hetalia © hidekazu himaruya. penulis tidak mengambil keuntungan komersial apapun dari pembuatan cerita ini. cerita ini adalah murni fiksional, tidak ada kaitannya dengan orang-orang di dunia nyata—jika terjadi persamaan maka hal itu adalah hal yang tidak disengaja.


Natalya memastikan sekali lagi dengan memandang hitungan manualnya dari bagian paling awal. Kemudian, pada data yang berada di komputernya dan yang ia cetak.

Keningnya berkerut paling dalam saat memandangi grafik data transit. Ia menahan napas, mengerjapkan mata, dan mendongak. Lehernya terasa sangat kaku ketika ia menggerakkannya. Terlalu lama menunduk untuk menghitung, dan ia juga cukup terkejut bahwa sekarang baru pukul dua. Ia pikir sudah pagi, ia rasa ia sudah menghabiskan waktu terlalu lama.

Alfred tertidur dengan posisi tiarap. Tangannya menjangkau bantal Natalya yang kosong. Natalya menenggak air putihnya di sudut meja, hanya seteguk karena ia lupa mengisi tumblernya.

Kasihan, pikir Natalya. Ia menguap begitu lebar, dan setelah meregangkan tangan dan lehernya, ia pun beranjak menuju tempat tidur.

Disingkirkannya tangan Alfred, ia menyusup ke dalam selimut.

Secara naluriah, meski masih tidur, Alfred mengembalikan tangannya ke posisi semula; merangkul Natalya.


Natalya baru menyadari Elena berada di sampingnya ketika Elena menengok wajahnya dengan jarak yang terlalu dekat untuk ukuran ruang pribadi Natalya.

"Hei!"

Natalya mundur. Kopinya hampir tumpah, sedikit terciprat ke baju dan mesin kopinya.

"Eh, yah, sori!" Elena buru-buru menyambar tisu. "Kamu melamun, ih."

"Ngantuk." Natalya menuju meja terdekat. Kafetaria lengang, tidak ada yang sarapan pagi ini. Ia memijat pelipisnya. "Aku tidur jam dua, jam lima aku terbangun gara-gara Alfred ke toilet, dan aku tidak bisa tidur lagi karena kepikiran sesuatu."

"Ada masalah?" Elena menyeruput tehnya. Belakangan ia sering minum teh hijau, setelah pulang dari perjalanan berdiskusi selama seminggu dengan peneliti di Jepang.

"Proyek itu."

"Oh! Kamu berhasil menemukan sesuatu?"

Natalya menyeruput kopinya. "Aku sudah yakin."

"Wah, selangkah lebih dekat, Nat!"

"Mari kita lihat." Natalya menempelkan bibirnya pada tepi gelas. "Aku mau bicara dengan Thomas hari ini."

Elena mengerutkan hidungnya. "Aku dengar sesuatu tentangnya dari Lien."

"Aku juga dengar." Natalya mengetuk gelasnya sambil menatap isinya. "Reputasinya di NASA memang seperti itu, kelihatannya."

Elena mengangkat bahu dan menghabiskan tehnya dalam sekali tenggak. "Entahlah. Kita mungkin akan tahu sebentar lagi."


Natalya tidak butuh waktu lama untuk tahu.

"KP4454-9b. Hmmm. Dari data-data ini, seberapa besar keyakinanmu?"

Natalya menyodorkan lembaran lain perhitungannya. "Sembilan puluh persen." Natalya menunggu jawaban setelahnya, tetapi Thomas menggeleng. "Dengan semua perhitungan ini, kurasa kamu harus mengkategorikannya planet kerdil. Grafik ini lebih mendekati kategori planet dibandingkan satelit."

Natalya membuka tabletnya, kemudian menampilkan perbandingan grafik yang sama dengan yang ia cetak dan perlihatkan pada Thomas. "Dengan ini, dan ini," ia menunjuk grafik dan hitungan di bawahnya dengan pen, "perhitunganku menyimpulkan bahwa ini terlalu dekat untuk dianggap sebuah planet tetangga, dan ada intervensi yang cukup besar pada spektrum kecerahan pancaran planet ini, tetapi hanya tampak pada saat-saat tertentu karena jarak mereka terlalu dekat."

"Bisa saja itu karena planet tetangga? Belum cukup bukti untuk itu, Jones. Kumpulkan lebih banyak hasil observasi dulu sebelum kamu terburu-buru mengumumkannya."

"Tidak. Ini satelit. Exomoon berikutnya yang akan kita publikasikan." Natalya membiarkan tabletnya masih menyala. "Aku sudah mengumpulkan ribuan data dari Satelit Kepler selama rentang waktu empat tahun—tidak pernah ada yang benar-benar memperhatikan ini, ini luput dari perhitungan karena mengira mereka adalah satu objek."

"Asumsimu masih terlalu lemah, kamu tidak bisa menerbitkan ini begitu saja." Dia mencoret salah satu grafik yang dicetak Natalya. "Sudah berkoordinasi dengan satelit lain? Mengumpulkan data dari negara lain? Wahana untuk membantu pulsar-timing sebentar lagi bisa digunakan, kamu bisa menunggu validasi lewat data yang kita kumpulkan bersama-sama dengan ESA."

Di pangkuannya, tangan Natalya mengepal. "Ini peer-review, mereka bisa mengkritikku jika asumsiku salah. Kita bisa mengumpulkan lebih banyak bukti jika kita buka ini pada publik."

"Pastikan dulu sebelum kamu malu—"

Natalya bungkam.

"—dan institusi juga malu."

"Kami sudah sering melakukan ini sebelumnya. Salah? Teman-teman akan mengoreksi. Ini bukan kali pertama asumsi dipatahkan dalam perjalanan mencari exoplanet dan yang baru-baru ini, exomoon. Jika ada tambahan data dari wahana lain, aku siap menganulir penemuanku dan menerima faktanya."

"Kamu sedang ingin promosi, ya?"

Natalya mengernyit. Kepalanya mulai mendidih, dan ia menahan diri setengah mati untuk tidak melemparkan semua kertas di atas meja. "Tidak ada hubungannya dengan kenaikan posisi."

"Kudengar kamu adalah salah satu yang karirnya paling bagus, termasuk peneliti yang berdedikasi, terutama dalam penelitian mengenai Io, tetapi kamu belum pernah menjadi ketua tim proyek."

Jika ini sudah terlalu personal, Natalya siap angkat kaki. "Aku tidak mengerti mengapa kita jadi membahas ini. Aku hanya minta persetujuanmu sebagai atasan dan pengawasku."

"Aku tidak ingin publikasi yang lemah. Validasi adalah yang utama."

"Validasi dari perhitunganku tidak cukup?"

"Aku memintamu untuk tidak terburu-buru."

Natalya menutup tabletnya, wajahnya memerah. "Baiklah jika kau menginginkannya—aku akan kembali."

Jika Natalya mendengar dengkusan Thomas, mungkin ia akan kembali dan melemparkan seluruh kertas di meja ke wajahnya.


"Gila?" Elena mengempaskan gelas kopinya ke meja—akhirnya ia minum kopi, pada sore hari sebelum jam pulang, saat kafetaria sudah lengang kembali—ia menggeleng-geleng liar. "Kalau aku jadi kamu, semua kertas itu sudah kusumpalkan ke mulutnya."

Natalya mengangkat bahu, amarahnya sudah sedikit berkurang tapi belum berarti ia sudah berhenti berharap Thomas mengakui kesalahannya.

"Publikasikan saja penemuanmu itu, cari jalur lain. Biar dia merefleksi diri. Untung-untung kalau JPL langsung mendepaknya."

Natalya menghela napas. "Mungkin aku perlu mencari seseorang di luar."

"Perlu kuhubungkan dengan orang-orang di ESA? Daniel akan membantumu." Elena, seperti seorang sahabat yang sigap seperti biasanya, mengeluarkan ponselnya dari saku jins dan menawarkan sekali lagi. "Benar, Nat? Aku tanya pada Daniel sekarang."

Natalya sempat ragu, mencoba memikirkan kata-kata Thomas lagi. Barangkali ia harus bersabar—namun Elena sudah mengetikkan sesuatu di ponselnya. Sepertinya sudah tidak ada jalan kembali.

"Aku agak takut," Elena bergumam, mengetik cepat, keningnya sedikit mengernyit, "aku belum kenal orang itu sepenuhnya jadi aku agak was-was kamu langsung memberikan hasil penelitianmu begitu."

"Maksudmu?"

Elena masih menggumam, kali ini ia seperti mendikte dirinya sendiri untuk pesan yang akan ia kirimkan pada tunangannya, lagi ngapain, kemarin jadi nggak beli game console yang baru ….

"Elena."

"Oh—ya, apa yang barusan kubilang? Oh, Thomas!" Ia mengantongi ponselnya. "Daniel pernah cerita, soal rekan kerjanya yang dulu pernah berhasil menghitung waktu transit sebuah planet saat ia masih SMA."

Natalya tertegun. Informasi yang cukup menarik. "Siapa?"

"Dia juga kerja di ESA, tapi beda divisi dengan Daniel. Dia lulusan Swiss, sekarang di pos Paris. Daniel juga sedang bertugas di Paris, jadi—"

"Thomas, Elena."

"Ah, orang itu!" Elena akhirnya mengingat apa yang harus ia katakan. "Aku takut, apalagi kamu meninggalkan kertas perhitunganmu di atas mejanya. Pencurian penemuan bukan hal baru di dunia sains, Nat. Aku khawatir dia akan memakai namanya untuk penemuanmu."

Mata Natalya melebar. Ia menggumam, oh shit.


Natalya memasukkan baju lainnya ke dalam koper, terburu-buru. "Aku sudah mendapat izin remote working dari Alasdair."

"Bukan soal itu, Nat," Alfred ikut mondar-mandir lemari-kasur seperti yang dilakukan Natalya yang sedang berkemas, "aku bertanya kenapa kamu terlalu terburu-buru."

"Aku berpacu dengan waktu. Ini soal perhitungan yang kubuat sampai dini hari dan orang itu mencoretnya!"

Alfred mengernyit. "Kamu belum cerita soal itu."

"Atasan baru kita. Dia tidak menyetujui perhitunganku soal penyelidikan exomoon, dan menyuruhku bersabar untuk menunggu validasi perhitungan tambahan, sementara perhitunganku sudah sangat meyakinkan."

Alfred akhirnya berhenti. "Kamu belum cerita apa-apa padaku."

"Ini soal harga diri, Alfred."

"Bagaimana aku bisa mengerti kalau kamu tidak cerita?!"

Natalya berhenti di antara lemari dan tempat tidur. Ia memandangi Alfred cukup lama, sampai seolah-olah suhu ruangan menurun. "Tidak ada waktu untuk itu."

"Mungkin Thomas benar, dia menyuruhmu bersabar agar menceritakan ini padaku dan menghitungnya lagi dari awal."

"Kamu tidak tahu apa-apa!"

"Damn! Karena kamu tidak membiarkanku tahu!" Alfred merentangkan tangannya, tersenyum sarkastis, "Kita ini partner, Nat!"

Natalya mengambil baju terakhir. Selalu seperti ini saat mereka berdebat; panas dan saling beradu. Ia tidak terlalu suka menceritakan masalahnya karena ia merasa harus menyelesaikan sendiri dahulu, sementara Alfred suka sekali ikut campur dan menganggap masalah orang lain—terutama istrinya—adalah masalahnya juga.

"Ya, kita partner. Tapi tunggu aku menolong harga diriku sendiri dulu sebelum penemuanku direbut."

"Kita selesaikan bersama!"

"Ini masalahku," kata-kata Natalya sedingin es. "Sebaiknya kamu diam dulu sebelum kepalaku semakin penuh."

"Fine." Alfred mendengkus. Lalu, ia menghilang. Ponsel Natalya menyala, memperlihatkan pesan dari Elena,

ya, Nat, dia mau ketemu denganmu.


Perhitungan Natalya luput.

Gambaran mental pertamanya tentang Erika adalah perempuan yang kurang lebih seperti Elena.

Namun, ia adalah kutub yang berseberangan dari Elena.

Erika mungil, sopan, pemalu, dan jika tidak tahu latar belakangnya lebih dulu, Natalya akan mengira ia seorang mahasiswa alih-alih seorang doktor yang pernah memecahkan perhitungan waktu transit bahkan sebelum ia meraih gelar apapun.

"Senang berkenalan denganmu, Jones."

"Natalya saja." Natalya mulai berpikir bagaimana caranya memulai pembicaraan dengan gadis ini. Selama ini, secara alamiah ia didekati dan dikelilingi oleh orang-orang yang mengimbanginya, orang-orang yang bicara lebih banyak daripada dirinya. Alfred, Elena, Yekaterina. Ia tidak perlu repot-repot memulai pembicaraan. Tapi dengan Erika, mereka tampaknya serupa soal bicara.

"Jadi …." Erika meraih minumannya di atas meja. Frapuccino, Natalya merekamnya dalam ingatan, barangkali mereka akan bertemu lagi dan ia harus memesankan minuman untuk Erika. "Aku sudah dengar sedikit dari Daniel."

"Apa saja yang dia katakan?" Natalya kurang mempercayai teknik Elena dalam menyampaikan pesan. Takarannya sering bertambah. Apalagi ini melewati tunangannya lebih dulu.

"Kamu sudah menemukan potensi exomoon berikutnya, tetapi supervisormu menolak dan memintamu bersabar?"

Natalya mengembuskan napas lega. "Ya. Kurang lebih begitu."

"Boleh kulihat perhitunganmu? Data dari Kepler, ya?"

Natalya menyodorkan tabletnya.

"Biar kusandingkan dengan data yang kudapatkan dari teleskop James Webb." Erika mengamati perhitungan Natalya. "Aku mengumpulkannya banyak sekali."

"Apa kamu juga punya data dari pengamat di Bumi?"

"Satellite Ground Stations?" Senyum Erika terkembang. Natalya tertegun. Senyumnya benar-benar membohongi umurnya, Erika terlihat seperti anak kuliah tahun pertama sungguhan. "Ya. Aku dan tim baru saja menemukan exoplanet baru di wilayah Cygnus dengan data dari sana."

Natalya sekali lagi tercengang, walau tak terlalu memperlihatkannya. "Sudah dipublikasikan?"

"Dijadwalkan untuk jurnal awal bulan depan."

"Apa aku boleh melihatnya?"

"Tentu saja. Sebentar, ya. Kubagikan untukmu."


Erika berjanji untuk memperkenalkan Natalya pada supervisor sekaligus rekannya dalam berbagai riset, sehingga sepagi ini, pukul delapan, Natalya sudah berada di kantor ESA di Paris.

Erika datang lima belas menit setelah Natalya tiba.

"Kami sedang berusaha untuk mempercepat wahana untuk memaksimalkan metode pulsar-timing, dia adalah ketuanya. Dia juga spesialis untuk pengembangan pulsar-timing dan sedang antusias untuk mengumpulkan data untuk exoplanet baru … tetapi perjalanan masih panjang. Langkah kami kecil."

Natalya diajak ke lantai dua, ke ruangan paling ujung. Tidak ada nama pada pintu. Ia mencium bau cat baru, barangkali tempat ini baru direnovasi.

"Permisi … Arthur, orang ini yang kumaksud."

Natalya terperangah. Matanya mengerjap cepat. "Kamu … di sini?"

"Lho? Kalian … saling kenal?"

"Oh! Nat?" Arthur bangkit dari kursinya, menyingkirkan kertas-kertas dan tabletnya ke tepi meja. "Alfred tidak bilang-bilang kamu mau ke sini." Ia buru-buru mendekati Natalya dan merapikan kemejanya yang sebenarnya sudah licin, rapi. "Guh, bocah itu," gumamnya, "ada apa?"

Natalya berusaha menyingkirkan imej Alfred dari otaknya, tentang pembicaraan terakhirnya sebelum ia berangkat, yang berarti malam keributan itu. "Aku punya sedikit … urusan."

Erika tampak bingung di tengah-tengah mereka, memandang keduanya bergantian untuk menanti penjelasan.

"Ah, Erika," Arthur menggaruk kepalanya, "sori. Lupa bilang. Dia ini istri adik sepupu jauhku, Alfred Jones. Vulkanolog JPL yang pernah kuceritakan padamu, ingat? Mereka satu kantor, meski beda divisi tapi mereka sering bekerja sama secara tidak langsung."

Erika cuma mengangguk-angguk meskipun ia lupa pada cerita itu. "Jadi … apakah kita boleh duduk?"

"Ya." Arthur mengedikkan dagu pada sofa. "Sesuatu membawamu ke sini tanpa Alfred, bocah itu berulah, ya?"

Natalya menggeleng. "Ini tidak ada hubungannya dengannya, tolong jangan sebut nama dia."

"Berarti jawaban pertanyaanku adalah benar." Arthur duduk lebih dulu. "Oke, masalahmu, Natalya?"


Arthur mengajaknya ke ruang pantau, melihat berbagai macam data dan membandingkannya dengan penemuan Natalya.

"Kurasa apa yang kita temukan agak mirip." Arthur menunjuk pada tablet dan layar komputer. Grafik kurva cahaya transit planet yang hampir serupa. "Aku bisa menyebut ini … kebetulan semesta." Dia meletakkan tablet itu ke meja, memandangnya bergantian. "Menggunakan metode okultasi adalah segala hal tentang keberuntungan yang bisa-bisa hanya terjadi sekali seumur hidup kita."

"Dan ini bisa mendukung argumenku?"

Arthur berpikir cukup lama. Kerutan di keningnya terlihat samar-samar, tapi itu adalah sumber kekhawatiran Natalya. "Kita masih perlu penguatan bukti. Aku bisa mendukungmu sembilan puluh persen, tapi sepuluh persennya adalah dukungan data lain. Sebentar lagi metode pulsar-timing akan bisa dimaksimalkan, mungkin kita bisa mengandalkan data yang dikumpulkannya."

"Aku ingin menyelesaikan penemuan ini sesegera mungkin."

"Paling cepat bulan depan."

Natalya menghitung. Tidak terlalu lama. Namun tidak untuk hasrat menggebunya. Bagaimana meredamnya? Atau bagaimana tentang Thomas?

"Kelihatannya masih ada masalah. Ada sesuatu yang mengganjal?"

Keluarga ini, pikir Natalya. Satu kesamaan yang baru ia temukan dari Alfred dan Arthur: kemudahan mereka membaca dirinya. Apakah itu sudah berada di DNA mereka? "Atasanku."

"Ah, yang kamu ceritakan tadi?" Arthur menanggapi santai. "Kenapa? Kamu takut dia mencuri penemuanmu?" Dia bersandar pada kursinya. "Aku akan mencatat kedatanganmu di sini sebagai kerja sama. Tertanggal hari ini, partnership bekerja. Kita bisa jadi penggagas satu artikel bersama tentang ini. Kamu tidak hanya punya satu teman, Nat. Kita bisa menyelesaikannya."

Natalya harus mengakui, perbedaan antara Alfred dan Arthur terletak pada pemecahan masalah. Arthur terlihat lebih mudah dalam memecahkan masalah, kepalanya lebih dingin.

Dan tiba-tiba saja batinnya bertanya, kenapa aku menikah dengan orang itu, sih?

Solusinya masih satu, menunggu. Natalya menghela napas. "Baiklah. Bolehkah aku minta kopi data perhitunganmu? Aku ingin mencermatinya lebih jauh."

"Boleh."


Natalya kembali ke rumah dan mendapati kekosongan. Padahal ini sudah bukan jam kerja, dan setahunya, tidak ada proyek mendesak yang harus selesai dalam waktu dekat.

Ia menghela napas begitu memikirkan lagi apa yang terakhir kali terjadi di ruangan ini dan mempertanyakan kemampuan mereka menyelesaikan masalah.

Natalya melemparkan diri ke tempat tidur. Penyelesaian masalah oleh tipikal orang-orang seperti Arthur dan Erika membuatnya berpikir ulang tentang hidup yang dibangunnya bersama Alfred. Mereka adalah rekan kerja, partner; baik dalam profesional maupun kehidupan sehari-hari. Ia berandai-andai Alfred bisa menyelesaikan masalah dengan lebih tenang dan dingin lagi.

Ia mencoba untuk mengetikkan pesan pada Alfred.

hei, aku pulang

aku minta maaf.

Tapi apakah kata-kata itu tepat? Seratus kata bagaimana melayang-layang di antaranya. Natalya membayangkan apa yang sedang Alfred pikirkan tentangnya …

… dan ia memikirkannya sampai terlelap. Bahkan sebelum ingat untuk mengganti bajunya dan menekan kirim pada pesannya.


Alfred mengira dia lupa mematikan lampu kamar—dan tidak menyangka menemukan Natalya di dalamnya. Kopernya masih berada di sisi tempat tidur, ia tidur setengah telentang dengan ponsel di tangannya, masih menyala di bawah jarinya, dan sebaris pesan belum terkirim di sebuah ruang obrolan.

Alfred membacanya, dan tidak menggunakan pikirannya lagi; dia mengecup pelipis Natalya. Dia kemudian meletakkan sebundel kertas di atas nakas, menyingkirkan ponsel Natalya, dan berganti baju sebelum menyelimuti wanita itu dan bergabung dengannya.


Natalya terbangun pukul tiga. Ia meraba-raba, mencari ponselnya, terkejut karena mendapati dirinya telah memakai selimut. Alfred tidur nyenyak di sampingnya, dan ini semua terasa dejavu.

Ia meraih ponselnya, dan menemukan pesannya tidak terkirim, tetapi ada sebuah balasan.

welcome home, babe

Di atas meja, ada sebundel kertas yang menarik perhatiannya. Seingatnya, tidak ada benda ini ketika ia datang.

Dengan bantuan cahaya layar ponselnya di kamar yang gelap, ia mencoba membacanya.

Observasi transit planet metode transit-timing effects - kalkulasi paralaks pada objek KP4454-9b, sebuah penyelidikan exomoon.

Natalya tertegun. Ia menoleh pada Alfred. Tidak membangunkannya, ia hanya memandangi pria itu sekian lama.

Sekarang pertanyaan sebelumnya berbalik di kepalanya,

kenapa orang ini mau menikah denganku, sih?

Lantas ia kembali berbaring, bergelung di punggung Alfred, memeluk pinggangnya.

end.


a/n: oke, kita semua udah pasti familiar dengan konsep exoplanet ya kan? dan exomoon adalah sebuah 'konsep' yang dalam perjalanan untuk dibuktikan. baru-baru ini sebuah survei tentang exomoon memperkuat asumsi keberadaan benda ini. aku gak sengaja nemu beritanya di portal berita sains EarthSky, dan ada artikel ilmiahnya yang diterbitkan di nature astronomy (kalau penasaran, bisa pm aku!) aku bukan expert di bidang ini, jadi aku open sama semua koreksi yang mungkin terjadi. metode-metode yang disebutkan di fanfik ini kuolah dari terbitan ilmiah mengenai eksplorasi exoplanet dan exomoon dari arxiv (sekali lagi, bisa pm aku ya kalau penasaran). the research was totally fun experience!