Aku sekarang sedang duduk di sofa di rumahku.

Memegang smartphoneku, membalas sebuah pesan dari Hanabi.

--.. My honey.. --

Terimakasih sudah mau pulang bareng denganku dan mengantar sampai depan rumahku, senpai.

Itu benar kalau aku pulang bersama dia dan bahkan menemaninya sampai depan rumahnya, yang memang jauh dari rumahku.

Ya, jauh dari rumahku. Tapi itu sangat dekat dari sekolah kami. Kami hanya berjalan bersama sebanyak 22 langkah, bahkan aku yakin dengan ketepatan hitunganku itu.

Aku pun membalas pesan Hanabi dengan "Sama-sama." Serta emoticon hati di sana, untuk pemanis.

Kupikir dia akan membalas lama tapi ternyata aku tidak perlu menunggu lebih dari 30 detik.

--.. My Honey ..--

Y.

.

Yap, itu bahkan tidak perlu ditulis lebih dari 2 detik.

Aku pikir ini saat yang tepat untuk mengakhirinya. Aku juga jadi agak malas untuk membalasnya setelah membaca balasan itu.

Selanjutnya, aku sekarang sedang memeriksa instagram resmi sekolah. Karena biasanya di setiap acara-acara penting admin dari instagram ini selalu meng-update informasinya, meski kebanyakan hal yang biasanya admin itu unggah tidak penting tapi aku sekarang lebih membutuhkan hal yang tidak penting itu. Detail kecil sangat berharga untuk petunjuk.

"Siapa ini? Tampan sekali dia."

Aku menemukan foto tampan ku ada di sana.

Mereka tahu hal yang lebih penting rupanya. Foto-fotoku memang bagus untuk promosi acara-acara sekolah yang membosankan itu.

Bahkan fotoku ada yang disukai lebih dari 10.000 coba aku periksa foto apa itu.

"Ini. Mengapa fotoku saat berwajah aneh di kelas ada di sini? Bukannya ini tidak ada hubungannya dengan acara kemarin? Dan juga apa-apaan rata-rata komentar menghina ini? Oyyy! Jangan menghina ibuku segala!"

Sialan. Aku memang tahu dari temanku bahwa internet itu pembuat depresi dan penyebab kematian jika memasang foto aneh dan dibully. Tapi aku tidak menyangka saat mengalaminya sendiri ternyata semenyakitkan ini rasanya.

Padahal aku sudah menyiapkan mental jika memang aku akan mengalaminya sendiri karena aku sering melakukannya pada orang la- aku sering melihat orang lain dibully.

"Hah.. Sudahlah lebih baik fokus cari petunjuk."

Aku akan memburu orang yang memfotoku dan membunuhnya nanti.

Coba aku lihat. Orang-orang saat pertama kali acara pemilihan wanita paling menarik dimulai, mereka sangat bersemangat.

Ada video yang memperlihatkan semua kontestan naik ke panggung, dan aku yang terlihat tidur. Tidak, abaikan itu. Nomor 7 dan 10 memperkenalkan diri bergantian. Kenapa tidak sesuai nomor urut? Seperti yang kuduga orang-orang bersorak untuk mereka. Lalu, nomor 4 memperkenalkan diri. Orang-orang aneh itu tetap bersorak, dan aku tetap tertidur.

Hm. Aneh, aneh sekali. Kenapa tidak ada yang membangunkanku? Apakah mereka mengira aku sudah mati?

Tunggu bukan itu.

tulalit*

Ah. Padahal aku hampir menacapai kesimpulan kenapa ada telpon disaat seperti ini.

Sudahlah, angkat dulu. Lalu memarahinya.

"Ada apa? Kau tidak lihat aku sedang sibuk?"

"Bagaimana mungkin aku melihatmu?"

"Apa? Bukannya teknologi sekarang ada yang namanya video call? Kau bisa melihatnya jika menggunakannya kan?"

"Tapi aku kan tidak menggunakannya! Bahkan jika menggunakannyapun aku tidak bisa melihatmu sebelum menelponmu! Arghh.! Diam dan dengarkan dulu atau aku akan kesana untuk membunuhmu!"

Suara dan acaman yang membuatku merinding ini. Sepertinya ini Sakura. Kupikir ini hanya orang salah sambung karena tidak ada nama tadi di panggilanya.

Gawat.

"Maafkan aku. Aku lupa mensave nomormu dan kukira ini panggilan dari orang gila ternyata dugaanku hanya hampir benar."

"Kau.. Tidak, lupakan itu. Aku harus memberitahumu sesuatu yang sangat penting. Orang yang kau panggil Hanabi itu sebenarnya tidak ada! Aku mohon jauhi dia, karena dia sebenarnya. Sudah mati."

"Apa?"

Tidak mungkin. Berarti selama ini. Eh. Tunggu.

"Ku mohon. Jangan berurusan dengan sesuatu yang tidak ada! Karena yang dipertaruhkan adalah keselamatan ku dan kau!"

"Woy. Aku tahu itu adalah setting cerita di sebuah novel. Aku pernah membaca itu, kalau tidak salah judulnya Another kan?"

"Cih."

"Apa maksud cih itu sakura!"

tut, tut, tut.*

Sialan.

Betapa gabutnya Sakura menelponku hanya untuk ini.

Hah..

Pada akhirnya aku tidak mendapatkan apa-apa di instagram itu juga.

tulalit*

Ada sebuah pesan.

--.. My Honey ..--

Malam senpai. Besok ingin kujemput lagi untuk berangkat bersama tidak?

Aku segera membalasnya dengan jawaban tidak dan menambahkan untuknya menunggu didepan rumahnya saja.

--

Besoknya aku berangkat sekolah seperti biasa, menjemput Hanabi dan mencoba menggandeng tangannya dan ditolak.

Aku mengantarnya lagi ke depan kelasnya, melambaikan tangan padanya lalu pergi ke kelasku sendiri.

Dan sekarang aku sudah tiba di kelasku dengan selamat.

"Pagi Naruto."

"Pagi teman."

Aku membalasa sapaan temanku itu dan duduk di kursiku sendiri, di sampingnya.

"Bukankah tidak baik pura-pura lupa dengan sahabatmu sendiri? Ayolah kau ingat aku kan. Kita hanya berpisah saat libur semester."

"Maaf aku tidak ingat. Dokter bilang untuk tidak memaksakan diri."

"Kau benar-benar terkena amnesia? Apa karena kecelekaan?"

"Tentu tidaklah bodoh. Aku bercanda."

"Mana aku tahu kau bercanda. Sialan."

Aku sangat tidak ingin menyebut namamu jadi tolong diam dan terima saja panggilanku itu.

Siangnya. Hanabi kembali membawakan bekal untukku, dan sekarang kami ada di atap sedang menyantap bekal itu bersama.

"Oh iya. Aku lupa mengatakan padamu ini kemarin Hanabi."

"Mengatakan apa?"

Aku memakan dua buah adonan isi tahu sekaligus lalu berkata.

"Aku bukan orang yang rakus."

"Kau mengatakan itu sambil memperlihatkan nafsu makanmu yang ganas."

"Tidak. Aku hanya terlalu lapar hari ini. Tapi aku sungguh bukan orang yang rakus, jadi jangan salah paham."

"Kenapa tentang itu? Apa aku membuat terlalu banyak untukmu?"

"Tidak tidak. Bukan itu. Maksudku tentang kemarin. Ah sudahlah."

Ini jadi tidak lucu karena kau tidak mengingatnya Hanabi.

Hanabi mengangkat bahu dan melanjutkan makan. Aku yang melihatnya juga ikut melanjutkan menghabiskan bekalku. Bekalnya yang diberikan padaku.

"Huh.. Kenyangnya."

Setiap hari memakan makanan seenak ini. Aku tidak keberatan untuk mati sekarang juga jika itu syaratnya. Tidak, aku bercanda.

"Sudah habis?"

"Ya. Ini terlalu enak soalnya."

Aku memujinya secara terang-terangan.

"Terima kasih. Dan tolong jangan mengajakku bicara lagi, aku sedang fokus menghabiskan bekalku."

"Hey. Seharusnyaa kau berterima kasih dengan wajah malu-malu setelah dipuji olehku! Bukankah itu hal yang sewajarnya terjadi? Dan juga kau yang pertama kali bertanya!"

"Aku ini tipe tsundere."

"O-oh. Begitukah."

Tsundere mana yang mengakui itu sendiri dengan berwajah datar.

"Hanabi, aku ingin tanya. Memangnya yang kau katakan tentang dibenci semua orang itu benar?"

Dia terdiam.

Seperti yang kuduga sih. Pastinya dia tidak ingin membicarakan hal yang sensitif seperti itu.

Dibenci semua orang kah. Bagaimana dia bisa menjalani hidupnya selama ini? Apakah wajah datar itu tanda dari kekosongan yang terus terjadi selama setiap harinya sampai sekarang?

Hal itu terus kurenungkan sampai terpikir oleh ku apa yang bisa kubantu untuknya.

Tersenyum aku menatap dia yang sedang melahap makan siangnya.

"Apapun itu. Kau bisa bersyukur karena sepertinya aku memutuskan untuk terus bersamamu, Hanabi."

Setelah kata-kataku yang romantis itu kuucapkan pun dia tetap diam.

"Apa kau sedang malu Hanabi?"

"Diam. Aku sedang makan. Sudah kubilang untuk jangan berbicara padaku kan. Dan kata-kata mu tadi, itu membuatku geli."

Oy. Ada batasnya juga untuk bersikap dingin.

Kau tidak tahu Hanabi. Aku telah menantikan saat ini hanya untuk berkata seperti itu padamu! Aktifitasku dari pagi ku minimalisir agar cepat sampai ke adegan ini!

Itu butuh perjuangan juga tahu untuk menyusun kalimatnya. Hiks.. Betapa kejamnya.

"Tapi ya terima kasih untuk itu senpai. Aku senang."

Hanabi berkata seperti itu sambil menutup kotak bekalnya.

Ah. Sudah kuduga pada akhirnya dia hanya malu-malu, seperti yang dia akui. Tapi.

"Kenapa kau tidak tersenyum malu-malu saat mengucapkannya Hanabi. Jadi kurang berasa kan situasinya."

"Dasar rakus. Sudah syukur aku berterima kasih."

Baru kali ini aku melihat dia memakai wajah marah di sana. Itu sedikit imut.

Tunggu, jangan itu dulu. Dia marah berarti aku harus minta maaf. Benar.

"Maafkan aku. Kau mengatakannya lagi, sudah kubilang aku bukan orang yang ra-hey!"

Sebelum aku bisa menyelesaikan kalimatku Hanabi berlari menuju pintu dan menuruni tangga. Bell berbunyi setelahnya.

"Apakah dia benar-benar tsundere? Benar-benar gadis penuh misteri."

Apakah kalimat ku sudah seperti tokoh utama drama korea?

--

Sorenya aku sekarang berdiri di depan ruang OSIS. Sayang sekali hari ini aku tidak bisa pulang bersama Hanabi.

Maafkan aku Hanabi sayang.

"Permisi. Paket."

Aku mengetuk dan masuk ke ruangan itu.

"Diamlah. Itu tidak lucu. Itu sudah garing, trendnya sudah lewat! Bisakah kau berhenti mengatakan itu setiap masuk ke sini?"

Ada Sakura dan beberapa anggota lainnya di sana.

Sakura memang berkata leluconku itu tidak lucu. Tapi sepertinya ada beberapa orang yang menahan tawa.

"Jangan dengan cepat mengambil kesimpulan seperti itu Sakura. Lihatlah beberapa orang menahan tawa karena lelucon jenius ku itu."

Sakura sedang mengetik sesuatu di komputer di depannya. Aku tahu sebagai ketua OSIS jika akhirnya mengatakan ini aku sangat tidak bergantung jawab tapi. Aku tidak tahu apa yang sedang Sakura dan orang-orang di sini kerjakan. Aku hanya kesini karena Sakura bilang ada rapat penting.

"Mereka bukan menahan tawa. Mereka menahan muntah melihat wajah ketua OSIS sangat tidak bertanggung jawab sepertimu terus melakukan hal bodoh dengan mengucapkan lelucon garing setiap dia datang."

"Oy. itu terlalu jujur."

"Sudahlah cepat duduk dan mulai rapatnya."

Rapat kah. Kenapa orang tidak kompeten sepertiku harus menjadi pemimpin di sebuah rapat.

"Ah merepotkan. Sebenarnya Sakura, aku kesini unthk memberitahumu kalau aku mengundurkan diri dari jabatan ku."

"112 kali. Dia sudah mengucapkannya sebanyak itu dari dulu. Huh.. Aku sudah mencatatnya wakil ketua."

"Bagus, sekertaris. Tetaplah bersiap karena selama dia di sini dia bisa saja mengucapkan itu berkali-kali."

"Oy!"

Dan selanjutnya aku dengan elegan memimpin sebuah rapat penting sekarang. Tujuan ini rapat ini adalah menentukan acara untuk festival olahraga bulan depan.

"Bagaimana kalau hari pertama diawali maraton."

"Ah ya itu saja. Meski sudah klise. Aku setuju."

Ada yang mengajukan pendapatnya lalu aku menyetujuinya, sekertaris mencatatnya, bendahara menghitung anggaran lalu melapor padaku dan aku mengangguk.

"Bagaimana kalau hari kedua acara utamanya kita mengadakan kontes pemilihan wanita paling menarik reborn?"

"Ah ya itu sa- oy siapa yang mengucapkan ide konyol itu."

"Aku ketua. Bukankah itu ide bagus?"

"Tanya sama mamamu sana. Ide bagus atau bukan itu."

"Tapi aku. Yatim piatu."

"E-eh? Maaf."

Dan begitulah meski ada berbagai kendala dan perdebatan rapat kami mencapai kesimpulan yang jelas.

--

"Hah.. Hari yang panjang."

"Kau hanya mengangguk dan berkata iya saja. Jangan bersikap lelah sekali seperti itu."

"Akukan juga sudah kerja keras."

"Cih."

"Oy!"

Setelah rapat aku kini sedang dalam perjalanan pulang dengan Sakura berjalan di sampingku.

Rumah kami ada rt yang sama jadi kami akan terus bersama setidaknya sampai rumah Sakura.

Ini hal yang biasa setiap minggu untuk pulang bersama dengannya jadi ini sama sekali tidak istimewa.

"Tumben kau mengajakku pulang bersama, Sakura."

"Aku tidak mengajakmu."

"Oh benar."

Dia langsung memberikan jawaban frontal itu sebelum aku bisa mengembangkan topiknya.

Sudah kubilang kan ini tidak istimewa sama sekali.

"Kenapa kau sangat perduli pada Hanabi, Naruto?"

Sakura memancing topik duluan, tidak seperti biasanya.

"Memangnya kenapa? Jangan bilang. Kau cemburu ya?"

"Sudah cukup dengan itu. Jawab saja."

Waduh. Sepertinya ini memang sudah kode keras dari dia.

Aku tidak menyangka kehidupan SMA ku akan diisi dengan percintaan segitiga seperti ini.

"Hanabi ya. Kenapa aku perduli? Mungkin belum kusadari secara penuh tapi. Sepertinya aku menyukainya."

Oke mari lihat seberapa jauh reaksinya terhadap pengakuan mengejutkan ku ini.

"Begitukah? Jika memang seperti itu syukurlah."

Sakura tersenyum lega disampingku.

Kenapa dia malah lega?

"Oy Sakura. Aku menyukai dia loh. Kau selama ini ingin menjauhkan ku dari dia karena kau cemburu kan?"

Maksudku. Apa gunanya semua 'cih' yang dia ucapkan itu?

"Jangan menghayal. Asal kau tahu, aku adalah orang yang disuruh oleh kepala sekolah untuk melindungi Hanabi dari orang jahat. Aku sampai membuat perolehan votingnya nol agar dia tidak mendapat terlalu banyak perhatian. Tapi sepertinya itu malah jadi bumerang karena ketua OSIS kita yang bodoh."

"Oy ketua OSIS nya adalah aku. Jangan bersikap seolah membicarakan orang lain."

Begitu ya. Jadi dia tidak suka padaku.

Eh bukan itu poin pentingnya.

"Jadi itu kau. Pengatur skor yang dibayar oleh mafia! Kau merepotkan ku gara-gara hal itu. Dan surat ancaman itu jangan-jangan itu juga kau kan?"

Ya ampun. Untuk apa aku menyelidikinya selama ini jika kasus ini terpecahkan bahkan tanpa aku membutuhkan petunjuk satu pun.

Apa serunya ini?

Kami sudah tiba di depan rumah Sakura. Dia berjalan masuk ke halaman rumahnya lalu berbalik menghadap ku dan berkata;

"Untuk surat itu bukan aku yang menulisnya. Itu orang lain. Jadi berhati-hatilah."

"Hah?"

Sakura berjalan masuk ke dalam rumahnya sebelum sempat aku bertanya tentang kejelasan hal itu.

"Woy! Aku tahu itu pasti kau kan! Jangan menakut-nakuti ku dengan hal itu. Aku bisa menebaknya dengan mudah tau!"

Ya benar. Itu hanya keisengan Sakura dan aku tidak takut atau apapun bila itu memang bukan ulahnya. Lagipula aku sangat yakin dengan dugaan itu ulah Sakura.

Aku tidak khawatir. Tapi lebih baik aku bergegas pulang sekarang.

--

tbc

..

Update bos. oh iya gue juga upload cerita ini di mangatoon dengan judul yang sama. juga cerita ini gw ikutin kontes di sana. jadi bagi para orang-orang baik sekalian maukah kalian ke sana dan meli ke atau mengkomen di sana.

nama penanya juga sama. KanAncur.

dan karena cerita ini di targetin 20 chapter dalam sebulan. jadi gw bakal update 2 hari sekali mulai dari sekarang.

mampir ya.

terimakasih.