Disclaimer:

Naruto: Masashi Kishimoto

Kanojo, Okarishimasu: Reiji Miyajima

.

.

.

Pairing: Naruto x Chizuru

Rating: M (karena ada pembunuhan dan sebagainya)

Genre: romance, crime, action, hurt/comfort, tragedy, fantasy

Setting: Alternate Universe (AU)

.

.

.

The Ninja in the Shadows

By Hikasya

.

.

.

Chapter 10. Ujung

.

.

.

Banyak orang berpakaian hitam -- para pekerja di perusahaan Ichinose Autovehicle dan pelayan-pelayan yang bekerja di mansion Ichinose -- menghadiri proses pemakaman Tuan Tatsuhito dan Zabuza. Mereka mengelilingi kuburan dua orang yang saling berdekatan. Isak tangis dan kesedihan mewarnai suasana berkabung ini.

Ada aku, Chizuru, dan Haku yang berdiri di antara keramaian. Kami berada di paling depan, menunduk. Melihat dua kuburan yang telah meninggalkan papan nisan bertuliskan nama lengkap Tuan Tatsuhito dan Zabuza.

Tuan Tatsuhito, Zabuza-san, selamat jalan. Terutama anda, Tuan Tatsuhito, pasti anda sudah bertemu dengan Nyonya Sayuri, orang tuaku, dan orang tua Chizuru di dunia lain sana.

Aku bermonolog. Tidak bisa menangis. Hanya menunjukkan muka muram. Chizuru yang mengapit lengan kananku, sudah menangis sejak Tuan Tatsuhito dikebumikan. Aku menghiburnya dengan mengelus pelan pundaknya.

"Chi-chan, sudahlah. Sudah tengah hari, ayo, kita pulang." Aku meredupkan mata.

"Sebentar lagi, Naruto-kun." Chizuru mengelap air mata dengan sapu tangan miliknya. "Kakek, aku tidak sendirian di dunia ini. Ada Naruto yang akan selalu menemaniku. Terima kasih karena kakek telah memilih Naruto menjadi pengawalku. Aku ... tidak akan melupakan kakek."

Chizuru menghadiahkan senyuman untuk Tuan Tatsuhito. Aku juga tersenyum. Melirik Haku di sisiku yang lain. Haku bermuka muram.

"Haku, aku ingin kau tetap bekerja di tempat kami. Jadilah pengawal pribadi istriku dan jagalah istriku selama aku bekerja di kantor," kataku memegang bahu Haku.

Haku terpaku, lantas mengangguk. "Baiklah."

"Setelah ini, kau ikut dengan kami. Ada yang ingin kami bicarakan padamu."

"Ya."

Sekali lagi, Haku mengangguk. Dia tersenyum. Kemudian para pelayat pergi satu persatu. Menyisakan aku, Chizuru, Haku, dan satu gadis berambut hitam panjang yang tetap bertahan di dekat makam Tuan Tatsuhito.

Gadis berambut hitam datang mendekati aku. "Apakah kau yang bernama Uzumaki Naruto?"

Aku mengangguk. "Benar. Siapa kau?"

"Namaku Shizuka. Aku Inspektur polisi dari kepolisian Konoha yang ditugaskan menangani kasus pembunuhan yang dilakukan para Akatsuki. Kudengar markas Akatsuki telah hancur karena dibom. Apakah kau tahu siapa yang mengebom markas Akatsuki itu? Karena anak-anak buahku sempat melihatmu dan istrimu di lokasi kejadian ledakan itu."

"Hah? Kalian melihat aku dan istriku?"

"Ya. Kau seorang ninja, Uzumaki-san?"

"Benar. Tapi, soal pengeboman markas Akatsuki, aku tidak tahu siapa yang melakukannya."

"Iya. Bukan suamiku yang melakukannya," sela Chizuru berdiri di depanku. Menunjuk muka Shizuka dengan lantang.

"Aku tidak menuduh Uzumaki-san yang melakukannya. Aku hanya memastikan bahwa Uzumaki-san memang seorang ninja. Karena aku..."

Shizuka mengeluarkan sebuah kunai dari kantong celana panjangnya. Dia tersenyum, lalu bergegas menghilang dalam kepulan asap. Mengejutkan aku, Chizuru, dan Haku.

"Shizuka tadi ... ninja?" tanya Haku melebarkan mata.

"Aku baru tahu ada ninja di kepolisian," jawabku tercengang.

"Memangnya klan ninja itu ada berapa?" tanya Chizuru menjelingku. Mengerutkan kening.

"Aku tidak tahu." Aku menggeleng.

"Klan-klan ninja yang kutahu adalah Uzumaki, Namikaze, Momochi, Akasuna, dan Uchiha."

"Haku sendiri tahu, Naruto-kun." Chizuru memegang bahuku.

"Ya, kita pulang saja sekarang."

Aku menyeret Chizuru. Haku mengekori kami. Berjalan menyusuri gang lebar di antara makam-makam yang berjejeran rapi. Keheningan menemani kepergian kami.

.

.

.

Anak kecil berambut cokelat dan bermata biru, sedang meninju dan menendang jerami yang diikat di pilar kayu. Dia melakukan itu berulang kali atas arahan dari Haku. Aku mengamati latihan mereka di dekat pintu beranda belakang mansion.

"Ayo, sekali lagi, Zen-sama!" seru Haku berkacak pinggang.

Uzumaki Zen atau Namikaze Zen, anak laki-lakiku satu-satunya, tersengal-sengal. "Aku sudah capek, Guru Haku. Istirahat dulu, ya?"

"Untuk menjadi ninja, kau harus kuat dulu! Ayo, latihan lagi!" sanggah Haku meniup peluit hingga berbunyi nyaring.

"Tapi, aku benar-benar capek."

"Zen, jangan banyak mengeluh! Kau harus tetap latihan sampai badanmu berkeringat! Tapi, Ayah lihat kau belum berkeringat sama sekali!" Aku berjalan mendekati Zen.

"Ayah? Ayah sudah pulang!" Zen tersenyum lebar dan hendak memelukku. Tapi, Haku menarik kerah bajunya dengan kasar.

"Ninja tidak boleh bermanja-manja!" bentak Haku bermuka garang.

"Tapi, aku ingin memeluk Ayah sebentar saja!" Zen meronta-ronta saat diangkat oleh Haku. Kakinya bergerak naik-atas seperti mendayung sepeda.

"Dasar, sikapmu sama seperti ibumu, Zen-kun. Manja, keras kepala, dan tidak mau dinasehati."

Aku tertawa lepas. Tapi, tiba-tiba, aku merasa kesakitan saat seorang wanita berambut cokelat mencubit pipiku dengan kuat. Wanita itu melototiku.

"Naruto-kun, jangan jelek-jelekkan aku di depan anak kita!" seru Chizuru dengan nada tinggi.

"Maaf, Chi-chan," balasku tersenyum kikuk.

"Huh, dasar! Zen-kun, ayo, kita minum dulu. Nanti kau lanjutkan latihan setelah ini, ya?"

"Baik, Ibu!" Zen mengangguk. Haku terpaksa melepaskannya, dan membiarkannya pergi bersama Chizuru.

Zen dan Chizuru masuk ke mansion. Aku menggaruk-garuk rambutku yang kini dipotong pendek. Haku berjalan menghampiriku.

"Zen-sama sering bolos latihan, Naru-sama. Dia memilih pergi bermain dengan teman perempuannya itu," celetuk Haku bermuka kusut.

"Ya. Dia tidak sepertiku saat kecil dulu. Ibu melarangku bermain. Setiap hari, aku harus latihan setelah sepulang sekolah. Tidak ada istirahat. Aku baru istirahat jika sudah pingsan," tukasku bermuka serius. Membayangkan saat aku kecil dulu.

"Zaman dulu berbeda dengan zaman sekarang. Tapi, kemampuan ninja harus tetap diwariskan ke keturunan selanjutnya. Karena masih banyak orang membutuhkan jasa-jasa ninja itu."

"Benar. Aku sudah merasakan manis dan pahit menjadi ninja di balik bayangan. Bekerja di bawah perintah orang lain itu memang tidak menyenangkan. Tidak membuatku bebas. Tapi, ada keberuntungan di balik kesulitan itu, aku juga mendapatkan cinta sejatiku." Aku tersenyum. "Aku menceritakan itu pada Zen kemarin. Karena itu, membuat Zen yang semula tidak mau menjadi ninja, bertekad penuh menjadi ninja yang bertujuan ingin melindungi teman perempuannya itu."

"Kau telah melakukan hal yang terbaik, Naru-sama."

Haku tersenyum. Turut mengukir senyum di mukaku. Tiba-tiba, Zen muncul di hadapanku. Dia menghunuskan ujung tajam kunai ke arahku. Aku sigap menangkap tangannya yang memegang kunai.

"Oh. Kau sudah bisa ber-hiraishin, Zen?" tanyaku menyipitkan mata.

"Ya. Aku mempelajarinya beberapa kali. Memang sulit, tetapi akhirnya aku mengerti," jawab Zen bermuka serius.

"Ayah akui, umurmu baru sembilan tahun, tetapi kau sudah cepat menguasai jurus hiraishin itu."

"Tapi, aku masih kalah cepat dari Ayah."

"Belajarlah lebih baik lagi."

"Iya. Sekarang Ayah yang mengajariku, kumohon."

"Tapi, Ayah baru pulang dari kantor. Ayah capek."

"Aku tidak mau tahu! Ayah yang harus menjadi mentorku!"

"Baiklah!"

Aku terpaksa mengabaikan dulu masalah pekerjaan yang belum terselesaikan di perusahaan otomotif milik keluarga Ichinose yang kini beralih menjadi milikku -- nama perusahaan itu tidak berubah, tetap bernama Ichinose Autovehicle. Fokusku adalah melatih anakku sekarang.

Aku dan Haku berdiri bersisian, mengawasi Zen yang mulai berlatih lagi. Zen menendang dan meninju tiang kayu jerami berulang kali. Bersikap serius.

Saat aku melihat Zen berlatih seperti ini, seolah melihat diriku yang seusia Zen. Membuatku tersenyum. Mataku melembut. Merasakan angin sore menyapaku. Meniup helai-helai rambut dan pakaianku, hingga melambai-lambai.

Suatu hari, anakku, Zen, akan menjadi ninja pengganti diriku. Tapi, bukan ninja di balik bayangan lagi, melainkan ninja yang akan menolong siapapun yang membutuhkan jasanya.

.

.

.

Tamat

.

.

.

A/N:

Akhirnya cerita ini telah sampai ke penghujung. Happy ending. Nggak jadi sad ending, padahal saya mau sad ending sih, tapi nggak jadi. Lalu cerita ini salah satu cerita fanfiction yang paling saya suka.

Cerita ini terinspirasi dari lagu mafu-mafu yang berjudul shinobi. Kalian bisa dengerin lagunya di atas judul chapter sepuluh ini. Lagu itu sangat pas dengan suasana cerita ini. Saya dengerin terus lagu itu sambil menulis cerita ini agar bisa mendalami dunia ceritanya.

Oh ya, ada yang bilang kalau cerita ini mirip dengan sebuah anime. Tapi, saya nggak tahu judul anime itu apa.

Oke, terima kasih banyak yang suka dengan cerita ini, memvote, dan berkomentar. Karena kalian semua, saya bersemangat menulis hingga berhasil menamatkannya hanya dalam beberapa hari, dan saya juga mau berterima kasih pada teman saya yang telah membantu memberikan masukan untuk cerita ini agar lebih terarah dan tidak melebar kemana-mana.

Sampai jumpa lagi di karya baru lainnya, ya. Nantikan saja.

Tertanda, Hikasya.

Cerita ini tamat pada hari Sabtu, 3 April 2021