Bell istirahat berbunyi. Berbarengan dengan teman sebangku ku yang berteriak;

"Teng Tong Tong Teng. Tong Teng Teng Tong."

"Berisik."

Itu membuatku reflek berteriak seperti itu padanya.

Kesampingkan suaranya yang memang cocok dengan bellnya, ini adalah kesekian kalinya dia melakukannya. Bila aku muak karena itu tentu sangat wajar sekali.

"Bukankah ini kupelajari darimu Naruto? Dulu waktu di kelas tahun pertama kau melakukannya juga bukan? Bahkan lebih heboh dari yang kulakukan."

"Aku tidak ingat."

Aku tidak akan memasukan kenangan kelam itu pada monologku, jadi jangan berharap aku akan menceritakannya. Aku sudah menghapus save data tentang hidupku di kelas tahun pertama sekolah ini, dan aku sama sekali tidak berniat mem-backup semua data itu meski masih ada orang lain yang menyimpan data tentang itu.

"Kau dulu selalu meneriakannya. Hah.. Aku sedih kau melupakan pemicu kita bisa berteman dekat seperti sekarang."

"Asal kau tahu. Aku sangat menyesal bisa jadi dekat denganmu. Tapi karena kau juga aku sekarang jadi sadar, sedikit aku berterimakasih juga padamu."

"Kau yang mengajakku, orang normal, menjadi pelawak kelas dan sekarang kau mengatakan tersadar karena melihatku yang meniru kelakuanmu ini, terlihat menggelikan? Aku menjadi temanmu sama sekali tidak ada tujuan untuk menyadarkanmu. Dan, kau menyesal dekat denganku? Bukannya itu kejam kau katakan padaku, orang yang menjadi partner lawakmu dari dulu?"

"Ya."

"Sial."

Benar. Semua hal yang kau lakukan setelah berteman denganku membuatku sadar betapa menjijikannya diriku waktu itu.

"Baiklah, mulai sekarang aku juga akan kembali normal."

"Heh? Memangnya bisa semudah itu?"

"Tentu saja."

"Cih."

Butuh waktu lama aku mengubah kebiasaanku dari pria konyol menjadi orang normal pada umumnya bila kalian ingin tahu. Jadi aku tentu tidak terima dia mengatakan dengan mudahnya menjadi orang normal.

"Hey Naruto. Hanabi sepertinya mencarimu."

Sakura yang kuketahui baru kembali dari izin pergi ke toiletnya, ini kebiasaannya jika pelajaran mulai mengarah ke hal yang tidak di inginkan, Sakura menghampiriku dan teman sebangku ku lalu berkata seperti itu.

"Apa? Pacarku mencariku?"

Saatku berkata seperti itu semua orang di kelasku terasa melirikku secara bersamaan. Bahkan guru yang sedang membereskan bukunya menatapku tajam.

"Apa yang kau bilang barusan Naruto?"

Guruku bertanya padaku sekarang. Itu membuatku gugup, dan tanpa menatap matanya aku menjawab.

"Aku hanya bilang, hari yang indah ya Sakura? Ya seperti itulah. Hehe."

Aku sudah pasrah dengan jawabanku yang ngasal ini. Kalimat "Hari yang indah" sama sekalai tidak ada kaitan dengan "Pacarku mencariku?" tapi setelah semua hal itu membuatku khawatir, Ibu guru itu malah menghiraukannya dan berjalan keluar kelas.

"Huh.. "

Ancaman sudah hilang dan aku bisa lega. Pandanganku beralih pada mata Sakura yang menatap tajam padaku sekarang, entah kenapa dia melipat tangannya seperti marah padaku.

"Cih. Dia ada di depan kelas."

"Oke. Dan cih itu memangnya di perlukan?"

Sakura menghiraukanku dan berjalan menuju bangkunya sendiri.

Mengapa sikapnya jadi seperti ini saat aku dekat dengan Hanabi? Itu hal yang aku paling heran dari semua hal aneh yang bisa kubilang efect dekat dengan Hanabi.

Meninggalkan semua hal membingungkan itu aku menuju keluar kelas. Memastikan orang yang berada di depan kelas, aku masih ragu kalau Hanabi sampai rela menungguku dan berdiri di depan kelas. Dan kenyataan kalau tepat saat bell berbunyi dia sudah ada di sana, berdasarkan waktu yang kuperkirakan setelah melihat berbagai ekspresi teman-temanku saat keluar kelas, membuatku sangat bingung.

"Ternyata benar."

Benar kudapati dia, Hanabi, berdiri di samping pintu dengan dua kotak berada di dekapannya.

"Aku lapar, senpai."

Apakah itu bekal makan siang untukku?

"Ingin ke kantin dulu?"

Hanabi menggeleng imut, abaikan kata terakhir, merespon perkataanku dan tangan kecilnya, setidaknya lebih kecil dariku, menjuk ke atas.

"Ada apa di atas?"

Saat dia menunjuk ke atas aku sudah bisa menebaknya sebenarnya, aku hanya menambah dialog dengan bertanya seperti tadi.

--

Dan setelah hal itu kami pun sekarang berada di atas, atau namanya secara umum adalah atap sekolah.

Dengan dua kotak bekal makanan yang terbuka kami berdua duduk berdampingan, Hanabi menggenggam makanannya, adonan goreng dengan isian tahu di dalamnya, dan dia bersiap memakannya. Sementara aku hanya memperhatikannya dari tadi.

"Ini bagianku senpai. Bukankah hal yang sangat kau inginkan dari tadi sampai-sampai kau menatapnya adalah makanan yang sama yang ada di kotak makananmu? Aku tidak akan memberikan ini meski kau menatapku dengan tatapan memohon sekalipun."

"Setidaknya salah pahamnya adalah aku yang kau kira menatap wajahmu. Kenapa kau mempersalahkan makanannya? Aku jadi seperti orang rakus kalau begitu jadinya."

"Jadi dari tadi kau ingin merayuku? Menatap wajahku dengan lama lalu kau berharap aku akan berkata " Ah, anu senpai. Apa ada sesuatu di wajahku?" setelahnya kau mengambil nasi dari wajahku dan memakannya sendiri. Sayangnya jika ada sesuatu pun aku akan menyadarinya sendiri, jadi hal itu tidak akan mempan padaku senpai."

"Tentu saja tidak akan. Lagipula makanan yang ada di kotak bekalmu sama sekali tidak ada nasinya. Hah.. "

"Hn."

Dia ternyata bisa menebak rencanaku dengan akurat, kecuali bagian nasinya, terlalu banyak benteng yang kau buat Hanabi, aku jadi tidak bisa membuat hubungan kita semakin dekat bukan? Atau kau yang akan mengambil inisiatifnya? Jadi kau yang akan melakukan serangan mengambil makanan di bibir? Itukan rencanamu Hanabi? Baiklah.

Mengambil makanan dari kotak makanan yang di berikan Hanabi. Aku mulai memainkan peranku sebagai orang yang ceroboh bila sedang makan.

"Ngomong-ngomong terima kasih untuk makanannya, Hanabi. Kau sampai membuatkan bekal makanan untukku, apa sebenarnya itu kau menyukaiku ya? Kalau kenyataannya begitu aku akan menerimamu dengan senang hati."

"Jangan bercanda. Aku hanya tidak ingin kita terlihat berduaan di tempat ramai, jadi aku menyiapkan bekal untuk membuatmu mau berdiam di atap denganku saat istirahat. Dan ini semua adalah untuk membuatmu bertanggung jawab karena membuat temanku semakin berkurang, hilangkan semua hal yang berhubungan dengan suka. Itu tidak mungkin untukku menyukaimu."

Itu terlalu banyak untuk alasan bukan? Hanya dengan dua baris aku sudah mengerti, jadi tolong jangan membuat kalimat penolakan lebih dari ini.

"Apa makanannya enak, senpai?"

"Enak. Untukku yang hanya memakan makanan instan sehari-harinya makanan buatanmu sudah sangat enak."

"Padahal jika kau tidak menambahkan kalimat " Untukku yang hanya memakan makanan instan sehari-harinya" aku pasti akan sangat senang. Dan mungkin juga jatuh cinta padamu, senpai."

"Benarkah?"

"Tidak."

"Sialan."

Percakapan panjang ini membuatku lupa tentang membuat dia mengambil makanan di wajahku.

Semuanya terasa enak saat berada di mulutku. Walau cuaca hari ini cerah dan matahari berada di atas kepalaku, rasa panas itu terganti dengan rasa hangat yang berasal dari sampingku.

Saat kumelirik padanya, senyuman tipis berada di sana. Pipinya berwarna kemerahan, dan itu semua membuat Hanabi terlihat sangat manis.

--

Jam istirahat siang sudah selesai dan aku kembali ke kelasku setelah mengantar Hanabi. Aku yang terus melamun tentang bagaimana gadis semanis Hanabi menjadi pusat kebencian di sekolah ini. Oh benar, jika orang-orang tahu seberapa manis dirinya mungkin semua orang juga akan sependapat denganku dan rasa benci mereka akan terganti dengan rasa ingin melindungi yang kuat. Hm, harus kucoba.

"Yo Naruto."

"Yo."

Teman sebangku ku kebetulan berpapasan denganku. Kulihat dia baru saja dari arah toilet.

Dan, sebenarnya aku ingin menyapanya dengan namanya juga. Tapi, sepertinya aku lupa namanya.

"Namamu siapa?"

"Eh? Kau benar-benar kejam."


makasih.