Disclaimer:

Naruto: Masashi Kishimoto

Kanojo, Okarishimasu: Reiji Miyajima

.

.

.

Pairing: Naruto x Chizuru

Rating: M (karena ada pembunuhan dan sebagainya)

Genre: romance, crime, action, hurt/comfort, tragedy, fantasy

Setting: Alternate Universe (AU)

.

.

.

The Ninja in the Shadows

By Hikasya

.

.

.

Chapter 9. Kehancuran

.

.

.

Aku dan Sasori menemukan lubang yang tertutupi dengan pintu kayu di antara tanaman merambat. Kami masuk ke lubang itu. Menjumpai lorong bawah tanah yang sangat gelap.

"Ini jalan rahasia darurat jika kami kabur dari ketua," ucap Sasori merangkak di depanku karena lorong itu kecil dan sempit. Dia menyinari ujung lorong dengan senter yang dibawanya.

"Sampainya nanti di mana?" tanyaku penasaran. Merangkak juga.

"Sampai di bagian gudang."

"Ada gudang?"

"Ya. Tempat menyimpan barang-barang seperti dus-dus makanan instans, minuman kaleng, dan pakaian. Kami menjadikan markas itu sebagai penginapan dan tempat latihan untuk mengasah kemampuan ninja kami. Lalu aku belajar kenjutsu juga dari ketua."

Ketua yang dimaksud Sasori adalah Yahiko. Aku tidak tahu bagaimana rupa Yahiko itu. Tapi, aku akan mengetahuinya sebentar lagi.

Di ujung depan, mulai muncul secercah cahaya. Aku dan Sasori mempercepat rangkak, lalu keluar dari lubang yang ternyata berada di lantai. Kami menggeser dus-dus bertingkat yang menutupi lubang dengan bersusah payah. Naik dan menemukan ruangan yang cukup luas.

"Ini memang gudang," kataku menyebarkan pandangan ke segala arah.

"Masih seperti dulu," sahut Sasori berjalan dan memeriksa setiap dus-dus bertingkat itu, "sepertinya aku harus reuni dengan mereka. Oh ya, Uzumaki-san, kau harus memasang bom-bom waktu ini di atap markas ini. Bom-bom itu akan meledak setelah melewati satu jam."

Sasori mengeluarkan kantong kulit besar dan kertas putih yang berisikan denah markas ini, dari saku dalam bajunya. Dia memberikan semua padaku. Aku mengangguk, memegang benda-benda yang diberikannya ini.

"Baiklah. Setelah memasang bom ini, aku akan menjemputmu." Aku bermuka serius.

"Tidak usah menjemputku. Kau pergilah langsung setelah memasang bom-bom itu." Sasori berjalan dan membuka pintu gudang yang ternyata tidak terkunci.

"Tapi, Akasuna-san..."

"Jangan mengkhawatirkan aku. Khawatirkan istrimu." Sasori tersenyum. "Ini mungkin menjadi pertemuan kita yang terakhir. Jadi, aku minta cintailah Chizuru dan bahagiakan dia seumur hidupmu. Jika kau tidak melakukannya, aku akan menghantuimu."

"Akasuna-san..."

Aku terpaku dengan ucapan Sasori yang aneh. Sasori langsung keluar dan menutup pintu. Mungkin dia pergi menemui teman-teman lamanya yang berkumpul di ruangan lain. Semoga keadaannya baik-baik saja.

Aku memusatkan cakra ke telapak tangan. Menghentakkan telapak tangan ke lantai. Cakra keluar dan mencetak segel ke lantai. Segel itu menghilang, dan hanya bisa terlihat ketika aku menggunakannya sebagai portal teleportasi.

Kemudian aku mendongak, mencari celah untuk masuk ke langit-langit ruangan. Aku menemukannya, dan melompat tinggi ke celah kecil yang ada di sudut tempat itu. Tiba di dalam, antara loteng dan langit-langit. Langsung memasang satu bom waktu di kayu penopang loteng di tengah kegelapan.

Bom waktu aktif setelah aku memasangnya. Aku mengambil senter, lalu menyalakan senter dan berjalan hati-hati ke tempat lain untuk memasangkan bom-bom lain. Sekalian mencetak segel-segel teleportasi agar mempermudahkan aku berteleportasi.

Pekerjaanku selesai. Sebelum bom meledak, aku penasaran ingin mengecek keadaan Sasori. Aku merangkak dan menempelkan telinga ke permukaan langit-langit yang terbuat dari kayu, bertujuan mencari sumber suara.

Pencarianku membuahkan hasil. Aku menemukan suara Sasori. Lalu melubangi atap dengan kunai agar bisa melihat apa yang terjadi.

Aku mengintip di lubang sebesar mataku. Di bawah sana, Sasori sedang tertawa bersama sekelompok orang yang berpakaian shinobi shozuku berlambang awan merah di punggung. Mereka duduk mengelilingi meja bulat sambil menikmati minuman-minuman yang memabukkan.

"Sasori, kau masih seperti dulu juga," ucap pria berambut jingga yang menyengir.

"Ya. Kau masih tampan dan sedikit tinggi sekarang," sahut pria berambut pirang yang diikat satu menyerupai ekor kuda.

"Apa kau sudah punya pacar, Sasori?" tanya wanita berambut biru sebahu.

"Dulu, aku punya pacar. Tapi, hubunganku dan dia sudah berakhir. Karena dia sudah menikah dengan orang lain," jawab Sasori tersenyum, mendongak ke arahku. Sepertinya dia tahu aku mengintipnya. "Tapi, aku sudah melupakan semuanya. Sekarang aku ingin menikmati acara reuni bersama kalian di sini."

"Bersulang untukmu, Sasori!" seru pria bermuka mirip wajah hiu.

"Bersulang!" balas semua orang yang ada di sana. Mereka langsung minum kompak. Bahkan ada yang sudah mabuk berat, meracau tidak jelas.

"Sayang sekali, Kakuzu dan Zetsu tidak ada di sini. Kakuzu sudah meninggal karena dibunuh Zabuza, lalu Zetsu juga sudah dibunuh oleh istri Namikaze Minato itu." Pria berambut hitam berdiri dan menunjuk Sasori. Dia yang meracau. "Hei, Sasori, bukankah pacarmu itu adalah Chizuru yang selalu dikawal oleh pria berambut pirang? Aku benar, 'kan?"

"Benar." Sasori mengangguk.

Sasori minum lagi. Dia terlihat mulai mabuk. Tapi, tidak meracau seperti pemuda berambut hitam itu. Senyuman terukir di wajahnya yang mulai kusam.

Aku harus membawa Sasori dari sini. Tapi, bagaimana caranya? Aku berpikir sebentar, lalu terkesiap saat melihat pria berambut orange berdiri dan menghunuskan pedang ke arah Sasori.

"Pesta reuni sudah selesai. Sasori, kau bukan anggota ini lagi," ungkap pria berambut orange dengan intonasi berat, "aku sudah tahu niatmu bukan hanya reuni, tetapi kau juga membawa orang asing ke sini."

Sasori terdiam, memegang bilah pedang itu hingga tangannya berdarah. "Aku tidak membawa siapapun, Yahiko."

"Lalu siapa yang mengintip di lubang itu?"

Pemuda berambut orange -- Yahiko -- melemparkan kunai ke lubang, tempat aku mengintip. Ternyata dia mengetahui keberadaanku. Refleks, aku mundur saat terjadi ledakan.

Atap yang kupijaki sudah berlubang besar tidak beraturan. Tiba-tiba, muncul sosok hitam dari asap yang masih mengepul di sekitar lubang. Seorang laki-laki berambut pirang berjalan menghampiriku.

"Siapa kau?" tanya pria berambut pirang itu, menunjukku dengan muka garang.

"Aku ninja pelindung keluarga Ichinose," jawabku seraya menghunuskan pedang ke arahnya.

"Oh. Klan Namikaze yang terakhir. Kau pasti anak dari Namikaze Minato itu!"

"Benar sekali."

"Berarti kau telah membunuh para anggota kami selama ini!"

"Itu juga benar!"

"Aku Deidara, tidak akan mengampunimu!"

Deidara melemparkan bom-bom bulat hitam ke arahku. Aku menggunakan pedang, memotong bom-bom itu dengan cepat sebelum meledak. Kemudian melompat salto ke samping saat Deidara melemparkan kunai-kunai yang disertai kertas peledak. Terjadi dentuman keras, mementalkan aku hingga menabrak dinding.

Aku melindungi mataku dengan kedua tangan yang menyilang saat terjadi ledakan. Efek ledakan itu membakar beberapa bagian pakaianku. Memaksaku untuk berteleportasi ke tempat lain.

Aku mendarat ke dekat pohon, tempat aku dan Sasori tiba pertama kali di hutan barat ini. Berguling-guling cepat, ke kanan-kiri untuk memadamkan api dengan menggesekkan diri pada rerumputan, di dekat semak-semak belukar. Metode ini, terbukti bisa memadamkan api.

Aku tengkurap sebentar. Terengah-engah. Merasakan sakit di sekujur tubuh. Teringat membawa kotak P3K di kantong dalaman baju. Aku mengambil kotak itu. Duduk dan membuka kotak.

Untung aku membawa obat penyembuh segala luka yang kuracik sendiri. Aku meminum habis botol ramuan obat itu. Cukup membuatku tenang. Perasaan lelah yang kurasakan, juga perlahan menghilang.

"Ternyata aku sendirian, menghadapi satu orang saja sudah mendapatkan luka bakar seperti ini," kataku mengecek pakaian yang sudah compang-camping seperti gelandangan di jalanan, "Deidara tadi pasti ahli kajutsu."

Di dunia ninja, hanya menggunakan tiga teknik ninja yaitu taijutsu, kenjutsu, dan kajutsu. Kebetulan aku menguasai kenjutsu dan kajutsu. Itulah mengapa aku lebih mengandalkan teknik pedang dan teknik bahan peledak sebagai andalanku untuk membunuh selama ini.

Aku teringat Sasori. Harus membawanya pergi sebelum bom-bom waktu itu meledak. Kuperkirakan, waktu peledakan tinggal lima belas menit lagi. Memaksaku untuk bangkit dan berteleportasi lagi.

Aku tiba di tempat gudang tadi. Segera keluar dari sana, dan aku dihadang oleh beberapa anggota Akatsuki lain di tempat yang mirip lapangan basket. Aku menyipitkan mata, mengacungkan beberapa shuriken yang terselip di sela jari-jari tanganku. Melemparkan cakram-cakram bintang itu ke segala arah. Berhasil mengenai ninja-ninja hitam itu.

Musuh-musuh telah terkapar mati. Aku meninggalkan mereka. Berlari laju ke ruangan lain. Menemukan ninja-ninja lain, mengalahkan mereka dengan mudah. Karena dihalangi mereka, membuatku semakin panik.

"Sasori!" panggilku dengan suara keras saat tiba di ruangan yang telah dipenuhi darah berceceran di mana-mana.

Sasori berdiri dengan kedua tangan yang menggenggam pedang. Dia menoleh ke arahku. Keadaannya sudah kacau. Luka-luka memenuhi tubuhnya. Pakaiannya juga compang-camping. Senyumannya terlihat karena cadar sudah terlepas dari mukanya.

"Naruto, mereka semua sudah mati karena racun," tutur Sasori menunjuk teman-temannya yang sudah tak bernyawa satu persatu, "racun itu kumasukkan ke botol wine yang mereka minum. Termasuk aku sendiri yang juga meminumnya."

Saat itu juga, Sasori tumbang dan aku menangkapnya. Kepalanya bersandar di pahaku. Dia memejamkan mata, tetap tersenyum.

"Sasori! Sasori!" Aku menepuk kedua pipinya keras berulang kali.

"Sepertinya ... aku tidak bisa pergi denganmu. Inilah harakiri yang kulakukan. Aku menebus kesalahanku sendiri karena pernah berniat menculik Chizuru." Sasori bersuara nyaris pelan. Matanya separuh terbuka.

"Tidak, Sasori! Kau harus ikut bersamaku!"

"Tidak! Inilah akhir hidupku. Naruto, pergilah sebelum..."

Tiba-tiba, terdengar ledakan besar yang menggetarkan tempat itu. Bom-bom itu telah mencapai puncak. Mereka telah melebur menjadi satu kekuatan yang memusnahkan kejahatan Akatsuki.

"Sasori!" Aku berusaha mengangkat badan Sasori, tetapi karena perasaan sakit yang kurasakan, memaksaku melepaskan Sasori.

Ledakan telah mencapai ke tempatku. Aku membelalakkan mata. Berteleportasi dan mendarat di dekat pohon. Aku meninggalkan kotak P3K dan pedang di sana sebelum menjemput Sasori tadi.

"Sasori." Aku bergumam saat melihat asap ledakan yang membumbung tinggi ke udara. Asalnya cukup jauh dariku. "Terima kasih karena kau telah membantuku untuk membereskan Akatsuki itu. Kuakui, kau adalah teman terbaik pertamaku. Aku ... tidak akan pernah melupakanmu."

Aku meredupkan mata. Wajahku terlihat jelas karena cadar telah terlepas saat ledakan kunai yang dilontarkan Deidara. Merasakan angin bertiup kencang. Menusuk kulitku yang telah merinding kedinginan.

"Naruto-kun." Tiba-tiba, muncul suara samar-samar hinggap di gendang telingaku.

Aku menoleh ke asal suara bersama helai-helai rambutku bergoyang-goyang karena permainan angin. "Siapa?"

Dari balik pohon lain, berjarak dekat denganku, muncul sosok gadis berambut cokelat bergaun tidur. Gadis itu tidak sendirian, tetapi bersama ninja hijau.

Aku melebarkan mata. "Chi-Chi-chan?"

Chizuru mengerutkan kening. "Kau benar-benar seorang ninja, Naruto-kun?"

"Ya."

"Kenapa kau tidak memberitahukannya padaku sejak dulu?"

"Itu karena ninja hanya menunjukkan jati dirinya pada satu tuan saja."

"Dasar, kau itu! Jangan tinggalkan aku lagi!"

Chizuru berlari menghampiriku. Aku menyambutnya dengan pelukan. Chizuru menangis, mendekap pinggangku erat. Membuatku turut merasakan apa yang dirasakannya.

"Untung saja kau memintaku untuk menjaga Chi-sama. Karena hotel, tempat kalian berbulan madu telah dibom," ungkap ninja hijau berjalan mendekatiku dan Chizuru.

"Apa? Dibom?" tanyaku melebarkan mata.

"Ya, pelakunya, tentu saja anggota Akatsuki itu."

"Dasar, mereka keterlaluan sekali! Tapi, mereka tidak ada lagi sekarang. Karena aku dan Sasori telah membereskan mereka semua."

"Sasori bersamamu, Naruto-kun?" Chizuru melepaskan pelukan. Menatapku dengan muka kusam.

"Ya. Dia membantuku untuk menghancurkan Akatsuki itu. Tapi, sayang ... dia juga ikut tewas bersama Akatsuki karena ledakan bom di markas Akatsuki itu."

"Apa? Sasori ... dia..."

Tangisan Chizuru meledak lagi. Aku kembali merangkulnya. Mengelus pundaknya. Berusaha menghiburnya.

"Kau sangat kehilangan Sasori?" tanyaku meredupkan mata.

"Ya. Sebagai teman saja. Tapi, kenapa nasibnya harus berakhir seperti ini?" jawab Chizuru sesunggukan.

"Dia juga seorang ninja. Melakukan harakiri untuk menebus kesalahan karena pernah berniat menculikmu."

"Menculikku?"

"Ya. Ninja hitam yang menculikmu malam itu, adalah dia."

Aku meredupkan mata seiring Chizuru menatapku lagi. Chizuru masih menangis. Aku menyeka air mata yang mengalir di dua pipinya dengan jempol kananku.

"Aku menyesal telah menyakiti Sasori karena memutuskannya. Apa dia akan memaafkan aku?" tanya Chizuru bermimik muram.

"Dia telah memaafkanmu dan merelakan kau untukku. Dia juga berpesan untuk terakhir kali, aku harus selalu menjagamu dan membuatmu bahagia seumur hidupku," jawabku tersenyum.

"Syukurlah."

"Ya. Cintanya untukmu lebih besar dariku. Tapi, aku tidak kalah darinya. Aku akan memberikan cinta yang melebihi cintanya untukmu." Aku memeluk Chizuru sekali lagi. "Chi-chan, aku mencintaimu."

"Akhirnya, kau mengatakan tiga kata itu. Aku juga mencintaimu, Naruto-kun."

Aku dan Chizuru saling tersenyum. Kami berpelukan mesra. Hal mengejutkan, membuat jantungku nyaris meloncat, ketika ninja hijau membuka cadarnya. Ninja hijau itu tersenyum.

Haku, dia juga seorang ninja, batinku.

Aku juga tersenyum, mengangguk pelan pada Haku. Haku menutup wajahnya dengan cadar lagi. Melompat tinggi. Menghilang karena ditelan kekelaman malam. Menyisakan keheningan.

"Chi-chan, kita pulang ke mansion sekarang," ucapku dengan nada lembut.

"Ya. Aku akan mengobatimu luka-lukamu itu," sahut Chizuru menjauh dariku.

Aku mengangguk lagi. Segera memungut kotak P3K dan pedang katana milikku. Aku menyarungkan pedang di punggung dan menyimpan kotak P3K di kantong dalam bajuku.

"Kau sangat keren saat menjadi ninja seperti ini." Chizuru tersenyum lebar.

Aku menyengir untuk pertama kali. "Ya. Kau bilang mau memiliki suami ninja, 'kan?"

"Benar. Sekarang impianku terwujud."

"Impianku juga terwujud."

"Impianmu apa?"

"Impianku ... bekerja di kantor. Pulang ke rumah, disambut istri dan anakku. Tidak menjadi ninja pelindung lagi."

"Oh, manis sekali. Tapi, anak kita nanti tetap menjadi ninja, 'kan?"

"Tentu. Karena ninja akan terus menjadi pelindung bagi orang-orang yang membutuhkan jasanya."

Aku dan Chizuru saling berpegangan tangan. Kami melompat bersama, dan berteleportasi langsung ke tempat tujuan.

.

.

.

Bersambung

.

.

.

Chapter sepuluh adalah chapter terakhir. Nantikan saja. Terima kasih.

Tertanda, Hikasya.

Sabtu, 3 April 2021