Namaku Naruto. Murid biasa di salah satu sekolah terkenal di kotaku, Konohagakuen.

Aku bilang aku adalah murid biasa, meski sebenarnya aku adalah ketua osis, aku masih murid biasa adalah karena rata-rata semua murid di sekolahku ini tidak biasa, atau nama lainnya aneh. Kesampingkan aku yang belum melakukan survey tentang hal itu, sejauh ini orang biasa yang aku temui hanya aku sendiri. Jadi bisa ku anggap semua orang kecuali aku adalah orang aneh, meski aku tidak tahu apakah itu masih di sebut rata-rata. Mayoritas? Itu mungkin.

Aku adalah ketua osis seperti yang tadi kubilang, jabatan paling tinggi di organisasi sekolah. Melebihi ketua sebuah klub, ketua osis di sebut sebagai ketua dari ketua klub-klub. Aku tidak begitu mengerti sebenarnya, karena banyak kata yang di ulang di kalimat itu. Mungkin sederhananya aku adalah presiden sekolah? Hm.. Jika guru dan kepala sekolah, wakil, dan staf lainnya tidak dihitung mungkin akan tepat kalau aku adalah presiden di sini. Ya oke berarti. Perkenalkan.

Aku Naruto, aku adalah presiden.

"Selamat pagi, Senpai."

"Eh? Kau ternyata serius saat mengatakan akan berangkat bersama, Hanabi."

Pagi hari biasa, senin yang cerah. Suasana biasa itu membuatku tidak menyangka bahwa yang terjadi kemarin adalah nyata. Namun, gadis yang menjadi MVP dari kejadian kemarin kini ada di depan rumahku.

Gadis itu namanya Hanabi. Meski dia menyapaku dengan tersenyum, nada suaranya yang malas membuatku tidak merasakan keindahan dari event di sapa dengan sebutan senpai di akhirnya.

"Aku sudah bilang senpai harus bertanggung jawab bukan?"

"Aku tidak tahu kalau itu maksudnya aku menjadi pemandumu ke sekolah."

Dia tersenyum tipis mendengarku berkata seperti itu. Bisa kalian tebak juga, senyuman itu membuat tubuh dan hatiku bergetar.

Hm. Tidak juga sih.

"Berangkat?"

"Ya."

--

Dan begitulah, aku dan dia berangkat bersama menuju sekolah. Meski kusadari ada yang aneh dengan posisi kami.

Aku berada di depan dan Hanabi mengikutiku dari belakang. Jarak kami sekitar satu meter, itu membuatku merasa aneh.

"Hanabi."

"Ya."

"Memang biasanya kau berjalan kaki?"

"Iya. Tapi tidak sejauh ini."

"Maksudmu?"

Aku berhenti berjalan, menghadap padanya untuk merespon perkataanya. Hanabi, seolah sudah ter-setting dengan baik, tubuhnya berhenti tepat di jarak yang sudah ku hitung sebelumnya, satu meter.

"Rumahku tepat berada di depan sekolah kita."

Dia mengatakan itu dengan datar, kenyataan yang membuatnya terdengar konyol setelah semua yang dilakukan.

"Oh begitu."

"Ya."

Kupikir dia sudah menyadari hal yang dilakukannya itu konyol. Merasa bahwa mengomentarinya adalah hal yang tidak berguna, aku melanjutkan berjalan.

Dia masih tetap menjaga jarak denganku satu meter bahkan sampai kami sudah tiba di depan gerbang.

Kebetulan penjaga gerbang di sini akrab denganku. Setelah menyapaku dengan biasa, dia melirik ke belakangku lalu dengan gelagat seperti akan bertanya dia menghampiriku dan berbisik;

"Kau akrab dengan dia? Kalian terlihat seperti sedang berjalan bersama."

Aku tidak tahu dengan hanya berjalan dengan jarak satu meter dengan seseorang akan membuatku di tuduh berjalan bersama dengannya. Sepertinya keanehan sekolah ini telah menular pada penjaga di sini.

Kalau iya kenyataan itu membuatku kecewa karena kupikir penjaga gerbang adalah satu-satunya teman normalku.

Selamat tinggal teman normal.

"Ah tidak juga. Hanya saja dia sepertinya ingin mengakrabkan diri denganku."

Sifat normal manusia. Saat aku memiliki hal yang bisa aku pamerkan tentunya aku akan memamerkannya dengan baik.

Berjalan dengan di ikuti oleh gadis manis adalah salah satu hal yang paling membuat masyarakat di seluruh dunia iri.

Dan aku mendapatkan kehormatan itu. Nah sekarang irilah padaku wahai masyarakat!

"Tidak mungkin!"

Yang kudapat melebihi perkiraanku.

Muncul lagi. Respon terkejut dengan pose ala anime ini. Kemarin memang tidak kuperhatikan para penonton yang terkejut, tapi apakah mungkin penjaga gerbang ini adalah orang yang sama dengan yang kemarin?

Dan aku penasaran dengan hal yang membuatnya berkata tidak mungkin. Apa dia tidak percaya dengan yang aku katakan? Apakah dia mengira orang sepertiku tidak pantas di ikuti oleh gadis manis?

Kau mau bukti?

"Hey, Hanabi sayang. Ayo bergegas sebelum pelajaran pertama di mulai."

Aku tersenyum tampan(menurut Naruto) pada Hanabi saat mengatakan itu.

Hanabi menatapku beberapa saat dengan wajah datarnya tetap berada di sana. Untuk sekarang aku khawatir Hanabi akan bersikap pura-pura tidak mengenalku, walau kenyataanya begitu, setelah aku mengatakan kalimat itu.

Kumohon setidaknya jawablah aku daripada mengacuhkanku.

"Ya."

Syukurlah. Jawaban datar itu memang mengesalkan, tapi. Kata itu sudah cukup untuk mengkonfirmasi semuanya.

Nah, sekarang mari lihat reaksi penjaga gerbang itu.

"Dia pingsan?"

Hm. Tidak kusangka dia terkejut sampai seperti itu.

Apa itu berarti dia sangat tidak percaya kalau aku dekat dengan Hanabi? Dengan dia pingsan menunjukan kalau dia melihat sesuatu seperti akhir dunia terjadi di depan matanya.

Sialan.

"Ayo, senpai."

Seusuatu terasa menyentuh lengan bajuku. Hal tidak terduga lagi, Hanabi menarik ujung lengan bajuku.

Wajahnya masih datar menatap ke tanah, tapi. Atmosfir tidak tenang terpancar darinya. Seperti berkata bahwa dia ingin segera pergi dari sini.

"Baiklah."

Aku berjalan. Meninggalkan tempat yang baru kuasadari ternyata menjadi pusat perhatian dari semua orang.

Selama aku berjalan pandangan mereka mengikutiku dan Hanabi. Atau lebih tepatnya hanya Hanabi saja.

Aku masih merasa hal yang Hanabi katakan tentang dia yang di benci semua orang di sini adalah anggapan salah darinya karena melihat hasil votingnya yang mendapatkan perolehan nol. Tapi kurasa, masalahnya lebih dalam dari sekedar kontes pemilihan wanita paling menarik.

Sialan. Kalimat kontes pemilihan wanita paling menarik membuat monologku yang tadinya keren jadi aneh.

--

"Kau jadi dekat dengannya ya Naruto?"

"Ya tidak terlalu juga. Dia masih dalam tahap pendekatan padaku, aku juga belum menetapkan perasaanku padanya."

"Kau pikir dia menyukaimu?"

"Memangnya bukan ya?"

Aku sudah ada di kelasku. Duduk di tempat biasanya aku duduk, Sakura langsung menghampiriku dan menanyakan semua hal itu.

Berita aku dan Hanabi yang berangkat bersama ternyata cepat menyebar dan menjadi perhatian orang. Ya aku tidak heran setelah tadi aku mengantar Hanabi sampai kedepan kelasnya dengan tangannya yang terus memegang ujung lengan bajuku.

Hanabi ternyata lebih manis dari yang kukira. Hm, aku harus jatuh cinta padanya secepatnya kalau begitu.

"Kau tidak tahu siapa dia bukan?"

"Tidak."

Selain dari namanya, dan juga tentang dia yang mengatakan di benci semua orang di sekolah ini aku tidak tahu apa-apa tentangnya.

Ah, dan satu hal lagi tentang rumahnya yang berada di depan sekolah.

"Jabatanmu sebagai ketua osis tidak akan melindungimu dari hal ini. Jauhi dia selagi sempat. Dan jangan salah paham tentang ini, aku hanya memperingatkanmu!"

"Eh? Memangnya apa yang akan terjadi padaku?"

Sakura berdiri lalu menunjuk kebawah dengan wajahnya yang menatap tajam padaku.

Mengikuti arah pandangnya aku memastikan apa yang dia tunjuk.

"Bawah bangku?"

"Ya. Lihat sesuatu di sana."

Sesuai perintahnya aku memeriksa dalam bangkuku. Merasakan sesuatu dengan tanganku aku mengambilnya dari sana, lalu aku melihatnya.

"Ini."

Sebuah kertas dengan sebuah tulisan dengan warna merah ada di sana. Di sana tertulis.

MATI KAU

"Aku akan, di bunuh?"


Ga bisa balas review karena review itu masuk ke email tapi saat gw klik linknya tulisannya no review.