Disclaimer:
Naruto: Masashi Kishimoto
Kanojo, Okarishimasu: Reiji Miyajima
.
.
.
Pairing: Naruto x Chizuru
Rating: M (karena ada pembunuhan dan sebagainya)
Genre: romance, crime, action, hurt/comfort, tragedy
Setting: Alternate Universe (AU)
.
.
.
The Ninja in the Shadows
By Hikasya
.
.
.
Chapter 1. Mengabdi
.
.
.
Aku tidak memilih jalan hidupku seperti ini, tetapi inilah jalan hidup yang harus kujalani. Karena keluargaku telah menjalani tradisi sejak zaman dahulu. Tradisi yang tidak bisa terhapuskan hingga memasuki zaman modern.
Aku berhasil menyelinap masuk ke sebuah kamar. Berpakaian serba hitam untuk menyamarkan diri. Sebuah benda berkilat, keluar dari balik bajuku. Benda berkepala meruncing dan bertangkai panjang, siap menusuk orang yang tergeletak di ranjang itu.
Langkahku sangat pelan, mendekati orang yang kutargetkan akan mati hari ini. Orang yang merupakan musuh tuanku, telah menganiaya tuanku, tadi pagi. Atas perintah tuanku, orang itu harus mendapatkan balasan yang setimpal.
Kegelapan telah menyertai kamar itu karena lampu sudah dimatikan. Dia telah bersatu denganku. Menemaniku untuk menuntun kedua tanganku. Mengarahkan ujung tajam kunai ini ke arah dada kiri pria yang sedang tertidur ini.
Aku tidak bisa menahan lagi jeritan kedua tangan yang ingin meminum darah lagi. Mataku kosong. Seolah jiwaku telah terenggut oleh misi ini. Tanpa kusadari, tangan ini bergerak sendiri. Melayangkan kunai ke bawah. Menusuk tepat ke dada kiri target.
Jeritan indah yang menyayat hati, menggema keras di gendang telingaku. Aku berperasaan hampa, kembali menarik kunai yang telah berlumuran darah dari dada kiri korban. Kemudian aku membentuk segel tangan. Menghilangkan diri dalam kepulan asap, yang memindahkan aku ke tempat tuanku.
"Aku sudah menunaikan misiku, Tuan," ucapku berlutut satu kaki. Menunduk penuh pengabdian. Menghadap tuanku yang berdiri di balkon.
"Kerja yang bagus, Namikaze Naruto. Tidak sia-sia, aku mengandalkanmu selama ini," sahut pria berambut hitam dengan sedikit putih di depan. Dia bernama Ichinose Katsuhito.
"Ya, Tuan. Aku siap melaksanakan misi berikutnya."
"Misi hari ini sudah selesai. Kembalilah beristirahat ke kamarmu."
"Baiklah, Tuan."
Aku mengangguk tanpa senyuman. Membentuk segel tangan lagi. Menggunakan jurus ninja yang diajarkan ayahku. Jurus hiraishin yang membawaku langsung ke kamarku.
Aku, Namikaze Naruto, seorang ninja dari klan Namikaze, sudah lama mengabdi pada keluarga Ichinose sejak zaman kakek moyang. Ninja yang ditugaskan untuk melindungi dan rela mati bersama tuan yang telah ditakdirkan. Apapun yang disuruh tuan, ninja harus melaksanakannya.
Aku melepaskan seluruh pakaian ninja yang telah berlumuran darah. Hanya menyisakan celana boxer hijau yang melekat di badanku. Kemudian aku mencuci pakaian itu dengan menggunakan mesin cuci yang ada di kamar mandi - kamar mandi ada di kamarku. Sekalian saja, aku mandi untuk membersihkan diri yang telah ternodakan dosa.
Kini aku terbaring telentang di ranjang yang besar dan mewah. Berpiyama. Mataku tetap terbuka, belum terasa berat. Kantuk juga belum menyerang. Karena aku sudah terbiasa bergadang hanya untuk menunaikan misi membunuh.
Membunuh. Satu kata yang sangat menyesakkan dadaku. Betapa tidak, kedua tangan ini telah membunuh banyak orang sejak berumur lima belas tahun. Aku menganggap tanganku ini bukanlah tanganku, tetapi tangan iblis.
"Ayah, Ibu, kenapa kalian memberatkan aku dengan kehidupan ini?" tanyaku dengan mata berkaca-kaca. Teringat dengan orang tuaku yang mati karena melindungi istri dan anak Tuan Tatsuhito saat diserang sekawanan ninja lain.
Pasti kau bertanya tentang dunia yang kujalani sekarang. Dunia yang keras dan penuh darah telah kulewati selama lima tahun. Aku yang tidak menginginkan menjadi pembunuh, harus melaksanakan pesan terakhir ayah. Ayah menginginkan aku tetap tinggal bersama keluarga Ichinose dan mengabdi sampai akhir hayat.
"Tidak, Ayah! Ayah! Aku tidak mau menjadi pembunuh! Tolong, keluarkan aku dari sekapan tempat seperti neraka ini!" seruku menggila. Mencengkeram rambut sendiri, sehingga beberapa helai rambut tercabut olehku. Membiarkan helai-helai rambut itu beterbangan bebas ke arah yang disukai.
Aku duduk dengan napas memburu. Menangis tersedu-sedu. Menunduk. Badanku bergetar hebat. Merasakan kehadiran orang-orang yang telah kubunuh. Mereka menghantuiku, bersuara meminta pertanggungjawaban dariku. Menginginkan aku menyerahkan diri pada polisi.
"Pergi! Jangan ganggu aku!" bentakku keras sekali. Padahal tidak ada siapa-siapa di sekitarku.
Aku mengalami halusinasi lagi. Ini selalu terjadi ketika aku pulang setelah menyelesaikan misi. Mungkin beban pikiran tidak tega membunuh, bercampur aduk dengan kemarahan pada kehidupan.
"Aku harus tenang. Jangan berteriak. Nanti Tuan Tatsuhito mengira aku gila lagi dan membawaku pergi berkonsultasi pada psikiater," bisikku seraya mengambil sesuatu dari laci nakas. Nakas yang terletak di samping tempat tidur.
Aku menelan sebutir obat tidur dan segera mendorongnya dengan segelas air hingga hanyut sampai ke lambung. Lalu meletakkan gelas kosong ke atas nakas. Merebahkan diri lagi ke ranjang. Memejamkan mata lagi. Membiarkan obat tidur bereaksi sendiri.
.
.
.
Aku terbangun ketika diri ini digoyang-goyang oleh seseorang. Mataku masih terasa berat karena pengaruh obat tidur. Sosok buram tertangkap di retinaku, bersama suara anggun yang menenangkan hatiku.
"Naruto, bangun. Ada makanan dan minuman untukmu," ucap pemilik suara yang sangat akrab denganku. Dia adalah seorang gadis berambut cokelat yang sewarna dengan matanya.
"Iya, Chi-sama. Aku bangun," sahutku mengucek mata beberapa kali. Untuk beberapa saat, mataku mulai menangkap bayangan sosok Ichinose Chizuru dengan jelas.
"Kau telat bangun lagi! Cepat, mandi! Lalu sarapan! Kita harus pergi ke kampus sekarang juga!" seru Chizuru berkacak pinggang. Menunjukkan muka marah yang seakan memerah padam.
"Baiklah, Chi-sama."
"Kalau begitu, aku keluar dulu. Aku menunggumu di dekat garasi."
Chizuru keluar dari kamarku. Dia menutup pintu dengan pelan. Meninggalkan aku dalam kesunyian yang merengkuhku. Tanpa sadar, aku membentuk senyuman di mukaku.
"Chi-sama, memang selalu baik dan perhatian padaku," ucapku turun dari tempat tidur. Perasaanku berbunga-bunga karena kehadiran Chizuru tadi.
Aku bergegas melaksanakan apa yang dititahkan Chizuru tadi. Mandi, berpakaian, dan sarapan. Kemudian aku menggendong tas di punggung, sebab aku juga kuliah bersama Chizuru.
Pagi seperti ini, biasanya Tuan Tatsuhito telah pergi ke kantor. Beberapa pelayan yang tinggal di mansion ini, bertugas membersihkan seluruh mansion dan menjaga mansion. Ketika aku keluar dari kamar dan menuruni tangga, menjumpai gadis pelayan yang akan naik tangga.
"Naruto-sama, anda ditunggu Chi-sama di dekat garasi," ujar gadis pelayan itu.
"Ya, aku mau pergi ke sana," sahutku mengangguk, berjalan cepat menyusuri ruang keluarga dan ruang tamu yang bergabung menjadi satu ruangan.
Aku keluar dari mansion. Menemukan Chizuru yang berdiri di dekat sebuah mobil sedan merah. Chizuru tersenyum manis saat menyambut kedatanganku.
"Kau cepat juga," kata Chizuru dengan muka yang cerah. Dia memang cantik seperti bunga yang baru mekar.
"Ya. Aku berusaha melakukan apa yang dipinta Chi-sama," tukasku mengangguk patuh.
"Oh ya, kita langsung saja pergi ke kampus."
Chizuru masuk ke mobil, bertindak sebagai pengemudi. Aku mengangguk, dan masuk ke sisi mobil lain. Duduk di samping Chizuru. Memerhatikan Chizuru saksama.
Chizuru menghidupkan mesin mobil. Dia perlahan memundurkan mobil ke arah pagar. Kemudian mobil berbelok menuju pintu gerbang. Pintu gerbang terbuka otomatis karena menggunakan mesin. Mempersilakan mobil yang dikendarai Chizuru, lewat dan melaju di jalanan perumahan yang cukup sepi.
.
.
.
Bersambung
.
.
.
A/N:
Hai, saya buat cerita di fandom Naruto Kanojo Okarishimasu. Cerita ini terinspirasi dari sebuah lagu.
Saya ingin suasana baru, makanya memasangkan Naruto dengan cewek anime lain. Lagi bosan dengan pairing yang itu-itu aja. Lalu bagaimana pendapatmu dengan cerita ini? Berikan komentar dan vote-mu di bawah ini.
Sebentar lagi, cerita "Pelindung Dunia Baru" dan "Di Antara Dua Cinta dan Kebangkitan Tim Seirin" akan tamat. Saya akan menyelesaikan dua cerita itu secepatnya.
Terima kasih sudah mau membaca cerita ini, ya. Sampai jumpa lagi di chapter berikutnya.
Tertanda, Hikasya.
Sabtu, 27 Maret 2021
