat mencoba menilai reaksi Hinata.

"Dan?" Tuntut Hinata.

"Kedua orang tuanya adalah sahabat orang tuaku dan mereka meninggal dalam sebuah kecelakaan beruntun di tol, keluarganya yang lain tinggal di luar negeri. Saat kecelakaan itu terjadi umurnya masih 5 tahun, dan aku sudah berumur 10 tahun. Dia tak ingin pergi dari Jepang jadi orang tuaku mengambil alih hak asuhnya dan diberikan dana secara teratur untuk biaya hidupnya dari pengacara keluarganya, dia diberikan warisannya ketika menginjak umur 21 tahun. Dulu aku begitu nakal, dan menganggap semua orang harus menuruti kemauanku karena aku anak terakhir di keluargaku. Tapi begitu Shion datang, Ibuku memberikan tanggung jawab padaku agar aku bisa menjaga dan menjadi kaka yang baik untuknya. Dia membuatku belajar caranya bertanggung pada suatu hal, menjadikan aku lebih dewasa, dan memiliki kontrol pada apa yang kulakukan." Penjelasan panjang Sasuke mulai membuat Hinata sedikit mengerti, tapi seolah tetap ada yang mengganjal dalam hatinya.

"Dan karena kalian tidak memiliki ikatan darah, kau pernah merasakan debaran untuknya begitu?" Selidik Hinata dengan sedih.

"Tck, hidupku bukanlah drama picisan Hinata. Aku masih mengerti pada batas moral sebagai seorang kakak laki-laki. Jika kau berpikir aku pernah melakukan hal yang tidak-tidak dengan Shion mungkin kau terlalu banyak membaca Novel. Jika orang lain melihat mungkin sentuhan fisik diantara kita begitu dekat itu karena physical touch adalah caranya mengungkapkan kasih sayang. Dulu dia memiliki tubuh yang lemah, setiap aku pulang sekolah aku selalu membantunya belajar, bermain bersamanya, dan mengajarkan hal-hal yang tidak bisa ia lakukan di luar karena ia home schooling. Hingga itu membentukku menjadi pria yang disiplin dan bisa mengatur semua hal disekitar dengan baik." Pria itu kembali menatap Hinata mencoba menilai reaksinya.

Gadis itu untuk sesaat terdiam mencoba menyerap dan memahami semua hal itu, tapi rasa amarahnya masih belum terselesaikan. Kedua tangannya mulai bertepuk tangan pelan beberapa kali.

"Cerita yang bagus, sekarang tolong biarkan aku beristirahat."

"Apa? Tidak, aku sungguh berkata jujur padamu. Tck, tunggu lihatlah ini jika kau tak percaya." Sasuke dengan cepat merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel dan membuka galeri fotonya.

"Kau lihat, ini fotoku dan Shion saat kami masih kecil. Lihatlah tulisan tahun yang tercetak pada buku yang ia peluk, itu sudah 17 tahun yang lalu, jadi kumohon percayalah padaku." Sasuke mendekatkan layar ponselnya agar Hinata bisa melihatnya lebih jelas, gadis itu tertegun cukup syok dan meraih ponsel Sasuke untuk memperbesar gambarnya.

Ibu jari gadis itu mengelus naik turun wajah Shion. "Dia begitu lucu." Bisik Hinata tanpa sadar, dan entah mengapa hatinya berkata mereka cukup terlihat mirip.

"Yeah, sebenarnya cukup sulit membuat dia tersenyum pada awalnya karena rasa syok atas kematian orangtuanya membuat dia sempat tak mau berbicara pada siapapun." Sambung Sasuke.

"Bagaimana foto dia sekarang?" Pinta Hinata.

Kemudian Sasuke menggulir beberapa kali sampai terlihat foto Shion yang sedang berdiri di depan menara Eiffel. Benar, batin Hinata mengiyakan gadis itulah yang ia lihat saat di pesta. Seorang gadis berperawakan tinggi dengan kaki jenjang disertai rambut pirang lurus namun sedikit bergelombang di bawahnya. Pada dasarnya kedua tubuh Hinata dan Shion hampir terlihat sama namun gadis itu sedikit lebih kurus dibanding Hinata yang tubuhnya berlekuk dibeberapa bagian.

"Dia terlihat cantik." Ucap Hinata pelan tak bisa berbohong, kini dengan nada yang sudah mulai tenang dan mengembalikan kembali ponsel itu pada Sasuke.

"Yeah, tapi aku lebih menyukai wajah cantik lain yang kini sedang ku tatap." Ujar pria itu bersungguh-sungguh menatap Hinata dalam.

"Berhentilah menggombal, aku masih marah padamu." Mulut Hinata mencebik tak suka.

Sasuke mulai bisa terkekeh pelan melihat reaksi Hinata.

"Dan pesta itu adalah pertama kalinya kalian bertemu pada hari itu?" Tanya Hinata ingin tahu, mengingat sikap gadis itu yang sangat senang melihat kedatangan Sasuke.

"Tidak, kau tahu? Sebenarnya temanku yang berulang tahun adalah pacar Shion."

"Apa?" Hinata seketika membola dan memegang lengan Sasuke saking terkejutnya.

"Yup, kini kau menyadari dimana letak kesalahpahamanmu. Aku tak mungkin memiliki perasaan padanya saat ia memiliki pacar dan aku memiliki wanita lain dalam hatiku." Balas Sasuke dengan isyarat tertuju untuk Hinata, gadis itu sedikit menggigit bibirnya kini rasa berdebar itu mulai hadir kembali dalam hatinya.

"Setelah mengantarkanmu ke hotel, aku menerima panggilan bahwa ia baru saja sampai di Bandara Paris tengah malam, ia sengaja datang mendadak untuk mengejutkan pacarnya yang tak lain temanku di pesta itu. Itu sudah sangat larut malam sehingga cukup merepotkan untuk check in kamar baru jadi aku mengizinkannya menginap di kamar hotelku, tunggu-- biarkan aku menyelesaikan kalimatku sebelum kau memikirkan hal aneh lainnya dalam kepala kecilmu itu." Ujar Sasuke cepat melihat reaksi Hinata seakan ingin mendebat.

"Aku harus menceritakan ini jika kau benar-benar ingin mempercayaiku, kami tidak melakukan apapun meskipun dia menginap di kamarku. Aku tertidur di sofa karena kamarku hanya memiliki satu ranjang." Lanjutnya.

"Apa buktimu kau dan dia sama sekali tidak tidur bersama?" Tantang Hinata merasa tak mau terbodohi lagi.

"Apa kau mencium aroma lain di tubuhku kemarin?" Tanya Sasuke mengangkat alis.

"Kau bisa saja mandi dengan sebotol sabun mandi." Balas Hinata cepat tak mau kalah.

Sasuke mendekati telinga gadis itu dengan seringai kecilnya, "Kalau begitu kau ingin memeriksa seluruh tubuhku untuk memastikan apakah ada bekas kecupan atau cakaran tangan seorang wanita? Baiklah, ayo kita periksa di kamar mandi." Bisiknya dengan nada menggoda, Ia berusaha menarik tangan Hinata mengajaknya berdiri.

"Tu-tunggu! Oke, oke aku percaya." Balas Hinata panik sedikit menjerit, untunglah hanya beberapa orang di sekitar mereka.

"Jika kau tak percaya pun tak apa-apa, aku benar-benar bisa membuktikannya padamu. Mau mengecek tubuh atasku dulu? Aku bisa melakukannya disini." Sasuke mulai bergerak membuka kancing-kancing kemeja putihnya tapi Hinata dengan panik menahannya.

"Tidak! Tolong, hentikan hentikan. Y-ya a-aku percaya padamu oke? Sekarang tolong berhentilah. Apa kau gila? Aku tak mau dianggap akan berbuat mesum di pesawat ini." Balas Hinata berbisik dengan panik melirik ke segala arah takut ada yang memperhatikan tingkah Sasuke, untunglah tidak ada terkecuali hanya seorang anak laki-laki berumur sekitar 5 tahun yang ibunya sedang tertidur di sampingnya.

"Momy, momy that guy wanna take off his clothes! Momy..." Anak kecil itu berusaha mengguncang lengan ibunya pelan yang sedang tertidur.

"What? No no no, he's just joking oke?" Desis Hinata gelagapan, dengan kedua tangan yang bergerak cepat memberi sinyal menyangkal.

Sasuke tertawa pelan, tawa pertamanya hari itu yang terasa begitu lega. "Sudah biarkan, ibunya sedang tertidur." Ucap pria itu meraih tangan Hinata agar mereka kembali berhadapan.

"T-ttapi..." Hinata masih sedikit melirik takut tapi mau tak mau arah pandangannya kini mengarah pada Sasuke. Satu tangan pria itu kembali merangkum sisi wajah gadisnya.

"Aku tahu hubungan kita mungkin akan terasa sulit, tapi aku mohon ceritakan padaku apapun itu yang membuatmu tidak merasa nyaman. Entah itu ayahmu akan dinyatakan bersalah atau tidak, tapi aku ingin hal yang terjadi diantara kita berhasil." Kini kedua tangan pria itu meraih satu tangan Hinata ke dalam genggamannya dan menciumnya dalam.

"Kau setuju?" Tanya pria itu kembali, meminta kejelasan hati Hinata. Gadis itu terdiam dengan pikiran yang berkecamuk, pria ini benar-benar bisa membuat hati dan pikirannya serasa naik rollercoaster. Ia merasa bisa diterbangkan dan dihempaskan kapan saja, tapi kenapa? Semua hal yang Sasuke lakukan terlihat begitu tulus, ataukah ia hanya begitu bodoh untuk menyadarinya?

"Entahlah, saat ini aku hanya ingin beristirahat." Jawab Hinata lemah, pikiran dan hatinya belum bisa bersinkronisasi memahami keadaan yang sebenarnya.

"Hmm baiklah, kau memang membutuhkannya karena wajahmu terlihat siap pingsan kapan saja. Apa kau sudah makan sebelumnya?" Tanya Sasuke khawatir melihat raut wajah gadis itu.

"MmmMmm, sekarang aku hanya ingin tertidur." Gumam Hinata mulai menutup matanya.

"Oke, beristirahatlah. Aku akan mulai berkerja di sampingmu, kau tidak keberatan?" Tanya Sasuke yang mulai meraih Macbooknya untuk memeriksa beberapa hal.

"Hmm, tak apa." Gumam gadis itu pelan, sudah siap terjatuh dalam mimpi.

.

.

.

Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 13 jam akhirnya mereka sampai di Bandara Internasional Narita, kini mereka sedang berjalan keluar dari gate kedatangan internasional. Sasuke memperhatikan Hinata yang semenjak turun dari pesawat sibuk mengetik sesuatu di ponselnya.

"Hinata..." Seruan seseorang terdengar dari depan mereka, membuat kedua orang itu otomatis mengangkat arah pandangannya.

"Gaara? Apa yang kau lakukan malam-malam disini?" Tanya Hinata cukup terkejut.

Pria yang masih memakai setelan jas kerjanya itu melangkah mendekat dan memberikan senyum hangatnya pada gadis Hyuga itu.

"Tentu saja menjemputmu, aku takut kau kesulitan mencari taxi di malam hari seperti ini." Jelas pria itu terlihat lega tapi raut wajah berserinya terhenti saat melihat Hinata bersebelahan dengan pria yang tidak ia suka.

"Astaga, Gaara kau terlalu memaksakan dirimu. Sekarang sudah pukul 9 malam di Tokyo, seharusnya kau beristirahat setelah pulang kerja. Maaf sekali, aku memberitahu jadwal kepulanganku bukan bermaksud memaksamu menjemput." Jelas Hinata dengan pandangan tak enak.

"Tak apa, ini keinginanku yang ingin menjemputmu. Siapa tahu kau ingin langsung ke rumah sakit? Aku bisa sambil menjelaskan keadaan ayahmu." Jawab pria itu, berusaha tetap ramah pada Hinata dan mengabaikan Sasuke meskipun suasana hatinya sedikit bergemuruh karena bertanya-tanya kenapa mereka harus pulang bersama.

"Ekhmmmm!!!" Sasuke berdeham cukup keras karena merasa menjadi nyamuk diantara kedua orang itu.

"Kalau begitu ayo, dimana kopermu?" Tanya Gaara lagi masih terus mengabaikan Sasuke.

Hinata segera menatap Sasuke, "Permisi Tuan Uchiha, tolong kemarikan koperku." Pinta Hinata ingin meraih gagang kopernya tenang.

Sasuke mengeraskan rahangnya menahan kekesalan, pria itu tak menuruti keinginan Hinata namun justru maju mendekati wajah Gaara dengan tatapan tajam. "Tak perlu repot mengantarnya, karena dia akan pergi bersamaku. Jadi sebaiknya kau berbalik dan pulanglah!" Geramnya dengan nada dingin, Gaara balas mengangkat dagunya tak gentar.

"Aku akan pergi jika Hinata yang meminta." Balas Gaara menaikkan alisnya tak mau kalah dengan nada menantang.

Hinata hanya bisa memutar mata dan menghela napas lelah, keadaan seperti ini akan selalu terjadi jika kedua pria ini bertemu. Maka dari itu gadis itu segera berdiri di antara mereka sambil menghadap Sasuke dan mendorong dada pria itu ke belakang dengan kedua jarinya.

"Tolong berikan koperku sekarang!" Perintah Hinata dengan nada datar.

"Nani?!" Sasuke tercengang justru Hinata memilih dia untuk menjauh.

"Ya, tolong belajarlah untuk tidak memaksaku. Dan ingat aku masih marah padamu, aku tidak akan percaya kata-katamu sebelum aku berbicara dengan gadis itu. Sekarang tolong lepaskan koperku." Perintah Hinata mencoba terlihat tegas menatap Sasuke.

Sasuke akan membuka mulutnya tapi Hinata segera mengangkat tangannya melarang. "Em em! Kalau kau berusaha memaksaku aku tak ingin berbicara denganmu lagi." Amethystnya sedikit melotot mengancam.

Gaara yang berdiri di belakang Hinata menyeringai puas menyaksikan kekalahan Sasuke, sementara pegangan pria itu pada handle koper Hinata mengerat. Ia merasa kalah tapi perkataan gadis itu benar, dia bersalah karena sudah membuatnya salah paham, dengan perlahan cengkraman pria itu mengendur dan berberat hati melepaskan koper Hinata.

"Hn." Jawab Sasuke tak suka.

"Mari Hinata, aku bawa kopermu ke bagasi mobilku." Gaara segera meraih koper itu dan mengajak Hinata berjalan.

"Ah tidak perlu Gaara, itu berat." Ujar Hinata menolak.

"Tidak apa ayo." Gaara dengan semangat berjalan lebih dulu menjauh, membuat Hinata tak bisa lagi mencegahnya.

"Eh, em baiklah." Balas gadis itu pasrah, dan akan mulai berjalan menyusul namun segera berbalik kembali saat pergelangan tangannya tertahan.

"Apa kau benar-benar ingin pergi bersama pria itu atau hanya merasa tak enak?" Selidik Sasuke dengan pandangan intens bertanya.

"Aku memang ingin pergi dengannya, lagipula apa kau tak merasa bosan terus melihat wajahku selama belasan jam padahal aku hanya tertidur di sebelahmu?" Tanya Hinata tak mengerti.

"Tak pernah." Balas pria itu cepat tanpa ragu.

Oke, jawaban pria itu memang selalu menggodanya dan membuat ia harus menenangkan hatinya dan memutar otak.

"Dengar Sasuke apapun alasanmu, tolong lepaskan tanganku sekarang. Lagi pula aku dan Gaara memiliki kepentingan, dia harus menjelaskan apa saja yang terjadi dengan Tou-san ku selama aku pergi. Jika kau memang tak ingat atau bahkan tak peduli, aku memiliki orang tua yang sedang sekarat dan tentu saja aku akan langsung ke rumah sakit, bukan bersantai di rumah." Jelas Hinata mendesak.

"Aku juga bisa mengantarmu ke sana."

"Tapi apa kau tau bagaimana keadaan Tou-sanku selama kita di Paris? Apa kau yang menjaganya selama aku pergi? Tidak bukan. Jadi selamat malam Uchiha-san." Kini Hinata mencoba melepaskan genggaman tangan Sasuke dan segera berbalik dengan tergesa menyusul langkah Gaara yang sudah beberapa meter di depannya.

Sasuke mendengus tak percaya, "Uchiha-san apa-apaan panggilannya itu?"

Setelah kepergian gadis itu Sasuke segera meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.

"Shion, kau ada waktu untuk pergi ke Jepang?" Tanya Sasuke begitu sambungan terhubung.

.

.

.

Kini Hinata sedikit berlari kecil untuk menyamai langkah Gaara.

"Oh ya, dimana mobilmu terparkir?" Tanya Hinata pada Gaara mencoba membuka obrolan karena tak enak membiarkan pria itu pergi lebih dulu.

"Di depan gate aku sudah meminta izin karena ternyata benar kau sesuai jadwal jadi tidak parkir terlalu lama." Balas pria itu melirik Hinata tersenyum.

"Ah syukurlah." Balas Hinata lega karena tak perlu membuat Gaara berjalan jauh.

Saat mereka mulai mendekati mobil terlihat seseorang berjalan dan akan melewati mereka tapi pria itu terlihat sedikit terkejut dan membungkuk pelan pada Hinata.

"Hyuga-san." Sapa pria itu singkat lalu segera kembali berjalan.

"Ah, Nara-san." Balas Hinata pelan dan membiarkan pria itu kembali berjalan.

"Siapa dia?" Tanya Gaara.

"Asisten Sasuke."

"Oh." Balas pria itu mengangguk dan mulai menghidupkan alarm mobilnya lalu bergerak ke belakang menyimpan koper Hinata.

Setelahnya mereka melakukan perjalanan menuju Rumah Sakit dimana ayah Hinata dirawat.

.

.

.

Sambil membawa kopernya, Hinata mengikuti langkah Gaara di lorong Rumah Sakit dengan sedikit berdebar dan antusias saat menyadari pria di depannya ini membawa ia ke ruang perawatan bukan ruang ICU, yang menandakan berarti ayahnya sudah sadar dan cukup kuat.

Begitu pintu ruang perawatan dibuka, tatapannya tak kuasa menahan haru melihat ayahnya sedang bersandar pada ranjang perawatan yang ditinggikan sambil berbincang-bincang pelan dengan seseorang di sampingnya.

'Kami-sama, terima kasih.' batinnya berucap penuh syukur lantas langkahnya tak kuasa segera melesat mendekat sang ayah dan memeluknya erat.

"Tou-san... Tou-san... Syukurlah kau sudah sadar." Bisik khidmat Hinata benar-benar merasa bersyukur dalam pelukan ayahnya.

Terasa usapan lembut pada punggungnya dan terlihat Hiashi memberikan senyum kecilnya meskipun pria paruh baya itupun merasa sama bahagianya bisa kembali menatap putri satu-satunya dengan kondisi tubuh yang sudah jauh lebih baik.

"Tou-san baik-baik saja putriku, tou-san baik-baik saja..." Balas Hiashi menenangkan. Terasa sedikit tetesan basah di pundak kirinya, lantas pria itu sedikit melerai pelukan diantara mereka.

"Hei sudahlah, jangan menangis. Kini Tou-san sudah jauh lebih baik." Ucap pria itu menatap putrinya dengan tatapan sedikit berkaca-kaca, Hinata mau tak mau segera menyeka sedikit air matanya dan masih mengamati wajah ayahnya untuk beberapa saat.

"Hinata begitu bersyukur Tou-san terlihat jauh lebih baik, maafkan Hinata karena meninggalkan Tou-san sendirian selama beberapa hari kebelakang ini." Ucap Hinata begitu menyesal, dengan raut wajah yang terlihat ingin menangis kembali.

"Hei sshhh shhh... Tak apa, putriku pasti memiliki alasan yang penting. Tou-san disini ditemani oleh orang-orang dan para pegawai Rumah Sakit yang baik. Sudah jangan khawatir lagi." Hiashi mengusap kepala anaknya dengan lembut namun masih dengan gerakan yang lemah.

"Iya benar Hinata-san, kemarin siang aku kemari untuk mengecek keadaan Hyuga-san syukurlah beliau sudah sadar, kami juga menyempatkan waktu untuk berdiskusi beberapa hal baru yang bisa kita gunakan sebagai pembelaan di sidang berikutnya." Suara seorang pria yang duduk di sisi ranjang perawatan Hiashi membuat Hinata sedikit tersentak dan segera membungkuk memberi salam.

"Ah Hatake-san, apa kabar? Maaf aku tadi belum menyadari keberadaan anda." Ujar Hinata membungkuk beberapa kali dengan nada menyesal.

"Tak apa, itu wajar mengingat kau pergi saat Hyuga-san masih dalam keadaan kritis. Oh ya karena ini sudah malam dan Hyuga-san butuh istirahat aku simpan dokumen pembelaan ini disini, kau bisa membaca dan mempelajarinya juga karena para saksi akan diminta melakukan keterangan kembali nanti. Baiklah selamat malam Hyuga-san, Hinata-san, dan... Jaksa Sabaku." Kakashi sedikit mengangguk pada Gaara, dengan pandangan cukup terkejut melihat jaksa yang menangani kasus ini bisa berada malam-malam di ruang perawatan clientnya.

"Malam Hatake-san." Balas Gaara pelan yang dari tadi mengamati kegiatan antar ayah dan anak itu.

"Kalau begitu sampai bertemu lusa Hyuga-san, semoga kita bisa membahas bahan pembelaan anda lebih matang. Semoga lekas sembuh." Kakashi berdiri dan memeluk pelan pundak Hiashi sebagai perpisahan.

"Terima kasih atas kunjungan anda Hatake-san." Balas Hiashi mengangguk memberikan senyumnya hingga pria itu keluar dan menutup pintu ruang perawatan.

Untuk sesaat tak ada suara obrolan apapun hingga Gaara tersadar dan segera berojigi sempurna menghadap Hiashi.

"Ah maafkan saya belum memperkenalkan diri secara resmi. Perkenalan saya Sabaku No Gaara teman Hinata sekaligus Jaksa yang sedang menangani kasus anda. Salam kenal Hyuga-san, mohon bantuannya." Ucap pria itu semangat dengan nada hormat pada pria yang lebih tua.

"Salam kenal Sabaku-san, terima kasih atas kerja kerasnya." Angguk Hiashi.

"Tapi kenapa kalian bisa datang bersamaan malam-malam seperti ini?" Tanya Hiashi tak mengerti.

"E... E-tto... Hinata baru saja..." Gadis itu terlihat kebingungan menjelaskan alasan pada sang ayah.

"Saya menjemput Hinata setibanya Hinata dari Paris, mohon maaf sebelumnya saya belum meminta izin pada anda." Bungkuk Gaara kembali merasa tak enak.

"Ahh begitu, tak apa anak muda tak perlu meminta maaf, justru aku harus berterima kasih karena telah menjaga Hinata. Apa Hinata tak merepotkan mu?" Balas Hiashi.

"Tentu tidak Hyuga-san, saya merasa senang bisa menjaga teman saya. Hinata adalah gadis yang baik dan sopan, anda telah membesarkannya dengan baik." Ujar Gaara dengan senyum menawannya, mencoba menciptakan kesan yang baik pada Hiashi pada pertemuan pertama.

"Ahaha kau bisa saja anak muda, Hinata memang selalu bersikap sopan dan terkadang pemalu sama seperti Ibunya. Dia memang tak pernah menyusahkanku, justru mungkin sekarang aku yang akan menyusahkannya." Nada Hiashi kini menjadi sendu karena menyadari kembali kondisinya dan teringat mendiang istrinya.

Hinata yang melihat perubahan raut wajah ayahnya segera mendekat. "Tou-san, jangan berpikir seperti itu. Tou-san pasti sembuh, ayo sekarang lebih baik beristirahat ya ini sudah malam. Apa Tou-san sudah makan dan minum obat?" Tanya Hinata khawatir sambil membantu ranjang perawatan Hiashi menjadi lebih berbaring dan menyelimuti pria tua itu.

"Ya, Tou-san sudah makan nak." Jawab Hiashi pelan mulai rileks karena sudah merasa mengantuk.

"Baiklah sekarang Tou-san tidur ya, Hinata akan berjaga disini." Gadis itu memberikan senyum menenangkannya.

"Selamat malam Hyuga-san, selamat beristirahat." Sambung Gaara.

"Hmm..." Balas Hiashi mengangguk.

Setelah merasa Hiashi tertidur, Hinata mengambil map yang diberikan Kakashi dan keluar bersama Gaara lalu duduk di kursi tunggu di depan ruang perawatan Hiashi.

"Hinata ada hal baik dan buruk yang ingin kujelaskan padamu, tapi kuharap kau bisa tenang." Tatap Gaara mengamati wajah Hinata yang duduk di sampingnya.

"Aku takut akan hal buruk yang akan kudengar." Bisik Hinata sendu.

Gaara memberikan senyum semangatnya. "Awalnya itu memang hal yang sangat buruk tapi kurasa kini menjadi alasan baik itu sendiri, kau bisa sambil membuka dokumen dari pengacara Hyuga-san kurasa bukti yang kutemukan pun cukup sama keterangannya."

Hinata menatapnya dengan tanya tapi mulai membuka beberapa lembar dokumen dalam map itu. Ia butuh beberapa saat mencerna berbagai macam kalimat di dalamnya.

"Kuras aku akan memulainya dengan hal buruk dulu, sebenarnya di hari kedua kepergianmu ada seseorang yang menyamar menjadi Dokter dan ingin menyuntikan sesuatu pada Tou-san mu tapi untunglah itu belum terjadi karena bertepatan saat aku datang, tapi pria itu melawan dan melarikan diri." Jelas Gaara perlahan sambil menilai reaksi Hinata.

Seketika gerakan tangan gadis itu terhenti dan mengangkat wajah dengan ekspresi syok. "Me-menyamar menjadi Do-dokter? Tapi untuk apa? Ujar gadis itu sedikit terengah tak percaya.

"Entahlah apa niatnya namun aku yakin itu sesuatu yang tak baik, tapi meskipun pria itu sebelumnya tak bisa kutangkap, tim kepolisianku berhasil menyelidiki berbagai CCTV dan melihat kedatangan pria itu, untunglah plat nomor motornya dapat terlihat dan kami melakukan pengintaian." Lanjut Gaara segera menenangkan.

"Lalu siapa pria itu?" Tanya Hinata ragu, mengantisipasi apa fakta yang akan ia dapatkan.

"Kami berhasil menangkap dan mengintrogasinya, dan ini cukup mengejutkan tapi kau harus tenang. Ternyata-- ternyata pria itu adalah orang suruhan yang dibayar untuk mencelakai Hyuga-san agar kasus ini ditutup."

"A-apa?" Tanya Hinata bergetar, kini hatinya benar-benar terguncang.

Gaara segera menangkup tangan Hinata dan meremasnya pelan menyalurkan kekuatan. "Ini memang fakta menyakitkan tapi kau harus kuat."

Pria itu melanjutkan, "Namun fakta itu justru adalah kabar baik untuk kasus ini, setidaknya ini menjelaskan bahwa Hyuga-san bisa jadi hanya orang yang dimanfaatkan atas kesalahan seseorang. Dan pria itu juga terhubung dengan Tuan Shi yang merupakan pengelola keuangan proyek yang Hyuga-san tangani, sepertinya ada yang memerintah mereka berdua untuk menyusun rencana agar menjebloskan Hyuga-san atau Tou-san mu tahu sesuatu yang tidak boleh ia sebarkan tentang orang ini."

"T-tapi siapa orang itu sebenarnya? Apakah Tou-san ku memiliki salah padanya? Gaara aku mohon, bantu aku mengungkapnya, aku mohon jika memang benar Tou-sanku tidak bersalah bantu ia membersihkan namanya. Aku tak ingin ia terpuruk jika ini hanyalah sebuah fitnah." Tatap Hinata dengan pandangan nanar, kini gadis itu balik menangkup tangan Gaara dengan pandangan memohon.

"Tentu, aku akan melakukan yang terbaik untuk mengungkapnya. Tapi itu masih aku dalami, karena kedua saksi ini belum mau mengungkapkan siapa sebenarnya orang ini." Jawab Gaara.

"Aku percaya kepadamu, terima kasih." Balas Hinata bersungguh-sungguh.

"Aku akan berusaha tak mengecewakanmu." Gaara tersenyum sambil memandang amethyst itu tulus.

'Gaara... Kau begitu baik padaku, tapi aku sangat jahat tak memberikan kejelasan padamu.' Batin Hinata mendesah pilu, sambil memandang Gaara namun dengan pandangan bersalah.

"Hei kenapa ini keluar?" Gaara kebingungan dan langsung menyeka lembut setitik air di pipi Hinata.

"Aahh, ti-tidak apa-apa." Hinata dengan panik mengalihkan perhatiannya dan segera mengusap pipinya. Sungguh kenapa akhir-akhir ini ia sulit mengatur suasana hatinya.

"Oh ya sekarang sudah pukul sepuluh malam, sebaiknya kau beristirahatlah. Koperku akan ku simpan di ruangan Tou-san saja dulu, aku akan menemaninya semalaman disini jadi kau tak perlu mengantarku pulang." Hinata berusaha menampilkan senyum cerianya.

"Kau yakin? Kurasa kau pun butuh istirahat dengan baik setelah perjalanan panjang itu, jangan memaksakan diri. Kesehatanmu pun adalah hal yang layak kau perhatikan, aku bisa memanggil kembali dua anggota polisiku yang sekarang sedang dinas malam untuk mengawasi Tou-san mu." Tawar Gaara.

"Jangan aku tak ingin merepotkanmu lebih dari ini, oh ya ini sebagai buah tanganku dari Paris. Maaf aku tak sempat membeli oleh-oleh yang unik disana, tapi ini kurasa akan berguna." Hinata memberikan sebuah kotak berwarna coklat dari tas kerja yang masih tertaut di bahunya, dalam kotak itu terdapat botol kaca berisi cairan dan beberapa tangkai dupa disertai bunga kertas buatan di ujungnya.

"Apa ini?" Tanya Gaara memperhatikan bingung.

"Ini adalah Reed Diffuser Aromatherapy, hotel tempatku tinggal memberikannya padaku sebagai hadiah. Aku meminta aroma Lavender karena itu wangi kesukaanku, aku yakin kau pun pasti suka aromanya karena itu terasa lembut. Cobalah rendam dupanya dalam kaca berisi cairan ini, itu bisa membuat aroma yang menenangkan dan membantumu lebih rileks agar cepat tertidur, itu juga membantu agar melembabkan ruangan dan kulit." Jelas Hinata antusias.

"Kau sering menggunakan ini?" Tanya Gaara, sedikit menghirup aroma dari kotak itu.

"Ya, dulu Kaa-san yang mengajarkan aku untuk selalu menyimpan barang ini di kamar. Itu benar-benar bekerja untuk membuat aroma ruangan lebih menenangkan tapi tidak terlalu menyengat seperti pewangi ruangan, kau tahu terkadang terlalu wangi membuat ku pusing." Balas Hinata dengan mimik muka pusing, membuat Gaara terkekeh melihatnya.

"Karena kau suka aroma ini baiklah aku akan mencobanya, terima kasih sudah ingat padaku."

"Sama-sama, sebagai jaksa meskipun itu pekerjaan yang menguras pikiran kau harus lebih merilekskan tubuhmu. Kau lihat nanti kerutan mudah muncul di dahimu ini?" CandaHinata menyentuh sedikit dahi pria itu, tapi tangan lelaki itu langsung memegang pergelangan tangannya.

"Eh, ma-maaf aku tidak bermaksud menyentuh mu." Ujar Hinata sedikit terkejut dan menyadari ia telah salah bertindak.

"Tidak, kau tidak salah. Aku hanya takut perasaan dan diriku tak bisa kutahan lagi jika kau menyentuh wajahku. Terima kasih untuk hadiahnya-- bunga lavender ku..." Gaara kini justru bergerak mengecup pelan punggung tangan Hinata, dan gadis itu hanya bisa diam termenung tak tahu harus bereaksi apa akan ucapan dan tindakan Gaara.

"Eh, ka-kalau begitu aku pamit pulang." Pria itu tersadar akan tindakannya dan segera melepaskan tautan tangan mereka lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena gugup.

"Oyasumi hime..." lanjutnya.

"Oyasumi Gaara..." Hinata tersenyum memaklumi dan berdiri lalu melambai pada Gaara yang mulai melangkah mundur, bahkan pria itu tak membalikan badannya dan terus menatap Hinata.

"Eh Gaara... hati-hati." Ucap Hinata sedikit terkejut karena Gaara sedikit menabrak pembatas ruangan, lalu gadis itu terkekeh pelan melihat tingkah pria itu.

"Emm kalau begitu aku pulang sekarang, jaa..." Pria itu meringis malu dan terus melambaikan tangannya, karena sebenarnya ia belum ingin berpisah dengan gadis itu.

"Jaa, sudah berputarlah." Saran Hinata geli, dan pria itu akhirnya menurut setelah berbelok di lorong hingga gadis itu sudah tak bisa melihat tubuhnya lagi.

Untuk sesaat Hinata menarik napas pelan setelah kepergian Gaara dan segera berbalik, namun tubuhnya seketika sedikit menegang saat melihat ternyata di belakangnya tadi telah berdiri seorang pria.

"Sejak kapan kau berdiri di sana?" Tanya Hinata spontan karena sedikit terkejut.

"Sejak pria itu sudah tak terlihat dalam jangkauan mu." Balasnya datar.

"Kau pun seharusnya tak berada di sini, ini sudah malam. Kembalilah ke rumahmu." Pinta Hinata dan mulai melangkah untuk kembali duduk.

"Ini, aku tak akan tenang jika kau memang ingin memutuskan tidur disini dengan hanya seperti itu." Pria itu menyerahkan sebuah goodie bag kertas yang cukup besar, membuat mau tak mau Hinata memeriksa isinya.

"Apa ini?" Tanya gadis itu meraih goodie bag dan mengeluarkan barang di dalamnya. "I-ini..." Gadis itu sesaat membeku dan langsung merasa dadanya berdebar cepat.

Ini adalah bantal leher dan selimut yang memiliki warna dan merk yang sama dengan yang pernah ia dapat dulu saat menjaga Hiashi ketika ayahnya masih dalam masa kritis.

Hinata sedikit meremas benda itu kini dengan perasaan campur aduk, jadi orang yang dulu selalu memperhatikan dan menjaganya saat tidur adalah Sasuke?

"Kau dulu juga pernah memberikan ini padaku?" Tanya Hinata kalut berharap bukan pria itu orangnya

Terlihat Sasuke mulai mendekat dan duduk di samping gadis itu. Kedua tangannya masuk ke dalam mantel panjang yang kini pria itu kenakan, dia sedikit mengangkat bahu. "Aku tak perlu menceritakan sebuah kebaikan."

"Lalu kenapa sekarang kau terang-terangan memberikan ini padaku?" Tanya Hinata dengan sedikit nada kesal namun juga terharu mengetahui fakta ini karena Sasuke tak pernah mengatakan apapun. Hatinya merasakan begitu banyak emosi dan perasaan untuk pria satu ini.

"Karena sekarang aku takut." Ujar pria itu pelan sedikit menundukkan pandangan.

Ungkapan itu membuat Hinata terkejut dan menatap pria itu tak mengerti.

"Aku takut kejadian saat di pesta itu benar-benar membuat hatimu terluka, aku takut kau tak mau lagi memandang ke arahku, aku takut kau memilih pria lain yang jauh lebih baik, sopan, dan tidak arogan sepertiku ini. Aku takut... kehilanganmu." Bisik Sasuke di akhir kalimat memandang begitu menyesal pada Hinata.

"Sasuke..." Hinata melihat kesungguhan dan penyesalan mendalam dari pancaran obisidian indah itu.

"Aku tidak bisa memejamkan mataku jika memikirkan kau disini sendirian atau bahkan bersama pria itu, jadi kumohon jangan pernah menyerah padaku." Kini punggung dan kepala Sasuke bersandar pada dinding di belakang kuris tunggu sambil mengamati Hinata.

"Aku... bahkan bukanlah milikmu." Ucap Hinata menyatakan fakta ironis itu dengan terluka.

"Kaulah yang memiliki ku, sedari awal kaulah yang telah berhasil mengambil alih atensiku, perhatianku, dan kini mungkin kau sudah menguasai hatiku. Dan aku tak tahu harus apa jika pemilik hati ini pergi begitu saja." Mata Sasuke sedikit memerah, terlihat begitu sendu.

Hinata menggigit bibirnya mendengar Sasuke yang begitu sedih. Ia harus berpikir rasional mengingat tingkah pria ini yang begitu menyebalkan di pesta, tapi hatinya menolak. Hatinya ingin memperhatikan Sasuke.

"Aku tak pernah berusaha untuk memilikimu, karena kurasa hubungan kita ini akan sulit dilalui." Kini kepala Hinata ikut bersandar pada dinding Rumah Sakit mulai saling berpandangan.

Sasuke meraih barang-barang dari goodie bag itu dan memasangkannya pada Hinata.

"Pakailah ini jika kau ingin beristirahat."

Hinata ingin menolak, tapi melihat Sasuke yang terlihat sedih ia tak enak sehingga membiarkan pria itu memasangkan bantal leher yang terdapat penjepit di depannya dan selimut yang pria itu sampirkan pada bahunya.

"Jika kau benar-benar tak percaya akan kata-kata ku mari kita temui Shion, dia akan tiba besok di Jepang. Kau mau menemuinya?" Tawar Sasuke yang kini kembali bersandar.

"Apa? T-tapi bagaimana bisa?" Tanya Hinata tak percaya, Sasuke benar-benar akan mendatangkan gadis itu ke sini sesuai permintaannya.

Sasuke meraih tangannya di bawah selimut ke dalam genggaman hangat kedua tangan pria itu. "Ssshh... Tak apa aku sudah terlalu keras padamu, aku selalu memaksa kehendak ku padamu, aku sadar itu salah tapi hanya itu cara yang kutahu agar mendapatkan perhatian darimu. Dan kini akan kulakukan apapun agar kau mempercayai bahwa semua itu hanyalah salah paham."

"Kau bersungguh-sungguh akan ucapanmu itu?" Tatap Hinata mencoba menggali kesungguhan dari mata onix itu.

"Ya aku tak ingin menipumu sama sekali. Sekarang tidurlah jika kau lelah." Sasuke menyandarkan kepala Hinata pada pundaknya sambil terus menggenggam tangan mungil gadis itu.

"Kau juga selalu membuatku ketakutan." Gumam Hinata pelan yang mulai merasa mengantuk dan membiarkan posisi ini karena dirinya memang butuh sandaran dan pundak Sasuke cukup lebar untuknya.

"Aku selalu takut jika ini semua hanyalah tipuanmu yang membenciku." Lanjutnya pelan saat matanya mulai terasa ingin tertutup.

"Itu takkan terjadi karena aku..." Sasuke balas berbisik tapi saat melihat ke samping ternyata Hinata telah terlelap. Pria itu tersenyum kecil dan membenarkan posisi Hinata agar bersandar pada dadanya, tangan Sasuke merangkul pundak gadis itu dan membawanya semakin dekat padanya agar tubuhnya tidak terjatuh. Kepala Hinata kini berada di bawah dagunya, ia usapi rambut sehalus sutra itu dan ia kecupi beberapa kali. Mungkin jika dilihat orang mereka begitu terlihat romantis.

"... karena aku sudah lama mencintaimu." Sambungnya yang hanya di dengar keheningan malam.

.

.

.

Hinata terbangun dari tidurnya saat matahari belum terbit, ia bangkit duduk tegak dan meregangkan sedikit badannya yang merasa cukup pegal. Saat matanya melirik ke kanan dan kiri ternyata ia terbangun sendirian, tak ada Sasuke atau siapapun. Hanya beberapa suster atau orang-orang yang ikut menjaga keluarganya.

Gadis itu merunduk, apa Sasuke pergi begitu saja? Atau itu hanya ilusinya saja sebelum tertidur? Tapi selimut dan bantal ini adalah bukti nyata pria itu datang tadi malam. Namun untuk apa Hinata memikirkannya? Itu adalah hak pria itu dia ingin pergi kapanpun. Gadis itu segera menggelengkan kepalanya dan merapihkan barang-barangnya lalu masuk ke dalam ruang perawatan ayahnya. Hiashi masih terlelap, Hinata sempatkan untuk mandi dan bersiap mengenakan pakaian kerja untuk hari ini, karena untungnya kelas ruang perawatan yang Hiashi dapat adalah private dari bantuan dinas sosial yang diinformasikan Rumah sakit, sehingga memiliki kamar mandi tersendiri.

Sambil menunggu waktunya untuk berangkat bekerja Hinata sempatkan menyuapi ayahnya sarapan yang tadi baru saja diantarkan seorang petugas. Ia kini begitu lega ayahnya sudah memiliki lebih banyak tenaga untuk berbicara dan menggerakkan tangan, meskipun beberapa rangkaian operasi masih perlu dilakukan terutama untuk mengobati kakinya yang terluka cukup parah.

Setelahnya ia pergi ke kantor seperti biasa menggunakan bis, dan di dalam bis ia baru sempat membuka pesan di ponselnya. Disana terdapat pesan dari Sasuke.

Aku harus menangani suatu hal, maafkan aku tak bisa menemanimu sampai pagi.

Hinata mendengus tak percaya, "Memangnya apa yang seorang CEO harus tangani pada subuh-subuh seperti itu?" Dia memutar mata kesal akan alasan Sasuke, tapi sepertinya itu harus ia abaikan untuk sekarang. Dia pun sebenarnya tidak tahu apa-apa tentang kehidupan pria itu, mungkin memang ada urusan yang penting.

Akhirnya Bis berhenti di halte terdekat dari kantornya, dan ia masuk ke dalam gedung itu untuk memulai aktifitas bekerjanya seperti biasa. Hari ini Ino menjadi perhatian seisi kantor karena membawa oleh-oleh dari Paris begitu banyak dan membaginya tidak hanya pada bagian Produksi tapi hampir seluruh staff ia berikan, Hinata hanya bisa menggelengkan kepalanya lucu karena wanita itu benar-benar memanfaatkan kartu pemberian Sasuke dengan baik. Dan sepertinya Ino mengerti untuk menghargai hal privasi sehingga tidak terlalu banyak bertanya dan mendesak tentang hal yang terjadi antara dia dan Sasuke.

Hari kerjanya berjalan seperti biasa hingga saat akan bersiap pulang terdengar suara pesan masuk ke ponselnya.

Shion akan sampai satu jam lagi, kita akan makan malam bersamanya malam ini. Bersiaplah aku sudah menjemputmu di depan lobby kantormu.

Seketika amethyst itu membola tak percaya. "Apa pria itu bercanda? Kenapa bisa ia sudah sampai disini?" Tanya Hinata pada diri sendiri, tingkah Sasuke tak pernah gagal membuatnya terkejut.

Ia melirik pada jam dinding kantornya dan bel pulang 5 menit lagi, ah masa bodoh biarkan pria itu menunggu batinnya. Namun saat Hinata ingin menyelesaikan sedikit lagi pekerjaannya, terdengar telepon kantor berbunyi.

"Moshi-moshi..." Sapa Hinata ramah.

"Moshi-moshi, selamat sore Hyuga-san. Ada seseorang yang sudah menunggu anda di lobby, emmm lebih tepatnya Uchiha-sama sudah menunggu. Uchiha-sama ingin anda segera turun ke lobby begitu bel kerja selesai." Jelas seorang pegawai yang menjaga di resepsionis.

Hinata menarik napas pelan, kenapa Sasuke harus repot-repot memerintah petugas resepsionis untuk hal seperti itu, astaga ini membuatnya malu.

"Ba-baiklah terima kasih informasinya." Balas Hinata mengangguk tak enak meskipun orang di seberang sana tak dapat melihatnya.

"Sama-sama Hyuga-san." Dan sambungan pun terputus, jadi mau tak mau Hinata mengurungkan niat melanjutkan pekerjaan dan segera meraih tas kerja lalu berpamitan pada rekan-rekan kerjanya yang lain.

Begitu sampai di dekat pintu lobby ia melihat beberapa karyawan yang tidak biasanya ramai di depan pintu lobby, saat ia melihat oh tentu saja itu disebabkan pria Uchiha satu itu yang membuat suasana menjadi ramai karena mereka sengaja berdiam diri hanya untuk mengamati Bos besar mereka atau mobil Mustang Shelby yang super keren itu.

Saat Sasuke melihatnya keluar dari pintu kantor yang Hinata lakukan bukanlah mendekat pada mobil itu melainkan sengaja terus berjalan keluar menuju gerbang kantornya. Ia tak mau menjadi bahan perbincangan lebih parah lagi di kantor ini karena tingkah Sasuke.

"Hei Hinata kau mau kemana? Apa kau tidak membaca pesanku?" Sasuke memanggil-manggilnya dari sisi jalan di dalam mobilnya karena Hinata kini sedang berjalan di trotoar.

"Aku membacanya, tapi aku belum setuju untuk ikut denganmu dan aku tidak mau kau menjemputku dengan cara seperti itu lagi di kantorku." Jelas Hinata dengan nada merajuk dan hanya terus berjalan tanpa melihat ke arah pria itu.

"Tapi kau memang ingin bertemu Shion kan?" Tanya Sasuke tak mengerti.

"Ya, tapi kau tak perlu menjemputku ke kantor." Balas Hinata lagi kesal.

"Terus aku harus menjemputmu kemana?"

"Kau bisa menunggu di pinggir jalan sini, atau di manapun itu karena aku tak mau karyawan lain membicarakan hal yang tidak tidak tentang ku dan dirimu."

"Oke oke, baiklah aku minta maaf sekarang masuklah ke dalam mobil. Kau lihat mobil di belakang ku sudah marah-marah aku mengendarai sepelan ini." Jelas Sasuke panik.

"Berjanjilah kau tidak akan menjemputku dengan cara seperti itu lagi." Desak Hinata menghentikan langkahnya.

"Oke oke aku berjanji, tak akan melakukannya lagi." Balas Sasuke cepat dan panik.

Hinata melirik ke sekitar dan benar saja beberapa mobil di belakang Sasuke sudah saling bersahutan membunyikan klakson, karena gadis itu pun merasa tak enak maka dengan segera ia masuk ke dalam mobil Sasuke dan pria itu seketika langsung tancap gas melarikan diri dari amukan masa . Karena cara mengemudi Sasuke yang cepat maka tak berapa lama mereka sampai di sebuah restauran yang cukup mewah bergaya tradisional modern khas Jepang.

Mereka segera diarahkan ke sebuah area yang cukup private dimana jarak antara mejanya cukup jauh. Begitu mereka duduk beberapa pelayan langsung menghidangkan minuman untuk mereka sambil menunggu seseorang lagi datang.

"Kapan dia akan datang?" Tanya Hinata melirik Sasuke di sampingnya.

"Sebentar lagi, ia sudah dijalan menuju kemari." Ucap pria itu sambil sedikit menyesap minumannya.

Hinata mengangkat bahu lalu memperhatikan interior restauran ini yang begitu terlihat berkelas, meja dihadapannya adalah meja bundar yang terlihat dari marmer berkualitas mahal, dan terdapat ornamen bunga-bunga sakura di sepanjang dindingnya, dengan pencahayaan yang baik dan terasa bersih.

Lalu saat suara pintu geser terdengar ia melihat seorang wanita cantik dengan rambut pirang lurus berkilau berjalan dengan begitu anggun, wajahnya mungil dan putih bersih, matanya memancarkan aura cerah, dan pakaiannya yang begitu elegan dengan gaun berbahan Tweed (bahan wol setengah jadi sehingga terlihat lebih tebal dan sedikit kasar) yang sudah pasti rancangan Chanel berwarna pink. Gadis itu mempertahankan senyum cerahnya begitu melihat Sasuke di depannya, dan pria itu pun berdiri untuk menyambutnya sehingga ia pun mengikuti.

"Sasuke..." Sapa gadis itu pelan.

"Shion..." Balas pria itu, dan mereka berpelukan sesaat dengan tangan pria itu mengusap punggungnya pelan tapi tidak seintim waktu itu mungkin karena saat ini ada Hinata jadi Sasuke mencoba menjaga jarak.

Untuk sesaat Hinata hanya terpaku menatap pada gadis itu, tidak bukan karena cemburu melihat interaksi antara mereka berdua namun terpukau akan kecantikan yang terpancar dari gadis ini. Auranya sungguh memancarkan gadis modern kaya raya yang bisa memukau siapapun dengan mudah, kukunya dihiasi dengan nail art yang indah, jemarinya tersemat beberapa berlian sederhana namun akan membuat orang sadar jika itu sangat bernilai mahal, serta aroma wewangian vanilla yang begitu menguar dari tubuhnya.

Hinata tidak cemburu, hanya merasa begitu ragu dan mungkin merasa ciut melihat kecantikan wanita ini. Apa mungkin Sasuke tidak pernah sedikitpun tertarik dengan gadis secantik ini dalam hidupnya jika mereka bahkan tak memiliki ikatan darah?

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

To be continue

Siapa yang merasa bersalah udh fitnah dan marah-marah sama Sasuke?

He's not a fucking asshole tho...

Sorry to day I can't answer your comment one by one again , but all of your comment definitely i'll read. Hope you guys not tired keeping up and waiting for this stories, you guys are my spirit.

Thanks for your time to reading, commenting, and voting this stories. Love love you guys so much *

By Chichiyulalice