Untuk Naruto senpai.

Aku menunggumu di depan kelasmu. Mari pulang bersama.


Tertanda, H.

Untuk apa sebenarnya inisial itu? Memangnya kau pikir itu akan menjadi misterius jika kau menggunakan inisial yang sangat jelas seperti itu, Hanabi?

"Surat cinta?"

"Aku memuji kehebatanmu menebak ini teman."

"Oh ternyata bukan."

"Bukankah barusan aku sudah memujimu?"

Sekarang pelajaran Kewarganegaraan dan guru menyuruh kami mencatat lalu dia keluar dari kelas dan menghilang. Surat yang baru saja kubaca adalah sebuah surat cinta dari Hanabi, mari kita anggap seperti itu.

Surat itu terselip di antara roti isi dari bekal yang dibuat Hanabi untukku. Meskipun Hanabi orang yang melakukan hal ini, tetap saja itu membuat ku takut saat terbayang jika aku tidak punya kebiasaan memisahkan roti mungkin aku akan mati tersedak sebuah kertas berwarna pink itu. Sangat tidak keren jika aku mati karenanya, dan untuk kalian di luar sana mohon jangan tiru cara Hanabi memberikan suratnya padaku ya meskipun itu adalah hal yang imut, menurutku.

Hanabi memang menyuruhku menyisakan rotinya untuk nanti. Meski dia tidak memberi tahu kapan pastinya aku harus memakan roti ini. Bisa saja aku memakannya saat aku sudah di rumah kan? Kenapa dia bisa yakin kalau aku akan memakannya sebelum jam pulang? Atau dia benar-benar salah paham tentang aku yang terus menatapnya saat makan tadi? Jika seperti itu aku harus cepat menjelaskan padanya kalau aku bukan orang rakus.

"Hey teman. Apa kau tahu Hanabi? Seorang gadis di kelas tahun pertama."

Orang yang kupanggil teman adalah teman sebangku ku. Aku lupa namanya dan dia tidak mau memberi tahuku dan menyuruhku mengingatnya sendiri. Karena aku malas jadi aku memanggilnya seadanya saja.

Dia menghentikan tangannya menulis.

"Gadis yang imut kan. Pemenang kontes itu. Dia berangkat bersamamu. Yang makan siang denganmu. Yang memberi surat itu. Aku tahu."

Sudah kuduga setiap laki-laki pasti menganggap dia imut dan apakah temanku ini menguntitku sehingga dia punya informasi tentang setiap pertemuanku dengan Hanabi?

"Apakah ada hal lain yang membuatmu mengenalnya?"

"Hm. Dia cucu menteri pendidikan, orang tuanya menjadi kepala sekolah di sekolah ini, dan dia imut."

Kau sudah menyebut imut tadi. Kau mencoba membuatku cemburu? Tentu saja aku terganggu dengan kau yang menyebutnya imut jadi hentikan kumohon.

"Ya dia imut dan dia menyukaiku."

"Terserah. Apa sebenarnya yang ingin kau tanyakan."

Dia anak dari kepala sekolah, cucu menteri pendidikan, itu cukup mengejutkan untukku mengetahuinya.

"Dia mengatakan dia dibenci semua orang di sekolah ini."

"Begitukah. Tapi itu tidak masuk akal untuk semua orang membencinya bukan?"

"Maksudmu?"

Temanku mengganti gaya duduknya dengan menyilangkan tangannya di dada dan menaikan kakinya ke pahanya.

Itu hal keren yang kadang aku ingin melakukannya juga, tapi saat dia mempraktekannya di depanku aku jadi ragu sekarang bahwa itu hal keren atau bukan.

Dia melanjutkan:

"Jangan lupa dia adalah pemenang dari acara paling populer di sekolah ini. Meskipun dia terpilih secara tidak terduga, tapi dengan dia menjadi perwakilan kelas dan mengikuti acaranya pun sudah menjelaskan bahwa semua orang di kelasnya menyukainya."

Memang benar, setiap kelas hanya bisa mengajukan satu kontestan untuk mengikuti acara tersebut. Terserah pada setiap kelas mereka melakukan apa untuk memilih sendiri seseorang untuk menjadi kontestan, tapi pasti cara yang mereka lakukan tidak jauh dari dengan melakukan voting dan memilih seseorang dengan suara terbanyak. Ini kedua hal yang sama kau tahu.

"Tapi bagaimana jika wali kelas yang mencoba mengajukan Hanabi? Bukankah itu masuk akal untuk teman kelasnya membencinya? Hanabi adalah anak kepala sekolah jadi bukan mustahil jika ada tindakan nepotisme yang dilakukan."

"Aku tidak tahu dengan peringkat Hanabi di ujian masuk tapi yang jelas dia tidak berada di peringkat sepuluh besar. Dengan itu kurasa bisa kita simpulkan bahwa kepala sekolah kita adalah orang yang jujur."

Baiklah, meski aku tetap ragu untuk percaya dengan kalimat "Kepala sekolah kita adalah orang yang jujur" mengingat aku di jebak saat pemilhan ketua osis dulu tapi baiklah.

"Perolehan votingnya nol, orang-orang pergi saat dia kutunjuk jadi juara acara tempo hari itu, saat dia berangkat bersamaku banyak orang yang menatapnya, lalu ada sebuah surat di bawah bangkuku tadi pagi. Terlalu banyak hal aneh. Hah... "

Hanabi memilih menghabiskan waktu makan siangnya denganku tadi, tapi aku tidak tahu bagaimana dia biasanya menghabiskan waktu makan siangnya. Saat kuantar dia ke kelasnya ada banyak orang di sepanjang jalan yang menatap kami tapi mereka, yang ada di kelas Hanabi, sama sekali tidak ada niatan melihatku saatku sampai di depan kelas dan melambai pada Hanabi saat dia masuk ke dalam kelas.

Aku tidak bisa tahu apa yang di pikirkan teman sekelasnya padanya. Hah..

Mungkin aku harus mencari tahu jawaban dari hal aneh itu secara berurutan. Misal, karena dua orang yang berhubungan dengan hal aneh pertama yang ku sebut tadi adalah aku dan seseorang yang dekat denganku saat ini, aku akan menguak ini terlebih dahulu, mengapa perolehan votingnya nol.

Meja Sakura ada di depan kelas dekat dengan pintu dari arah kanan, soal tempat dudukku ada di pojok kiri paling belakang, aku menghampiri meja Sakura. Sakura sedang menulis sesuatu di bukunya.

"Seperti biasa kau sibuk sekali ya, Sakura."

Tangannya berhenti dan dengan posisi tubuh tetap sama matanya melirik padaku.

"Oh Naruto. Seperti biasa juga kau senggang sekali ya."

"Ah ya. Inilah enaknya jadi ketua osis."

Setelah mendengar itu Sakura terlihat seperti menahan sesuatu di wajahnya.

"Asal kau tahu. Tidak ada aturan tertulis yang mengatakan ketua osis tidak perlu mencatat materi pelajaran yang di berikan guru."

"Kau bilang tertulis? Berarti hal tentang ini ada di bagian peraturan yang tidak tertulis. Aku akan memeriksanya nanti setelah aku menikmati aturan ini."

"Bodoh. Bagaimana kau bisa memeriksanya jika itu tidak tertulis."

"Hm.. Bertanya?"

"Pada siapa?"

"Ketua Osisnya tentu saja."

"Mau kupukul?"

"Maaf."

Arah pembicaraan ini sudah mencapai hal extreme dan berbahaya untuk aku lanjutkan, keputusan yang tepat untukku mengakhirinya.

Sakura kembali menggerakan tangannya untuk menulis. Mengabaikanku yang ada di hadapannya, dia mencatat materi dari papan tulis seolah bisa melihat menembus badanku.

Dia benar-benar mengabaikanku. Aku yang sedang dalam perasaan baik untuk menggangunya tidak mau kalah darinya dan terus berdiri memperhatikannya selama dia menulis. Menunggu sampai dia menyerah padaku yang menghalangi pandangannya aku sampai menggunakan pose aneh untuk berpura-pura menyembunyikan tujuanku sebenarnya.

"Kau benar-benar santai saat semua orang di kelas menatapmu, seeorang ketua osis di sekolah ini, dengan pandangan aneh. Setidaknya sembunyikan sedikit ekspresi anehmu itu yang cengengesan!"

Sakura berhenti menulis dan mengomeliku.

"Apa masalahnya untukmu? Biarkan saja. Biar mereka melihat betapa tidak pantasnya aku menjadi pemimpin mereka!"

"Harusnya orang yang iri dengan posisimu yang mengakatakan hal seperti itu! Apa masalahnya untukku kau bilang? Aku wakilmu! Dalam prosesnya aku juga salah satu pelopor yang membuatmu menjadi ketua osis di sini! Jadi sebagian orang mungkin akan mengeluh padaku juga!"

"Kau mengakuinya?! Sudah kuduga saat piket kelas tahun lalu kau membuatku tanpa sengaja menandatangani kertas aneh! Kenapa baru sekarang kau mengakuinya?! Kau pikir aku akan memaafkanmu hanya karena itu sudah lama berlalu?! Tentu tidak akan pernah!"

"Kaulah orang bodoh yang tetap menandatangani kertas itu bahkan setelah kau bertanya padaku! Aku menjawab dengan jujur bahwa itu formulir untuk sesuatu, aku tidak salah sama sekali!"

"Label 'jujur' hanya berlaku saat kau mengatakan sesuatu dengan jelas!"

"Siapa yang seenaknya membuat peraturan itu!"

"Mana aku tahu!"

"Kau tahu darimana peraturan itu kalau begitu bodoh!"

"Aku pintar! Sekarang aku hanya ingin bertanya kepadamu. Mengapa perolehan voting Hanabi nol? Bukankah dia cukup manis untuk di pilih oleh beberapa orang? Bahkan mungkin lebih banyak!"

...

".. "

Sakura menghela nafas di depanku.

"Sudahlah aku akan pulang."

Sakura mengambil tasnya lalu berdiri mengabaikanku yang tadi menanyakan sesuatu yang penting padanya. Kau jangan pura-pura lupa Sakura!

Ah ya, meskipun aku juga hampir melupakannya setelah perdebatan panjang kami.

"Hey! Bagaimana dengan pertanyaanku tadi?"

Mendengarku, Sakura berhenti tanpa memalingkan wajahnya padaku. Dia berkata:

"Cari tahu saja sendiri."

"Aku kini sedang melakukannya. Apa kau bodoh?"

Tangan Sakura kulihat mengepal erat dan membuatku menyesal telah berkata seperti itu.

"Baiklah... Dengar.. label ''cari tahu sendiri" hanya berlaku saat kau tidak memerlukan bantuan orang lain. Juga-Diam! E-em.. Juga itu biasanya di lakukan dengan menyelidiki lokasi, informasi yang kau punya, dan beberapa bukti yang berhubungan! Jika bukan seperti itu aku tidak mengakuinya!"

Aku berniat menjawabnya tepat saat dia membantahku. Tapi yang kudapati dia membentakku, dan selanjutnya hal-hal aneh keluar dari mulutnya.

"Kau baru saja bilang "aku" barusan! Berarti itu hanya peraturan yang kau buat sendiri! Aku hanya bertanya padamu beberapa kata dan kau membantahku dengan ratusan huruf? Tidak bisakah kau menjadi orang yang simpel untuk sekarang?"

"Ah!! Terserah kau! Cari tahu saja sendiri! Aku ingin pulang!"

".. hah.. "

Tepat saat Sakura keluar dari pintu kelas bell pulang berbunyi untuk mengingatkanku bahwa aku mendapat surat dari Hanabi tentang dia yang ingin pulang bersama denganku.

"Setidaknya wajah imut Hanabi bisa mengobatiku."

Berkata seperti itu aku mulai mengemasi barangku dan pulang.


Typo? kalau ada tolong bilang ya.

Mau bikin cerita baru lagi biar kekinian ah. Baca nanti ya