Disclaimer:

Naruto: Masashi Kishimoto

Kanojo, Okarishimasu: Reiji Miyajima

.

.

.

Pairing: Naruto x Chizuru

Rating: M (karena ada pembunuhan dan sebagainya)

Genre: romance, crime, action, hurt/comfort, tragedy, fantasy

Setting: Alternate Universe (AU)

.

.

.

The Ninja in the Shadows

By Hikasya

.

.

.

Chapter 6. Terungkap

.

.

.

Aku dan Chizuru tiba di rumah sakit yang dimaksud Sasori. Kami mengetahui bangsal yang dihuni Sasori dari resepsionis, lalu buru-buru pergi ke sana.

"Sasori!" panggil Chizuru ketika membuka pintu. Berlari kencang menghampiri Sasori.

"Chizuru!" balas Sasori tersenyum lebar, "syukurlah, kau datang juga."

Aku terpaku di dekat pintu. Mengamati dari jauh. Sasori dan Chizuru berpelukan. Sasori duduk di tengah ranjang. Punggungnya bersandar dengan sanggahan bantal agar luka di punggungnya tidak terkena kepala ranjang yang terbuat dari besi.

"Kau datang dengan pengawalmu lagi?" tanya Sasori melihatku dari balik bahu Chizuru.

"Iya, kau keberatan?" Chizuru balik bertanya, menjauh dari Sasori.

"Aku keberatan. Kuharap kau datang sendirian dan kita bisa berduaan di sini. Tapi..."

"Aku tidak bisa meninggalkan Chi-sama," potongku berjalan mendekati Chizuru, "Chi-sama, kau sudah bertemu dengan Sasori. Apa kau ingat apa yang diminta Kakekmu saat sarapan tadi?"

Chizuru menjelingku. Dia meredupkan mata. Aku menyipitkan mata. Berusaha menekannya agar bisa memutuskan Sasori sekarang juga. Tapi, justru dia meraih tangan Sasori.

"Sasori, aku mau bertunangan denganmu," kata Chizuru tiba-tiba, cukup mengejutkanku.

"Kenapa kau mendadak mau bertunangan sekarang?" tanya Sasori mengerutkan kening.

"Karena kakek tidak menyetujui hubungan kita. Kurasa ... kita kawin lari saja nanti."

"Apa? Jangan!" seruku dan Sasori bersamaan.

"Ke-kenapa kalian berkata kompak begitu?"

Chizuru menatapku dan Sasori bergantian. Sepertinya dia bingung dengan apa yang terjadi. Kemudian aku mengalihkan perhatian dengan topik lain.

"Oh ya, bagaimana ceritanya, kau mendapatkan tusukan di punggungmu, Akasuna-san?" tanyaku menyipitkan mata.

"Oh, seseorang masuk ke apartemenku. Aku memergokinya, lalu aku sempat berkelahi dengannya. Tiba-tiba, dia menusukku dari belakang dengan pedangnya, lalu aku juga berhasil menggores pipi kirinya dengan pisauku," jawab Sasori dengan muka polos, lalu menunjukku, "kau sendiri, kenapa pipi kirimu diplester?"

"Ini, ya? Aku mendapat luka ini karena tergores ranting saat mencari Chizuru di belakang kampus."

"Apa benar begitu?"

"Benar. Aku tidak bohong."

Aku dan Sasori membelalakkan mata. Kemudian kami saling melemparkan tatapan yang mematikan. Aku sudah tahu siapa Sasori yang sebenarnya.

"Kalian berdua kenapa?" tanya Chizuru yang memerhatikan aku dan Sasori. Tercengang.

"Tidak ada apa-apa, Chizuru," jawab Sasori tersenyum, "oh ya, Chizuru, kau mau bertunangan denganku, 'kan? Kebetulan aku membawa cincin itu. Tunggu sebentar, aku ambil di tasku dulu."

"Chi-sama, tidak perlu bertunangan denganmu, Akasuna-san. Ayo, Chi-sama!" Aku langsung menyeret Chizuru dari sana.

"Hei, tunggu dulu, Naruto!" Chizuru enggan mengikutiku.

"Kita pergi ke kampus sekarang!"

"Uzumaki-san, jangan bawa Chizuru!" teriak Sasori bergema keras. Aku mengabaikan celotehannya yang tidak jelas.

Aku dan Chizuru keluar dari bangsal. Kami berjalan cepat menyusuri koridor yang sepi. Aku tetap fokus berjalan, hingga tanganku yang menggenggam tangan Chizuru, dibelit oleh tangan Chizuru yang lain. Chizuru mengapit lenganku, bersikap lembut.

"Kau cemburu, Naruto?" tanya Chizuru menatapku dengan pandangan yang melunak.

Aku sedikit membesarkan mata, memalingkan muka dari Chizuru. "Tidak."

"Lalu kenapa kau memaksaku pergi menjauhi Sasori?"

"Aku hanya memastikan kau harus menjauhi Sasori. Tapi, kau malah mau bertunangan dengannya."

"Aku melakukan itu agar membuatmu cemburu. Tapi, kurasa tindakanku sia-sia saja."

Chizuru juga melihat ke arah lain saat aku menatapnya lagi. Mataku meredup, karena tidak tega melihatnya sedih. Tapi, aku harus melakukan apa? Aku telah terjepit dalam perjanjian pada Ayah dan sumpahku sendiri. Lalu ada satu hal lagi yang membuatku harus jauh dari Chizuru suatu hari nanti.

"Apa kau mau menikah dengan seorang ninja?" tanyaku tiba-tiba. Mukaku serius.

Chizuru melirikku. "Kenapa kau bertanya begitu?"

"Aku ingin tahu saja."

"Aku percaya ninja itu masih ada sampai sekarang. Tapi, ada sebagian orang, menganggap ninja itu hanya mitos. Lalu soal menikah dengan ninja, itu terdengar sangat hebat."

"Hebat? Kenapa kau berpendapat begitu?"

"Karena jika suamiku ninja, tentu dia bisa melindungiku dari orang-orang yang selama ini mengganggu keluargaku. Ninja adalah profesi yang sangat keren. Mereka yang menjadi ninja, tentu bertanggung jawab, setia, dan kuat."

Aku terkesima sebab ucapan Chizuru. Membuatku tersenyum. Menciptakan rona merah di dua pipiku. Ibaratnya, wajahku bersinar terang karena diterpa mentari sekarang.

"Jangan-jangan ... kau itu ninja?" tanya Chizuru menunjuk mukaku. Membuatku terkesiap.

Mataku membulat sempurna, buru-buru menggeleng. "Tidak. Aku hanya orang biasa."

"Tapi, kenapa kau bisa muncul tiba-tiba di atap mobilku tadi?"

"Oh ya, sudah jam segini! Kita akan terlambat ke kampus!"

Aku berlari menarik tangan Chizuru. Senyuman menghiasi wajahku lagi. Hatiku berbunga-bunga. Seolah mendapatkan hadiah tak terduga.

Apakah aku sudah jatuh cinta pada Chizuru? Tidak. Perasaan itu tidak boleh muncul. Aku harus melupakannya.

.

.

.

Aku selesai menulis apa yang diterangkan dosen tadi. Dosen yang mengajar, telah keluar dari kelas. Satu persatu penghuni kelas turut keluar, pergi ke tempat yang dituju masing-masing.

Aku suka duduk di belakang karena bisa mengawasi Chizuru dari segala arah. Chizuru sendiri akan kupaksa duduk di depanku. Biasanya dia mengomel saat aku memaksanya, tetapi sekarang, dia yang mau duduk di sampingku. Bahkan, dia selalu memerhatikanku selama pelajaran berlangsung.

"Ayo, Chi-sama! Kita pulang. Jangan menatapku terus," celetukku saat menggantung tas di bahu kananku. Melototi Chizuru yang berdiri dan mendekatiku.

"Kau memang lebih tampan dari Sasori," balas Chizuru tersenyum.

"Aku tidak akan pernah tertarik padamu."

"Aku juga tidak akan pernah lelah mengejarmu sampai kau menyadari perasaanmu sendiri."

"Kau itu pacar Sasori. Sadarlah."

Aku bergegas melangkah duluan. Tidak mau berurusan soal cinta itu lagi. Tapi, Chizuru tetap menyinggungku soal perasaannya itu.

"Naruto, tunggu!" Chizuru menggenggam tanganku.

"Ada apa lagi?" Aku tidak mau melihat Chizuru.

"Aku akan memberitahu soal perasaanku pada Kakek nanti."

"Jangan."

"Kenapa?"

"Kakekmu telah melarangmu untuk tidak mencintaiku."

"Tapi..."

"Aku sudah mempunyai calon istri dan siap akan menikahinya setelah kau mendapatkan calon suami."

"Apa?"

Chizuru melepaskan tanganku. Aku menoleh ke arahnya. Mendapati matanya yang membulat sempurna. Tampak syok sekali. Momen ini tidak akan kusia-siakan lagi.

"Namanya Shizuka. Dia juga teman masa kecilku. Ayahku sudah melamarnya untukku. Aku juga sudah menerimanya sebagai calon istriku," ungkapku bersikap serius, "dia tinggal di desa yang sama denganku. Kapan-kapan, aku akan pergi menjemputnya dan memperkenalkannya padamu."

"Kau tidak perlu mengenalnya padaku!" sanggah Chizuru. Suaranya melengking. Tiba-tiba, air bening tumpah ruah lagi dari sudut mata cokelatnya.

Chizuru berlari meninggalkan aku. Aku terpaku, menyaksikan dirinya pergi. Tidak tahu harus berekspresi seperti apa. Tapi, aku merasa lega sesaat karena bisa lepas dari kejaran Chizuru.

Aku tetap menjalani misi untuk melindungi Chizuru. Berteleportasi ke tempat Chizuru sekarang. Sebab ada tanda segel yang kubuat di punggung Chizuru.

Chizuru pulang dengan berurai air mata. Mengebutkan mobilnya lagi di jalanan ramai. Semua orang yang nyaris bertabrakan dengan mobilnya, membunyikan klakson-klakson sebagai tanda protes padanya.

Aku berpegangan pada dua kunai yang menancap di atap mobil. Tiarap seperti tentara. Helai-helai rambut dan pakaianku bergoyang tidak karuan karena diterpa angin sesuai pergerakan dersik. Selalu waspada terhadap keadaan sekitar. Berusaha menyelamatkan Chizuru yang dilamun emosi kemarahan.

Untung, tidak ada yang membahayakan aku dan Chizuru hingga kami tiba di mansion. Chizuru keluar dari mobil yang terparkir di dekat garasi. Membanting pintu dengan bunyi yang seakan meledakkan jantung. Berlari membabi buta, masuk ke mansion.

Aku melompat dari atas mobil. Melihat ke balkon kamar Chizuru. Aku menoleh kanan-kiri. Sepi. Kemudian aku melompat sekali saja dan mendarat di lantai balkon. Mendengar Chizuru masuk ke kamar dan membanting pintu.

"Naruto, payah! Payah! Kenapa aku bisa mencintai laki-laki yang telah memiliki calon istri?" Terdengar suara Chizuru yang menyayat hati. Aku bisa mengintipnya dari pintu kaca transparan yang tidak tertutupi gorden.

Chizuru roboh dan duduk. Memeluk lutut dengan kedua tangannya. Menyembunyikan wajah di atas lututnya. Tubuhnya sangat bergetar.

Aku tidak tega melihat keadaan Chizuru seperti itu. Keadaan yang sama saat dia baru saja kehilangan nenek dan kedua orang tuanya. Lalu aku teringat perkataan Tuan Tatsuhito, jika Chizuru sudah terlalu bersedih, sangat susah untuk membujuknya. Chizuru tidak akan pernah keluar kamar sampai dirinya sendiri yang bisa menghentikan nelangsa itu.

Aku bimbang. Tetap berdiri di sini, sambil mengawasi Chizuru. Tidak memedulikan kondisi tubuhku sendiri yang telah dihinggapi lelah, lapar, dan haus.

Waktu terus berlalu. Aku tidak bergeser sedikitpun dari posisi kupijaki sekarang. Kegelapan telah datang, bersama suara Tuan Tatsuhito yang terdengar di gendang telingaku.

"Chizuru, buka pintu!" teriak Tuan Tatsuhito menggedor-gedor pintu dengan keras.

Chizuru bergeming, membisu. Tetap duduk menyandarkan punggung ke pintu. Meringkuk. Sesunggukan.

"Chizuru, kau kenapa? Ayo, makan malam sekarang!" Sekali lagi, Tuan Tatsuhito memanggil, tetapi tidak dijawab juga oleh Chizuru. "Dasar, apa yang terjadi padamu? Naruto!"

Aku tersentak karena Tuan Tatsuhito memanggil namaku, lalu berteleportasi langsung ke tempat Tuan Tatsuhito. Berlutut satu kaki di dekatnya. Menunduk penuh kehormatan.

"Ada apa, Tuan?" tanyaku dengan muka serius.

"Kita bicara di kamarku," jawab Tuan Tatsuhito terdengar tegas.

"Baik."

Aku berdiri. Tuan Tatsuhito masuk ke kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Chizuru. Aku mengikutinya dan masuk ke kamarnya.

"Tutup pintunya," pinta Tuan Tatsuhito duduk di pinggir ranjang.

"Ya, Tuan," tukasku menutup pintu.

"Duduk di sana."

"Baik."

Aku membungkuk hormat dan duduk di sofa yang menghadap Tuan Tatsuhito. Kami bertatapan serius. Hatiku berdebar keras menanti apa yang dibicarakan Tuan Tatsuhito.

"Apa yang terjadi pada Chizuru?" tanya Tuan Tatsuhito mengerutkan kening.

"Dia bersedih karena Sasori masuk rumah sakit. Sasori nyaris dibunuh oleh seseorang," jawabku berbohong. Menunduk, berusaha menyembunyikan kegelisahanku.

"Siapa yang mau membunuhnya?"

"Aku."

"Apa? Kau?"

"Ya. Ninja yang menyerangku semalam adalah dia."

"Hah? Dia adalah ninja?"

Tuan Tatsuhito melebarkan mata. Ternganga. Aku mengangguk pelan. Bermuka tanpa ekspresi.

"Ya, Tuan. Sasori adalah anak dari klan ninja yang bermusuhan dengan keluargaku. Klan Akasuna pernah tinggal di desaku. Beberapa dari mereka, telah membakar rumahku saat aku tinggal sendirian. Aku tidak bisa menghadapi mereka yang terlampau banyak."

"Kenapa klan itu bermusuhan dengan keluargamu?"

"Karena ayahku pernah berbuat masalah dengan ketua klan itu. Aku tidak tahu penyebabnya apa. Tapi, berkat bantuan kepala desa, semua anggota klan itu diusir."

"Aku mengerti. Itu berarti Sasori adalah ninja yang jahat."

"Aku belum memastikan Sasori itu jahat atau tidak."

"Tapi, kalau dia sampai berani menyakiti Chizuru, aku ingin kau membunuhnya."

"Aku sudah siap untuk melakukan itu."

Aku memicingkan mata. Menunjukkan muka bernafsu untuk membunuh lagi. Tuan Tatsuhito mengangguk cepat. Dadanya tampak naik-turun karena menghela napas.

"Aku tidak bisa membujuk Chizuru keluar dari kamar. Bagaimana kalau kau yang membujuknya? Ini adalah misi untukmu malam ini," tanya Tuan Tatsuhito menunjukkan muka memelas.

Aku terdiam sejenak, terpaksa mengangguk. "Ya, aku melaksanakannya sekarang. Permisi, Tuan."

Aku bangkit dari sofa. Berjalan dan membuka pintu. Lalu menutup pintu. Berdiri sekejap, berusaha menenangkan jantung yang selalu berdetak kencang ketika ingin di dekat Chizuru.

Kakiku terayun lambat ke arah kamar Chizuru. Tanganku bergetar, menuju pintu. Mengetuk keras berulang kali. Bersuara cukup meninggi.

"Chi-sama, ini aku, Naruto! Cepatlah keluar! Kita makan malam bersama sekarang!" seruku. Tetap menggedor pintu beberapa kali.

Tidak ada jawaban. Sunyi. Aku mengetuk pintu sekali lagi. Memanggil Chizuru dengan suara yang lebih keras daripada sebelumnya.

"Chi-sama! Aku akan mendobrak pintu ini jika kau tidak mau keluar juga! Aku hitung mundur! Lima, empat, tiga, dua, satu!" Aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku. Mundur beberapa langkah. Menghela napas, mengembuskannya perlahan.

Aku berlari kencang menuju pintu itu. Tapi, mendadak pintu terbuka lebar. Chizuru berdiri di tengah pintu. Mata kami membelalak serentak.

Teriakan dan tabrakan tidak terelakkan. Aku dan Chizuru tumbang ke belakang. Kami berhimpitan. Menyebabkan Chizuru tak sadarkan diri. Mungkin kepalanya duluan yang menghempas lantai keramik.

"Chi-sama, sadarlah! Chi-sama!" Aku menepuk pipi Chizuru dengan keras. Berharap tindakanku ini bisa membangunkannya. Tapi, tidak berhasil. Menuntunku untuk mengangkat badannya.

Tiba-tiba, Chizuru membelit leherku erat sekali sehingga aku tidak jadi menggendongnya. Wajah kami sudah sangat berdekatan. Kejadian yang tidak kuharapkan, telah kualami sekarang.

Chizuru mencium pipi kananku. Aku membundarkan mata. Bergeming. Tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang.

"Aku sangat mencintaimu, Naruto. Aku tidak ingin kehilangan dirimu," ucap Chizuru usai menciumku, menatapku dari jarak sangat dekat, "aku akan melakukan segala cara agar bisa mendapatkanmu."

"Chizuru, kau mencintai Naruto?" tanya seseorang, mengejutkan aku dan Chizuru. Asalnya dari belakang.

"Tu-Tuan Tatsuhito." Aku bermuka pucat.

"Naruto, Chizuru, berdiri!"

Aku berdiri duluan, diikuti oleh Chizuru. Tuan Tatsuhito bersedekap dada. Bermuka garang. Menatap aku dan Chizuru dengan mata merah menyalang. Siap menerkam kami bagai Singa yang mau menyantap mangsa-mangsanya.

Aku menunduk, sangat ketakutan. "Maaf, Tuan. Aku dan Chi-sama tidak melakukan apapun."

Chizuru mengatakan sesuatu yang kembali mengagetkanku. "Aku sangat mencintai Naruto, Kek. Aku ingin Naruto menikahiku secepatnya."

"Apa?"

Aku membeliakkan mata. Ternganga. Menoleh ke arah Chizuru yang bersisian denganku. Chizuru menyeka air bening yang kembali menyelonong keluar dari netranya.

"Tapi, apa kau sudah memutuskan Sasori?" tanya Tuan Tatsuhito menatap Chizuru.

"Belum," jawab Chizuru menggeleng.

"Tuan Tatsuhito, maaf, aku menyela percakapan kalian. Aku tidak bisa menikah dengan Chi-sama karena sudah terikat perjanjian dengan ayah Shizuka. Aku akan menikah dengan Shizuka jika Chi-sama sudah menikah dengan seorang laki-laki pilihan dari anda," potongku menunduk lagi.

"Aku baru tahu soal perjanjian lain itu." Suara Tuan Tatsuhito terdengar kecewa. "Tapi, sepertinya Chizuru sangat menginginkan kau menikahinya."

"Maaf, aku tidak bisa."

Aku mendongak, menatap muka Tuan Tatsuhito. Tersenyum pahit, sesungguhnya di hatiku yang paling dalam, ada perasaan yang mengharapkan Chizuru untuk menjadi pendamping hidupku.

.

.

Bersambung

.

.

.

A/N:

Diupdate pada hari Kamis, 16 Juni 2022.