Disclaimer:
Naruto: Masashi Kishimoto
Kanojo, Okarishimasu: Reiji Miyajima
.
.
.
Pairing: Naruto x Chizuru
Rating: M (karena ada pembunuhan dan sebagainya)
Genre: romance, crime, action, hurt/comfort, tragedy, fantasy
Setting: Alternate Universe (AU)
.
.
.
The Ninja in the Shadows
By Hikasya
.
.
.
Chapter 8. Teman
.
.
.
Tuan Tatsuhito sudah sadar. Dia menatapku dan Chizuru dengan senyuman. Terbaring di ranjang dengan selimut yang membalut tubuhnya. Tangan kirinya terpasang alat infus, sedangkan tangan kanannya menjulur padaku.
"Pakailah cincin ini untuk tanda pernikahan kalian," ungkap Tuan Tatsuhito, bernada lemah, "ini cincin yang dibelikan oleh Zabuza dan Haku."
Aku sempat memerhatikan dua orang kepercayaan Tuan Tatsuhito, Zabuza dan Haku. Tidak mengetahui secara pasti marga mereka. Mereka bekerja sebagai pengawal Tuan Haku secara terang-terangan selama di kantor, berbanding terbalik denganku. Aku seorang ninja yang hanya bergerak diam-diam melindungi keluarga Ichinose -- sehingga Tuan Tatsuhito menjulukiku ninja di balik bayangan.
Senyuman menghiasi mukaku. Menuntunku untuk meraih cincin putih polos itu dari tangan Tuan Tatsuhito.
"Ya, terima kasih, Tuan," kataku menggenggam cincin itu.
"Pendeta, tolong nikahkan mereka berdua sekarang." Tuan Tatsuhito melihat pendeta yang berdiri di belakangku dan Chizuru.
"Baiklah." Pendeta yang datang bersama Zabuza dan Haku, mengangguk. Dia mendekati aku dan Chizuru yang berdiri di samping ranjang.
Aku dan Chizuru berpakaian pengantin, melakukan upacara pernikahan mendadak atas pinta Tuan Tatsuhito. Banyak orang yang menjadi saksi atas pernikahan ini. Mereka bertepuk tangan saat aku menyematkan cincin ke jari manis kiri Chizuru usai melakukan upacara pernikahan.
"Selamat, Naruto-san, dan Chi-sama!" seru Haku tersenyum lebar. Dia itu pria tulen, tetapi berparas manis seperti perempuan. Bersetelan hitam.
"Akhirnya perusahaan Ichinose Otovehicle memiliki pemilik yang baru," sahut Zabuza. Dia memakai masker hitam. Berpakaian hitam yang sama dengan Haku.
"Ya. Aku telah meninggalkan warisan yaitu mansion dan perusahaan Ichinose Otovehicle untuk kalian berdua, Naruto, Chizuru. Kalian sama-sama kuliah di jurusan ekonomi, tentu bisa mengurus perusahaan itu." Tuan Tatsuhito mengangguk.
"Tapi, Tuan Tatsuhito. Aku merasa tidak pantas mengurus perusahaan itu. Lebih baik aku tetap menjadi pengawal Chi-sama." Aku menggeleng pelan.
"Naruto-kun, kau sudah menjadi suamiku. Tentu kita akan sama-sama mengurus perusahaan itu." Chizuru mengapit lengan kiriku.
Aku tersenyum, mengangguk cepat. Chizuru juga tersenyum. Kemudian suara Tuan Tatsuhito membuat mataku melebar.
"Sebaiknya kalian pergi berbulan madu sekarang. Aku sudah menyewa satu kamar untuk kalian di hotel berbintang lima. Haku yang akan mengantarkan kalian ke sana," ungkap Tuan Tatsuhito tersenyum menggoda.
"Ya, Naru-sama, Chi-sama. Ayo, kita berangkat sekarang juga!" Haku tersenyum, menunduk hormat.
"Tapi, Kakek bagaimana? Tidak mungkin kami meninggalkan Kakek yang masih sakit begini." Chizuru bermuka cemas.
"Ada Zabuza yang akan menjaga Kakek."
Zabuza mengangguk, mengacungkan jempol. Dia menepuk bahu Haku. Haku tersenyum, turut mengacungkan jempol.
"Tunggu apa lagi? Sana pergi! Biarkan Kakek beristirahat," kata Tuan Tatsuhito melototiku dan Chizuru.
"Baik, Tuan," balasku mengangguk. Menarik tangan Chizuru. Berjalan keluar bangsal mewah itu.
"Sampai nanti, Kek. Kalau ada apa-apa, kabari kami," seru Chizuru saat Haku menutup pintu.
Aku, Chizuru, dan Haku berjalan beriringan di koridor yang cukup ramai. Banyak orang lalu-lalang. Ada suster-suster yang mendorong tempat tidur beroda dan kursi roda. Dokter yang berlari karena mau pergi ke ruang operasi. Banyak pemandangan menarik yang kutemui di sepanjang perjalanan menuju luar rumah sakit.
Keadaanku sudah membaik. Perasaanku juga sangat bahagia karena Tuan Tatsuhito sudah sadar dan aku mendapatkan istri cantik seperti Chizuru. Tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Aku dan Chizuru sudah masuk ke mobil. Kami duduk di kabin belakang sedangkan Haku duduk di kabin depan. Haku bertindak sebagai supir yang mengantarkan kami sampai ke hotel.
Entah mengapa tubuhku mendingin, padahal AC tidak dihidupkan. Hanya mengandalkan angin yang masuk ke celah jendela mobil yang sedikit terbuka, cukup menghalau panas hari ini. Hatiku berdebar, memikirkan apa yang kulakukan saat tiba di hotel nanti.
"Naruto-kun, kenapa kau diam saja?" tanya Chizuru memegang bahuku. Mengejutkanku.
"Tidak ada yang menarik untuk dibicarakan, makanya aku diam," jawabku berusaha menyembunyikan kegelisahan.
"Oh, kupikir kau sedang membayangkan yang bukan-bukan."
"Aku bukan laki-laki yang berpikiran buruk."
"Aku tahu itu."
Chizuru terkikik pelan, menyandarkan kepalanya ke bahu kiriku. Kepalanya yang tertutupi dengan tudung mantel kimono putih, tampak rambut cokelatnya yang menyembul keluar. Aku memerhatikan istriku ini saksama. Mencetak senyum di wajahku.
Perjalanan aku, Chizuru, dan Haku berhenti di depan sebuah hotel. Aku dan Chizuru keluar dari mobil. Haku tidak keluar, hanya melemparkan senyum dari balik kaca jendela yang terbuka lebar.
"Itu pelayan yang ditugaskan untuk mengantarkan kalian langsung ke kamar." Haku menunjuk pria bertopi dan bermasker serta berpakaian khas pelayan hotel.
"Oh, baiklah." Aku melihat pria bertopi yang datang menghampiriku dan Chizuru.
"Apakah kalian berdua adalah Uzumaki Naruto dan Uzumaki Chizuru?" tanya pria bertopi itu membungkuk hormat.
"Ya, benar."
"Biar aku yang mengantar kalian sampai ke kamar. Ayo, ikuti aku!"
"Selamat bersenang-senang, Naru-sama, Chi-sama!" seru Haku melambaikan tangan, lalu mengendarai mobil untuk pergi dari sana.
Aku dan Chizuru mengekori pria bertopi itu. Kami naik tangga dan masuk ke hotel. Menemukan ruang lobi yang sangat luas dan berinterior elegan dengan dominasi warna putih-perak. Ada beberapa orang yang berjaga di belakang counter. Ada juga orang-orang yang mondar-mandir dan duduk di bangku panjang. Tapi, mereka memakai masker dan topi yang sama seperti pelayan yang mengantarkan aku dan Chizuru ke kamar.
Aku, Chizuru, dan pelayan naik lift. Kami berhenti di lantai lima. Banyak kamar mewah atau kelas Presiden yang berderetan rapi di sisi-sisi koridor. Keadaan sepi. Membuatku bertanya-tanya. Mengundang kecurigaan.
"Ini kunci kamar kalian," ujar pelayan itu memberikan kunci padaku, "jika kalian membutuhkan sesuatu, kalian bisa menghubungi aku di nomor ini."
Aku menyambar kunci kamar dan secarik kertas kecil yang dirobek tidak beraturan. "Ya. Terima kasih."
"Ini buatmu." Chizuru memberikan beberapa lembaran uang untuk pelayan itu. Tapi, pelayan mendorong kembali tangan Chizuru yang menggenggam uang.
"Tidak. Terima kasih. Aku pergi dulu." Pelayan itu tergesa-gesa melangkah. Dia memegang ujung depan topinya dengan erat, berusaha menyembunyikan wajahnya dari pengintaianku.
"Naruto-kun, ada apa?" tanya Chizuru yang membuatku menoleh ke arahnya.
"Tidak ada apa-apa. Ayo, kita masuk saja!"
Aku membuang pikiran negatif tentang pelayan tadi. Fokus untuk menghadapi apa yang akan kulakukan sekarang. Aku membuka pintu dengan kunci. Menemukan ruangan yang sangat luas. Dipenuhi perabotan mewah yang lengkap.
"Wah, indah sekali!" seru Chizuru langsung duduk di pinggir ranjang, "Kakek pintar sekali memilih kamar ini."
Aku menutup pintu kamar, dan memerhatikan interior yang berwarna serba biru muda. "Ya, benar."
"Naruto-kun, kita menginap dua minggu di sini, ya?"
"Terserah kau saja."
"Kenapa kau bilang begitu? Sepertinya kau tidak bahagia dengan pernikahan ini."
"Siapa bilang aku tidak bahagia?"
Aku bermuka cerah, berjalan mendekati Chizuru. Berdiri di hadapan Chizuru, lalu memegang kedua bahunya. Chizuru menatapku dengan rona merah tipis di dua pipinya.
.
.
.
Malam itu, aku terbangun tiba-tiba karena merasa lapar. Aku menoleh ke samping. Chizuru sedang terlelap dalam satu selimut denganku. Tangannya yang menggenggam tanganku selama tidur, telah mengendur. Kesempatan ini kugunakan untuk menyibak selimut dan turun pelan-pelan dari tempat tidur.
Aku memakai pakaian kasual -- celana kaos dan celana pendek. Menyadari ponsel milikku menyala terang, tergeletak di atas nakas di samping ponsel milik Chizuru. Aku mengambil benda pipih berbentuk persegi itu, melihat pesan yang muncul di layar. Pesan dari Haku.
Naru-sama, ada kabar buruk. Tuan Tatsuhito dan Zabuza-san, mereka meninggal karena diserang oleh dua orang yang tak dikenal, pada pukul tujuh malam tadi. Tapi, untung sekali Zabuza-san sudah berhasil membunuh salah satu dari orang asing itu. Tubuh mereka kini disimpan di kamar mayat.
Suara hatiku yang membaca isi pesan itu. Membuat mataku melebar. Jantungku seakan berhenti berdetak. Bertepatan muncul sepasang tangan lembut yang membelit perutku, sangat mengejutkanku.
"Naruto-kun, kenapa kau terbangun?" tanya Chizuru yang bersandar di punggungku. Dia bergaun tidur selutut.
"Chi-chan, kuharap kau tegar menerima kabar ini," jawabku memegang tangan Chizuru erat sekali.
"Kabar apa?"
"Tuan Tatsuhito dan Zabuza-san ... diserang oleh dua orang tidak dikenal. Mereka meninggal di malam ini."
"Apa?"
Chizuru berteriak kaget. Dia melepaskan pelukan. Aku menoleh ke arahnya. Bulir-bulir air mata telah merembes dari sela netra cokelatnya. Tangan kanannya menutup mulut. Syok sekali.
"Ka-kakek ... tidak mungkin kakek meninggal! Tidak mungkin!" raung Chizuru. Tubuhnya bergetar hebat. Tidak bisa menguasai diri karena kesedihan ini.
Aku mengurung Chizuru dalam pelukanku. "Jangan menangis. Aku ada di sini. Akulah keluargamu sekarang. Chi-chan, terimalah takdir Tuhan ini dengan ikhlas."
"Ya, Naruto-kun. Tapi, kakek..."
"Tenang saja. Besok, kita pergi melihat kakekmu. Lalu, Haku yang mengabarkan ini bilang, jasad kakekmu disimpan di kamar mayat."
"Ya. Tapi, kasihan kakek dan Zabuza-san, siapa yang tega membunuh mereka?"
"Aku tidak tahu, tetapi aku akan mencari tahu tentang siapa mereka. Kau tidak usah khawatir lagi."
Aku meredupkan mata. Tidak bisa menitikkan air mata dalam situasi seperti ini. Karena aku sudah dilatih agar tidak bersikap lemah terhadap apapun. Aku ingat, terakhir kali aku menangis, ketika kehilangan orang tuaku. Saat itu juga, aku berjanji pada diri sendiri, tidak akan menangis lagi.
"Chi-chan, ayo, tidur lagi!" Aku membaringkan Chizuru.
Chizuru mengangguk saat aku mengelus rambutnya yang berantakan. "Naruto-kun, untung aku memilikimu saat aku kehilangan kakek. Kalau kau tidak ada, aku bingung apa yang harus kulakukan. Mungkin aku akan depresi dan bunuh diri."
"Takdir telah menetapkan kita bersama. Harapan kakekmu yang menginginkan aku menikah denganmu, sudah terwujud. Pasti dia sudah tenang di alam sana."
"Ya. Terima kasih, Naruto-kun. Karena kau telah hadir di kehidupanku dan keluargaku."
Giliranku yang mengangguk. Kemudian Chizuru meletakkan kepalanya ke pahaku. Menjadikan pahaku sebagai bantal menyangga kepalanya. Aku membiarkannya, hanya senyuman yang kutebarkan untuk menghiburnya.
Ketika Chizuru tertidur pulas, aku meletakkan kepalanya hati-hati ke bantal dan membungkus tubuhnya dengan selimut. Aku turun dari ranjang. Bergegas berteleportasi langsung ke kamarku di mansion keluarga Ichinose. Mengambil shinobi shozoko warna hitam -- pakaian ninja -- dari lemari. Aku memakainya.
Semua persiapan sudah selesai, aku melesat pergi ke rumah sakit hanya satu detik saja. Berteleportasi dan tiba di depan pintu kamar mayat. Sebab sudah banyak tanda segel yang kucetak di rumah sakit, tempat Tuan Tatsuhito dirawat, sehingga mempermudahkan aku untuk berpindah tempat.
"Kau pasti klan Namikaze yang menjadi pelindung keluarga Ichinose, kan?" tanya seseorang tiba-tiba. Suaranya berasal dari belakang.
Aku menoleh cepat dan menemukan sosok yang berdiri miring di dinding. "Siapa kau?"
"Aku ninja dari klan Momochi yang disewa Tuan Tatsuhito."
"Apa? Klan Momochi?"
Klan Momochi, salah satu klan ninja yang sudah hilang sejak zaman Edo. Pengguna kenjutsu yang andal. Pernah membantu klan Namikaze saat melawan para samurai di zaman Sengoku.
"Kau pasti kaget saat aku menyebutkan klan Momochi. Ya, kami memang menghilang dari dunia luar. Memilih bersembunyi di pendalaman hutan karena tidak mau terlibat lagi dengan masalah dunia," ungkap ninja hijau itu -- aku menyebutnya begitu karena shinobi shozuku yang dipakainya berwarna hijau.
"Ya, aku kaget. Tapi, apa yang kau lakukan di sini?" tanyaku mengerutkan kening.
"Aku tahu kau akan datang ke sini langsung untuk memeriksa apa yang terjadi dengan Tuan Tatsuhito dan Zabuza-san, makanya aku menunggumu di sini," jawab ninja hijau berjalan mendekatiku, "saat aku menemukan mayat Zabuza-san, aku juga menemukan mayat orang yang telah dibunuhnya di halaman belakang rumah sakit ini. Lalu, aku juga menemukan dua benda ini."
Ninja hijau mengeluarkan plastik besar yang berisikan baju shinobi shozuku hitam berlambang awan merah dan shuriken emas segidelapan dari kantong celananya. Aku mengambil plastik itu, meneliti setiap sisinya. Mengejutkan adalah shuriken segidelapan itu.
"Shuriken ini? Sama yang kutemukan saat menghadapi ninja hitam itu." Aku mengeluarkan shuriken segidelapan dari kantong dalam bajuku. Mencocokkannya dengan shuriken yang ada di plastik.
"Shuriken ini milik anggota Akatsuki." Ninja hijau bersuara lembut seperti perempuan.
"Akatsuki? Siapa mereka?"
"Para ninja teroris yang suka mengincar orang-orang kaya seperti keluarga Ichinose. Mereka melakukan pengeboman, membunuh, dan merebut harta kekayaan dari korban-korbannya. Ya, mereka menggunakan hasil jarahan itu hanya untuk bersenang-senang saja."
"Kau tahu darimana semua itu?"
"Gampang saja, aku sudah lama menyelidiki mereka. Lalu, ada satu hal, kau harus tahu ini, markas mereka ada di hutan barat yang ada di tepi kota Konoha ini."
"Baik, informasimu sangat membantuku. Terima kasih. Tapi, aku punya satu permintaan padamu."
"Permintaan apa itu?"
"Tolong jaga istriku, Chizuru, selama aku pergi."
"Hei, kau mau pergi kemana?"
"Ke markas Akatsuki itu."
Aku membentuk segel tangan. Menghilang dalam kepulan asap. Tiba di atap rumah sakit. Memandang lepas ke arah hutan yang dimaksud ninja hijau tadi.
Kegelapan masih menguasai sekelilingku. Warnanya sama dengan pakaian yang kupakai. Warna yang melambangkan kematian, karena kedua tanganku sudah siap mengambil nyawa orang-orang yang telah membunuh semua orang terdekatku. Tidak sabar ingin pergi sekarang juga.
"Kini aku sudah tahu siapa yang telah membunuh orang tuaku, orang tua Chizuru, Nyonya Sayuri, dan Tuan Tatsuhito," kataku seraya menggenggam dua shuriken segidelapan itu, "Akatsuki, akan kuhancurkan malam ini juga!"
"Tunggu!" Tiba-tiba, muncul suara yang menghalangi langkahku. Asalnya dari sampingku.
Sosok ninja hitam menyandang pedang katana merah di punggungnya, berdiri tak jauh dariku. Dia bersedekap dada dengan dada yang sedikit membusung. Memandang ke arah yang sama denganku.
"Kau, Akasuna-san?" tanyaku mengerutkan kening.
"Kau tidak akan bisa menghadapi mereka sendirian, karena jumlah mereka cukup banyak," jawab Sasori tanpa menoleh ke arahku.
"Kau mengikutiku?"
"Ya. Sejak malam pertarungan kita, aku mengikutimu. Tidak kusangka, kau dan Chizuru sudah menikah."
Suara Sasori terdengar sendu. Tapi, aku tidak tahu bagaimana ekspresinya sekarang karena terlindung cadar. Sasori memegang matanya, sepertinya dia menangis.
"Maaf, karena aku sudah memiliki Chizuru seutuhnya," kataku bertampang kusut.
"Tidak apa-apa. Aku sudah bisa menerima semua itu. Sekarang, aku ingin membantumu sebagai teman baikmu," tukas Sasori membuka cadarnya, memperlihatkan senyuman yang memikat, "dulu, aku pernah bergabung dengan Akatsuki saat masih bersekolah di SMA. Tapi, karena keluargaku memilih merintis restoran di Korea Selatan, makanya aku ikut mereka pindah ke sana. Lalu shuriken segidelapan yang kau pegang itu, adalah tanda identitas kami sebagai anggota Akatsuki."
Aku melebarkan mata. Mendengarkan Sasori yang mengetahui lebih banyak tentang Akatsuki. Membuatku menyipitkan mata. Meremas kedua tangan dengan perasaan muak.
"Dulu mereka adalah orang-orang yang baik. Tapi, kenapa mereka berubah menjadi mafia kelas kakap begini? Pasti ada yang mempengaruhi mereka hingga berbuat kejahatan seperti itu," tutur Sasori memegang dagu dengan tangan kanannya.
"Kejahatan mereka sudah melampaui batas. Aku tidak bisa membiarkan mereka bebas lagi," balasku bermuka serius.
"Ya. Aku sependapat denganmu."
"Kalau begitu, tunggu apa lagi, kita pergi saja ke sana sekarang! Kita habisi mereka sebelum pagi tiba!"
"Baik!"
Sasori mengangguk cepat. Dia memasang kembali cadarnya. Aku memegang bahunya agar bisa berteleportasi bersamaku. Kami berpindah tempat langsung ke hutan itu karena ada tanda segel klan Namikaze yang tercetak di salah satu pohon.
"Kau memang hebat, karena bisa menggunakan jurus hiraishin itu, Uzumaki-san." Sasori memerhatikan segel yang berbentuk lambang klan Namikaze, tertempel di batang pohon di dekatnya.
"Ya, aku mempelajarinya dari ayah selama setahun." Aku tersenyum, berdiri bersisian dengannya.
"Kalau kau memiliki anak nanti, didiklah dia menjadi ninja yang hebat seperti dirimu."
"Tentu, dia tidak akan menjadi pelindung keluarga Ichinose lagi."
Aku menepuk bahu Sasori. Sasori mengangguk. Kami mengamati keadaan sekitar. Hening. Waspada sebab kami sudah berada di hutan bagian barat.
"Markas Akatsuki itu tidak pernah berubah. Tetap di sini juga. Itu berarti ... aku tahu jalan rahasia untuk masuk ke sana. Ayo, ikuti aku!" Sasori berlari kencang melewati semak-semak setinggi dirinya. Aku mengikutinya, berlari laju khas seorang ninja. Kedua tangan terulur ke belakang dengan badan sedikit condong ke depan. Kami bergerak sembunyi-sembunyi di balik kekelaman malam.
.
.
.
Bersambung
.
.
.
A/N:
Inilah chapter-chapter terakhir. Nantikan terus kelanjutannya.
Terima kasih banyak.
Jumat, 2 April 2021
