Bungou Stray Dogs adalah milik Asagiri Kafka dan Harukawa Sango.

Penulis tidak mendapat keuntungan apapun dari fanfiksi ini.

Warning: au, typo, ooc, mentions of suicide and character death.

(sebuah AU. entah AU apa. folklore AU? first-meeting AU?)


Oda telah kehabisan hitungan dalam langkah kakinya.

Hari itu berhujan. Rintiknya membasahi perkebunan kembang biru yang selalu mekar di bulan Juni. Oda melirik kanan-kiri, setiap sudut taman tak luput dari penglihatannya, barangkali ia dapat menemukan jawaban.

Tangga bebatuan ia naiki dengan hati-hati; karena air hujan telah melicinkan lumut yang menempel di permukaannya. Hingga hujan sudah sedikit reda, dan suara-suara gemuruhnya sudah mulai samar, ia tidak menemukan sosok yang ia cari.

Tidak ada. Bahkan tidak ada tanda-tanda jepit bunga yang tak sengaja jatuh atau bayangan anak kecil yang meringkuk di sudut taman.

Lamat-lamat, Oda mendengar sebuah suara. Suara halus dari ocehan seorang pemuda yang terdengar sedang menjelaskan sesuatu. Berharap ia dapat bertanya, Oda lekas berjalan mengikuti sumber suara.

.

Ada yang bilang, tempat ini ada penunggunya. Apabila sosoknya sedang hadir, ia dapat menyesatkan jalan pulang orang-orang yang hendak datang mengunjungi rumahnya.

.

"Kau tahu? bunga hydrangea itu beracun. Jangan coba-coba kau memetiknya." Ujarnya, terdengar seperti menggurui seseorang, hanya saja tak terdengar jawaban setelahnya. Meskipun begitu, pria itu tetap bergumam. "Bagaimana menurutmu? Tamannya. Cantik, bukan?"

Semakin dekat, Oda akhirnya dapat melihat sebuah gazebo yang tertutupi rindang pohon juga kabut tipis yang mengelilinginya; apabila cuacanya cerah, bangunan berwarna putih itu seharusnya cukup mencolok di antara hamparan kebun bunga.

Di dalamnya ada seorang pria dengan yukata berwarna biru gelap menjulang dari balik balkon, bersandar pada jerujinya. Yukata itu senada dengan warna bunga di depannya; dan kontras dengan rambutnya, yang berwarna cokelat hangat, sedikit berantakan. Di sampingnya, ada seorang anak perempuan berkuncir dua sedang ikut memandangi kebun itu, masih mengenakan seragam TK miliknya, bersih tanpa cela.

.

Beberapa penduduk yang mengaku pernah melihat sosoknya mengatakan bahwa penunggu itu terlihat seperti seorang pria biasa. Ia mengatakan yukata biru tua; beberapa ada yang menambahkan, hampir sekujur tubuhnya terlihat dibalut oleh perban. Ia juga suka membawa buku ke mana-mana. Katanya, itu karena ia hobi membaca.

Sosoknya akan menghilang saat hujan reda; digantikan dengan bau khas hujan yang menyelimuti rerumputan sesudahnya.

.

Samar; anak perempuan itu mengangguk. Pria itu mengulurkan tangannya, membelai rambutnya dengan hati-hati.

"Kita belum kenalan, ya. Siapa namamu?"

"Aku... Aku tidak boleh berbicara pada orang asing..." Akhirnya gadis itu berkata dengan lirih.

"Ah, begitu ya." Pria itu berjongkok, sehingga tingginya menjadi sejajar. Ia menoleh, dan kini Oda dapat melihat profil wajahnya; sepasang mata dengan iris cokelat terang, juga bulu mata yang panjang, dan sebuah senyuman samar.

"Kau anak yang pintar juga. Tapi, aku bukan orang asing," ucapnya kemudian. "Taman ini adalah tempat tinggalku. Jadi bisa dibilang, kau orang asing yang datang bertamu ke sini."

Anak itu menunduk, memilin ujung bajunya dengan canggung. "Maaf..."

"Tidak apa, aku menerimamu, 'kan?" Pria itu kini tersenyum dengan lebih jelas. Ia lalu mengulurkan tangannya; dari balik lengan yukata-nya, terlihat balutan perban mengiringi pergelangan tangannya. "Kalau begitu, aku yang kenalan duluan. Namaku Dazai Osamu."

Anak itu hendak membalas uluran tangannya.

"Saku..."

"Sakura,"

Oda telah berdiri di tengah jalan setapak menuju gazebo kecil itu, ikut mengucap namanya. Keduanya menoleh; mata gadis kecil itu kembali berkaca-kaca.

"Oda-sensei," balas sang gadis – Sakura namanya. Ia berpaling pada pria asing itu, yang telah melipat kembali tangannya dibalik lengan yukata yang lebar. Pria itu mengangguk, dan setedik kemudian, Sakura telah berlari ke sisi Oda.

.

Ada dua ketentuan yang dapat mempertemukanmu dengan penunggu itu. Pertama, adalah saat musim hujan di mana bunga-bunga hydrangea tersebut mekar; kedua, adalah ketika kau sedang merasakan sedih yang amat mendalam.

Katanya, penunggu itu dulunya adalah seorang pria yang mati bunuh diri. Sejak saat itu, rumornya ia menjadi penghuni tetap di sana, merawat bunga-bunganya setiap musim hujan tiba, sesekali akan muncul untuk mencari seseorang yang dapat menemani dirinya.

Ia akan memunculkan diri; atau, kau yang diundang masuk ke dalam dunianya dan tak dapat kembali.

.

"Hujan." Suara Oda sedikit tercekat, ketika ia mencoba memayungi Sakura yang tengah berlari menuju dirinya. Sakura memeluk betisnya, yang hanya dibalas dengan belaian di kepala.

Oda kembali mengangkat kepalanya dan bertemu tatap dengan pria yang telah kembali berdiri, balas menatapnya dalam diam.

"Maafkan kami yang telah lancang," Oda akhirnya berkata, sedikit membungkukkan badannya. Perkataannya tak kunjung mendapat balasan.

Tak sadar Oda telah mengepalkan tangan sembari merapal dalam hati agar ia bisa segera pergi dari situ. Apa sosok itu marah? Karena seorang tamu tak diundang datang ke kediamannya, hendak mengambil kembali jiwa yang seharusnya masih menetap di dunia.

Tapi Oda tak mampu membaca ekspresinya.

Pria itu lantas berjalan mendekati Oda, juga Sakura yang berusaha menyembunyikan raganya di balik Oda. Atmosfir seketika berubah menjadi dingin, juga tatapan sendu dari makhluk tak bernama itu.

Ia berhenti―tatapannya tak lepas dari milik Oda.

Rupawan. Apabila ia memang penunggu di tempat itu, ia masih terlalu muda untuk mati, ucap Oda dalam hati.

"Kau seharusnya tidak berada di sini."

Lontar pria itu, membuat Oda akhirnya teringat untuk berkedip. Pria itu membuang pandangannya, menatap hamparan bunga yang basah―disusul dengan dirinya.

Rambutnya mulai menggelap. Juga warna yukata miliknya, basah karena guyuran hujan. Meski hujan di langit sudah mulai rintik-rintik, namun masih cukup deras untuk membasahi sesosok manusia.

Atau, sosok apa pun yang berdiri di depannya.

"Tidak ada seorang pun yang layak untuk merasakan kehampaan dalam hidup, hingga kau tersesat dalam dunia ilusi dan bersembunyi di sana selamanya."

Oda ikut memandang hamparan bunga itu. Warnanya yang didominasi oleh biru lembayung berpendar dalam rintik hujan dan awan-awannya yang gelap, seperti lampu trotoar yang menerangi jalan pulang menuju rumah. Sebagaimana sebuah tempat rahasia dalam cerita dongeng yang tak terjamah.

"Semua yang ada di dunia ini adalah fana," jawab Oda kemudian. "Begitu pula rasa sakit dan hampa. Aku harap kau tidak terjebak dalam perasaan itu selamanya."

Pria itu seketika menoleh. Gerakannya membuat beberapa tetes air dari ujung rambutnya meluncur.

Wajahnya tampak tercengang.

"Bagaimana dengan kau?" balasnya, kali ini sedikit keras. "Aku bukanlah apa-apa. Apakah kau tidak sadar, bahwa kau mungkin terlalu berlarut-larut dalam kesedihanmu?"

Oda mengernyit, tampak bingung.

"Sakura," pria itu memanggil, sejenak melirik ke arah sosok yang ia tuju, kemudian tatapannya kembali kepada Oda.

"Sakura sudah tidak ada, 'kan?"

Suara rintik hujan rasanya menjadi semakin tajam. Airnya menghujam payung yang meneduhi Oda, sesekali cipratannya hinggap di dagunya. Udara semakin menusuk dingin, menyadarkan Oda bahwa ia masih berdiri tegak di taman itu.

Sakura sangat menyukai taman bunga. Apabila gadis itu ada di sini, ia pasti akan sangat bahagia.

Sakura. Salah satu muridnya, sekaligus anak asuhnya yang sangat ia sayang, telah lama pergi meninggalkannya.

Genggaman kecil di kaki Oda terasa mulai memudar. Oda lekas menggenggam ujung payung yang ia bawa semakin erat, seakan hal itu membuatnya tersadar dari tidur panjangnya.

Sakura memang sudah tidak ada. Ia tahu betul akan hal itu. Lalu mengapa ia kemari? Apa ini semua memang ilusi?

"Aku," Oda menelan ludah, kehabisan kata-kata.

Bagaimana jika itu benar. Selama dua tahun hidupnya, ia menjalani hidup seakan-akan Sakura masih ada di sana. Membangunkannya, membantunya menyiapkan peralatan sekolah, membuatkan sarapan. Lalu, pergi ke sekolah bersama. Kelas yang diajarnya dan kelas Sakura berbeda, namun ia akan dengan setia menunggu di ruang baca hingga Oda selesai dengan pekerjaannya.

Hari itu, Sakura tidak terlihat di manapun. Oda mencarinya ke mana-mana. Sampai ia tersasar di taman ini.

"Sakura sudah tidak ada," pria itu mengulang. "Siapa yang kau cari di sini?"

"Sakura ada," bantah Oda kemudian. "Ia ada. Hanya saja raganya tidak di sini. Kau pun melihatnya, 'kan?"

Pria itu menggeleng.

"Sampai kapan kau akan hidup seperti itu? Hidup terkungkung dalam bayang-bayang seseorang yang sudah tidak ada di dunia ini, menahan jiwanya untuk pergi."

.

Mungkin, Oda tidak tersesat.

Hari itu, untuk pertama kalinya setelah dua tahun terlewati, seseorang berani menyinggung perihal Sakura padanya.

Hal itu memicu pertengkaran yang cukup sengit.

"Sakura sudah tidak ada! Kau mencari siapa, Oda-sensei, sadarlah. Dia sudah meninggal sejak dua tahun yang lalu!"

Amarahnya mulai melonjak.

Oda tahu itu. Ia ingat betul akan hal itu. Oda yang selalu ada di samping Sakura sampai ia benar-benar pergi. Mengapa semua orang harus mengingatkan hal itu padanya?

Pada akhirnya ia tinggalkan guru itu―pulang menuju rumah yaag kini terasa kosong melompong. Menemukan beberapa detail kecil yang selama ini tidak disadarinya.

Ada sepasang sepatu kecil yang sudah berdebu di rak sepatu. Masih ada setangkup nasi dingin, juga semangkuk sup miso dan separuh sisa ikan bakar di atas meja makan, sarapan yang tadi pagi ia masak untuk Sakura. Boneka-boneka masih berjajar rapi di ruang tengah tampak mulai usang; juga buku-buku dan alat tulis yang tidak pernah tersentuh.

Masih ada seragam sekolah Sakura yang menggantung rapi di kamarnya, yang setiap hari ia cuci bersama dengan pakaian miliknya.

Berputar pada saat di mana ia kehilangan, untuk pertama kalinya ia merasa hampa.

.

"Sensei, ayo kita pul... sensei?"

Ia menoleh pada sumber suara, namun tak terlihat. Bayangan Sakura mengabur dalam pandangannya, bercampur dengan air mata yang mulai mengalir. Padahal, Oda masih mampu melihat wajahnya yang ikut berubah menjadi sedih.

Oda masih mampu mendengar suara kecilnya yang halus.

Itu hanya ilusi.

"Jangan sedih, Oda-sensei... maafkan aku."

"Itu bukan salahmu." Suara pria asing itu kembali bergema.

Dengan kasar Oda menghapus air matanya. Kembali bertemu tatap dengan pria itu.

"Sakura akan baik-baik saja. Di sini."

Oda mengerjapkan matanya.

"Apakah rumor itu benar?"

"Tempat ini bukan untukmu." Pria itu sekali lagi memalingkan wajahnya, tidak benar-benar menjawab pertanyaan Oda.

"Jadi, rumor itu benar."

Pria itu membalikkan badannya, lelah akan balas menatap.

"Daripada cerita itu, sesungguhnya aku juga bertahan karena seseorang belum rela melepaskanku.

Aku tidak mau menerima siapa-siapa lagi di sini."

Kabut yang mengelilingi taman itu sedikit demi sedikit mulai menghilang, tirai hujan semakin menipis. Jalan tempat asal Oda berpijak kini kembali terlihat dengan jelas.

Pria itu menengadah, menatap langit-langit yang mulai cerah. "Pulanglah, sebentar lagi hujannya akan berhenti. Tempat ini bukan untukmu."

Oda hendak berkata, tetapi berhenti. Ia kembali menatap sosok yang tampak kesepian itu.

"Aku bilang, pulang," ulang pria itu, kini dengan sedikit amarah.

Refleks, Oda menyodorkan payung itu; menghentikan air hujan yang membasahi pria itu. Seketika ia kembali menoleh, kerutan di wajahnya menghilang; digantikan dengan raut terkejut. Ia berkedip, menjatuhkan bulir air hujan yang berkumpul di bulu matanya.

"Kau juga." Oda berhenti sejenak. "Aku harap... aku harap kau dan orang itu dapat merelakan kepergianmu suatu hari nanti."

Barangkali, Oda akan benar-benar melepas Sakura suatu hari nanti. Entah besok, minggu depan, atau sepuluh tahun lagi―ia masih belajar. Ia akan belajar. Supaya Sakura bisa pergi dengan tenang.

Tidak ada lagi yang akan duduk menunggu di ruang makan pagi-pagi sekali.

Tidak ada yang berceloteh riang kala pulang sekolah, menggenggam tangannya sambil merayunya untuk membelikan kue di bakery dekat rumah.

Tidak ada yang pernah memanggilnya pada hari itu, pada pagi di satu hari setelah kepergian Sakura, mengetuk pintu kamarnya dan menanyakan di mana boneka kesayangannya.

Oda menghela napas.

Pria itu tidak memberi respons; begitu pula Oda yang tidak berusaha untuk melindungi dirinya. Rintik hujan mulai mengalir membasahi rambutnya, bahunya, juga raut wajahnya yang pilu.

Ia akhirnya menerima payung itu dari genggaman Oda.

Oda membungkuk, mengucapkan salam perpisahan, kemudian berbalik dan berjalan pergi. Menembus asap kabut yang mulai menipis.

.

Dalam jarak yang cukup jauh, Sakura menoleh dan melambaikan tangan; sembari membisikkan ucapan pesan yang hanya bisa didengar oleh Dazai.

"Terima kasih, taman bungamu cantik sekali... Dazai-san."

Dazai membalasnya dengan senyuman sedih.


note.

jadi awalnya, tulisan ini dibuat untuk mengisi odzfluffwk 2020 dengan prompt sky (watching rain); parent/teacher AU. tapi ya begini, rasanya ini bukan fluff... :') kenapa sulit sekali menulis fluff.

lalu aku juga sadar kalau dibanding odazai, ini lebih masuk ke oda-centric. mana ceritanya ngadi-ngadi. jadi, mau aku arsipkan di sini saja.

kalau ada yang baca, terima kasih sudah mampir.