Naruto x Seishun Buta Yarou wa Bunny Girl Senpai no Yume wo Minai

Disclaimer : Masashi Kishimoto and Hajime Kamoshida

Mai and Sakuta as parents, Naruto as son.

(Fic Request by Ari Putra Bakati)


Sakurajima Mai adalah seorang aktris terkenal di negara Jepang. wanita karir itu masih terlihat muda meski usianya hampir mencapai kepala tiga, selain itu kecantikan alaminya tak luntur meski sudah memiliki seorang anak.

hari ini merupakan jadwal iklan shooting Mai, akhir-akhir ini dia sering mendapat jadwal shooting cukup padat. meski begitu, Mai menjalaninya dengan senang hati, terlebih lagi putra tunggalnya setia menemaninya di sela-sela pekerjaannya.

Mai kembali mobilnya bermerk Toyota Alphard itu setelah di beri istirahat sejenak. tatapan Mai melunak melihat putranya berumur 5 tahun itu tertidur di dalam mobil.

tangan Mai terulur mengusap surai coklat mirip suaminya, Azusagawa Sakuta. karena gerakan kecil itu membuat putranya menggeliat pelan sebelum terbangun.

matanya terbuka memperlihatkan lensa warna biru keunguan yang mirip dengannya. Mai tersenyum.

"selamat siang, ibu" anak itu mengusap matanya agar menyesuaikan keadaan sekitar.

"selamat siang, Naruto. apa tidurmu nyenyak?" Mai bertanya pada putra kecilnya. Naruto menguap sebelum menjawab pertanyaan ibunya.

"tidak senyenyak kasurku" Naruto cemberut pelan, "bolehkah aku memeluk ibu?" tanyanya dengan riang.

"sejak kapan ibu melarang mu?" Naruto tersenyum senang sebelum melompat di dalam pelukan Mai. menyandarkan tubuh kecilnya di dada Mai.

Mai senang jika anaknya sudah dalam mode manja seperti ini, rasanya dia tidak ingin putranya cepat-cepat besar dan di ambil oleh seorang gadis. memikirkannya membuat hati Mai menjadi tak karuan.

para penggemar dan publik tidak tau sifat Mai seperti apa terhadap putranya, terhadap keluarganya. dia bertindak posesif dan protektif pada putranya kadang-kadang.

"aku tidak boleh lagi terlalu sering manja pada ibu. aku akan mendapatkan seorang adik" ujar Naruto dengan polosnya.

alis Mai berkedut pelan mendengar ucapan putranya.

"siapa yang mengatakan itu padamu?" Mai berusaha tersenyum di hadapan putranya.

Naruto mendongakkan kepalanya menatap Mai.

"kata ayah" kedutan di alis Mai bertambah. Naruto sepertinya tidak paham dengan suasana hati ibunya

"kata ayah juga, aku tidak boleh menganggu jika ibu dan ayah ketika dirumah. jadi malam ini aku ingin menginap di tempatnya bibi Nodoka" ujar Naruto senang. dia ingin menginap di tempat Nodoka, adik tiri ibunya.

Mai tersenyum lembut, dia mengusap pelipis Naruto. dengan hati yang jengkel meski berusaha terlihat manis di hadapan putranya.

"siapa bilang kalau Naruto tidak boleh manja pada ibu. kapanpun Naruto mau, bisa kok. ayahmu hanya bercanda" Mai berusaha kembali meluruskan pemikiran putranya agar tidak terhasut oleh pikiran suaminya. Mai mendekap Naruto agar bisa memeluk putranya lebih erat lagi. "jadi Naruto tetap sama ibu, bibi Nodoka tidak ada di rumah. dia lagi keluar kota" lanjutnya lagi.

Naruto mengangguk-angguk tanda paham.

"okedeh ibu" Mai tersenyum manis, "kalau begitu aku ke tempat bibi Kaede saja" senyum Mai luntur.

"tidak boleh"

yah, Mai berusaha menahan putranya agar tidak menginap di tempat bibinya, sifat posesifnya mulai kambuh. dan sepertinya seseorang akan mendapat hukuman setelah ini.

-o0o-

"kami pulang" Naruto berlari dengan penuh semangat masuk ke dalam rumahnya, dia mencari pria dewasa yang mirip dengannya.

"halo, boy, apa kabar?" Sakuta mendengar teriakan putrnya dari arah pintu masuk. dia dengan cepat menghampirinya.

"ayah, ayah, lihat!" Naruto mengeluarkan sebuah kotak pensil bewarna dari tasnya dan memperlihatkannya pada Sakuta. "ibu membelikanku pensil dengan warna lengkap" ucapnya senang.

Sakuta mengusap rambut Naruto, "aku menunggu gambarmu selanjutnya" ujarnya. Naruto mengangguk senang.

tatapan Sakuta beralih pada Mai yang berdiri di belakang Naruto. tiba-tiba bulu kuduknya meremang, punggungnya terasa ngilu melihat tatapan Mai.

"ano, Mai-san..."

"Naruto-kun, bisakah kamu masuk ke kamar, ibu ingin mengatakan sesuatu pada ayahmu" Mai menatap putranya yang terlihat bingung. tapi Naruto mengerti, dia ingat dengan perkataan ayahnya.

"ah, aku tidak akan menganggu ayah dan ibu. aku akan punya seorang adik" ujar Naruto dengan polosnya.

Sakuta mendadak panik, apalagi aura gelap berasal dari Mai terasa menyengat.

"Naruto, berhenti mengatakan itu..." Sakuta menatap putranya agar tidak mengatakan kalimat yang semakin membuat istrinya marah.

Naruto memiringkan kepalanya, dia mengarahkan jari telunjuknya di bibir.

"kan, ayah bilang padaku" wajah Naruto tiba-tiba berubah menjadi semangat, "ah, ayah bilang aku tidak boleh ributkan" Naruto mengambil tasnya sebelum berlari masuk ke dalam kamarnya.

Naruto kembali berbalik menatap orang tuanya ketika hendak menutup pintu.

"aku akan mendengar suara musik yang keras ayah dan aku tidak akan menganggu" Naruto menutup pintunya. meninggalkan Sakuta yang ketakutan karena perkataannya barusan. apalagi Mai mendengar semuanya.

"Sakuta..." dengan gerakan patah-patah, Sakuta berbalik menatap Mai yang di kelilingi aura hitam. wajahnya menggelap.

Sakuta melambaikan tangannya di hadapan Mai, "Mai-san, dengar. jangan marah!" ujar Sakuta panik

Mai mengabaikannya.

"apa yang kamu katakan pada putraku"

Sakuta merasa hidupnya tidak lagi aman. semenjak Naruto membeberkan rahasia kecil diantara mereka. Mai terlihat menakutkan.

"sumimasen"

suara teriakan penyesalan terdengar di kediaman Azusagawa.

.

.

.

"ayah, ayah" panggil Naruto di sela-sela makan malam mereka.

keluarga kecil Azusagawa sedang makan malam bersama seperti biasa. ini dilakukan agar putra kecil mereka tidak merasa kesepian atau di abaikan, di tengah kesibukan mereka.

"kenapa?" Sakuta meletakkan sumpitnya diatas mangkok nasinya yang sudah habis. dia menatap putranya dengan tatapan khasnya.

"aku mau ke aquarium" cetus Naruto senang. dia melebarkan tangannya. matanya berbinar cerah.

"aquarium?"

"hum! aku ingin melihat ikan besar, ayah"

Sakuta tertawa melihat Naruto memperagakan ikan besar dengan tangan kecilnya.

"maksudmu ikan paus atau ikan hiu?" Sakuta bertanya dengan nada geli. Naruto berpikir sejenak, sebelum menatap Mai.

"ibu yang mana lebih besar, ikan hiu atau ikan paus?" tanyanya dengan polos.

Mai tersenyum, "ikan paus" jawabnya

Naruto kembali menatap Sakuta.

"ikan paus, ayah" Naruto meneruskan jawaban Mai.

Sakuta tertawa, dia mengacak rambut Naruto gemas. membuat sang empunya cemberut tak suka. Naruto meraih tangan Sakuta dari kepalanya.

"ayah!"

"baiklah, baiklah. ayah janji akan ajak kamu ke aquarium"

wajah cemberut Naruto berubah dalam mode senang, dia mendekati ayahnya.

"benarkah?"

"tentu saja"

"yeayyyy" Naruto melompat senang, sebelum Mai menyuruhnya untuk duduk agar menyelesaikan makan malamnya. Naruto tak protes.

"tapi..." Mai menyela sedikit, Naruto menatap ibunya.

"tapi apa ibu?" beo Naruto

Mai tidak langsung menjawab, dia melirik Sakuta yang menganggukkan kepalanya seakan menyetujui apa yang di maksud Mai.

Naruto menatap Mai dengan tatapan khasnya, membuat Mai sedikit tidak tega pada putranya.

"...tapi ayah dan ibu tidak bisa membawa mu ke aquarium besok" ujar Mai dengan berat hati, dia berbicara lembut agar tidak mengecewakan anaknya.

namun, sayangnya wajah semangat itu sudah menghilang di ganti dengan wajah sayunya.

"kenapa ibu? apa aquariumnya tutup?" yah, Naruto berpikiran positif, karena pikirannya yang masih polos.

lagi-lagi Mai melirik Sakuta yang hanya diam dan menganggukkan kepalanya. Mai menggigit bibir bawahnya menahan sesuatu yang tak enak di hatinya.

Mai mendekat kearah Naruto dan mendudukannya di atas pangkuannya, dengan lembut Mai mengusap rambut putranya.

"besok, ayah sama ibu antar kamu ke rumah nenek. karena ayah sama ibu mau ke Hokkaido buat bekerja, yah" Mai menjelaskannya dengan lembut dan penuh kasih berharap putranya mengerti.

mendengar itu, Naruto berdiri dan menatap ibunya.

"eh, tapi kan ayah dan ibu baru kembali dari Nagano tiga hari yang lalu. apa ayah dan ibu tidak lelah" ujar Naruto terdengar seperti sedang marah.

bocah kecil itu lebih memikirkan kesehatan orang tuanya, yang sering bepergian keluar kota karena tuntutan pekerjaan.

itulah mengapa, Mai lebih memperhatikan putranya. dia dan Sakuta hanya memiliki waktu sedikit untuk si kecil. karena jadwal pekerjaannya yang padat, membuat waktu 'bersama keluarga' mereka menjadi kurang. beberapa tahun ini mungkin kenangan mereka hanya sedikit.

"sayang..." Mai menarik Naruto agar duduk lagi di pangkuannya, tak lupa dia mendekap dan mengusap lembut kepalanya. "...ayah dan ibu tidak apa-apa, okey. ayah dan ibu bekerja untuk kamu. biar kamu bisa beli buku gambar lagi, bisa ke aquarium, bisa jalan-jalan" jelasnya panjang lebar dengan lembut.

Naruto mendongak menatap Mai, "kalau begitu aku tidak minta buku gambar lagi" ujarnya, lalu matanya beralih pada Sakuta, "aku tidak ingin ke aquarium" ucapnya pada Sakuta.

"eh!" Mai terkejut karena Naruto menangkap maksud lain dari ucapannya. putranya sepertinya salah paham.

Naruto kembali berdiri di hadapan orang tuanya.

"aku ingin jadi anak baik. aku tidak ingin menyusahkan ayah dan ibu lagi" nada polosnya tidak sesuai dengan ucapan seriusnya.

entah kenapa Sakuta merasa bangga mendengar putranya, sementara Mai merasa sedih.

"putraku, bukan seperti itu maksud ibumu" Sakuta ikut bicara, dia menatap Naruto dengan senyum ke-bapak-an-nya. "ayah dan ibu bekerja karena itu sudah tugas kami. tidak ada yang melarang kamu untuk berhenti meminta sesuatu yang membuat mu senang. selama kamu senang, kami juga ikut senang" lanjutnya lagi. dia meraih tubuh Naruto dan mendudukannya di atas pangkuannya.

"dan kamu sudah menjadi anak yang baik, ayah dan ibu bangga sama kamu" Sakuta memegang pundak kecil putranya.

"benarkah?"

"tentu saja, putra ibu anak yang pintar"

meski di hujami pujian, Naruto tidak merasa senang, dia semakin sedih karena orang tuanya.

–o0o–

"Naruto, ingat, jangan lupa perhatikan makanmu, tetaplah bersama nenek, ibu akan pulang empat hari lagi. mengerti?" Mai memberikan petuah pada putranya sebelum berangkat ke bandara menuju Hokkaido.

Naruto sudah sering mendengar kalimat itu tetapi tetap mengangguk.

"mengerti ibu" Mai tersenyum, dia memeluk Naruto dan menciumnya. kali ini dia merasa berat meninggalkan putranya. tapi dia juga tidak mungkin membawanya bersamanya.

"pergilah, Mai. pesawatmu sebentar lagi berangkat" ibu Mai, kini mengambil Naruto dalam genggamannya.

Mai mengangguk, dia melambaikan tangannya dan masuk ke dalam mobil meninggalkan pekarangan rumah ibunya.

Naruto menatap mobil yang membawa ayah dan ibunya. dia memberikan tatapan sendu.

"ayo masuk Naruto" ibu Mai mengajak cucunya masuk.

Naruto menatap neneknya, "nenek, aku mau coklat buatan nenek"

ibu Mai hanya tersenyum, "tentu saja sayang. nenek akan membuatkannya yang banyak untukmu" dia mengerti cucunya sedang sedih karena ditinggal pergi. sebisa mungkin dia menghiburnya.

"yeay, terima kasih nenek" perubahan hati Naruto berubah dengan cepat.

ibu Mai hanya terkekeh melihat cucunya.

--

--

--

Naruto menatap teman-temannya bermain, hari ini dia tidak sedang dalam mood yang baik bergabung bersama mereka.

kepergian orang tuanya memberikan perasaan galau yang tersemat di hatinya. sudah tiga hari berlalu sejak mereka pergi.

"oi, Naruto, kenapa diam saja, ayo bergabung" salah satu teman kelas Naruto di taman kanak-kanak memanggil Naruto.

tapi Naruto tidak menanggapi mereka, dia hanya diam dan tidak berniat bergabung.

"heh, sombong seperti biasa. itulah Azusagawa" celetuk salah satu diantara mereka.

hanya menggeram dalam hati. tapi dia tidak menanggapi, mencoba mengabaikannya.

"hey, jangan begitu, Kiba. mungkin Naruto sedang sakit, jangan menganggunya" seorang bocah bertubuh gempal menegur temannya.

"cih, terserahlah"

Naruto mengepalkan tangannya, akhir-akhir emosinya tidak stabil. dia selalu merasa kesal pada hal-hal kecil.

.

.

waktu istirahat telah tiba, beberapa dari temannya berkumpul dan makan bersama. kali ini Naruto juga tidak ikut bergabung, hari ini dia ingin sendiri lebih lama.

dia harus bersabar, besok kedua orang tuanya sudah kembali. dia menantikannya.

"besok ada festival loh"

Naruto berhenti mengunyah, mendengar sesuatu yang menarik dari teman-teman perempuannya.

"eh, aku tau, itu festival kembang api, kan?"

Naruto terdiam. mendengar lebih banyak informasi dar teman-temannya.

"iya benar, karena besok libur. orang tuaku mengajakku kesana"

"benarkah? aku juga mau kesana"

"aku juga"

Naruto tersenyum, besok orang tuanya sudah kembali. dia akan mengajaknya kesana. melihat kembang api bersama.

mereka sudah lama tidak melihat festival kembang api bersama. dia tidak sabar pulang dan memberitahukan mereka.

.

.

"Naruto"

Naruto melihat siapa yang memanggilnya dan melihat Nodoka melambaikan tangannya di depan gerbang. mungkin menunggunya.

wajah muram Naruto berubah menjadi senang.

"bibi Nodoka"

Naruto menghampiri Nodoka.

"hari ini kamu pulang bersama bibi, yah"

Naruto mengangguk senang, Nodoka membantu Naruto masuk kedalam mobilnya. sudah lama dia tidak bermain bersama keponakannya.

"humm, aku mau. bibi tidak bekerja. jadi hari ini bibi akan mengajakmu jalan-jalan"

"benarkah? kita akan jalan-jalan?"

Nodoka hanya tersenyum, dia mengusap kepala Naruto.

"tentu saja"

"yeay"

--

--

--

matahari tenggelam di ufuk barat, langit berubah menjadi gelap. siang hari sudah berakhir, Naruto sudah lelah bermain bersama Nodoka seharian.

bocah kecil itu senang Nodoka memanjakannya meski rasanya tetap beda jika dia bersama kedua orang tuanya.

"Naruto, ibumu menelepon"

Naruto yang sedang menonton tv melompat dari sofa dan mengambil ponsel Nodoka, membawanya ke kamar. wajahnya berubah menjadi riang melihat wajah ibunya di seberang telepon.

"ibu, aku merindukanmu?"

Mai hanya tersenyum.

"ibu juga. apa yang kamu lakukan hari ini dengan bibi Nodoka?"

Naruto menceritakan perjalanannya hari ini dengan Nodoka, mulai dari makan siang di restoran favoritnya, ke taman bermain, berkeliling ke mall menemani Nodoka dan menceritakan bahwa dia di belikan mobil mainan remot baru.

sepanjang putranya bercerita, Mai hanya menyambutnya dengan senang, merespon putranya dengan baik.

sesekali Mai menegur halus tingkah yang tadi bersama Nodoka, dimana Naruto terjatuh karena bersemangat. obrolan mereka berlangsung hingga hampir dua jam.

"ne, ne, ibu. aku mau bicara sesuatu sama ibu" inilah yang Naruto tunggu-tunggu, tentang festival kembang api yang diadakan besok.

"apa sayang?"

"kata temanku, besok festival kembang api. besok ibu akan pulangkan? besok kita kesana yah, ibu sama ayah" ucapnya senang. harapannya sangat tinggi bisa kesana.

Naruto yakin, ibu dan ayahnya akan mengabulkannya. tapi Naruto tidak memperhatikan, wajah tidak enak dari Mai.

"baiklah, kita akan ke festival..."

"yeay"

kan, Naruto sudah sangat senang mendengar jawaban ibunya. besok mungkin dia juga akan menceritakan pada teman-temannya kalau dia akan ikut festival.

"...tapi, kita ikut festival berikutnya saja yah, sayang"

rasa senang Naruto jatuh ke titik paling rendah, raut wajah senangnya berubah menjadi tatapan yang amat kecewa.

Mai memperhatikan itu menjadi gelisah. "sayang, dengarkan ibu dulu"

"kenapa ibu?"

Mai bisa mendengar suara putranya yang kecewa, dia semakin gelisah.

"kepulangan ibu di tunda, pekerjaan ibu ternyata belum selesai, ibu..." Mai berhenti berbicara ketika melihat Naruto tak mengeluarkan ekspresi apapun. Mai panik, "sayang, dengarkan ibu, ibu janji, ibu akan..."

"tidak apa-apa, ibu" Naruto dengan cepat memotong perkataan Mai dan memasang senyum palsu. "aku akan menunggu ibu pulang"

Mai mengigit bibir bawahnya, dia ingin menangis melihat putranya. dia merasa sangat bersalah.

"baiklah, ibu janji, kita akan pergi ke festival bersama, okay?"

Naruto hanya mengangguk kecil, "ibu aku sudah mengantuk, aku mau tidur"

Naruto tidak bisa menahannya lebih lama, dia tidak ingin berbicara dengan Mai.

Mai terlihat enggan mengakhiri percakapan mereka, setelah melihat ekspresi putranya, dia merasa khawatir. tapi tidak mungkin dia memaksakan keinginannya pada Naruto.

"ya sudah, besok ibu akan menghubungimu lagi, makan teratur yah, selamat malam sayang"

"selamat malam, ibu"

Naruto mengakhiri panggilannya lebih dulu, dia keluar dari kamarnya.

"ada apa Naruto?" tanya Nodoka khawatir, melihat keponakannya keluar dari kamar dengan wajah muram.

"tidak apa-apa, bibi. aku mengantuk" Naruto memberikan ponselnya pada Nodoka.

"tunggu, Naruto. tapi kamu belum makan malam–"

BRAK!

Nodoka terkejut ketika Naruto tak mendengar ucapannya sampai selesai dan berlari masuk ke kamarnya lalu menutup pintu dengan keras.

"Naruto..."

Nodoka bertanya-tanya, apa yang terjadi.

--

Mai terus memperhatikan layar ponselnya yang sudah mati setelah beberapa saat berbicara dengan putranya.

perasaan cemas dan bersalah memenuhi benaknya, apalagi raut wajah putranya yang begitu kecewa. Mai benar-benar tidak bisa berhenti memikirkannya.

"kamu sudah berbicara dengannya?"

Sakuta menghampiri istrinya yang terliha gelisah.

"Sakuta, apa kita bisa pulang secepatnya?" bukannya menjawab pertanyaan suaminya, Mai malah menimpali pertanyaan lain.

Mai tidak bisa kerja dengan tenang.

"ada apa? ceritakan dulu, padaku"

Mai menceritakan apa yang terjadi. dia benar-benar tidak tenang.

Sakuta merengkuh istrinya, berusaha menenangkan, perasaan seorang ibu memang kuat.

"aku akan berusaha mengatur jadwal kepulangan kita lebih cepat. aku juga tidak ingin meninggalkannya lebih lama. tenangkan dirimu"

perlahan-lahan rasa gelisah Mai terusir, dia tidak ingin putra mereka sedih karena menunggu mereka terlalu lama.

"terima kasih" Mai memeluk Sakuta berusaha menghilangkan rasa bersalahnya.

Sakuta hanya membalas pelukan istrinya.

--

--

--

"apa kalian melihatnya tadi malam, kembang apinya besar sekali"

"seru sekali"

"aku ingin lagi melihatnya"

Naruto menundukkan kepalanya, sepanjang kelas dia hanya terus mendengar teman-temannya berbicara tentang festival.

"yoo, Naruto, apa kau juga melihatnya tadi malam?" tanya teman sekelasnya yang terdengar sarkas. Naruto tau siapa dia, Kiba.

Naruto mengabaikan Kiba, dia benar-benar kesal sekarang. betapa mengingkannya dia hadir dalam festival tapi orang tuanya belum kembali dari perjalanan.

"Kiba, jangan menganggunya" bocah bertubuh gempal kembali membela Naruto

"aku tidak menganggunya, aku hanya bertanya. kemarin dia tidak ikut, kan?"

"Kiba!"

Naruto mengepalkan tangannya, dia merasa sangat marah.

bocah bertubuh gempal itu mengerti jika Naruto dalam mode yang sangat marah. jadi sebelum ada perkelahian, dia menarik Kiba menjauh.

.

.

sepulang sekolah, Naruto mengurung dirinya di dalam kamar. dia tidak ingin berhubungan dengan orang luar. Nodoka sudah membujuknya dan mengatakan apa yang terjadi, tapi Naruto enggan berbicara.

Naruto seakan menghindari semua orang, bahkan telepon dari orang tuanya dia abaikan. Naruto ingin menenangkan diri.

"dia masih belum berbicara denganku, onee-chan"

"bisakah kamu memberikan telepon ini padanya"

"dia menolak, bahkan untuk membukakan pintu kamar untukku"

Mai berusaha menahan gejolak hatinya.

"baiklah, kalau dia tidak mau, jangan di paksa. tetapi tetap awasi dia"

"baik, onee-chan"

sambungan terputus, Mai tidak bisa untuk tidak mengkhawatirkan kesehatan putranya, baik secara fisik maupun mental.

dia takut kalau Naruto marah padanya. tapi Mai belum bisa berbuat banyak. kontrak kerjanya sudah di tandatangani.

"aku harus berbicara dengan produsernya"

Mai sudah tidak bisa menahannya.

--

pagi ini Nodoka di buat terkejut dengan tingkah keponakannya. jika semalam dia mengurung dan enggan berbicara padanya.

maka pagi ini Naruto menyapanya dengan riang dan bersiap berangkat sekolah, seolah kemarin tidak terjadi apa-apa. Nodoka sebenarnya heran, tetapi tidak ingin mengambil terlalu jauh apa yang terjadi.

mungkin moodnya sudah membaik. pikir Nodoka.

Naruto melambaikan tangannya pada Nodoka yang sudah meninggalkan sekolah setelah mengantarnya, dengan tersenyum cerah.

setelah merasa mobil Nodoka sudah benar-benar pergi, raut wajah Naruto berubah menjadi netral. dia melirik gedung sekolahnya, sebelum meninggalkan tempatnya berdiri menuju halte.

dia ingin pergi ke suatu tempat tanpa siapapun yang mengetahuinya.

Naruto tidak memikirkan apa yang akan terjadi akibat dari perbuatannya.

--

--

--

tidak ada yang Mai inginkan selain sampai ke rumah Nodoka dengan selamat dan bertemu dengan putranya setelah menahan rindu enam hari lamanya

Mai berhasil mendapatkan keputusan kontrak tanpa membayar denda. produser yang dinaunginya, menyetujui dan mengerti perasaan ibu muda itu.

Mai belum memberitahukan kepulangannya pada Naruto, dia berencana memberikan kejutan di rumah Nodoka ketika putranya pulang nanti.

Mai tiba di rumah Nodoka pagi hari, dua jam setelah Naruto berangkat sekolah.

"apa aku menjemputnya sekarang?"

rencana Mai, membuat Nodoka menjemput Naruto. sementara dia dan Sakuta menyiapkan kejutan untuk putra mereka. mulai dari makanan, favoritnya, kue coklat, serta hadiah sebagai bentuk penebusan karena mereka meninggalkan putranya urusan pekerjaan.

"boleh, jangan katakan padanya dulu, okay"

Nodoka mengangguk, "aku pergi dulu"

Mai tersenyum senang, sebentar lagi dia bisa bertemu Naruto. hal pertama yang ingin dia lakukan adalah memeluk lalu menciumnya sampai puas. dia benar-benar merindukan bayi kecilnya.

Sakuta yang melihat istrinya senang, turut senang. dia menjadi saksi bagaimana perasaan Mai jauh dari putranya. dia juga merindukan jagoan kecilnya.

sudah sejam mereka menunggu, tapi belum ada tanda-tanda Nodoka segera pulang.

"mereka lama sekali, yah" Mai sudah merasa tidak sabar.

"sabarlah sebentar lagi, mungkin di jalan sedang macet" Sakuta berpikir positif. Mai hanya mengangguk.

Mai sudah menyiapkan sepotong kue, ketika Naruto datang, dia ingin memberikannya.

satu jam lewat tiga puluh menit...

pintu Nodoka berbunyi, pertanda pemilik rumah telah datang.

Mai dengan cepat mengambil sepotong kue yang disiapkannya dan menyambut Naruto. namun, ketika pintu terbuka, tidak ada Naruto. hanya Nodoka dengan wajah pucat dengan nafas tersenggal-senggal.

Mai bingung.

"Nodoka, ada apa–"

Nodoka memotong ucapan Mai dengan panik.

"onee-chan, Naruto hilang!"

PRANG!

Mai merasa waktu berhenti, dia tidak mendengar apapun selain kalimat yang membuat jantungnya berhenti.

Naruto. Hilang. Tidak Ditemukan.

tatapan Mai menjadi kosong.

tunggu, bukannya seharusnya sekarang Naruto sudah ada di pelukannya.

"onee-chan?"

Mai mengabaikan semua yang ada di sekitarnya. dia berlari melewati Nodoka dan berlari keluar dari rumah adiknya.

"Mai-san" Sakuta mengejar Mai yang berlari keluar dengan perasaan kalut.

Nodoka mengikutinya.

.

.

pikiran Mai terasa kosong, dia mengabaikan kakinya yang membutuhkan alas, dia tidak menghiraukan tubuhnya yang terasa panas karena matahari, dia tidak peduli dengan rasa lelah yang menghampirinya.

pikirannya ada satu.

mencari Naruto! mencari Naruto! mencari Naruto!

"Naruto, dimana kamu, ibu sudah kembali. ayo sayang, keluarlah, kamu merindukan ibu, kan" Mai berteriak, berharap putranya muncul entah darimana dan memeluknya.

Mai tidak peduli tatapan orang-orang yang berlalu lalang. pikirannya kalut. hanya ada satu-satunya yang tersisa di pikirannya, bahwa dia harus menemukan putranya.

segera dan sekarang.

"Mai-san, berhenti!" Sakuta memegangi Mai yang terlihat depresi.

"lepaskan, aku. putraku, dia mencariku. aku pasti akan menemukannya" Mai berusaha melepaskan cekalan tangan Sakuta.

tapi Sakuta memegangi Mai kuat, dia membawa istrinya kedalam pelukan.

"tenangkan dirimu, kita cari Naruto bersama-sama"

Mai berusaha memberontak.

"tidak! anakku! dia pasti–"

"Mai-san!"

Sakuta mengcengkram bahu Mai kuat, berusaha membuat Mai menatap matanya.

"lihat aku!" Mai menatap Sakuta yang kini terlihat tegas, "Naruto pasti baik-baik saja, dia anak yang pintar. kita pasti menemukannya, karena dia anak kita" ucap Sakuta dengan halus, agar membuat istrinya mengerti.

saat itu pikiran sehat Mai perlahan-lahan terkumpul. matanya berkaca-kaca.

"Naruto. anakku. dia menghilang, ini semua salahku. seandainya aku... tidak meninggalkannya, dia pasti..." Mai tidak bisa melanjutkan ucapannya, saat tangisannya lebih keras.

menuangkan semua rasa gelisah, cemas dan bersalah. semuanya menjadi satu.

dia tidak bisa membayangkan Naruto sendirian sekarang.

Mai tidak bisa membiarkannya. Naruto, pasti membutuhkan putranya.

"Mai-san..." Sakuta merengkuh istrinya lebih erat, dia ikut melihat Mai, dia merasa gagal sebagai suami dan ayah. tapi dia harus kuat sekarang.

tujuannya mencari Naruto.

"jangan menyalahkan dirimu, lebih baik kita mencari Naruto. aku yakin dia menunggu kita"

Mai tidak menjawab, dia memeluk Sakuta lebih erat, tangisannya menjadi lebih keras.

Sakuta membiarkan Mai mengeluarkan semua isi hatinya hatinya dan membiarkannya tenang.

--

--

hari sudah malam, pencarian Naruto tidak membuahkan hasil. Sakuta sudah meminta bantuan polisi tapi belum ada tanda-tanda bahwa putranya akan di temukan.

membuat rasa frustasi Mai meningkat. dia tidak berhenti mencari Naruto. melupakan tubuhnya yang butuh istirahat.

pikirannya hanya ada Naruto, Naruto dan Naruto.

Mai terus menerus menyalahkan dirinya, mulai dari...

seandainya dia tidak pergi, Naruto tidak akan hilang.

seandainya dia pulang lebih cepat. Naruto tidak akan hilang.

seandainya dia tidak bekerja. Naruto tidak menghilang.

disisi lain, Sakuta merasa khawatir dengan kondisi mental sang istri. meski kali Mai tampak tenang, tapi dia yakin rasa frustasi dan stress memenuhi benak dan pikiran Mai.

apalagi hingga hampir tengah malam Naruto belum di temukan.

"Mai-san..."

Mai tidak menggubris panggilan Sakuta. matanya fokus menatap keluar jendela mobilnya. berharap dia menemukan Naruto.

hingga bunyi dering ponselnya menganggu konsetrasinya. itu berasal dari nomor tidak di kenal. Mai enggan menjawabnya tetapi hatinya berkata sebaliknya.

"halo"

"nyonya, kami menemukan putra anda"

Mai terdiam.

--

--

Mai berlari dengan cepat ke dalam kantor polisi, dia tergesa-gesa berharap itu memang putranya.

"dimana anakku?" Mai bertanya tanpa basa-basi pada polisi yang sedang berjaga.

Sakuta meringis pelan mendengar itu.

polisi itu sedikit memiringkan tubuhnya dan menunjuk anak kecil yang duduk termenung di pojokan sambil memeluk tasnya.

Mai termangu, dia melangkah sedikit demi sedikit. tubuhnya terasa berat hanya untuk melangkah, dia tidak peduli yang lain. matanya fokus menatap Naruto yang tidak bergerak.

dia merasa berhalusinasi jika mengingat bagaimana kondisinya tadi pagi setelah mendengar kabar Naruto menghilang.

"Naruto..." panggilnya begitu lirih dan pelan. dia bahkan hampir tidak bisa mendengar suaranya sendiri.

Naruto seolah mampu mendengar panggilan ibunya. dia berbalik dan menemukan Mai menatapnya kosong.

"ibuuuu" Naruto menghampiri Mai.

Mai berlutut menyamakan tinggi badannya dengan putranya. dia memandang wajah putranya cukup lama, dia menangkup pipinya, air matanya kembali keluar.

Naruto merasa bersalah, dia mengangkat tangannya dan mengusap air mata Mai.

"ibu jangan menangis, maafkan aku"

saat itu juga Mai sadar, bahwa Naruto sudah berdiri di hadapannya itu nyata.

Mai memeluk Naruto, dia menenggelamkan kepala putranya di pundaknya dan mulai menangis. tangisannya begitu memilukan. tidak ada yang berniat menghalanginya, membiarkan seorang ibu melampiaskan kegundahan hatinya.

"anakku! anakku!"

Mai memeluk Naruto begitu erat, enggan melepaskannya. seakan jika dia melepaskannya, Naruto akan kembali menghilang.

Mai tidak ingin kejadian ini terulang kembali.

satu hal yang Mai pikirkan malam itu.

putranya adalah harta berharga baginya dan dia mencintainya, dia tidak membiarkan dia pergi, menjauh atau meninggalkannya. hilang sehari saja, sudah membuat Mai seperti orang gila.

"ayo kita pulang, sayang. ibu ingin memelukmu lebih lama"

Naruto hanya mengangguk.


yang request lain, sabar yah. ngumpulin ide dan mood dulu. but udah masuk draft kok.

dan buat Ari Putra Bakati, do you like it?


(omake)

sejak hari itu, sifat protektif Mai berada di tingkat teratas. dia mulai memperhatikan Naruto. kemana dia pergi? apa yang dia lakukan? dan yang terpenting dia harus menemani putranya jika ingin keluar.

Mai tidak tenang jika tidak melihat Naruto barang sehari. maka dari itu, untuk sementara dia berhenti dari dunia entertainment sementara waktu.

kejadian itu meninggalkan trauma mendalam bagi Mai. dia juga mulai memperhatikan apa yang putranya inginkan.

waktu itu, Naruto tidak menghilang tetapi dia pergi ke aquarium yang diinginkannya sehari sebelum Mai berangkat ke Hokkaido.