Happy(iest) Birthday, Fang!
Fiksi ini ditulis untuk menyambut ulang tahun sang landak ungu kesayangan, Fang!
#HappyBirthdayFang
Latar waktu : BBB galaxy season 2, tidak dalam masa Bulan Puasa
BoBoiBoy belongs to Animonsta
and happy reading
.
.
.
"Fang! Selamat ulang tahun!"
Itulah kalimat yang menyambut Fang pagi ini, baik lewat pesan singkat –dia membacanya tepat setelah membuka mata— maupun diucapkan langsung oleh yang bersangkutan.
"Emm, thanks?" balas Fang ragu.
Kalau itu fans-fansnya, Fang cukup membalas dengan senyum kecil di bibir. Masalahnya, ini sahabat-sahabatnya dan ini ucapan kedua mereka hari ini. Fang tentu tidak bisa hanya membalas dengan senyum simpul kan? Tapi, rasanya aneh berterima kasih lagi –untuk sebab yang sama— karena tadi pagi dia sudah mengucapkannya lewat pesan singkat.
BoBoiBoy dan Gopal –ya, mereka-lah sahabat Fang yang baru saja mengucapkan selamat— pun tersenyum "manis", entah menunggu apa.
"Kalian ngapain sih? Sana-sana! Aku mau lewat!" usir Fang setelah beberapa detik mereka bertiga berdiam di depan pintu kelas akibat kedua sahabatnya menutup jalan.
Sesampainya di tempat duduk, Fang berusaha mempertahankan image cool-nya akibat limpahan donat wortel dalam lokernya. Namun, pada akhirnya dia tetap bersikap OOC setelah mengeluarkan mereka dan menghitung jumlahnya.
Di tengah kebahagiaan Fang yang membludak karena dapat memakan makanan kesukaannya sebanyak ini, dia dihampiri lagi oleh kedua sahabat lelakinya.
"Apa lihat-lihat?! Aku tidak akan membagi donat-donat ini untuk kalian, meski kalian memelas sekalipun!" peringat Fang sambil memeluk gundukan donat tersebut, melindungi mereka dari tangan-tangan jahil sahabatnya.
Lagi, kedua sahabatnya hanya tersenyum sebagai balasan.
"Kami memang tak mau donatmu lah, Fang," balas BoBoiBoy pada akhirnya, menyadari sikap "manis" mereka tidak ditanggapi oleh Fang.
"Terus?"
"Traktir kami boleh lah yaa. Kan hari ini kamu ulang tahun," goda Gopal sambil menyenggol main-main tubuh Fang dengan sikunya.
Dahi Fang mengerut. "Itu tradisi baru ya?"
Yaa, wajar dia bertanya demikian. Karena sejauh yang dia tahu dan yang dia alami selama ini, yang ulang tahun justru yang ditraktir, bukan mentraktir.
"Begitulah," balas Gopal, masih mempertahankan senyumannya.
"Woi! Mana ada lah! Kalau kalian berniat memoroti Fang, lebih baik kalian lakukan besok saja!" seru sebuah suara, menginterupsi aksi mereka dalam membujuk Fang.
"Entah. Kalau kalian lapar, nah, kebetulan aku bawa biskuit buatanku! Mau?" tawar suara lain sambil menyodorkan dua bungkus biskuit. Seketika, ketiga lelaki tersebut menggeleng cepat-cepat.
"Nah, begitu lebih baik," balas Yaya, salah satu orang yang menginterupsi tawar-menawar ilegal tadi, sembari tersenyum manis.
"Kalau kalian sangat lapar, nah, duit. Belilah jajan atau makanan berat di kantin sana. Lain kali, jangan lupa sarapan sebelum pergi ke sekolah!" balas Ying sambil menyodorkan 2 lembar uang pada kedua sahabat lelakinya.
"Eh, tak perlu-lah, Ying," tolak BoBoiBoy halus. Kan tadi dia membujuk Fang memang untuk main-main. Atau kalau justru berhasil, dia ingin ditraktir nanti, bukan sekarang.
Sementara Gopal dengan cepat menyahut dua lembar uang tersebut dari tangan Ying.
"Hehe, makasih loh, Ying. Susah-susah kasih aku uang," balas Gopal dengan kekehan bercandanya.
"Woi! Kembalikan! Itu uangku!"
"Tak! Tadi kan, kau yang memberikannya suka rela!"
Perdebatan antara Ying dan Gopal pun tak terelakkan. Ketiga sahabat mereka pun memberikan reaksi yang berbeda. Yaya berusaha melerai perdebatan dan berusaha tidak memihak, BoBoiBoy hanya mendengus lelah, lalu Fang memperhatikan sambil sibuk mengunyah donat wortel yang sempat terlupakan.
Perdebatan diakhiri dengan Ying yang merebut paksa uangnya kembali, membuat Gopal menangisi kepergian uang tersebut dan BoBoiBoy yang menepuk-nepuk punggung sahabatnya untuk menenangkan.
"Hari bahkan masih pagi, tapi sudah dapat drama picisan," komentar Fang, masih sibuk mengunyah donat favoritnya.
"Ah, ya. Fang, selamat ulang tahun," ucap Yaya kemudian diikuti Ying. Fang mengangguk dan mengucapkan terima kasih pada kedua gadis sahabatnya itu.
Ah, ya, untuk mereka, Fang sama sekali tidak sungkan mengucapkan terima kasih, seberapa banyak pun itu. Tapi, kalau untuk kedua sahabat lelakinya, yaah, daripada dibilang sungkan atau gengsi, Fang lebih merasa geli, sih. Dia tidak biasa berucap atau bersikap manis pada kedua sahabat lelakinya itu.
"Aku tak sabar menunggu pulang sekolah nanti!" celutuk Ying riang, entah sedang membayangkan apa.
"Memangnya ada apa sepulang sekolah nanti?" tanya Fang bingung.
Segera, Yaya dan Ying melirik BoBoiBoy serta Gopal tajam. Lewat tatapan mata itu, mereka seolah berucap, "KALIAN TIDAK MEMBERITAHUNYA?!" Tentu saja kedua lelaki itu segera menciut takut. Tidak ada yang berani, termasuk Fang, menghadapi kemarahan kedua gadis itu.
"Jadi, begini, Fang," mulai Yaya lembut setelah mengembalikan tatapan matanya pada sang pemuda ungu. BoBoiBoy dan Gopal langsung menghela napas lega saat deathglare itu berhenti diarahkan pada mereka.
"Kami ada rencana untuk barbeque-an nanti sore di rumah BoBoiBoy, sekalian makan malam. Nah, kan dari pulang sekolah sampai acara barbeque-an itu kita tidak ada jadwal. Jadi, kami kepikiran untuk mengajakmu jalan-jalan sekalian beli bahan-bahan makanan. Kau bisa kan?" jelas Yaya panjang-lebar.
Fang berpikir serius karena kali ini dia berhenti mengunyah makanan favoritnya yang masih tersisa banyak.
"Jalan-jalan kemana?" tanya Fang kemudian.
"Terserahmu lah, Fang. Kami hanya menemani," celutuk Gopal.
"Kalau kita ke pusat kota, bagaimana?"
"Untuk apa?" tanya BoBoiBoy balik.
"Belanja-lah. Ada fashion baru yang kuincar."
"Belanja?!" seru Yaya.
"Fashion?!" seru Ying bersamaan.
"Oke. Tujuan kita sudah fix!" seru kedua gadis itu bersemangat. Berbanding terbalik dengan Gopal dan BoBoiBoy yang justru mengangakan mulut.
"Tidaaaaak!" jerit mereka berbarengan karena jelas, bukannya ikut membeli sesuatu, yang ada mereka malah jadi pesuruh kedua gadis tersebut.
Fang hanya memulas senyum simpul, terhibur dengan tingkah sahabat-sahabatnya.
.
.
.
Benar saja. Selama berjam-jam mereka memutari pusat perbelanjaan, BoBoiBoy dan Gopal menjadi pesuruh Ying serta Yaya. Untung Fang mandiri, membawa belanjaannya sendiri. Jadi, kedua sahabat lelakinya tidak semakin tersiksa akibat membawa terlalu banyak paperbag di tangan.
Mungkin karena mood yang sedang baik, Fang pun bermurah hati mentraktir dan membantu kedua sahabat lelakinya berbelanja. Tentu saja BoBoiBoy dan Gopal menyambut tawaran Fang dengan senang hati. Tidak mahal memang yang mereka beli, tapi tetap saja jumlahnya banyak dan berupa makanan semua. Di saat Fang menghela napas pasrah, kedua sahabat lelakinya justru tak sekalipun melunturkan senyum di bibir karena rencana awal mereka untuk memoroti Fang berhasil juga.
Tak lupa mereka membeli bahan-bahan untuk barbeque-an dan kembali terjadi selisih pendapat di sini. Ying dan BoBoiBoy ingin membakar sosis atau bakso saja karena mudah dan murah, sementara Yaya dan Gopal ingin membakar seafood karena jarang-jarang kan, mereka barbeque-an begini? Dan sebagai jalan tengahnya, Fang pun memutuskan untuk membeli semuanya dengan syarat tak lupa membeli wortel. Lagi-lagi, keputusan Fang berakhir dengan bangkrutnya dia bulan ini akibat harus menutupi kekurangan biaya mereka.
Sesampainya di rumah BoBoiBoy, Tok Aba dan Ochobot telah siap sedia di halaman belakang dengan tungku pinjaman yang apinya telah membara. Dengan cepat, mereka membagi tugas untuk membuat bumbu, membersihkan seafood, dan menusuk-nusuk bahan bakaran dengan tusuk sate. Tak lupa ice choco dan hot choco disiapkan sebagai minuman pendamping acara mereka sekaligus traktiran dari Tok Aba.
Acara barbeque-an di rumah BoBoiBoy pun berakhir pukul 8 malam dan ditutup dengan ucapan, "sekali lagi, selamat ulang tahun, Fang!" dari sahabat-sahabatnya sebelum sang pemuda ungu kembali ke tempat tinggalnya.
.
.
.
Kalau ditanya, apakah hari ini Fang bahagia? Tentu sang pemuda ungu akan menjawab dengan mantap, "ya, aku bahagia."
Itu kalau kalian bertanya sebelum Fang keluar dari kediaman Tok Aba dan BoBoiBoy.
Karena sejujurnya, para sahabatnya adalah obat terampuh untuk mengalihkan pikiran berlebihnya.
Karena sebenarnya, para sahabatnya adalah orang yang paling ahli untuk mengalihkan perhatiannya.
Dalam perjalanan pulang, entah untuk keberapa kalinya hari ini, Fang mengecek fitur pesan dalam kacamata canggihnya. Nihil.
Sekali lagi, Fang menghela napas lelah dan menyadari heningnya sekitar. Ah, dia baru sadar kalau dia se-kesepian ini saat tidak bersama sahabat-sahabatnya.
Pikirannya berkecamuk, memikirkan banyak hal hingga dia tak sadar telah sampai di depan bangunan tempat tinggalnya.
Fang mengernyit bingung saat melihat sebuah kotak besi di depan pintunya. Dengan cepat serta penasaran, sang pemuda ungu mendekat untuk mencari informasi tentang paket ini.
Kotak itu jelas untuknya, ada tulisan "untuk Fang" di nota pengirimannya. Semua informasi ditelaah dan dipahami oleh Fang, kecuali alamat pengirimnya yang terdiri atas rangkaian huruf dan angka, tak bisa dibaca utuh sebagai sebuah kata.
Setelah meletakkan berbagai belanjaannya tadi ke dalam, Fang kembali keluar untuk mengangkut kotak yang cukup besar itu. Sekali lagi, dia mengecek kolom pesan masuk dalam kacamatanya. Tetap saja nihil.
Tanpa membuang banyak waktu, Fang segera memanipulasi bayangan menjadi peralatan pertukangan untuk membongkar kotak tersebut. Dia menemukan empat barang yang jelas bukan berasal dari Bumi kemudian mengeluarkannya satu persatu.
Barang pertama yang dia keluarkan adalah kacamata yang tampak canggih, mirip miliknya yang sekarang digunakan. Hanya saja, saat dia mencobanya, fitur dalam kacamata itu jelas lebih banyak dan lebih modern.
Barang kedua yaitu sarung tangan fingerless berwarna ungu, sekali lagi mirip dengan yang dia gunakan saat ini. Hanya saja, kainnya terasa lebih lembut tapi sangat kuat di waktu bersamaan. Tak lupa logo di bagian dalam pergelangan menjadi penanda asal dibuatnya sarung tangan ini. Fang tahu logo itu dan dia juga tahu kalau produsen dengan logo tersebut menghasilkan pakaian-pakaian terbaik sejagat raya.
Seketika Fang bisa membayangkan berapa banyak uang yang dikeluarkan sang pemberi untuk membelikannya sepasang sarung tangan ini.
Barang ketiga adalah sepatu pantofel warna hitam mengkilat, terlihat seperti baru dipoles. Logo pada sepatu ini sama dengan merk pada sarung tangan tadi. Hanya saja, Fang bingung. Kapan dia bisa memakai sepatu ini? Ini kan sepatu untuk acara resmi, bukan untuk kegiatan lapangan (bertualang dan bertempur).
Barang keempat adalah boneka berbentuk pinguin. Tidak ada merk apapun pada boneka jahitan tangan itu, pun ukurannya hanya segenggam tangan, kecil sekali. Tapi karena Fang memang suka pinguin, dia pun menerimanya dengan senang hati.
Dia kira, boneka pinguin itu adalah barang terakhir. Ternyata dia salah. Masih ada sepucuk surat di dalam kotak itu. Setelah menemukan posisi yang nyaman, sang pemuda ungu pun membuka amplop tersebut dan mulai membacanya.
Selamat ulang tahun, Fang!
Maaf kami tidak bisa memberikannya langsung padamu. Kami sibuk sekali di sini.
Kami tidak mengharapkan sesuatu yang muluk-muluk padamu, seperti memintamu menjadi makhluk paling kuat dan tak terkalahkan di galaksi ini. Harapan kami sederhana. Semoga kau setahun ke depan menjadi makhluk yang lebih bahagia dibandingkan kau setahun yang lalu.
Tertanda,
Keluargamu
Fang mengernyitkan dahi, bingung. Hadiah ini jelas dari abangnya di luar sana dan sang abang tak pernah menyebut dirinya sendiri sebagai "keluarga". Kata itu terdengar kompleks dan terkesan menunjukkan sang pelaku lebih dari satu orang. Oleh karena itu, sang abang lebih suka menyebut dirinya sebagai "Kaizo" atau "Abang" dalam surat-surat pribadi seperti ini.
Lagipula, kenapa kata ganti personanya "kami"?
Suara tit pelan terdengar di telinganya bersamaan dengan munculnya satu notifikasi pesan masuk pada kacamata canggihnya. Fang pun membuka pesan singkat dari abangnya itu dan segera membacanya.
Selamat ulang tahun, Fang. Aku baru sempat menghubungimu sekarang. Apakah hadiah dari kami sudah sampai?
Mata Fang tanpa sadar berkaca-kaca karena memang pesan inilah yang dia tunggu-tunggu sejak tadi pagi. Pesan berisi ucapan selamat ulang tahun dari sang abang, berharap abangnya tidak melupakan tanggal kelahirannya sekaligus ingat dengan perbedaan waktu antara tempatnya bekerja dengan Bumi.
Tangan Fang bergerak cepat, mengetikkan balasan untuk sang abang.
Terima kasih ucapannya, Bang. Dan hadiahnya sudah sampai.
Kacamata canggihnya dia ubah ke mode kamera untuk mengambil gambar hadiah-hadiah yang sudah dibongkarnya tadi lalu mengirimnya pada sang abang.
Teringat dengan pertanyaan selintasnya tadi, Fang pun kembali mengetikkan pesan singkat pada sang abang.
Bang, aku sudah membaca suratnya. Kalau boleh tahu, kenapa pakai kata "kami"?
Tak sampai satu menit, Kaizo telah membalas.
Karena hadiah-hadiah itu memang bukan hanya dariku saja.
Fang kembali mengernyit, bingung.
Lalu, dari siapa lagi?
Kali ini, balasan sang abang lebih lambat sampai daripada balasan-balasan yang sebelumnya.
Dari keluargamu, tentu saja. Bukankah sudah tertulis jelas di suratnya?
Sepuluh detik, Fang berkedip, memproses segala informasi yang dia dapat di tengah kebingungannya.
Tiga puluh detik, Fang kembali berkedip, mulai memahami semuanya.
Dan tepat pada hitungan ke-60, Fang tak kuasa menahan laju air yang keluar dari kedua matanya.
Otaknya telah rampung menyimpulkan segalanya, semuanya.
Yeah, happy birthday, Fang. We wish you to be the happiest person in this universe.
END
A/N : aku pengen nulis A/N, tapi gak tau mau nulis apa ._.
TMI hari ini adalah aku ngetik fic ini kurang dari 24 jam. Mana tadi pagi kenak writer block lagi. Alhamdulillah bisa kelar juga fic ini sebelum ganti hari. Walau begitu, maaf ya, kalau alurnya terlalu cepat, plotnya gak nyambung, typo, OOC, dll.
Terus, cuma mau ngasih tau sih, barangkali ada yang bertanya-tanya.
Sekali lagi, "barangkali".
Hadiah-hadiah itu memang bukan dari Kaizo aja. Satu dari Laksamana Maskmana, satu dari sang ayah, dan satu lagi dari sang ibu. Aku bingung sih, siapa kasih kado apa. Tapi, yang jelas, boneka pinguin itu dari sang ibu, dijahit sendiri sama beliau.
And, yes, they're still alive out there! .
(Love this headcanon)
Sekali lagi, happy birthday, Fang! Harapanku sama kayak yang di dalam cerita. Nggak muluk-muluk harus jadi kuat, selalu sehat, atau apapun itu. Aku cuma pengen lihat Fang lebih bahagia ke depannya, dan tentu lebih sering tampil lagi, baik di sosmed maupun komik.
Oke. Sekian dariku. Bye, bye
