Disclaimer: Genshin Impact © Mihoyo
Penulis tidak mengambil keuntungan dalam bentuk apapun dari penulisan fanfiksi ini.
Fanfiksi ini murni Headcanon.
Gladly I Took Today's Daily Commission!
Jika kamu ditanya pendapatmu tentang Mondstadt, kamu tidak bisa bohong jika kamu sangat menyukai kota ini. Bukan semata-mata karena faktanya Mond adalah kota yang pertama kali kamu datangi. Hanya saja, semua hal di kota kecil yang dikelilingi danau Cider ini membuatmu merasa nyaman dan betah berada di sana. Tidak dipungkiri, kamu pun menyukai para penduduk yang tinggal di sana. Meskipun musibah baru saja menimpa mereka, yah kalian tahu, soal Dvalin itu, namun mereka tetap tegar dalam menghadapinya. Mungkin ini juga salah satu hal yang membuatmu sewaktu itu ikut turun tangan dalam membantu mengatasi masalah Dvalin, dan kamu bersyukur bahwa kini warga kota tidak perlu khawatir lagi soal hal itu.
Ah, omong-omong soal membantu, kamu sepertinya sekarang cukup sibuk membantu di Guild. Sudah menjadi rutinitasmu dan Paimon setiap pagi pergi menuju Guild dan bertemu Katheryn di sana. Ya untuk apa lagi, komisi harian. Kamu memang mengakui bahwa komisi harian dari Guild kadang-kadang sangat merepotkan, terutama jika tempatnya berlokasi lumayan jauh seperti di tebing Starsnatch atau Dadaupa Gorge. Tapi Paimon selalu meyakinkanmu bahwa komisi harian itu lumayan penting, hadiahnya. Tipikal Paimon sekali memang. Tapi dia ada benarnya juga sih… hadiah komisi itu lumayan juga buat tambah-tambah.
Maka dari itu, hari ini pun kamu sudah bersiap-siap sedari pagi untuk pergi ke Guild dan mengambil beberapa komisi di sana. Paimon sudah ceria sejak tadi dan dia tidak sabar menanti kira-kira komisi apa saja yang ada hari ini. Hm, apakah komisi mengantar makanan? Atau mencari obat? Oh mungkin saja membasmi sarang Hillicurl seperti yang biasa kamu dapat. Apapun itu bagimu tidak masalah selama kamu bisa membantu orang-orang.
"Ah, Ad Astra Abyssosque! Selamat datang Traveler!" Suara Katheryn terdengar riang pagi ini.
"Pagi Katheryn. Apakah ada komisi baru hari ini?"
Katheryn memeriksa berkas-berkas yang ada di atas mejanya. Senyumnya merekah ketika memberikanmu satu berkas yang lumayan tipis. "Terima kasih atas bantuanmu selama ini Traveler, kota kami jadi semakin aman akhir-akhir ini. Kudengar dari petualang lain dan Knights of Favonius, intensitas kemunculan Hillicurl sudah lumayan berkurang semenjak kedatanganmu. Maka dari itu aku secara pribadi ingin mengucapkan terima kasih."
Kamu tersipu mendengarnya. Tidak biasanya kamu dipuji hingga demikian. "Ah bukan hal besar, Katheryn. Aku senang membantu orang-orang."
"Karena jumlah Hillicurl berkurang, aku rasa hari ini kamu bisa cukup bersantai, Traveler." Katheryn membuka berkas tipis itu, "Hari ini kamu hanya dapat satu komisi, mereka butuh bantuan seseorang yang bisa cekatan dan responsif. Kupikir kamu akan sangat cocok di pekerjaan ini, maka kualihkan hal ini padamu."
"Begitu ya. Lalu, siapa yang butuh bantuan kali ini?"
"Angel's Share."
"Oh! Master Diluc! Kira-kira kenapa ya Master Diluc butuh bantuan?" Tanya Paimon.
"Ah sepertinya mereka butuh tambahan pelayan untuk tavern. Sepertinya ini berkaitan dengan festival Ludi Harpastum yang sebentar lagi tiba, jadi pengunjung tavern pun ikut meningkat."
Kamu mengangguk singkat. Begitu ya, pantas saja kota menjadi ramai akhir-akhir ini. "Baiklah, terima kasih Katheryn. Aku akan segera ke sana."
Paimon melayang dengan bersemangat di sampingmu. Sepertinya dia sendiri kehilangan fokus dan malah penasaran dengan festival hari anak-anak di Mond itu. Marjorie yang geli melihat Paimon lalu memberitahu bahwa persiapan Ludi Harpastum sudah dimulai di alun-alun kota. Paimon nampak sangat tertarik untuk melihat, jadi kamu mengizinkannya pergi. Dengan begitu si 'makanan darurat' itu langsung melesat heboh ke arah alun-alun, meninggalkanmu yang kini berjalan santai menuju tavern.
Sembari berjalan kamu menimbang-nimbang sesuatu. Tavern Angel's Share yang terletak di dekat dinding Timur Mondstadt itu milik keluarga Ragvindr. Sekarang kepemilikannya ada di putra sulungnya, Master Diluc. Kamu berpikir apakah kira-kira kamu mampu bekerja di sana untuk hari ini ya? Kamu tidak bermaksud buruk, hanya saja Master Diluc terlihat seperti tidak suka bantuan langsung dari orang lain. Dia tipe yang jika bisa dikerjakan sendiri ya lebih baik sendiri, jika tidak bisa ya dia sendiri yang akan berusaha melakukannya sampai bisa. Kira-kira itu impresi yang kamu dapat darinya. Jadi menurutmu agak aneh jika Master Diluc tiba-tiba saja meminta bantuan di Guild untuk tambahan orang. Apakah terjadi sesuatu sampai dia harus meminta bantuan?
Tanpa sadar kamu sudah berdiri di depan pintu masuk tavern. Baru saja ketika kamu hendak membuka kenop pintu, benda itu sudah terbuka terlebih dahulu dan di baliknya muncul sosok yang amat kamu kenal.
"Sir Kaeya?"
"Wah, wah, kukira siapa… ternyata Honorary Knight." Suaranya seperti biasa, terdengar halus di telinga. "Apa kau ke sini untuk membantu sebagai pelayan?"
Kamu mengangguk. "Ya begitulah. Apa Sir Kaeya juga dimintai tolong?"
Dia tertawa. "Mana mungkin!"
Melihatmu kebingungan, dia segera meredakan tawanya. "Maksudku, mana mungkin Master Diluc meminta bantuan padaku kan? Itu hal yang sangat langka! Bisa dibilang saking langkanya kau tak akan bisa menemukannya dalam dua ratus dekade!"
Kamu tahu bahwa hubungan antara dua orang ini cukup buruk. Kamu masih ingat kejadian saat di Domain, kamu tak sengaja dengar Sir Kaeya dan Master Diluc bercakap-cakap dengan nada yang tidak enak. Sebenarnya kamu menaruh rasa penasaran, mengapa mereka berdua bisa saling bermusuhan seperti itu. Namun rasanya kurang sopan dan kamu tidak mau Master Diluc marah jika masa lalunya diketahui sembarang orang, jadi menurutmu yang terbaik adalah memendam rasa penasaran itu.
"Ah omong-omong, jika kamu ke sini untuk membantu tavern, mari kuantar berkeliling tavern sebentar. Begini-begini aku paham akan hal-hal yang ada di tavern ini lho."
Dari pertama kali kamu bertemu dengan Sir Kaeya, kamu selalu merasa bahwa dia ini orang yang sangat usil. Kamu masih ingat betul kekesalanmu saat dia memintamu mencari harta karun kakek moyangnya. Demi The Seven ternyata itu hanya kedoknya demi menangkap komplotan Treasure Hoarders. Makanya sejak saat itu bukan salahmu menaruh rasa curiga tiap kali pria berambut biru ini tiba-tiba sok akrab mendekatimu.
"Tidak perlu repot-repot Sir, aku akan bertanya kepada Charles saja-"
"Ah tidak repot kok! Hanya sebentar mengelilingi tavern dan menunjukkanmu seragam pelayan tavern."
"Seragam? Pelayan tavern di sini harus pakai seragam?"
"Benar sekali! Keluarga Ragvindr terkenal sangat rapi lho, makanya mereka menerapkan konsep kerapian pada setiap aset mereka."
Entah mengapa kamu hampir percaya jika saja Sir Kaeya tidak mendengus geli di akhir kalimat. Aduh dasar Sir Kaeya, dia pasti tidak akan berhenti menjahilimu bahkan jika kamu menolaknya berkali-kali. Sangat merepotkan. Kok bisa-bisanya ya orang sepertinya menjadi Cavalry Captain? Kamu mendengus dengan pasrah.
"Baiklah Sir… tunjukkan padaku seragamnya supaya bisa kukenakan."
"Bagus! Mari sini ikut denganku~"
Sir Kaeya membawamu ke bagian belakang dari tavern. Di dekat meja bar, ada sebuah tas yang menggantung di tembok. Sir Kaeya mengambil tas itu dan memberikannya padamu.
"Seragamnya ada di dalam sini. Kamu bisa berganti pakaian di toilet, itu ada di lantai dua."
Sekali lagi kamu mendesah lelah. Kamu meyakinkan dirimu sendiri untuk mengikuti kemauan Sir Kaeya supaya orang ini bisa cepat diam. Kalau tidak diladeni, orang ini bisa makin merepotkan soalnya.
Kamu pergi ke lantai dua dan masuk ke toilet untuk berganti pakaian. Dan ketika membuka isi tas tersebut kamu benar-benar menyayangkan niatmu yang tadi rela meladeni si pemilik elemen cryo itu.
"Sir Kaeya! Apa ini? Aku tidak akan memakai baju ini!" Kamu berteriak dari lantai dua.
Pria itu terkekeh dan meneriakimu balik. "Tapi itu aturan tavern lho! Kamu tidak mau membuat Master tavern ini kesal karena kamu ngeyel tidak ikut peraturan kan?"
Duh, sekarang kamu bingung bukan main. Apakah kamu harus percaya dengan perkataan Sir Kaeya tentang peraturan tavern? Jika itu benar, aneh sekali jika Master Diluc memperbolehkan aturan ini berlaku. Seperti bukan Master Diluc saja rasanya.
Ah persetan, kamu membulatkan tekad. Toh hanya hari ini saja kan tugas ini diberikan untukmu. Dan kamu yakin seragam bukanlah nilai utama dalam pekerjaan ini, melainkan etos kerjamu dalam membantu tavern. Baiklah, dengan sedikit mengenyahkan rasa ragu di dalam dirimu, kamu mulai mengenakan seragam bunnygirl yang diberikan Sir Kaeya padamu.
Ketika kamu turun dan hendak bersiap-siap di bar, kamu melirik ke arah Sir Kaeya yang duduk di pojok ruangan. Kamu agak heran karena dia tidak tertawa terbahak-bahak seperti yang kamu bayangkan dia akan lakukan. Dia hanya duduk dan tersenyum ke arahmu sembari meneguk satu sloki dandelion wine. Ya sudah, pikirmu. Kamu rasa karena kamu sudah banyak meladeninya, dia akhirnya bisa diam sejenak dan itu membuatmu sedikit lega.
Sekarang mari melakukan tugas hari ini.
.
.
.
Kamu benar-benar menyayangkan niat murnimu yang bersemangat membantu tavern hari ini. Hah, apakah mungkin ada suatu alat yang bisa memutarbalikkan waktu sehingga kamu tidak perlu bekerja di tavern untuk hari ini dan memilih pergi ikut Paimon memeriksa persiapan Ludi Harpastum ya? Penyesalan di lubuk hatimu makin kuat saja rasanya.
Sebenarnya kamu tidak menyesal dengan hasil kerjamu di sini. Malah menurutmu sendiri kamu berhasil membuat banyak pengunjung singgah di tavern ini. Yang mana itu membantu pemasukan ke tavern, kan. Namun semua kerja kerasmu itu harus dibayar dengan harga yang lumayan tinggi. Dan hal ini yang membuatmu tidak nyaman selama seharian ini.
Kostum bunnygirl ini. Kamu rasa ini yang menyebabkan kamu merasa tidak nyaman berada di tavern yang diisi oleh mayoritas pria. Awalnya kamu masih bisa mengacuhkan tatapan-tatapan aneh yang para lelaki itu berikan untukmu. Namun lama kelamaan mereka mulai kelewat batas, pikirmu.
Kamu tidak yakin siapa pria ini lebih tepatnya, tapi dia sudah ada sedari tadi di tavern dan sudah cukup banyak minum hingga warna wajahnya semerah buah apel. Dia sedari tadi memandangmu terus-terusan dan ketika kamu membawakannya pesanan anggurnya yang kesekian kali, dia akhirnya berbicara padamu dengan nada yang membuatmu kesal.
"Hei nona, setelah ini mau temani aku keluar?"
Menyebalkan. Kamu berusaha menolak tapi pria ini tetap bersikeras sampai-sampai dia memegang tanganmu supaya kamu tidak bisa kabur. Sejujurnya kamu takut dan panik, tapi kamu berusaha profesional dan menyuruhnya keluar secepatnya dari tavern. Namun dasarnya mungkin dia adalah pria hidung belang, kamu kesulitan meladeninya. Di saat itulah matamu melirik ke arah pintu depan tavern yang terbuka dan di baliknya muncul seorang laki-laki tinggi berambut merah.
Laki-laki itu mengernyit ke arahmu, "Ada apa ini?"
Kamu kebingungan hendak menjelaskan situasi apa yang menimpamu. Kamu ingin bilang bahwa pria yang mabuk ini menggodamu, tapi kamu takut jika Master Diluc menganggap bahwa kamu tidak profesional. Selagi kamu terdiam kebingungan, Master Diluc berdiri di sebelahmu dan tangannya memegang pundak si pria pemabuk itu.
"Jangan berani-berani membuat keributan di tavernku. Kau bisa lepaskan wanita ini dan pergi sebelum aku menendangmu keluar gerbang Mondstadt."
Kamu hanya bisa terdiam dan melongo saat pria pemabuk itu langsung lari terbirit-birit setelah sejenak melihat kilatan api yang membumbung dari jemari Master Diluc.
Kamu masih terkaget-kaget sebelum akhirnya Master Diluc memicingkan matanya ke arahmu yang kikuk.
"Jadi, ada apa? Kenapa pakaianmu seperti itu?"
"Eh?"
Kamu sekarang jadi tambah kebingungan. Lho bukannya Master Diluc yang memintanya datang dan jadi pelayan ya? Seketika itu juga kamu mengerti apa yang terjadi, dan karena kesal kamu akhirnya mengadu.
"Sir Kaeya memintaku datang ke tavern sebagai pelayan supaya bisa mendandaniku sebagai bunnygirl."
Tanpa kamu duga Master Diluc langsung menatap tajam Sir Kaeya yang selama ini masih berada di pojok ruangan. Kamu bisa melihat Sir Kaeya yang salah tingkah dipelototi oleh Master Diluc. Haha, rasakan.
"Eh Diluc, sumpah aku hanya iseng. Lagipula kau juga pasti ingin lihat sang Honorary Knight yang imut ini sebagai bunnygirl kan?"
Aduh dasar, masih saja mencari-cari alasan.
Master Diluc menggeram pelan, dia mengambil gelas dari tangan Sir Kaeya dengan kasar. "Kau sudah cukup minum. Kembali ke habitatmu sana Favonius sialan!"
Kamu menahan tawamu yang sedari tadi hendak meledak. Suasananya terasa agak berbeda dengan perdebatan mereka di Domain waktu itu. Yang kali ini rasanya lucu dan menghibur. Jarang-jarang kamu melihat Sir Kaeya yang usil itu merajuk saat diusir oleh Master Diluc. Mereka seperti kakak-adik saja.
Setelah Sir Kaeya dengan berat hati pergi meninggalkan tavern, Master Diluc membawamu ke belakang dan di sana dia mulai menanyaimu lagi.
"Di mana baju gantimu?"
"Di tas di dekat meja bar itu." Tunjukmu.
Master Diluc mengambilnya dan menyerahkan tas itu beserta sebuah kunci. "Ganti saja. Ganti di ruanganku, itu ada di lantai atas sebelah tavern. Kau bisa lewat tangga samping."
Kamu menerima kunci itu dan setelah mengucapkan terima kasih, kamu segera pergi lewat pintu belakang. Hm pantas saja, kamu membatin. Waktu itu kamu pernah duduk-duduk di luar tavern dan kamu melihat ada tangga menuju ke atas. Di atas sana ada pintu yang terkunci. Ternyata itu ruangan Master Diluc ya, kamu pikir itu semacam gudang atau sejenisnya.
Saat mengganti bajumu, kamu terpikirkan sesuatu. Master Diluc ternyata tidak seperti yang kamu bayangkan. Dia cukup peka akan orang lain ternyata. Buktinya tadi dia langsung menolongmu mengusir si pria pemabuk itu. Yah, mungkin juga dia mengusirnya karena tidak mau ada keributan atau skandal apapun di tavernnya, tapi kamu cukup lega mengetahui bahwa Master Diluc tidak sedingin itu, setidaknya kepadamu yang bahkan bukan penduduk Mondstadt.
Tanpa sadar di sela-sela renunganmu, pintu ruangan itu diketuk dengan pelan dan suara Master Diluc terdengar dari luar.
"Kau sudah selesai berganti pakaian?"
Kamu segera menjawab dan membukakannya pintu. Laki-laki itu berdiri di sana sambil memegang sebuah kantung kertas yang dari dalamnya menguar bau yang enak.
"Kau bisa istirahat sejenak." Dia menyodorkanmu kantung kertas itu. Ternyata itu Fisherman's Toast, pantas saja baunya enak. "Kubeli dari tempat Sara. Makanlah."
"Terima kasih banyak Master Diluc. Aku jadi tidak enak hati karena Master Diluc sudah banyak membantuku hari ini." Kamu mengusap tengkuk dengan kikuk.
Master Diluc duduk di kursi di dalam ruangan itu. Dia berkata dengan tenang. "Tidak perlu sungkan. Aku yang berterima kasih kau sudah membantu tavern hari ini."
Kamu duduk di kursi berhadapan dengan Master Diluc. Jika diperhatikan lagi, ruangan ini sangat sederhana, agak kurang cocok dengan imej Master Diluc yang bangsawan. Di ruangan ini hanya ada sebuah meja bulat ukuran sedang dengan 2 kursi, sofa panjang dan meja teh berkaki pendek, dan sebuah perapian. Tanpa kamu sadari Master Diluc memperhatikan dirimu yang mengamati seisi ruangan. Seolah bisa membaca pikiranmu, dia mulai berbicara.
"Ini ruangan tempatku beristirahat. Terkadang aku memutuskan untuk menginap di tavern daripada harus pulang ke Dawn Winery. Itu merepotkan."
"Oh pantas saja." Katamu. "Jadi jika terlalu larut kau akan memutuskan untuk tinggal di kota ya, Master Diluc?"
"Ya, dan jika aku harus mengurus satu dua hal seperti… urusan pribadi."
Kamu tidak mengerti dengan maksud perkataannya yang terakhir, tapi kamu memilih tetap diam. Master Diluc memang terkenal sangat misterius dan penuh rahasia atau bisa dibilang dia adalah orang yang sangat menjunjung hal-hal kerahasiaan. Jadi jika dia memilih untuk merahasiakan sesuatu, kamu bisa maklum.
"Apakah Dawn Winery itu sangat jauh sampai-sampai kau harus menginap sewaktu-waktu?"
"Kau belum pernah ke Dawn Winery ya? Sebenarnya tidak sejauh itu dan ada pula jalan tikus untuk mencapainya dalam waktu singkat. Tapi terkadang aku hanya tidak bisa pulang ke sana."
"Heh… aku jadi ingin lihat bagaimana daerah itu." Matamu berbinar. "Lagipula aku kan pada dasarnya Traveler!"
Tanpa kamu duga Master Diluc terkekeh. Agak kaget juga melihatnya tertawa seperti itu. Meskipun tawanya bukan tawa menyeringai menyebalkan seperti Sir Kaeya. Tawa Master Diluc terlihat menawan.
"Benar juga. Kau padahal jauh-jauh datang ke sini karena punya tujuanmu sendiri. Tapi kau sekarang memutuskan untuk tinggal di Mond, apakah tujuanmu sekarang sudah tercapai?" Tanyanya.
Kamu terdiam. Ah benar juga, saking asyiknya kamu berkelana dan membantu orang-orang di sekitar, kamu hampir lupa tujuanmu datang ke dunia ini. Mencari Aether, saudaramu.
"Sepertinya… tujuan itu masih jauh untuk tercapai." Jawabmu pelan.
Master Diluc terdiam. Kelihatan agak bersalah setelah melihat reaksimu. "Maaf."
"Tidak perlu meminta maaf Master Diluc." Kamu tersenyum. "Setidaknya aku bisa membantu orang-orang di sekitar dan belajar hal-hal baru ini dunia ini sembari mencapai tujuanku. Hal itu akan membuat perjalananku menjadi lebih menarik kan?"
Master Diluc tersenyum. Senyum yang lagi-lagi membuatmu terpesona. "Kurasa kamu ada benarnya." Timpalnya.
"Jika kamu tidak keberatan, ke depannya aku akan sangat berterima kasih jika kamu mau datang dan membantuku di tavern lagi." Lanjutnya.
Kamu mengangguk senang. "Hm! Pasti! Asalkan aku tidak perlu dipaksa memakai kostum bunnygirl lagi, aku pasti mau!"
"Tenang saja. Soal itu biar kuhajar Kaeya jika dia sampai memaksamu."
Kamu tertawa mendengarnya.
"Dan jika kau mau dan tidak keberatan untuk berjalan kaki lumayan jauh… aku bisa mengantarmu melihat-lihat Dawn Winery."
"Oh yang benar?" Kamu antusias. "Dengan senang hati Master Diluc! Aku ingin lihat perkebunan anggur di sana!"
"Dan terakhir, Traveler, tolong jangan terlalu segan padaku. Cukup panggil Diluc saja. Aku sebenarnya tidak terlalu suka panggilan-panggilan semacam master atau sir, itu terdengar dibuat-buat."
Kamu berpikir sejenak namun pada akhirnya mengangguk. "Oke, Diluc. Terima kasih atas tawarannya ke Dawn Winery. Aku akan sangat menantikannya!"
"Aku juga."
Kamu menatap langit Mondstadt yang terbingkai jendela kayu. Langit malam yang cerah dengan bulan sabit dan bebintangan di langit. Langitnya seakan memperlihatkan perasaan gembiramu yang meluap-luap. Tadinya kamu pikir pekerjaan di tavern hari ini akan berakhir buruk. Namun ternyata hari ini sangat menyenangkan. Terutama bisa berbincang dan mengenal Diluc dengan lebih dekat, kamu tidak akan pernah menyesalinya. Ternyata memang benar apa kata Paimon. Komisi harian banyak keuntungannya!
End.
Author's note:
Halo, saia Usagi! Makasih banyak yang sudah mampir dan baca! Ini debut panpik saia di fandom ini, semoga tidak terlalu krinj atau ooc :')
Awalnya tercetus ide hanya mau membuat panpik tentang keuwuan babang Diluc seorang, tapi kepikiran pake traveler (Lumine) sekalian deh karna saia anggap Lumine adalah representasi diri sendiri, hwhw. Lagipula bang Diluc tu gamnteng banget gila yampon bahkan saia mulai main jensin juga gara2 kesemsem sama doi. Tapi kadang heran ada aja yg bilang doi mirip dinding triplek. Duh padahal mukanya yg mirip dinding triplek itu aja udah super duper gamnteng lho…
Anyway, sekali lagi makasih buat yang udah baca. Kemungkinan ke depannya saia akan buat panpik bang Diluc lagi jadi jika berkenan boleh ditunggu ya…
Salam, Usagi.
