BAB 01 :MEMORI
•
"Kembang api, aku terbakar karena kembang api, aku bermain-main dengan itu ketika masih kecil"
Obito menahan napas, sambil menatap mata gadis itu. Dia tidak tahu mengapa dia berbohong kepada orang asing yang menanyakan luka diwajahnya, namun itu lebih masuk akal, daripada berkata itu karena tertimpa batu yang sangat besar, dan kemudian kau selamat.
Gadis itu hanya tersenyum lebih lebar sambil mengangkat alis dan langsung menggebrak meja, yang menyebabkan semua orang di ruangan itu terkejut, lalu menatap langsung ke arah mereka berdua saat ini.
"Tidak mungkin! Aku pernah bermain-main dengan api! Itu mengenai bagian tanganku, tapi tidak seperti itu!"
Si gadis berteriak sambil berdiri, yang membuat kepala Obito yang sedang duduk, sejajar dengan dadanya. Lalu gadis itu mulai menggulung baju berwarna kuning bagian lengan kanannya dengan kasar, dan memperlihatkan luka bakar berukuran sedang, yang sepertinya sudah lama, juga ada beberapa bekas sayatan kecil disana-sini.
Gadis itu menatap lukanya dengan cekikikan hingga tubuhnya sedikit bergetar.
"Lihat? Ini perbuatan Tsukushi-kun, teman SMP-ku. Dia dan teman-temannya bersama-sama mendorong sedikit quirk api-nya padaku." Gadis itu menatap mata Obito sekarang "Kau lihat 'kan? Itu berbeda!"
Obito mengangguk, walaupun dia tidak tahu apa maksudnya Quirk itu.
"Yah... temanmu seharusnya tidak melakukan itu padamu." Obito merasa sedikit kasihan pada gadis itu, tetapi dia ingin ini segera selesai, dia merasa tidak nyaman dengan tatapan penasaran yang orang-orang itu arahkan padanya, atau mungkin lebih tepatnya, mereka berdua.
Untungnya pak tua itu kembali dan menyerahkan ramen-nya yang berbau harum, sehingga orang-orang perlahan menyadari sesuatu, dan kembali ke makanan mereka sendiri. Walaupun, orang tua itu juga sekarang memiliki ekspresi penasaran dengan alis terangkat, seperti yang dilakukan orang ketika sedang menyelidiki, saat dia menatap Obito.
"Ini dia satu ramen tambahan, apakah ada yang kau inginkan lagi, nak?"
"Tidak, terimakasih paman."
"Ya.. Tentu, tanyakan saja jika kau membutuhkan sesuatu lagi! Aku senang ketika seseorang menyukai ramen-ku!"
Orang tua itu tertawa sambil mengangguk, lalu Obito juga tidak melewatkan pandangan simpati pak tua pada gadis itu selama sedetik, kemudian mulai melanjutkan kegiatannya sendiri.
Gadis itu segera duduk kembali sambil menekuk dan merangkul kedua kaki, dengan dagu diatas lutut, lalu berkata tanpa kehilangan senyum, matanya setengah tertutup sekarang.
"Mengapa tidak? Itu sangat menyenangkan ketika mereka melakukan itu, aku juga merasakan dadaku berdebar-debar kencang dengan penuh semangat."
Dia berkata dengan suara pelan hampir berbisik, sementara Obito mengerutkan kening sambil menyeruput ramen dengan sumpit. Gadis itu lalu menyatukan kesepuluh jari miliknya ditelapak tangan, lalu merentangkannya, sehingga menghasilkan suara yang beruntun.
"Dan lalu, ketika aku melakukannya pada mereka juga, rasanya bahkan lebih luar biasa.. Teriakan dan bau darah yang terbakar itu… Sangat mengagumkan!"
Obito segera mengkonfirmasi kecurigaannya, bahwa ada yang salah dengan kesehatan mental gadis ini, Obito mengenal orang-orang yang mentalnya rusak, mungkin itu juga termasuk dirinya sendiri, namun satu hal yang pasti, ada penyebab dan akibat bagaimana mereka mulai menjadi seperti itu, tapi pada saat ini, dia tidak terlalu peduli.
"Jadi katakan, bagaimana kau mendapatkan luka itu?"
"Itu rahasia" Obito mendengus, mulai mengabaikannya, dan memasukkan lebih banyak ramen lagi ke dalam mulutnya.
Gadis itu mulai mengerutkan kening dan mengembungkan pipi sambil menepuk-nepuk lengan bagian atas Obito, tapi tentu saja karena tubuh Obito yang kokoh, dia sama sekali tidak bergerak sedikitpun.
"Itu tidak adil! Aku sudah memberitahu rahasiaku, jadi menurut kamus berteman, kau seharusnya memberitahuku juga!"
Obito mengangkat satu alisnya dengan main-main saat mendengar itu, sambil berkata dengan datar.
"Kami berteman?"
Lelah karena terus menggerakkan tangannya, gadis itu lalu berhenti menepuk-nepuk, kemudian menyeringai.
"Tentu saja! aku sudah memberitahumu rahasiaku."
Obito mengangguk, lalu meminum air putih dalam gelas yang disediakan di meja, dia merogoh sakunya, lalu menaruh uang diatas meja, kemudian berjalan keluar, dan menyadari bahwa gadis itu juga mengikutinya.
"Kau adalah tipe pria misterius bukan? Memiliki luka yang tidak ingin diungkapkan, dan tidak banyak berbicara."
Gadis itu berkata sambil bersiul dan mengikuti Obito, dengan kedua tangan dibelakang punggungnya.
Sekarang sore hari, dan di jalan kecil ini sangat sepi. Obito juga tidak menyangka gadis ini mengikuti dia berjalan keluar, lagipula bukankah dia datang ke kedai ramen untuk makan? Obito mencerca dalam pikirannya.
Dia bertanya-tanya apakah ketika dia masih seorang Genin, dia juga sama menyebalkannya seperti ini, mengikuti Minato-sensei, Rin, atau bahkan Kakashi kemana-mana, sambil berbicara tanpa henti.
Setelah berjalan beberapa menit, dan gadis itu masih mengikutinya. Obito menghela napas, lalu berbalik dan bertatapan muka dengan gadis itu.
"Baik, apa yang kamu inginkan dariku?"
Gadis berambut pirang itu hanya terkejut sejenak mendengar perkataan Obito yang tiba-tiba, kemudian dia cekikikan dan bertanya dengan nada polos.
"Apa maksudmu?"
"Aku tidak buta, kau mengikuti keluar dari kedai ramen sekarang, berjalan tepat dibelakangku."
"Oh! Ya! Aku hanya penasaran dengan lukamu itu, itu bahkan lebih membuatku penasaran ketika kau berbohong"
Dia tertawa dengan seringai anehnya sambil menghampiri Obito, dengan kepala dan punggung sedikit menunduk.
Obito mengerutkan alis sambil menatap gadis yang lebih pendek darinya, dia mulai muak dengan ini, jika gadis itu hanya menginginkan jawaban, lalu ia akan memberikannya. Ini semua mulai menjadi sangat konyol.
Setelah mempertahankan tatapan selama beberapa detik, Obito tiba-tiba berkata dengan nada datar.
"Itu karena aku tertimpa batu besar"
"Hah?"
Gadis itu kehilangan senyumnya sekarang, dan digantikan dengan ekspresi bingung.
"Aku tertimpa batu besar, tepat disisi kanan tubuhku." Obito membuka sedikit kerahnya, itu menampilkan leher yang setengah putih dan mungkin lebih dari itu, lalu nadanya menjadi muram "Lihat, itu sebabnya wajah dan setengah bagian tubuhku seperti ini, seperti seseorang yang cacat. Kau mengerti sekarang?"
Sejujurnya Obito tidak suka bagian kanan dari tubuhnya sekarang, itu selalu mengingatkannya karena gagal disegala hal dalam hidupnya, terutama tentang bagaimana dia menjadi begitu bodoh, sehingga akhirnya bisa dicuci otak oleh Madara, dan dijadikan bonekanya.
Obito yang bertopeng Tobi mungkin akan membunuh gadis ini dalam sekejap mata karena sangat menjengkelkannya, namun dia ingin berubah, dia ingin menjadi manusia yang lebih baik sekarang.
Gadis berambut pirang itu mengangguk sebelum menampilkan ekspresi serius, dengan alisnya yang menyatu.
Obito puas menerima jawaban diam dari gadis itu, lalu kembali berjalan, meninggalkannya sendirian di belakang dalam keheningan, disertai dengan sedikit desiran angin.
Dalam langkah demi langkah, Obito mengerutkan sedikit wajahnya. Sejujurnya Obito tidak suka di tempat dia berada saat ini, kota ini memiliki banyak polusi yang bisa dia hirup dimanapun dia berada.
Debu-debu dan asap berterbangan, atau bahkan menyatu dengan udara.
Konoha atau mungkin seluruh Negara Elemental, akan lebih baik dari tempat ini, dari segi udara segar.
Ketika dia mengingat Konoha. Dia bertanya-tanya apakah Kakashi dan murid-muridnya berhasil menyegel Kaguya sekarang? Obito tidak tahu, dia tidak punya cara untuk memastikannya, namun dia berharap, mereka berhasil.
Memikir-mikirkannya kembali, dia merasa sangat bersalah karena memulai perang, ratusan ribu orang mungkin mati karena ulahnya. Belum lagi yang dia perbuat sebelum itu, apakah ada orang yang membantai Klan-nya sendiri seperti yang Obito dan Itachi lakukan?
Itachi hanya menjadi suruhan, dan Obito bisa melihat emosi terdalam dimatanya saat itu, biarpun, dia bisa menyembunyikannya sebaik seorang Uchiha paling baik, yang memiliki ekspresi paling datar, dia bisa mengetahuinya. Itachi takut, ragu-ragu, dan merasa menyesal setiap saat ketika dia menebas orang-orang sedarahnya.
Namun Tobi tidak, dia senang menikmati ekspresi kesakitan mereka, teriakan putus asa, serta kebutuhan akan hidup. Apalagi ketika dia membunuh orang yang sering mengejeknya dimasalalu, Tobi sangat merasakan kepuasan, dan bahkan melupakan Rin untuk beberapa saat kala itu.
Obito menggelengkan kepala, mencoba menghapus pikiran itu dari benaknya. Dia sudah mencapai taman di tengah kota sekarang, dan langit perlahan-lahan mulai berubah menjadi ungu kegelapan. Disana juga dapat terlihat bintang-bintang bersinar yang sudah mulai bermunculan, begitu pula dengan bulan perak yang setengah transparan.
Duduk disalah satu kursi taman, Obito menatap pemandangan diatas langit, angin sepoi-sepoi mulai datang lalu menerpa rambutnya yang menjadi sedikit jingga, karena matahari yang belum sepenuhnya terbenam.
Sambil menikmati hawa dingin dari angin yang menyentuh kulit, dia menutup matanya perlahan, ketika hanya ada kegelapan yang bisa dilihatnya. Obito mulai menerima informasi yang berdatangan dikepalanya. Satu demi satu, dia menerima ingatan dan pengetahuan dua Bunshin dari lima yang telah dia kirim.
Sambil memahami dan memilah-milah ingatan Bunshin-nya, Obito pertama bisa memastikan ini bukan dunia nya, dia sudah membuat teori ini sebelumnya, karena dimensi lain bukan hal yang baru untuk Obito, lagipula dia memiliki dimensi miliknya sendiri yang bisa dia kunjungi sesuka hati.
Namun dia tidak ingin memupuskan harapan untuk bertemu Kakashi atau bahkan Naruto lagi, jadi dia tetap menyangkal hal itu tadi dikepalanya.
Sekarang setelah dikonfirmasi, Obito hanya harus bisa menerima kebenaran ini dengan lapang dada.
Menurut Bunshin-nya yang mengunjungi perpustakaan dan melihat peta, dunia ini sangat berbeda dari dunianya. Dunia ini sangat luas dan memiliki banyak bahasa, yang Obito tidak ingat ada berapa itu, dan bahasa yang dia gunakan adalah bahasa jepang.
Dunia ini pernah mengalami perang dunia dua kali besar-besaran, juga munculnya berbagai virus dan penyakit, dan lalu fenomena aneh yang disebut "Quirk" muncul. Quirk pertama kali muncul di Kota Qing Qing, China, dengan bayi yang bercahaya.
Pada saat awal mula kemunculan Quirk, mereka yang memiliki Quirk selalu dijauhi, namun sekarang, dua abad kemudian, keadaan itu terbalik, dan 80% populasi dari manusia sudah memiliki Quirk saat ini, dan melahirkan pahlawan juga penjahat.
Itu menjelaskan banyak hal kepada Obito, Quirk sangat mirip dengan Kekkei Genkai, itu adalah kemampuan khusus, namun juga bisa diwariskan melalui genetik.
Bunshin Obito yang sebelumnya sudah berada di perpustakaan, mempelajari banyak hal, itu termasuk penggunaan teknologi, beberapa budaya jepang yang Obito sudah tahu, juga hal lainnya.
Sementara Bunshin kedua yang dia telah ledakan, adalah mempraktekannya, dia mempelajari banyak teknologi seperti komputer dan lain-lain, menjelajah berbagai daerah dan sebagainya.
Ketika Obito masih sibuk mempelajari hal-hal lain, dia tiba-tiba merasakan seseorang bergerak dengan sangat cepat di belakangnya, ingin menusukkan sesuatu. Namun, Obito yang adalah seorang Ninja, segera menggunakan Shunshin, dan langsung menghilang lalu tiba di samping si penyerang dan kemudian mencengkram tangan kanan orang yang mencoba menusuknya itu.
Dalam keheningan karena gerakan yang tidak lebih dari sedetik itu, Obito mengerutkan kening. Penyerang adalah si gadis aneh gila yang mencoba mengikutinya dari tadi.
Gadis itu mengenakan ekspresi terkejut sekarang, mulutnya terbuka lebar, tubuhnya masih condong kedepan dan melihat ke bangku dimana Obito duduk tadi, kemudian menatap Obito yang memiliki ekspresi marah, dan masih mencengkram tangannya dengan kuat.
"Apa yang kau lakukan?" Nada Obito kasar, dia melihat ke telapak tangan kanan gadis itu, dia memegang alat seperti suntikan yang digunakan untuk menusuk Obito sebelumnya.
"Kau sangat cepat!" Gadis itu berkata dengan bersemangat dan menegakkan tubuhnya, dia mencoba melepaskan cengkraman Obito, namun itu semua sia-sia.
Obito kesal sekarang, suasana hatinya tiba-tiba menjadi sangat gelap, dia tidak tahu apa yang diinginkan gadis ini sekarang, dia sudah memberitahu tentang lukanya, namun dia masih mengikuti dan bahkan mencoba untuk membunuhnya? Itu lelucon yang sangat lucu.
Langit sudah benar-benar gelap sekarang, dan lampu-lampu taman dekat mereka mulai menyala, sementara tidak ada orang disekitar selain mereka berdua.
Menarik gadis itu mendekat, dan menundukkan kepalanya agar mereka saling berhadapan dengan sejajar, Obito mengeram.
"Aku sudah muak dengan ini, beri aku penjelasan yang masuk akal, kalau tidak aku akan memberimu pelajaran yang tidak pernah kau lupakan."
AN: Yah, secara teknis aku berencana update seminggu sekali, tapi karena prolognya yang cuman 800 kata, aku memutuskan untuk menambahkan sedikit lagi, atau mungkin, hitung ini sebagai bagian dari prolog juga :p
Dan gitu aja, makasih yang udah baca! Mudah-mudahan narasi atau dialognya bisa dimengerti, karena aku hanya seorang pemula yang cuman mau nulis fanfic buat belajar atau seneng-seneng XD.
Kalau ada yg typo tolong kasih tau ya.
Juga makasih banyak yang udah fav, follow, apalagi review! Itu sangat membuatku senang, wkwkwk
