"Justru disaat kau sudah menemukan sebuah kebahagiaan yang nyata, maka genggamlah hal tersebut dengan erat karena kebahagiaan tersebut tak akan datang dua kali dalam bentuk yang sama, Hera."
[...A Love for the Queen..]
Rambut merah kecoklatan itu sesekali bergerak karena tertiup angin bersamaan dengan topi manis yang rumbainya bergerak perlahan.
Pandangan mata itu terlihat kosong, jauh di sana dengan pikiran yang entah melayang kemana. Siapapun yang melihatnya bisa menyimpulkan bahwa orang yang sedang terlihat itu tengah melamun.
Entah karena suasana taman di siang hari yang tengah sepi karena sibuknya jam kantor ataupun jam sekolah atau semata karena suasana taman akan terasa damai jika sepi seperti ini.
Sesekali helaian kelopak bunga sakura yang terkadang terbawa angin sebentar ketika jatuh melayang tepat di atas orang yang terduduk di bangku taman menghadap ke arah danau buatan kecil di depannya. Di pangkuan orang itu yang mengenakan pakaian dress putih dengan Cardigan biru dan sebuah syal, sebuah buku terbuka di tengah-tengah halaman namun tak terbaca karena pemiliknya yang tengah merenung.
Pikiran Hera memang sedang berada jauh dari tubuhnya.
Entah mengapa setelah keluar dari kedai ramen yang direkomendasikan dewi Amaterasu, sang dewi justru tak bisa berpikir tenang.
Bukan hanya karena masalah dia merasakan marah kepada Zeus kembali, entah mengapa perasaan iri yang dia rasakan ketika melihat gadis kecil dan ayah yang begitu mencintai putrinya dan mendiang istrinya itu terlalu mengganggu Hera. Lagipula bajingan itu— Zeus tak berhak lagi merasakan amarahnya. Dewa itu sudah membuat Hera serasa mati rasa untuk marah karena kelakuannya selama milenia. Hera sudah mencapai batasnya.
Karena kelakuannya itulah Hera terkadang bertindak begitu kejam kepada anak-anak yang terlahir dari wanita lain Zeus. Istri mana yang suka melihat suami seenaknya sendiri punya anak dengan wanita lain? Tidak ada yang pernah suka!
Dan itulah yang menyebabkan terkadang Hera bertindak di luar nalar, dia lebih mementingkan ego dan amarah ketika melihat wanita lain Zeus melahirkan anak yang jauh lebih baik dari anaknya sendiri, Hephaestus, yang terlahir buruk rupa.
Hephaestus...
Mengingat anaknya, dewa pandai besi itu membuat Hera menjadi sedih. Bagaimana ketika dia dulu melemparkan Hephaestus dari Olympus ke bumi setelah pertengkarannya dengan Zeus akibat dia tak percaya melahirkan seorang anak yang jelek dan buruk rupa.
Itu sampai sekarang menjadi penyesalan terbesar Hera dan juga meski Hephaestus sudah membalas dendamnya, Hera tahu dia masihlah belum termaafkan.
"Onee-chan, kau sedang bersedih?"
Suara panggilan membuyarkan lamunan Hera dan dia menoleh.
Hanya untuk mata Hera menangkap mata hijau emerald besar yang memandangnya dengan rasa penasaran dari seorang gadis kecil yang dia tahu siapa gadis kecil ini.
Lagipula bagaimana mungkin Hera lupa jika kemarin waktu dia mengunjungi kedai ramen, dia dilayani oleh gadis kecil ini. Gadis kecil yang juga membuat hatinya resah dan iri.
Pakaian yang dia kenakan berupa pakaian seragam sekolah dengan sebuah tas punggung tersemat padanya. Pandangan polos namun penasaran tercermin dari mata Emerald akan Hera membuat gadis kecil ini terasa terlihat begitu manis.
"Eh? Gadis kecil? Apa yang kau lakukan disini? Kau sendirian di sini? Dimana ayahmu?" tanya Hera.
Gadis kecil itu tak lekas membalas perkataan Hera, dia justru pergi duduk ke sebelah Hera terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Hera.
"Aku datang bersama gerombolan teman di sana." Gadis kecil itu berbalik dari duduknya dan menunjuk kerumunan temannya yang bermain di taman. Rupanya gadis kecil ini bersama rombongan sekolahnya tengah mengunjungi taman ini. "Awalnya aku bermain di sana sebentar tapi karena aku bosan aku pergi ke sini dan aku melihat Onee-chan cantik yang kemarin datang ke tempat ramen Tou-chan terlihat sedih jadi aku berniat menghibur Onee-chan. Tou-chan berkata jika ada orang yang terlihat sedih kita harus menghiburnya!" Gadis kecil itu tertawa senang kemudian dan yang dilakukan gadis kecil mengejutkan Hera kemudian adalah gadis kecil itu memeluknya. "Tou-chan juga bilang jika ada orang sedih kita harus memeluknya!"
Hati Hera seketika melembut ketika mendengar alasan sederhana yang barusan terucap. Gadis kecil ini gadis polos yang baik. Dengan satu pelukan ini saja, apa yang Hera lamunkan terasa menghilang tanpa beban.
"Terima kasih."
"Ummu~... Sama-sama Onee-chan!" Seru gadis kecil itu sambil melepas pelukannya. "Onee-chan namanya siapa? Uhm... Namaku Asia. Uzumaki Asia!"
Hera terdiam sejenak. Nama... haruskah dia memakai nama samaran? Ya, mungkin dia harus memakai nama samaran. Nama samaran dari dewi cinta tidaklah buruk.
"Venusa, Venusa Hera." balas Hera dengan tersenyum.
"Uwah... Nama Onee-chan cantik sama seperti orangnya!" seru Asia tertawa kecil yang disambut senyuman kecil Hera. "Onee-chan tinggal dimana?"
"Aku? Aku tinggal di tempat yang jauh."
"Maksudnya tempat yang jauh? Di luar kota Kuoh?" tanya Asia.
"Aku tinggal di Amerika. Kau tahu Amerika berada dimana gadis kecil?"
"Mou! Aku bukan gadis kecil! Aku sudah besar! Aku bahkan lebih tinggi daripada temanku!" Asia cemberut ketika mendengar kata-kata Hera yang menyebutnya gadis kecil. Pipi Asia bahkan terlihat menggembung.
"Ara... tapi kau kan memang masih kecil." goda Hera dengan tertawa kecil.
"Gak! Aku sudah besar!" protes Asia lagi yang makin membuat Hera terkikik geli dan tanpa sadar mengelus rambut pirang Asia.
Asia yang dielus rambutnya masih menggembungkan pipinya cemberut sebelum cemberut itu hilang dan dia ikut tertawa kecil bersama dengan Hera yang masih terkikik geli.
"Onee-chan tinggal di Amerika? Apa di Ne-u Yolk? Tou-chan pernah membawaku ke sana berlibur tahun lalu."
"Yang benar New York. Dan ya, Onee-chan tinggal disana. Onee-chan datang kemari ke Jepang untuk berlibur."
"Owh..." Asia menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Gadis kecil itu kemudian melepaskan tas punggungnya dan membukanya. Dia mengambil sebuah kotak bekal merah dan membukanya lalu menyodorkan kepada Hera.
"Onee-chan mau?" Kata Asia ketika dia menyodorkan kotak bekalnya. Hera memandang ke arah kotak bekal merah itu yang berisi cookies coklat. Jumlahnya ada banyak dan gadis kecil itu menawarinya dengan cengiran lebar.
Melihat bagaimana gadis kecil itu menawarinya tak kuasa membuat Hera tak bisa untuk menolaknya. Dengan pelan dewi pernikahan Olympus itu mengambil satu cookies dan memakannya.
Hanya untuk kemudian Hera merasakan dirinya mengeluarkan suara kecil akibat merasakan rasa dari cookies coklat yang dia makan.
'E-enak sekali!' Hera membatin terkejut. Rasa dari gigitan pertama cookies ini langsung terasa mencair lembut di dalam mulut dan coklatnya terasa meleleh seketika ketika dimakan. Rasa ini terasa seperti coklatnya di campur hingga bagian terkecil dan belum lagi kepingan-kepingan coklat kecil di dalamnya! Rasa cookies ini bahkan mengalahkan rasa cookies buatan Hestia yang terkenal sangat lezat di Olympus bahkan Hera sangat menggemari cookies buatan Hestia.
Tapi rasa yang dia rasakan ini sungguh berada di tingkatan atas dari masakan Hestia.
Hera berkedip beberapa kali ketika melihat cookies yang baru saja dia makan separuhnya. Dia kemudian melihat gadis kecil yang duduk di sampingnya memakan cookiesnya dengan tenang dan tersenyum lebar sambil kakinya berayun ringan.
"Cookies ini enak sekali, dimana kau mendapatkannya Asia?"
"Hum? Tou-chan yang membuatnya. Semua makanan Asia dibuat oleh Tou-chan!" kata Asia dengan nada bangga.
"Benarkah?" ucap Hera kembali terkaget. Kaget karena ini kali kedua kemampuan seorang manusia yang mampu memasak makanan yang melebihi masakan seorang dewi walaupun hal itu dilakukan oleh orang yang sama.
"Yep! Tou-chan sangat pintar memasak. Jika Asia besar nanti, Asia ingin bisa memasak makanan seenak buatan Tou-chan!" balas Asia dengan cengiran yang menyerupai cengiran sang ayah. Cengiran itu begitu lembut dan menenangkan. "Onee-chan mau lagi?" tawar Asia.
Tak perlu ditanya kembali apakah Hera ingin atau tidak. Dia adalah penggemar cookies dan ketika merasakan cookies yang begitu enak tentu saja dia ingin. Tapi dia harus menahan hasratnya. Cookies ini adalah bekal gadis kecil ini. Meskipun gadis kecil ini menawarinya, tetap saja cookies ini ditujukan untuk bekal makan siang gadis kecil ini jadi Hera tak mungkin mengambil banyak. Dengan memakan separuh cookies yang masih tersisa di tangan, tangan Hera kemudian mengambil satu buah cookies lagi sambil berucap terima kasih.
"Terima kasih gadis kecil."
"Mou! Sudah kubilang aku tak kecil! Hmph!" Rengut Asia. "Tadi Onee-chan sudah memanggil namaku, jadi jangan panggil aku gadis kecil lagi!"
"Hehehe, iya, iya." Balas Hera tertawa kecil lagi. Sungguh melihat gadis kecil yang merengut ini terasa menyenangkan hati dewi itu.
Keheningan melanda sejenak, Hera melihat terus ke arah gadis kecil yang terlihat sibuk mengunyah cookies miliknya dengan begitu senang.
'Dia seperti permata yang begitu indah' Hera tak kuasa untuk tidak berkomentar demikian. 'Jika saja...'
Pikiran Hera kembali melayang jauh.
Jika manusia saja bisa menciptakan permata yang begitu indah dari cinta dan kasih sayang seperti ini, kenapa dewa dewi tak pernah atau bahkan jarang sekali ada yang bisa? Apa karena ego yang terkenal tinggi dan lamanya hidup yang membuat para makhluk abadi tak pernah menghargai waktu dan setiap peristiwa? Hera tak mengerti.
Dan Hera membenci saat dia tak mengerti.
Meski sudah hidup selama milenia, Hera hanya bisa menghitung jari betapa dia menjalani kehidupan yang menyenangkan. Kebanyakan diisi kebodohan dan kemudian penyesalan akibat ego dari setiap tindakan yang dia lakukan. Sedikit sekali cinta yang dia dapat selama hidup dan itu sama sekali tak pernah berakhir baik.
Selama pernikahannya dengan Zeus selama milenia, yang ada justru hanyalah ironi belaka.
Sebagai ratu Olympus, Hera diwajibkan untuk loyal kepada suaminya, tapi bagaimana keloyalan bisa Hera berikan jika suaminya atau bahkan saudaranya itu sendiri jika kepalanya hanya berisi gumpalan nafsu belaka yang tak bisa sama sekali menahan benda yang berada di antara selangkangan kakinya untuk menghianati dirinya?
Hal ini membuat Hera begitu muak.
"Onee-chan terlihat bersedih lagi."
Suara lembut dan manis membuyarkan lamunan Hera kembali dan mata dewi itu menatap mata Emerald besar sang gadis kecil yang duduk di sampingnya. Gadis kecil itu memberikan pandangan penasaran.
Hera hanya tersenyum menanggapinya. Tangan lembut itu mengelus kembali rambut pirang gadis kecil itu yang diikat kuncir kuda sederhana dengan pita hijau.
"Onee-chan tidak apa-apa."
"Bohong." Jawab gadis kecil itu dengan cepat. "Apa Onee-chan sedih karena hanya mengambil satu cookies dari Asia dan malu untuk meminta lagi?"
Sungguh penyataan yang terlalu polos! Dan itu membuat Hera tak kuasa menahan tawanya.
"Pffft... Hahahaha..." Tawa renyah Hera membahana tanpa sadar. Dengan gemas kedua tangan Hera mencubit pipi tembem dari gadis kecil itu. "Kamu sungguh polos sekali."
"Ummu~... Tawpi bewnar kawn?" Balas Asia yang bersuara sedikit aneh ketika pipinya dicubit lembut.
"Hahaha... Iya, iya." Hera berkata sembari melepas cubitannya. "Kamu juga manis sekali."
"Hmph! Asia memang manis dan cantik seperti putri." Nada bangga dilantunkan gadis kecil itu dan Hera hanya menanggapinya dengan tersenyum.
"Asia... Disini kau rupanya."
Sebuah suara menginterupsi Hera yang berniat membalas perkataan gadis kecil itu, membuat dua orang yang duduk di bangku itu menoleh ke belakang.
"Gabriel-sensei!" Seru Asia senang dan turun dari tempatnya duduk lalu berlari ke arah sang guru. Sang guru hanya tersenyum dan menundukkan tubuhnya ketika gadis kecil itu sudah berada di hadapannya. "Kamu harusnya bermain dengan yang lain."
"Muu... Tapi Asia bosan! Dan bosan itu menyebalkan!" seru Asia "Lagipula Asia hanya pergi dan berbagi cookies pada Onee-chan cantik yang sedang sedih!" Asia kemudian menunjuk ke arah Hera.
Hera hanya tersenyum mendengar perkataan gadis kecil itu. Pandangan Hera menatap pandangan guru Asia dan menganggukkan kepala.
Hanya untuk Hera menangkap pandangan terkejut sejenak dari Guru Asia dan Hera juga mengenyitkan dahinya.
Energi ini...
Sebagai seorang dewi, meski termasuk jarang bertarung Hera masih bisa merasakan energi suci yang ditekan hingga ke batas titik terendah untuk menyerupai manusia.
Dan menilik jumlah energi suci yang ditekan dan terasa familiar ini, Hera tahu bahwa dia sedang berhadapan langsung dengan salah satu Seraph dari pihak surga.
Apalagi jika salah satu Seraph itu bernama Gabriel dan punya kecantikan yang menyamai Aphrodite.
Namun terlihat Gabriel cepat menyesuaikan dirinya. Hera melihat Seraph tersebut menganggukkan kepala tanda mengerti siapa dirinya.
"Anda..."
"Aku Venusa Hera dan sedang dalam keadaan berlibur dari rutinitas yang melelahkan. Aku sudah mengantongi ijin untuk berlibur kemari dari pemilik tanah ini." Hera berkata dengan terang-terangan untuk memberitahukan malaikat didepannya ini kenapa dia berada di sini.
"Owh..." Gabriel mengangguk paham tanda mengerti dan Hera hanya tersenyum kecil. "Kalau begitu terima kasih sudah menemani Asia. Dia ini memang terkadang suka pergi sendirian berkeliling kalau sedang bosan."
"Ah tentu. Lagipula aku yang harus berterima kasih pada gadis kecil ini karena sudah menghiburku."
"Muu...! Asia bukan gadis kecil." seru Asia lagi dan kedua wanita yang ada di sana tak kuasa untuk tersenyum.
"Iya, Asia bukan gadis kecil, tapi gadis yang besar." balas Gabriel lembut. "Ayo berkumpul bersama yang lain lagi. Kita akan mengunjungi tempat lain lagi."
Guru perempuan itu berdiri dan berniat mengajak gadis kecil itu pergi dan gadis kecil itu mengangguk lalu berjalan ke arah tempat duduk Hera untuk mengambil tas punggung juga kotal bekalnya yang masih berisi lima potong cookies.
Gadis kecil itu melihat kotak bekalnya sejenak sebelum tersenyum lebar dan melihat ke arah Hera.
"Ini untuk Onee-chan!" Asia menyodorkan kotak bekalnya.
"Eh?! Tapi..."
"Asia masih punya banyak makanan di tas dan Onee-chan terlihat seperti masih mau cookies Asia."
"Tapi bagaimana dengan kotak bekalnya?"
"Nanti Onee-chan mampir saja ke tempat ramen Tou-chan." Gadis kecil itu meraih tangan Hera dan meletakkan kotak bekalnya di tangan Hera lalu mengambil tasnya dengan cepat dan berlari ke arah temannya tanpa memberi kesempatan dewi itu untuk membalas.
"Eh! Asia!" panggil Hera.
Gadis itu berhenti berlari dan berbalik. "Sampai ketemu lagi Onee-chan!" teriak Asia dan lanjut berlari ke kerumunan temannya.
Gabriel yang melihat apa yang dilakukan Asia hanya tersenyum lembut dan memandang ke arah sang dewi sambil berkata. "Itu pertanda dia ingin bertemu anda lagi. Apa anda sudah pernah mengunjungi kedai orang tua Asia?"
Hera berkedip sejenak sebelum pandangan mata miliknya bertemu dengan sang Seraph. "Aku mengunjungi kedainya kemarin."
"Kalau begitu anda mungkin harus mengunjunginya sekali lagi." Gabriel tertawa kecil. "Aku permisi dahulu, dewi Hera."
"Ah, iya, silahkan, Seraph Gabriel." Hera menganggukkan kepalanya dan Gabriel lalu kemudian berlalu dari sana meninggalkan sang dewi yang memandang lima buah cookies pemberian Asia.
Dan kemudian tersenyum.
Mungkin mengunjungi gadis kecil itu kembali bisa membuat suasana hati Hera yang resah kembali tambah baik setelah pertemuan hangat barusan yang membuat suasana hati Hera sedikit lebih baik. Apalagi dia juga ingin lagi memakan ramen yang enak itu.
Dengan perlahan tangan Hera mengambil satu buah cookies dan memakannya dengan senang.
'Enak...'
[...A Love for the Queen..]
"Ugh..." Issei melenguh kasar dengan nafas yang berat dan kembang kempis. "Ini pelatihan yang gila Oyaji!"
"Kau hanya push-up selama seratus kali dan kau sudah mengeluh? Bagaimana jika aku menambah porsi push-up mu menjadi dua ratus?" Klon Naruto membalas dengan duduk tak jauh dari Issei yang kini terbaring bertelungkup mengatur nafas. Cup ramen instan berada di tangan dengan asap tipis yang masih mengepul.
Mereka berdua berada di dimensi buatan milik Naruto yang diciptakan dengan teknik Naruto yang meniru teknik dewi kelinci yang mengubah suatu dimensi dengan mudah. Sebuah padang rumput luas tanpa batas sejauh mata memandang adalah tempat latihan yang tepat untuk melatih bocah mesum ini.
"Meski jiwa naga di dalam tubuhmu mengubahmu menjadi manusia setengah naga, kau masihlah lemah. Staminamu cuma bertambah sedikit."
"Aku tahu..." kata Issei. "Tapi haruskah dengan latihan berat seperti ini? Kau tadi menyuruhku lari sejauh dua puluh kilo lalu langsung push-up? Ototku terasa mau mati rasa!"
"Kalau kau mau bisa menggunakan armor sacred gearmu itu ya kau harus meningkatkan stamina payahmu ini." Klon Naruto berkata santai. "Naga bernama Ddraig itu memang memberikan pengetahuan cara menggunakan sacred gear kepadamu, tapi itu saja tak cukup jika kau tak membarenginya dengan latihan menggunakannya dan peningkatan staminamu."
"—Apalagi ditambah dengan gaya bertarungmu yang... umm ... jelek."
'Ugh!' Lenguh Issei hanya bisa menerima sindiran klon Naruto.
"Lagipula kemarin untung saja gertakanmu berhasil membuat mereka bungkam. Kalau tidak... Beuh... Kujamin lehermu sudah copot dari tubuhmu. Kau terlalu meledakkan amarahmu."
"Jangan salahkan aku oke! Aku juga tak tahu jika kemarahan Ddraig merasuk ke tubuhku."
[Jadi kau menyalahkanku, partner?]
Cahaya hijau bersinar di tangan kiri Issei dan sebuah sarung tangan yang menyerupai cakar naga berwarna merah muncul dengan mutiara hijau besar berkedip kedip ketika suara itu muncul.
"Bukan menyalahkan! Hanya saja... Uh! Oke aku yang salah!" seru Issei sambil bangun dari tempatnya bertelungkup dan duduk bersila. Nafasnya masih terasa berat.
"Nah kalau ngaku meledak marah kan mudah." Klon Naruto menyeringai menyindir lalu wajahnya berubah serius. "Tapi sungguh aku patut puji keberanianmu dengan berani menunjukkan dimana kau berada Issei. Dengan begini kedua Heiress pilar iblis itu tak akan mengusikmu untuk sementara waktu setelah kau mempertunjukkan pengeluaran aura Ddraig seperti itu. Mereka akan berpikir bahwa kau itu Sekiryutei yang sudah ahli namun memilih menyembunyikan diri."
"...Dan mereka pasti akan berusaha untuk memperbaiki kesalahan mereka dan berusaha untuk mendekatimu atau membuatmu berhutang sesuatu pada mereka."
"Bagaimana kau bisa tahu itu Oyaji?"
"Insting dan pengalamanku jauh lebih banyak darimu bocah." Kata klon Naruto.
"Oke... Aku percaya kalau soal itu." balas pemuda rambut coklat itu. "Tapi dengan mengubahku menjadi setengah naga, apa itu perlu juga sesungguhnya? Rasa sakit saat pengubahan benar-benar membuatku pingsan!"
"Astaga..." Klon Naruto menghela nafas. "Itu perlu agar kau bisa menampung sementara kekuatan dan aura Ddraig. Ingat kalau tidak diubah tubuhmu akan seketika hancur ketika kau mengeluarkan aura Ddraig yang bahkan bisa terasa sampai ke tempat kedaiku."
[Itu benar partner. Tubuh manusia tak akan kuat menampung aura besarku seketika. Belum lagi dengan kekuatanku secara penuh.]
Sarung tangan naga Issei berkedip dan bersuara.
"Kebanyakan pengguna Ddraig atau sacred gear lain terlalu arogan dimana mereka mencoba menampung terlalu banyak kekuatan sacred gear tanpa dibarengi latihan penggunaan yang cukup. Itu merusak tubuh mereka sendiri. Apalagi jika kau hanya sebatas manusia. Memang benar sacred gear itu disesuaikan dengan kapasitas kekuatan awal manusia tapi tetap saja selalu ada resiko. Misalnya saja kau terlalu marah dan menarik lebih kekuatan Ddraig tanpa tahu bahwa kekuatan itu perlahan menggerogotimu. Itu kan bahaya."
"Hmmm... Benar juga." Issei manggut-manggut tanda mengerti.
"Lalu ketika kau menjadi setengah naga, kau akan lemah terhadap segala hal yang berkaitan dengan pembunuh naga. Baik itu senjata atau mantra sihir tapi itu masalah lain. Kalau kau kreatif kupikir kau bisa mengatasi itu. Apalagi kau itu Idiot."
Twitch!
Alis Issei berkedut seketika.
"Oy! Apa maksudmu aku idiot baka Oyaji!"
"Artinya kalau kau bertarung itu langsung terjang mikir belakangan." Klon Naruto menjawab sembari memakan ramen instannya. "Definisi untukmu bertarung itu mudah jika kulihat dari sikap dan kelakuanmu selama ini."
"Pertama kau ini gegabah. Ingat tragedi kau dikejar di Onsen bulan kemarin saat aku mengajakmu? Kau langsung masuk ke Onsen tanpa melihat papan nama Onsen untuk perempuan dengan wajah senang? Bersyukurlah aku meminta maaf untukmu sebelum kau dihajar habis-habisan."
"Ehehehe..." Issei menggaruk rambut belakangnya dengan malu sembari mengingat kejadian yang hampir membuatnya tewas dihajar para wanita.
"Kedua kau punya unsur tak terduga yang masuk kategori yang kuberitahukan barusan."
"Kejam sekali penggambaran dirimu tentangku Oyaji."
"Yah itulah pengamatanku padamu. Dan hal itu pulalah yang membuatmu menjadi sangat berbahaya."
"Eh?! Maksudmu?"
Klon Naruto tersenyum dan mengangguk.
"Benar, kau itu berbahaya Issei. Berbeda dengan para jenius yang terlalu banyak berpikir dan orang yang hanya senang bertarung semata, kau punya unsur tak terduga."
"...Kebanyakan tak mengerti ini tapi orang-orang sepertimu itu punya tekad paling kuat dan sulit dipatahkan. Orang yang idiot dalam bertarung selalu punya hal yang mengejutkan yang bisa membalik keadaan hingga jungkir balik tak terhingga dan kau punya itu. Kupikir kemarin kau hanya perlu memberitahukan para iblis bahwa kau tahu akan segalanya dan mengancam mereka sedikit saja tapi prediksiku salah saat kau justru meledak dan menarik jumlah besar Aura Ddraig untuk kau keluarkan menakuti mereka. Yah... Walau itu juga termasuk dalam hitungan juga sebenarnya tapi itu jadi opsi terakhir yang kubuang."
"Aku hanya merasa kesal saja dengan wajah mereka yang terlihat seolah tak tahu apa-apa." Kata Issei. "Itu memuakkan apalagi melihat Gremory yang tersenyum congkak seakan dia menguasai situasi."
"Karena itulah kubilang kau tak bisa ditebak, terkadang kau bodoh tapi kau juga bisa jadi pintar seketika." balas Klon Naruto. "Tapi lupakan itu. Fokus kita adalah meningkatkan kekuatan staminamu hingga kau bisa mencapai Balance Breaker dalam waktu singkat. Yang artinya latihannya akan kunaikkan secara bertahap. Saat ini kau bisa menggunakan Partial Equipment sarung tangan saja kan? Akhir minggu ini aku ingin kau bisa menggunakan sarung tangan dan armor kaki juga aku akan mengajari cara bertarung yang benar." Kata Naruto "Dan kuyakin kau akan banyak merasakan sakit. Hehehehehe..." Klon Naruto berkata disertai dengan seringaian jahat juga tawa buruk yang membuat Issei meneguk ludah.
'Gulp! Tolong hambamu ini Kami-sama!'
"A-aaaa... Kupikir kau jangan berlaku jahat, Oyaji. Kalau kau berlaku jahat nanti kau tak akan segera dapat istri baru untuk jadi ibu Asia."
"Huh? Kau memperingatkanku?" Balas klon Naruto dengan satu alis naik. "Aku adalah Duda idaman kau tahu? Kau pikir berapa banyak wanita yang ingin aku jadi suami mereka? Aku ini pintar masak, kaya dan juga lebih berpengalaman dibanding pemuda mesum macam kau yang masih perjaka tulen sampai sekarang padahal ngakunya pecinta oppai." sindir Naruto.
"Kuso! Jangan libatkan statusku sebagai seorang perjaka!" teriak Issei tak terima. "Masih mending aku perjaka daripada kau Oyaji yang jadi duda pilah pilih! Kujamin dengan sikapmu barusan kau akan tua tanpa pendamping baru!" Issei menunjuk ke arah klon Naruto dengan pandangan kesalnya. "Anu-mu saja lebih kecil dariku!"
Twitch!
Perempatan kesal berganti muncul di dahi Naruto dan aura hitam menyeruak keluar seketika ketika pandangan Naruto menunduk hingga terhalang rambutnya.
Tak pernah ada yang boleh membandingkan hal itu! Apalagi itu adalah hal pribadi! Laki-laki tak pernah suka dibanding-bandingkan apalagi kalau soal ukuran benda itu!
'Gulp!' Issei menelan ludah dan badannya gemetar takut.
"Nee... Issei..." Panggil klon Naruto dengan suara seram.
"H-ha'i?!" Issei menjawab dengan tergagap.
"...Ucapanmu begitu menjengkelkan, Issei! Push up seratus kali lagi! "Perintah klon Naruto dengan penekanan dan nada yang menjanjikan rasa sakit jika apa yang dia perintahkan tak dilakukan oleh pemuda rambut coklat ini. "Kalau tidak kau lakukan kuyakinkan akan kupatahkan tulang kakimu!"
Issei hanya bisa mengangguk cepat disertai mengeluh lelah dan mengutuk.
"Sialan mulutku!"
...-...
[...A Love for the Queen..]
...-...
"Naruto-san, aku pesan miso ramen seperti biasa! Dan ah jangan lupa dengan teh susu andalanmu oke!"
"Dan aku pesan shoyu ramen Naruto-san. Dengan teh hijau sebagai penutup."
"Oke siap! Tunggu sebentar." Naruto membalas dengan senyuman setelah mencatat pesanan dari dua orang pelanggan nya yang sering datang kemari. Dengan sigap pria bermarga Uzumaki itu berlalu ke arah dapur memasak pesanan pelanggannya.
Satu orang memakai pakaian kasual. Pria dengan rambut pirang seperti Naruto namun dengan mata emas dan juga pembawaan yang easy going.
Sedang yang duduk di sebelahnya adalah seseorang berambut hitam dengan mata coklat yang sering tersenyum dan sering bercanda. Wajahnya terlihat seperti wajah orang Asia namun dengan perawakan keras dan bersahaja. Terlihat sangat berbeda dengan pria pirang yang terlihat seperti keturunan Eropa dan selalu nyengir.
"Oy, Susa... Bagaimana keadaan Youkai dengan para iblis?"
"Sigh... Makin buruk. Apalagi setelah insiden pembantaian ras Nekomata akibat kesalahan satu Nekoshou enam tahun lalu. Yah aku sendiri juga marah akan hal tersebut. Jika saja iblis tak ada dua iblis super yang menjadi pilar kekuatan mereka, tentu sudah aku remukkan para iblis yang melakukan pembantaian tersebut." balas pria berambut hitam dengan nada kesal. "Lalu bagaimana dengan keadaan Olympus? Apa pak tua mu itu buat masalah lagi? Kudengar dari Nee-sama istrinya sampai berlibur ke daerah Jepang tempat kekuasaan kami karena frustasi dengan kelakuan pak tua itu Apollo."
"Hah... Ini lebih buruk. Ratu Olympus mah kali ini benar-benar marah." balas pria pirang yang dipanggil Apollo tersebut. "Entah mengapa tapi kali ini aku merasa kasihan pada Hera, Susano'o."
"Yah menilik bagaimana pak tua mu itu melakukan tindakan serong lagi maka aku tak yakin ini akan berakhir baik." Yang dipanggil Susano'o menjawab dengan mengambil satu buah rokok dan menyulutnya.
Mereka berdua berada di sisi pojok kedai untuk bicara dan saling melepas stress akibat pekerjaan mereka sebagai dewa. Dua dewa dari dua mitologi berbeda yang akur berkat satu hal yang sama yaitu kesukaan mereka pada ramen buatan Naruto.
Ya, benar, dua dewa. Susano'o sebagai dewa mitologi Shinto dan Apollo sebagai dewa mitologi Yunani adalah dua orang yang sedang duduk di pojok kedai.
Mereka dulu berdua bertemu secara tak sengaja. Itu disaat Susano'o sedang butuh waktu istirahat dan dia mendengar ada kedai ramen yang sangat enak telah dibuka di kota Kuoh jadi dia mampir dan berniat memastikannya hanya untuk bertemu dengan Apollo di pojok kedai yang sedang memakan ramen dengan ganas sekali.
Pertemuan mereka yang pertama dimulai dengan Susano'o menanyakan untuk apa Apollo datang ke tanah Jepang tanpa ijin. Usut punya usut ternyata Apollo memang penggemar ramen Naruto bahkan saat Naruto masih buka kedai ramen sederhana di New York dahulu. Dia kemari karena memang menyukai ramen saja.
Intensitas pertemuan yang sering terjadi di kedai ramen membuat mereka berdua sering bicara dan akhirnya yah... Mereka menjadi teman baik.
Pembicaraan mereka berdua tak lebih sering dari kegiatan aktivitas mereka sebagai dewa yang melelahkan dan juga terkadang sampai urusan pribadi.
Namun jika pembicaraan mereka menyangkut tentang mitologi, mereka akan langsung memasang sihir pengalih yang akan membuat manusia lain akan mendengar percakapan lain dari apa yang sedang mereka bicarakan. Apalagi jika mereka menyangkutkan nama karena disini Apollo lebih dikenal dengan nama Freed dan Susano'o lebih dikenal dengan nama Ichiro.
"Aku juga punya firasat demikian." Apollo mengeluarkan helaan nafas lelah. "Aku mungkin memang playboy tapi jika aku punya istri apalagi secantik dan seloyal Hera aku juga pasti akan berhenti main mata."
"Fyuuuuuhhhh... Mitologimu memang rumit semua isinya. Bahkan dewanya juga rumit." Susano'o menghembuskan asap rokoknya dengan pelan.
Yah karena ini sudah hampir jam tutup malam dan para pelanggan sudah sepi jadi Susano'o bebas merokok sepuasnya. Kalau mereka datang saat sedang dalam posisi kedai ramai ya mana mungkin Susano'o berani merokok. Apalagi setelah dia terkena larangan masuk kedai selama sebulan dahulu karena kukuh ngotot saat dilarang Naruto merokok di kedai saat kedai masih ramai di jam-jam padat.
"Hey, mitologimu juga sama!"
"Tapi tak separah mitologimu." Susano'o menyeringai tipis yang disambut Apollo yang memasang wajah mengalah karena bagaimanapun apa yang dikatakan Susano'o benar adanya.
"Maaf menunggu lama! Ini pesanan anda, Freed-san dan Ichiro-san."
Kedua dewa itu menoleh untuk melihat Naruto membawa dua mangkok pesanan mereka beserta dua minuman pesanan mereka dia atas nampan dan menaruhnya secara elegan di hadapan dua dewa tersebut yang langsung menghirup aroma sedap dari kuah ramen pesanan masing-masing.
"Silahkan dinikmati!" Naruto tersenyum ringan dan dua orang dewa itu mengangguk tanda mengerti lalu mengucapkan terima kasih.
"Arigatou / Thank's." kata dua dewa itu bersamaan yang disambut dengan anggukan kepala Naruto lalu pria Uzumaki itu kembali ke belakang konter untuk bersih-bersih sekaligus menghitung pendapatan hari ini.
Yah melihat dua dewa yang menjadi pelanggan tetap bukanlah hal yang mengagetkan bagi Naruto. Sejak awal dia tahu siapa mereka berdua hanya Naruto itu bersikap apa adanya kepada semua. Mereka datang ke kedainya untuk makan dan Naruto sebagai penjual ya melayani mereka. Selama mereka tak berbuat aneh atau curiga atau mencoba menyeretnya dalam masalah supernatural maka itu tak mengapa.
Toh itupun juga jika mereka bisa menyeretnya karena Naruto tahu mereka tak akan pernah bisa menyeretnya dan lebih tahu bahwa Naruto tak lebih dari sekedar manusia biasa dipandangan mereka.
Sungguh segel Fuin yang dia terapkan untuk menyegel sebagian besar kekuatannya juga segel yang menyamarkan auranya menjadi manusia sepenuhnya bahkan bisa menipu mereka sekelas dewa sampai saat ini. Bahkan dia juga menipu satu iblis Nekomata yang katanya indra sensornya lebih tajam dibanding ras lain.
Bah, lebih tajam apanya jika itu hanya rumor belaka tanpa ada bukti valid.
Dengan memandang sebentar ke arah sang putri yang tertidur di kasur kecil di belakang dengan selimutnya yang memperlihatkan wajah tentram sang putri yang tertidur, Naruto tersenyum sebentar dan duduk di belakang konter menghitung pendapatan hari ini.
Yah setelah kedua pelanggannya ini pulang dia akan lekas pulang dan istirahat. Tubuhnya cukup lelah hari ini dan dia besok pagi masih harus pergi ke pusat perbelanjaan untuk men-stok ulang isi persediaan kedai.
Dengan sedikit meminum teh hijaunya di cangkir di sebelah mesin kasir, Naruto mengeluarkan lenguhan puas.
Sungguh satu hari yang damai terlewati kembali.
[...Chapter 3 : Permata Kecil yang Menentramkan selesai...]
Aku kembali dengan chapter terbaru dari A Love for the Queen. Semoga kalian puas dengan chapter ini yang begitu ringan dan simpel.
Aku tak akan mengatakan apapun tentang spoiler. Jadi jangan tanya tentang hal yang bisa mengacaukan jalan cerita.
Ini cerita berpusat pada Naruto dan Hera yang akan jatuh cinta dengan sebab tertentu salah satunya karena Asia.
Aku mengucapkan banyak sekali terima kasih atas apresiasi para pembaca di chapter tiga. Aku menuai banyak sekali Banzai dari kalian dan aku terharu juga tersipu T.T ... Kalian memang luar biasa senpai. Apalagi ada yang juga menyukai sifat Issei yang memang kubuat sedikit OOC.
Dan seperti yang pernah kubilang, dengan campur tangan Naruto maka semua hal di DxD berubah total. Aku sudah merancang hal tersebut di catatan yang kutulis jadi harap sabar menunggu cerita ini update lagi meski ini ujian oke.
Untuk perawakan Hera bayangkan saja gadis Eropa dewasa tercantik dengan rambut merah kecoklatan panjang lurus. Udah itu mudah kan.
Lalu Apollo dan Susano'o became friends! kalian menyangka itu? Peran mereka akan cukup ada di konflik mendatang kok yang menyangkut Naruto dan Hera.
Udah ah... Capek juga berimajinasi terus! =D =P harap sabar untuk chapter mendatang dari lanjutan fic ini. Seperti biasa katakan Banzai jika chapter ini bagus menurut kalian dan berikan kritik juga saran senpai sekalian.
Jaa nee...
