╔═══ஓ๑❤๑ஓ═══╗
Pleasant Fixation
╚═══ஓ๑❤๑ஓ═══╝
BoBoiBoy © Monsta
A TauHali fanfiction by akaori.
Perhatian! Fiksi penggemar ini mengandung poin-poin di bawah ini.
※ Shounen-ai/Boy Love.
※ Lime/implied sexual content (R16).
※ Diperuntukkan bagi Anda yang bisa memaklumi apapun yang tertulis di dalam cerita ini.
Bagi Anda yang merasa tidak keberatan dengan poin-poin di atas, silakan lanjutkan membaca.
.
.
.
.
.
.
"Kau benar-benar mau melakukannya …."
"Aku adalah lelaki yang memegang kata-kataku."
Begitu yang ia katakan, tetapi bukannya merasa teryakinkan, ia malah semakin gelisah.
"Nnhh …." Halilintar tak mungkin sengaja mengeluarkan suara seperti itu kalau hidung mancung seseorang tak menoel pipinya yang sudah dilahap merah.
Ia tak punya ruang untuk lari. Tubuhnya yang terduduk di atas meja depan kelas ditahan oleh dua tangan panjang milik pemuda jangkung yang mengukungnya bagai tahanan. Satu-satunya sumber cahaya di ruangan itu adalah cercah mentari yang mengintip dari ventilasi dan sisi jendela yang tak tertutup sempurna oleh tirai.
Taufan sudah gila. Sudah tidak waras. Lebih tidak waras lagi Halilintar yang menyetujui ajakannya bermesraan di ruang kelas selepas bel pulang berbunyi.
Ini bermula dengan keduanya yang iseng berbincang sampai seluruh penghuni kelas lainnya enyah untuk melanjutkan aktivitas masing-masing. Beberapa dari mereka ada yang sudah pulang dan beberapa masih ada yang menetap untuk melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler sekolah.
Suara anak-anak di luar sana, baik yang dari lapangan olahraga maupun ruang kelas lain, masih bisa terdengar bersahutan. Walaupun mereka tidak secara fisik berada di sekeliling keduanya, insting perlawanan Halilintar merasa dirinya menjadi tontonan di tengah-tengah kerumunan itu.
"Kau benar-benar manis, Hali."
Suara ringan yang biasanya mengalun secepat angin berubah hangat. Basah. Dalam. Hanya telinga Halilintar yang bisa mendengar perubahan tensi yang siapapun tak pernah sadari.
Lidahnya tak memamerkan gerakan lincah yang berlebihan, hanya pelan-pelan menyusuri permukaan kulit mulus yang selalu empuk meskipun pemiliknya sering berpeluh akibat olahraga. Dilihat dari raut wajahnya yang bagai hendak menebas kepalamu setiap kali ditatap, kelembutan Halilintar adalah ciri yang tak seorangpun duga.
Halilintar boleh lincah, tetapi begitu ia masuk ke dalam perangkap Taufan yang jauh lebih tinggi darinya, pemuda itu tak berbuat banyak. Bahkan berbagai kalimat penolakan dari bibirnya tertutupi oleh lenguhan manis yang membuat pelakunya membuat seringai rubah.
Sejenak menyembunyikan lidahnya setelah memberi jejak kemerahan di pipi mulus, Taufan mengambil jarak untuk menatap reaksi kekasihnya. Tak begitu jauh, hanya jarak tipis di mana ia cukup mampu menyaksikan wajah berantakan si petir yang berhias air mata di tiap pelupuknya.
Memalukan—adalah yang pemuda itu jeritkan setiap kali ia terjebak dalam situasi ini. Membiarkan sosok yang dominan menikmati sisi dirinya yang tak pernah orang lain bisa saksikan.
"Apa yang kau pikirkan, Halilin?"
Kabut asap di kepalanya pecah ketika dagunya diangkat—dengan pelan—hingga mata mereka bertemu. Tampaknya pikiran itu telah mengawang terlalu jauh sampai Halilintar lupa bahwa ada makhluk haus perhatian yang minta digubris.
"Lihat saja padaku."
"Tau … fan …."
Setitik air hangat meluncur turun dari pelupuknya. Taufan bisa melihatnya dari sudut mata sesaat sebelum mereka terpejam.
Bibir Halilintar, miliknya. Panas, kenyal, sensasi yang mereka berikan. Hanya menyesapi bibir satu sama lain. Tak rela itu berlangsung terlalu cepat, Taufan mendorong kepalanya mendekat, membuat kekasihnya terhimpit antara dirinya dengan dinding.
Ketika jemari mungil mencengkeram lengan jaket yang ia kenakan, Taufan sadar bahwa itu saatnya mereka mengambil jeda untuk memasok oksigen. Ia memperbolehkannya; mengambil napas sebelum kembali menyatukan bibir kenyal yang sama-sama mencari lawan mainnya.
Setiap kali ciuman itu tergelincir atau setiap salah seorang sengaja mengisap yang lain, lenguhan yang teredam keluar dan dilahap kembali. Kaki Halilintar di atas meja merasakan sepatunya sesak akibat gerakan jarinya yang menekuk bergantian. Tak cukup jari kaki, jemari tangannya ikut menagih ciuman dengan mengalungkan lengan di leher jenjang kekasihnya.
Bising keramaian di luar menjadi redam di detik di mana lidah mulai menjadi organ yang berkuasa. Mulut Halilintar terbuka lebar untuk Taufan. Membiarkan seluruh isinya dikuasai.
Pemuda yang lebih mungil tak melawan bahkan ketika saliva mulai menetes di tiap sudut bibir mereka. Jatuh di atas seragam sekolah yang mereka kenakan.
Seringai itu tak pernah tanggal dari wajah si biru semenjak permainan dimulai. Justru semakin lebar semakin parah dentuman jantung kekasihnya yang manis terdengar. Debaran itu menyebar dari dada mereka yang bersinggungan. Kalungan pada lehernya makin erat, memberi sinyal untuk menekuk kaki Halilintar yang bertengger pada meja, menghapus jarak di antara mereka sepenuhnya.
"Taufan … Taufaanhh …. ❤"
Rintihan itu terdengar perih sekaligus manis. Halilintar belum rela melepas ciuman mereka meskipun sudah dibuat berantakan olehnya. Bukan hanya karena kulitnya yang tenggelam dalam merah atau air matanya yang menetes membasahi pipi. Halilintar si pemuda garang yang selalu berperan sebagai si lelaki kuat meleleh di pelukan kekasihnya.
"Hei, lihat kau ini. Di bawah sini. Sudah sempit tanpa bilang-bilang aku?" Nada jenaka yang Taufan berikan tak membuat lawan mainnya terhibur.
Bibir kecil yang berkilau akan saliva membentuk busur kekecewaan. "Lagi … jangan berhenti …."
Halilintar pasti akan kaget jika melihat pantulan dirinya sendiri di cermin saat ini. Bagian tubuh atas di balik seragamnya sudah penuh peluh akibat panas yang tertimbun di dalam. Helaian cokelatnya ikut basah dengan poni berantakan membingkai wajah yang masih menagih.
"Fufu, bilang apa?"
"..."
"Aku tidak dengar, Halilin~"
Taufan sadar bahwa dalam situasi normal, ia berpotensi ditendang sampai terpental ke ujung ruangan kalau berani menggodanya dalam situasi memalukan ini. Namun, ia tahu bahwa sentuhan manis yang sedari tadi ia hantarkan telah menguasai nafsu yang jarang makhluk menggemaskan ini tampilkan.
"Taufannnh …." Lengan berbalut marun menarik lehernya agar suara itu sampai ke telinga. "Bantu Halilin … di bawah."
"Mmh~ Halilin anak pintar. ❤"
Kekasihnya butuh bantuan, mana mungkin Taufan akan diam saja?
Mendengar suara resleting yang diturunkan membuat sosok yang ia dekap menghela napas reda—pada saat yang sama juga memperkuat debaran dadanya. Lucu rasanya menangkap ketertarikan yang terpantul di mata delima itu saat memberikannya hadiah. Seperti anak kecil yang tahu bahwa mainan kesukaannya akan segera datang.
Ruang kelas di ujung gedung menjadi penuh akan lenguhan dua sejoli yang saling berbagi nikmat. Melalui sentuhan-sentuhan panas yang membuat mereka kehilangan akal sehat akan posisi mereka berada.
Halilintar tak akan pernah menyangka bahwa kejadian memalukan seperti ini adalah yang menarik benang merah mereka bertaut membuat simpul hati.
╔═══ஓ๑❤๑ஓ═══╗
Pleasant Fixation
╚═══ஓ๑❤๑ஓ═══╝
Mereka dikenal sebagai sepasang pemuda yang mencium sesama jenisnya di hari pertama masuk sekolah. Sayangnya, dan kampretnya, itu terjadi bukan atas konsen mereka, mana dilihat seisi kelas pula.
Tragedi itu terjadi gara-gara Taufan bersikap kelewat sok akrab terhadap para teman sekelas barunya. Setiap salah satu dari mereka selesai memperkenalkan diri di depan kelas, anak itu akan memberi mereka rangkulan dan tepukan di bahu bagai teman lama yang tak nampak semenjak sepuluh tahun lalu.
Taufan belum menyadari bahwa ia telah menceburkan dirinya pada sungai penuh buaya.
Sejak kecil, Halilintar selalu rajin ikut pelajaran bela diri. Kalau ada yang menyentuhnya di bagian tubuh yang macam-macam, sendinya otomatis bergerak menyabet tersangka lalu mengayunkan tubuhnya sampai membentur tanah. Coba tebak, apa yang terjadi ketika Taufan menaruh tangannya pada si elang yang gesit?
"Chu—"
Taufan belum melepaskan rangkulannya pada pundak Halilintar ketika kerah seragamnya ditarik, bersiap untuk dijotos. Tubuhnya terhuyung ke arah Halilintar … dan dengan satu ayunan, bibir mereka bertemu.
Hidup Halilintar seakan diputar baik secara harfiah maupun secara kiasan. Hari di mana ciuman pertamanya dicuri, anak sekelas sepakat mencomblangkan keduanya dalam berbagai kegiatan. Mau itu kerja kelompok atau sekadar posisi duduk di kelas, mereka selalu dipasangkan berdampingan dan itu membuat Halilintar mau meledak gara-gara wajah Taufan selalu mengingatkannya pada tragedi hari pertama masuk sekolah.
Image sangar itu langsung hancur berkeping-keping; di mata Taufan, Halilintar seperti kucing imut yang suka mendesis. Terkadang mengeluarkan listrik kalau dielus, tapi itu juga salah satu dari pesonanya.
Ciuman di hari itu bagaikan kunci yang menerobos sistem keamanan Halilintar. Tiap kali pundaknya ditepuk, bukannya melawan, ia malah membatu tanpa alasan jelas. Harus berapa kali ditegaskan bahwa seringai licik si angin yang merekah karenanya adalah yang paling memancing emosi?
Halilintar bersumpah ia pasti sudah gila ketika dirinya tak bisa menolak permohonan anak itu untuk jadi kekasihnya. Hanya dengan satu kata, "ya", dan ia dibawa tenggelam jauh ke dalam perasaan yang membuat dada berdebar kencang dan pipi merona parah.
Tak ada yang lebih memuaskan selain melihat wajah manis itu menetap di sisinya. Yang jadi pikiran utama Taufan setelah mereka pacaran adalah untuk mengenalkannya pada segala sensasi yang tak pernah gagal membuatnya bertekuk lutut. Wajah itu, raut itu, suara itu, semuanya adalah harta berharga yang hanya boleh ia yang sentuh.
Anak manis ini, Taufan akan memanjakannya habis-habisan.
╔═══ஓ๑❤๑ஓ═══╗
Pleasant Fixation
╚═══ஓ๑❤๑ஓ═══╝
Pemuda itu bersiul menggoda melihat kekacauan yang terjadi di bawah. Jaketnya sudah basah akibat dipakai Halilintar sebagai tempatnya menyembunyikan wajah merah berhias peluh. Di antara cairan itu juga terselip saliva yang meluber karena ia terus mendesah saat ditangani barusan.
"Fiuh, lihat itu. Pijatanku enak sekali sampai kau gak sanggup menahan diri?" Taufan sengaja mengangkat tangannya setinggi manik rubi supaya masuk dalam visinya.
"Di-diam! Bersihkan itu, bodoh!" Mau protes pun Halilintar tak bisa banyak bergerak sebab celananya sedang dalam keadaan terpasang setengah.
Mengantisipasi hal seperti ini, Taufan mengeluarkan tisu dari dalam saku celana. Di sela proses bersih-bersih itu, ia masih bisa melihat semburat merah tersisa di pipi Halilintar yang kesadarannya mulai kembali masuk ke otak.
"Taufan …."
"Hmm?"
"Kau … juga …." Halilintar menyadari bahwa menunduk ke arah celana Taufan adalah pilihan buruk, tetapi masih ia lakukan lantaran mereka masih di sekolah. Kecil kemungkinan ia akan melonjak, kan?
Oh, ada yang menangkap reaksi itu, tak sedikitpun ia coba pungkiri. Malahan, keluar kekehan kecil sewaktu si kucing mengintip malu-malu mau ke bawah.
"Giliranku. Mau mampir ke rumahku, kan?"
Jawabannya hanya ada satu. Taufan pasti perlu melampiaskan hasrat yang ia tahan demi dirinya. Halilintar sudah tahu apa yang harus ia lakukan. Lengannya mengalung manja di leher, mengajak pipi mereka yang lembab saling bertemu.
Sekali lagi sebelum meninggalkan kelas, Taufan mempertemukan bibir mereka sejenak. Tak begitu dalam, tetapi cukup untuk membuatnya meleleh dalam pelukan kekasihnya.
"Halilin, anak pintar. ❤"
