Aku menyesali banyak hal di waktu mudaku.
Hidup di dunia dimana kebencian terus menerus menggerogoti hati tanpa adanya perubahan berarti.
Hidup di dunia sana seperti mengadaikan nyawamu dengan murah. Bahkan ketika masih kecil-pun aku ingat kami sudah dilatih membunuh.
Aku terlahir sendirian. Tanpa Ayah dan Ibu yang pergi meninggalkan diriku dengan warisan mereka kepada diri ini untuk hidup. Hidup dan menjalani hari berharap adanya hari normal untuk putra mereka ini namun itu hanya impian mereka semata.
Maka jika itu impian mereka biarkan aku yang membawa impian tersebut hingga kepingan abu terakhir dariku tersisa.
Untuk merajut rangkaian takdir yang mereka percayakan pada putra mereka ini bahwa perubahan dan pengertian ada di dunia ini.
Bahwa ikatan bisa dibentuk dan dari uluran satu sama lain akan membuka kepingan cahaya harapan baru untuk saling bersama.
Aku akan membawanya, membawa harapan ini untuk generasi muda.
Yang kudedikasikan hidupku untuk mereka agar tak ada lagi yang terlahir tanpa ayah dan ibu.
Tak peduli bahwa tangan ini harus terbasuh darah ribuan liter untuk mencapai hal tersebut.
Maka biarkan aku nanti pergi tanpa menyesali apapun.
Karena kepingan cahaya kecil ini akan membuka perubahan cahaya besar yang sebenarnya.
...-...
(...A Love for the Queen..)
...-...
Mata biru safir itu melihat dengan pandangan aneh.
Pandangan aneh yang merasa sesuatu hal mustahil telah terjadi di dunia ini.
"Oy, Oyaji! Kenapa kau memandangku seperti itu saat kukatakan aku punya pacar?!" Suara protes dari seorang pemuda rambut coklat jabrik dengan memakai seragam akademi Kuoh terdengar di kedainya.
"Ah, tidak... Tapi..." Naruto mendekat dan meletakkan tangannya di dahi pemuda coklat itu. "Kau tidak sakit atau habis tertabrak parah kan Issei?"
"Oy! Apaan-apaan sih Oyaji!" Tangan Issei menepis tangan Naruto. "Kau berkata seolah aku sedang bermimpi saja!"
"Bukan bermimpi." Kedua tangan itu bersidekap di dada. Pandangan mata Naruto memandang remeh. "Tapi mendengar kau punya pacar dan ditembak lebih dulu… Entah aku berpikir otak gadis itu waras atau tengah mengalami gangguan mental mengingat dia mau jadi pacar orang mesum sepertimu."
"Urgh!" Tangan Issei meremas dada mendengar hinaan Naruto dengan air mata mengalir deras di wajah. "Kau dan perkataanmu pedas sekali, Oyaji!"
"Dan kau terlalu melebih-lebihkan reaksi dari perkataanku!" Sebuah pukulan karate chop pelan mendarat di kepala Issei.
"Ow!"
"Habiskan saja ramenmu dan segera nambah lagi." Kata Naruto sambil bergerak ke belakang mencuci mangkok ramen yang kotor di tempat pencucian piring.
"Iya, iya . *Slurrrp* " Issei memakan kembali ramen miso miliknya. "Ngomong-ngomong kemana anak imutmu Oyaji?"
"Dia sedang berada di sekolah. Katanya ada prakarya yang harus dia buat dengan gurunya."
"Oh... Lama tak melihatnya aku jadi rindu dengannya."
"Gezz... Kau rindu pada anakku? Aku tak ingin anakku dekat dengan anak mesum sepertimu Issei."
"Aku tidak mesum!" Sangkal Issei. "Tapi super duper mesum itulah yang benar!" Lanjut Issei berkata dengan tertawa sambil mengangkat kedua tangannya ke atas dimana satu tangannya masih memegang sumpit. Naruto yang mendengar ucapan Issei hanya tertawa kecil saja.
Pemuda mesum ini mengingatkan banyak dirinya tentang sang guru. Kemesuman yang tak wajar di usianya, ceritanya tentang usaha mengintip klub Kendo dan kemudian dia harus berlari karena ketahuan sebelum tertangkap dan dihajar persis sama seperti Ero-Sennin yang mengintip Onsen dan ketahuan.
Ero-sennin.
Pikiran Naruto kembali melayang.
Tentang bagaimana pertemuan dirinya dengan guru pertapa katak itu setelah dia dikenalkan oleh Hokage ketiga untuk dilatih dalam pelatihan berat dan pengembaraan serta petualangan yang seru sebelum dia harus kembali ke desa setelah Hokage ketiga meninggal di karenakan serangan Orochimaru dan dia masuk kesatuan Anbu setelah itu.
Kepingan memori tentang tawa sang guru sebelum sang guru pergi pamit untuk melakukan perjalanan panjang tepat setelah dia melaksanakan misi Anbu di perbatasan. Itu adalah kali terakhir dia melihat sang guru sebelum mendapat kabar bahwa sang guru tewas di tangan pemimpin Akatsuki.
Saat itu, dia sangat marah mengetahui itu dan sekaligus merasa sangat sedih hingga selama seminggu dia bebas tugas misi Anbu dan pergi ke tempat pertama kali dia bertemu sang guru dan berkabung di sana.
'Sensei...' Batin pria pirang itu menghentikan dirinya mencuci piring sejenak sebelum menggeleng dan menghilangkan pikiran sedihnya. Terus merasa sedih hanya akan seperti menodai kematian mulia sang guru dan itu sama sekali tak ingin Naruto lakukan.
"Oyaji! Aku tambah ramennya lagi satu mangkok!" Teriak Issei.
"Oke, tunggu sebentar!" Balas pria itu yang membersihkan tangannya dan masuk ke dapur untuk memasak ramen tambahan untuk pemuda mesum yang menjadi pelanggan setia dari kedai ramennya setelah datang kemari pertama kali bersama orang tuanya.
Pria pirang dengan pakaian masak putih lengkap dengan topi putihnya serta bercelemek itu dengan sangat cekatan memasak mie ramen pesanan Issei. Kedai di waktu pulang akademi seperti ini akan mulai ramai setelah Issei datang karena pemuda itu juga rupanya mempromosikan kedai ramennya kepada teman sekelasnya.
"Nih!" Kata Naruto ketika selesai memasak ramen dan meletakkan ramen panas di mangkok di depan Issei. Mata pemuda coklat itu berbinar sebelum kemudian langsung menerjang ramen kesukaannya.
kling!...kling!
Suara bel berbunyi tanda pintu terbuka membuat mata Naruto yang semula mengawasi Issei memakan ramennya dengan ganas berpaling melihat ke arah pintu dan senyum lebar mengembang di wajah.
Disana. Seseorang yang merupakan orang tersayangnya masuk ke dalam masih mengenakan seragam dengan membawa tas kecilnya di punggung. Mata emerald hijau besar itu melihat sekeliling memastikan keberadaan orang yang dicarinya sebelum mata itu mendarat di depan mata safir biru lembut yang selalu dia kenal dan berteriak dengan nyaring khas suara gadis kecil kemudian berlari menghampiri.
"Tou-channnn!"
"Ow, Asia!" Naruto menangkap gadis kecil itu dalam pelukan setelah keluar dari konter depan penyajian. Gadis kecil itu berlari dan menubruk sang ayah dengan begitu senang. Lengan kekar itu pria pirang itu kemudian menggendong sang anak tersayang yang tertawa kecil renyah. "Ah...siapa yang mengantarmu? Kenapa tak menelepon agar Tou-chan bisa menjemputmu?"
"Hihihihi, aku diantar Gabriel-sensei!" Kata gadis kecil dengan mata emerald itu senang.
"Benarkah? Lalu dimana Sensei-mu sekarang berada hingga ayah bisa mengucapkan rasa terima kasih karena telah mengantar putri kecil ayah yang cantik ini?" Jemari Naruto menyentil kecil hidung Asia dan gadis itu menunjuk pintu masuk berbarengan dengan suara lembut yang datang.
"Dia ada disini, Naruto-san." Suara lembut itu datang dan Naruto menoleh untuk melihat seorang wanita dewasa berusia dua puluh empat tahun berjalan masuk dengan tersenyum.
Rambutnya pirang bergelombang dengan ditambah bando oranye, pakaian yang dia kenakan adalah kaus dengan cardigan dan rok biru panjang menenteng satu tas. Kulit wajah putih tanpa cacat dengan kharisma kecantikan yang pasti jelas menarik banyak sekali pria.
"Gabriel-san." Sapa Naruto sambil tersenyum. "Terima kasih sudah mengantar Asia dan maaf merepotkan anda."
"Tidak apa-apa, Naruto-san. Lagipula aku mengantarkan murid kesayanganku secara sukarela kok" Satu tangan berkibas disertai senyuman manis. Terlalu manis bahkan Issei yang tadi makan dengan beringas harus berhenti sejenak dan ikut melihat terdiam karena terpesona.
"Ah... Tapi itu tetap merepotkan anda." Kata Naruto. "Bisakah aku membalasnya dengan semangkuk ramen hangat untuk anda?"
"Meskipun aku sangat tertarik kurasa aku harus berat hati menolaknya kali ini, Naruto-san." Tukas Gabriel dengan wajah meminta maaf. "Ada keperluan yang harus aku urus dengan kakakku."
"Ah... Sesuatu yang merepotkan?"
"Sepertinya iya." Balas guru wanita Asia itu. Naruto melihat pandangan mata itu sempat melirik ke belakang dimana Issei pelanggan terbaiknya tengah makan berada. "Aku permisi dahulu, dahulu Naruto-san." Guru wanita itu berkata pamit dan mendekat ke arah Asia yang mencubit pipi gemuk dari Asia. "Dan sampai jumpa besok lagi, murid cantik."
Dengan tertawa senang, Asia mengangguk setelah dicubit dan berkata riang. "Ha'i Gabriel-Sensei!"
"Sampai jumpa lagi Gabriel-san. Dan terima kasih sudah mengantar Asia. Anda bisa mampir kapan saja ke kedai kami yang sederhana ini."
"Ya, terima kasih untuk itu Naruto-san. Aku menghargai itu." Balas Gabriel dengan tersenyum simpul lalu berlalu pergi. Sedang Naruto yang melihat guru wanita itu pergi hanya menaikkan alis sampai dimana guru wanita itu masuk ke mobilnya dan berlalu pergi.
'Sungguh malaikat yang baik' Batin Naruto pelan. 'Namun jika dia sampai melibatkan Asia, Seraph ataupun bukan aku juga akan membunuhnya.'
Yah... Jika dipikirkan memang rasanya jarang menjumpai malaikat di kota ini berkeliaran. Apalagi jika itu adalah sekelas Seraph. Naruto bahkan sempat merasa waspada sangat ketika bertemu Gabriel untuk pertama kali dulu. Hal itu tentu wajar mengingat dia tahu kota ini adalah wilayah yang dipinjam iblis dan berada di kekuasaan mitologi Shinto jadi ini tak lumrah menemui malaikat sekelas Seraph yang mengompres kekuatannya sucinya hingga ke batas terendah sampai hampir menyerupai manusia berada di sini. Jika saja sensor Naruto tidak bekerja mungkin dia akan kecolongan apalagi setelah dia memastikannya dengan Sharingan. Entah bagaimana Seraph sekelas Gabriel bisa berada di sini dan apa motifnya tak diketahui Naruto secara pasti. Yang jelas malaikat itu hanya mengajar di sekolah Asia belajar dan jelas Naruto kadang membatasi interaksi Asia dengan Gabriel meski dia masih bersikap sopan. Naruto tak ingin putri kecilnya sampai berinteraksi terlalu dalam dengan makhluk supernatural.
"Hey, Oyaji, siapa itu tadi? Guru Asia ya?" Kata Issei bertanya dari belakang yang membuat Naruto yang menggendong Asia berbalik.
"Ha! Baka Oni-chan!" teriak Asia senang dengan imut sambil menunjuk Issei ketika melihat pemuda berambut coklat itu.
"Hay Asia." Sapa Issei dengan senyum juga.
"Iya tadi guru Asia." Jawab Naruto sambil mengelus rambut putrinya. Berat putrinya sama sekali bukan masalah bagi pria pirang itu.
"Cantik sekali. Aku saja sampai tak sadar tadi sampai dia pergi. Dia masih single Oyaji?"
"Lah kenapa kau tanya aku?" Naruto berjalan dan mendudukkan Asia di salah satu tempat duduk di belakang konter pelayanan. Melepas pelan tas punggung Asia dan menaruhnya di tempat yang dia sediakan, pria pirang itu pergi ke belakang untuk mengambil kue cookies dari lemari pendingin dan menaruhnya di depan Asia yang berteriak kegirangan dan langsung mengambil dan mengunyah cookies kegemarannya. "Kenapa tadi kau tak tanya sendiri tadi? Sekalipun dijawab kupastikan dia pasti tak single, cantiknya saja begitu pasti sudah ada yang punya." Pandangan Naruto melihat ke arah Asia. "Asia... Pelan-pelan kalau makan."
"Tawpi iwni ewnak sekawli Tou-chwann!" Kata Asia dengan mulut penuh Cookies. Naruto hanya bisa menghela nafas dan mengambilkan air minum untuk sang putri. Berjaga-jaga jika saja dia tersedak. Sungguh putri kecilnya ini sangat mirip dengan mendiang ibunya yang juga gemar makan kue cookies apalagi cookies coklat.
"Benar juga sih kalau cantiknya begitu pasti ada yang punya. Tapi kupikir tadi dia bisa jadi istri-mu Oyaji. Kalian terlihat serasi."
"Hah?! Meskipun serasi aku masih belum terlalu memikirkan itu. Lagipula aku sudah kehabisan emosi setiap kali datang ke sekolah Asia. Ibu-ibu muda single di sana tatapannya ganas sekali."
"Itu karena kau tampan Oyaji! Meski aku rada menyesal mengakuinya sih. Malah kalau bisa aku ingin mengutukmu karena ketampananmu!"
"Silahkan saja mengutukku tapi jangan di depan Asia dan jika saja kau mengatakan kutukan padaku aku benar-benar akan melarangmu makan mie ramen buatanku lagi."
"Kuso! Taruhannya kalau mengutukmu itulah yang membuatku ngeri Oyaji!" Ratap Issei. "Aku sudah tak bisa hidup tanpa makan ramen buatanmu dalam sehari!"
"Dan lagi kau mendramatisir sesuatu." Naruto menggelengkan kepalanya. "Tolong awasi Asia sebentar sementara aku mau mencuci piring dahulu." Pinta Naruto sambil berlalu lagi ke belakang. "Kalau sudah selesai nanti akan kusiapkan minuman seperti biasa untukmu sebagai terimakasih. Kali ini anggap saja gratis."
"Oke Captain! Terima kasih banyak!" Kata Issei begitu semangat sambil memberikan salutan begitu mendengar kata gratis. Oh ayolah, siapa yang tak mau milkshake coklat legendaris buatan Naruto yang membuatmu serasa terbang melayang di pulau coklat.
Sedangkan Naruto yang mendengar kata-kata Issei yang penuh semangat hanya memberikan senyuman geli.
Sungguh hari-hari yang sama dan berwarna sama seperti biasanya inilah yang ingin dia jaga.
(...A Love for the Queen..)
Didedikasikan untuk semua orang,
yang membenci rasa sakit dan kesedihan
di dunia yang percaya pada jaminan cahaya
yang bersinar di kejauhan...
Dengan pelan Hera membaca kalimat pertama pembuka dari sebuah novel karya terbaik tentang seseorang yang terus maju ke depan tanpa pernah menyerah serta menyakini apa selalu di percayai yang bermimpi untuk mengubah dunia penuh rasa sakit dan kesedihan.
Tangan lentik Hera menyentuh halaman pertama. Kalimat pertama dari novel ini yang selalu entah mengapa begitu indah seakan menjadi sebuah mantra yang menyihir pembaca untuk tahu kenapa novel ini ditulis sebagai sebuah penghormatan untuk yang telah merasakan rasa sakit dan kesedihan.
Pertama kali Hera membaca novel ini atas rekomendasi dari Athena yang dengan mata berbinar langsung merekomendasikan sebuah novel abad ini yang menurut dewi kebijaksanaan Olympus begitu sangat bagus. Awalnya Hera mungkin menganggap remeh namun ketika dia memulai membaca, dia kemudian serasa tak bisa seakan untuk berhenti dan terus meneruskan membaca hingga selesai.
Penulis dari novel ini begitu hebat sekali dalam menulis masterpiece ini. Begitupun dengan buku seri pertama dari bacaan mesum Icha-icha yang juga walau Hera enggan mengakuinya tapi itu juga dibaca oleh Artemis yang notabene dewi pemburu yang sangat membenci hal mesum. Dan dewi pemburu itu menyukainya! Hera pernah melihat Artemis tanpa sengaja membaca buku oranye itu dengan bersemu merah muda! Astaga.
Kabarnya buku ketiga akan segera rilis yang berisi petualang terbaru dari ninja bernama Naruto. Menurut rumor buku terbaru bukanlah lanjutan dari kisah novel pertama melainkan bentuk lain dari petualang awal ninja lain dengan nama yang sama. Semua begitu antusias dengan itu bahkan Hera sendiri-pun juga antusias.
Dewi pernikahan Olympus itu kini berada di Kyoto. Wilayah para Youkai dan sudah bertemu dengan dewi Amaterasu yang mengerti akan keadaannya. Dewi Amaterasu dengan senang hati mempersilahkan dewi pernikahan Olympus itu menjelajah seluruh wilayah Jepang untuk melepaskan penat juga bebannya dan Hera sangat berterima kasih untuk itu.
Menyesap minuman teh yang berada di cangkir, dewi itu kemudian kembali tenggelam dalam bacaan yang dia baca tanpa menyadari bahwa banyak sekali laki-laki yang melirik tertarik pada Hera yang sekarang tengah terduduk di sebuah Kafe yang mengusung konsep Klasik Jepang.
Memang jika dilihat, tampilan Hera begitu memukau. Dress biru satu potong panjang dengan sebuah kacamata tersemat di wajah dan sebuah tas biru tergeletak di meja Kafe. Rambut merah kecoklatan lurus dengan tambahan sebuah penjepit rambut kecil di pinggiran terpasang manis.
Meski menurut Hera dia berpakaian sederhana, tapi itu sama sekali tak mengurangi kecantikan yang dia miliki apalagi meski dewi itu kini menggunakan wujud berumur dua puluh delapan tahunnya.
Pria-pria yang kebanyakan melirik Hera juga hanya bisa memandang jauh mengagumi kecantikan dewi itu. Mereka tak berani mendekat karena ada sesuatu yang serasa menyuruh mereka untuk menjauh karena berbahaya. Katakanlah sebuah insting yang mengatakan hal itu dengan keras pada pria-pria yang memandangi Hera.
Entah berapa lama waktu berlalu, Hera masih menikmati bacaan yang dia baca. Sesekali menyesap tehnya tanpa Hera sadari waktu sudah berlalu selama satu jam. Itupun dia barus sadar saat cangkir tehnya sudah kosong. Menghela nafas ringan, Dewi itu mengaitkan pembatas penanda buku untuk halaman novel yang sudah dia baca dan memasukkannya ke tas. Dia berdiri dan berniat berjalan keluar sambil melihat jam tangan kecil yang tersemat di pergelangan tangan.
Pukul sebelas siang.
Hmmm... Masih ada waktu untuk pergi ke wilayah istana Imperial dan kuil persembahan untuk menikmati sakura mekar. Hawa tidak terlalu dingin namun Hera memasangkan syal merah yang terletak disandaran kursi bersama jaket putihnya.
Hari ini adalah jadwal untuk berkeliling di wilayah Kyoto selama seminggu sebelum dia pergi ke Kuoh dan mencoba kedai ramen rekomendasi dari dewi Amaterasu sendiri yang berkata bahwa ramen itu menandingi masakan Hestia. Tertawa kecil dengan menutupnya menggunakan tangan Hera kembali mungkin akan sedikit lagi meremehkannya. Masakan Hestia adalah yang terbaik yang pernah dia tahu dan belum pernah ada yang bisa menandinginya. Tapi karena dewi Amaterasu bersikukuh ya Hera jadi penasaran. Lagipula penasaran tak ada salahnya kan?
Langkah kaki pelan Hera kemudian membuatnya hilang ditelan kerumunan lalu lalang orang pejalan kaki.
(...A Love for the Queen..)
Hari minggu tiba datang dengan begitu cepat. Hari ini adalah hari dimana Issei bersiap untuk memulai kencan dengan seorang gadis manis. Hal yang pertama kali dilakukan Issei tentu saja membawa pacarnya ke tempat favoritnya. Apa lagi kalau bukan kedai ramen Naruto!
Lalu disinilah mereka. Dua sepasang sejoli tengah menikmati waktunya dengan makan ramen dalam keadaan tenang. Naruto melihat mereka beberapa kali terutama melihat ke arah gadis pacar baru Issei.
Malaikat jatuh.
Naruto merasa ada maksud tersembunyi yang terasa amis mulai tercium. Senyuman pacar Issei tak lebih dari senyuman palsu. Itu sangat jelek dan buruk sekali disembunyikan dalam senyuman yang terlihat polos.
Dan mau mencoba disembunyikan juga tapi sedikit aura membunuh yang meracuni udara di kedai Naruto benar-benar membuat pria itu merasa sangat ingin membunuh pacar Issei saat ini juga.
Tapi dia tak bisa melakukannya dengan begitu saja. Itu akan membuatnya terseret ke dalam hal yang tak pernah dia inginkan jika dia muncul dengan begitu mudahnya.
Jadi hal yang perlu dilakukan adalah ini.
Ketika dua sejoli yang baru saja makan ramen di kedainya itu melanjutkan kencan mereka menuju ke taman bermain. Naruto dengan terpaksa menutup kedai miliknya. Langkah kaki miliknya bergerak ke sisi lain dapur dan membuka sebuah pintu menju ke ruang bawah tanah setelah dia membuat Asia tertidur di bagian lain kedai yang Naruto siapkan untuk anak tercintanya jika Asia ingin tidur sembari menunggu ayah pirangnya ini selesai bekerja.
Ruang bawah tanah itu terlihat sederhana. Hanya ada sebuah kursi panjang untuk duduk, sebuah meja kecil dan sebuah katana dengan masih tersarung di sarung katana tersebut terpajang di sisi lain.
Ibu jari tergigit, darah keluar dan menetes ke bawah lantai. Satu segel Insou dilakukan dan kepulan asap yang memunculkan klon darah adalah apa yang dia butuhkan.
Menyelamatkan Issei adalah prioritas. Pemuda itu layaknya adik laki-laki kecil bagi Naruto terlebih pria pirang itu memiliki hubungan baik dengan kedua orang tua Issei itu sendiri. Dirinya bahkan terkadang kerap diundang orang tua Issei untuk makan malam bersama Issei.
"Kau tahu apa yang harus kau lakukan. Jaga Issei baik-baik." Perintah Naruto pada klon darah ciptaanya. Klon itu mengangguk dan melakukan Henge ke dalam seragam Anbu saat dia melaksanakan misi dahulu.
Sebuah jaket militer tanpa lengan yang menunjukkan sebuah tato di lengan atas, celana militer hitam dengan sandal Shinobi. Sebuah Tanto tersemat di punggung dan sebuah ciri khas yang menjadikan dirinya ditakuti ketika masih menjadi Anbu di kesatuannya.
Topeng Oni polos dengan warna putih.
Melihat klonnya seperti ini membuat rasa nostalgia menyeruak ke dalam hati Naruto apalagi ketika dia melihat mata biru refleksi dari matanya yang biasanya hangat berubah menjadi biru safir dingin.
Klon darah ini adalah apa yang akan menjadi identitasnya selama di dunia supernatural. Juga klon darah ini juga yang akan menjadi guru bagi Issei terlebih ketika aura dari sesuatu yang disebut Sacred Gear mulai keluar dari tubuh Issei.
Pemuda yang dia kenal itu tak akan hidup normal. Tidak ketika Naruto tahu tanpa sengaja aura naga yang berasal dari Issei. Dia akan mempertahankan keyakinannya dan itu adalah setidaknya tugas Naruto untuk memastikan pemuda itu bisa melindungi dirinya sendiri.
Klon darah itu menghilang dalam balutan angin berputar lembut dan daun melayang, meninggalkan Naruto yang memandang katana yang terpajang di dinding di sana sebelum menghela nafas dan kemudian berlalu menuju ke tempat Asia tidur.
Mungkin lebih baik pulang saja hari ini adalah pilihan yang baik.
Sementara itu di tempat lain, mata biru dari klon darah Naruto melihat dari puncak tiang listrik dengan bertengger serta berkamuflase dalam jutsu tembus pandang.
Layaknya elang mengawasi mangsanya, klon Naruto melihat bagaimana Issei terlihat senang sekali, mencoba berbagai permainan dan berusaha bersenda gurau. Tak terlihat dia berkata mesum tentang Oppai selama bersama malaikat jatuh tersebut.
Issei sebenarnya anak yang baik. Jika benar tanpa ada sikap mesumnya itu maka dia benar-benar anak yang baik. Masih sangat polos dan itu mengingatkan klon Naruto itu pada sesuatu.
Senyum di pemuda itu...
Sama seperti senyuman anak-anak tanpa rasa bersalah dan dosa.
Dan melihat sesuatu yang akan terjadi tentu saja klon Naruto mengerti kenapa bosnya tak ingin Issei terluka.
Mata itu terus mengawasi dengan tanpa menurunkan pengawasannya sedikitpun. Hingga kemudian mata biru itu melihat bagaimana seseorang wanita membagikan suatu pamflet pada Issei yang bergambar sesuatu.
Dan itu membuat amarah Naruto naik.
Iblis.
Mereka ikut campur disini? Iblis dari sekolah Issei?
Ini menjadi sangat memuakkan. Mereka mencari budak ya?
Tapi sayang rencana mereka akan gagal apapun yang akan mereka rencanakan.
Karena tak pernah ada yang bolah bermain-main dengan orang yang sudah membuat ikatan dengan Naruto.
Terlebih ketika itu menyangkut adik laki-laki kecil ini.
Hari telah beranjak senja tanpa sadar dan tangan malaikat jatuh itu membawa Issei masuk ke dalam sebuah pelindung tak kasat mata.
Sudah dimulai ya? Jika sudah dimulai, mari kita mainkan rencananya.
Tubuh Naruto berdiri dan diterpa angin, wujudnya kemudian memudar dan menghilang meninggalkan dedaunan.
Sementara itu disisi lain, Issei merasakan jantungnya berdegup cepat. Hari ini sangat menyenangkan sekali. Kencan yang sangat menyenangkan dengan seseorang. Dia juga tak bicara atau bahkan berpikiran mesum.
Hari ini seperti hari terbaik selama hidupnya!
Langkah kaki pemuda berambut coklat itu mengikuti langkah kaki dari Yuuma Amano sang pacar yang menggenggam tangannya menuntunnya ke sebuah taman. Mereka berhenti tepat di depan sebuah air mancur di tengah taman.
"Nee... Issei, hari sangat menyenangkan sekali." suara merdu dari Yuuma seolah terdengar seperti nyanyian dan Issei tak kuasa untuk tak tersenyum.
"Ya, ini sangat menyenangkan, Yuuma-chan. Mari kita lakukan lagi di minggu depan!" Kata Issei bersemangat.
Pemuda coklat itu melihat Yuuma tersenyum tipis dan melepaskan pegangan tangannya. Dua tangan Yuuma terlihat berada di belakang. "Kita tak bisa melakukannya lagi di minggu depan Issei-kun."
"Eh, kenapa?"
Dengan senyuman yang berubah menjadi sebuah seringaian kejam, Yuuma memiringkan kepalanya. Ucapan yang keluar dari malaikat jatuh itu berubah begitu menyeramkan.
"Karena kau akan mati disini... Isse-kun~"
Wuzzzz!
Dengan hembusan angin yang menerpa, wujud Yuuma bersinar terang dan terangkat ke udara, pakaian dari gadis itu berubah begitu terbuka dan sepasang sayap burung hitam keluar dari belakang punggung.
Issei yang melihat itu, matanya terbelalak.
'Apa ini?!' Batin Issei pelan sembari menutup matanya akibat sinar terang dengan lengan tangan. 'Apa ini sebuah proyeksi!'
Ketakutan mulai merasuk ke diri pemuda berambut coklat itu. Sesuatu yang terasa mustahil telah terjadi di depannya.
"Kencan kita sangat menyenangkan hingga aku benar-benar muak harus memakai nama Yuuma Amano sementara nama asliku adalah Raynare." Suara Yuuma yang kini terdengar menakutkan mengenalkan nama aslinya. Satu tangan terangkat dan partikel cahaya seperti kunang-kunang kecil berkumpul dan menyatu, memadat di atas telapak tangan malaikat jatuh itu membentuk sebuah senjata tombak. "Tapi karena aku juga sedang baik hati, aku akan memberimu kematian yang baik Issei-kun. Jika ingin menyalahkan salahkan Kami-sama yang menaruh benda itu di dalam tubuhmu oke."
Dengan satu gerakan melempar, malaikat jatuh itu melemparkan tombaknya yang melaju membelah udara ke arah Issei yang sama sekali tak bisa bergerak.
Ketakutan yang merasuk membuat Issei hanya bisa mematung! Walau otaknya berteriak untuk bergerak, dia tak bisa!
Dan disaat tombak itu akan semakin dekat dengan dirinya, kepingan lesatan memori berputar di dalam diri pemuda coklat itu. Inikah akhirnya? Dia masih belum ingin mati!
Walau dia berteriak dalam hati bahwa belum ingin mati, tapi matanya menutup kemudian, Issei berharap rasa sakit yang akan datang tak akan parah hanya untuk selang beberapa menit dia tak merasakan apapun.
Dengan sisa keberanian yang tersisa pemuda itu membuka mata hanya untuk melihat dengan membulat ketika seseorang berada di depannya dengan tenang menangkap tombak cahaya dengan tangannya yang terlihat seperti terselimuti api biru?
"Huh?" Issei bergumam pelan seraya berkedip beberapa kali.
"Apa yang-, siapa kau?!"
"Pergi." suara berat dari sosok di depan Issei terdengar berat dan jauh lebih menakutkan dari suara Yuum,- ie; Raynare. "Pergi dan jangan ganggu anak muda ini. Dia berada di bawah perlindunganku."
Dengan gerakan pelan meremas, tombak cahaya yang Raynare lemparkan tadi pecah berkeping-keping seperti sebuah gelas yang dipukul.
Untuk Raynare yang melihat bahwa serangannya digagalkan oleh orang yang tak dikenal ditambah orang itu menghancurkan tombaknya dengan mudah lalu masih menyuruhnya pergi padahal Raynare merasa orang dengan topeng ini hanya kelas rendahan, amarah langsung naik dengan cepat ke dalam dirinya. Dia bersiap mengumpat dengan keras disertai dengan membuat senjata lagi dari cahaya.
Namun itu semua terhenti ketika dengan cepat bahkan Raynare belum berkedip, orang bertopeng itu sudah menghadapkan wajahnya ke arah Raynare. Tubuh Raynare tanpa sadar bergetar ketika melihat mata biru begitu dingin mencoba untuk mengoyak tubuhnya tanpa henti.
Sensasi ini. Ini adalah sensasi ketakutan yang nyata dan Raynare mengerti lagi sensasi dari rasa ini. Apa yang ada di pandangan di belakang Raynare, dia bukan melihat iblis, malaikat atau youkai namun seorang monster. Monster yang telah membunuh begitu banyak.
" Pergi."
Dan satu kata tanpa emosi, tanpa perasaan yang terdengar kembali membuyarkan penglihatan Raynare. Gigi yang bergemeletuk dan tubuh bergetar membuat Raynare malaikat jatuh itu lebih menuruti instingnya saat ini.
Sebuah insting untuk lari menghindar dari sesuatu yang lebih menakutkan. Insting yang meneriakkan untuk lari dari hal yang mengerikan.
Tak perlu berpikir dua kali ketika nyawa terancam lalu seorang musuh menyuruhnya lari disaat bertarung dan menang ada dalam persentase kecil, Raynare dengan cepat disertai suara degupan jantung yang menderu langsung mengepakkan sayapnya terbang meninggalkan tempat ini terbang menjauh.
Klon Naruto yang melihat Raynare pergi kemudian mendarat turun. Dengan pelan klon itu berjalan ke arah Issei yang terlihat juga ikut bergetar takut. Klon itu bahkan melihat Issei mundur beberapa langkah ke belakang.
"Si-si-siapa kau?!" Teriak Issei dengan tergagap.
"Tenang bocah. Aku datang untuk melindungimu dari malaikat jatuh itu yang mengincarmu hanya untuk membunuhmu."
"Membunuhku?!" seru Issei sedikit berteriak.
"Ya, membunuhmu. Membunuhmu karena sesuatu berada di dalam dirimu."
"Apa maksudmu dengan sesuatu berada di dalam diriku?!"
"Aku akan menjelaskannya sejelas mungkin padamu, bocah. Tentang dunia ini yang tidaklah hanya hitam dan putih."
Issei berjengit kaget ketika sosok bertopeng itu tiba-tiba muncul di sampingnya dan memegang pundaknya. Pandangan mata itu melihat lurus ke depan.
" Gremory..." sosok bertopeng itu berkata dengan nada berat yang mengandung rasa tak suka ketika lingkaran sihir merah muncul dan seorang iblis keluar dari sana.
Dan untuk Issei, dia tak bisa untuk tambah tak terkejut atas segala hal yang tak masuk akal yang dia alami malam ini. Apalagi ketika dia melihat salah satu Onee-sama akademi tempatnya bersekolah tiba-tiba datang begitu saja dengan tiba-tiba.
Sedang klon Naruto merasa dia tak memiliki waktu untuk meladeni iblis labil seperti Gremory. Gadis iblis kecil itu hanyalah sebuah hal menganggu yang tak perlu dia perhatikan. Jadi, satu tangan terangkat dan sebuah kilatan putih kemudian menandakan perginya dia dan Issei. Meninggalkan iblis Gremory yang tak sempat bicara.
Malam ini adalah malam dimana Issei berhak tahu segalanya. Malam dimana takdir dari pemuda coklat itu berubah selamanya.
[...Chapter 1 : Malam Penyelamatan selesai...]
Hai, senpai! Aku kembali dengan chapter pertama dari A Love for the Queen!
Cerita fic ini memang terinspirasi dari A Love for My Goddess karya Louis Lucifer. Aku membaca fic tersebut dan kupikir kenapa tak memadukannya dengan DxD untuk konflik yang lebih berat?
Soal Naruto yang memiliki mata Sharingan dan bukan Kurama. Itu akan dijelaskan. Perlu saja diingat bahwa Naruto yang ini bukanlah Naruto yang ada seperti di Canon melainkan Naruto yang berasal dari universe berbeda.
Untuk segala sesuatu yang menggelitik pembaca akan misteri Naruto di dunianya dahulu, itu akan dikupas dalam Flashback yang dipotong. Silahkan rangkai sendiri dan simpulkan. Jadi pembaca cerdas ya senpai!
Alur fic ini simpel. Seorang dewi ratu yang tersakiti bertemu dengan seorang pria yang complicated dengan unsur sejarah yang rumit yang akhirnya saling berjuang untuk saling melengkapi. Simpel kan?
Dan di chapter ini pula aku akan menjawab bahwa bukan Gabriel yang menjadi istri Naruto yang sudah wafat. Bukan! Istri Naruto hanyalah manusia biasa yang Naruto cintai karena bisa menghancurkan dinding karakter keras Naruto. Adegan Romance pertemuan Naruto dengan mendiang istrinya juga ada nanti. Aku berencana membuat itu. Lalu kalau dipikir aku menggandengkan Naruto dengan Hera tidaklah keterlaluan. Cinta itu hal yang menentang batas dan logika. Usia bukanlah penghalang! Ane belajar bijak nih!
Chapter depan sedang digarap dengan menampilkan pertemuan sederhana antara Naruto dan Asia yang unyu dengan Hera. Otakku menggelitik menulis adegan ini. Chapter depan juga berisi keputusan Issei yang merubah jalur canon DxD.
Dan jika kalian berkata Naruto naif karena menyelamatkan Issei, perhatikan bahwa disini, Naruto sudah membuat ikatan dengan Issei yang selalu datang mampir ke kedai Ramen miliknya setiap hari. Naruto sudah menganggap bocah mesum itu sebagai bagian keluarga saking akrabnya dan hal inilah yang jelas mempengaruhi Issei juga ke depannya. Naruto juga akan bertindak seperti seorang mentor untuk Issei agar dia memandang sesuatu dengan lebih baik.
Oke! Saran dan Kritik sudah diterima. Buat lubang-lubang cerita yang membuat penasaran lainnya. Hehehehe... Silahkan berimajinasi untuk mengisi lubang-lubang cerita itu atau menjawab lubang-lubang cerita dan menambalnya. Katakan Banzai di chapter ini jika chapter pertama ini bagus. Akhir kata... Jaa nee senpai!
