Disclaimer:
Naruto: Masashi Kishimoto
Kanojo, Okarishimasu: Reiji Miyajima
.
.
.
Pairing: Naruto x Chizuru
Rating: M (karena ada pembunuhan dan sebagainya)
Genre: romance, crime, action, hurt/comfort, tragedy, fantasy
Setting: Alternate Universe (AU)
.
.
.
The Ninja in the Shadows
By Hikasya
.
.
.
Chapter 7. Menebus
.
.
.
"Naruto, kumohon ... terimalah cintaku," ucap Chizuru memegang tangan kananku dengan kedua tangannya, "aku ingin kau menjadi suamiku, bukan Sasori."
"Kau mau bertunangan dengan Sasori. Itu pilihanmu," sahutku melirik Chizuru. Mataku menyipit.
"Itu pilihan terdesak. Pilihan hatiku hanya kau, Naruto."
"Maaf, aku tidak bisa mene..."
"Naruto, terimalah Chizuru untuk menjadi istrimu. Soal tradisi itu, bisa saja terhapuskan," potong Tuan Tatsuhito, "jika kau menikah dengan Chizuru, tentu Chizuru ikut denganmu. Kau bisa menjadi pelindungnya untuk selamanya."
"Kondisinya sudah seperti ini, aku tidak tahu harus melakukan apa lagi. Baiklah, aku akan menerima Chi-sama, asal Chi-sama memutuskan Sasori hari ini juga. Lakukan di hadapanku dan Tuan Tatsuhito."
"Be-Benar yang kau katakan itu, Naruto?" tanya Chizuru tiba-tiba berhenti menangis. Mukanya cerah seketika.
"Ya."
Aku mengangguk cepat. Tersenyum. Chizuru juga tersenyum, lantas buru-buru masuk ke kamar. Mengambil sesuatu yang tertinggal.
"Aku telepon Sasori sekarang," ujar Chizuru keluar dari kamar. Dia menggunakan ponselnya untuk mencari kontak telepon Sasori.
Aku dan Tuan Tatsuhito memerhatikan Chizuru. Chizuru menempelkan smartphone di telinganya, menunggu Sasori mengangkat teleponnya. Hingga suara Chizuru memecahkan kesunyian itu dengan suaranya yang melengking.
"Halo, Sasori. Ya, aku Chizuru. Aku mau bilang sesuatu padamu," kata Chizuru bermuka serius, "hubungan kita tidak bisa dipertahankan lagi. Karena kakekku sudah menjodohkanku dengan laki-laki pilihannya. Maaf, aku tidak bisa menentang kakekku. Kuharap kau bisa menemukan gadis yang lebih baik dariku."
Chizuru menjauhkan ponsel dari telinganya. Dia sudah mematikan panggilan itu. Menatapku dengan senyuman malu.
"Aku sudah memutuskan Sasori. Apa itu berarti kau menerimaku menjadi calon istrimu, Naruto?" tanya Chizuru bermuka kusut.
Aku terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Ya."
Chizuru tersenyum lebar. Kedua pipinya bersemu merah. Melompat dan mendekap leherku erat. Aku nyaris terjatuh karena ulahnya.
"Akhirnya, aku bisa mendapatkanmu, Naruto." Chizuru tampak bahagia.
"Ya. Aku tidak akan membiarkanmu menangis lagi." Aku tersenyum, turut merangkul pundaknya.
"Syukurlah. Kakek senang melihat kau tidak sedih lagi, Chizuru. Tapi, Naruto, ada yang ingin kubicarakan lagi padamu setelah makan malam." Tuan Tatsuhito juga tersenyum.
"Baik, Tuan."
"Oh ya, bagaimana kalau kita makan malam saja sekarang? Aku sudah lapar sekali." Chizuru melonggarkan pelukan. Membuatku mengangguk.
"Ayo, kita makan!" Tuan Tatsuhito menyerukan itu. Dia melangkah duluan, lalu disusul olehku dan Chizuru.
.
.
.
Chizuru masuk ke kamarnya. Aku hendak menutup pintu dan melihat Chizuru tersenyum padaku. Chizuru berdiri di dekat ranjangnya.
"Naruto-kun, aku mau kau menemaniku tidur. Tapi, kita belum menjadi suami-istri," ungkap Chizuru dengan muka memerah yang membuat mataku terbelalak.
"Apa yang kau pikirkan? Cepatlah tidur. Besok, kita akan kuliah," balasku menyembunyikan ekspresi wajahku yang juga memerah, "selamat malam, Chi-sama."
"Bukan, Chi-sama. Tapi, Chi-chan."
"Oh, aku lupa. Selamat malam Chi-chan."
"Selamat malam, Naruto-kun."
Chizuru melambaikan tangan. Aku menutup pintu. Tersenyum. Berusaha mengontrol jantung yang semakin memompa darah dengan cepat. Langkahku terayun menuju kamar Tuan Tatsuhito.
"Aku masuk, Tuan," ujarku membuka pintu.
"Masuklah, dan duduklah," sahut Tuan Tatsuhito tersenyum. Duduk di pinggir tempat tidur.
"Ya. Terima kasih."
Aku duduk di sofa, berhadapan dengan Tuan Tatsuhito. Menunduk hormat. Kedua tanganku terletak di atas dua paha yang sedikit melebar. Telingaku siap mendengarkan apa yang dibicarakan Tuan Tatsuhito.
"Naruto, apa benar kau memiliki calon istri yang bernama Shizuka?" tanya Tuan Tatsuhito mengernyitkan dahi.
"Sebenarnya ... itu tidak benar," jawabku bermuka tidak nyaman.
"Apa?"
"Maaf, aku terpaksa berbohong agar Chi-sama tidak mengejarku lagi. Tapi, ternyata tindakanku ini salah, justru membuat Chi-sama terpuruk seperti saat dia kehilangan nenek dan orang tuanya. Aku tidak tega, jadi aku menerimanya menjadi calon istriku."
"Apa kau mencintai Chizuru?"
Aku bungkam saat Tuan Tatsuhito menanyakan itu. Kebimbangan menghantuiku. Antara pengawal dan cinta? Manakah yang terbaik?
"Aku sendiri bingung, Tuan." Aku menatap Tuan Tatsuhito dengan kening mengerut.
"Kenapa kau bingung?" Tuan Tatsuhito turut mengerutkan dahi.
"Aku sudah berjanji pada ayah untuk selalu mengabdi pada keluarga anda dan aku sudah bersumpah tidak akan jatuh cinta pada keturunan anda. Tapi, sepertinya aku mengingkari janji dan sumpah itu."
"Itu berarti Tuhan telah menetapkan jalanmu seperti ini. Kau memang sudah menepati janji pada ayahmu untuk melindungi keluargaku. Tapi, untuk sumpahmu sendiri, hanya kau yang bisa menariknya."
"Tapi, waktu itu, aku bilang tidak akan menarik sumpah itu."
"Kalau begitu, tebuslah kesalahanmu karena melanggar sumpah itu."
"Untuk menebus kesalahan itu, aku harus menusuk diriku dengan pedang ayah, karena aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri. Aku ... memang sudah jatuh cinta pada Chi-sama."
Aku meremas kedua tanganku. Begitu berat menjalani tugas sebagai ninja, tetapi aku tidak boleh mengeluh. Pilihanku jatuh pada cinta yang telah berlabuh di hati Chizuru. Aku ataupun orang lain tidak akan bisa menghentikan pilihan itu.
"Aaah!" Tiba-tiba, terdengar teriakan Chizuru. Aku dan Tuan Tatsuhito terkesiap. Kami membelalakkan mata.
"Chi-sama!" seruku langsung berteleportasi ke tempat Chizuru.
Aku tiba di dekat Chizuru. Mendapati seorang berpakaian ninja hitam sedang menggendong Chizuru di bahunya, berdiri di dekat pintu balkon yang terbuka lebar. Chizuru berteriak, berusaha melepaskan diri darinya.
"Naruto, tolong!" Chizuru melihatku. Mengulurkan tangannya padaku.
"Chi-chan!" Aku kelabakan, tidak mungkin menunjukkan identitasku sebagai ninja di hadapan Chizuru. Tapi, aku harus menyelamatkannya dari ninja hitam itu.
"Chizuru!" Tuan Tatsuhito berlari maju dan melayangkan tongkat baseball ke arah ninja hitam itu. Mengincar kepala bagian belakang ninja hitam.
Ninja hitam melompat salto, menghindari pukulan Tuan Tatsuhito. Dia kehilangan keseimbangan, sehingga menjatuhkan Chizuru. Aku cepat menangkap Chizuru. Chizuru tersungkur ke pelukanku.
"Hei, siapa kau?" tanya Tuan Tatsuhito bermuka garang. Menodongkan tongkat ke arah ninja hitam.
Ninja hitam langsung berlari keluar lewat pintu balkon. Dia melompat ke bawah. Tuan Tatsuhito mengejarnya dan melihat ke bawah.
"Dia menghilang. Naruto, cepat kejar dia!" titah Tuan Tatsuhito melihatku.
Aku mengangguk cepat, melepaskan Chizuru. "Baik!"
Terdengar suara Chizuru saat aku berlari keluar kamar. "Naruto, hati-hati!"
Aku bersemangat karena dukungan dari Chizuru dan Tuan Tatsuhito. Langsung membuka seluruh pakaianku saat tiba di kamarku. Menyisakan pakaian ninja serba hitam sebagai dalamannya. Aku tinggal memakai penutup kepala dan cadar. Kemudian aku membentuk segel tangan agar bisa berpindah tempat ke luar sana.
Aku tiba di atap mansion. Melihat dengan teropong yang kuambil dari kantong dalam bajuku. Teropong canggih yang dibelikan Tuan Tatsuhito, mampu menangkap sosok yang tidak terlihat di malam hari, menjadi terlihat sangat jelas.
"Itu dia!" Aku berteleportasi lagi dan sampai ke atap rumah lain. Menghalangi ninja hitam itu dengan mata menyipit.
"Siapa kau?" tanya ninja hitam itu. Dia mengacungkan dua pedang katana sekaligus.
"Hei, itu pedangku yang kau pegang di tangan kirimu. Kembalikan pedang itu padaku!"
"Oh. Kau ninja biru gelap, kemarin itu."
"Benar. Tapi, kembalikan pedangku itu dulu!"
"Aku tidak akan mengembalikan pedangmu!"
"Oh ya? Itu berarti kau mencari mati!"
Aku bermuka garang, mengeluarkan dua kunai yang sudah disertai kertas peledak. Melemparkan keduanya ke arah ninja hitam. Ninja hitam membungkuk, kaki kanannya ke depan, seperti akan berlari. Dia diam saja saat dua kunai itu meluncur ke arahnya.
Ledakan besar menghantam atap rumah warga. Menimbulkan kepulan asap. Aku masuk ke asap itu, menyerang langsung dengan kunai. Ninja itu melompat tinggi, saat kunai milikku lewat di bawahnya. Sepertinya, dia juga menghindari serangan kunai-kunaiku tadi sebelum ledakan terjadi.
Ninja hitam mendarat di halaman belakang rumah warga. Aku turun dan melemparkan beberapa shuriken. Tapi, tidak berhasil mengenainya. Dia mundur beberapa langkah, menghunuskan ujung dua bilah pedang ke arahku.
"Aku sudah tahu siapa kau," kataku berjalan menyamping perlahan seperti kepiting, "kau Akasuna Sasori, 'kan?"
"Kenapa kau bisa tahu?" tanya ninja hitam. Mungkin dia heran, mengerutkan kening.
"Aku hanya menebak saja."
"Dasar, aku tertipu!"
Ninja hitam merangsekku. Dia melayangkan pedang dari kanan dan kiri. Sepertinya dia terlatih baik menggunakan dua pedang. Aku beradu pedang dengannya hanya menggunakan dua pisau mirip trisula atau disebut Sai. Tidak akan membiarkannya menyentuh kulitku.
Dentingan benda-benda besi terdengar nyaring di malam ini. Aku dan ninja hitam bergerak gesit. Saling menyerang dan memberikan balasan. Melompat, menendang, dan melemparkan senjata-senjata yang dipunyai seperti shuriken, kunai, paku, dan lain-lain.
Kami berpindah bertarung ke jalanan raya yang lengang. Tetap beradu pedang dan sai. Pedang di tangan kanan ninja hitam digunakan untuk menusuk, dan pedang di tangan kiri digunakan untuk menangkis serangan dari sai-ku.
Prinsipnya, ninja harus bertarung dari jarak jauh, sebisa mungkin menghindari pertarungan jarak dekat. Tapi, keadaan sudah mendesak, memaksaku harus bertarung dari jarak dekat karena harus merebut pedang milik ayah.
"Akasuna-san! Kembalikan pedangku!" Aku mundur beberapa langkah, tetap mengacungkan dua ujung bilah sai ke arahnya.
"Memangnya pedang ini sangat berarti untukmu?" Sasori juga tetap menunjukkan kuda-kuda bertarung.
"Sangat berarti. Karena pedang itu adalah peninggalan satu-satunya dari almarhum ayahku."
"Almarhum? Ayahmu meninggal karena apa?"
"Dia terbakar karena mobil yang ditumpanginya meledak akibat terkena bom."
Sasori menurunkan kedua pedangnya. Dia membuka cadarnya, sehingga menampakkan muka aslinya. Wajahnya menyiratkan kemurungan.
"Aku sangat menghargai seseorang yang menyayangi orang tuanya. Jadi, kau berhak mendapatkan benda berharga dari ayahmu." Sasori melemparkan pedang katana berbilah perak dan bergagang jingga itu ke arahku.
Aku menangkap pedang itu dengan tangan kananku. "Terima kasih karena kau memahamiku. Tapi, kau tetap bersalah karena sudah berniat menculik Chi-sama."
"Aku memang berniat menculiknya dan memaksanya menikahiku. Karena aku sangat mencintainya, makanya aku terpaksa melakukan tindakan seperti itu."
"Terpaksa?"
"Ya. Jika kau di posisiku, pasti kau tahu perasaanku sekarang. Diputuskan tiba-tiba lewat telepon, itu sangat menyakitkan."
"Aku tahu perasaanmu itu."
Aku meredupkan mata, turut membuka cadar. Memerhatikan Sasori yang menundukkan kepala. Kurasa dia sedang bersedih karena baru saja kehilangan Chizuru.
"Oh ya, Uzumaki-san. Apa kau tahu siapa orang yang akan dijodohkan dengan Chizuru?" tanya Sasori mengejutkanku.
Aku membelalakkan mata, panik. "I-itu..."
"Kau tidak berani mengatakannya?"
"Aku ... yang menjadi calon suaminya."
"Apa?"
Sasori mengangkat kepalanya dengan cepat. Melototkan mata. Kemudian dia bergerak melayangkan pedang vertikal ke arahku. Aku melompat ke belakang. Dia datang lagi, dan menggerakkan pedang untuk menusuk perutku.
"Kenapa kau yang harus merebutnya dariku? Kenapa?" tanya Sasori sambil menangis, "padahal aku sudah berpacaran selama tiga tahun dengan Chizuru. Pernah bermimpi menikahinya dan membawanya ke Korea. Aku bisa menjaganya dari semua serangan apapun."
Aku menyilangkan dua Sai untuk menahan pedang Sasori, sementara pedangku kembali bersandang di punggungku. "Sebenarnya, Chizuru berpacaran denganmu, bertujuan ingin melupakan aku. Dia mencintaiku sejak aku menjadi pengawalnya."
"Jadi, aku menjadi pelampiasan cintanya?"
"Sepertinya begitu."
"Itu tidak mungkin! Chizuru tidak mungkin melakukan itu!"
"Chi-sama bisa bunuh diri jika aku tidak menerima cintanya. Dia memiliki cinta yang sangat besar untukku. Karena itu, aku menerima cintanya."
Aku menendang perut Sasori. Sasori terpental dan terseret beberapa meter di jalanan. Sepertinya dia tidak bertenaga lagi untuk melawanku. Sebab dikuasai perasaan sakit hati.
"Aku tidak bisa menyerahkan Chizuru pada ninja yang berasal dari klan yang pernah membakar rumahku. Sasori, kita adalah musuh," ungkapku berjalan cepat menghampiri Sasori.
"Aku telah disakiti oleh perempuan yang kucintai dan akan terbunuh oleh ninja yang menjadi musuhku," tukas Sasori bernada pasrah. Mukanya muram. Air mata tetap bercucuran di dua pipinya.
"Tentu aku tidak akan membunuhmu. Karena kau sudah berbaik hati mengembalikan pedangku."
"Bunuh saja aku sekarang!"
Sasori berteriak menggila. Menatap aku yang berdiri di sampingnya. Aku hanya bermuka datar, memegang bahunya.
"Aku tidak akan membunuhmu. Sampai jumpa lagi." Aku menghilang dalam kepulan asap, berpindah tempat ke balkon kamar Tuan Tatsuhito.
Tuan Tatsuhito berdiri di hadapanku. Aku berlutut satu kaki, menunduk. Tersenyum.
"Aku sudah membereskan ninja itu, Tuan," tuturku dengan perasaan tenang.
"Bagus," sahut Tuan Tatsuhito. Dia tampak girang.
"Di hadapan anda, aku menebus kesalahan karena mengingkari sumpahku."
Aku sigap menyabet pedang dari punggungku. Kemudian mengacungkan bilah pedang ke perutku. Memejamkan mata. Menghela napas, mengembuskannya pelan-pelan. Tanpa ragu lagi, aku menancapkan ujung tajam pedang ke perutku.
Aku merasakan sakit luar biasa di perutku. Menyiksa batinku hingga aku oleng. Tidak sadarkan diri lagi.
.
.
.
"Naruto-kun! Naruto-kun!" Suara Chizuru terdengar di gendang telingaku. Menuntunku membuka mata. Mendapati wajah Chizuru di atasku.
"Chi-chan." Aku mengerjapkan mata beberapa kali.
"Naruto-kun." Chizuru mendekap leherku erat. "Syukurlah, kau sadar juga."
"Aku ada di mana?"
"Di rumah sakit."
"Aku belum mati?"
"Kau masih hidup, tetapi kakek yang malah kritis."
"Kritis? Apa maksudmu?"
"Penyakit kakek kambuh lagi."
Chizuru bermuka murung. Matanya berkaca-kaca. Hendak mengalirkan air mata. Aku buru-buru duduk, tidak menggubris nyeri luar biasa di perutku. Bertelanjang dada, hanya mengenakan celana panjang katun biru muda. Perban putih membelit bagian perutku, dan ditutupi lagi dengan kain hijau.
"Bagaimana ceritanya sampai Tuan Tatsuhito bisa mengalami penyakit itu lagi?" tanyaku mengerutkan kening. Meletakkan kepala Chizuru ke dadaku.
"Kakek telat makan selama tiga hari ini, makanya maag-nya kambuh. Lambungnya sudah semakin terluka. Tidak ada harapan lagi untuk sembuh," jawab Chizuru dengan nada yang seakan bergetar.
"Kalau begitu, kita berdoa saja agar Tuan Tatsuhito bisa sembuh. Aku yakin Tuhan akan menyembuhkannya."
"Ya, Naruto-kun."
Chizuru melingkari pinggangku. Tangan kiriku yang terpasang alat infus, bergerak membelai rambut panjangnya. Mataku sayu. Mukaku kusam. Turut sedih dengan apa yang terjadi pada Tuan Tatsuhito.
Sunyi. Aku dan Chizuru tetap di posisi itu hanya beberapa menit. Chizuru melepaskan pelukan, menatap wajahku intens.
"Kau mau bertemu dengan kakekku?" tanya Chizuru memegang pipi kiriku.
"Ya, mau," jawabku mengangguk pelan.
"Tapi, kita tidak boleh masuk untuk menjenguknya karena hari ini, sudah memasuki tengah malam. Besok pagi, kita bisa menjenguknya."
"Oh, pantas. Tempat ini kurang terang karena sudah malam."
"Ya. Aku mematikan lampu saat aku tidur tadi. Lalu aku terbangun karena mendengar suaramu yang memanggilku."
"Aku menggigau?"
Aku sedikit membesarkan mata. Chizuru mengangguk, lalu menutup mata dengan kedua tangannya. Berdiri membelakangiku.
"Ada apa denganmu?" tanyaku mengernyitkan dahi lagi.
"Kau tidak pakai baju. Tutup dengan selimut sana!" jawab Chizuru bersuara cukup keras.
"Tapi, apa kau membawa pakaianku?"
"Bawa. Ada di tas di meja itu."
Aku menoleh ke samping. Menemukan nakas di samping ranjang yang kutempati. Aku mengambil tas itu dan menemukan satu baju kaos. Lalu aku memakai baju kaos itu.
"Aku sudah memakai baju. Jadi, buka matamu." Aku tersenyum.
Chizuru menoleh ke arahku, membuka mata. "Aaah, syukurlah."
"Kenapa kau tidak mau melihatku berpenampilan seperti tadi?"
"Aku belum pantas melihatmu seperti tadi."
Muka cantik Chizuru dihiasi semu merah. Dia bersikap malu-malu kucing. Mendebarkan jantungku. Hatiku tidak salah menetapkan pilihan yaitu cinta.
"Chi-chan, aku mau menciummu," pintaku tiba-tiba. Membuat mata Chizuru melebar.
"Hah? Ci-cium?" tanya Chizuru melongo, "i-ini rumah sakit. Jangan minta itu sekarang."
"Tidak apa-apa."
Aku perlahan turun, merasakan tubuhku masih lemah. Untuk berjalan saja, aku bertopang pada tiang infus. Mungkin saat aku menusuk perutku sendiri dengan pedang, aku kehilangan banyak darah.
"Jangan bergerak dulu. Kau baru sadar," kata Chizuru mendekap pinggangku.
"Aku tidak apa-apa," sahutku tersenyum, meraih dagu Chizuru. Melembutkan mata.
Wajah Chizuru mengarah pada wajahku. Matanya sayu, sepertinya sehabis menangis. Aku tertegun, meredupkan mata. Kemudian mendaratkan bibirku ke dahinya.
Aku teringat dengan ucapan ibu, jika aku menemukan gadis yang kucintai dan siap menikahinya, aku harus memberikan tanda cinta untuknya. Tanda cinta yang bukan berarti memberikan cincin pernikahan, tetapi ciuman di kening.
Aku tidak tahu mengapa ibu mengatakan itu. Tentu aku harus melakukannya untuk membuktikan perasaanku pada Chizuru. Ciuman tulus yang berasal dari lubuk hatiku yang terdalam.
Aku melepaskan ciuman itu. Chizuru menatapku dengan senyuman. Dia memegang dahinya.
"Aku tidak punya cincin, tetapi aku ingin melamarmu hari ini," ungkapku serius, "Chi-chan, apa kau mau menikah denganku?"
Chizuru mengangguk cepat. "Ya. Aku mau. Soal cincin, itu urusan belakangan."
"Aku ingin menikah denganmu di hadapan kakekmu. Kita tunggu dia sampai sadar."
"Iya."
Chizuru mengangguk. Memberiku senyuman terindah miliknya untukku. Lalu aku menggenggam tangan kanannya, mencium punggung tangannya dengan penuh perasaan.
Aku dan Chizuru berpelukan erat. Kami memejamkan mata. Merasakan kebahagiaan yang sama.
"Naruto-kun, aku merasa kau tidak pernah mengatakan 'aku mencintaimu' padaku," ujar Chizuru melonggarkan pelukan, menatapku tajam.
"Itu tidak perlu dikatakan, tetapi ditunjukkan lewat perbuatan dan tindakan," sahutku lantang. Meletakkan kepalanya ke dadaku.
"Kau kadang bersikap dingin, tetapi kadang bersikap hangat. Dasar, aku bingung dengan sikapmu ini."
"Aku tetaplah aku. Aku tidak akan pernah berubah, akan selalu menjadi pelindungmu dari balik bayangan, Chi-chan."
Aku membelai rambut Chizuru. Beradu dahi dengan dahinya. Hanya Chizuru yang kumiliki sekarang. Dia permata hatiku yang bermakna.
.
.
.
Bersambung
.
.
.
A/N:
Chapter kali ini, lebih panjang. Terima kasih karena sudah membaca sampai chapter ini.
Tertanda, Hikasya.
Kamis, 1 April 2021
