"Tante Mikoto? Mencari Ibu?"
Wanita yang dipanggil Mikoto itu tersenyum tipis dan mengangguk kecil. "Apa Ibumu ada?" tanya Mikoto pada Naruto. "Jika tak ada, Tante akan menitipkan ini padamu Naruto." Mikoto memberikan sebuah bingkisan pada Naruto.
"Ini?"
"Hanya sedikit oleh-oleh dari kampung halamanku kok."
"Ah, ya, terima kasih, akan aku berikan pada Ibu."
"Terima kasih Naruto, kalau begitu, Tante pergi dulu, sampai jumpa."
"Dah!"
Setelah pamit, Naruto masuk ke dalam kediamannya. Sebenarnya, sang ibu ada di dalam dan sedang membersihkan kamarnya yang ada di lantai dua, kebetulan Naruto ada di ruang tamu, dan dia yang menerima oleh-oleh tersebut.
Orang yang berinteraksi dengan Naruto barusan adalah Mikoto Uchiha, wanita yang telah ditinggal mati suami serta kedua anaknya, dia tinggal sendirian dan menjalani pekerjaannya membuka sebuah toko roti.
Setahu Naruto yang dia dengar dari sang Ibu, Mikoto adalah teman Ibunya saat masih dibangku sekolah menengah pertama, dia adalah sahabat sang ibu, dan sampai sekarang masih berhubungan baik. Naruto juga mengenal kedua anak Mikoto, walaupun saat ini sudah meninggal.
"Ibu, ada oleh-oleh dari Tante Mikoto."
Kushina yang baru saja turun pun mendengar perkataan Naruto barusan, dia berjalan mendekati putra semata wayangnya itu. "Ah, dia baru saja datang dari kampung halamannya." Pemuda itu memberikan oleh-oleh dari Mikoto pada Kushina, dia kemudian masuk ke dalam ruang tamu bersamaan dengan sang ibu. "Sepertinya enak."
"Ya, kau benar, aromanya bisa tercium." Keduanya pun menikmati oleh-oleh dari kampung halamannya Mikoto.
Naruto sendiri sangat menikmati jajanan tersebut, namun kegiatan makannya itu terganggu akibat suara ponselnya.
Dia membaca sebuah chat dari seseorang, pemuda itu tersenyum tipis melihatnya. Di dalam ponsel Naruto, dia menyewa seorang wanita untuk menemaninya setelah dirinya putus dari seorang wanita.
Umurnya sudah seperempat abad, dan dia ingin segera punya wanita walaupun harus menyewa jasa.
"Bu aku akan keluar bersama teman-teman."
Naruto pun beranjak ke kamarnya untuk mengganti pakaian, dia pun turun dari lantai dua dan kembali berpamitan dengan Kushina.
Wanita itu hanya diam tak mengatakan apapun setelah Naruto pergi dari rumah, dia menghela napas pasrah setelah dia ditinggal oleh putranya.
"Sebaiknya aku tidur saja."
...
..
.
Disclaimer: Naruto by Masashi Kishimoto.
Warning: OOC, AU, Typo, Lemon, Smut, Lime, Porn without plot.
Pairing: Naruto x Mikoto
...
..
.
Rental.
Enjoy it.
Naruto memberikan nama tempat untuk mereka bertemu, dia lebih memilih untuk ke sebuah restoran keluarg yang tak jauh dari rumahnya. Naruto datang sendirian ke tempat itu, dan menunggu wanita itu datang.
Lima belas menit berlalu, dia menghabiskan satu gelas jus jeruk serta terus saja memeriksa ponselnya. Namun, dia dikejutkan dengan seorang wanita yang memanggil namanya.
"Naruto?"
Naruto sontak menoleh kebelakang, dia melihat sosok yang sangat dia kenal sampai sekarang. "Tante Mikoto?"
"Tumben aku melihatmu disini, ada apa?"
"Aku sedang menunggu seseorang disini, lalu Tante kenapa ada disini?"
"Sama sih sedang menunggu seseorang." Wanita itu pun kembali menatap ponsel pintarnya, dia mengirimkan pesan pada orang yang dia tunggu.
Namun, ponsel Naruto malah berbunyi, dia mendandakan bahwa dia mendapat sebuah pesan. Naruto melihat layar ponselnya, membawa pesan dari atas hingga bawah, namun dia mengerutkan dahinya saat Naruto menyadari suatu hal yang janggal. Dia menatap Mikoto yang masih menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari orang yang dimaksud.
"Tante... Maksudku, Mikocchi?"
Mikoto langsung menoleh menatap Naruto, dia terkejut dengan sebuah panggilan yang terlontar dari mulut Naruto. Dengan segera dia menatap ponselnya dan mencoba untuk menghubungi orang yang dia maksud.
Ponsel Naruto langsung beredar saat itu juga setelah Mikoto menelpon yang dia maksud. Wanita itu langsung duduk di hadapan Naruto, wajah cantiknya merona seketika saat dia terus di tatap oleh putra sahabatnya itu.
Suasana hening tercipta, hingga seorang pelayan mengintrupsi mereka. Keduanya terkejut, kemudian memesan beberapa makanan.
Dan suasana hening kembali tercipta di antara keduanya.
Sungguh, suasana itu sangat canggung bagi keduanya. Mikoto tak berani menatap Naruto, begitu juga sebaliknya.
"Um, Naruto. Tolong jangan beritahu ibumu, ini pertama kalinya bagi Tante."
"U-um, ya a-aku tak akan mengatakannya."
Dan suasana kembali hening, keduanya pun mulai makan siang di restoran keluarga itu. Tak ada satupun yang mengeluarkan suara setelah Mikoto melarang Naruto memberitahu ibunya.
""Jadi...""
"Kau duluan Tante."
Mikoto menggigit bibir bawahnya, dia meletakkan alat makannya. "Ja-jadi, bagaimana sekarang?"
"Mu-mungkin kita harus menjalankan ini."
Kedua mata Mikoto membola sempurna, dia baru ingat akan suatu hal. Dia dengan cepat mengambil ponsel pintarnya, kemudian mengecek sesuatu. Wajahnya langsung membiru setelah melihat apa yang dia berikan saat kencan nanti.
"Se-sebaiknya kita batalkan saja?"
"Eh, ada apa?" Naruto melihat rona merah yang menutupi kedua pipi putih Mikoto. Dia mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. "Memangnya ada apa Tante?"
"Ba-baca saja!"
Naruto segera mengambil ponselnya sendiri, dia membaca keterangan apa yang akan diberikan Mikoto setelah kencan berlangsung. Wajah Naruto malah merona saat membacanya, dia menatap Mikoto dan layar ponselnya secara bergantian, seolah berkata 'kau serius?!'
Mikoto mengangguk kecil. "Se-seriusan?! Maksudku, apa Tante mau memberikan tubuhnya pada orang yang menyewa jasamu?"
Naruto berkata dengan nada yang pelan, dia tak ingin pengunjung lain mendengarnya. Anggukan kecil Naruto dapatkan dari Mikoto, tubuhnya langsung lemas seolah tak punya tenaga sama sekali.
Mikoto tak langsung menjawabnya, dia melanjutkan acara makannya serta menghabiskan makan siangnya.
Begitu juga dengan Naruto yang menghabiskan semua makanan yang dia pesan, dia kemudian menatap Mikoto yang tengah diam menunduk dengan wajahnya yang sudah merah.
"Jadi Tante, bagaimana kelanjutannya? Apakah kita akan melanjutkan ini, atau membatalkan ini?"
"Ku-kita lanjutkansaja, Tante akan membayar hotelnya nanti."
Naruto mengangguk, dia sebenarnya ingin membatalkan kencan ini, namun Mikoto tak ingin membatalkannya, serta dia berkomitmen untuk melanjutkan kencan ini hingga selesai.
Keduanya pun beranjak dari restoran itu untuk jalan-jalan sebentar di sekitar mall serta tempat-tempat lainnya, sampai pada akhirnya mereka sampai di sebuah hotel yang sudah Mikoto pesan.
Di dalam kamar hotel, suasana canggung masih menyelimuti mereka berdua, Mikoto duduk di pinggiran kasur dengan handuk putih yang menutupi tubuh telanjangnya. Sementara Naruto duduk di sebelah Mikoto dengan wajah merah merona.
"Ja-jadi Tante..."
"Ba-bagaimana ya."
Naruto sendiri tengah menahan penisnya yang sudah ereksi setelah melihat Mikoto yang hanya memakai handuk putih saja. Dia meneguk ludahnya kasar, lalu melihat ke samping melalui ekor matanya, dia bisa melihat tubuh putih yang seksi itu, kedua paha Mikoto yang bisa dibilang tebal itu, lalu payudara perempuan tersebut yang seolah ingin menyembul dari balik handuk itu.
Naruto benar-benar tak tahan sekarang untuk menyetubuhi Mikoto, namun dia masih sadar karena Mikoto adalah sahabat Ibunya, dan dia tak bisa melakukannya sekarang.
Mikoto pun mulai bertindak, dia berdiri di depan Naruto, membuat pemuda itu menatap dirinya. Wanita itu kemudian jongkok di depan Naruto, dia menarik resleting celana pemuda itu.
"Tante... Jangan..."
Mikoto hanya diam, dia menurunkan celana panjang Naruto hingga penis itu keluar. Wajah Mikoto merona tertegun, dia terdiam untuk beberapa saat setelah penis Naruto keluar dari celananya.
Wanita itu mulai menggenggam benda besar itu, dia merasakan betapa keras benda milik Naruto. Berbeda dengan milik mendiang suaminya dulu, Mikoto meneguk ludahnya kasar, dia menggerakkan tangannya naik turun. Mikoto mendongak menatap Naruto yang saat ini tengah memenjamkan kedua matanya, dia pun kembali fokus dengan penis Naruto, wanita itu membuka mulutnya serta menjulurkan lidahnya.
Mikoto memberikan salivanya untuk membasahi penis milik putra sahabatnya itu, tangannya kembali bergerak naik turun, kali ini dengan tempo yang dipercepat. Tubuh Naruto menegang saat itu juga setelah Mikoto memberikan salivanya.
"Tan..."
Wanita itu membuka mulutnya kembali, kemudian memasukkan penis ereksi Naruto ke dalam mulutnya. Dia memberikan sebuah blowjob pada pemuda itu, tangan kanannya yang semula mengocok penis Naruto, berpindah ke bawah untuk memainkan buah zakar Naruto.
Naruto benar-benar dibuat tak karuan saat ini, dia membuka sebelah matanya dan melihat Mikoto yang tengah memberikan blowjob padanya. Perlakuan Mikoto tak sampai disitu saja, wanita itu membuka handuk besar itu, dan melemparkannya ke segala arah. Mikoto benar-benar telanjang bulat sekarang, dia kembali melakukan sesuatu yang tak disangka oleh Naruto.
Mikoto mengapit penis ereksi Naruto di antara belahan dadanya, dia juga memberikan salivanya di sela-sela payudaranya yang menggiurkan itu, membuatnya menjadi licin.
Naruto menggigit bibir bawahnya merasakan benda empuk itu mengapit penisnya, Mikoto sendiri menggerakkannya naik turun, wanita itu bisa melihat cairan pre-cum Naruto yang keluar, dia sendiri menjulurkan lidahnya dan menjilati kepala penis Naruto sembari payudaranya bergerak naik turun.
Naruto kembali membuka sebelah matanya, kedua matanya tertuju pada puting susu Mikoto yang sudah ereksi. Kedua tangannya mulai bergerak, dan mengangkat tubuh mungil tersebut.
Mikoto sontak terkejut saat Naruto mengangkat tubuhnya, dia di dudukkan di atas kedua pahanya.
Naruto mendongak ke atas menatap Mikoto, pandangannya turun ke kedua payudara lezat itu. Naruto meremas keduanya dengan lembut, desahan nikmat pun keluar dari mulut Mikoto saat Naruto meremasnya.
Tangan Mikoto meremas kepala pirang Naruto, dia mendongak ke atas saat lidah Naruto mulai bergerilya di area puting susunya, tubuh Mikoto bergetar kencang saat vaginanya mengeluarkan cairan klimaksnya yang pertama. Cairan itu membasahi kedua paha Naruto.
Entah sudah berapa lama Mikoto tak merasakan klimaks yang begitu nikmat itu. "Tante? Aku belum selesai, tapi Tante sudah keluar?"
"U-um, Tan-tante sudah lama tak merasakan ini, jadi..." Tubuh Mikoto sudah lemas, dan jatuh di pelukan Naruto. Wanita itu menghirup napas sebanyak mungkin, dia tersenyum di dalam pelukan Naruto. "Sudah berapa tahun sejak ditinggal Fugaku, uhhh, tapi dibagian bawah ini terus menyentuh vaginaku."
"Tante, bagaimana? Apa kita akan langsung melakukan hal itu?"
Mikoto menarik dirinya, dia menatap Naruto yang seolah sedang kebingungan. Dia pun tersenyum kecil, kemudian salah satu tangannya mulai mengarahkan penis ereksi Naruto untuk masuk ke dalam vaginanya. Mikoto mendorong pinggulnya turun ke bawah, dia menggigit bibir bawahnya untuk meredam desahan nikmat yang akan keluar dari mulutnya.
Naruto sendiri merasakan penisnya sesak di dalam vagina Mikoto, dia mengulurkan kedua tangannya ke pantat sintal Mikoto dan memeluknya.
"Uhh, Tante..."
Naruto juga bisa melihat kedua puting susu Mikoto yang sudah ereksi karena tubuhnya yang sudah sangat terangsang akibat penis Naruto. Wanita itu terus menurunkan pinggulnya hingga semua batang kemaluan Naruto masuk, Mikoto bernapas lega setelah penis itu masuk ke dalam tubuhnya.
Namun, rasa sesak terasa olehnya karena ukuran dari penis itu bisa dibilang lebih besar dari milik mendiang suaminya, Mikoto mengatur napasnya yang agak sesak itu.
Dia pun mulai menggerakkan pinggulnya naik turun dengan tempo pelan, gesekan antara dinding vagina serta penis Naruto pun di rasa oleh Mikoto, dia kembali menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa nikmat yang dirasakannya. Kedua tangan Mikoto berpegangan pada bahu lebar Naruto, dia meremasnya pelan sembari terus menggerakkan pinggulnya.
Penis itu keluar masuk di dalam vaginanya, darahnya berdesir hebat saat dia menambah tempo gerakan pinggulnya, napasnya begitu memburu, keringat mulai membanjiri seluruh tubuhnya.
Naruto sendiri tak bergerak, dia membiarkan Mikoto melakukan apa yang di inginkannya. Dia hanya menggenggam kedua pantat sintal itu, dia meremasnya pelan sembari ikut menggerakkannya naik turun.
Kedua mata birunya menatap payudara Mikoto yang memantul naik turun sejalan dengan pergerakan tubuhnya. Naruto tak mau kedua benda lezat itu mengganggur, kedua tangannya mulai bergerilya di area dada Mikoto. Dia meremasnya dengan gemas karena terus saja memantul.
"Ahhhh!"
Desahan Mikoto pun keluar, sebuah desahan nikmat yang dia keluarkan setelah sekian lama dirinya tak bersetubuh. Mikoto menikmati tiap inchi dari penis Naruto, serta kedua payudaranya yang di remas oleh putra sahabatnya itu.
"Naruto .. ahhh, Naruto..."
Mikoto terus mendesah memanggil nama Naruto, penis Naruto sendiri berkedut tanda dia akan keluar sebentar lagi, sementara dinding vagina Mikoto mulai merapat seiring dengan dirinya yang menambah tempo gerakan pinggulnya.
"Tante keluar!"
"A-aku juga!"
Mikoto pun menenggelamkan penis Naruto dalam-dalam, dia klimaks untuk kedua kalinya bersamaan dengan Naruto yang mengeluarkan sperma hangatnya di dalam vagina miliknya.
Mikoto mendesah kencang saat itu, dia sangat senang karena bisa bersetubuh lagi setelah sekian lama.
Beberapa saat kemudian. "Naruto... Setelah ini, Tante akan menjadikanmu suami, dan Tante akan keluar dari pekerjaan ini."
"Eh?! Ap-apa?!"
Mikoto mengedipkan sebelah matanya pada Naruto. "Mohon bantuannya, suamiku."
...
..
...
End!
...
..
Kushina duduk di sofa tunggal, dia menatap Mikoto dan Naruto yang sedang duduk bersebelahan. "Tak usah menunggu ayahmu Naruto, mungkin Ibu akan memutuskannya."
Mikoto dan Naruto berkeringat dingin saat mereka meminta restu dari Kushina.
"Baiklah, Ibu akan menyetujui pernikahan kalian berdua." Kedua sejoli itu pun tersenyum senang karena Kushina memberikan lampu hijau kepada keduanya. "Tapi..."
Kushina sendiri melempar sebuah benda ke atas meja, benda itu Naruto dan Mikoto identifikasi adalah sebuah testpack.
"Garis dua? Ibu, kau hamil?"
"Wah, Kushina, kau hamil, selamat ya!"
"Terima kasih." Kushina kemudian beranjak dari tempat duduk, dan mulai duduk manja di atas paha Naruto. "Tapi ayahnya adalah dia." Kushina mengelus penis Naruto serta wajah pemuda itu.
Wajah Naruto pucat pasi setelah mendengar berita itu, sementara Mikoto langsung lemas di tempat.
