...
Halloo aku kembali
Ini fic masih pemanasan, doain semoga aku rajin nulis kikasa karena kapal ini tuh uwuwuwuwuwwwwwuuu bangettttttt
Oke deh bacotnya
Disclaimer tadatoshi fujimaki-sensei!
Enjoy!
…..
Jalanan besar di depan gerbang SMA kaijo pagi ini terlihat senggang. Mobil yang biasanya berlalu lalang sekarang hanya tersisa kendaraan kecil seperti sepeda dan skuter. Wajar saja, di hari Minggu pagi tepat pukul 5.30 belum banyak orang yang rela bangkit dari ranjang mereka. Namun lain halnya dengan anggota basket SMA kaijo, mereka sudah bersiap di pinggir jalan menunggu mobil bak besar yang akan mengantarkan mereka menuju tempat latihan.
Kasamatsu dengan ransel biru di punggung sedang sibuk menempelkan ponsel pintarnya ke telinga. Bibirnya yang tipis ia gigit hingga sedikit mengkerut. Matanya dari kejauhan bisa melihat sebuah mobil bak besar yang disewanya dari sang paman perlahan mendekat. Dengan lidah berdecak, kasamatsu menggerutu, "bisa-bisanya anak itu terlambat!"
Moriyama yang sedang membetulkan tali sepatunya mendongak ke arah kasamatsu. Kapten basket kaijo itu sudah menyilang kan lengannya di depan dada. Alisnya meruncing ke dalam. Nampaknya dia kesal sekali. "Semalam dia sudah izin datang terlambat, apa kau tidak membaca pesannya dengan baik?" Tanya moriyama.
"Aku memberinya kompensasi keterlambatan selama 30 menit. Harusnya itu sudah cukup!" Kasamatsu berdecak lagi.
Mobil bak berwarna hitam itu kini telah berhenti tepat di depan gerbang masuk SMA kaijo. Seorang pria paruh baya keluar dan menghampiri kasamatsu. "Sudah siap semuanya?" Tanyanya.
Kasamatsu menggeleng.
"Baiklah, suruh yang lain bersiap. Letakkan barang-barang di mobil. Paman tunggu," ucap pria itu lalu beranjak pergi.
"Biarkan saja, nanti juga dia akan datang sendiri," moriyama menepuk bahu kasamatsu kemudian pergi untuk meletakkan barang-barangnya di mobil.
"Kise... " Kasamatsu mengecek ponselnya. Belum ada balasan dari semua spam chat yang ia kirim kepada Kise, Ace kaijo itu.
Kerutan di dahi kasamatsu semakin dalam, rasanya dia bisa memukul Kise dengan keras jika saja pemuda itu muncul di depannya. Dan benar sana, sebelum pamannya menyalahkan mensin mobil, seorang pemuda pirang berlari melesat di atas terotoar.
Kise dengan tas slempang di bahunya berlari hingga Surai pirangnya mulai acak-acakan. Dia menumpu tangannya di lutut ketika sampai di tempat kasamatsu berdiri. Nafasnya terengah-engah. Baru saja Kise akan mulai bicara, kasamatsu langsung menonjok perutnya.
"Aarrghh! Senpai!" Kise mengerang sambil mengusap perutnya. "Tidak bisakah kau lebih lembut kepadaku?" Renggeknya.
"Karena aku terlalu lembut lah yang membuatmu bertindak semaunya!" Kasamatsu berkacak pinggang. "Cepat naik, sebelum kita ditinggal!"
Kasamatsu berjalan duluan, dan Kise menggekorinya di belakang.
Saat mereka sudah tiba di dekat mobil, kondisi mobil sudah penuh sesak, hanya tersisa sebagian kecil tempat untuk duduk dan itu hanya cukup untuk satu orang.
Kasamatsu mengernyitkan alisnya, "kursi di depan-"
"Sudah penuh, Hayakawa dan 2 orang lainnya sudah duduk berdesakan di sana," ucap moriyama sebelum kasamatsu menandaskan kalimatnya, "lagi pula, mengapa kau menyewa mobil sekecil ini?"
Kasamatsu hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Pandangannya dia alihkan pada Kise yang sedari tadi masih berdiri di sebelahnya. Pemuda itu terlihat masih mengelus perutnya, hal itu membuat kasamatsu penasaran. Apa pukulannya sesakit itu?
"Kise, kau duduk di sana!" Perintah Kasamatsu sambil menunjuk tempat kosong di dekat moriyama duduk.
"Tapi, sempai duduk di mana?" Kise menautkan alisnya tanda ia tidak setuju dengan keputusan Kasamatsu.
"Aku akan mencari kendaraan lain-"
"Tunggu senpai!" Kise menyela. "Kita harus berangkat bersama dan untuk masalah ini kau bisa duduk di pangkuan-"
'Pletakk!'
Kasamatsu menjitak kepala Kise karena ide bodohnya.
"Senpai ..." Kise memasang raut wajah sedih sambil mengusap puncak kepalanya.
"Hei, kalian cepatlah! Aku tidak dibayar untuk menunggu kalian selesai berdebat!" Teriakan sang paman membuat perempatan kecil muncul di dahi kasamatsu.
Dengan geram dia membalas, "baiklah!"
Kasamatsu mendorong tubuh Kise menuju mobil, dia memaksa pemuda itu duduk, selanjutnya, hal ini lah yang belum ia putuskan.
"Sudahlah, apa salahnya duduk di atas pangkuan Kise?" Moriyama melirik ke arah Kise yang masih mengusap-usap kepalanya. "Kise, tentu saja kau tidak keberatan, kan?"
"A-ah, itu..." Kise melirik Kasamatsu sebentar, "iya asal senpai setuju."
"Kasamatsu-senpai! Kau bisa duduk di pangkuanku jika mau!" Salah seorang anggota berteriak, dia menepuk pahanya sebagai tanda mempersilahkan Kasamatsu untuk duduk.
"Hah?! Tidak bisa, aku yang lebih dulu mengajak senpai!" Kise mulai protes, dia menarik lengan Kasamatsu dan memaksanya duduk di atas pahanya.
"Kise-!"
"Senpai tenanglah, sebentar lagi mobilnya akan berjalan, jika kau tetap berdiri seperti tadi, akan bahaya." Kise melingkar kan tangannya di pinggang Kasamatsu tepat ketika mobil mulai melaju menuju bukit tempat mereka latihan nanti.
Kasamatsu yang merasakan lengan Kise di pinggangnya segera ingin menyiku perut Kise, namun tindakan itu ia batalkan karena bahunya terasa dibebani sesuatu. Kepala Kise bersender di bahunya, membuat Kasamatsu bisa merasakan helaan nafas Kise di lehernya.
"Senpai, ngantuk sekali..."
Kasamatsu menoleh ke samping, ujung rambut Kise menyentuh wajahnya, memberikan sensasi menggelitik terutama di ujung hidungnya.
"Kau tidak lihat, sejak awal dia datang wajahnya terlihat kelelahan. Menjadi model, aktor, dan atlet secara bersamaan memang melelahkan," ucap moriyama sebelum Kasamatsu mengganti antensinya ke arah sahabatnya itu.
"Iya aku tau."
