"Apa yang kau alami bukanlah cinta, bukanlah loyalitas melainkan sebuah kebodohan. Entah ini bisa terpikir ataupun tidak tapi kenapa tak berfikir secara simpel dan mudah?"

"...Berapa kali kau sudah disakiti? Berapa kali engkau dikhianati? Selama milenia? Sampai Olympus akhirnya mempunyai tiga belas dewa dewi dan kau masih terus dikhianati Hera. Kenapa kau buta dan tak mau melihat matamu ke arah lain untuk mencari kebahagiaanmu sendiri sejak awal jika kau merasa sudah tidak mampu lagi menahannya?"

"...Karena kuyakin mereka para pencari bahagia pasti akan menemukan hal itu pada akhirnya jika mereka mau mencarinya."


(..A Love for the Queen..)


Kilatan cahaya emas muncul di sebuah tempat. Sebuah tempat luas dengan padang rumputnya di bawah temaramnya langit malam yang menampilkan ribuan bintang terlihat begitu jelas dan besar.

Untuk Issei yang baru sekali ini merasakan hal yang tidak mungkin terjadi secara nalar langsung menutup mulut dengan satu tangan. Dia sangat mual dan isi perutnya mencoba keras untuk keluar. Kepalanya juga bahkan terasa begitu pening dengan beberapa masih terlihat buram di pandangan.

"Hoooeeeekkkk!" Karena tak kuasa menahannya lagi akhirnya Issei muntah. Klon Naruto yang melihat hal itu merasa sedikit kasihan.

Memang kebanyakan mereka yang belum pernah mengalami perpindahan cepat akan selalu mengalami hal ini. Rasa sangat mual jelas akan muncul setelah melakukan Hiraishin apalagi jika jaraknya cukup jauh.

Dengan merogoh kantong saku celana militer Anbu nya, klon Naruto mengeluarkan sebuah permen dan mengulurkannya kepada Issei sembari membuka topengnya yang membuat Issei kembali terkejut tak karuan.

"-O-oyaji?!"

Panggilan Issei yang jelas terkaget hanya dipandang biasa oleh klon Naruto.

"Gezz, kecilkan suaramu. Nih, makan permen ini." Perintah klon Naruto

"Ta-tapi!? B-bagaimana?" Issei berkata dengan tergagap namun tetap menerima permen yang diberikan oleh klon Naruto dan memakannya. Sensasi manis terasa mengurangi rasa mual miliknya kemudian.

"Ada beberapa hal didunia ini yang tak pernah di ketahui oleh orang normal, Issei." Klon Naruto melakukan segel tangan dan sebuah tanah mencuat ke atas di padang rumput tersebut. Dengan santai klon Naruto duduk di atasnya mengabaikan pandangan tak percaya Issei juga pandangan kagum. "Bahwa dunia yang dirimu huni ini banyak hal abu-abu. Bayangkan jika makhluk-makhluk supernatural yang selama ini dianggap mitos itu nyata-" Mata safir biru klon Naruto menatap ke arah mata Issei.

"-namun percayakah kau hal tersebut jika aku mengatakannya?"

"Oyaji, jadi maksudmu tadi itu dan Rias-senpai?"

Klon Naruto mengangguk. "Benar Issei. Semua makhluk supernatural itu nyata. Yang barusan hampir membunuhmu dan kau tentu tadi melihat sebelum berpindah kemari adalah orang yang satu sekolah denganmu adalah makhluk supernatural."

"J-jika begitu... Itu artinya kau juga-,"

"Aku tak termasuk bagian dari mereka Issei. Aku manusia. Hanya saja aku manusia dengan anugrah yang diberikan oleh Kami-sama. Anggap saja penjelasan simpelnya aku sama sepertimu."

"Sama sepertiku?"

"Ya anggap saja begitu karena jika dijelaskan secara rinci itu akan sangat terasa rumit dan membuat otakmu yang berada di bawah kapasitas normal meledak." Ledek klon Naruto dengan senyuman kecil dan tangan bersidekap yang langsung mendapat reaksi dari berkedutnya alis Issei karena kesal.

"Oy, baka Oyaji! Apa kau mengejekku?!" protes pemuda berambut coklat tersebut.

"Itu hanya kenyataannya, Issei. Tapi itu tak penting lagi. Sekarang yang terpenting adalah maukah kau mendengar cerita dari orang ini akan dunia yang abu-abu setelah kau mengalaminya?"

Pertanyaan klon Naruto membuat Issei termenung sejenak sebelum mengangguk pelan.

Lalu di malam itu Issei mendengar penjelasan klon Naruto tentang dunia tempatnya berada. Tentang segala makhluk supernatural itu nyata. Malaikat jatuh, malaikat, iblis, Youkai, Vampire dan lain sebagainya ada dan berbaur di antara manusia.

Bagaimana Issei juga mendengar perseteruan antara tiga fraksi dalam Alkitab. Bagaimana tentang iblis yang mengawasi kota Kuoh. Bagaimana alasan kenapa malaikat jatuh mengincarnya karena benda yang disebut Sacred Gear yang merupakan artifak Kami-sama yang di berikan pada manusia untuk mereka bisa mempertahankan diri mereka dari para makhluk supernatural dan bagaimana juga kenapa Rias Gremory bisa muncul di waktu terakhir.

Melihat pamflet bertuliskan aksara sihir pemanggilan dengan pandangan marah, Issei kemudian bertanya.

"Jadi mereka sudah tahu dan memberiku pamflet ini lalu disaat aku terbunuh aku pasti akan menginginkan untuk hidup yang kemudian keinginanku menjadi katalis agar pamflet ini memanggil Rias dan dia kemudian menghidupkanku dengan benda yang disebut evil piece hingga akhirnya dipandangan yang mudah diartikan dia seolah menjadi ksatria yang menyelamatkan tawanan kastil?!"

"Secara garis besar begitu dan wow, perkataanmu barusan sangat rinci sekali, Issei." Kata klon Naruto. "Kupikir kau bodoh, tapi otakmu juga encer ternyata."

"Oy, Oyaji! Jangan bercanda, aku serius!"

"Baiklah, baiklah." Balas klon Naruto. "Gezz, kalau kau marah itu bisa kumaklumi. Tapi ya memang benar. Rias Gremory harusnya bisa memintamu baik-baik. Jika dia seperti itu kau pun tak harus hampir terbunuh, tapi dia lebih memilih untuk membiarkanmu mati dan kau tahu selanjutnya. Itu sama persis seperti hal yang kau katakan tadi."

"Aku bukan membenci Gremory tapi aku hanya tak suka metodenya. Untuk itulah aku menyelamatkanmu dengan membawamu kemari. Tapi setelah menyelamatkanmu, pertanyaannya, apa yang akan kau lakukan? Baik malaikat jatuh yang mengincarmu dan Rias tak tahu siapa aku dan mereka boleh menggeledah arsip mereka sekalipun kupastikan mereka tak tahu tapi bagaimana denganmu? Ketika kau masih hidup lalu kembali ke kota Kuoh apalagi kembali ke tempatmu sekolah kau pasti akan dipanggil oleh para iblis untuk menjelaskan siapa aku." Kata klon Naruto. "Jika kau sudah membuka Sacred Gear-mu mungkin kau bisa mengancam mereka dan tak memberitahu siapa aku, tapi masalahnya kau lemah sekarang. Dan ketika lemah, mereka mungkin bisa mencuci otakmu dengan sihir dan puff! Kau akan dijadikan budak oleh mereka atau mereka menawarkanmu menjadi raja harem yang sangat kau inginkan itu dan kau akhirnya menerimanya lalu mengatakan siapa yang menolongmu malam ini."

"Sekalipun aku ingin jadi raja harem tapi kalau caranya seperti itu ya ogah! Apa tak ada yang bisa kau lakukan Oyaji?"

Tersenyum tipis, klon Naruto berkata lagi. "Ada sebenarnya caranya, hanya saja bagaimana dengan jiwa yang menghuni sacred gear milikmu mau bekerja sama atau tidak. Namun jika dia tak mau bekerja sama maka aku bisa membuatnya bekerja sama dengan mudah. Sekarang semua ada di pilihanmu. Setelah kau mengetahui ini semua, bagaimana kau akan bertindak Issei?"

"A-aku..."

"Iblis pasti masih mengincarmu menjadi budak atau membunuhmu jika kau berurusan dengan malaikat jatuh. Jika kau misalnya menerima menjadi budak mereka, maka dengan begitu kau akan terpaksa harus kujauhkan dariku dan Asia." Dengan pandangan mata bersinar, klon Naruto tersebut berkata dengan serius untuk hal yang dia katakan selanjutnya. "Aku tak ingin putriku harus berurusan saat ini dengan makhluk supernatural. Dia masih terlalu kecil untuk itu. Mungkin jika sudah dewasa dia berhak tahu siapa ayahnya ini tapi sekarang aku ingin dia hidup normal dan artinya jika semisal kau ditawari menjadi budak mereka dan kau menerimanya, maka ingatanmu tentangku dan Asia akan kuhapus. Aku masih akan menerimamu di kedai ramenku tapi aku tak akan menjalin ikatan lagi denganmu."

"Oyaji, apakah itu harus dilakukan? Maksudku kau benar akan menghapus ingatanku tentangmu dan Asia jika seandainya aku menerima menjadi salah satu dari mereka?"

Klon Naruto tersenyum sekaligus mengangguk. "Lagipula pertimbangkan ini Issei, maukah semisal kau menjadi iblis dengan bayaran kebebasanmu terenggut? Kau mungkin bisa bebas di suatu hari tapi kau tetap terikat kepada raja. Evil piece membuat hal tersebut. Kau masih harus selalu memenuhi panggilan pemilik bidak raja selama hidupmu karena jika kau mengabaikannya kau akan menjadi seorang yang liar dan harus dimusnahkan. Belum lagi sekali seorang budak, maka itu tetaplah budak sampai status budak itu dicopot dan itu tidak mungkin karena jika evil piece dilepas dan diambil kematian adalah hal pasti."

Issei yang mendengarkan penjelasan klon Naruto dengan seksama merenung banyak hal atas apa yang diucapkan dan dijelaskan Naruto malam ini dan dia mengerti satu hal.

Dia sudah tak aman karena sesuatu yang ada di dalam dirinya dan itu akan menjadi incaran terus menerus selama dia hidup. Satu-satunya hal yang bisa dilakukan jika dia lemah adalah lari tapi lari kemana? Dia tak punya pilihan untuk itu apalagi ketika dia diincar oleh malaikat jatuh dan juga dia tak ingin jadi iblis. Dia tak ingin membuang kemanusiaan yang dia miliki.

"Oyaji... Aku ingin hidup. Aku ingin tetap jadi manusia... Aku tak ingin memutus ikatan denganmu karena kau sudah layaknya kuanggap kakak bagiku!"

"Itu pilihanmu?" Tanya klon Naruto serius yang dibalas dengan anggukan kepala Issei. Balasan yang di berikan Issei membuat klon Naruto berdiri dari duduknya dan menghampiri pemuda itu. "Baiklah jika itu maumu maka mari kita lihat apakah sesuatu jiwa naga yang ada di dalam dirimu mau bekerja sama atau tidak."

Dengan itu Issei kemudian melihat pandangan mata yang berbeda dan membuatnya bergetar.

Merah ruby di kedua bola mata yang semula biru safir yang dilengkapi tomoe dengan lingkaran yang menyatu menghubungkan dan berputar pelan itu seolah membuat siapapun yang dipandang menjadi seolah dia hanyalah orang kecil dan tak berdaya. Mata yang tahu apa yang ada di dalam dirimu hingga kau merasa tak bisa berbohong apapun.

Hal yang selanjutnya terjadi hanyalah sebuah blur kemudian yang teringat di ingatan Issei.


(..A Love for the Queen..)


Hari itu hari pagi yang tenang. Burung-burung berkicau dengan begitu merdu sampai pada akhirnya itu harus membeku terdiam tak bersuara. Sayap-sayap burung yang merasakan hal sesuatu yang begitu besar menghampiri mereka secara perlahan membekukan suara yang akan keluar dari tenggorokan para burung seperti ada batu yang tersangkut di kerongkongan. Tubuh mereka juga tak bisa bergerak. Beberapa burung di atas yang terbang pun serasa ingin rasanya jatuh namun mereka menguatkan sayap mereka dan pergi menjauh dari sumber sesuatu yang datang.

Lagipula ketika kau merasakan sesuatu predator yang kuat datang ke arahmu apa yang akan kau lakukan selain lari menjauh sejauh mungkin agar aman.

Namun rasanya bukan hanya burung saja yang merasakan hal tersebut karena murid-murid akademi Kuoh juga terasa membeku ketika melihat satu figur berjalan melalui gerbang akademi.

Beberapa murid yang melihat ini mungkin merasa bahwa figur yang berjalan masuk itu tak lebih dari sekadar orang mesum semata. Tak ada yang menyalahkan hal tersebut karena memang reputasi buruk sebagai orang mesum yang dia terima bersama dua teman cabulnya. Meskipun beberapa minggu memang kecabulan dari figur tersebut sedikit berkurang karena sesuatu hal. Biasanya mereka akan memandang remeh figur tersebut apalagi para gadis yang banyak akan merasa jijik.

Tapi hari ini, pandangan mereka terasa terbuka lebar. Rasa membeku sementara yang terasa ini membuat mereka semua yang merasakannya terasa seperti sesuatu tengah mencengkram hati mereka. Satu sosok figur yang berjalan tenang itu memancarkan aura yang kuat, dominan dan liar. Seolah predator baru saja masuk ke lingkungan para buruan. Sangat berbahaya untuk didekati namun terasa masih dalam jarak aman untuk dikagumi.

Dan sosok figur berambut coklat bernama Hyoudou Issei yang berjalan itu sama sekali tak menunjukkan tanda apapun. Entah mengapa tapi pandangannya terasa datar, tanpa ekspresi apapun. Menghiraukan apa yang dibicarakan murid lain tentang dirinya hari ini. Namun pemuda rambut coklat itu tiba-tiba berhenti berjalan dan melihat ke salah satu sudut daripada sekolah dengan cepat. Melihat satu orang murid yang tingkatan kelasnya berada di bawahnya yang langsung bergetar ketakutan ketika ditatap sebentar.

Bagi yang dilihat oleh Issei, iblis berambut putih dengan tubuh mungil itu layaknya tengah ditatap dan diincar oleh sesuatu predator yang sangat mengerikan. Meski hanya tatapan biasa yang diberikan oleh Issei, iblis mungil putih itu serasa bersumpah dia melihat mata pemuda itu berubah menjadi mata reptil untuk sejenak dan menghilang dengan cepat kemudian ketika dia berkedip. Issei tak memperdulikan itu dan berhenti menatap sebelum masuk berjalan ke arah gedung. Meninggalkan iblis mungil itu yang masih bergetar dengan bergumam sesuatu.

Sesuatu yang dirasakan barusan oleh iblis itu. Sesuatu yang berada di rantai puncak makanan dan namanya diagungkan atas julukan keganasan mereka.

"N-naga..."

Hal itulah yang dirasakan oleh iblis itu. Naga dengan sedikit aura mencuat yang cukup membuat para buruan atau makhluk yang berada di level rendah bergetar ketakutan.

Sementara itu Issei hanya tak bicara apapun. Mood yang dia rasakan begitu ke akademi memang langsung buruk mengingat apa yang dia akan hadapi nanti. Itu sama sekali tak menyenangkan tapi menilik dari apa yang Naruto telah lakukan padanya, ini setidaknya sudah cukup untuk membuat para iblis menjauh sementara. Dia bisa membungkam mereka nanti agar mereka meninggalkan dirinya dan juga tak memaksa dirinya berkata tentang apa yang harusnya menjadi rahasia.

Duduk di bangku tempatnya duduk, dia langsung mengeluarkan headphone dan memutar pemutar music untuk mengusir bosan sementara mengabaikan tatapan lain para murid yang mana mereka enggan mendekati dirinya. Bahkan Matsuda dan Motohama, teman cabulnya juga enggan mendekati Issei hari ini.

Tak ada pelajaran yang terasa menarik untuk diikuti hari ini oleh Issei. Bahkan ketika dia ditanya pertanyaan oleh guru. Tunggu! Lebih tepatnya dia sama sekali tak ditanya oleh para guru atau dijadikan bahan ejekan hari ini akibat sifat mesumnya. Jadi pelajaran sekolah hanya berlalu begitu saja dan dia kemudian berada di tempat lain.

Di tempat dimana mereka semua berada, sungguh ketika Issei melihat mereka, baik Souna Shitori atau bisa disebut Sona Sitri dan Rias Gremory beserta semua budak mereka, Issei sungguh ingin sekali meludah terutama pada Rias.

Itu benar. Itulah hal yang sungguh ingin dilakukan Issei. Dia tak suka nyawanya di permainkan dan aura yang tamak juga terasa mencemari udara terasa bagi Issei adalah hal yang menjijikkan. Dia tak lagi merasa pengaruh tertarik seperti biasa saat melihat kumpulan gadis iblis yang biasa dahulu jadi obyek imajinasi mesum yang dulu dia lakukan.

Issei duduk di ruang Osis dengan kaki bersilang pandangan matanya menajam dan mengawasi dari berbagai sisi. Backing atau pendukung dirinya siap dipanggil kapanpun dia merasa terancam. Postur tubuhnya tegang dan waspada.

"Jadi..." Issei buka suara. "Aku tahu maksud kalian. Katakan alasan aku dipanggil kemari dan juga katakan jelas alasan kenapa Gremory disana memainkan permainan berbahaya yang bisa membuatku menghancurkan kalian semua."

Deg!

Perkataan yang Issei keluarkan barusan hanyalah gertakan semata namun dia bisa melihat bagaimana mereka semua menegang dan bersiaga. Tapi meskipun begitu, Sona si ketua Osis dan Rias masih mencoba untuk terlihat tenang.

"Kami tak mengerti apa maksud ucapanmu, Hyoudou-san." Kata Sona dengan sopan. "Bisa jelaskan dengan rinci?"

"Kau tahu apa yang kubicarakan dengan jelas Shitori-san, atau aku lebih suka menyebutnya Sitri." Kata Issei yang membuat Sona mengenyit. "Entah intelegensiku yang buruk atau kau coba bermain bodoh. Kukatakan sekali saja. Jangan bermain di garis yang sudah tipis ini Sitri. Aku mungkin mesum dan bodoh tapi aku mengerti situasinya sekarang. Jangan berlagak bodoh seperti itu atau kau akan jadi sungguh-sungguh bodoh sepertiku."

"Hey! Bicaralah dengan sopan, Hyoudou!" seru wakil ketua Osis, Tsubaki Shinra dengan marah. Namun alih-alih marah, wakil Osis itu harus bergerak mundur satu langkah kaget dan bergetar ketika dihadiahi tatapan tajam dari Issei.

"Aku tak perlu bicara sopan pada kalian terutama pada Gremory di sana. Jangan mencoba membuatku tambah meledak, Shinra."

"Hyoudou-san kuharap kau tenang." kata Rias bicara dengan disertai sihir Charm berusaha menenangkan Issei. "Aku mengerti dan aku minta maaf atas hal yang menimpamu."

Tapi bicara dengan sihir, itu justru terasa sangat menganggu Issei karena serasa ada sesuatu yang memerintahnya untuk tenang. "Bicaralah tanpa memakai sihir atau apapun kalian menyebutnya atau aku benar-benar marah, Gremory."

"Rias! Hentikan sihirmu!" teriak Sona kemudian panik ketika mata Issei tiba-tiba bersinar.

"Setelah kemarin kau mencoba membuatku terbunuh oleh malaikat jatuh dan berusaha membangkitkan ku menjadi budak sekarang kau mencoba untuk menenangkan emosiku yang serasa ingin meledak karena kelakuanmu sendiri dengan tambahan sihir aneh?!" Issei berteriak dengan menggebrak meja di depannya yang membatasi antara dirinya dan para iblis yang membuat semuanya kaget dan berada dalam posisi siaga. Issei bahkan melihat beberapa iblis sudah memanggil senjata mereka namun tak berani maju.

Melihat situasi tambah tegang dengan teriakan dan kelakuannya barusan, Issei menarik nafas panjang dan mengeluarkannya. Sialan Oyaji! Dia bilang dampaknya tak akan separah ini tapi ternyata ini.

Issei menenangkan dirinya kembali dan duduk dengan tenang. "Aku tak punya waktu meladeni kalian semua tapi aku akan mengatakan satu hal..."

"...Aku tak akan mengatakan informasi tentang siapa yang menolongku malam itu. Yang jelas aku sudah berhutang kepadanya banyak hal. Anggap saja dia adalah pelindungku dan dia berkata hanya ingin hidup tenang tapi saat melihatku di malam itu dia bertindak. Aku memaafkan perbuatan Gremory tapi bukan berarti aku tak menegaskan dimana aku berada."

"Hyoudou-san kau harus tahu bahwa setiap hal yang ada di kota ini harus kami awasi. Orang yang menolongmu mungkin saja berbahaya." kata Sona.

"Jika dia berbahaya mungkin itu bagi ras kalian atau malaikat jatuh atau siapapun. Tapi bagiku dia sudah menyelamatkan satu nyawa manusia bodoh dan aku menjaga rahasianya sebagai balasan perbuatannya." Kata Issei dengan menyilangkan tangan. "Dia lebih baik daripada mereka yang membiarkan orang mati lalu memainkan drama murahan. Dan jangan berkata ini adalah daerah yang kalian awasi. Aku tak peduli hal tersebut. Aku lahir disini, besar disini dan hidup disini jauh sebelum kalian datang." Tambah Issei dengan penekanan sambil memberikan senyum sindiran dan pemuda rambut coklat itu bisa melihat tangan Rias bergerak marah.

"Kau menyindirku, Hyoudou?! Kau pikir siapa dirimu?!" Seru Rias dengan kemarahan menggebu.

Tidak ada yang pernah menyindirnya apalagi jika itu hanya orang biasa.

Namun bukannya takut akan kemarahan dari iblis merah itu mata Issei justru bersinar dan hal selanjutnya yang terjadi adalah tatapan ketakutan yang para iblis ini perlihatkan ketika aura dari Ddraig menguar.

Mata mereka membulat seketika, kulit mereka menjadi pucat dan Issei bisa melihat mereka membeku semua layaknya patung.

Ddraig.

Kaisar naga merah adalah apa yang ada di dalam Sacred gear milik Issei. Satu dari tiga belas Longinus yang menurut rumor memiliki potensi untuk kekuatannya melebihi dewa itu sendiri. Sacred gear yang dibuka oleh Naruto di malam itu dan Sacred gear yang dimanipulasi oleh pria pirang itu agar jiwa Ddraig dalam sacred gear tersebut patuh selalu pada Issei dengan sebuah teknik yang tak pernah Issei ketahui bagaimana bisa itu terjadi. Naruto tak menjelaskan banyak hal malam itu namun ketika semua terasa buram semua, Issei tiba-tiba tahu banyak pengetahuan dari Ddraig tentang tiga fraksi dan berikut kekuatan sacred gear miliknya lengkap dengan cara penggunaannya ketika bangun.

Perlu diketahui, Ddraig adalah juga naga yang tak menyukai tiga fraksi Alkitab. Apalagi ketika dia adalah naga yang dimasukkan jiwanya untuk terus menerus melewati rangkaian waktu dengan berpindah dari satu pengguna ke pengguna lain. Itu membuat jiwanya tidak tenang karena dia dipaksa untuk terus hidup tanpa istirahat seperti naga lain dan semakin menambah aura ganas juga marahnya kepada tiga fraksi. Naruto sendiri bisa membuat Ddraig patuh kepada Issei tapi tidak dengan kebenciannya. Apalagi jika mengingat dia akan diikat menjadi budak iblis.

Ketika naga dengan kebanggaan tinggi melihat bahwa dia akan dijadikan budak dari iblis kecil yang kekuatannya sendiri bagaikan langit dan bumi dengannya, apa yang terjadi? Itu seperti meminta kaisar menjilat sepatu orang biasa. Penghinaan! Dan itu membuat sang naga sangat marah!

Dan jika sudah marah apa naga yang kekuatannya saja setara dengan para dewa besar akan lakukan? Tentu saja dia akan menjatuhkan satu hal.

Hukuman mati pada yang membuatnya marah.

"Kau membuatku sakit Gremory. Kau tak meminta maaf dengan tulus dan malah marah padahal kau yang salah? Jangan bercanda. Aku dulu mengagumimu tapi setelah melihat kelakuanmu aku ingin rasanya meludah di wajahmu. Kau telah melanggar batasan netral itu sendiri Gremory jadi jangan banyak bicara." Kata Issei dengan nada datar. "Aku akan merespon buruk jika setelah ini kau memberikan respon yang buruk juga Gremory. Ini berlaku juga untuk kalian semua. Aku hanya ingin hidup tenang jadi jangan ganggu aku. Masalah selesai. Jika kalian memanggil bantuan maka aku akan bertindak juga dengan melepas naga ini keluar. Kalian tak ingin melihat kalian mati satu persatu kan? Jadi diam saja dan urus kehidupan kalian sendiri sementara aku mengurus kehidupan tenangku."

Dengan pelan Issei menarik kembali aura Ddraig yang dia pinjam sejenak. Pemuda itu berdiri dan berjalan ke arah gagang pintu dan membukanya lalu pergi dari sana.

Issei tak bisa berlama-lama disana karena dia tak ingin berada dekat-dekat dengan mereka. Lagipula dia sudah menegaskan hal ini jadi dia bisa hidup sedikit tenang meski dia tahu akan diawasi tapi Issei tak peduli dahulu. Toh kalau mereka bosan mereka juga akan meninggalkan dirinya.

Daripada itu, Issei lebih memilih mengisi perutnya sekarang. Mungkin ke kedai ramen bagus juga mengingat Oyaji berhak tahu pertemuan ini. Sekalian menagih jatah latihan yang akan dijanjikan.

Langkah pasti Issei membuatnya berlalu dari akademi kemudian.


(..A Love for the Queen..)


Mata Hera memandang kedai ramen sederhana dari luar dan melihat alamat yang diberikan dewi Amaterasu padanya lalu berkedip.

Betulkah ini tempat ramen yang katanya rasa masakannya melebihi Hestia? Sangat terlihat sederhana sekali?

Tempatnya dari luar terlihat biasa, ada kaca yang membatasi antara dalam dan luar. Keadaan kedainya di siang ini terasa masih sepi. Mungkin karena baru buka karena Hera melihat pria pirang tampan yang kemungkinan pemilik kedai baru saja membalik tanda bertuliskan tutup menjadi buka.

Dengan langkah pelan, Hera bergerak maju. Jemarinya memegang gagang pintu dan membukanya.

Kling... Kling...

Suara bel pertanda orang masuk adalah yang Hera dengar lalu suara ucapan dari duo orang yang berada di dalam kedai ramen tersebut.

"Selamat datang! / Selamat datang..."

Suara cempreng dibarengi suara baritone lembut memasuki pendengaran Hera. Dewi itu kemudian melihat seseorang gadis kecil pirang dengan mata emerald besar berada di belakang konter tersenyum senang.

Sapaan yang hangat dan ceria tadi adalah apa yang merasuk ke dalam diri Hera setelah milenia dia berada di Olympus dia tak mendengar sapaan seperti itu lagi. Dengan tenang, dewi tersebut berjalan menuju ke arah konter pemesanan makanan.

"Selamat siang! Anda mau pesan apa?!" suara tinggi gadis kecil itu berkata dengan menyodorkan selembar menu kedai ramen yang diterima Hera dengan tersenyum. Gadis kecil itu memakai pakaian koki kecil yang terlihat imut untuknya.

Hmm... ramen yang tersaji adalah apa yang biasanya juga disajikan di kedai ramen lain.

"...Bisakah aku pesan miso ramen?"

"Oke! Miso ramen!" gadis kecil itu mencatat. "Lalu minumnya? Ah mau coba satu minuman legendaris Tou-chanku yaitu teh hijau yang dicampur dengan susu?"

"Teh susu maksudmu gadis kecil?"

"Yap! Itu dia! Teh susu! " balas gadis kecil itu dengan semangat yang membuat Hera tertawa kecil.

"Baiklah, aku pesan itu juga."

"Oke! Tunggu sebentar!" gadis kecil pirang itu kemudian selesai mencatat lalu turun dari tempatnya duduk yang tinggi di belakang konter pemesanan dan berlari ke belakang. Hera menyaksikan dengan senyuman hangat.

'Sungguh gadis kecil yang ceria sekali. Ah, seingatku aku dulu waktu kecil juga seperti itu ditambah juga Hestia...' tertawa kecil lagi Hera merasakan nostalgia sembari melihat secara seksama bagian dalam kedai ramen ini.

Kursi-kursi kayu lengkap dengan meja kayu yang tertata rapi. Beberapa lukisan yang terasa artistik dan suasana yang damai. Ini adalah kedai ramen yang nyaman menurut Hera.

"Maaf menunggu, ini pesanan anda, Nona."

Suara pria membuyarkan lamunan Hera dan dia melihat satu mangkok miso ramen panas tersaji di depannya. Kuah yang masih mengepul menimbulkan aroma lembut yang khas dan tatanan mie serta sayurannya begitu menggiurkan.

Hera melihat sejenak mangkok ramennya sebelum melihat ke arah sang koki.

Jika tadi dilihat dari jauh saja sudah tampan, maka Hera tak memungkiri bahwa koki yang ada di hadapannya kini sangat tampan. Rambut pirang bagai diterpa cahaya matahari dan terlihat lembut. Mata biru yang berisi kelembutan dan kehangatan. Pipi yang tanpa lemak dan terlihat dewasa.

Tanpa Hera sadari dia bersemu merah muda sedikit pertanda dia mengagumi ketampanan manusia di hadapannya.

"Silahkan dinikmati." Pria pirang itu berkata dengan sopan.

"Dan ini minuman anda!"

Lalu sebuah suara yang tadi mencatat pesanan Hera datang dari samping dengan nampan berisi minuman teh coklat racikan sang ayah. Gadis kecil itu menyodorkan nampan dengan cengiran lebar menampakkan gigi putihnya dan Hera mengambil minuman yang ada di nampan hanya untuk tersentak ketika merasakan sesuatu.

'A-apa ini?!'

Kasih sayang keluarga yang begitu murni. Kasih sayang keluarga antara orang tua kepada anaknya yang begitu murni adalah apa yang menerpa Hera sekarang. Sebuah kasih sayang dari seorang pria menyelimuti gadis kecil ini begitu kuat seperti sebuah selimut yang dipasangkan untuk menjaga dari dinginnya hawa malam. Sebagai dewi pernikahan, ibu dan wanita, dia bisa melihat kasih sayang yang dia rasakan ini adalah buah dari pernikahan paling kuat yang dia rasakan selama ini.

Dan Hera menoleh untuk terhenyak ketika melihat sepasang safir biru itu memandang lembut dan penuh cinta sembari mengawasi gadis kecil tadi berlari ke belakang lagi menuju dapur.

Ini…

Hera terpana seakan tak mampu lagi berkata apapun. Ini begitu sangat murni, begitu sangat... Ini bahkan menyaingi apa yang biasanya dia rasakan di antara dewa dewi bahkan manusia. Ini adalah sesuatu yang sangat langka! Perasaan ini langka dan nyata dan Hera tak percaya menemuinya di sini!

Tidak pernah sekalipun Zeus memandang anak-anaknya seperti yang sekarang dilakukan pria pirang itu.

"Putri kecilku sungguh cantik bukan?"

"...Huh? Ah! Maaf aku kurang mendengarkan tadi." kata Hera tersentak dan sadar dari keterkejutannya.

"Putriku... Dia sangat cantik bukan?" Kata pria pirang itu lagi dengan senyuman kecil.

"Ya, dia sangat cantik. Anda sangat beruntung."

"Yah... Aku memang beruntung." Pria pirang itu tertawa kecil. "Dia bagaikan permata yang harus kujaga selalu. Apalagi dengan keceriaan dan sikap hiperaktifnya."

"Dia sepertinya mewarisi kecantikan ibunya. Kupikir ibunya pasti yang menurunkan rambut pirang dan mata emerald itu padanya."

Pria pirang itu tertawa renyah. "Kurasa jika rambut pirangnya itu justru berasal dariku. Mendiang ibunya justru menurunkan sifatnya. Kalau mata emerald yang dia punya tak meniru kami berdua."

Hera mengenyit ketika mendengar satu kata terselip di perkataan barusan.

Mendiang,...

Itu berarti ibu dari anak kecil dan istri dari koki pirang yang ada di depannya ini telah wafat.

"Maaf, aku tadi mendengar kata yang merujuk pada penyataan yang mungkin menyinggung, tapi apakah ibu putri anda?"

Pria pirang itu tak menyahut. Dia hanya tersenyum semata dan Hera tak perlu tahu ucapan dari pria pirang itu untuk mengerti.

"Silahkan dinikmati ramen anda nanti keburu dingin, Nona." kata pria pirang itu lembut. "Jika butuh apapun nanti anda bisa memanggilku. Dapur tak jauh dari konter pemesanan."

Hera hanya mengangguk ringan kemudian menyaksikan pria pirang itu berlalu ke belakang. Dengan perlahan, tangan Hera meraih sumpit dan sendok yang tersedia di tempatnya duduk.

Kuah ramen masih mengepul. Dengan perlahan Hera menyendok kuah tersebut dan menyeruputnya.

Lalu kedua matanya membulat!

'R-rasa ini!'

Rasa kuah ramen yang baru saja dirasakan oleh Hera jauh melebihi ekspetasi dirinya. Ini begitu lezat, lebih lezat dari buatan Hestia ataupun dirinya.

Hera kembali tak bisa berkata apapun. Masuk ke dalam kedai ini sudah membuatnya banyak merasakan kejutan. Dengan perlahan dan elegan, dia kemudian memakan ramen miliknya.

Sungguh ramen yang enak sekali. Hera merasa sangat puas dengan rasa ramen tersebut bahkan ketika juga dia merasakan teh susu yang disajikan. Itu juga sama-sama lezat.

Oke, Hera mengakui. Dewi Amaterasu tak berbohong soal tempat ini. Datang kemari tak sia-sia sama sekali.

"Bagaimana? Anda suka ramen Tou-chan, Nee-chan?!"

Seperti suara kicauan burung yang senang. Suara dari gadis pirang yang tadi melayani Hera membuat dewi itu mendongak melihat gadis kecil pirang itu sudah duduk lagi di kursi tinggi di belakang konter.

"Ya... Ramen yang sangat enak sekali."

"Hmph! Ramen Tou-chan memang yang terbaik di kota ini!" Memukul dadanya dengan bangga, gadis kecil itu terlihat lucu dengan tingkahnya dan Hera tak bisa untuk tidak terkikik geli.

Tingkah yang ceria sekali. Dan juga — hangat.

Entah mengapa hati Hera ketika setelah merasakan ramen barusan dan melihat gadis kecil ini menjadi hangat. Mungkin karena kasih dan cinta yang begitu besar menyelimuti gadis kecil ini yang berasal dari pria pirang tadi atau mungkin juga karena suasananya sangat mendukung.

Namun setitik rasa iri berbarengan muncul di hati Hera.

Jika saja Zeus seperti pria pirang itu yang mencintai anaknya dengan lembut… mungkin...

Hah! Untuk apa dia memikirkan bajingan tersebut. Enyah saja dari pikiran!

Dengan menggelengkan kepala, Hera menjernihkan lagi pikirannya yang terasa ngawur. Sensasi pikiran barusan membuatnya sedikit marah. Dengan lekas Hera hanya memanggil pria pirang pemilik kedai ramen dan lekas membayar lalu keluar dari kedai.

Dia butuh waktu tenang sendiri lagi...


[...Chapter 2 : pertemuan pertama selesai...]


Beautiful right... With just imagination we can became anything...

Seperti yang pernah dibilang, masalah pair adalah masalah Author. Anda sekalian adalah pembaca. Mau ini single atau bukan anda akan tahu seiring berjalannya cerita dan konflik. Jangan tanya pair or anything related it! Di akhir chapter pertama penegasan pair udah kan? Hera! Its main pair for blonde guy! No Gabriel, no Sona! Done!

Naruto bukan pembenci makhluk supernatural hanya jika metode yang digunakan serasa bertentangan moral saja dia tak suka. Dia hanya membatasi interaksi Asia dengan makhluk supernatural.

Jika ditanya ini perebutan istri, you're wrong! Bayangkan kau jadi seorang istri lalu dikhianati berkali-kali bagaimana perasaanmu? Apalagi selama milenia. Pikir sendiri. Orang yang lakik ketemu pacar ama selingkuhannya doang marah :p.

Maksud Naruto berbeda dengan Canon adalah dia berasal dari dimensi dengan jalur waktu yang berbeda dari Canon. Akan dijelaskan ketika waktu flasback.

Jika suka chapter ini terutama sikap Issei yang sedikit OOC setelah sacred gearnya dibuka maka ketik Banzai di kolom komentar dan berikan kritik dan saran kalian. Jangan lupa.

Sampai bertemu di chapter depan..

Preview...

...Ucapanmu begitu menjengkelkan, Issei! Push up seratus kali lagi!"

Issei hanya bisa mengeluh lelah dan mengutuk.

"Sialan mulutku!"

-x-

"Jadi kau mengaku dirimu dewa? Tambah baguslah kalau begitu..."

Dengan menggertakkan jemari, tangan itu kemudian mencabut katana dari sarungnya.

"Karena aku akan menikmati lagi untuk membunuh dewa keparat yang sudah menculik anakku."

-x-

"Dia milikku! Kau bajingan yang sudah menyakitinya tak berhak lagi menyentuhnya!"