Koin Lima Ratus Yen

Disclaimer: Koyoharu Gotoge

Warning: OOC parah, typo, gaje, dll.

Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini. Semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi, dan angpao buat afi (?)


Tsuyuri Kanao, dan sebuah keping koin lima ratus yen, kini tengah dihadapkan pada dilema sebesar mesin minuman otomatis. Warna-warna yang dipamerkan tentu tampak menggoda. Variannya pun melimpah ruah, dan orang-orang yang hanya tahu berlalu-lalang bahkan dapat memahami keresahan Kanao. Apalagi jika koin di genggamannya itu adalah uang terakhir untuk hari ini.

Namun, kira-kira apa jadinya jika orang-orang salah tangkap? Bahwasanya gadis berperawakan mungil dengan seragam SMA itu, ternyata bukan dilema untuk memilih minuman. Bagaimana kalau sebenarnya Tsuyuri Kanao justru bertanya-tanya, haruskah ia membelanjakan koinnya atau tetap disimpan?

Mungkin itu akan sulit dimengerti, karena koin lima ratus yen saja tidak memiliki harga yang terlalu tinggi. Nilainya hanyalah berharga bagi mesin minuman otomatis, atau jika Kanao mau ia bisa menyumbangkannya. Kochou Kanae–kakak kelas Kanao di klub biologi–barusan menyangka demikian, tetapi sayang sekali tak sesederhana sangkaan Kanae.

Singkatnya, kebingungan Kanao mungkin dapat dirangkum seperti, ia tak rela membelanjakannya karena koin ini adalah yang menemani Kanao jalan-jalan. Jika Kanao bingung mau ke mana, ekor atau kepala-lah yang bakal menentukan. Belum lagi Kanao kian merasa familier dengan tindakan ini, sehingga lama-kelamaan Kanao nyaman dan dapat menepis rasa aneh.

"Mungkin jika aku menemukan koin yang lain ..."

Masalahnya Kanao haus, sementara tempat ini jauh dari rumah. Dompet kupu-kupu kesayangannya pun entah sejak kapan terjatuh, membuat tema berjalan-jalan berubah menjadi mencari sampai tersesat. Omong-omong Kanao juga memiliki alasan lain, kenapa ia sebegitu enggan membelanjakannya. Selain karena sudah menemani ia jalan-jalan, koin di genggamannya itu diberikan oleh seseorang yang Kanao sukai.

Hadiah ulang tahun, katanya. Lalu koin ini mungkin diam-diam menyimpan doa yang pemuda itu berikan, sehingga tahu-tahu ia muncul di samping Kanao. Air mineral dingin lantas diberikan olehnya, beserta dompet kupu-kupu berwarna pink fanta.

"Ini dompetmu, kan? Tadi aku menemukannya terjatuh di semak-semak. Habis dibawa kucing liar."

Dompet tersebut Kanao terima dengan gugup yang sedikit melompat-lompat senang, tetapi sebenarnya tentu lebih dari itu. Kamado Tanjiro kini tersenyum lembut kepada Kanao seorang. Tanjiro kemudian perlahan-lahan berdiri, usai berjongkok untuk memasukkan koin. Wajahnya tampak memerah dengan cara yang tiba-tiba, dan Kanao tetap menyukainya bukan karena keajaiban. Semua bisa jatuh cinta kepada Tanjiro tanpa perlu hal-hal serumit apa atau kenapa.

"Koinnya ... benar-benar kamu simpan, ya."

"Uhm. Soalnya ini hadiah ulang tahun dari Tanjiro-san. Maaf, karena aku hampir membelanjakannya."

"Padahal pakai saja jika koinnya bisa menolongmu. Bahkan sampai sekarang aku masih tak habis pikir, kenapa aku memberikan koin lima ratus yen untuk hadiah ulang tahun?"

Tengkuk yang menegang Tanjiro usap-usap dengan canggung. Kanao buru-buru menggeleng begitu pun tangannya demi menegaskan, pemberian Tanjiro tetaplah berharga. Sekarang paras Kanao malah ikut-ikutan memerah, ketika alasan tersebut mulai menumbuhkan akar untuk siap-siap meluncur melalui mulut Kanao.

"Kanao-san? Apa kamu demam?" Tangan Tanjiro terulur begitu saja tanpa ia sadari. Spontan, seorang Tsuyuri Kanao yang memang pada dasarnya pemalu buru-buru sedikit menjauh. Tanjiro pun langsung menariknya kembali yang kali ini, ia menggaruk-garuk kepala.

"A-aku baik-baik saja, kok ..."

"Be ... be-gitukah? Kalau begitu aku minta maaf soal yang tadi."

Cara berdiri mereka berubah menjadi kikuk bercampur gelisah. Seharusnya Kanao memang pulang sesudah Tanjiro menemukan dompetnya, dan menggantikan uang yang Tanjiro pakai untuk membeli air mineral, tetapi Kanao malah bergeming karena Tanjiro melakukannya. Padahal jam di gawai telah menunjukkan pukul empat sore. Acara favorit Kanao tentu menantikan Kanao untuk menontoni ia, tetapi sepertinya Kanao mendadak lupa.

Lagi pula Kanao dapat menonton rekaman ulangnya. Sementara mencuri-curi tatap seperti ini, apalagi di hadapannya adalah Tanjiro yang hanya malu-malu ketika menemui Kanao, tentu tergolong kesempatan langka. Lima belas menit lantas berlalu tanpa berasa. Saat mereka makin senyum-senyum sendiri, seseorang tiba-tiba muncul secara mengejutkan. Jengkel di wajahnya tampak aneh, karena cenderung menggambarkan ketidaksabaran.

"TANJIROOO APA YANG SEBENARNYA KAU LAKUKAN? RENCANA KITA ENGGAK BEGINI, LHO." Bahu Tanjiro digoyang-goyang dengan penuh kegemasan. Agatsuma Zenitsu–pemuda pirang yang mendadak muncul dari semak-semak–sampai melotot saking dongkolnya ia. Tanjiro sendiri sekadar tertawa kaku, karena ia baru ingat.

"Ada apa, Tanjiro-san?"

"Ekhem! Biar enggak buang-buang waktu lagi, aku saja yang jelaskan. Tanjiro ini mau mengajakmu jalan-jalan di pusat perbelanjaan, karena ia tak enak hati hanya memberikan koin lima ratus yen. Jadi, selamat berkeliling dan aku akan kembali bersembunyi di semak-semak untuk mengawasi kalian. Bye."

Suasana hening lagi selama beberapa saat, barulah Tanjiro mengiyakan segenap penjelasan Zenitsu yang geregetan. Untuk menjawabnya, Kanao mengangguk satu kali sambil menunduk. Ia sudah lupa dengan tenaga yang terkuras usai jalan-jalan sendirian, mumpung mereka pulang cepat.


Pusat perbelanjaan di tengah senja adalah keindahan yang magis. Kapan lagi Tokyo seperti berada di antara mimpi dan kenyataan, membuat mereka yang tinggal di tengah-tengahnya dapat merasai pulang yang hangat, tetapi itu bukan benar-benar kembali sehingga perjalanan masih dapat mengalun; mencari arti yang lebih besar untuk mengobati luka dari realitas.

Senja memang seindah itu bagi Kanao, apalagi sekarang ini Tanjiro berjalan di sampingnya. Sesekali menggenggam tangan Kanao agar ia tak hanyut di keramaian, melepaskannya lagi gara-gara tak enak hati, lalu dengan netranya Tanjiro kembali mengitari sekeliling. Tampaknya ia benar-benar serius, soal mencari pengganti untuk hadiah ulang tahun Kanao. Padahal selalu Kanao tegaskan Tanjiro tak perlu repot-repot, tetapi alasannya belum juga bisa Kanao utarakan.

"Bagaimana dengan crepes? Sepertinya enak."

Akan tetapi antreannya membeludak. Walaupun Kanao tahu crepes memang enak, adakalanya ia tidak mengerti kenapa orang-orang mau menunggu sangat lama.

"Antreannya terlalu panjang, Tanjiro-san. Kita cari yang lain saja."

"Boba enak, lho, Kanao-san. Itu kedai langgananku." Telunjuk sang sulung serta-merta mengarah pada tempat yang dimaksud. Bahkan antreannya juga sepanjang ular, meski tidak separah yang crepes.

"Tanjiro-san mau? Kalau begitu kubelikan."

"Terbalik, dong, Kanao-san. Jadi Kanao-san mau, ya? Aku merekomendasikan rasa hazelnut dan yogurt. Tunggu saja di bangku yang itu, oke?"

Tiba-tiba Kanao juga terkejut, sewaktu tangannya meraih jari-jemari Tanjiro. Sekilas ia menggeleng, dan bergumam nanti Tanjiro lelah. Karena sama-sama ogah mengalah, akhirnya mereka pergi mencari kedai yang lain. Namun, ke mana pun keduanya pergi keramaian pasti menghadang. Restoran cepat saji saja tak menyediakan kursi buat Tanjiro serta Kanao.

"Kok ramai banget, ya ... apa karena besok Sabtu?"

Tanjiro jadi tidak enak hati, karena Kanao pasti lelah. Mereka membuang setengah jam lebih hanya untuk berkeliling, dan tak menemukan apa pun yang dirasa pas. Kini kedai sushi menjadi satu-satunya yang dekat, walau lagi-lagi kepadatannya boro-boro bersahabat. Sebuah inisiatif yang kecil, dan ingin dilindungi agar melindungi, tahu-tahu pula Tanjiro saksikan dari ujung matanya. Kanao menarik ujung seragam Tanjiro, lantas mengajaknya mengantre bersama-sama.

Dengan begini tentu lebih adil. Tidak ada yang bentrok maupun harus mengalah, dan mereka bisa mengobrol melalui tatapan mata yang bahasanya. Zenitsu pun diam-diam menaruh bangga. Setelah mengantre selama dua puluh menit, akhirnya ada sesuatu yang bisa disantap. Tanjiro sedikit membaginya dengan seekor kucing berbulu belang. Lama-kelamaan malah menjadi pasukan imut yang membuat Kanao tertawa kecil.

"Nanti sushi-mu lama-kelamaan habis, Tanjiro-san."

Jadilah Kanao membagi miliknya dengan Tanjiro. Namun, ketika Kanao berpikir Tanjiro mau menyuapi mulutnya sendiri, Tanjiro malah memberikannya lagi kepada gerombolan kucing. Salah satunya bahkan memanjat kaki Tanjiro manja. Kini selain menyediakan sushi, Tanjiro juga mempunyai fasilitas mengelus-elus setiap kucing yang repot-repot datang.

"Tolong buka mulutmu, Tanjiro-san."

"Memangnya kenapa? Apa ada–" Nigiri sushi memasuki mulut Tanjiro dengan mulus. Sejenak ia masih asyik mengunyah sampai akhirnya, Tanjiro kembali menatap Kanao yang ceritanya sibuk memainkan sumpit. Seolah-olah akan mengapit sesuatu, padahal sushi miliknya pun kandas usai diberikan ke kucing.

"Tadi itu sushi terakhirmu?"

"Rasanya enak?"

"Enak, kok, tetapi tidak bisa begitu, Kanao-san. Tolong izinkan aku menggantinya."

Sepanjang apa pun antreannya pasti Tanjiro taklukkan. Seolah-olah enggan mengalah jua, Kanao ikut berbaris untuk nanti memberikan sekotak sushi kepada Tanjiro. Mereka yang benar-benar ajaib itu membuat Zenitsu gerah akibat tak habis pikir. Entah untuk apa, tetapi Zenitsu bersikukuh kembali bersembunyi. Sekarang Tanjiro dan Kanao saling menyerahkan makanan yang mereka beli. Sekilas sang pemuda mengerjap-ngerjap sebab ia tidak sadar, Kanao ikut memperjuangkan antrean.

"Kanao-san sebegitu enggak sukanya, kah, diberikan hadiah?" Ternyata Tsuyuri Kanao sangatlah baik. Seandainya Tanjiro dapat menaruh hatinya pada hati Kanao, mau itu sekotak sushi, segelas cokelat panas, ataupun kue stroberi, pasti Tanjiro berikan perhatian serta kepedulian yang lebih. Tak semata-mata menggantikan atau balas budi, lalu segalanya harus terlihat berakhir, karena yang temporer seperti ini kurang cocok dengan Kanao.

"Sejak awal sebenarnya aku sudah menerima pemberian dari Tanjiro-san, kok." Kali ini mungkin Kanao dapat mengutarakannya. Ia merasa lega semenjak Tanjiro berada di dekatnya lebih lama.

"Memangnya apa?" Mereka sempat ke toko boneka, dan Kanao menolak semua pilihan milik Tanjiro. Cokelat, setangkai mawar, permen ... itu tak lebih dari sesuatu yang munculnya selintas. Bahkan jangan-jangan Kanao memutuskan ikut membeli sushi, karena ia berpikir Tanjiro kelaparan.

"Jalan-jalan bersamamu ... adalah hadiah yang kumaksud. Makanya aku berusaha membalas Tanjiro-san." Bagaimanakah merah di wajah Kanao sekarang ini? Apa membuat ia tampak aneh? Konyol? Atau bahkan jelek? Tetapi Kanao tak bisa mengendalikannya. Di hadapan Tanjiro, perilaku Kanao pasti meliar tetapi penuh keragu-raguan jua–sungguh kontradiksi kelewat ajaib.

Kalau marah sama perempuan, kata ibu Tanjiro jangan memukul. Namun, jika gemas yang menyerempet jatuh cinta, Tanjiro harus melakukan apa kira-kira? Ia sendiri bisa berkeinginan mencintai Kanao, hanya karena Tanjiro mendadak sering memperhatikan Kanao. Sepertinya kisah itu dimulai, semenjak Tanjiro tak sengaja mendapati Kanao bermain koin. Sesuatu yang Tanjiro suka lakukan juga ketika ia bosan.

Jatuh cinta itu memang absurd, dan Kanao pun merasakannya hanya gara-gara Tanjiro menghadiahkan koin lima ratus yen–seolah-olah koin adalah penghubung dari Tanjiro dan Kanao (di mana diam-diam terasa familier). Padahal mereka berbeda kelas, belum pernah mengobrol, dan tiba-tiba Tanjiro memberikan kado yang unik. Zenitsu juga paham, sehingga ia memutuskan mengikuti Tanjiro dan muncul.

"Sini pinjam koinmu, Tanjiro." Kedatangan yang dibalut kejutan berlebih itu jelas mengagetkan Tanjiro, sekaligus Kanao. Namun, Tanjiro tetap meladeni seabsurd apa pun tindak tanduk Zenitsu. Koin lima ratus yen langsung diberikannya tanpa banyak tanya.

"Kupikir Agatsuma-san sudah pulang."

"Mana bisa aku pulang, setelah melihat Tanjiro kesulitan PDKT denganmu."

"Duh. Jangan terang-terangan begitu, dong, Zenitsu. Entar Kanao-san–" Telunjuk Zenitsu mendarat mulus pada bibir Tanjiro. Pokoknya serahkan saja kepada ahlinya, walau seorang Agatsuma Zenitsu masihlah siswa yang iri berat akan kepopuleran Uzui-sensei si guru kesenian.

"Aku enggak tahu kenapa kalian suka banget melempar koin, tapi akan kulakukan biar kalian senang. Yang pertama adalah, apakah Minggu besok Tanjiro akan mengajak Kanao-chan ke bioskop? Ekor berarti ya. Kalau yang muncul kepala artinya tidak."

Tiket bioskop gratis yang mereka peroleh dari Kanroji Mitsuri–kakak kelas yang setahun lebih tua–tentu akan digunakan daripada mubazir. Namun, Tanjiro tak sekali pun menyiratkan ia ingin mengajak Kanao. Jadilah lidahnya hendak mempersiapkan protes walau ujung-ujungnya, patah duluan karena Zenitsu telanjur menerima ekor sebagai hasil.

"Setelah menonton film, apakah Tanjiro mengajak Kanao-chan ke taman hiburan? Ini sama seperti sebelumnya, jadi enggak perlu diulang."

"Zenitsu! Tiket dari Kanroji-senpai jangan dipakai sembarangan, dong."

"Kamu ini disuruh PDKT sendiri susah, dibantu protes melulu. Kanroji-senpai pasti tidak masalah, walau bukan kita berdua yang pergi. Kanao-chan saja senang, tuh, sampai memerah."

Koin segera Zenitsu lemparkan ke udara, sebelum Tanjiro protes lagi. Hasilnya adalah ekor membuat Zenitsu berseru kegirangan, karena yang ketiga adalah improvisasi yang seharusnya paling seru. Zenitsu sudah cekikikan saja menyebabkan firasat Tanjiro berwarna buruk, sedangkan Kanao tiba-tiba melamun; asik dengan dunianya sendiri.

"Seru, lho, yang ini. Apakah Tanjiro dan Kanao-chan akan berpacaran? Kepala berarti ya. Ekor artinya tidak. Kubalik juga biar lebih seru."

Yang satu ini bahkan lebih konyol lagi, tetapi Tanjiro bisa apa karena koinnya telanjur melayang-layang? Zenitsu pun langsung menutupnya, setelah dipastikan mendarat mulus di punggung tangan. Sesekali ia mengisengi Tanjiro dengan sedikit membukanya, lalu disembunyikan lagi secepat kilat. Terus begitu sampai akhirnya malah Zenitsu yang kaget bukan main.

"Ta-Ta ... Tanjiro ..."

"Apa hasilnya Zenitsu? Tanganmu masih menghalangi."

"Hasilnya ... hasilnya ... HASILNYA ADALAH KEPALA, TANJIRO. IYA, SIH, AKU BERNIAT MEMBANTUMU PDKT, TAPI ENGGAK KUSANGKA KAMU JADIAN LEBIH DULU."

Bukan Tanjiro namanya kalau tidak menenangkan Zenitsu. Usai paling bersemangat dalam membantu Tanjiro mendekati Kanao, lalu sekarang ini tangisan Zenitsu macam banjir bandang saja, mana mungkin Tanjiro tak menghargai Zenitsu. Meskipun Kanao bisa membencinya karena terkesan main-main, Tanjiro berdoa Kanao mau menerimanya, dan Tanjiro bukan berharap kepada kebaikan Kanao. Semoga Kanao melihatnya sebagai sebuah upaya, sehingga ia menolak atau menerima seseorang yang berjuang; turut menghargai dirinya sendiri.

"Maaf jika terkesan sembarangan, Kanao-san! Namun, aku serius ingin mengajakmu menonton film, ke taman bermain, dan aku akan menembakmu di puncak bianglala. Maukah Kanao-san menerimanya?"

"Tolong naikkan kepalamu, Tanjiro-san. Aku menerimanya, kok. Mau janjian ... jam berapa?"

"Datanglah pukul sepuluh pagi, Kanao-san! Terima kasih banyak."

Untunglah berjalan lancar. Saking terharunya Zenitsu, ingusnya sampai meleleh ke mana-mana membuat Tanjiro tertawa. Sementara Kanao hanya yakin, malam ini tidurnya pasti bermimpi indah. Siapa sangka koin lima ratus yen dapat membawakan keberuntungan yang sedemikian besar? Selain jalan-jalan sekalian memanfaatkan tiket gratis, Tanjiro juga memberanikan diri mengundang Kanao makan malam bersama. Makin kencanglah teriakan Zenitsu yang segera Tanjiro sumpal pakai sushi.

"Susul saja kalau sebegitu irinya, Zenitsu."

"Jadi besok Sabtu aku boleh mengajak Nezuko-chan kencan?"

"Giliran Nezuko jaga toko."

"Perasaan setiap hari jaga toko melulu, deh."

"Memang setiap hari. Nezuko, kan, rajin."

Paras Zenitsu seketika berubah masam. Di antara mereka bertiga, memang nasibnya-lah yang selalu paling jelek.


Tamat.


A/N: Ini ide random banget sih, tapi aku juga setuju kalo TanKana identik banget dengan koin. Awalnya Cuma mau bikin drabble, tapi entah gimana bablas sampe 2k. Buat afi, semoga kamu gak keberatan walaupun alurnya absurd parahh wkwkw. Tadinya aku mau gift satu lagi, tapi belum selesai dan aku lagi mager banget bawaannya. Mentang-mentang tinggal dikit lagi. Tolong ditunggu ya afi.

Thx buat yang udah baca, fav, follow, review, atau numpang lewat doang. Mari bertemu di fanfic TanKana lainnya~