"Tou-chan! Tou-chan! Bangun!" goyangan pada selimut yang menyelimuti seorang pria semakin keras dilakukan seorang anak gadis. Dengan tertawaan kecil yang riang, gadis kecil dengan umur enam tahun itu terus mengoyangkan selimut yang menyelimuti tubuh pria yang dia panggil ayah.

"Bangun, bangun, Tou-chan bangun sweatheart." Dengan pelan tangan kekar keluar dari balik selimut menarik gadis kecil itu dalam sebuah pelukan dan mencium pipi dengan mengelitik kecil sosok gadis kecil tersebut yang tertawa kecil tanpa henti.

"Ugh! Hentikan Tou-chan! Ayo cepat bangun! Tou-chan menjanjikan akan pergi ke taman bermain hari ini!" Kata gadis kecil itu dengan nada tinggi khas anak-anak yang riang. Setelah gelitikan sang ayah yang berhenti, gadis kecil tersebut berganti menggelitik. Duo ayah dan anak di rumah Uzumaki itu menghasilkan banyak suara di pagi hari.

"Okay! Okay! Up!" Kata sang ayah setelah beberapa menit tertawa bersama sang putri. Tangan kekar menyibak selimut dan bagian atas tubuh itu bangun diiringi dengan duduk di pinggiran tempat tidur.

Duduk di pinggiran tempat tidur adalah pria tinggi dengan rambut pirang jabrik, mata safir sebiru lautan yang cerah dengan kehangatan dan penuh cinta di dalamnya memandang ke arah sang putri yang dia angkat dan dia dudukkan di pangkuan. Pakaian kaus putih dengan celana pendek hitam untuk tidur pria pirang itu kenakan saat ini. Sementara sang putri dengan mata emerald kehijauan besar tanpa salah terlihat berwajah senang. Rambut pirang yang dia warisi dari sang ayah terlihat diikat kuncir kuda dengan sedangkan dress putih simpel semakin menambah kesan anak kecil yang imut padanya.

Mengeluarkan lenguhan kecil pagi hari serta merenggangkan otot tangan ke atas, pria pirang itu kemudian mengelus rambut putrinya.

"Jadi sang putri akan pergi taman bermain hari ini?" Kata pria itu dengan lembut. "Sudah mandikah dia pagi ini?"

"Asia sudah mandi sejak tadi, Tou-chan!" gadis kecil itu dengan mengayunkan lengan kecilnya menjawab pertanyaan sang ayah. Sang ayah itu hanya tertawa kecil melihat rasa senang yang dialami putrinya.

"Kalau begitu, biarkan sang ayah, Uzumaki Naruto ini mandi dulu dan menyiapkan sarapan. Kau gantilah baju dulu atau mau ayah menggantikan baju untukmu?"

"Aku bisa sendiri Tou-chan!" Gadis itu melompat dari pangkuan sang ayah dan berlari ke arah pintu. Tangan kecilnya memegang gagang pintu dan membukanya lalu berlari menuju ke ruangan kamarnya sendiri di depan kamar pria pirang yang menjadi ayah dan bernama Uzumaki Naruto tersebut.

Naruto tersenyum untuk dirinya sendiri ketika melihat putrinya pergi ke kamar untuk berganti pakaian dan berjalan keluar dari kamarnya untuk melakukan rutinitas paginya sebelum pergi ke taman bermain seperti yang dia janjikan kepada putrinya sekaligus mengingat hari ini adalah sudah sembilan tahun tahun dia berada di dunia ini.

Benar. Hari ini tepat sembilan tahun dia berada di dunia ini tepat setelah dia terlempar ke jutsu ruang dan waktu setelah tepat dia mengalahkan Kaguya dengan segel khusus pemberian pertapa Rikudo.

Ketika dia terlempar ke dunia ini, hal pertama yang dia lakukan adalah mencari jalan kembali. Ya, tentu saja dia mencari jalan kembali agar bisa bertemu dengan orang-orang kesayangannya yang terlepas dari genjutsu Mugen Tsukoyomi setelah dia mengalahkan Kaguya. Awalnya dia berpikir itu akan mudah mengingat dia punya Rinne-Sharingan pemberian pertapa Rikudou hanya saja saat dia mencoba membuka pintu dimensi dia tak bisa menentukan tempat dimensinya yang cocok.

Menyadari hal itu dia tak langsung patah semangat meski dalam setahun setelahnya akhirnya dia putus asa dan kemudian mencoba memulai hidup baru di dunia ini. Lagipula dia yakin dengan dikalahkannya Kaguya, pertapa Rikudou pasti akan membebaskan para orang dari Mugen Tsukoyomi jadi Naruto lalu menahan serta menyegel kekuatannya sendiri hingga dia menjadi manusia biasa karena manusia di dunia ini tak sedikitpun memiliki chakra seperti dirinya.

Dia membuat identitas baru, membuat kehidupan baru, membangun usaha kecil berupa keda ramen dan menjadi seorang penulis buku untuk menyambung kehidupannya di sini. Cerita tentang kisah ninja yang benar-benar pemberani karangan sang guru— Jiraiya telah dia terbitkan kembali disini dan respon yang didapat benar-benar di luar perkiraan. Buku sang guru meledak hebat di pasaran dan menjadi buku dengan penjualan terbaik di dunia serta diterjemahkan ke berbagai bahasa. Dengan itu saja Naruto sudah mendapat banyak penghargaan dan uang yang banyak. Buku ke dua Jiraiya yang tentunya Icha-Icha juga sangat sukses dipasaran.

Setelah menjadi penulis sukses dengan nama samaran yang tak pernah diketahui karena Naruto memakai nama pena dengan nama yang berbeda, Naruto kemudian melebarkan bisnis ramen kecilnya di kota New York tempatnya datang hingga bertemu dengan ibu dari Asia.

Naruto menikah dengan ibu Asia di tahun kedua-nya di dunia ini tepat setelah dia sukses. Ibu Asia… Naruto masih ingat betapa dia begitu lembut dan penyayang. Rambut pirangnya yang bergelombang. Senyum manisnya yang menawan. Tutur katanya yang memikat. Tawa renyahnya. Bagaimana dia jengkel atau kesal karena candaan Naruto. Mengingat kematian sang istri setelah melahirkan Asia membuat Naruto merasa kesedihan mendera dan rasa kehilangan.

Akhirnya setelah kematian istri dan kelahiran Asia, dia kemudian memutuskan untuk pindah ke Jepang dan dia pindah ke kota Kuoh. Kota dengan penduduk yang tak terlalu padat namun tenang dan damai. Disini dia membuka kedai rumah makan ramen miliknya sendiri yang dia beri nama Ichiraku untuk penghormatan kepada sang paman Teuchi dan putrinya, Ayame yang merupakan pemilik kedai makan ramen tempatnya singgah selama dia berada di kesatuan Anbu di dunianya dahulu.

Enam tahun sudah dia tinggal di kota Kuoh ini, menjalankan bisnis ramen baru serta membesarkan buah hatinya yang paling tersayang di seluruh dunia selama hidupnya merupakan sesuatu yang sangat dia nikmati.

Untung saja juga anaknya terlahir normal tanpa adanya aliran chakra dan sesuatu yang berbahaya yang bisa membuat anaknya hidup tak normal di kemudian hari. Dia sudah memastikan hal itu terlebih ketika pertama kali dia menginjakkan kakinya ke kota ini.

Kota yang berisi para mahkluk supernatural. Bukan… bukan hanya kota ini namun seluruh dunia. Dunianya ini bukan dunia normal, karena segala mahkluk supernatural ternyata berkeliaran, dewa-dewi itu nyata, iblis itu nyata, malaikat dan malaikat jatuh juga nyata meskipun manusia tidaklah memiliki Chakra dalam tubuh mereka. Alih-alih ada beberapa manusia yang punya keistimewaan dan bisa menggunakan sihir pada dunia ini.

Untung saja dulu ketika dia pertama kali datang ke dimensi ini dia selalu waspada dan bermain tenang. Menyembunyikan diri dalam bayangan dengan tinggal di bawah tanah kota New York selama setahun sejak pertama kali datang dalam sebuah tempat yang dia buat dengan tangannya sendiri membuatnya bisa menahan auranya keluar dan membuat dia terhindar dari semua makhluk supernatural yang ada.

Dengan membuka gagang pintu kamar mandi, Naruto mengusir segala hal yang dia pikirkan. Apapun yang terjadi masa lalu adalah masa lalu dan sekarang adalah masa depan. Dia punya putri untuk dibesarkan dan dimanja ketika masih kecil juga dia punya kehidupan baru yang tenang yang ingin dia pertahankan.

Semuanya baik dan dia selalu berharap seperti itu.

[A Love for the Queen]

Hera— Dewi pernikahan, ibu dan wanita mengeluarkan desahan kecil dan memijat keningnya yang terasa pening.

Lagi dan lagi Zeus mempunyai anak dengan wanita lain selain dirinya. Bajingan itu serasa tak pernah bisa menghentikan dirinya untuk tetap mempertahankan kemaluannya agar tak menghianati Hera lagi.

Menjadi dewi pernikahan tentu saja hal ini membuat hatinya sakit. Pernikahan yang harusnya loyal dan setia namun Zeus terlalu banyak menghianati dirinya. Berapa banyak sudah dia harus menahan ini semua? Selama mileniakah? Ini terasa sudah di ambang batas dari apa yang dia rasakan. Emosinya benar-benar ingin tumpah ruah bersamaan dengan kutukan dan sumpah serapah.

Bahkan adu argumen setelah Zeus diketahui oleh semua dewa-dewi Olympus mempunyai anak kembali menemui jalan buntu. Bajingan suaminya itu hanya mengandalkan ego dan amarahnya serta kekuatan dari senjatanya untuk membuat para dewa dewi lain bungkam.

Dan Hera sangat membenci hal itu. Bahkan dengan tatapan amarah besar meski Zeus meminta maaf padanya tadi dia abaikan dan dia benar-benar marah jadi dia langsung meninggalkan ruang pertemuan para dewa dewi Olympus kembali ke kuilnya setelah memberikan ancaman juga untuk Zeus dengan untuk tak mendekatinya dalam nada terseram yang dia punya.

"Saudariku... Tenangkan dirimu." Sebuah suara disertai tangan yang memijit pundak Hera terdengar dengan begitu lembut. Suara dan gerakan pijitan tangan itu serasa berusaha untuk mengusir dan rasa amarah di diri dewi pernikahan Olympus tersebut.

"Bagaimana aku bisa tenang setelah ini, Hestia?" Hera menjawab sambil membalikkan tubuhnya untuk melihat dewi Hestia, saudarinya yang berperawakan mungil dalam kisaran terlihat berumur lima belas tahun. Ini adalah wujud yang biasa Hestia pakai dengan rambut panjang hitam sepinggang, sebuah dress putih dengan corak api oranye dan sebual syal melilit leher berwarna biru. "Zeus benar-benar meremukkan hatiku kali ini." mata emas Hera terlihat mulai berair. "Berapa kali lagi aku harus mengalami ini?"

"Oh, Hera..." Dengan pandangan iba, tubuh dewi Hestia bergerak memeluk saudarinya ini. Hestia sebenarnya juga benar-benar kecewa kali ini kepada Zeus, sangat kecewa. Tiga adiknya sudah bersumpah tak akan menghianati istri mereka masing-masing terakhir kali namun kenyataannya sangat buruk. Setelah Zeus berbuat seperti ini pastilah tingkah lakunya akan diikuti oleh kedua saudaranya, Poseidon dan Hades bahkan Apollo dan Ares.

Hestia merasa kasihan dengan Hera selama ini.

Tangis dewi pernikahan dalam pelukan saudarinya itu berlangsung beberapa saat. Yang bisa dilakukan oleh Hestia hanyalah melakukan ini dan membiarkan semuanya kembali berlalu. Harusnya demikian namun kali ini sepertinya dia harus sedikit memberi Hera sesuatu untuk benar-benar dirinya terlepas dari beban ini.

"Hera, bagaimana jika kau turun dan menjalani hari di bumi? Cukup jauh dari Olympus agar kau tenang kembali."

"A-apakah bisa demikian? Bukankah bajingan itu nanti akan marah jika aku tak ada untuk memuaskan nafsu bejatnya itu!"

"Aku yang akan bicara padanya dan kupikir sebagai anak pertama Kronos aku berhak punya otoritas." kata Hestia dengan nada keyakinan untuk meyakinkan Hera. "Aku akan menghubungi dewi Amaterasu temanku untuk mengijinkanmu datang ke tanah Jepang. Kau sudah lama ingin ke Jepang lagi kan? Kupikir ini adalah sesuatu yang kau perlukan untuk melepas beban akibat adik bodohku itu."

"Jika itu bisa maka tolong lakukan Hestia. Aku muak jika berlama-lama di Olympus."

"Tenanglah dulu Hera karena sebelum aku menyarankan ini aku sudah menghubungi dewi Amaterasu dan dia mengijinkan kau datang ke Jepang. Para iblis penyewa wilayah di Kuoh Jepang juga sudah diberitahu."

"Oh Hestia." Dengan nada yang masih terisak, Hera memeluk erat Hestia. "Terima kasih Hestia, aku berhutang kali ini ini padamu."

"Tidak ada hutang jika dalam artian saudara, Hera." pelukan Hestia juga mengerat. "Kau tak berhutang apapun padaku. Jadi anggap saja ini penebusanku karena selama ini hanya diam atas kelakuan Zeus."

'Dan ini penebusanku karena aku harus mengorbankanmu dahulu untuk menikahi Zeus'

[...Prolog selesai...]