Efek kupu-kupu bisa terjadi di jutaan jalan kehidupan, tapi untuk yang satu ini, ini datang bermain ketika malam itu efek kecil dari keputusan dan permintaan seorang wanita berambut merah yang terlihat pucat memaksa suatu keinginan yang berbeda yang merubah alur segala takdir ke depannya.
Setelah satu jam sejak Kyubi dilepaskan di tengah Konoha yang mengamuk tiada tara dan menghancurkan banyak hal, Wanita berambut merah itu menyaksikan bagaimana sang suami, Yondaime Hokage melakukan jutsu pemanggilan dewa kematian- berniat untuk menyegel separuh Kyubi di dalam tubuhnya dan separuh lagi di dalam anaknya yang baru terlahir.
Hanya untuk ditentang keras oleh wanita berambut merah yang berwajah sudah terlalu pucat tersebut.
Anak yang baru terlahir di dunia tak boleh menerima beban berat dan memikul penderitaan yang sama dengan ibunya.
Dan dengan sebuah permintaan disertai isakan, Yondaime menuruti permintaan sang istri, yaitu wanita berambut merah untuk menyegel kembali sisa Kyubi ke dalam tubuh istrinya kembali, lalu dengan air mata tertahan terpaksa membunuh istrinya sendiri.
Sebuah keputusan kecil yang mengakibatkan Kyubi harus menunggu untuk terlahir kembali dan takdir berubah tepat setelah Yondaime juga tewas akibat efek samping jutsu terlarang yang dia gunakan untuk memanggil dewa kematian.
Ketika di jalur waktu lain anak pirang itu menjalani kehidupan keras dengan dibenci oleh banyak warga dan hidup dalam kesendirian.
Disini, anak kecil tersebut menjalani kehidupan normal dengan orang-orang yang melatih keras anak pirang tersebut untuk menghadapi kerasnya dunia.
[...A Love for The Queen...]
Sepasang mata itu menelusuri tiap jengkal ruangan untuk mencari seseorang yang ingin dia temui ketika membuka pintu yang ditandai dengan suara khas bel yang berdenting lalu tersenyum ketika melihat apa yang dia cari melihatnya dengan pandangan dari mata Emerald cerah juga bening disertai cengiran lebar.
"Onee-chan! Kau datang!"
Suara tinggi dari Asia membahana di kedai ramen ayahnya yang baru buka ketika melihat siapa yang datang. Itu Onee-chan cantik yang dia bagi cookies miliknya waktu di taman.
"Selamat siang Asia." Hera— dewi pernikahan itu melemparkan senyuman kepada gadis kecil yang terlihat berwajah sangat senang tersebut.
"Selamat siang juga Onee-chan! Umm... Onee-chan mau makan siang?"
"Jika aku datang kemari maka artinya aku ingin makan kan?"
"Hihihihi... Kupikir Onee-chan hanya ingin mengembalikan kotak bekal Asia." Gadis kecil itu terkikik geli.
"Sebenarnya awalnya cuma itu." Hera menjawab sambil melihat ke mata Emerald polos berkilau besar itu. "Tapi kurasa sekalian makan juga tak masalah. Dimana ayahmu Asia?" Mata Hera melihat ke belakang Asia namun tak menemui sosok pria pirang yang menjadi ayah dari gadis kecil di depannya.
"Umm... Tou-chan sedang membuang sampah di belakang. Lagipula kami juga baru buka."
"Kedai ini selalu buka siang, Asia?"
"Hu-uh... Tou-chan selalu buka kedai setelah menjemput Asia dari sekolah." Kata gadis kecil itu. "Onee-chan sendiri habis darimana?"
"Dari berkeliling kota saja. Setelah ini ingin mengunjungi museum kota."
"Museum? Uh! Membosankan!" Asia bersidekap dengan imut. "Asia lebih suka ke taman bermain atau kebun binatang!"
"Ke kebun binatang? Hewan apa yang Asia sukai?"
"Ummu~... Asia suka dengan panda! Mereka berbulu lembut dan Asia ingin membawa pulang satu!"
"Kamu harus tahu mereka hewan langka, Asia, jadi mereka tak bisa dibawa pulang begitu saja."
"Muu! Tapi mereka lucu! Asia punya satu boneka panda besar di rumah!" Gadis itu merentangkan tangan untuk menunjukkan seberapa besar boneka yang dia punyai di rumah. "Tapi itu hanya boneka! Asia ingin yang hidup jadi bisa Asia ajak bermain!"
"Tapi ayahmu akan menemui masalah nanti kalau membawa panda besar ke rumah Asia." Hera tersenyum manis. "Lagipula kan ada kelinci yang lebih imut, atau kucing untuk dipelihara."
"Kalau kucing Tou-chan akan membelikannya akhir tahun ini." Kata Asia dengan memberikan cengiran. "Tapi ada syaratnya. Asia harus dapat nilai A di untuk tiga mata pelajaran dan Asia yakin bisa mendapatkannya. Asia-kan pintar! Ehehehe..."
"Aw, benarkah gadis manis ini pintar?" Hera bertanya dengan nada yang dibuat meragukan perkataan gadis kecil di depannya ini hanya untuk menggoda gadis kecil manis ini.
"Mou! Onee-chan meragukan Asia?! Asia pintar lho! Bahkan kemarin di pelajaran matematika, Asia dapat A !"
"Eh benarkah? Wah pintarnya." Puji Hera dengan mencubit kecil pipi manis gadis itu yang ditanggapi gadis itu dengan tertawaan kecil.
Asia kecil selalu senang dipuji. Dia adalah anak yang suka dipuji atas hasil baik yang dia terima. Bahkan jika itu merupakan pujian dari sang ayah, Asia justru tambah akan senang.
Dewi dan gadis kecil itu berbincang tentang banyak hal namun kebanyakan Hera lebih suka menggoda gadis kecil imut yang jelas memberikan kehangatan tersendiri di hati sang dewi itu ketika mendengar setiap jawaban polos dari gadis kecil ini.
Hera belum pernah memiliki anak perempuan dan dia sangat menikmati pembicaraan ini dengan gadis kecil di hadapannya yang membuat Hera menerawang apakah ini rasanya punya anak perempuan.
"Kulihat Asia sedang senang?"
Suara baritone lembut dengan nada berat yang khas terdengar di belakang Asia yang berjalan menuju ke depan konter.
Sepasang mata biru cerah itu bertatapan dengan mata dewi yang menatap pria yang baru datang dari membuang sampah di belakang.
"Tou-chan, lihat! Onee-chan cantik yang Asia bagi cookies datang kan?!" Asia berkata sembari menunjuk ke arah Hera.
Jemari Naruto bergerak lembut mengelus rambut Asia. "Iya, dia datang." Kata Naruto. "Dan terlihat putri ayah ini sedang senang." Mata biru itu menatap kembali Hera setelah tadi memalingkan wajahnya melihat wajah senang sang putri. "Maaf merepotkan anda nona karena harus mengembalikan kotak bekal Asia."
Hera yang mendengar suara sopan Naruto meminta maaf hanya tersenyum dan mengibaskan tangannya. "Tidak masalah. Lagipula aku juga memang berniat lagi datang ke kedai ramen anda tuan?..."
"Uzumaki Naruto. Anda bisa memanggilku Naruto nona Venusa." Mendengar nama samarannya disebut, Hera menaikkan alis namun dibalas senyuman oleh Naruto. "Asia yang memberitahuku nama anda."
"Ah..." Hera mengangguk paham ketika pria pirang ini menyebutkan dari mana dia tahu nama samarannya.
"Jadi... Onee-chan mau pesan apa?!" Asia bicara dengan memegang sebuah pulpen dan secarik kertas.
"Bisakah aku pesan miso ramen? Juga dengan teh hangat?" Jawab Hera.
Menulis dengan cepat walau tulisannya masih terlihat kaku, Asia lalu menyerahkan tulisannya pada sang ayah. "Tou-chan... Ini pesanan Onee-chan cantik!"
"Kalau begitu tunggu sebentar ya Nona Venusa." Naruto menerima tulisan Asia dan mengelus sekali lagi rambut pirang gadis kecil itu lalu berlalu menuju ke arah belakang untuk memasak pesanan dari sang dewi.
Hera hanya memandang pria pirang itu berlalu. Pria pirang yang sungguh menaruh perhatian besar pada gadis kecil, anaknya yang duduk dengan cengiran lebar sambil terlihat mengambil kertas lagi dan tengah mencorat-coret tulisan di atasnya.
Untuk dewi itu, rasa hangat dari perasaan sang ayah untuk putrinya yang dia rasakan saat ini begitu...Dewi pernikahan itu tak bisa menjabarkannya, begitu abstrak, begitu tak beraturan. Terasa begitu menyenangkan untuk dirasakan atau semata justru Hera ingin terus merasakan perasaan terus menerus ini meski ini terlihat salah.
Pikiran Hera kembali melayang jauh.
Tengah berandai dalam lautan khayalan.
Jika saja...
Jika saja dia bisa merasakan hal ini dan seandainya dia mendapat pria yang punya perasaan sebesar ini pada anaknya.
Lalu juga Hera mendapatkan cinta dan kasih.
Bukankah itu terlihat begitu membahagiakan? Membuatnya begitu senang?
Oh seandainya dia terlahir sebagai manusia dan bukan seorang dewi.
Perandaian yang Hera keluarkan kembali membuatnya semakin menerawang begitu jauh. Semakin membuatnya tenggelam dalam lautan lamunan yang dia lakukan.
"...-chan..."
"...Nee-chan..."
"Onee-chan!"
"Ah?!"
Sebuah teriakan kecil kembali membuyarkan lamunan Hera dan aroma panas ramen langsung tercium di penciumannya.
Tanpa Hera sadari, ramen dengan minumannya telah tersaji di depannya lengkap dengan dua set pandangan mengarah padanya. Satu pandangan dari mata emerald besar yang terlihat memandang penasaran dan satu pandangan dari mata biru cerah yang terlihat seperti memahami sesuatu.
"Onee-chan melamun dan terlihat sedih lagi!" Kata Asia.
"Eh? Benarkah? Maaf kalau begitu."
"Anda tidak perlu meminta maaf nona Venusa." Naruto membalas. "Tak pernah ada yang melarang seseorang melamun."
"Tapi..."
Tersenyum. Naruto hanya mengambil tempat duduk lain lalu duduk di sebelah Asia di belakang konter. "Semua orang punya masalahnya masing-masing dan anda terlihat sedang dalam masalah berat."
"Anda hanya menebak secara beruntung semata atau?"
"Kupikir aku hanya asal menebak." Kata Naruto. "Keberuntunganku cukup tinggi untuk menebak sesuatu dengan benar." Tambah pria pirang itu dengan tertawaan kecil yang terasa sedikit bernostalgia.
Ya... Jika dibilang cukup tinggi maka Naruto adalah pria dengan keberuntungan terparah yang bisa menghabiskan seluruh uang kasino dalam satu malam. Pernah saat dia kehabisan uang saat pengembaraannya dengan sang Sensei, dia terpaksa masuk ke tempat judi dan alhasil tempat judi itu harus bangkrut sepertinya setelah dia menguras uang mereka.
"Hanya masalah internal dengan suamiku." Hera menjawab dengan desahan lelah dan mengambil sumpit serta sendok. Perlahan dia mengaduk ramen tersebut dengan sumpit kemudian menyendok kuah ramen itu untuk merasakan sensasi yang kuah yang enak membanjiri lidahnya.
"Ah..." Naruto mengangguk paham. "Maaf."
"Anda tak perlu minta maaf, tuan Uzumaki." Hera hanya tersenyum kecil kemudian. "Suamiku hanya pria bajingan yang tak pernah bisa menahan hawa nafsunya."
"Aku… Aku kurasa tak tahu harus bicara apa." Naruto menjawab dengan memandang ke arah Asia. "Asia... Di belakang di dekat kulkas ada brownies yang baru tadi pagi Tou-chan buat. Kau bisa memakannya di dalam ya Sweatheart."
"Eh benarkah? Yay! Arigatou Tou-chan. Tou-chan memang yang terbaik!" Asia menjawab dengan senang lalu turun dari kursinya dan langsung berlari ke belakang.
"Anda seperti menyuruh Asia untuk ke belakang tuan Uzumaki." tukas Hera heran.
"Dia masih kecil dan bahasa 'bajingan' yang anda gunakan tadi belum pantas dia dengarkan." Balas Naruto lembut yang membuat Hera tertegun dan sadar jika ucapannya barusan sama seperti memberi contoh yang buruk dihadapan gadis kecil pirang yang sudah ke belakang kedai.
"M-maafkan ucapanku tuan Uzumaki." Hera menundukkan kepalanya meminta maaf. Namun Naruto hanya tertawa kecil saja dengan mengibaskan tangannya. "Anda tak perlu meminta maaf nona. Pikiran anda sedang kalut dan yah, aku memahami jika satu dua kata kasar kadang terucap."
"Tapi sungguh aku minta maaf. Harusnya aku sadar bahwa masih ada Asia."
Naruto mengangguk pelan tanda dia menerima permintaan maaf Hera.
Hening sesaat kemudian melanda. Naruto tidak bicara lagi namun suasana sedikit terasa canggung dan Naruto tak tahan akan situasi seperti ini.
"Jadi... Anda sedang berlibur untuk melepaskan diri dari masalah dengan suami anda?"
"Bisa dibilang demikian." Hera menyeruput mie miliknya kemudian dan mengunyahnya perlahan sebelum bergumam kecil yang berharap tak didengar pria pirang di depannya. "Aku sudah tersakiti berulang kali sampai hatiku jadi mati rasanya."
Mungkin gumaman kecil itu mungkin tak akan terdengar di telinga manusia biasa, tapi Naruto adalah mantan seorang shinobi yang juga terlatih membaca gerakan bibir. Ditambah dengan pendengaran miliknya yang terasah tajam. Tak sulit untuk mengetahui apa dari maksud ucapan Hera.
Naruto hanya mampu memberikan pandangan kasihan pada dewi di depannya.
Pria pirang itu tahu bahwa wanita yang ada di depannya adalah seorang dewi. Menilik dari perkataan tak sengaja Apollo dan Susano'o yang terucap tentang dewi yang berlibur ke Jepang, Energi murni yang ditekan hingga titik terendah dan nama samaran yang terasa terlalu terbuka. Naruto tak perlu berpikir rumit untuk tahu bahwa di depannya saat ini adalah seorang dewi ratu mitologi Olympus, istri dari dewa Zeus.
Dewi yang selama pernikahannya selalu tak bahagia namun tetap bertahan. Sejarah banyak menampilkan kekejaman Hera pada selingkuhan dari Zeus dan anak-anak mereka tapi di pandangan Naruto hal tersebut wajar dilakukan mengingat para dewa-dewi juga memiliki perasaan seperti manusia. Yah... Walau lebih banyak juga rasa congkaknya sih.
"Aku mungkin tak tahu bagaimana masalah anda dengan suami anda, tapi mungkin anda bisa melakukan sesuatu yang membuat anda bahagia dengan jalan yang anda tempuh sendiri nantinya untuk menyelesaikan masalah anda." Kata Naruto dengan sopan dan lembut.
Hera yang mendengar perkataan pria pirang itu langsung menatap mata biru cerah yang memandang lembut kepadanya.
"Apa maksud anda?"
"Maksudku adalah anda bisa mencari apa yang membuat anda bisa menyelesaikan masalah yang berakhir dengan rasa bahagia anda." Naruto menjelaskan dengan tenang. "Kebanyakan terkadang memandang masalah dari sudut pandang satu saja. Ada yang mencari jalan mudah dan ada yang melalui jalan sulit. Terkadang keputusan yang anda pilih akan membuat dampak di akhir apakah anda bahagia atau tidak tapi..."
Naruto menyela ucapannya sejenak dan mengambil nafas dalam. "Jika anda yakin keputusan anda membuat anda bahagia maka jalani apapun keputusan yang telah anda pilih dan jangan pernah menyesalinya. Dan jika anda salah maka anda bisa mengambil pelajaran dari keputusan anda yang salah tersebut untuk membuat keputusan yang benar di kemudian hari yang akan membawa kebahagiaan pada anda, nona Venusa."
Hera terdiam dan tertegun. Ucapan barusan sangatlah bijak sekali dan diberikan oleh pria, manusia yang umurnya lebih muda darinya. Entah Hera ingin membalas namun tak ada kata yang bisa dia rangkai sekarang. Sepasang matanya hanya bisa menatap mata biru cerah itu begitu dalam yang disertai dengan lengkungan bibir keatas kecil mengisyaratkan pria pirang itu tersenyum kecil padanya setelah memberikan saran barusan. Otak Hera berusaha memproses segala ucapan dari pria pirang ini dan tenggelam saat memproses kata-kata simpel namun sarat makna yang baru dia dengar.
"Jika anda mengerti ucapanku maka mungkin anda bisa tersenyum kemudian. Terkadang kami para penjual makanan sederhana seperti ini justru menjadi teman bicara mereka yang sedang terlibat masalah kok. Yah tentunya kami hanya bisa memberikan saran semampunya saja."
"Saran anda sangat baik, tuan Uzumaki." Kata Hera.
"Anda boleh memanggilku Naruto. Aku bukanlah orang penyuka keformalan. Itu terasa hanya menjadi bagian perhalang dalam sebuah awal pertemuan."
"Dan silahkan menikmati ramen anda yang sepertinya mulai sedikit dingin, Venusa-san." Tubuh Naruto berbalik, berniat berjalan pelan menuju ke belakang namun sebelum itu Naruto sempat berkata sesuatu.
"Jika ada yang anda perlukan nanti setelah makan, anda bebas untuk memanggilku."
Dan tubuh pria pirang itu kemudian berjalan berlalu dari pandangan Hera menuju ke belakang dengan santai.
-2-
"Lebih keras!"
Duagkh!
Sebuah pukulan bersarung tangan naga merah yang di lancarkan Issei ditahan dengan sempurna oleh Naruto menggunakan telapak tangan. Lalu sebuah tendangan memutar dilakukan klon Naruto yang diarahkan ke wajah Issei.
"Kau juga harus lebih cepat!"
Tendangan itu cepat. Tapi klon Naruto telah menyesuaikan kecepatan tendangan itu untuk berada sedikit di atas tingkatan para petarung seni bela diri.
Mata Issei menangkap gerakan tendangan yang dilakukan klon Naruto. Dengan cepat dia menahan tendangan itu lengannya yang bersarung tangan merah sedang satu tangan yang lain yang bebas memberikan pukulan yang mengarah ke wajah.
Namun dihindari klon Naruto dengan memiringkan kepalanya dan kedua tangannya bergerak menangkap tangan Issei yang melakukan pukulan, menariknya lalu dengan tumpuan punggung ke arah badan Issei, klon Naruto melakukan gerakan membanting tubuh Issei ke tanah.
Issei merasakan punggungnya yang berbenturan dengan tanah merasa sakit sekali. Apalagi ketika benturan itu sampai menimbulkan retakan di tanah. Klon Naruto tak berhenti setelah membanting pemuda mesum itu ke tanahkarena tinjunya mengarah turun untuk mengenai wajah Issei. Issei yang melihat itu melebarkan mata dan insting mengambil alih tubuhnya untuk menghindar dengan gerakan refleks berguling yang dia lakukan selanjutnya hingga tinjuan klon Naruto hanya mengenai tanah.
Namun walau mengenai tanah, Issei harus bergidik ngeri ketika tinju yang baru saja dia hindari mengakibatkan retakan cukup dalam di tanah. Andai saja tinju itu mengenai manusia biasa tepat di otak, Issei bisa membayangkan kerusakan apa yang akan di derita oleh tengkorak dan isi kepalanya.
"Sialan kau, Oyaji!"
Teriakan Issei disertai dengan bulatan Touki hijau yang Issei kemudian lemparkan kepada klon Naruto setelah dia bangkit.
"Dragon Shoot!"
Namun klon Naruto hanya tersenyum remeh.
"Kau harus kreatif Issei." Klon Naruto bergumam lalu dalam kedipan mata lenyap dari pandangan Issei.
Issei yang melihat lenyapnya klon Naruto melihat ke segala arah. Sial kecepatan klon Naruto ditingkatkan lagi!
Insting bahaya Issei berteriak dari atas atas hawa menyerang tipis yang klon Naruto keluarkan. Issei mendongak dan lekas menghindar dengan melompat ke belakang untuk menghindari tendangan kapak klon Naruto.
Tanah yang retak perlahan sebelum retakan itu menyebar dan membuat tanah sekitar hancur seketika ketika tendangan klon Naruto menyentuh permukaan tanah membuat Issei meneguk ludah.
'Ddraig, masih lamakah?!'
[Hampir siap!]
'Cepatlah sedikit! Oyaji sudah meningkatkan taraf latihan ini lagi!'
[Saat kubilang hampir siap maka tunggulah sebentar bocah! Dasar!... Lakukan sekarang!]
'Oke!'
Aura hijau dari kekuatan Touki Ddraig menyebar di tubuh Issei, merasuk memberikan Issei kekuatan.
[Partial Equipment : Double Gauntlet and Leg Armor!]
Suara mekanik dari sarung tangan naga merah dengan mutiara hijau yang berkedip membuat Naruto tambah menaikkan senyumnya.
"Dalam waktu singkat dia bisa menggunakan sarung tangan ganda dan armor kaki ya?" Naruto melihat dengan bangga hasil yang didapat Issei.
Berdiri beberapa meter dari dirinya, Issei yang terbalut Touki kehijauan kini mengenakan dua sarung tangan naga merah miliknya. Kedua kakinya terlapisi armor dengan ujung yang terlihat seperti cakar naga.
"Uohhhh! Kau lihat ini Oyaji!" Issei berteriak senang dengan memamerkan kedua tangannya yang terlapisi sarung tangan naga. "Aku berhasil!"
"Yap... Selamat untukmu Issei." Kata Naruto dengan memasang kembali kuda-kudanya. Satu tangan terangkat kedepan memberikan gestur agar Issei datang menyerang. "Tapi latihan kita belum selesai. Ayo keluarkan semua kemampuan barumu lengkap dengan nafsu ingin membunuhmu padaku Issei..."
"...Karena aku akan meremukkan lagi apa yang baru kau dapat agar kau bisa naik ke tingkat selanjutnya penggunaan sacred gearmu."
"Aku tahu." Pemuda berambut coklat itu menundukkan tubuhnya memasang kuda-kuda yang diajarkan oleh Naruto. Kuda-kuda dengan banyak sekali celah yang Issei pelajari dari klon Naruto dengan menggabungkan insting ke dalamnya untuk memblok setiap serangan yang akan menyerang celah kosong yang terbuka sebagai umpan.
Dua orang itu terdiam sejenak. Dari klon Naruto, Issei mempelajari bahwa bertarung harus sedikit sabar dan menganalisa sedikit.
Dengan hentakan kuat dari kakinya, Issei melesat maju. Tinju diarahkan ke pria pirang itu yang kembali membloknya dengan membelokkan tinju Issei dengan sapuan telapak tangan ke samping.
'Apa?! Gerakannya berubah!'
Klon Naruto menyeringai. Setiap kali Issei sudah membuka tahap penggunaan sacred gear, klon Naruto akan mengubah gaya bertarung seni beladirinya agar Issei semakin mampu mengembangkan teknik beladirinya yang dia ajarkan menurut gaya kepribadian Issei yang sembrono.
Bocah yang selalu ceroboh akan cocok dengan gaya bertarung yang klon Naruto ajarkan berdasarkan mengelak dan menyerang dengan menggunakan instingnya yang dipertajam.
Rasa terkejut Issei adalah kesalahan fatal. Dalam setiap bertarung jangan terlalu gampang terkejut jika musuhmu mempunyai sesuatu yang berbeda dan digunakan sebagai serangan balik melawanmu yang sudah merasa berada di atas.
Telapak tangan Naruto menyerang bagian dada Issei. Issei yang diserang bagian dadanya merasakan dadanya seperti terhantam benda berat dan dia terpental ke belakang, berguling di tanah.
"Selalu bersiap untuk segala kejutan Issei." Klon Naruto berkata santai sambil melihat Issei yang sedikit terbatuk berat.
"U-uhuk, uhuk! K-kau mengubah gayamu bertarung lagi Oyaji?!"
"Sudah kubilang di awal kau harus bersiap dengan segala kejutan." Balas klon Naruto. "Ketika kau bertarung dengan berbagai musuh jangan selalu terkejut. Kuasai emosimu setiap kali musuh mengeluarkan sesuatu yang lain."
Issei mengangguk dengan pelajaran yang diberikan Naruto. Pemuda itu kemudian bangkit lagi dan kembali memasang kuda-kudanya. Dia menarik nafas perlahan dan meredakan segala emosinya.
Issei harus fokus! Fokus!
Lalu dengan hentakan kaki lebih keras, Issei maju kembali. Dua buah bulatan Touki tercipta di kedua telapak tangan.
Harus kreatif.
[Boost! Boost!]
[Transfer!]
Kekuatan yang digandakan dua kali oleh Boosted Gear Issei salurkan ke dua bulatan Dragon Shoot miliknya, membuat dua bulatan Touki makin membesar seukuran bola basket.
Satu Dragon Shoot dilepaskan kepada Naruto yang mengarah jauh lebih cepat dari peluru itu sendiri. Manusia normal tak akan bisa menghindari itu, namun bagi penglihatan klon Naruto, serangan Issei yang datang masihlah lambat. Selambat siput.
Dengan hanya menggeser tubuhnya, Naruto berniat menghindari lesatan Dragon Shoot Issei. Pemuda rambut coklat itu tahu serangannya akan dihindari jadi dia tak patah semangat karena sebuah rencana lain sudah dia siapkan karena ketika lesatan Dragon Shoot itu dihindari klon Naruto dan berada tepat di sampingnya, Issei langsung menggenggam tangannya yang bebas.
Dan Dragon Shoot itu berdetak lalu bersinar terang sebelum kemudian meledak dalam ledakan yang menggetarkan tanah.
Booom!
Masih merasa belum cukup, Issei melepaskan lagi Dragon Shoot ke arah kepulan asap debu dan meledakkannya lagi.
Booom!
Ledakan kembali dari Dragon Shoot pemuda rambut coklat itu menimbulkan kepulan asap debu yang tebal. Tak terlihat siluet orang didalamnya.
'Apakah berhasil?' Batin Issei pelan.
[Bodoh! Dibelakangmu!]
Suara mekanik Ddraig ingin memperingatkan Issei hanya itu terlambat karena sebuah serangan telapak tangan yang berkekuatan hantaman begitu berat mengenai punggung Issei dan membuat Issei merasakan rasa sakit tiada tara dan langsung terlempar ke depan, berguling dengan cepat sebelum berhenti dengan bertelungkup di sisa tanah ledakan yang dia buat tadi.
[Reset!]
Pyar!
Kedua sarung tangan Issei dan armor kakinya langsung pecah kemudian. Serangan telapak tangan tadi sudah lebih dari cukup membuat rasa sakit yang parah dan tenaga Issei menghilang seketika.
Pandangan Issei perlahan menggelap namun samar-samar dia masih bisa melihat klon Naruto berjalan santai ke arahnya.
"Kerja bagus Issei."
Dan pujian terlontar yang lebih dari cukup membuat Issei puas dan membiarkan kegelapan menelan kesadarannya secara penuh.
-3-
Tensi udara berat terasa begitu tegang sekali di ruangan pertemuan Olympus. Apalagi ketika panas dari api yang berkobar di tengah ruangan pertemuan besar yang berisi dua belas tahta terlihat akan seperti meleleh oleh panas api yang terpancar dan bersuhu sangat tinggi.
Begitupun dengan beberapa raut wajah para dewa dewi Olympus yang terlihat begitu takut ketika melihat raut wajah saudari/bibi dari para dewa-dewi Olympus ini tengah menatap nyalang ke arah raja Olympus yang juga terlihat menggeram marah.
"Apa maksudmu kau membiarkan Hera pergi ke mitologi Jepang sialan itu! Dia itu istriku dan dia harus senantiasa disini bahkan ketika aku panggil, Hestia!"
"Dengar Zeus! Hera berhak untuk pergi kemanapun dia mau setelah apa yang kau lakukan lagi padanya adik bodoh!"
"Kau berani menentangku Hestia?" Zeus berteriak keras dengan mengeluarkan kekuatan percikan listriknya yang berusaha menyaingi panas api milik Hestia. "Kau bicara dengan rajamu! Perlu aku tunjukkan bagaimana kuasaku dan aku bisa memaksamu menikahiku!" Gertak Zeus tapi itu membuat Hestia yang mendengarnya naik pintam.
Ucapan Zeus yang terlontar adalah kesalahan fatal yang diperbuat.
Blaaam!
Tekanan berat langsung menghantam para dewa dewi dan apa yang berikutnya mereka lihat adalah wajah Hestia yang menatap penuh kemarahan pada Zeus.
Bahkan kekuatan Zeus tersaingi jauh. Walaupun Zeus bahkan memanggil senjatanya, MasterBolt sekalipun, tekanan kekuatan ini bahkan sulit tersaingi.
Yang itu terasa mustahil mengingat Hestia tak pernah mengeluarkan kekuatan seperti ini. Tidak pernah selama ini Hestia punya kekuatan sebesar ini! Dengan hanya tekanan kekuatan ini, Hestia sudah telak masuk ke dalam jajaran sepuluh besar makhluk terkuat di dimensi ini!
"Kuharap jangan lagi berteriak di hadapanku, adik bodoh. Atau bahkan mengancamku dengan kekuatan kecil milikmu." Suara Hestia yang pelan mengandung kekuatan besar di dalamnya. Api yang berkobar dari tubuhnya makin naik suhunya bahkan terasa hampir setara suhu matahari dan itu terus naik. Jika kekuatan api ini dilepaskan di dunia manusia, semua pastilah langsung meleleh tanpa sisa menjadi abu. "Aku telah bersabar selama milenia dengan kelakuanmu bahkan kelakuan Poseidon dan Hades. Aku bahkan memberikan kursi tahtaku agar keluarga ini tak pecah tapi tingkah laku terakhirmu benar-benar membuatku marah, Zeus."
"...Apalagi ucapanmu barusan." Tambah Hestia lagi dengan memiringkan kepalanya sedikit tanpa ekspresi pada wajahnya yang membuat teror pada dewa dewi yang berada pada ruang pertemuan ini karena tidak menyangka Hestia punya sisi seperti ini.
Hestia selalu dikenal dengan dewi yang tidak bisa marah tapi apa yang dewa dan dewi Olympus ini lihat mengatakan sebaliknya.
"H-Hestia! Tolong tenanglah." pinta Poseidon yang berkata dengan nada sesak.
"Diam!" Kali ini teriakan keluar dari dewi keluarga Olympus yang saat ini benar-benar marah.
"Semua dari kalian tak lebih dari anak kecil dengan kelakuan kalian yang mencoreng nama Olympus itu sendiri. Aku sudah muak kali ini apalagi dengan kelakuanmu Zeus." Mata Hestia yang berwarna emas dengan kobaran api merah di dalamnya menatap dewa dengan perawakan besar yang terlihat menahan sesaknya tekanan kekuatan Hestia— dewi dengan wujud wanita berumur dua puluh satu tahun berambut hitam panjang sepinggang yang mengenakan pakaian toga putih di tubuhnya.
"Kau pikir kau berkuasa dengan kekuatanmu itu? Kau lupa aku adalah putri tertua dimana kekuatan ayah dan ibu mengalir di nadiku jauh lebih besar darimu bahkan ketika kau baru lahir, bodoh!" Hestia berkata dengan berjalan maju ke tahta Zeus yang berundak dengan melalui tangga dimana dewa petir itu sedikit menatap dengan bergetar takut pada Hestia. "Walau aku tak mendapat tahta sekalipun kekuatanku tak pernah berkurang malah semakin bertambah seiring milenia namun aku merahasiakannya."
Hestia yang kini berhadapan dengan Zeus yang tertunduk di tahtanya dengan bertumpu pada senjatanya, MasterBolt, kemudian meraih rambut Zeus, menjambaknya lalu dengan kekuatan besar mengambil senjata Zeus dan melemparkan dewa petir itu ke bawah.
Semua dewa dewi Olympus terkaget syok dengan kekuatan Hestia.
"Kau menggunakan ini untuk menunjukkan kuasamu bukan?" Hestia memutar MasterBolt ditangannya dengan perlahan. Bentuk senjata petir Zeus itu terlihat percikannya semakin lama semakin lemah. "Aku akan menyimpan ini sebagai tanda jangan melawanku adik bodoh yang terlalu paranoid namun egois dengan ego yang menjijikkan." Api merayap membungkus senjata Zeus dan menghilangkan senjata itu untuk masuk ke ruang penyimpanan istimewa Hestia.
"Dengar ini baik-baik. Aku akan membatalkan pernikahanmu dengan Hera. Sebagai putri tertua aku berhak memutuskan ini. Dengan ini Hera tak terikat lagi dengan Zeus sebagai istri melainkan sebagai dewi yang bebas!"
Suara gemuruh dari atas ruangan pertemuan seolah mengiyakan perintah dari Hestia.
"K-kau tak bisa melakukan i-ini, Hestia..." Zeus mencoba bicara meski bergetar.
"Aku tak peduli." Kata dewi tersebut. "Sejak awal kau menikahi Hera memang dengan siasat licik. Kini setelah milenia dia bebas. Harusnya aku melakukan ini sejak dulu." Pandangan Hestia beralih kemudian ke semua dewa-dewi. "Biar ini menjadi pelajaran bagi kalian semua. Jangan anggap remeh orang yang diam semata."
"Beruntunglah aku tak mengambil gelar Rajamu itu adik bodoh karena aku memberimu satu kesempatan kecil untuk melihat apa kau berubah atau tidak." Api di tubuh Hestia semakin berkobar dan Hestia berniat pergi dari ruang Olympus ini secepatnya.
"Karena jika tidak, aku benar-benar akan menurunkan gelarmu itu baik kau mau ataupun tidak."
Lalu dengan kobaran yang semakin membesar, Hestia kemudia lenyap dari ruangan pertemuan dewa dewi Olympus itu dengan meninggalkan rasa ketakutan dan peringatan serta ancaman terutama pada Zeus, dewa yang selalu bertindak bodoh tersebut.
[...Kemarahan dewi selesai...]
Hmmm... Chapter singkat yang banyak kejutan ya? Fufufufu... Menyenangkan sekali menulis hal ini.
Kalian melihat Naruto yang begitu dewasa? Kalian suka itu? Kuharap saja kalian suka. Bagaimana dengan latihan Issei dengan Naruto secara singkat yang ditulis simpel? Menyenangkan untuk dibaca?Issei akan bertahap dalam mendapat kekuatan selama seminggu dan yah selama itu aku tak akan membuat dia langsung mendapat Balance Breaker. Semua harus berjalan pelan dan kalem. Baik cerita romancenya maupun tentang Battlenya dalam konflik harus pelan-pelan jangan terlalu terburu-buru.
Pembuka untuk flashback Naruto sudah kutulis di awal. Kalian kaget dengan Kushina yang meminta Minato menyegel separuh kyubi atau Yang Kyubi ke tubuh Kushina kembali lalu Kushina meminta Minato membunuh dirinya agar Kyubi ikut mati sementara dan terbentuk lagi di tempat lain? Tenang aja... Kejutanku tak berhenti sampai disana kok.
Lalu dengan Hestia... Hahahaha. Sebagai putri pertama Kronos dan Rhea wajar saja kekuatan Hestia kutingkatkan melebihi Zeus, Poseidon ataupun Hades. Apalagi ketika Hestia ternyata menyembunyikan kekuatannya selama ini.
Bagian pembuka nasehat Naruto kepada sang dewi akan menentukan chapter dan tindakan sang dewi selanjutnya. Apalagi ketika dia tahu dia telah bebas dari pernikahannya.
Aku minta maaf baru up. Jadwal menulis sedang terganggu sedikit di kehidupan nyata tapi tenang semua sudah teratasi.
Dan oh iya, ada yang berniat gabung di grup WA yang berisi para senpai author senior di atas saya? Juga berisi para author pemula dan baru seperti saya saling berkumpul dan sharing ilmu juga buat para pembaca agar bisa terinspirasi dan mau menulis kisah bagus. Kalian bisa PM aku atau tulis di kolom review nanti aku sampaikan pada admin.
Yah... Sekian saja cuap-cuap saya. Terima kasih untuk para pembaca dan pengkritik yang memberikan banyak saran untuk cerita ini. Jaa nee Senpai.
