Hey... Bagaimana kisahmu selama hidup, Naruto?"

Tersenyum, pria pirang itu memandang sang dewi pernikahan Olympus dengan tatapan lekat.

"Kisahku? Hanya kisah yang terjadi penuh dengan banyak hal yang kuperjuangkan."


[...A Love for The Queen...]


Termenung dalam diam.

Dagu bersandar pada telapak tangan sembari memandang ke arah luar dari atas balkon tempat hotel menginap, Hera melamun kembali dalam khayalan miliknya.

"Jika anda yakin keputusan anda membuat anda bahagia maka jalani apapun keputusan yang telah anda pilih dan jangan pernah menyesalinya. Dan jika anda salah maka anda bisa mengambil pelajaran dari keputusan anda yang salah tersebut untuk membuat keputusan yang benar di kemudian hari yang akan membawa kebahagiaan pada anda, nona Venusa."

Sekelebat ucapan pria pirang pemilik kedai ramen yang dia tahu terlintas di pikirannya.

Keputusan yang membuat bahagia kah?

Untuk pertama kali Hera berpikir apakah ada keputusan yang dia buat selama ini untuk mencoba membuatnya bahagia.

Keputusan memaafkan Zeus?

Hah! Itu adalah keputusan yang berujung kembali pada rasa sakit nanti di akhir lagi dan Hera pasti akan mempertanyakan keputusannya memaafkan Zeus.

Untuk berapa kali dia memaafkan dewa bajingan itu? Ratusan? Entahlah, Hera sudah berhenti menghitung ketika memasuki angka puluhan. Dewa itu sudah banyak menodai, merayu banyak dewi ataupun manusia yang menurutnya cantik dan bisa dipikir memuaskan Zeus.

Lalu apakah keputusan Hera untuk membuatnya bahagia?

Pikiran dewi itu menelusup jauh ke dalam, mencoba menggali ingatan terdalam yang dia miliki.

Hanya untuk menemukan bahwa tidak ada satupun ingatan dimana dia membuat keputusan untuk dirinya sendiri agar dia bahagia.

Ah... Apa yang dia pikirkan. Memikirkan ini semua terasa malah membuat Hera menjadi pening sendiri.

Dengan desahan lelah yang teramat berat, Hera berbalik dan berniat masuk kembali ke kamar hotel. Dia lelah dan Hera ingin lekas tidur saja.

Namun sepertinya keinginannya tersebut harus tertunda takkala melihat percikan api yang menguar hangat di dalam kamarnya, menari pelan dan Hera tahu siapakah yang mengunjunginya malam ini.

Lagipula yang memakai teleportasi api selama yang dia tahu hanyalah Amaterasu ataupun saudarinya, Hestia. Tapi melihat dari warna api yang berwarna oranye, jelas yang datang adalah Hestia karena Amaterasu biasanya memakai warna api hitam.

Namun kali ini Hera harus menaikkan alisnya ketika melihat wujud Hestia yang datang berkunjung kali ini.

Hestia memakai wujud dewasanya. Hal ini sangat jarang sekali Hestia lakukan melainkan dewi itu lebih sering menggunakan wujud anak kecil perempuan umur delapan atau sepuluh tahun.

Dan Hera tambah merasa ada yang tidak beres ketika melihat wajah Hestia yang mengerut kesal. Oh bagus... Pasti ada sesuatu yang terjadi di Olympus yang sampai membuat Hestia kesal. Hestia yang kesal itu tidak baik sama sekali.

"Hestia..." Hera memanggil pelan dewi yang ada di hadapannya ini dan Hestia mengangkat wajahnya untuk menatap sepasang mata milik dewi pernikahan, saudarinya tersebut.

"Hera." Balas Hestia singkat lalu berjalan menuju ke arah sofa yang terdapat di kamar hotel tempat Hera menginap dan menghempaskan dirinya untuk duduk dengan paksa di sofa tersebut sembari kemudian memijit pelipisnya untuk mengurangi rasa pening yang dewi itu rasakan akibat rasa kesalnya pada Zeus, sua- ralat, mantan suami Hera. Hestia lupa dia baru saja membatalkan pernikahan Zeus dan Hera.

"Hey, apa yang terjadi?" Hera mendekat dan ikut duduk di sofa. "Olympus membuat ulah lagi?"

"Bukan Olympus, melainkan adik kecilku itu yang egonya selangit." Balas Hestia yang membuat Hera langsung menduga siapa pelakunya. Lagipula siapa lagi adik Hestia yang punya ego selangit selain si 'itu' dan juga jangan lupakan sikap paranoidnya yang akut berkepanjangan tersebut.

"Apa lagi yang dilakukan si 'bajingan' itu kali ini?" Tanya Hera dengan nada sinis ketika mengucapkan kata bajingan.

"Dia kupikir memperlakukanmu seperti barang."

"Ha?"

"Dia kurasa memperlakukanmu seperti barang. Properti semata. Dan aku beradu argumen dengannya." Kata Hestia.

"Tunggu sebentar. Jelaskan secara rinci Hestia." Tukas Hera dengan perlahan dan nada penuh penasaran.

"Dia berpikir karena kau istrinya kau harus menemaninya setiap saat. Bahkan disaat kau sedang sakit hati akibat kelakuannya." Jelas Hestia yang langsung membuat Hera menggeram marah. "Dia bahkan berkata bahwa karena dia raja dia bahkan bisa memaksaku untuk menikahinya."

"Bajingan itu!" Hera berkata dengan meledakkan sedikit kekuatan dewinya namun langsung menghilang ketika Hestia dengan pelan menyentuh pundak saudarinya tersebut sambil beralih tempat duduk hingga sekarang duduk bersandingan dengan Hera.

"Tenang." Ucap Hestia. "Aku sudah mengatasi hal tersebut. Dia sudah tak berkutik lagi."

"Eh?! Bagaimana bisa?" Tanya Hera kebingungan. Tentu saja Hera bingung karena biasanya Hestia-lah yang akan mengalah namun dari ucapannya barusan dewi itu sudah mengatasinya tentu membuat Hera bingung.

"Tentu bisa... Aku bahkan sudah membatalkan juga pernikahanmu dengannya, Hera." Jawab Hestia santai sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran empuk sofa.

Hera berkedip. Satu, dua, tiga dan masih berkedip beberapa kali kemudian karena mendengar sesuatu yang terasa mustahil di telinganya barusan.

"K-kau b-bercanda kan?" Gumam Hera secara pelan namun masih terdengar.

"Apa aku sedang tengah dalam keadaan ingin bercanda?" Sahut Hestia.

"T-tapi... Bagaimana?"

"Aku membungkamnya dengan menunjukkan kekuatanku sebenarnya."

"Kekuatanmu yang sebenarnya?!" Hera memekik tak percaya. "Hestia... Kau kuharap jujur dan ceritakan lebih jelas! Jangan hanya sepotong-sepotong!" Perintah Hera dengan mencengkram kedua lengan atas dewi keluarga Olympus tersebut yang hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan melihat kelakuan tak percaya akan ucapannya. Jemari Hestia lalu bergerak ke arah sang dewi pernikahan dan menyentilnya pelan.

"Aw!" lenguh Hera melepaskan cengkraman tangannya dari kedua lengan atas Hestia dan menyentuh dahinya kemudian.

"Sabar... Aku ceritakan bagaimana kejadiannya."

Dan Hera kemudian mendengarkan semua kejadiannya. Tentang bagaimana Hestia dengan kemarahannya dan kekuatannya membuat Zeus dan para dewa-dewi Olympus lain tunduk bergetar. Tentang Bagaimana Hestia melempar Zeus dari tahta tingginya dan mengambil senjata kebanggaanya itu.

"Oh sungguh wajah Zeus ketika aku membatalkan pernikahan kalian itu terlihat seperti momen yang begitu berharga." Ucap Hestia dengan tertawa kecil yang hanya dipandang oleh Hera bingung karena tak tahu juga mengerti harus bicara apa.

Lagipula bagaimana Hera harus tahu apa yang dia akan ucapkan ketika dia sedang masih dalam keadaan tercenggang atas cerita Hestia.

"Biarkan ini menjadi pelajaran bagi para adik-adikku yang lain agar tak bertingkah arogan juga."

"H-Hestia..." Hera memandang dengan tatapan lekat ke arah dewi yang berada di sampingnya. "Bagaimana kau bisa sekuat itu?"

"Oh Dear... Kekuatannku tak seperti kalian yang terhenti di batasan semata. Aku sudah melakukan sesuatu untuk membuatku bisa menembus batas kekuatanku yang terpasang batas." Jelas Hestia. "Aku adalah putri tertua dari Kronos dan Rhea... Kekuatan mereka sebenarnya mengalir jauh lebih besar daripada Zeus, Poseidon ataupun Hades… Atau bahkan kalian semua dewa-dewi Olympus."

"Tapi kenapa kau merahasiakannya Hestia?" Sahut Hera. "Kenapa tak memberitahukannya kepadaku?"

"Butuh setidaknya milenia untuk menstabilkan kekuatan ini, Hera. Apalagi untukku yang bukan dewi petarung." Hestia menjawab dengan pandangan bersalah. "Kekuatan yang besar tidaklah selalu stabil saat diterima atau diwarisi. Bahkan ketika kemampuan kekuatan waktu juga sedikit mengalir di dalam tubuhmu dari ayah. Baru tahun lalu aku bisa menggunakan semudah apapun- sekehendak apapun kekuatan ini dan berniat untuk mengakhiri pernikahan bodohmu dengan si Zeus di pertemuan musim dingin Olympus ke depannya hanya untuk rencana itu berjalan jauh lebih cepat dari dugaanku semula."

"Maafkan aku karena sedikit terlambat untuk ini, Hera."

"Oh Hestia..." Hera langsung memeluk dewi berambut hitam itu dengan pelukan tererat yang bisa dia berikan. "Terima kasih! Terima kasih! Terima kasih!"

"Kau tak perlu merasa bersalah apapun! Aku yang banyak berterima kasih untuk ini saudariku!"

"Hanya ini yang bisa kulakukan untukmu, Hera."

"Dan ini telah lebih dari cukup untuk semua." Hera melepaskan pelukannya dan menatap Hestia. Matanya masih mengalirkan air mata bahagia.

Dia bebas.

Bebas.

Bebas dari penderitaan pernikahan selama ini.

Oh Hestia... Bagaimana-pun Hera sangat berterima kasih untuk ini.

"Aku berhutang teramat besar kepadamu Hestia."

Pelan. Hestia hanya tersenyum. Jemari itu menghapus sisa air mata Hera. "Tak ada hutang di dalam keluarga. Terlebih ketika itu untuk saudariku yang berharga."

"Aku akan melindungi kalian mulai sekarang dari adik laki-laki kita yang lain. Baik kau ataupun Demeter. Aku saudari tertua kalian, akulah yang menggenggam tanggung jawab itu, bukan malah mengorbankan kalian. Yang tertua harus bertindak sekarang jika ada saudara atau saudarinya yang salah dan menghukumnya untuk memberi peringatan dan pelajaran."

"Hestia..." Hera —dia terharu dengan ucapan Hestia.

Selama ini memang Hestia adalah dewi yang paling baik di Olympus, yang paling terlihat menjaga nama baik dari Olympus itu sendiri bahkan hingga rela merelakan tahta Olympus miliknya agar Olympus tak terpecah dan lemah. Semua itu demi agar Olympus tak dipandang sebelah mata oleh mitologi lain meski Hera tahu mitologi lain banyak memandang hina dengan kelakuan Zeus.

Dan sekarang dia— Hestia lagi-lagi melakukan sesuatu untuk Olympus terlebih dirinya.

Dengan menunjukkan kekuatannya di hadapan Zeus dan dewa dewi lain Olympus, Hestia menegaskan dia adalah yang tertinggi dan tak akan segan menghukum sekarang jika ada yang salah.

"Ingatkan aku lagi bahwa mau bagaimanapun kau adalah saudari favoritku, Hestia." Ucap Hera dengan senyuman sumringah.

"Fufufu~... Aku favoritmu sejak dahulu kan?" Balas Hestia. "Sejak kecil kau memang yang paling manja padaku dan ibu dibanding Demeter."

"Uh..." Hera tersipu malu mendengar ucapan Hestia sedang Hestia hanya memandang lembut wajah Hera.

"Kau bebas sekarang... Jadi kau bisa melakukan apapun yang kau mau, Hera." Kata Hestia. "Hmmm... Mungkin belanja atau bertingkah seperti seorang gadis? Ah aku tak tahu, yang penting lakukan saja sesukamu."

Hera tertawa kecil. "Kau tahu? Ucapanmu seperti kau berniat memanjakanku. Dan seperti gadis? Aku ini sudah dewasa."

"Terserah aku dong mau bilang apa." Kata Hestia. "Dan hari ini aku menumpang ya. Aku lelah."

"Tentu Hestia." Balas Hera. "Kasur tidur disini cukup besar bahkan untuk ditiduri tiga orang."

"Mungkin lain kali aku perlu mengajak Demeter dan kita bisa melakukan malam perbincangan antara kita bertiga. Pesta bantal juga tidak buruk."

"Yah... Itu rencana yang bagus."

"Yap! Sangat bagus." Kata Hestia. "Jadi ada hal yang menarik selama liburanmu? Ceritakan untuk mengusir sedikit rasa penatku sebelum tidur."

"Yah..." Hera menyentuh bagian bawah bibirnya sebentar sementara wajahnya menunjukkan dia tengah mengingat jika sekiranya ada hal yang menarik yang terjadi di liburannya sebelum tersenyum. "Aku bertemu dengan seorang gadis kecil manis dan dia..."


-2-

Sungguh suatu yang tidak terduga bukan?

Yah... Terkadang mungkin jika tinggal di kota ini, dirinya harus menjumpai beberapa hal aneh yang masih wajar. Juga beberapa hal mengejutkan seperti...hmmm— banyak dewa dewi yang berkeliaran juga rasanya kok terasa semakin lumrah saja belakangan ini.

Dengan membawa dua mangkuk berisi ramen yang masih mengepul asap tipis ke udara, dirinya meletakkan kedua mangkok ramen itu di hadapan dua orang wanita cantik di atas konter pesanan yang juga berfungsi sebagai meja makan bagi mereka yang ingin berinteraksi langsung dengan si koki jika mungkin si koki sedang tidak sibuk.

"Silahkan dinikmati." Dirinya mempersilahkan pelanggannya ini untuk menyantap ramen yang dihidangkan.

"Ah... Terima kasih Naruto-san." Hera berterima kasih disertai dengan senyuman yang terasa bagi pria pirang yang menjadi ayah dari Asia Uzumaki mengakui setidaknya senyuman Hera jauh lebih... Erm... Bagaimana mengatakannya. Mungkin lebih cerah?

"Hmm... Sama-sama." Balas Naruto dalam senyuman kecil. Dia kembali ke belakang untuk mengambil minuman mereka berdua dan meletakkan di depan mereka lagi lalu menaruh nampan di sisi kasir dan duduk di sana.

Pengunjung kedai masih belum berdatangan. Dia juga baru buka dan tepat saat ia membuka kedai, dua wanita ini datang masuk ke kedainya.

"Jadi... Masalah anda sepertinya selesai? Dan siapa nona yang anda bawa hari ini kemari ke kedai sederhana ini, Venusa-san?" Tanya Naruto membuka percakapan. Pandangan miliknya terarah pada Hestia sejenak lalu kembali ke arah Hera.

"Anda bisa melihatnya kah?" Hera berkata dengan tertawa kecil. "Yah... Masalahku sudah selesai berkat bantuan kakakku ini."

Alis Naruto seketika naik. Kakak? Dewi yang dipanggil kakak oleh Hera dan bergender perempuan dalam sejarah dewi... Kemungkinan hanya ada dua.

Pandangan Hera menoleh ke arah wanita di sampingnya. "Namanya Tia. Tia Hesfall. Dan bisakah anda memanggilku dengan nama Hera? Jika anda mengijinkanku memanggil nama anda dengan nama biasa anda kupikir akan adil juga memanggilku dengan namaku biasa."

Tia Hesfall... Hilangkan kata fall dan balik kata tersebut. Ketemu...

"Eh, tentu. Kenapa tidak?" Jawab Naruto yang menemukan jawaban apa yang dia cari lalu mengalihkan pandangannya ke arah Hestia.

"Senang bertemu anda tuan Uzumaki." Hestia memberikan salam perkenalan dengan sopan.

Tertawa pelan Naruto membalas pula dengan sopan dan hangat. "Senang pula bertemu anda nona Hesfall. Jadi... sedang berlibur jugakah anda di tanah Jepang ini?"

"Apa yang anda katakan itu benar. Dan tolong panggil aku Tia. Aku tak suka keformalan."

"Oh... Aku pun juga tak suka keformalan." Balas Naruto. "Silahkan panggil aku juga Naruto."

"Dengan senang hati." Hestia menjawab sembari mengambil sendok dan sumpit. "Seorang kenalanku sebenarnya merekomendasikan tempat anda dan berkata bahwa ramen anda sangat lezat. Namun baru kali ini aku sempat datang. Itupun lebih telat daripada adikku ini yang telah datang dua kali kemari." Sendokan kuah ramen Hestia rasakan kemudian dan Hestia harus mengakui apa yang dikatakan Amaterasu memang benar. "Kuah ramen anda sangat lezat." Puji Hestia.

"Wahh terima kasih... Aku tak menyangka kedai sederhana ini bisa juga menarik turis." Naruto berkata dengan rendah hati. "Kebanyakan yang datang soalnya hanyalah para pelajar dan pekerja kantoran sekitar."

"Tapi menurut kenalanku beberapa turis juga kerap datang."

"Yah hanya beberapa, namun tak sering. Aku juga sebenarnya hanya buka dalam waktu yang terbatas. Hanya siang sampai sedikit malam." pria pirang itu tertawa lagi. "Kalau aku buka terlalu penuh, kasihan putriku."

"Mengingat putri anda, Naruto-san." Hera bicara setelah ia menyeruput kuah ramen miliknya. "Dimana dia? Kupikir kemarin dia bilang berkata bahwa kedai anda baru buka setelah anda menjemputnya pulang dari sekolahnya?"

"Dia menelepon tadi lewat telepon sekolah bahwa ada kelas tambahan seni. Aku sudah mengkonfimasinya dengan gurunya dan dia akan diantar pulang nanti dengan bis sekolah."

"Anda kenapa tak menggunakan jasa pengasuh untuk Asia?"

Naruto hanya tersenyum. "Aku tak ingin menggunakan jasa pengasuh selama aku masih bisa membesarkan putriku dengan senang. Lagipula bisnis ramen ini hanyalah sebuah sampinganku di kala senggang sebagai penulis dan juga sebagai sebuah penghormatan memori untukku mengenang mereka yang berharga."

"Loh, anda seorang penulis? Wah aku tak menyangka hal tersebut." Hera berdecak kagum. "Kisah apa yang anda tulis?"

"Sebuah kisah fantasi." Naruto berkata dengan santai. "Hanya sebuah kisah fantasi tentang seorang pejuang mimpi."

Nah... Apa yang Naruto tulis memang bisa dikategorikan fantasi semata jika dikatakan dalam standar dunia ini karena kisah tentang petualangan ninja pemberani milik sang mendiang guru yang dia tulis kembali memang juga kisah fantasi namun ditulis berdasarkan banyak fakta sejarah dunia ninja.

Dunia kejam yang banyak pertumpahan darah.

Dunia kejam dimana rantai kebencian terus bergulir selama ratusan tahun bahkan sampai terenkarnasi.

Dunia kejam dimana harapan hanyalah energi penggerak untuk terus maju.

Dan dunia kejam dimana dia membuat keajaiban.

Naruto sendiri akan melanjutkan kisah kedua dalam tulisannya berdasarkan kisahnya hidup selama di dunia tersebut sebelum datang ke dunia ini.

"Sudahkah buku yang anda tulis itu anda publish? Sekiranya mungkin aku bisa membacanya." Kata Hera.

"Sudah publish. Untuk judulnya. Kupikir aku tak bisa memberitahu anda." Naruto tertawa kecil. "Identitas samaranku sebagai penulis bisa ketahuan nanti."

"Ah... Maaf. Aku lupa jika terkadang penulis ada yang lebih senang menyembunyikan identitasnya." Jawab Hera mengerti.

"Tak mengapa. Lagipula tak banyak juga tahu aku penulis." Kibasan tangan Naruto bergerak santai. "Ngomong-ngomong kalian akan lama berlibur di Kuoh?"

"Entahlah, aku tak tahu." Jawab Hera sembari memakan ramennya kemudian. "Aku senang dengan suasana kota ini yang tenang dan damai. Ingin terkadang aku pindah ke tempat seperti ini."

"Kuoh memang tempat yang tenang dan damai meski beberapa kadang yah tak selalu damai juga." Naruto menjawab dengan tenang. "Tak ada kota yang selalu sepenuhnya damai, namun dibanding beberapa kota besar lain, wilayah ini cukup baik untuk dijadikan tempat tinggal."

'Hanya untuk sampai jika badai tak akan datang.' Naruto menambahkan perkataan itu dalam batinnya.

"Kalau begitu adakah destinasi yang bisa kami kunjungi yang bagus di kota ini Naruto-san?" Hera meminta saran.

Dengan wajah berpikir sejenak pria pirang itu kemudian berkata. "Kalian coba kunjungi bagian barat kota yang berbatasan dengan tepi hutan kecil bawah gunung. Di sana ada satu tempat yang bagus." Saran Naruto. "Atau kalau kalian tidak tahu aku bisa mengantar kalian ke sana sekalian mengajak putriku liburan. Lagipula tempatnya juga sedikit sulit dijangkau."

"Wah itu tawaran yang baik sekali." Hestia angkat bicara. "Tapi apakah tidak merepotkan?"

"Kurasa tidak." Balas Naruto santai. "Lagipula dari hari kemarin putriku sedikit meminta untuk datang ke tempat itu lagi. Jadi bagaimana?"

Hera dan Hestia saling berpandangan sejenak sebelum mereka memandang pria pirang di depan mereka dan mengangguk.

Jika ada tawaran baik kenapa dilewatkan.

Lagipula tak ada hawa perasaan niat jahat yang dirasakan Hestia dari pria pirang ini.

Sedangkan untuk Naruto dia tak merasa mengapa untuk mengajak dua dewi ini untuk ke tempat wisata yang dia tahu. Mereka hanya berlibur. Bukan untuk apapun yang terlibat dalam kegiatan supernatural mereka dan Naruto juga sudah mendeteksi kejujuran mereka untuk berlibur semata.

"Kami menerimanya, Naruto-san. Terima kasih banyak."

"Sama-sama." Balas Naruto. "Kalau begitu silahkan lanjutkan makan kalian. Aku akan pergi ke belakang dahulu."

"Silahkan." Hera mempersilahkan.

"Iya, silahkan Naruto-san." Tambah Hestia.

Naruto hanya mengangguk dan tersenyum sebelum berlalu.


-3-


"Dia pria yang baik." Hestia berkata memberikan komentarnya sekilas tentang kepribadian sang pria pirang pemilik kedai Ramen dalam perjalanan dirinya dan Hera ke tempat perbelanjaan Kuoh. "Juga seorang ayah dengan cinta dan kasih sayang yang besar. Aku bisa merasakannya ketika putrinya tadi masuk ke kedai."

"—sungguh sangat langka melihat pria seperti itu ada di sini."

"Akupun terkejut ketika pertama kali merasakannya, Hestia." Hera menjawab dengan senyuman terpasang di bibir.

"Putrinya juga manis sekali."

"Juga imut." Tambah Hera. "Aku ingin memeluknya setiap hari setiap kali tatapan mata besarnya yang imut itu menatapku penuh tanda penasaran."

"Kalau kau ingin memeluknya setiap hari, kurasa kau perlu menikahi ayahnya sekalian untuk meng-klaim gadis kecil itu." Kata Hestia dengan tertawa kecil. "Lagipula ayahnya juga tampan, Hera. Ah~.. Kalau saja aku tak bersumpah untuk perawan selamanya mungkin sudah aku ambil Naruto-san sebagai suamiku."

"Ha? Kau sedang bermimpi Hestia?" Hera cengo dengan ucapan Hestia sebentar sebelum kemudian tertawa kecil. "Lagipula apa yang kau katakan itu tidak mungkin. Aku tidak mungkin menikahi ayah gadis itu. Aku baru saja kemarin berpisah dengan Zeus dan baru saja mendapatkan kebebasanku. Dan sekarang kau mencoba mau menggodaku dengan perkataan itu?"

"Yah siapa tahu kau tertarik dan butuh sesuatu pelampiasan." Balas Hestia. "Kita tak pernah tahu masa depan. Karena takdir yang tergenggam di masa depan tak pernah bisa terlihat oleh para dewa-dewi yang mengaku mereka Tuhan sekalipun."

"Ish! Jangan memberikan lelucon buruk ah!" Hera merenggut sedikit.

"Maaf-maaf." Hestia menepuk pundak atas Hera untuk menegaskan apa yang dia katakan tadi hanyalah sebuah candaan belaka.

"Iya, aku maafkan." Hera menghilangkan rengutannya kemudian. "Kapan kau akan kembali ke Olympus Hestia? Apa kau akan ikut berlibur bersamaku setelah liburan kita besok bersama keluarga Asia atau kembali langsung ke Olympus setelahnya?"

"Kupikir ikut berlibur itu bagus." Hestia berhenti berucap sebentar. "Tapi keadaan Olympus harus juga di cek. Aku tak ingin Zeus berbuat macam-macam dengan senjatanya kuambil. Setelah besok aku akan lekas kembali."

"Begitu ya... Sayang sekali padahal aku masih ingin menghabiskan waktuku denganmu dalam keadaan tenang seperti ini." Hera mendesah pelan— lelah.

"Kita bisa melakukannya nanti lagi di lain waktu. Sekalian ajak Demeter, Athena dan Artemis." Balas Hestia tersenyum dan berusaha menaikkan suasana kembali.

"Itu ide yang menarik.."

"Aku ingin mencoba ke Alaska. Bertemu lagi dengan pinguin." Kata Hestia. "Mereka burung yang imut."

"Masih imutan kelinci." Sahut Hera.

"Selera imut setiap wanita berbeda-beda." Kata Hestia lagi yang dijawab anggukan setuju oleh sang dewi pernikahan.

Lalu keduanya terdiam lagi. Menikmati masing-masing langkah perjalanan mereka dalam ketenangan yang tersaji sekarang.

Perjalanan tenang dimana Hera berpikir banyak tentang apa yang akan dia lakukan selepas ini.

Lagipula untuknya nanti banyak hal yang bisa dicoba. Namun yang paling penting yang membuatnya banyak tersenyum adalah bagaimana perasaan miliknya, beban di pikiran dan pundaknya terasa telah terangkat dan jauh lebih lega.

"Hera." Panggil Hestia memecah keheningan kembali.

"Hmm? Ya Hestia?"

"Aku punya sedikit saran untukmu." Kata Hestia dengan nada bijak. "Mungkin ini juga sebuah peringatan."

"Peringatan? Peringatan apa?" Tanya Hera bingung dengan Hestia yang tiba-tiba memberinya saran.

"Jika kau ada di kota ini dimana iblis, malaikat dan malaikat jatuh saling bercampur satu sama lain. Usahakan agar kau kau menjauhi mereka. Selain itu sedikit awasi Naruto-san."

Hera menaikkan alis. "Oke untuk yang pertama jelas aku paham tapi yang kedua? Kenapa aku harus mengawasi Naruto-san?"

"Karena dia berbeda diantara manusia." Hestia menjawab dengan bijak. "Kau tahu? Sebagai seorang dewi keluarga, apa lagi yang bisa kulakukan?"

"Apa?"

"Merasakan hati mereka." Kata Hestia. "Manusia yang telah mengalahkan rasa gelapnya bukanlah manusia biasa, Hera." Kata Hestia. "Kau akan mengerti di saat waktunya nanti."

Hera yang mendengar ucapan Hestia hanya terdiam dan mencerna semata.

Bukan manusia biasa? Ucapan Hestia terkadang ambigu, namun jelas terkandung maksud yang terkadang dalam.

Lagipula Hestia memang seperti ini. Dia selalu memberikan sesuatu yang harus dipecahkan sendiri.

"Ini bukan salah satu teka-tekimu kan?"

"Hmm?" Hestia tersenyum dan mengangkat kedua bahu. "Entahlah..."

"—Tapi awasi saja. Dan siapa tahu nanti kalian berjodoh." Goda lagi Hestia dengan kikikan kembali yang langsung dihadiahi oleh tinjuan lembut ke arah lengan atas Hestia oleh sang dewi pernikahan namun dihindari.

"Eits! Jangan asal main pukul. Dasar..." Kata Hestia lagi yang masih tertawa.

"Hmph! Jangan menggoda terus Hestia." Kata Hera dengan raut muka sedikit cemberut kembali. "Itu terkadang membuat malu."

"Tapi itu adalah bagian pekerjaan dari seorang saudari tertua untuk membuat malu saudari kecilnya." Hestia membalas sementara memiringkan kepalanya sedikit dalam keadaan geli.

'Kau selalu membuat malu aku dan Demeter dahulu di hadapan Ibu di setiap kesempatan!' Hera berpikir secara langsung. "Hentikan ah... Goda saja sana Demeter nanti!"

"Aw... Saudari kecilku, jangan begitu. Dia juga dapat bagian nanti." Hestia menjeda ucapannya. "Tapi karena sekarang aku bersamamu maka ya biasakanlah."

"Ugh! Kau selalu saja Hestia!"

"Ara? Tapi kau rindu kan?" Hestia menepuk-nepuk belakang Hera. "Siapa dulu yang selalu minta peluk pada Nee-sama nya ini? Minta diajak bermain?"

"Siapa juga yang suka roti dengan selai blueberry dengan kaus kaki berajut dengan gambar kelinci hingga dia selalu memakainya bahkan sam-... Hmpph!"

Hestia tak sempat menyelesaikan kalimatnya ketika mulutnya langsung ditutup oleh Hera yang malu dengan apa yang akan diucapkan Hestia. Sungguh Hestia kalau bicara selalu saja asal! Tidakkah dia tahu apa yang dia bicarakan itu adalah salah satu rahasianya?

Tolong sekarang pinjami Hera sebuah lakban untuk menutup mulut Hestia!

"Hummmph!... Puah!" Hestia melepaskan dekapan tangan Hera di mulutnya dan tersenyum geli dengan wajah merah muda saudarinya itu.

"Ara? Wajahmu memerah malu? Fu, fu, fu~"

"Hmph! Hestia bodoh!" Hera mendengus kesal sebelum berjalan menjauh dari Hestia dengan cepat yang terdiam di tempatnya.

Sedangkan Hestia yang melihat Hera berjalan cepat tersebut makin tersenyum sebelum senyuman itu turun menjadi garis datar.

'Kau masih tak paham apapun ya, Hera?' Hestia berpikir demikian.

'Untuk manusia dengan hati sebersih itu, tangannya terlalu berlumur darah dan benang merah terajut di jari kelingking kalian masing-masing.'

Mata Hestia mengkilat emas dalam sesaat sebelum menatap langit berawan di atas.

'Gerusan waktu sudah berubah'


[...Kabar bahagia sang dewi selesai...]


Fiuh... Aku kembali...

Senang rasanya bisa update kembali.

Terima kasih sudah menikmati chapter sederhana. Alur di setiap chapter pelan. Aku harus menyesuaikan setiap pengembangan karakter. Baik Karakter Hera ataupun Asia ataupun Naruto, bahkan Issei sekalipun.

Semoga ini sesuai yang kupikirkan.

Jika kalian mencari yang cintanya langsung cepat, maaf, aku tak ingin menulis seperti itu, butuh alasan logis juga. Dan selain itu, setiap konflik harus ada pembuka yang meriah... Sudah kubilang aku akan merubah alur. Jadi yang berkata ini kok beda ama alur DxD sorry, Seperti kata guest di review. Fic dibuat dengan membuat cerita sendiri namun berbasis dasar dunia seri yang dibuat. Karakter DxD muncul dengan masalah yang ditempuh Issei.

Terima kasih atas saran yang terucap dari para senpai semua. Semangat kalian dan diskusi kalian selalu jadi bahan masukan yang berarti untuk membuat plot yang penuh kejutan. Untuk setiap typo yang tertulis aku juga minta maaf.

Sekian dulu... Sampai jumpa di chapter depan senpai!