"Last Kiss" by Meltavi
Boboiboy © Animonsta Studios
Fanfic ini aku tulis tidak mengharapkan keuntungan apapun, hanya untuk kesenangan semata^^
Warning(s) : AU, TauYa, tragedy, angst, romance, death chara, typo, gaje, dll.
Selamat membaca^^
...
..
.
DUAGH!
Satu tendangan berhasil mengenai perutnya sekali lagi. Taufan jatuh berlutut, memegangi area perutnya yang terasa nyeri. Terdengar suara teriakan yang memanggil namanya. Pemuda itu berusaha mencari asal suara wanita yang ia cintai itu dengan mata berkunang-kunang. Di sudut ruangan, terlihat Yaya yang ditahan oleh dua pria bertubuh besar, menatapnya dengan air mata mengalir deras. Taufan mencoba tersenyum, hanya untuk menenangkan Yaya bahwa ia baik-baik saja.
"Masih belum mau mengakui kesalahanmu?"
Pria yang menendangnya tadi berjongkok di depannya. Menatapnya tajam dengan iris mata hitam itu. Taufan balas menatapnya tanpa takut. Diabaikannya rasa perih di sekitar perutnya untuk menanggapi ucapan pria jelek di depannya.
"Aku tidak salah. Kau yang berengsek karena membunuh wanita tidak bersalah." kata Taufan. Memancing tawa pria di depannya. Detik berikutnya tawa itu lenyap, digantikan ekspresi mengeras.
"Kurang ajar." Pria itu kemudian bangkit, lalu memberikannya satu tendangan lagi di dada kirinya.
Taufan terhempas ke belakang. Rasa nyeri di tubuhnya kian bertambah. Pemuda itu mengerang, napasnya berubah memberat. Ia berusaha menarik napas untuk paru-parunya yang menjerit. Samar-samar ia mendengar Yaya menangis histeris. Taufan ingin sekali memeluk wanita itu, namun untuk bangkit saja ia tidak mampu.
Taufan membiarkan tubuhnya terlentang di atas tanah. Pria itu masih berada di dekatnya, memutarinya dengan langkah pelan. Gayanya yang angkuh membuat Taufan muak melihatnya. Jika tubuhnya tidak berteriak kesakitan, mungkin Taufan sudah menerjang pria brengsek itu.
"Aku menyuruhmu membunuhnya. Bukan mencintainya!" hardik pria itu, menendang tubuhnya dengan ringan berkali-kali. Taufan meringkuk seraya merintih kesakitan. Ia terbatuk keras ketika serangan pria itu berhenti, lalu memuntahkan darah ke tanah. Seluruh tubuhnya terasa kebas. Namun pemuda itu mati-matian mempertahankan kesadarannya yang kian menipis.
Tangan pria itu memegang pipinya dengan kasar, agar mata mereka bersitatap. Taufan memandangnya dengan kabur, kepalanya seperti berputar. Kemudian pria itu berkata.
"Bunuh dia sekarang."
Taufan menggeleng lemah. Ia melirik Yaya yang masih di sudut ruangan. Mulut gadis itu sudah dibekap oleh kaki tangan pria di depannya. Air matanya masih mengalir deras, membuat Taufan dihampiri rasa bersalah atas yang terjadi pada mereka.
"A-ku ... tidak akan... melakukannya... " ucap Taufan susah payah dengan tatapan masih mengarah pada Yaya. Hatinya berdenyut sakit mendapati gadisnya diperlakukan seperti itu.
Detik berikutnya pria itu sudah menariknya. Taufan merintih ketika tubuhnya dipaksa berdiri. Ia sempat sempoyongan dan pria itu menahan tangannya dengan kasar. Sebuah pistol ditaruh di tangannya, Taufan menolak untuk memegangnya namun pria itu lebih kuat untuk menahan pistol tersebut tetap berada di genggamannya.
"Kenapa? Sebelumnya kau membunuh banyak wanita dengan begitu keji. Sekarang ada apa denganmu, hm?" ujar pria itu dengan penuh penekanan.
Taufan menggeleng. Ia ingin memberontak, tapi bisa apa ia dengan tubuh lemahnya ini? Pria itu kemudian menyeretnya menuju Yaya dengan tangannya yang masih ditahan untuk menggenggam pistol itu. Ia menetaskan air mata ketika Yaya berada tepat di hadapannya.
"Bunuh dia sekarang." bisik pria itu di belakangnya.
Taufan menggeleng. Ia berusaha menahan tangan pria itu yang menggerakkan tangannya untuk memposisikan pistol itu di kepala Yaya. Usahanya terlihat sia-sia karena kekuatan pria itu lebih kuat darinya. Yaya terus memandangnya dengan berlinang air mata. Ada setitik harapan di tatapan itu yang mana membuat Taufan dihampiri rasa bersalah.
"Tembak dia."
Telunjuk pria itu memaksanya untuk menarik pelatuk. Taufan memejamkan mata. Tangannya berhasil menarik pelatuk itu, namun dua detik berselang tidak ada yang terjadi.
"A-apa?!" Pria itu kebingungan, dan Taufan dengan cepat mengerti.
Ia langsung melepaskan diri, menyikut perut pria itu hingga jatuh. Kaki tangannya dengan cepat menyerang, namun Taufan berhasil memberikannya pukulan cukup kuat hingga membuat mereka mundur. Diraihnya tangan Yaya untuk berlari bersamanya, meninggalkan ruangan penuh kesesakan itu.
"Berhenti!"
Keduanya tersentak. Taufan menoleh ke belakang dan menemukan pria itu sudah menyiapkan beberapa peluru lagi untuk pistolnya. Ia dengan cepat membuka pintu dan membiarkan Yaya keluar lebih dulu.
DOR!
DOR!
Suara tembakan yang memekakkan telinga membuat jantung Yaya berpacu cepat. Ia menegok ke arah Taufan yang sudah memeluk bahunya dengan sebelah tangan, membawanya pergi dari sana.
"Jangan menengok ke belakang." ucap Taufan. Yaya mengangguk. Membiarkan pemuda itu menuntunnya menuju hutan yang menunggu mereka di depan sana.
Tes ...
Langkah Yaya terhenti ketika matanya mendapati tetesan darah. Ia membelalak kaget.
"Taufan ... Kau–" Yaya semakin panik kala menyadari darah itu berasal dari perut Taufan. Darah merembes dari sana, Yaya yakin luka tersebut berasal dari tembakan tadi.
Taufan ikut menatap lukanya. Ia menutupnya dengan sebelah tangan sebelum menatap kembali wajah Yaya untuk menenangkannya. Taufan sudah tahu peluru tadi berhasil mengenainya. Namun ia mencoba membiarkannya meskipun rasa sakit menggerogoti tubuhnya selama mereka belum aman.
"Yaya ... Aku–tidak apa-apa ... "
Yaya menggeleng kuat. Bagaimana bisa pemuda itu berkata ia baik-baik saja di saat terluka parah begitu?
"Tidak, Taufan ... Kau terluka!"
Taufan ingin memprotes. Namun yang keluar malah rintihan, membuat Yaya berteriak panik. Kesadarannya semakin terkikis ketika Yaya memapahnya untuk duduk bersandar pada pohon besar. Darahnya semakin deras keluar. Napasnya mulai tersengal-sengal sementara tangannya yang entah sejak kapan gemetar berusaha menahan pendarahan di perutnya.
"Kita bersembunyi di sini dulu ... Bertahanlah..." ucap Yaya seraya meletakkan kedua tangannya di atas tangan Taufan yang masih berusaha menutupi lukanya.
Sosok Yaya di depannya terlihat mengabur. Satu tangannya yang terkulai ia tumpukan di atas tangan Yaya. Membuat gadis itu menatapnya dengan cemas. Suara teriakan yang mencari mereka mulai terdengar lagi. Taufan tahu ia tidak akan berhasil lolos kali ini.
"Yaya ... "
"Tidak! Kita pasti selamat, Taufan! Jangan mengatakan apapun, kumohon ... " isak Yaya. Ia memejamkan matanya kuat, terus menekan luka Taufan yang tak berhenti mengalirkan darah. Ketakutan mulai menghampirinya. Yaya berusaha meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja, walaupun seperti memeluk angin.
Taufan menjulurkan tangannya, hanya untuk menyentuh pipi Yaya yang basah oleh air mata. Noda darah langsung mengenai kulit gadis itu, namun Yaya sama sekali tidak mempedulikannya. Ia menggeleng pelan pada Taufan, memohon agar tidak menyerah sekali lagi.
"Taufan ... "
Pelan, Yaya memajukan wajahnya dan menempelkan bibirnya pada bibir Taufan. Keduanya sama-sama memejamkan mata dengan air mata mengalir di pipi masing-masing. Yaya mempertahankan ciuman mereka selama beberapa detik, sebelum akhirnya kembali memundurkan wajah dan menatap lagi iris safir Taufan yang hampir menutup.
Satu kenyataan pahit berhasil menghantam Yaya, bahwa mungkin ciuman tadi adalah ciuman terakhir mereka.
"A–ku ... mencintaimu, Ya-ya ... " lirih Taufan selirih angin. Pemuda itu memejamkan matanya rapat ketika rasa sakit itu semakin menjadi. Napasnya tersisa satu-dua. Taufan sudah tak memiliki tenaga lagi untuk melawan. Ia membiarkan kegelapan memeluknya, sambil terus menatap wajah Yaya di depannya. Samar, Taufan bisa mendengar ucapan Yaya sebelum kesadarannya benar-benar menghilang.
"Aku juga mencintaimu, Taufan ... "
Bahu Yaya bergetar hebat ketika kelopak mata itu tertutup rapat. Ia meraih tubuh Taufan yang lemas untuk dipeluknya, menangis sambil memanggil nama pemuda itu. Yaya sudah tidak peduli orang yang mengejar mereka akan menemukannya. Ia hanya ingin menangis agar hatinya yang sesak berangsur reda.
Dan ketika suara langkah kaki terdengar, Yaya semakin mengeratkan pelukannya pada Taufan. Ia memejamkan matanya saat mulut pistol menempel di sisi kepalanya.
Yang Yaya tahu, ia merasa damai ketika bunyi tembakan terdengar dan peluru itu berhasil menembus kepalanya.
Yaya tidak mengkhawatirkan apapun lagi.
Karena Taufan akan selalu ada di sampingnya ...
.
.
.
.
finizh
