disclaimer: Naruto Milik Masashi K.
warning: AU. Office!AU. M rated for slight mature scene and swearings (bahasa kasar)


.

.


Unfinished Bussiness


»»––««

.
This isn't over, yet.

.

"Don't be afraid to start over."

"It's a chance to build a something better this time"

.

.

»»––««

Kedua kaki itu beradu, menapak lebar-lebar tanah beraspal.

Tali dari tas selempangnya tergenggam erat di satu tangan. Ia menambah kecepatan langkah kakinya, desah lega meluncur begitu saja saat matanya menangkap kompleks gedung apertemennya yang semakin dekat di pelupuk mata. Sembari ia berlari, ia bawa tasnya ke atas kepala, menjadikannya tameng dari tetesan air yang menerjang.

Ino Yamanaka buru-buru menyelipkan tubuhnya ke dalam setelah mendorong pintu kaca ganda dengan satu tangannya yang bebas. Ia tidak langsung menyebrangi lobby, mulanya ia tarikan jemarinya ke sela-sela rambut pirang platina panjangnya yang cukup basah. Ia mengusap telapak tangannya di atas permukaan fabrik dressnya yang terlanjur basah.

Merasa tubuhnya sudah cukup mengering, walau tak seberapa, Ino melemparkan sapaan selamat malam kepada security yang berjaga di meja depan, ssbelum membawa kakinya menuju ke arah barat, ke tempat lift yang akan membawanya ke lantai yang akan ia tuju nantinya. Satu tangannya terulur ke depan, ujung jarinya menekan tombol panah up yang berada di sisi pintu metalik lift.

Tak perlu waktu lama bagi lift untuk berdenting, dan pintu ganda lift pun bergeser membuka, memberi ruang bagi Ino untuk membawa tubuh semampainya masuk. Ia mengucap syukur dalam hati mengetahui bahwa lift di depannya itu kosong tak berisi. Ino selalu merasa senang ketika ia bisa mendapat ruang bebas bagi dirinya sendiri, terlebih dengan keadaan tubuhnya yang terasa begitu lelah hari ini.

Pekerjaannya sebagai seorang desainer game di salah satu perusahaan game terbesar di Jepang menuntutnya untuk rela bekerja lembur di beberapa kesempatan.

Pulang saat dini hari pun sudah bukan merupakan pengalaman baru baginya. Lelah rasanya, terlebih berbagai tekanan yang menyertai profesinya juga terhitung tak sedikit. Tapi apa daya? Gaji sebagai seorang desainer game lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya hingga ke kebutuhan tersier, jadi Ino tetap berusaha untuk bertahan.

Begitu tubuhnya telah masuk ke dalam, ia julurkan tangannya untuk menekan tombol tutup. Baru saja kedua sisi pintu metalik itu bergeser, sebuah ujung sepatu pantofel menahannya di tempat.

Ino agak tertegun mengamati ujung sepatu itu. Matanya perlahan singgah ke atas, menelusuri siapa gerangan pemilik sepatu di depannya.

.

Dan detik setelahnya, Ino sangat, sangat berharap bahwa ia bisa mengulang waktu.

.

Ia menyesal ia membawa kepalanya terdongak untuk mengerling kepada si pemilik sepatu.

.

Pemilik sepatu itu—lelaki dengan kemeja strip biru acak-acakan, adalah orang terakhir yang berada dalam daftar orang-orang yang ingin ditemuinya di situasi seperti ini.

Sial sekali.

Irisnya dengan iris arang tegas lelaki itu bersirobok dalam keheningan. Pria itu masih menahan pintu lift agar tidak menutup dengan satu tangannya, sedang kedua matanya masih tepatri pada Ino yang juga tampak terpaku di dalam sana.

Butuh beberapa detik setelahnya bagi lelaki itu untuk bergerak, menyelipkan tubuhnya ke dalam bersama Ino yang sudah terlebih dahulu masuk.

Gadis itu hanya bisa bergeming, pandangannya hanya bisa mengamati kemana tubuh itu bergerak, bahkan ketika jarinya menekan tombol pintu hingga lift akhirnya menutup, kemudian berganti menakan angka 6 di deretan tombol samping pintu.

Pria di depannya itu sedikit memutar tubuh, memilih menyanderkan punggungnya ke tembok lift yang dingin dengan kedua lengan yang saling bertautan.

Ino perlahan mengerjap, membuang muka ke arah berlawanan kala realisasi menghampiri. Tak sadar tangannya mengepal, menggengam erat-erat strap tas selempangnya untuk menahan gejolak emosi dalam dada.

Ia menarik nafas dalam, kemudian menghembuskannya perlahan. Brengsek, ini benar-benar nyata.

Benar-benar ia yang ada disini, berdua, bersamanya.

Ino kenal orang ini—oh, tentu saja.

Sangat kenal, bahkan.

.

Sai.

.

Laki-laki. 22 tahun. Ia bekerja di perusahaan yang sama dengan Ino, namun ia berprofesi sebagai artist 3D mereka. Penghuni apartemen lantai di lantai 6, nomor 542. Seorang yang terkenal ramah dengan suka mengumbar senyum, meskipun itu sebuah senyum palsu sekalipun. Seorang penghuni yang santun, sopan, royal dan tenang.

Yang kebetulan, juga merupakan mantan kekasihnya.

.

Ya, Sai adalah mantan kekasih seorang Ino Yamanaka.

.

Dan gelar itu resmi disandang mereka berdua sejak dua bulan yang lalu, sejak pertengkaran besar terjadi diantara mereka berdua.

.

Sai dan Ino Yamanaka.

.

Teman-teman mereka memandang mereka sebagai sepasang kekasih yang sempurna. Punya dua kepribadian yang saling bertolak belakang, namun saling melengkapi. Sangat kompatibel dan secara visual mereka pun sangat sempurna. Keberadaan satu sama lain bagaikan sebuah nafas bagi mereka, sebuah keharusan. Dan mereka tampak mewujudkan afeksi mereka tanpa segan. Siapapun yang melihatnya bisa merasakan afeksi yang begitu kuat di sana.

Tak ada yang menyangka jika kemudian kedua sejoli yang sudah merajut hubungan romansa selama 4 tahun semenjak kelas tiga SMA akhirnya karam. The perfect highschool sweeathearts pun ternyata tak bisa lepas dari cengkraman kehancuran.

Ya, karena orang-orang hanya melihat luarnya saja, mereka tidak tahu, bahwa Ino dan Sai sebenarnya punya segudang masalah seperti pasangan-pasangan lainnya. Mereka salah paham, mereka bertengkar, dan mereka putus asa.

Lift sedikit bergoyang dan lampu sedikit berkelip padam. Kedua orang itu bergegas mencari pegangan kuat-kuat.

Dan setelahnya, ada sebuah goncangan kuat yang membuat mereka hampir terjatuh lalu berhenti mendadak.

Tiba-tiba saja tidak ada pergerakan apapun, meski lampu masih menyala.

Ino yang baru mencoba menenangkan kerja jantungnya, membelalakan mata. Jangan bilang—

"Kita terjebak,"

Ino bisa mendengar suara familiar Sai memenuhi ruang dengar. Suaranya masih sama lembutnya. Tangan lelaki itu terjulur untuk menekan-nekan tombol emergency, tapi tetap saja, benda kotak yang mereka tumpangi itu tidak menunjukan pergerakan apa-apa.

"Sial," Ino mengumpat di bawah nafasnya. Ia mendekat ke arah pemuda itu dan menepis tangannya dari sana, menekan tombol apapun agar lift terkutuk ini bergerak. "Fucking piece of shit," umpatnya sekali lagi.

Terjebak bersama Sai—mantan pacar menyebalkannya.

Di dalam lift.

Berdua saja.

Itu sama sekali bukan skrenario terbaik di otak Ino.

Ia bawa tubuhnya berada ke seberang tempat Sai berdiri dan menyandarkan punggungnya disana, mengimitasi posisi lelaki itu yang nampak jauh lebih tenang darinya, begitu kontras. Mereka memang selalu begitu. Ino dan Sai selalu berbeda. Terlalu berbeda.

Kelopak matanya ia paksa tutup, Ino menghembuskan nafas secara teratur dan perlahan. Baik, tidak ada gunanya panik. Ia hanya akan membuat dirinya terlihat bodoh di depan orang ini. Itu adalah hal terakhir yang diinginkannya.

Kepalanya terdongak, bahunya berubah kaku saat ia menemukan bola mata oniks itu telah menjatuhkan pandangan ke arahnya, mengunci dirinya di tempat. Ino membenah i postur tubuhnya, ia tidak boleh menunjukan kepanikan yang melanda dirinya, jadi ia putuskan untuk memaksa suaranya keluar,

"Darimana kau? Aku tidak melihat kau masih ada di kantor tadi,"

Damn you, stupid mouth, Ino merutuk. Kenapa justru itu yang ia katakan? Kenapa justru pertanyaan yang terkesan menaruh perhatian akan keberadaan Sai yang meluncur dari bibirnya? Damn. Damn. Damn—

"Dari bar, bersama Naruto," Laki-laki di seberangnya itu menjawab dengan suaranya yang sedikit serak, namun masih mampu Ino tangkap dengan jelas. Ino menduga ia pasti mabuk. Pandangannya juga tak fokus, berlari ke sana kemari.

Ino menaikan alis, mengernyitkan hidung bangirnya saat bau alkohol serta asap rokok yang cukup menyengat tak sengaja terendus.

Sedetik kemudian Ino pun mendengus. Ia menebak lelaki itu pasti baru saja pulang dari kegiataannya bersenang-senang di bar, menegak gelas demi gelas alkohol dan menyerut asap rokok yang mematikan. Ia bahkan bisa membayangkan bagaimana mungkin saja Sai menghabiskan waktunya dengan seorang stripper yang bergelayut manja di lengan kanan atau kirinya, atau bahkan bercumbu dengan orang lain di bawah gemerlap lampu disko dan pengaruh alkohol.

Sai sebenarnya tidak terlalu suka mengonsumi alkohol. Ia hanya akan mengonsumsi alkohol dan menyulut eokok ketika ia stress. Lagipula sebenarnya Sai itu peminum lightweight, tipe orang yang mudah mabuk dan kehilangan kesadarannya, suka bertindak diluar akal saat teler—

Ino mengerjap begitu ia sadar.

Kenapa juga ia masih mengingat fakta tidak penting soal Sai ini?

Dan by the way, tidak. Ia tidak khawatir ya

"Kenapa?" Sai berujar tanpa bertukar pandang denganya, nadanya berada di ambang datar. Bahkan ekspresi wajahnya tak menunjukan sebersit ekspresi barang sedetik saja. "Kau khawatir?"

Motherfucker.

Mendengarnya membuat Ino memutar mata, "Oh ya ya. Tentu saja, aku sangat khawatir." balasnya dengan penekanan setiap kata, sarkasme yang kentara.

"Benarkah?" Ino bisa melihat dari ekor matanya jika sudut bibir Sai sedikit terangkat. Ia masih menatap Ino tepat di mata, "Aku tahu kau masih memikirkanku,"

Kalimat itu terutakan tanpa tedeng aling, membuat kedua mata Ino seketika memicing, "Jangan berasumsi—"

"Aku tidak berasumsi," senyum menyebalkan itu terbit disana, "Aku tahu."

"Omong kosong," ia mengacungkan jarinya ke arah Sai, mendesis. "Aku tidak merindukanmu, brengsek."

Senyum Sai perlahan berunah menjadi seringai, meskipun tipis. Kedua matanya yang setajam elang berkilat,

"Katakan itu pada gelang yang kau kenakan."

Apa-apaan— oh.

Ino membulatkan mata dan menarik tangannya cepat-cepat untuk menutupinya dengan ujung coat-nya. Siam.

Sai seharusnya tidak boleh melihat itu! Ino dungu!

Tadi ketika lembur dan ia sedang termenung sesaat, ia memang sempat mengambil gelang ini dari tasnya. Menarikan jemarinya pada ukiran batu pirus yang menjadi pendant dengan inisial namanya. Dan yeah, ia memang masih membawa gelang pemberian Sai di hari ulang tahunnya yang ke 20 itu. Ia biasanya menaruhnya di tasnya, namun entah kenapa ia sempat memasangkannya tadi, sayang ia lupa melepaskannya lagi. Lagipula kenapa ia masih membawa gelang ini kemana mana sih?

Ino berjanji akan menyingkirkannya besok dan membuangnya jauh-jauh. Membakarnya jika perlu.

Suara kekehan Sai dai seberang membuat Ino tersentak, kepalanya terdongak, melihat bagaimana Sai tampak tersenyum penuh kemenangan karena berhssil memergokinya.

Ino merah padam, mencoba membela diri, "Kalau aku masih mengenakannya memang kenapa? Kau memberikannya padaku, jadi ini sudah jadi hak milikku, terserah aku mau memakainya atau tidak. Ini sama sekali tak ada hubungannya denganmu!"

Sai mengangkat kedua tangannya, gestur meminta gencatan senjata.

Ino membuang muka, satu tangannya terkepal di sisi tubuhnya. Ia marah karena Sai pasti menganggapnya konyol dan bodoh. "Jangan berani-beraninya kau mengejekku, brengsek," Ino mendesis, "Kau sendiri? Apa yang kau lakukan pulang saat dini hari seperti ino hanya karena bersenang-senang di bar dan bukan karena bekerja!" kali ini gantian Ino yang memprovokasi. Ia sadar ia bermain api di sini, namun ia tak peduli lagi, "Bagaimana bisa direksi menunjukmu sebagai ketua tim artist? Dia pasti sudah buta,"

Ino bisa melihat ada perubahan di air muka Sai meskipun hanya sesaat. Mata hitamnya berkilat tajam sepersekian detik,

"Tidak ada hubungannya, Ino," katanya dengan nada yang masih sangat tenang, "Kenapa kau tiba-tiba membicarakan ini?" Satu alisnya terangkat, kepalanya dimiringkan ke kiri, "Kau iri kau tidak mendapat promosi? Atau..." matanya memicing sangsi, "... Kau iri karena pacar grumpy-mu itu gagal mendapat posisiku?"

Ino menggeram kesal, tangannya meremas strap tas yang menggantung di bahunya, "Sasori-san tidak ada hubungannya dengan semua ini,"

"Ah… Sasori-san," Sai mengecap nama itu dalam lidah, mengangguk-angguk. Ia kembali tersenyum, namun Ino tahu benar senyum itu palsu dan sarat akan celaan.

"Manis sekali. Kalian sudah di first name basis sekarang?"

"Diamlah," Ino mendelik berbahaya, "Dan sudah berulang kali kubilang dia bukan pacarku. Kami tidak pernah terlibat hubungan apa-apa."

Pertengkaran pamungkas mereka, yang berujung pada putusnya tali kasih mereka adalah karena kesalahpahaman. Bukan hanya kesalahpahaman soal cemburu cemburuan.

Menurut Ino sebab kenapa mereka putus itu cukup kompleks. Bukan hanya karena satu sebab masalah saja. Melainkan karena bertumpuk masalah yang tak terselesaikan sebelumnya. Bagai sebuah bola saju yang bergulung-gulung hingga bola salju itu menjadi begitu besar dan menggoyahkan mereka berdua.

Sejak awal Ino tahu Sai punya masalah soal inhabitat emosi. Dibesarkan oleh Ayah yang abusive membuat Sai menjadi pribadi yang terbiasa merepresi perasaannya. Ino harus dengan sabar menghadapi Sai terkadang.

Entah Ino yang mempunyai ekspektasi tertentu hingga mereka sering kali salah paham. Tapi meskipun begitu mereka dapat bertahan bertahun tahun bersama. Ino akui sebenarnya permasalahan mereka bisa diselesaikan dengan perbaikan komunikasi di antara mereka berdua, namun saking sibuknya mereka akhir akhir ini membuat kesalah pahaman diantara mereka menjadi berlarut larut. Masalah kecil kemudian jadi begitu besar. Ino akui, mereka terlalu kekanak-kanakan saat itu. Mereka hanya sama-sama mempertahankan ego.

Namun Ino ingin Sai lebih terbuka terhadapnya, tapi Sai lebih suka menolak. Sai lebih suka menarik diri dan tak membagi apa yang dirasakannya pada Ino. Dan jujur saja hal itu membuat Ino frustasi. Ia ingin Sai bersandar padanya, sebagaimana ia bersandar pada lelaki itu.

Kekesalan yang dirasakannya pada lelaki itu tiba-tiba saja datang melanda lagi, panasnya amarah ini mengingatkannya akan malam tanggal 20 Desember dimana Ino memutuskan untuk melangkah keluar dari kehidupan lelaki itu—mungkin untuk selamanya.

"Kau—" Ino menelan ludah. Matanya menyipit berbahaya sedetik setelahnya, gemetar, "Jangan samakan Sasori dengan dirimu. Kalian sangat berbeda—"

Oniks Sai bergulir kepadanya, menguncinya di tempat. Sorot itu mendingin. Tak ada lagi pancar kehangatan yang biasa ia dapat dari sana.

Namun persetan, Ino tak peduli lagi.

.

"Sasori adalah artist yang sangat berbakat. Aku pikir dia layak menjadi ketua tim daripada kau—"

.

Mata Sai berubah menjadi setajam belati.

Ino tahu ia ada di wilayah rentan sekarang.

.

Ia zudah bilang bahwa ia tahu ia sedang bermain dengan api. Dan Sasori adalah salah satu insekuritas terbesar Sai.

Semenjak lelaki itu hadir di perusahaan game mereka dan bergabung dengan tim artist 3D, Sai sering kali merasa tidak percaya diri—meskipun Sai tidak mengakuinya pada Ino. Tapi bagaimana Sasori mendapatkan apa yang tak ia dapat. Bagaimana Sasori mulai berhasil merebut hati direksi dengan design artnya yang fresh membuat Sai minder dan berakhir ke art block yang dialaminya. Sai benci karena Sasori lebih baik darinya di semua aspek yang merupakan kelemahannya.

Sasori seolah menjelma sebagai manifestasi ketakutan Sai.

Ino tidak tahu apakah kekesalan Sai pada Sasori berujung pada rasa cemburunya melihat lelaki itu juga dekat dengan Ino. Ia tak tahu apakah Sai cemburu atau tidak. Sai tak pernah mengatakannya. Ia tidak tahu.

Atau apakah Sai benar benar mencintainya atau tidak, bahkan. Karena terkadang lelaki itu bisa jadi begitu jauh darinya. Bukan jauh secara fisik, tapi jauh secara psikologis. Meskipun tentu saja lelaki itu memberinya afeksi besar, tetapi ketakutan itu selalu ada.

Ino tahu membawa bawa nama Sasori bagai memercik bensin di atas api. Ia tahu ia memprovokasi Sai dengan ini. Terlebih melihat rahang lelaki itu yang kini mengeras sekarang.

Ino tahu ia telah menekan tombol itu sekarang.

.

"Sasori adalah pria yang baik. Bahkan meskipun aku bukan kekasihnya, aku tahu dia akan jadi kekasih yang baik—"

.

Mata Sai menyipit sekarang, dan apakah perasaanya saja atau bukan, ia merasa bahwa jarak mereka makin terkikis, mendekat sedikit barang sedikit?

Tapi Ino belum selesai.

"—Dia sempurna. Tahu bagaimana memperlakukan dan menghargai kekasihnya dengan baik—"

Ia tahu ia salah menggunakan Sasori untuk menyerang ego Sai, tapi Ino hanya ingin membuat lelaki itu frustasi. Ino kesal. Ino marah. Pada Sai. Pada dirinya. Pada keadaan—

.

"Sasori jelas jauh lebih baik darimu, Sai."

.

Dua tangan meraih bahunya sedetik kemudian.

.

Semua terjadi begitu cepat, tanpa diantisipasinya.

.

Ino menutup mata, bersiap untuk menerima apapun.

Apakah Sai mungkin akan menyakitinya? Sai tak pernah menyakiti Ino secara fisik, ia bahkan jarang sekali menaikan nada suaranya ketika mereka bertengkar.

Tapi selalu ada kali pertama dalam setiap kesempatan.

Terlebih Ino menyakitinya dengan membawa insekuritasnya seperti tadi.

Well.

Ia hanya tinggal balas meninju kemaluan lelaki itu jika ia berani menyakitinya barang seujung jari—

.

Tapi aneh.

Karena yang dirasanya bukan itu.

.

Yang dirasakannya justru sepasang bibir yang meraup bibirnya sedetik kemudian.

.

Halus, lembab, hangat—panas.

Tangan yang berada di bahunya beringsut ke bawah untuk mencengkram pinggulnya, kasar dan kuat-kuat. Bau alkohol dan rokok yang menempel di pakaian Sai menguar detik itu juga.

Sai mencengkram kedua sisi tubuhnya dengan kukunya, menariknya semakin dekat hingga hanya tersisa dada dengan dada. Ino khawatir, Sai akan bisa merasakan debar jantungnya yang menggila.

Sai memberinya gigitan di bibir bawahnya yang membuatnya sedikit berjengit. Egonya tak ingin kalah, sehingga ia pun membenturkan bibirnya ke pria itu, melahap sebanyak yang ia bisa. Membalas gigitan yang diberikan oleh lelaki itu sebelumnya dengan sama agresifnya.

Kedua tangan Ino merambat, dari lengan menuju bahu hingga ke surai kehitaman Sai yang seperti satin untuk disentuh. Ia bisa merasakan atasannya disibak, dua tangan familiar yang melingkari pinggangnya menelusuri kulitnya yang panas, dari abdomen lalu pindah ke punggung, menelusuri tulang belakangnya dengan jarinya yang lihai. Mengusap, membelai, mencari, menjelajah.

Sai melesakan lidahnya ke rongga mulut mantan kekasihnya, meringsuk dan menulusuri segala yang ada di dalamnya. Ia sempat menarik wajah untuk menjauh san menghirup nafas sebelum kembali menyatukan kedua bibir itu kembali. Ia mendorong Ino dengan sekuat tenaga ke tembok lift, mengabaikan geraman gsdid itu. Sai hanya peduli pada invasinya ke mulut Ino untuk saat ini. Satu tangannya mencengkram rambutnya untuk menarik Ino semakin dekat, membuat gadis itu mengerang keras.

Diam-diam Ino akui, ia menyukainya.

Jujur, Ino menyukai Sai yang terbebas dari kekangan emosinya seperti ini.

Ketika ia begitu bebas mengekspresikannya keinginannya. Berubah menjadi dominan dan menuntut seperti ini—mengingatkan momen ketika mereka bercinta dulu, diantara lembabnya udara dan nafasnya yang memburu sebagai saksi bisu.

Instingnya berteriak, meminta lagi dan lagi.

Memaksanya untuk merasakan lebih dan lebih. Namun nalurinya berontak, mengatakan bahwa ini salah.

Tapi Ino membuang akal sehatnya di momen ini. Ia tidak peduli. Bahkan pada cctv yang ada di sudut lift. Lagipula Sai juga sedang mabuk kan? Ia tidak akan ingat semua ini, benar?

Jadi Ino biarkan saja. Ia membalas tak kalah agresif. Ia ingin menikmati momen ini, hidup dalam fantasinya, sebuah mimpi yang jauh dari kenyataan di depan mata. Kenyataan bahwa Sai sudah bukan lagi miliknya.

Ia usap surai arang Sai dan menarik-nariknya untuk meminta lebih. Lidah bertukar saliva, bibir gigit-menggigit dalam candunya. Ia biarkan bibir lelaki itu berpindah, menelusuri leher jenjangnya yang mulai basah oleh keringat, sekaligus memaksa kancing atasnya terlepas satu demi persatu.

Gigitan demi gigitan tak segan ia berikan. Semakin dalam saat erangan kenikmatan itu ia dapatkan sebagai balasan. Tangannya yang lain masih bebas bergerilya, mengusap dan memainkan dengan lihai titik-titik sensitifnya.

Tangan itu merambat ke bawah, menggoda sekitar daerah sensitifnya—sentuhan-sentuhan yang walau samar, sangat dikenal dan dihafal oleh tubuhnya.

Ino gemetar.

Sai membawa mulutnya ke samping telinganya, memberinya kecupan dan menarik daun telinganya dengan gigitan. Deru nafasnya yang hangat memberinya perasaan penuh dengan euforia.

.

"Kembalilah padaku"

.

Ino bersumpah ia mendengar kalimat itu terbisik di telinganya.

Sai...?

Apakah dia…?

.

Satu-satunya orang yang bercumbu dengan dirinya tentu saja hanya dia—Sai.

Bibir yang bertautan ini adalah bibir Sai, Ino kenal betul. Tapi ia pasti hanya waham semata. Ia pasti salah dengar. Pasti—

.

.

"Aku masih mencintaimu..."

.

.

Seolah ingin membuatnya makin serangan jantung, Ino berdebar luar biasa.

Desir aneh itu kembali menggerayangi dirinya. Rasa hangat itu menelusup ke dalam raga, dalam hati mendengar kalimat itu.

.

Ini semua terlalu indah.

Tidak mungkin.

Mustahil.

.

Sai mengatakannya karena mabuk.

Ia tidak sadar.

Ia hanya butuh pelampiasan seksual dan Ino adalah satu-satunya orang yang berada dalam jangkauannya.

.

Tapi... Ino sendiri pernah membaca sebuah artikel bahwa orang mabuk mengatakan hal yang sebenarnya ingin mereka katakan. Mereka mengatakan apa yang sebenarnya mereka pendam dalam alam bawah sadar mereka. Jadi manakah yang benar?

.

Tapi... tidak.

Tidak mungkin.

Pasti itu hanya pengaruh pikiran irasionalnya.

.

Ia tidak ingin terlalu berharap.

.

Namun Ino tak kuasa. Ia tahu, ia lemah.

.

Biarlah. Biarlah sekali ini saja...

Ino janji, untuk yang terakhir kalinya.

.

Jangan... jangan.

.

Jangan, Ino Yamanaka.

Harga dirimu. Tolong jangan katakan...

.

.

"Aku juga masih mencintaimu..."

.

Fuck, dia mengatakannya, bukan?

Bibir sialan.

.

Tepat setelah itu lift tiba tiba berdenting.

.

Baik Sai maupun Ino tidak ada yang menyadari sejak kapan lift yang sempat stuck itu akhirnya kembali berjalan, mungkin saking terdikstraksinya kedua mantan kekasih itu dengan 'adu mulut' yang terjadi.

Dan kini mereka sudah berada di lantai 6, lantai apartemen Sai dengan pintu lift yang telah terbuka lebar, mempersilahkan keluar.

.

Sai menarik diri, kedua tangannya lepas dari tubuhnya. Ino menahan mati-matian dirinya untuk tidak mendekur kecewa. Kedua bola matanya terbuka, ekspresinya tak terbaca.

Sai memandangnya untuk sepersekian detik, melarikan pandangannya menelusuri paras Ino yang terengah.

Perlahan, Sai melangkah mundur kemudian berbalik badan dengan agak sempoyongan, menuju ke ambang pintu lift dan berpegangan ke satu sisinya. Kepalanya tertunduk, sedikit melempar sebuah kerlingan pada Ino lewat bahunya. Kerlingan itu tak bertahan lama, karena detik selanjutnya, Sai telah beranjak pergi begitu saja.

.

Meninggalkan Ino yang masih dibuai awang awang, terdiam di dalam sana dengan kedua jari yang menyentuh permukaan bibirnya.

.

Ia merindukan sensasi ini.

.

Ia merindukan...Sai.

Fuck.

»»––««

.

Ino mendesahkan nafas untuk yang kesekian kalinya.

Ia membawa tangannya ke depan bibir guna menghalau kuap yang hendak mendesak keluar. Semalam ia hanya bisa tidur selama satu jam, pikiran yang berseliweran di otaknya memaksa ia terjaga. Dan hasilnya, sekarang ia harus berangkat kerja dengan dua kantung menghitam di bawah matanya.

Pintu lift di depannya berdenting dan bergeser membuka. Ino mengencangkan pegangan pada tas selempangnya dan menyelipkan tubuhnya ke dalam, baru saja ia akan menekan tombol pintu, sebuah seruan menghentikan pergerakannya.

"INOOOO, TUNGGUIN DOOONG!"

Sesosok pria berambut kuning terang yang juga menjadi pemilik apartemen di lantai yang sama dengan Ino berlari tergopoh-gopoh dari ujung koridor. Ino bergegas menahan tombol, hingga akhirnya pria itu pun berhasil masuk ke dalam.

Ino menumpukan kedua tangan di atas lutut dan mengambil nafas banyak-banyak. Ia menegakan tubuh, memberi Ino sebuah cengiran lebar penuh syukur. "Terima kasih, Ino-ttebayo!"

Ino membalasnya dengan putaran mata jengah, Naruto deh. Kebiasaan sekali bangun kesiangan. Namun ia akhirnya lemparkan sebuah cengiran setelahnya. Gadis itu melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda menekan tombol menuju lobby. Ia berpindah ke sisi Naruto yang menyandarkan kepalanya pada dinding metalic lift, mengamatinya dari atas ke bawah.

"Kau tampak berantakan," komentar Ino. Well, Naruto memang berantakan sejatinya. Tetapi tidak pernah seberantakan ini. Rambutnya benar acak-acakan, kantung mata menghiasi wajahnya—sama seperti Ino sih. Tapi Naruto berkali lipat lebih parah. Pancar lelah menghiasi paraSnya.

Naruto dengan posisi kepala yang masih menyander, mengerling pada Ino disampingnya. Helaan nafas lantas mengudara, "Iya, ttebayo! Semalam aku hangover dan baru pulang dini hari."

Ino tertegun, seketika teringat pada perkataan Sai tadi malam yang menyebutkan kalau ia pergi bersama Naruto untuk minum-minum. Ia berkahir tak langsung menanggapi perkataan Naruto setelahnya, memilih termenung di tempat.

Mereka membiarkan keheningan melingkupi selagi lift membawa mereka ke lantai satu, sampai akhirnya Ino tak bisa lagi menahan rasa penasarannya. Ia menolak bertukar mata dengan Naruto, memandang lurus ke depan ketika ia beranikan diri bertanya,

"Naruto..." ia memanggil ragu-ragu, menegak ludah, "…apa kau sudah mengecek keadaan Sai hari ini?"

Naruto menoleh, mengamati Ino dengan kening berkerut. Tumben sekali Ino menanyakan keadaannya mantannya itu padanya. Semenjak putus dari Sai, Ino tak pernah lagi mau menyebut nama Sai di sekitar Naruto.

"Untuk apa aku mengecek keadaan Sai, huh?"

"Semalam dia juga hangover selepas kalian pergi ke bar kan?" Ino berdoa dalam hati Naruto tak akan bertanya lebih jauh dari mana Ino tahu tentang ini. Menceritakan ini membuat Ino langsung teringat akan kejadian tadi malam yang seolah seperti mimpi, seketika membuat kepalanya pening.

Dahi Naruto berkerut makin dalam.

"Seingatku Sai sama sekali tidak minum alkohol di bar," kata pria itu, "Aku ingat aku menawarinya vodka tapi dia menolak. Ia lebih memilih minum soda saja. Sudah dua bulanan ini, you know Ino, dia tidak pernah minum minum lagi,"

Ino bisa merasakan tubuhnya seolah dihantam air dingin.

Membeku.

.
Tidak.

Tidak.

Ino yakin seratus persen ia bisa mencium bau alkohol di bajunya ketika mereka bercumbu kemarin—well, mereka ada di bar, bodoh. Tentu saja bau bau itu menempel di fabrik bahkan jika mereka tak minum.

Tidak. Jangan berharap apapun.

.

Tapi...

Tapi… mana mungkin Naruto berbohong?

.

Jadi...

.

...berarti lelaki itu menciumnya, bercumbu dengannya, dan mengatakan ia masih mencintainya, masih dalam keadaan seratus persen sadar?

.

Apakah itu artinya... segala yang keluar dari mulutnya itu memang apa yang sebenarnya ia rasakan?

.

Sai benar-benar mengatakannya...

Mengatakan apa yang Ino terlalu pengecut untuk akui sebelumnya.

Oh Tuhan.

.
Ia mengutarakannya dengan sadar.

Mengutarakannya tanpa di bawah pengaruh alkohol. Mengutarakannya tanpa paksa apapun. Mengutarakannya atas kehendaknya sendiri.

.

Mengutarakan bahwa ia masih mencintainya….

Mencintai Ino Yamanaka.
.

.

Seperti seolah takdir sedang ingin menertawakannya, lift kemudian berhenti di lantai 6, mengeluarkan suara denting nyaring.

Detik saat pintu ganda membuka, Ino mengabaikan segala disekitarnya, termasuk Naruto yang berseru lantang,

.

"Sai!"

.

Pusat semestanya kini menjelma dan berpindah ke kedua bola mata pria yang berdiri di ambang pintu, bertukar pandang dengan bibir membisu.

.

Ino gemetar.

Dan dia sadar,

.

Tuhan...

.

...dia memang masih mencintainya.

.

»»––««


-fin-


.

Terima kasih banyak sudah membaca :D Sampai jumpa di ff berikutnya. Dan terima kasih banyak atas review review hangatnya di cerita yang sebelumnya. Loveee.