Siang yang terik. Angin hangat menerpa orang-orang dengan lembut. Amato menatap kosong pada tanah berlapis bunga di depannya. Berdiri membeku dengan pikiran yang masih menyangkal kalau semua yang terjadi hanyalah mimpi buruknya setiap hari.

Ini... memilukan sekali. Anak itu tidak bersalah sedikit pun. Dia sangat suci sampai Amato berfikir dia tidak pantas mendapatkan semua ini. Tak pantas seseorang seperti anaknya mendapatkan orang tua dan nasib yang teramat buruk seperti ini. Harusnya bumi menangis dengan kepergiannya. Bukannya secerah ini.

Putranya mati. Putranya telah pergi. Bahkan sebelum sempat Amato meminta maaf padanya karena telah menjadi sosok ayah terburuk untuknya. Kini anaknya hanyalah berbentuk pusara bertuliskan nama yang terdiri dari satu kata saja, yang pastinya orang-orang bertanya darimana Amato terinspirasi mendapatkan nama itu dan memberikannya pada anaknya.

Gempa. Gempa nya telah pergi. Dan Amato benar-benar menyesali perbuatannya selama ini.

Orang-orang yang menghadiri pemakaman anaknya mulai berbisik, tentang betapa malangnya anak itu, tentang hubungannya dengan Amato sendiri, bahkan tentang masa lalunya dengan sang istri.

"Kasihan sekali, padahal dia anak yang baik."

"Kudengar istrinya kabur waktu Gempa masih kecil, ya ampun pantas saja Gempa juga kabur dari rumah pasti karena kelakuannya itu-"

"Sstt! Kita sedang berduka! Jaga bicaramu."

Amato mengabaikan mereka semua. Pikirannya masih terlalu syok dengan kepergian putranya yang sangat mendadak.

Pemakaman itu berakhir dengan satu-persatu peziarah pulang. Amato masih berdiri di samping makam putranya sampai beberapa anak, seumuran dengan putranya menghampirinya.

"Pak... Kami, turut berduka cita atas kepergian Gempa. Saya sebagai perwakilan kelas meminta maaf sedalam-dalamnya dengan perlakuan kami di sekolah terhadap Gempa..."

Amato tidak terlalu mendengar jelas apa yang dikatakan pemuda berkacamata itu. Tatapannya masih kosong akibat penyesalan yang menamparnya begitu keras sampai rasanya sangat tak nyata.

"...Kalau begitu, kami permisi dulu, Pak."

Anak itu pergi perlahan. Meninggalkan Amato yang masih berdiri beku di tempatnya. Tidak ada lagi orang selain dirinya di pemakaman itu.

Amato berdiri entah sampai berapa lama dalam diam. Mungkin satu jam, mungkin dua jam lebih. Cukup lama sampai akhirnya dia membalikkan badan dan pergi meninggalkan makam putranya dengan harapan segera terbangun dari mimpi buruknya.

Mimpi buruk yang nyata.

.

.

.

Boboiboy belongs to Animonsta Studio

Sunrise by Society-kun

Warning : typo etc, kesalahan dalam EYD, past-child abuse, drunkard, sensitive contents, if your mentality not really in good terms, please thinking again if you want read this, but this is not that hard don't worry

Author note:

I recommend you to read my fanfic Ellipsism first before you read this

.

.

.

Amato membuka rumahnya yang dingin. Sebenarnya, dia sudah terbiasa dengan hal seperti ini. Apalagi setelah Gempa memilih untuk lebih menghabiskan waktunya bekerja part time dan jarang di rumah saat Amato terbangun. Amato tahu kalau anak itu berusaha keras untuk menghindarinya apalagi saat keadaan mabuk untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Amato tahu anak itu pasti sangat membencinya.

Dia tertawa masam. Anak mana yang tidak membenci ayahnya yang pemabuk dan kasar? Yang bahkan main tangan serta melempar barang ke arah anaknya sendiri apalagi itu adalah botol minuman keras. Amato mengangkat botol itu saat ini dan menenggaknya dalam sekali tegukan besar.

Lihat saja dia sekarang. Bahkan setelah kematian Gempa, otaknya masih mencari botol minuman yang dia simpan di lemari pendingin. Yang di pintunya masih ada memo tulisan Gempa berisikan pesan-pesannya pada Amato. Entah sudah berapa lama tulisan itu menempel di kulkas usang itu.

Aku berangkat.

Aku masak, makanlah

Aku pulang malam

Aku beri uang yang kau minta kemarin, jangan dihabiskan sekaligus

Pesan-pesan itu, entah kapan mereka dimulai dan kapan berhenti dibuat. Tidak ada tanggal, kertasnya pun sudah hampir copot karena sudah sangat lama, tapi masih tertahan karena magnet kecil yang menempelkan mereka di sana.

Tangan Amato gemetar bergerak mengusap salah satu kertas. Warna mereka sudah memudar, tapi tulisannya masih terbaca jelas. Amato menggigit bibirnya yang terasa minuman keras. Dia menenggaknya lagi dengan ganas dan pergi dari dapur itu.

.

Amato tidak tahu bagaimana mulainya bencana ini. Apa yang membuatnya berubah pun dia tidak bisa mengingatnya lagi. Mungkin karena efek minuman keras yang membuat sel otaknya mati bersamaan dengan hati nurani.

Padahal dulu mereka keluarga bahagia. Padahal mereka dulu sangat dekat. Keluarga mereka hangat dan nyaman. Argumen memang kadang terjadi tapi Amato tidak ingat bagaimana mereka bisa berakhir sangat rusak seperti ini.

Ini salahnya.

Ini seluruhnya adalah salah Amato.

Dan Amato tahu itu dengan benar.

Bahkan saat istrinya memilih kabur meninggalkan dia dan Gempa, Amato tahu itu salahnya namun memilih untuk menyumpahi wanita itu. Wanita yang pernah dia cintai namun juga berakhir dia sakiti sampai memilih pergi padahal sudah berjanji sehidup semati.

Ini salahnya.

Itu seluruhnya adalah salah Amato.

Dan kini, Gempa menjadi korban. Anak mereka yang dulu mereka sayangi sepenuh jiwa raga namun berakhir tersia-siakan akibat keegoisan orang tuanya. Gempa mereka yang malang.

Amato menyadari kalau eksistensinya di dunia hanya bisa mengundang masalah bahkan bencana. Semua orang yang berhubungan dengannya pasti berakhir sial. Dia dulunya tidak ingin menyalahkan takdir namun semuanya pasti bermula dari kematian ibunya.

Ibunya yang juga meninggal karena kesalahannya.

Amato sekarang menyadari kalau dia adalah pembaca bencana.

Pertama ibunya, kedua istrinya, ketiga putranya.

Rumah ini penuh dengan kenangan. Baik dan buruk namun lebih dominan ke bagian buruknya. Bayangan demi bayangan dari Gempa terus bermunculan membuat Amato gila.

Rasanya sangat menyakitkan sampai dada Amato terasa akan meledak.

Amato duduk di depan televisi yang ruangnya sangat berantakan akibat pelampiasan emosinya. Wajahnya kusut akibat tangisnya yang dia rasa percuma juga.

Ternyata dia masih bisa menyesali perbuatannya. Ternyata dia memang masih menyayangi anaknya. Hanya saja dia sudah sangat terlambat.

Amato bangkit dari sofa bobroknya dan berjalan menuju sebuah ruangan.

Kamar Gempa.

Dia menatap pintu coklat itu cukup lama. Gagangnya lepas karena dulu dia menendang pintu itu untuk membangunkan Gempa yang sedang terbaring sakit dalam keadaan mabuk karena tidak ada makanan di rumah.

Padahal dia bisa membeli di luar. Padahal dia sudah mabuk dari luar tapi dia malah memarahi anaknya yang sedang sakit dan tidak sanggup memasak.

Sebenarnya, ayah macam apa dia itu?

Amato mendorong pintu tak terkunci itu dengan pelan.

Bau khas menyeruak dari kamar Gempa. Membuat Amato bertanya, apa seperti ini bau Gempa itu? Karena dia adalah ayah yang bodoh sampai tidak pernah berpapasan dengan normal lagi dengan anaknya sendiri. Dia tak pernah lagi menciumi bau Gempa seperti saat anak itu kecil dahulu. Seperti saat dia memandikannya atau mengajaknya mandi bersama dan mengusapkan sampo dengan harum strawberry ke rambut putranya. Dan hal itu selalu mengundang tawa Gempa kecil. Tawa yang selalu ampuh untuk mengobati lelah Amato sehabis bekerja.

Kamar Gempa hanya berisi satu lemari kecil, satu meja kecil, serta ranjang minimalis. Tak banyak perabotan milik Gempa. Pun tak banyak pakaiannya di lemarinya. Sehari-hari dia hanya memakai baju sekolah dan beberapa pasang baju untuk kerja dan pakaian santai. Baju yang sudah berapa tahun tidak dia tambah jumlahnya karena tidak punya uang. Karena memang Amato tak lagi memberinya uang saku. Karena Amato pikir anak itu tak membutuhkan lagi uangnya yang pasti busuk dan tak jelas asal-usulnya.

Karena Amato memang orang tua yang sangat buruk.

Amato melihat kamar itu sudah kosong dan rapi. Sepertinya, Gempa merapikan kamarnya sebelum pergi dari rumah. Anak itu sangat memperhatikan kerapian berkat ajaran ibunya saat kecil dulu. Mantan istrinya itu memang sangat pintar dan pandai dalam mengurus anak. Sudah pasti ajarannya membekas pada Gempa yang masih sangat menyayangi ibunya.

Amato mendudukkan dirinya di atas kasur Gempa. Terdiam merenungkan kesalahannya yang sangat mustahil ditebus dan diperbaiki karena terlambat.

Tangan kasar itu mengusap wajahnya sendiri dengan keras. Dia benar-benar gila akibat penyesalan. Dia butuh sesuatu untuk menghilangkan perasaan ini. Tapi dia sudah menghabiskan semua persediaan minuman kerasnya di kulkas. Amato menatap bantal di atas tempat tidur cukup lama. Dia harus keluar dari sini dan mencari minuman lagi agar kepalanya bisa terbebas dari penyesalannya yang tiada akhir.

.

.

.

Tempat itu adalah warung pinggir jalan langganannya baik saat masih bekerja maupun sudah pengangguran. Orang di sini sudah tidak peduli lagi bagaimana kelakuannya asalkan dia membayar. Amato menenggak minumannya entah sudah keberapa kali. Yang pasti sampai wajahnya memerah seluruhnya. Sampai kepalanya terantuk-antuk di meja. Dia meracau tidak karuan tapi tidak ada yang mendengar.

Biarlah. Biarkan. Amato tidak peduli juga. Pikirannya berkabut dan itu cukup menyenangkan. Tidak ada pikiran tentang Gempa. Tidak ada pikiran tentang dukanya. Dia akan di sini sampai dia tumbang dan dilempar keluar oleh suami si pemilik warung tenda itu. Sampai, mungkin sampai dia mati juga nantinya. Mungkin itu adalah akhir yang bagus untuknya yang sampah ini.

"...haarrghh... Gempa... ayahmu ini... hik... ayahmu ini masih hik... sayang... hik ugh, tapi kenapa... kau hik malah meninggalku..." Amato meracau kesana kemari secara tidak sadar. Dia sudah kesulitan membedakan mana yang nyata dan mana yang hanya halusinasi.

Air matanya kadang keluar dan membuatnya menangis sembari mabuk kepayang. Walaupun dia berusaha mengusir pikiran akan Gempa dengan mabuk namun dia tak bisa.

Grrkk

Amato mengangkat kepalanya dan melihat siapa yang berani duduk di depannya.

"Hik! Siapa... siapa kau-"

Pemuda? Pria itu tersenyum tipis. Wajahnya terlihat buram karena Amato sudah mabuk berat.

"Tidak baik jika Anda terus-terusan merusak diri Anda seperti ini, Tuan Amato." Kata pria(? Atau pemuda) itu sembari menarik gelas dari genggaman Amato yang lemas.

"Apa... hik apa maksudmu hah?! Memangnya... siapa hik! kau!"

Pria itu tersenyum lagi. "Saya turut berduka cita atas meninggalkan putra Anda."

"Heh! Diamlah! Hik! Kau bahkan... tidak tahu hik! apa-apa!"

Amato berniat mengambil botol minuman di meja dan minum lagi namun tangannya di tahan oleh pria tadi. Amato menggeram kesal.

"Apasih! hik! yang kau hik! mau?!"

"Saya tahu Anda sangat menyesal. Bagaimana kalau Saya memberi tahu Anda cara untuk menebus kesalahan Anda?"

Amato mengernyit curiga, namun pria berwajah buram yang tak dikenalnya itu berkata sangat aneh.

"Apa hik!... maksudmu?" Amato bertanya.

Pria itu tersenyum lagi sambil menepikan botol minuman keras dari meja "Saya akan memberi tahu Anda cara untuk memperbaiki kesalahan Anda. Tentu saja itu tidak gratis. Tapi Anda tidak perlu khawatir karena bayaran yang Saya minta bukanlah uang. Melainkan sesuatu yang lain."

Amato terdiam lama. Pria itu mengetukkan jari telunjuknya di atas meja untuk menarik perhatian Amato padanya.

"Bagaimana? Anda tertarik?"

Amato berfikir memang ada cara untuk menebus kesalahannya?

"Kalau Anda bertanya adakah cara untuk menebus kesalahan Anda, maka jawabannya iya. Maka dari itu Saya di sini sekarang. Nah, tinggal apakah Anda mau tidak untuk melakukan ini?"

"...apa hik! bayaran yang kau inginkan?"

Pria itu tersenyum cukup lebar. "Saya akan menganggap ini sebagai persetujuan. Dan bayaran yang saya inginkan adalah..."

Amato semakin mengernyitkan keningnya. Kalimat yang pria itu katakan padanya terasa semakin seperti mimpi dan tidak nyata.

Yang dia ingat adalah dia jatuh tertidur di atas meja warung setelah bicara dengan pria tadi.

.

.

.

Amato terbangun di sofa depan televisinya. Aneh. Seingatnya dia tak sadarkan diri di meja warung malam tadi. Bagaimana dia bisa di sini?

Kepalanya sangat sakit seperti sehabis dihantamkan ke tembok rumah dengan keras. Mungkin karena dia terlalu banyak minum di hari kematian Gempa.

Mungkin juga seperti hari-hari biasanya dia pulang sendiri dengan keadaan mabuk berat. Mungkin seperti itu, benar.

Ruang televisi sangat berantakan. Banyak botol-botol minuman kosong maupun berisi tergeletak di sana. Ruangan ini seperti kapal pecah. Hm, seingatnya tidak seburuk ini? Atau mungkin ingatannya ada yang bermasalah lagi?

Amato melamun cukup lama sampai sebuah suara pintu terbuka mengagetkannya. Pencuri?!

Dia berdiri dengan sempoyongan untuk melihat siapa yang membuka pintu yang terdengar dari dalam rumah. Pencurinya bertahan semalaman?! Di dalam rumahnya?!

Amato mengambil sebuah sapu yang tergeletak di sudut ruangan. Menggenggamnya erat jika terjadi serangan dadakan.

Sebuah suara gerakan membuatnya mengangkat sapu itu namun terhenti begitu saja saat melihat Gempa keluar dari kamarnya.

Gempa menatapnya aneh.

"Ada apa?" Tanyanya sembari melihat Amato lalu menoleh ke belakangnya dimana Amato melihat ke sana.

Amato menghela napas lega. "Tidak, kukira pencuri masuk ke rumah."

Gempa mengernyitkan keningnya, "Pencuri?"

"Iya. Sudah, pergilah sekolah, nanti terlambat." Kata Amato melambaikan tangannya, menyuruh melewatkan kerusuhan yang dia perbuat barusan.

Gempa mengangguk. Lalu dia berjalan melewati Amato menuju pintu depan.

...

Tunggu dulu.

Tunggu dulu!

Gempa?!

"Loh Gempa?!" Amato menoleh dengan kecepatan penuh sampai lehernya seperti mau patah. Tapi dia tidak peduli. Yang dia pedulikan sekarang adalah, keberadaan anaknya yang berdiri di ambang pintu dengan menatapnya tanya.

Loh?

LOH?!

.

.

.

Author note :

Eum... Halo? Saya... sebenarnya berniat untuk keluar pelan-pelan dari fandom ini, tapi hati ketjil moengil saya berkata harus menulis ini... Mungkin untuk terakhir? Mungkin juga tidak(?)

Kira-kira kalian pahamkan yang terjadi pada bapak toyib kita satu ini? Benar, jawabannya ada di chapter selanjutnya (semoga saja). Tapi, sebelum itu, saya akan minta maaf (atau tidak juga) pada penggemar yang menyukai Amato sebagai sosok ayah yang baik di canon nya. Saya sendiri tidak merasa demikian. Tapi tak usah memikirkan yang ada di canon karena ini adalah fanfic, cerita dari penggemar untuk penggemar lain yang berminat membaca.

Jadi, jika kalian membaca sampai akhir ini, saya berterima kasih. Apalagi telah membaca karya saya yang lalu di fandom ini walau setelah saya baca ulang pun nyatanya sangat tidak jelas.

Terima kasih.

Ttd, Society-kun