"Eh, apa? Mengapa?" Oga Tatsumi bertanya dengan sarat heran di seluruh wajahnya.
Lamia—sang gadis berhelai secerah sekar, berdeham, lalu menyahut, "Iya … ini, seperti, sebut saja—magang. Aku mungkin calon dokter untuk mahluk dunia iblis, namun, memahami anatomi manusia juga tak ada salahnya. Jadi Ibu memintaku melakukan internship di salah satu rumah sakit yang pemiliknya adalah teman Raja Iblis. Aku sudah memberitahu Kak Hilda bahwa aku akan datang hari ini, kan?"
Kunieda Aoi mengerjap takjub. Sebesar apa sih, koneksinya Raja Iblis ….
"Kalau kau di sini, yang ada namanya intern-hell—UHOK!" Tatsumi terbatuk saat merasakan pukulan telak pada ulu hati. Beel, sang bocah berumur 10 tahun menepuk-nepuk pundak ayahnya prihatin.
"Tapi, Lamia," Beel memanggil. Bola mata gulma memandang jernih sang dokter. "Misaki-san dan yang lain sedang berlibur di Hokkaido, kemudian kami—bersama Aoi-san—perlu melakukan perjalanan ke Kyoto untuk urusan kerja."
Kali ini, si remaja yang nyaris dewasa menaik-turunkan pelupuk repetitif. Ia menoleh pada Hilda yang disambut dengan anggukan dan eksplanasi, "Trip perusahaan. Company mereka ingin mengobservasi company rival atau sesuatu semacam itu."
"Ja—jadi," Lamia memutus kalimatnya. Sedikit memucat. "Aku tak bisa menumpang di sini?"
Aoi memiringkan kepala, lalu berpikir sesaat. Setelah itu, kata-kata yang terlontar dari ujung lidahnya jauh lebih lancar sebelum otaknya dapat memproses kesimpulan yang diraihnya, "Loh, ada Furuichi, kan?"
Lamia membeku. Hingga ubun-ubun, hingga telinga gurat merah itu terukir.
Tatsumi menyeringai iblis.
Beelzebub © Tamura Ryuhei
Warnings! Canon, setting time future (10+ years), Furuichi Takayuki x Lamia, slight Oga Tatsumi x Kunieda Aoi, friendship, drama, romance, humour, possibly typo(s) and OOC, EyD semoga betul seluruhnya, dan sebagainya.
Spy by Saaraa
"Tidak, tidak, tidak!"
Lamia berusaha sekuat yang ia mampu untuk menahan sang surai sepekat jelaga dengan tarikan di ujung kaus.
Namun—iblis adalah panggilannya, yang terkuat ialah gelarnya, bisa apa Lamia dihadapkan dengan Tatsumi yang begitu usil serta keras kepala pagi ini?
"Ayolah, kita tinggal meminta izin pada Furuchin! Ya, kan, Beel?"
Beel terkekeh tipis. Hilda mendengus, menepuk pundak Aoi, lalu berujar, "Ini konyol. Kalian saja, aku dan Nico sudah berjanji untuk pergi bareng hari ini. Iya, kan?"
Nico, sang bocah gadis umur 8 itu mengangguk senang.
"Eh—maaf, loh, aku tidak bermaksud membuat ini jadi rumit," sahut Aoi, melihat Lamia yang kalap.
Namun si iris limau menggeleng. Ia menahan pijakannya dan mencegah Tatsumi melangkah keluar dari gerbang rumah. "Tidak, ini tak akan rumit kalau orang bodoh satu ini tidak bertingkah!"
Baru saja Tatsumi hendak membalas, mengelak, serta meloncat girang ke rumah Furuichi, ia mendengar suara pintu yang berderit kerak. Sontak, seluruh insan yang tadi begitu rusuh mendadak terdiam.
Clang!
—suara pintu tertutup.
"Ya, aku tahu!" Furuichi Takayuki menyahut ke arah dalam rumah. "Aku pergi dulu," pamitnya. Ia tampak terburu-buru. Suara pintu gerbang juga terdengar, sebelum langkah kaki yang sedikit mengetuk dengan tempo cepat mengudara, kemudian perlahan menghilang ditelan jarak.
Hening untuk sesaat. Tatsumi kembali menendang sudut-sudut bibirnya. "Ayo ikuti dia!"
Lamia mendesah lelah.
.
.
.
"Lihat, lihat! Dia membeli bunga. Apa dia akan kencan? Dasar Furuichi mesum."
Lamia menahan diri untuk memijit pelipis. Aoi tersenyum tipis, menepuk lembut pundak si gadis bersurai sakura, dan sodorkan segelas es cokelat yang baru saja dibelinya dari kedai pinggir jalan.
"Bukankah itu wajar? Papa harusnya juga mulai serius berkencan di umur segini, kan?" Beel menyahut kalem dan menyengir ceria. Kata-katanya nyaris membuat Aoi tersedak, namun Tatsumi mendengkus.
"Dengarlah, Beel, lelaki itu pantasnya jadi tajir dan berlimpah kekuasaan sebelum melamar gadisnya."
"Logikamu rusak," celetuk Lamia. Sebetulnya Tatsumi tak salah di satu sisi. Hanya saja, rasanya kesal mendengar hal macam itu termuntah dari sosok macam jelmaan iblis—ralat, iblis itu sendiri.
Konversasi konyol itu mendadak terhenti saat Takayuki keluar dari toko bunga dengan seikat forget-me-not sederhana. Agar tak rusak, sekumpulan bunga itu diikat rapi dengan pita putih metah, dibalut kertas biru gelap, serta dimasukkan dalam kantung plastik jernih.
Setelah memastikan bunganya aman, Takayuki menggantungkan plastik pada lengannya, lalu memerhatikan jalan sebelum menyebrang. Tatsumi menekan lembut puncak kepala Aoi, memastikan agar gadis dewasa itu menunduk agar tidak terlihat oleh objek pintaian mereka kali ini.
Aoi menahan napas dan Lamia hanya menahan senyum. Lalu, iris limau itu bergulir lagi, mengikuti sosok Takayuki.
Pakaian pemuda itu selalu rapi. Dan polos, dan membosankan—sejujurnya. Kaus biru muda, luaran kemeja putih metah, dan celana jins hitam.
Namun, entah kenapa, entah bagaimana—tampak menawan. Bahkan meski setelah beberapa tahun terlewat.
"Hei, ayo! Dia berjalan ke arah kafe!"
Lamia menggeram lelah.
.
"Selamat datang!" pelayan kafe menyambut. Senyum cerah nan hangatnya berpendar, seolah merajai semua emosi positif di buana. "Oh, Kak Furuichi! Kuemu sudah siap, nih."
Kak Furuichi? Lamia menekankan silabel itu pada kepalanya. Berpura menjadi pengunjung kafe, ia, Tatsumi, Beel, dan Aoi berusaha sebaik mungkin untuk tak terlihat mencurigakan. KAK Furuichi?
Takayuki menyebar kekehan yang menyenangkan.
Gadis yang bersurai merah muda lembut berusaha menarik napas dan menghelanya panjang. Tunggu, ini konyol. Aku sedang apa, sih?
"Oh, kuenya cantik seperti biasanya," Takayuki merespon. Tubuhnya bertumpu pada meja berpelitur cokelat tua. Di antara jemarinya, dijepit tutup kotak kue yang menganga; memperlihatkan sebuah manisan yang ditata presisi serta apik.
"Sampai beli bunga juga," goda sang pelayan. Menyengir jahil. "Untuk pacar, ya?"
Takayuki mendengkus, mengibas-ngibaskan tangan. "Mau tahu saja."
"Loh, tidak mengelak! Haha!"
Aoi mengedip, lalu tanpa sadar, arah pandangnya bergulir pada lelaki di sebelah yang fokus terhadap kawan sejak SMA-nya. Dalam satu sekon, wajahnya memerah hingga ubun-ubun dan ia perlu menggeleng-geleng.
Beel tersenyum tipis. "Asyik, ya?"
Aoi yang kepergok tersenyum canggung. Tapi lalu menerima tepukan pada bahu dari Lamia.
"Cieee … pacar."
"A—apaan, sih!"
"Kalian membicarakan apa?" Tatsumi mendadak menolehkan kepala pada samping, cepat. Hidungnya terlalu dekat dan merajai jarak yang biasanya terbentang di antara dirinya dan Aoi—sontak membuat gadis bersurai biru gelap tersentak dan kaku.
"Bukan apa-apa," sahut Beel cepat, menyelamatkan. "Dad, lihat, Furuchin sudah akan keluar dari kafe."
"Oh! Ayo, ayo!"
Lamia, entah untuk kali ke berapa hari ini—merotasi bola mata.
.
Terakhir, saat hari sudah sedikit lebih sore, destinasi Takayuki ialah supermarket. Cukup janggal kelihatannya—namun, saat melihat apa saja yang diraih oleh lelaki bersurai abu muda itu ialah bahan mentah untuk masakan, maka ide kasarnya dapat dipahami.
Ia berbelanja untuk makan malam. Takayuki melihat pada bagian dalam dari penghalang kaca. Daging berjejer dan ia sudah lapar bahkan hanya untuk membayangkan lembutnya daging sapi pada kuah kaldu. Takayuki menunjuk, berujar pada penjaga daging, "Mau yang irisan tipis ini, ya. Satu kilogram. Lembut semua, kan?"
Penjaga daging tersenyum ramah. "Yep! Sangat lembut. Untuk sukiyaki, ya?"
Takayuki mengangguk. Setelah daging dibungkuskan, sang penjual mendekat pada Takayuki, bertanya dengan usaha untuk menutupi kecurigaannya, ia berbisik, "Itu, ada beberapa orang melihat ke arahmu terus … tidak apa, tuh?"
Takayuki menggeleng lelah dan tertawa hambar, "Haha, iya … itu teman-temanku," balasnya, ikut merendahkan suara agar tak didengar yang lain. "Biarkan saja."
"Jadi tidak perlu kupanggil polisi, kan, Nak?"
"Tidak usah," respon Takayuki. "Nanti mereka juga bosan sendiri."
"Eh, mereka jatuh, tuh—"
Clang!
Berikutnya, apa yang Takayuki dengar ialah kegaduhan yang dibungkam dengan gagal, sedikit bisik-bisikan, dan beberapa kaleng yang berguling pada pualam. Takayuki masih mempertahankan senyum datar.
Nggak jelas ….
Namun, mendengar suara kawannya sejak SMA, serta Beel yang perlahan beranjak dewasa—yang amat, sangat, terasa cepat, lalu bisikan Aoi yang halus juga gelagapan, ditambah hardikan dengan nada yang kasar dari seorang gadis nyaris dewasa; memilik impresi tak ramah tapi sebetulnya ia hanya dibungkus oleh rasa malu …
… mau tak mau membuat Takayuki terkekeh, lalu ia menutup mulutnya.
Maka, Takayuki melangkah. Ia akan bersiap membayar sebelum irisnya menangkap sosok seseorang yang familiar. Senyumnya merekah dan ia berseru, "Nene!"
Oomori Nene mengedip cepat, sedikit melonjak. Sang pemilik surai marun mendapati Takayuki mendekat padanya. Ia pun mendengus—tidak berubah, senyum pemilik surai abu-abu itu.
"Manis seperti biasanya! Nene sendirian?"
Nene merotasi bola mata. Sanjungan itu tidak spesial kalau disampaikan oleh seorang penggombal yang petah lidah terutama bila di dekat perempuan. Namun, bagaimana pun, wanita itu membalas, "Ya, begitulah. Kau sendiri?"
"Hm-mnn, yap. Aku sedang belanja makan malam."
"Dengan kekonyolan seperti biasa, ya," respon Nene, sigap melihat ke balik pundak Takayuki. Saat bola matanya dan Aoi bertemu, Aoi dengan panik membuang pandangan, begitu pun dengan Tatsumi.
"Yah … mungkin mereka sedang bosan," ujar Takayuki, sedikit menurunkan volume suara.
"Oh? Sudah lama sekali tidak melihat dokter itu," Nene ikut berbisik. Ia cukup peka untuk paham bahwa hal ini tak perlu dibahas dengan kentara dan membiarkan seluruh insan mendengar.
Takayuki tersenyum timpang. Ia tersenyum—senang, tanpa bisa ditahan. Tulus. "Iya, Sudah dewasa, kan? Waktu sangat cepat berlalu."
Nene menautkan alis. Sejak kapan seorang Furuichi Takayuki memiliki ekspresi macam itu? Tak ada unsur jahil, atau penuh serba-serbi, atau dibalut afeksi palsu dan guyonan centil. Tapi, meski begitu, atas kebiasaan yang mereka sama-sama rindukan sejak tahun pertama sekolah menengah atas, Nene membalas singkat, "Mesum."
Takayuki menggeleng. "Jangan gitu, ah." Sang lelaki dewasa menunduk, sedikit mendekatkan wajah pada Nene. Di samping telinga wanita itu, Takayuki melirih, "Tak usah sapa mereka. Biar saja mereka seru sendiri."
"Aku tahu," respon Nene cepat dan ciptakan rentangan jarak di antara mereka. "Ya sudah, aku kembali duluan, ya."
"Oke!"
.
.
.
Lamia ingin sekali meninggalkan kawanan bodohnya ini. Maksudnya, pada awalnya, ia hanya kemari untuk menumpang di rumah keluarga Oga, sebab ia pikir—tak ada salahnya, kan? Ia bisa dekat dengan Beel serta Nico, terlebih bersama Hilda yang sudah seperti kakak sendiri.
Namun, satu hal menuntun pada hal lainnya dan entah bagaimana mereka bisa berakhir di supermarket, dan bahkan terus mengekori Takayuki meski ia telah selesai berbelanja!
Lamia sama sekali tak keberatan oleh berbagai hal, sungguh—bahkan bila ia harus menuruti lawakan macam ini. Sebab, dalam sanubarinya, ini semua terasa seperti keseruan yang tak ada ubahnya, bahkan meski sepuluh tahun terlewat. Dan selama Beel juga bersenang-senang, itu terasa seperti hadiah terindah.
Hanya saja, ia tahu bahwa rasa kesal telah bercokol di hati sejak awal perjalanan ini. Kala Takayuki membeli bunga, atau kue, atau bahkan sekadar bertukar sapa—yang tampak jauh lebih mesra dari kelihatannya—bersama Nene tadi.
"Ah, pada akhirnya tak ada yang spesial. Furuichi juga sudah kembali pulang!" ujar Tatsumi.
Beel menyengir. "Furuchin membosankan, ya."
Aoi hanya menggeleng-geleng. "Kalian ini, loh …."
"Aku …," Lamia terhenti di jalannya. Itu terasa seperti panggilan, meski sebetulnya lebih pada berbicara pada batinnya sendiri. "Akan pulang nanti."
Tatsumi mengerjap. Saat Lamia memutar tubuhnya, lalu mulai mengangkat tungkainya, terdengar suara kalem sang surai sepekat jelaga, "Kau tahu—kalau tidak diomongkan jelas, si bodoh itu tak akan paham."
Lamia tidak membalas. Ia melangkah dan dengan sedikit sihir, tubuhnya melambung pada angkasa, berada di antara awan.
Beel, yang mendengar itu—ikut mengedip. Kata-kata yang amat berlaku terhadap sepasang sahabat bodoh yang selalu bersisian satu dengan yang lain.
"Dad," Beel memanggil. Menyengir bahagia. "Dan Aoi-san, kita makan bareng, yuk!"
Aoi dan Tatsumi bertukar pandang. Senyum keduanya tertoreh begitu saja.
.
"Ternyata di tepi sungai, toh."
Lamia mengerjap cepat. Ia menoleh kaget dan dahinya berkerut dalam. Suaranya terbuka sebagai manifestasi akan kebingungan yang melanda, "Bagaimana kau—"
Sadar sesuatu, Lamia merotasi bola mata. "—Kak Hilda."
Ia pasti melihatku terbang ke arah sini.
Takayuki bergumam dan mengangguk. Ia mengambil tempat untuk duduk di sebelah sang surai merah muda, menyamankan diri pada alas rerumputan, suasana senja dengan mentari jingga, serta permukaan air sungai yang berkecipak lembut dirisak angin lalu.
Lalu, Lamia sadar bahwa Takayuki juga menaruh apa yang ia belanjakan tadi di sisinya. Lamia membiarkan bola matanya bergulir pada sudut paling ujung, sebelum kembali fokus ke depan.
"Jadi? Hilda dan Nico mencarimu, loh. Mereka membelikanmu bakpao manis yang kausukai."
Lamia menarik napas. Ada helaan lembut. "Ya," sahutnya, tak berselera. "Nanti aku pulang."
Takayuki termenung. Pandangannya tak lepas dari sosok wanita muda dewasa yang lesu, mendekap lututnya sendiri. Berikutnya, ia kembali bersuara penuh semangat, "Oh, ya, tadi aku bertemu Nene loh! Dia cantik sekali, meski sudah sepuluh tahun terlewat. Siapa yang sangka kan?"
Lamia merasakan urat pada pelipisnya menegang.
"Aku jadi bertanya-tanya, bagaimana kabar anggota Red Tail yang lain, ya? Sungguh membuat rindu. Ah, tapi, kalau Kunieda-san, sih—kulihat setiap waktu. Sudah waktunya Oga menembaknya."
Lamia setuju soal itu. Tapi, untuk sekarang, ia malah semakin—jengkel. Kesal merambat hingga kepala.
"Ngomong-omong, bagaimana kabar ibumu—"
"Bisa, tidak, sih—jangan bicara soal perempuan sekali saja!"
Lamia menyambar kasar. Oh. Ia sebal. Ia menatap Takayuki dengan raut yang sudah pasti ia ketahui tak segar untuk dipandang. Lamia mempunyai perkiraan bahwa Takayuki akan dilanda bingung, serta ekspresi khawatir.
Sendi wajah yang kerap kali ia tunjukkan kalau menyangkut kawan-kawannya, sebab di antara semua orang yang berada dalam lingkaran hidupnya, hanya ia yang tidak bisa terjun menuju medan perkelahian dan melihat dari samping.
Akan tetapi, Takayuki hanya—mengukir senyum tipis. Usil.
Ekspresi puas sebab pada akhirnya, ia berhasil membuat sang dokter muda menoleh padanya, menatap langsung bola mata keabuan.
"Ada apa, Lamia?" Takayuki akhirnya bertanya. "Ini hari kedatanganmu ke bumi setelah sekian lama—mengapa mood-mu buruk?"
Lamia tanpa sadar mengembungkan pipi. Ya sudah, jujur saja, bukan? Lagipula, segala isi hatinya betulan siap tumpah ruah!
"Karena kau bodoh! Pakai beli bunga segala, kue—padahal kau tahu aku akan datang kan!"
Takayuki terdiam. Menerima seruan yang terarah padanya. Bola mata abunya tak lepas dari manik Lamia bahkan meski satu sekon.
"Kenapa tidak cari hari lain? Ya sudah kalau begitu!" Lamia menyahut. "Temui saja kekasihmu!"
Takayuki menarik sebelah sudut bibir, tipis.
"Lamia," panggilnya. Halus.
"Apa!"
"Aku mendengar kau akan datang besok; bukan hari ini," ujar Takayuki. Lamia tidak melihat bagaimana itu dan ini memiliki korelasi. Apa pula implikasi antara kedatangannya pada bumi serta kekasih Takayuki yang dibelikan bunga hingga kue? Meski begitu, Takayuki tetap lanjut menyodorkan penjelasan, "Makanya, aku membeli kue dan bunga hari ini, supaya besok bisa kuberikan padamu."
Lamia mengerjap.
"Tapi, di tengah membeli kue, aku tahu kau dan Oga serta yang lain mengikuti. Jadi, aku sekalian membeli makan malam."
Oh.
Oh.
Takayuki terkekeh. Oh—gurat wajah sang gadis jauh lebih menarik dari apa pun yang ia temui hari ini. Sebuah wajah yang entah bagaimana telah bercokol pada hatinya, menelusup begitu saja, tersimpan baik-baik dalam lobus yang ada.
"Aku beli banyak daging untuk sukiyaki. Kesukaanmu, kan?"
Maka, inilah kisah sederhana keduanya. Seorang iblis manis dari tempat yang amat jauh, serta mantan berandalan—merangkap penasihat—yang entah bagaimana, bertemu dalam satu waktu, digiring oleh semesta dan sistematika takdir bila kau percaya.
Dan Takayuki masih tak bisa melepas senyum.
"Yuk pulang?"
Lamia nyaris sekali memukul Takayuki.
Tapi, karena suasana hatinya sedang baik—ya sudahlah.
Ini cukup.
END
Epilog
Ponsel Tatsumi meraung bahkan meski pagi baru saja menyingsing. Kaiser de Emperana Beelzebub IV mengusap, menepuk-nepuk lengan ayahnya.
"Dad, handphone-mu …."
Tatsumi mengerang. Siapa pula pagi-pagi? Lalu, ia meraih ponsel dari atas meja nakas. Sambungan telepon tercipta, ia mendekatkan alat kommunikasi itu pada telinganya.
"Halo?"
"Oga?"
Tatsumi mendecak. "Hanya kau, Furuchin. Ada apa telepon pagi-pagi?"
Beel meloloskan kuapan, lalu mulai mengusap-usap sudut mata.
"Hilda bilang Lamia akan datang besok untuk magang, kan?"
Kapan Hilda bilang begitu? Meski itu yang ada di dalam pikiran sang orang tua angkat dari Beel dan Nico, Tatsumi hanya bergumam mengiyakan.
"Oke. Aku akan beli kue hari ini, apa kau mau menitip sesuatu?"
"Tidaaak."
Dan telepon ditutup. Barulah seusai itu, Tatsumi bangkit dari posisi tidurnya. Ia mengerjap cepat, mendadak segar. Setengah tahun lalu, Hilda memang pernah ada mengatakan soal internship di rumah sakit atau sesuatu semacam itu.
Namun, ia lupa dan … oh—tunggu. Ini bukan salahnya kalau perusahaannya mendadak mengirim ia dan Aoi untuk pergi survei ke luar kota. Namun, bagaimana Lamia bisa tinggal di sini? Kedua orang tuanya dan Misaki sedang ke Hokkaido, Hilda akan menyusul besok. Dan bagaimana pun, meski hanya untuk satu atau dua minggu, anak gadis sendirian di rumah tanpa ada yang menjaga tidak terdengar seperti hal baik.
"Dad?" Beel memanggil, menyadari keheningan yang merasuk.
Tak lama, pintu kamarnya dibuka. Hilda melongok dari sana dengan Nico dalam genggamannya. Namun bocah iblis itu segera berlari dan meloncat pada pangkuan Tatsumi kala melihatnya. Tatsumi tersenyum, mengusap kepala Nico.
"Sudah sikat gigi?"
"Sudah!"
"Sarapan?"
Nico mengangguk senang.
"Oi, hari ini aku akan pergi dengan Nico."
Tatsumi mengangguk. Ia menoleh pada Beel, "Beel-boy, mau ikut?"
"Aku di rumah saja bersama Dad."
Yah—baiklah, sang kakak memang lebih betah dekat dengan ayahnya bagaimana pun.
"Oh ya—dekil," Hilda memanggil lagi. "Lamia katanya tidak jadi datang besok. Ia akan datang hari ini."
Tatsumi mengerjap. "Eh? Sekarang?"
"Kurasa. Kenapa?"
Tunggu—sebentar. Otaknya terlalu kecil untuk berpikir hal begini. Namun, mengingat telepon yang ia terima tadi pagi dan menyatukan kepingan informasi, Tatsumi akhirnya mendengus dan tertawa menyebalkan.
Membuat Beel merasa bahwa keusilan ayahnya baru saja kembali terpicu.
Tatsumi membuka lagi ponselnya dan mengirim sebuah chat sederhana.
Kunieda, mau datang ke rumah, tidak? Ada hal menarik, nih.
Dan itulah awal mulanya.
