BAB 02 :MORAL

Bersandar di sofa abu-abu yang empuk, Obito sudah mengganti pakaiannya dengan kaus tipis dan celana olahraga hitam panjang.

Dia tidak menyangka hidupnya akan menjadi seperti ini, seperti warga sipil normal Konoha yang melakukan apapun secara teratur, mulai dari sarapan, olahraga, dan menonton hiburan ditelevisi.

Sekarang pagi, dan udara menjadi sedikit dingin, apalagi dengan AC yang sedang menyala, namun Obito terlalu malas untuk mengatur suhunya.

Dia memindahkan saluran TV dengan remote hitam ditangannya, kembali di dunia aslinya, dia mungkin atau tidak pernah sama sekali menonton TV, itu di Konoha ketika dia masih seorang Genin, dia hanya pernah menonton acara komedi receh sesekali, karena menurutnya tidak ada yang menarik selain itu.

Sekarang dia mungkin harus membuat catatan baru dikepalanya, bahwa tidak peduli di dunia mana kau berada, acara TV akan selalu menjadi sampah. Namun sekarang ini dia tetap terus menontonnya, lagipula dia hanya menonton berita, karena ini adalah cara untuk mendapatkan kabar terbaru di dunia ini, walaupun itu menjadi sangat memuakkan setiap kali berita itu memunculkan kabar tentang pahlawan yang berpakaian ketat juga aneh.

Langkah kaki terdengar dari belakang Obito, namun dia tidak berpaling dan terus menatap televisi dengan malas, lalu mengeluarkan suara seraknya.

"Kau sudah bangun?"

Terdengar suara menguap di belakang sebagai jawaban, lalu langkah kaki mulai semakin mendekat, dan seorang gadis berambut kuning terlihat tengah menaruh dagu juga jari jemarinya di bagian atas sofa sandaran Obito.

"Kau menonton acara membosankan ini lagi?" Toga Himiko menatap layar dengan mulut mengerucut, layar itu sedang menampilkan All Might yang tengah tersenyum dan menampilkan semua gigi putihnya.

Menolehkan mukanya sedikit kebawah, dia melihat remote digenggaman kiri Obito dan kemudian tersenyum.

"Berikan remotenya padaku!" Himiko mendorong tubuhnya sambil mengulurkan lengannya sendiri dengan cepat, hingga jatuh ke bantalan, kemudian alas duduk sofa, lalu kepangkuan Obito. Obito masih terlalu cepat baginya, sehingga hanya perlu menggerakkan lengannya saja ke samping untuk menghindari Himiko dari mengambil remote.

Tengkurap dipangkuan Obito, Himiko melihat remote di tangan yang sudah berpindah itu dengan murung.

"Ayolah! Ini apartemenku, jadi TV ini milikku, sebaiknya kamu menyerahkannya padaku, aku ingin melihat Yami-chan!"

Tidak punya argumen lebih lanjut karena itu memang benar, Obito menghela napas lalu menyerahkan remotenya kepada Himiko dengan lembut.

"Ini, sekarang menyingkir dariku, kau membuatku pegal."

Himiko menerima remote dengan cekikikan dan segera menuruti perkataan Obito, duduk dan kemudian mengganti saluran. Acara itu menampilkan kartun bertokoh utama kucing juga tikus, yang saling kejar mengejar dengan sadis.

Dalam diam, Obito menatap Himiko yang sesekali akan tertawa karena kucing atau tikus itu tertimpa beban yang sangat besar, dan kemudian menjadi gepeng, namun tentu saja mereka masih hidup.

Obito sudah berada di apartemen Toga Himiko tiga hari sejak bertemu dengannya pertama kali di toko ramen. Saat itu Obito mengancam selama beberapa menit dan menanyakan alasan mengapa dia mengikutinya terus, tentu saja gadis itu menolak untuk menjawab, dan mengalihkan pembicaraan terus-menerus.

Namun akhirnya dia segera menyerah, lalu tertawa terbahak-bahak juga terengah-engah, dengan wajah sedikit memerah, lalu dia berteriak dengan sangat keras.

"Itu karena bau darahmu terasa sangat enak! Ini berbeda dari semua orang yang aku temui… atau rasakan, baumu bisa tercium olehku bahkan di jarak yang cukup jauh!

"Jadi aku memutuskan untuk mencicipinya. Aku mungkin akan puas jika bisa meneguknya setetes saja!"

Dan setelah itu wajah Himiko menjadi sangat gelap, tawanya berhenti, namun dia tidak kehilangan senyum bertaringnya dan langsung menatap mata Obito, lalu mengambil suntikan lain di saku celana, dengan tangan kirinya yang bebas dalam sekejap mata, dan mengarahkan itu langsung ke leher Obito.

"Jadi, bolehkah aku melakukan itu?"

Obito segera mendengus, lalu mendorong dan melempar lengannya dengan keras, itu menyebabkan Himiko kehilangan kesimbangan dan jatuh kebelakang dengan tidak menyenangkan.

Mengambil kunai dari kantong Shuriken-nya,Obito segera berjongkok, lalu mengarahkan kunai itu langsung ke arah leher Himiko.

Himiko terengah-engah dan matanya melebar saat melihat kunai yang akan siap untuk menggoroknya itu, untuk sesaat Obito sangat senang melihat ekspresi ketakutannya. Namun ketakutan gadis itu hanya berlangsung sekejap saja, dan langsung digantikan dengan ekspresi gembira.

"Kau punya pisau yang keren! Hati-hati ketika mengarahkan itu, atau kau akan menyakitiku, dan mungkin akan ada beberapa polisi juga pahlawan yang akan datang kemari, lalu segera menangkapmu."

Obito segera sadar saat itu, dia mungkin tidak takut oleh polisi atau semua orang disini, karena dia sudah menyadarinya sejak lama, bahwa dia praktis adalah pembangkit tenaga listrik berjalan.

Dan berdasarkan informasi yang dia dapat, kekuatan-kekuatan manusia disini tidak akan ada yang bisa mengalahkannya, tapi dia juga tidak terlalu bodoh untuk sangat percaya diri.

Namun yang paling penting sejak awal, dia baru saja melupakan tujuan barunya sejak berbicara bersama Kakashi juga Naruto tadi. Kau bukan lagi seorang monster, Obito mengingatkan dirinya sendiri. Lalu menutup matanya sejenak dan menaruh kunai itu kembali di kantongnya.

"Aku akan melepaskanmu untuk kedua kalinya sekarang, namun aku memiliki pertanyaan, mengapa kamu ingin darahku?"

Obito bertanya. Darah bagi shinobi sangat penting, karena mereka memiliki banyak jutsu atau bahkan kontrak yang harus menggunakan itu, dan dia tidak percaya bahwa, jika gadis ini benar-benar ingin mendapatkan darahnya, dia hanya akan menggunakan itu untuk meminumnya saja,

Mungkin dia memiliki tujuan lain juga.

Namun, pada saat yang sama, dia juga baru tiba di dunia ini, jadi dia tidak memiliki musuh.

Lagipula orang macam apa yang akan meminum darah manusia…? Oh, Hidan mungkin akan melakukan itu, Obito membatin.

Dan jika memang benar ternyata gadis ini hanya seorang kanibal tanpa alasan sama sekali, karena berdasarkan perkataannya tadi, dia telah sering melakukan itu.

Obito mungkin akan memasukkannya ke rumah sakit jiwa untuk dirawat, itu terlalu berbahaya untuk membiarkannya berkeliaran sendirian dan melukai semua orang.

"Aku sudah bilang, aku hanya ingin mencicipinya saja!"

Ekspresi Himiko sedikit mengkerut, lalu dia menendang menggunakan kakinya kearah Obito dengan keras, namun Obito tidak merasakan apapun, itu terlalu lemah baginya.

"Jika memang benar begitu, berarti ada yang salah dengan otakmu, aku akan membawamu ke rumah sakit jiwa atau seorang psikiater untuk menyembuhkan kegilaanmu ini sekarang" kata Obito dengan lemah, namun kata-kata itu sepertinya menusuk langsung ketelinga Himiko.

"Kau tidak bisa melakukan itu!" teriak Himiko, dia dengan cepat berdiri dengan marah dan mengarahkan pukulan langsung kewajah Obito, namun itu dengan cepat ditangkis oleh Obito tepat ketika mencapai depan wajahnya.

"Tentu saja aku bisa, kau gila." dengan gigi yang terkatup, Obito yang masih berjongkok segera menarik dan sedikit memukul perut Himiko dengan pelan, lalu menggendong gadis itu di bahunya sambil berdiri.

Himiko memberontak dan menggeliat sambil berteriak di bahunya ketika sedang berjalan, gadis itu memukul-mukul punggung dan menendang-nendang dada Obito dengan sekuat tenaga.

"Kau sebaiknya menyimpan energimu, pukulanmu sangat menyedihkan." Obito mengingatkan dengan malas.

"Lepaskan aku! Kau bodoh!"

Obito tidak mendengarkan dan terus berjalan kearah keluar taman yang gelap juga sepi, dan tidak ada orang sama sekali.

"Hei!

"Bajingan!

"Ayolah?!

"Kumohon..."

Obito berhenti berjalan, gadis itu terisak sekarang, pukulan demi pukulan perlahan melemah, air matanya mengalir melalui pipi dan jatuh di antara pakaian Obito, dan membuatnya menjadi sedikit basah serta warna yang menjadi lebih gelap.

"Jika aku pergi kesana, polisi akan datang menangkap dan memenjarakanku… Aku pernah membunuh seseorang 'kau tahu?"

Mobil-mobil dengan lampu menyala berjalan beberapa puluh meter dari taman, adalah semua yang memenuhi pandangan Obito saat ini.

"Itu di sekolah, aku sering melihatnya bertarung, dia terlihat sangat keren di sana, sampai-sampai aku mulai menyukainya, namun, aku hanya tetap bisa melihatnya dari kejauhan."

"Jika kamu menyukainya… mengapa kamu malah membunuhnya?"

Obito berkata tanpa emosi, dia pernah mengalami naksir masa kecil, tentu itu hanya terjadi pada Rin, dia tidak bisa membayangkan mengapa gadis itu membunuh orang yang disukainya. Sementara Obito yang dulu, akan berperang untuk membawa Rin hidup kembali, walaupun hanya di dunia mimpi.

Mendengar perkataan Obito, gadis itu menangis lebih keras dan berteriak.

"Karena itu adalah sesuatu yang akan dikatakan orang lain sebagai tidak normal! Aku menyukainya karena dia terlalu sering bertarung lalu mengeluarkan banyak darah, di sekujur tubuh juga pipinya!

"Setiap hari aku melihatnya, tubuhku akan bereaksi tidak karuan, dan itu membuat hatiku panas dan membara! Aku tidak bisa menahannya, jadi aku membunuh dan meminum darahnya, hanya untuk mendapatkan kepuasan itu!

"Karena itu aku lari... bersembunyi dari para polisi dan pahlawan, dan jika kau membawaku kesana, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada hidupku."

Pada saat itu, gerakan apapun yang dibuat oleh Himiko mulai berhenti, dan dia terisak sambil berbisik, hampir tidak bisa terdengar.

"Aku juga menyesal 'kau tahu…? Aku selalu ingin berubah, namun quirk-ku tidak ingin bekerja sama… aku lelah dicap sebagai orang aneh."

Setelah mengatakan itu, dunia terasa kosong, dan keheningan memenuhi udara, tidak ada yang berbicara atau bergerak sedikitpun saat itu.

Sesaat kemudian Obito menghela napas, lalu menurunkan gadis itu untuk berdiri. Wajah Himiko sedikit bingung dan matanya memerah.

"Baik, itu artinya kau seorang buronan sekarang? Apakah kamu bisa berjanji untuk tidak menghisap darah atau membunuh seseorang ketika aku melepaskanmu?"

Himiko mulai tersenyum mendengar itu, dan dia mulai menjawab dengan terpatah-patah.

"Y-ya! Ya! Tentu saja, aku berjanji!"

Obito diam, menatap matanya selama beberapa detik. Dia tahu gadis itu menjawab sungguh-sungguh, namun berdasarkan quirk, dan mungkin pembunuhan yang telah dilakukannya, Obito ragu dia bisa menepati janji itu.

Lagipula quirk miliknya mungkin seperti narkoba atau sejenisnya, yang membuat kecanduan dan sulit dikendalikan.

"Begini saja, kau akan menjadi tahananku selama sebulan sekarang, aku akan melihat apakah kegilaanmu muncul kembali, dan jika kamu bisa tidak menghisap darah selama periode itu, aku aku akan segera membebaskanmu"

Ekspresi Himiko agak aneh sekarang.

"Apa? Kau gila? Apakah kamu orang yang mesum atau apa?"

"Jangan membuat lelucon, ikuti saja perkataanku, jika kamu melanggarnya aku bisa membawamu ke polisi dalam hitungan detik, sekarang ayo pergi."

Obito berjalan menuju keluar taman, sambil mengisyaratkan gadis itu untuk mengikuti, Himiko ragu-ragu sejenak, namun akhirnya menurut.

Setelah itu mereka berkeliling kota tanpa tujuan karena Obito masih berusaha mencari informasi yang relevan, memakan Yakiniku, juga membeli baju baru untuk dirinya sendiri.

Karena jengkel dan sangat membosankan, Himiko akan berusaha kabur beberapa kali saat itu, dan Obito akan membiarkannya, lalu ketika lima belas menit berlalu, Obito akan segera mengejutkannya dengan berada di depannya secara tiba-tiba, lagi dan lagi, beberapa kali pun itu.

Itu memberikan dan menanamkan getaran ke kepala Himiko, bahwa Obito bisa mendeteksi atau bahkan menangkapnya kapanpun dia mau. Setelah itu, Himiko menyerah dan hanya mengikuti Obito kemana-mana.

Waktu beberapa jam terus berlalu. Saat itu jam 10 malam, jauh di sisi keramaian kota, Himiko berjalan dengan lesu.

"Hei, Obito-kun bisakah kita berhenti berjalan-jalan dan pulang sekarang? Aku mengantuk!"

Mereka tidak lupa untuk bertukar nama beberapa jam sebelumnya, dan Obito akan terus merasa kesal, ketika Himiko terus mengucapkan namanya seolah-olah mereka telah berkenalan lama, dengan tambahan "Kun"

"Baik, dimana tempat tinggalmu? Kau tahananku sekarang, jadi aku akan tinggal bersamamu selama 24 jam"

Obito berpikir, jika Himiko benar-benar adalah seorang buronan, maka dia mungkin akan tinggal sendiri di rumah kosong atau sejenisnya, jadi dia menyarankan hal seperti itu. Lagipula dia juga sudah menjadi sedikit mengantuk dan agak lelah, dia hanya ingin mencoba untuk istirahat sekarang.

Dan terakhir, semua uangnya sudah habis untuk membeli barang-barang yang dipegangnya saat ini, dan karena itu, tidak ada cara untuk menyewa kamar penginapan.

Himiko mulai menatapnya dengan ngeri ketika mendengar itu selama beberapa detik, sebelum menyeringai bercanda.

"Heh~ apakah kamu tidak mempunyai tempat tinggal sendiri, atau akui saja bahwa ini semua hanya kedokmu, dan kamu mencoba melakukan sesuatu yang mengerikan padaku nanti!"

Bibir Obito berkedut, dan sedikit frustasi karena balasan Himiko, namun dia menjawab dengan datar.

"Kau benar, aku tidak memiliki tempat tinggal saat ini."

"Jadi kamu seorang penjahat? Aku sudah menduga itu! Kamu membawa senjata kemana-mana dikantongmu, dan bahkan mengarahkannya ke tenggorokanku dengan tanpa ekspresi!" Himiko berkata sambil tertawa.

Obito menatap wajah gadis itu, menggelengkan kepala pelan tidak menyangkal, dan untuk pertama kalinya, dia menimpal dengan sebuah tawa sambil melangkah.

"Oh diam saja... dan, pimpin jalan."


Setelah itu, disinilah dia sekarang tiga hari kemudian, duduk di sofa apartemen dan menjadi pengawas gadis aneh, tentu dia tidak menjadi pengawasnya terus-menerus ketika gadis itu pergi kemana-mana, dia hanya akan mengirimkan salah satu bunshin untuk menenaninya, sementara Obito akan melakukan kegiatannya sendiri.

Melihat sekeliling di apartemen yang bersih, Obito tidak menyangka Himiko malah mempunyai apartemen yang seharusnya tidak dimiliki oleh seorang buronan.

Rupanya keluarga Toga adalah seseorang yang bisa dianggap kaya, dan ketika Himiko pertama kali membunuh, dia segera kabur dan tidak lupa menggesekkan kartu ditempat-tempat berbeda untuk mengambil selusin gepok uang dalam genggaman.

Karena itu, dia masih bisa bersembunyi dan hidup dengan nyaman sekarang, lagipula membungkam seseorang ketika memiliki uang adalah hal yang termudah untuk dilakukan, terlebih lagi wajah Himiko tidak terpampang dimana-mana, dan mungkin hanya diketahui oleh secuil polisi. Juga, kejadian itu sudah 5 bulan berlalu.

Namun Obito berbeda, dia tidak memiliki uang sekarang, dan jika dia merampok uang terus-menerus, biarpun dari para sekelompok bajingan, itu akan terus menentang misinya yang ingin menjadi manusia lebih baik. Setelah memikirkannya sebentar, dia berkata.

"Aku akan meninggalkanmu dengan bayanganku lagi nanti, aku harus pergi keluar untuk mencari pekerjaan dan mendapatkan uang."

Acara TV sudah mengambil jeda iklan, lalu Himiko berdiri dan berjalan ke arah dapur yang tidak bertembok di samping kiri, untuk menyiapkan coklat panas, seperti yang dia lakukan setiap pagi, dan membalas tanpa menoleh ke arahnya.

"Kamu ingin mencari pekerjaan seperti apa, Obito-kun?"

"Entahlah, aku bisa menjadi tukang bangunan, penjaga toko, memasak. Yah aku hampir bisa melakukan hal-hal yang tidak berhubungan dengan komputer dan sejenisnya."

"Atau mungkin kamu bisa menjadi seorang algojo, kau selalu cocok untuk itu!" Himiko terkikik sendiri sambil mengaduk-ngaduk sendok di gelasnya yang mengepul karena uap panas.

"Aku setuju, namun agak sulit mencari pekerjaan sejenis itu sekarang." Obito menyeringai, setelah beberapa hari berlalu mereka mungkin sudah bisa dianggap teman. Kemudian dia berdiri mengambil tas yang berisi bajunya di dekat meja TV, dan pergi menuju kamar mandi, sementara Himiko sibuk meniup-niup minumannya yang panas.


Mencari pekerjaan lebih sulit daripada yang dipikirkan Obito, dia sudah memakai kemeja dan celana panjangnya yang paling bagus sekarang, berwarna hitam, dengan sepatu kulit coklat kas pekerja.

Dia bisa saja hanya menanamkan genjutsu ke seseorang untuk membiarkan mereka menerimanya begitu saja, namun itu terlalu tidak bermoral, walaupun mungkin sedikit menggoda.

Obito lalu meminum kopinya yang sudah menjadi dingin, dia sekarang berada di kafe, di kursi dan meja luar toko. Ada banyak orang sekarang yang berada di meja yang sama, kecuali Obito, dia sendirian, dan jika itu menurut orang lain, mungkin mereka akan menganggapnya sangat menyedihkan.

Dia sudah mencoba lamaran pekerjaan disana-sini, toko buku, toko bangunan, atau apapun itu, dan tidak ada yang menerimanya.

Apakah aku harus mencoba mengirim selusin bunshin untuk mendapatkan pekerjaan lebih cepat?

Itu ide yang menarik, tapi akan terlalu mendapatkan terlalu banyak perhatian, dunia ini punya lelucon tentang kamera CCTV yang mengawasimu disetiap sudut dimana-mana, terlebih lagi warga sipil tidak boleh menggunakan Quirk, kecuali saat sedang dalam keadaan terancam.

BOOM!

Obito dan seluruh orang yang berada di daerah itu segera mendongkak karena terkejut mendengar suara itu, di sana, di timur seberang jalan dari kafe terjadi ledakan yang sangat besar.

"Apa itu?"

"Ledakan! Apakah itu penjahat?"

"Sial, ini hari liburku."

Terdengar gumaman penasaran atau ocehan dari sekitar, beberapa orang termasuk Obito berdiri dan menghampiri ke arah ledakan, sementara sebagian tetap ditempatnya karena takut, dan bahkan beberapa orang lagi mengambil ponsel mereka untuk merekam.

Api dan beberapa lusinan benda yang terbakar, terpecah, atau terbelah itu berhamburan keluar dari pintu bangunan besar yang terbakar, kemudian benda-benda itu jatuh dengan cepat dan mengenai orang-orang yang berjalan atau berlari di dekatnya dengan keras, dan segera terpental.

Suara patah tulang, daging terbakar, dan teriakan kesakitan mulai terdengar di setiap pasang telinga yang hadir, mereka yang menyaksikan adegan itu mulai panik, lari, dan ikut berteriak, namun tidak ada satupun orang yang segera membantu korban-korban itu.

"Pahlawan, panggil pahlawan cepat! bodoh!"

Obito mendengar lelaki disampingnya meneriaki semua orang yang berada didekatnya, Obito terus maju, lalu berlari kearah ledakan sampai hanya beberapa 15 meter jauhnya.

Lalu mulai terdengar teriakan baru yang semakin keras dari dalam pintu gedung terbakar, itu adalah seorang wanita yang sedang dibawa lari ditangan oleh semacam monster berwarna hitam aneh seperti manusia. Tingginya tiga meter, otot-ototnya bisa terlihat dengan sangat jelas, mulutnya terbuka lebar dan bercahaya oranye. Dia juga memakai sisa-sisa celana dan mungkin baju berwarna hitam yang sudah robek-robek, dan hanya menyisakan sedikit bagian.

Monster itu berlari dengan cepat ke arah timur meninggalkan Obito dan orang-orang, lalu dia melompat-lompat ke dinding, kemudian atap gedung demi gedung.

tidak lama setelah itu muncul banyak tembakan bulu secepat angin ke arah monster itu, dari seorang pria bersayap burung berwarna oranye kemerahan, yang sedang terbang menghampiri monster itu di atas langit dengan cepat.

"Hawks!" Orang-orang berteriak, harapan muncul dari suara mereka.

Namun monster itu berhasil menghindari tembakan, dan beberapa bulu langsung tertancap tajam dan menghancurkan tembok, tetapi bulu-bulu yang tersisa segera berbelok mengikutinya.

Monster itu berhenti, menyemburkan api ke langit dari mulutnya, meraung dengan marah, lalu menjadikan wanita yang dipegangnya itu sebagai tameng ke arah Hawks.

"Berhenti, atau wanita ini akan mati!"

Hawks dan bulu-bulunya yang masih mengejar monster itu segera berhenti udara, dan Hawks tepat 7 meter dari monster itu. Lalu dia mengerutkan kening, "Lepaskan wanita itu, dan kau akan berada di penjara dengan tenang."

Melihat wanita dalam genggaman monster itu berjerit-jerit, dan menggeliat meminta tolong, serta air liurnya yang berceceran kemana-mana.

Obito mengerutkan kening dengan kesal, dia tidak suka ini, lalu menoleh melihat Hawks yang berada di udara, lalu bulu-bulunya yang bisa menghancurkan dan menembus tembok, berada tepat di belakang monster itu. Mengapa kau berhenti? Tusuk itu tepat di jantungnya keparat!

"Lepaskan? Ini adalah anak dari si lelaki tua bangka yang sudah membunuh anakku! Untuk apa aku melepaskannya?" Monster itu tertawa dan sepertinya sambil terisak-isak.

"Si bangsat itu tidak membayar gajiku lebih dari 3 bulan, akibatnya aku tidak bisa membayar biaya penginapan rumah sakit anakku yang sedang terbaring tidak berdaya.

"Aku sudah memohon atau bahkan berlutut dibawah kakinya, namun dia malah memecatku! Itu membuat anakku tidak bisa menjalani pengobatan lanjutan! Tidakkah itu gila?

"Dia sudah tiada sekarang, karena bajingan itu, namun itu tidak apa... dia akan membayarnya."

Lalu monster itu maju selangkah lebih dekat ke arah Hawks, tidak menurunkan suaranya.

"Kau pahlawan bukan? Jika memang begitu, mengapa kamu tidak membalaskan kematian anakku? Nyawa harus dibayar dengan nyawa, dan kamu harus menegakkan keadilan untuknya, karena kamu adalah pahlawan!"


Suasana hening sekarang, tidak ada yang berbicara ketika mereka selesai mendengar perkataan penjahat monster berwarna hitam itu, kecuali sedikit isak tangis yang mulai mereda dari para korban.

Saito Hideaki yang adalah seorang siswa sekolah 3 SMP berambut hitam, berdiri di sekitar kerumunan, dia menatap Hawks, bertanya-tanya apa yang akan dilakukan.

Bos macam apa yang melakukan itu? Itu terlalu keji. Saito menggertakkan gigi.

Tiba-tiba matanya dan semua orang melebar, dia melihat seorang pria berbaju hitam dengan pola awan-awan merah, dan bertopeng oranye spiral, yang muncul dari kehampaan dibelakang monster itu. Hawks segera mendongkak dan dengan cepat menembakan banyak bulu dari kedua sayapnya yang dikepakkan kesana.

Monster itu mungkin mengira dia menjadi sasaran, dan segera ingin meremukkan tubuh wanita itu.

Namun, itu dihentikan oleh sulur seperti kayu hutan yang segera tumbuh dari lengan kanan sang pria bertopeng dan menusuk jantungnya. Orang-orang disekitar Saito mulai berteriak histeris, ketika menyaksikan pembunuhan tepat dimata mereka.

Sementara bulu-bulu Hawks yang menuju pria bertopeng itu menembus melewatinya, seolah-olah pria itu hanya sebuah hologram. Monster itu jatuh, lalu genggamannya pada wanita itu lepas.

Hawks melihat itu, lalu menggunakan sedikit bulunya untuk membawa sang wanita kebawah di tempat yang aman.

Kemudian dia dengan cepat mulai mendorong tubuhnya ke arah pria itu, dengan bulu-bulunya yang sudah terlepas dan berterbangan di udara, ketika dia mencoba memukul dan menusuknya, itu tetap saja hanya menembus pria itu dan tidak meninggalkan luka.

Hawks terjatuh dengan anggun tepat di atap dan belakang pria itu dengan anggun.

Saito tidak tahu siapa pria itu, dia belum pernah melihat Quirk seperti itu sebelumnya.

"Siapa kau?" Hawks mengeram.

Pria bertopeng itu menoleh kebelakangnya dengan terkikik seperti anak kecil dan berpose dengan bodoh.

"Aku Tobi! Senang bertemu denganmu! Um… Uh? Aku tidak mengetahui namamu?"

"Kau membunuh pria itu sialan!" berteriak Hawks menyiapkan bulu-bulunya lagi, dan sekarang mereka mengelilingi pria itu seperti bola, siap untuk menusuknya.

Orang yang menyebut dirinya Tobi itu melihat mayat yang tergeletak dan bercocoran dengan darah, lalu menggenggam dagunya, sambil memiringkan kepalanya.

"Benarkah? Bukankah dia hanya tertidur? Lihat aku bisa membuktikannya!"

Tobi berjalan menembus bulu-bulu yang mengitarinya diudara, dan berjongkok didekat mayat itu, lalu memegang nadinya, kemudian berdiri, dan tertawa kepada Hawks.

"Kau benar! Dia memang mati! Aku perlu memberimu hadiah, apa yang kamu inginkan? Hei! Aku bisa memberimu Mochi! Sekotak Mochi!"

Itu mungkin kata-kata yang sangat manis, namun, Saito dan semuanya yang hadir disana, merasakan kengerian yang merembes sampai ke tulang.


AN : Untuk menjawab salah satu reviewer, Obito saat ini berumur 31 :'v

Dan ini pertama kalinya saya nulis adegan pertarungan walaupun pendek, dan itu susah banget, juga sekali lagi, semoga semua tulisan ini bisa dimengerti oleh kalian yang baca.

Kalau kalian gak ngerti, salahin aku aja yang nubi ini.

Ini nggak ada beta, juga gak dibaca ulang saat ngeposting, karena itu tolong, kalo ada kesalahan kasih tau ya :D

Sekali lagi, terimakasih yang udah fav, follow, dan review!