Ini begitu damai sekali

Duduk di bawah rindangnya pohon ditemani semilir angin yang berhembus menyejukkan sembari melihat anaknya yang begitu riang bermain di depan bersama para dewi-dewi Olympus yang dengan senang hati mau menemani anaknya bermain, di padang bunga yang begitu indah yang terletak di kaki gunung setelah tepi hutan kecil daerah barat Kuoh yang jarang dijamah orang Naruto berpikir demikian.

Naruto, ia sendiri menemukan tempat ini juga karena secara tidak segaja ketika dia tengah memetakan wilayah Kuoh dalam satu peta besar untuknya.

Suatu kebiasaan untuk menentukan tempat-tempat strategis yang berguna untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu. Katakanlah mungkin saja dia paranoid namun ini adalah hal wajar apalagi jika mengingat ia adalah seorang veteran perang.

Veteran perang huh?

Terlalu banyak kenangan buruk untuknya ketika perang dunia Shinobi. Dia telah kehilangan banyak teman yang dia begitu hargai dan dia sayangi juga dekat dengan hatinya. Hal itu tak ayal membuat hatinya begitu hancur.

Ia bahkan terkadang masihlah teringat bagaimana salah satu temannya, Neji Hyuga. Seorang Hyuga berbakat yang sayang hanya karena tradisi dia harus menerima takdir pahit dengan menerima segel di dahi yang membuatnya patuh pada klan harus mati dengan mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan dirinya dari sebuah serangan.

Neji ... meskipun dia mati tapi dia mati dalam senyuman dan berkata bahwa dia akan selalu hidup di dalam hatinya.

Hyuga itu ... tidaklah dia tahu bahwa ketika dia mati, Naruto merasa hatinya terdapat lubang yang kosong?

Satu-satunya teman yang sama seperti dirinya, seorang yang kehilangan sesuatu yang berjalan menempuh kerasnya takdir. Seorang yang pantas ia akui sebagai sahabat.

Ia bahkan masih mengingat begitu jelas bagaimana mereka bertemu di musim dingin ketika salju turun. Saat dimana ia, seorang yatim piatu yang sedang mencari suatu jamur bertemu Hyuuga kecil yang baru saja kehilangan ayahnya dan datang ke tempat di pinggir hutan untuk menangis keras.

Pertemuan kecil itu yang memulai segala pertemanan mereka. Anak yatim piatu yang pada awalnya bodoh akibat tidak berbakat memakai jutsu meski sudah dilatih keras dan seorang Hyuga berbakat namun terperangkap dalam tradisi. Mereka melalui banyak hal hingga sampai dimana dia diambil sebagai murid oleh pertapa katak, Jiraiya. Mereka berbagi suka, berbagi duka dan berbagi begitu banyak.

Bahkan ketika mereka tertawa satu sama lain setelah babak belur melawan seekor beruang besar dan mengalahkan hewan itu.

Kenangan itu ... terasa masih terasa nyata seperti terasa baru kemarin berlalu.

Dan itu tanpa ia sadari membuat air matanya menetes dan membuatnya memegang bagian dada.

Terasa sesak sekali di dalam sini.

Rasa ini hampir terasa sama seperti disaat ia mendengar untuk yang selanjutnya bahwa ibu dari Asia, seseorang yang ia begitu cintai harus pergi selama lamanya.

Ini membuatnya semakin menangis karena ia tiba-tiba juga mengingat mendiang ibu Asia. Seorang wanita luar biasa yang datang dalam kehidupannya.

Namun sebuah belaian tangan mendarat di pipinya dan berusaha menghapus air mata yang tanpa dia sadari ia keluarkan. Mata miliknya bertemu dengan mata Emerald anaknya yang memberikan pandangan khawatir dan juga pandangan meneduhkan.

"Tou-chan? Tou-chan kenapa?"

Tanpa ia sadari ketika Asia sedang bermain, gadis kecil itu secara tidak sengaja melihat ayahnya meneteskan air mata. Hal itu membuat gadis kecil itu khawatir dan semakin khawatir dengan ayahnya ketika ayahnya memegang bagian dada seolah ia merasakan rasa sakit yang teramat sakit.

Satu hal yang diam-diam ia sering lihat ketika ayahnya sedang sendiri dan melihat ke arah foto dari mama. Asia tahu bahwa ayahnya mungkin saja tiba-tiba merindukan mama. Ayahnya boleh saja berkata bahwa mama pergi ke tempat yang jauh dan lebih baik tapi Asia, gadis kecil itu tahu mama sudah tiada. Gadis itu mengerti akan arti meninggal karena dia tahu itu ketika bertanya kepada Gabriel-sensei.

"Asia?"

Naruto menjawab dengan tiba-tiba tersentak dan langsung menghapus air matanya dengan cepat sambil memaksakan sebuah tawa kecil keluar dari mulut.

"Kenapa disini gadis manis? Sudah selesai bermainnya?"

Naruto, ia bertanya sembari merangkul tubuh Asia, mendekatkan gadis manis itu ke tubuhnya sembari berharap Asia tidak akan bertanya apapun.

Tapi...

"Tou-chan ingat mama lagi?"

Pertanyaan polos yang dikeluarkan oleh anaknya lebih dari cukup untuk membuat Naruto membeku sesaat sebelum dengan cepat ia menguasai dirinya. Dengan menutup mata dan senyuman kecil yang tercipta di wajah, tangan Naruto dengan lembut mengelus rambut pirang Asia.

"Tidak ... hanya ada debu tadi masuk ke mata Tou-chan."

Naruto berbohong. Ia tidak ingin Asia melihat kesedihannya. Satu-satunya yang begitu berharga untuknya tidak boleh melihatnya rapuh. Naruto harus tegar.

Sedangkan Asia, gadis kecil itu tahu ayahnya berbohong namun dia tidak mau mengungkit lebih jauh.

"Tou-chan jangan sedih. Asia akan selalu berada di sisi Tou-chan."

Ucapan itu mungkin terdengar polos namun bagi Asia namun gadis kecil itu mengucapkan ucapannya disertai tekad yang kuat dan ucapan itu seakan merasuk ke dalam diri Naruto sendiri.

Itu sangat indah. Dan dia semakin mengeratkan pelukannya pada Asia.

'My beautiful little Angel' pikir Naruto dengan tersenyum dan mencium pucuk kepala gadia kecil itu. ' I love you so much, Asia'

Sedangkan para dewi yang melihat bagaimana interaksi ayah dan anak itu hanya bisa melihat dengan terenyuh dan luluh.

Jelas terlihat di mata mereka bahwa Naruto, pria pirang itu tengah mengingat sesuatu yang menyakitkan hatinya. Sesuatu yang bahkan sampai membuat lelaki menangis seperti itu sambil memegang dada pastinya karena kenangan akan sesuatu yang dirindukan begitu dalam.

Dan ketika Asia datang mengusap air mata pria pirang itulah sambil bertanya tentang mendiang istrinya, para dewi sudah bisa mengerti bahwa Naruto, mungkin ketika dia melihat Asia bermain dengan mereka membayangkan bahwa seandainya mendiang istrinyalah yang bermain dengan Asia. Itulah setidaknya pendapat mereka.

Mereka juga tak bisa untuk tidak tersenyum akan kata-kata gadis kecil berambut pirang itu untuk menguatkan ayahnya. Gadis kecil itu mengatakan ucapannya dengan serius namun terlihat lucu nan polos. Belum lagi ketika mereka berdua, Hera dan Hestia merasakan ikatan cinta kuat di antara dua manusia di depan mereka. Ayah dan anak dan cinta mereka berdua begitu kuat dan hangat.

Hal yang sudah teramat jarang mereka rasakan selama ini mereka berada di Olympus.

"Kau punya putri yang begitu hebat Naruto-san." Hestia, dewi keluarga berkata demikian ketika ia mendekati ayah dan anak itu bersama dengan Hera.

"Dia adalah permataku." Naruto menjawab dengan senyuman kepada dua dewi yang kini duduk di hadapan mereka. "Aku akan melakukan apapun untuk kebahagiannya."

"Kau pria yang baik Naruto-san. Jika saja mantan suami adikku ini adalah pria sebaik dirimu," kata Hestia yang langsung membuat Hera tertegun. "Untung saja dia sudah bercerai dengan adik perempuanku ini sekarang."

Apa-apaan ucapan Hestia itu? Hera tak mengira Hestia akan mengucapkan kata-kata seperti itu. Itu artinya Hestia membandingkan Naruto dengan Zeus?

Sedang Naruto yang mendengar itu hanya tertawa kecil, "Aku bukanlah pria sebaik yang Anda kira, Nona."

"Tidak." Hestia menggelengkan kepalanya "Kau pria yang baik. Aku bisa melihat itu dengan jelas."

Ucapan Hestia hanya ditanggapi anggukan kepala saja oleh Naruto. Mungkin jika dia adalah remaja macam Issei si bocah mesum itu, dia akan malu dengan pujian Hestia si dewi keluarga Olympus. Lagipula ucapan Hestia tidaklah benar menurut Naruto sendiri. Dia bukan pria baik. Dia pria yang hanya bertindak baik pada mereka yang terdekat kepadanya. Tapi jika untuk seorang musuh jangan katakan dia pria baik.

Karena tidak ada pria baik yang akan membiarkan musuhnya mati dengan cepat sebelum ia menyiksa mereka. Namun karena Naruto tak ingin mendebat ucapan Hestia, dia hanya mengangguk saja tadi.

"Kalian juga orang baik karena mau menemani putri kecilku ini bermain," kata Naruto. Ia kemudian melihat ke arah Hera, dewi pernikahan Olympus.

"Terutama Anda yang dengan sabar mau mengajari Asia membuat rangkaian bunga, nona Venusa. Anda terlihat lebih bahagia sekarang. Mungkin karena anda sudah memutuskan apa yang terbaik untuk anda," ucap Naruto lagi karena berfikir Hera-lah yang menceraikan Zeus.

Walau sebenarnya ia merasa cukup terkejut juga akan hal itu, karena yah ... Hera di mitologi Olympus digambarkan sebagai dewi pernikahan yang loyal. Namun Naruto rasanya memaklumi hal itu. Seorang istri tentu tidak pernah selalu kuat melihat seseorang yang dia berikan segalanya terlalu banyak mengkhianati kepercayaan yang dia berikan, dan sepertinya dengan menceraikan Zeus membuat suasana hati Hera menjadi baik.

Dan itu terlihat sejak tadi yang mana dewi itu terlihat begitu senang bermain dengan Asia. Dewi itu bahkan dengan telaten dan sabar mengajarkan Asia membuat mahkota dari rangkaian bunga dengan senyum yang sesekali dia keluarkan ketika Asia ngambek karena menurutnya putri kecilnya itu terlihat kesulitan saat membuat rangkaian bunga yang diajarkan Hera. Sedang Hestia, dia sesekali bercanda saja sambil mengamati dan mengambil bunga liar di sekitar untuk membuat rangkaian bunganya sendiri.

Hera sendiri tak menyangka ucapan itu keluar dari mulut pria pirang itu. Lebih tidak menyangka lagi dia diamati ketika mengajarkan Asia tadi.

"Tou-chan benar!" Tiba-tiba Asia bicara sambil melepaskan pelukan Naruto, "Venusa Onee-chan terlihat lebih senang tadi ketika merangkai bunga bersama Asia."

Gadis kecil itu kemudian berdiri dan berlari ke tempatnya merangkai tadi lalu mengambil dua buah rangkaian mahkota bunga. Memakainya satu di kepalanya, ia kemudian berlari mendekati Hera dan memakaikan satu rangkaian mahkota tadi di kepala Hera yang duduk bersanding dengan Hestia sedang Hera sendiri cukup terkaget dengan itu.

"Eh Asia?!"

"Lihat Tou-chan? Ini rangkaian mahkota kami. Kami cantik, bukan?"

"Ya, kalian terlihat seperti seorang dewi yang baru turun dari surga," ucap Naruto dengan tersenyum teduh melihat kelakuan putrinya. Sebuah senyuman teduh yang Hera lihat membuat jantungnya tiba-tiba berdegup.

Apa ini?!

Hanya dengan sebuah senyuman, Hera merasakan degup jantungnya mulai berpacu.

'Kenapa dadaku berdegup kencang hanya dengan melihat senyuman ini? Senyuman ini begitu murni. Tidak! Ini tidak boleh!' pikir Hera menggelengkan kepalanya, mencoba menghilangkan degupan jantungnya.

Dan aksi Hera tidaklah luput dari mata Hestia yang hanya tersenyum.

Takdir mereka berdua mulai berjalan. Itu adalah apa yang ada di benak Hestia.

"Oh..., mungkin kalian sekarang lapar." Naruto tiba-tiba menepuk kedua tangannya dan ia lalu berdiri, "Aku akan mengambil makanan dulu di mobil."

"Aku ikut, Tou-chan! Asia bantu," ucap Asia riang sambil berlari mengikuti ayahnya yang sudah berjalan menuju mobil.

"Hera." Hestia menepuk pelan pundak Hera yang masih mencoba membuat jantungnya berdegup normal yang langsung terkaget.

"Eh, Hestia?!"

Hera hanya melihat Hestia yang tersenyum dan kemudian berkata.

"Percayai hatimu," ucap Hestia kemudian berdiri dan berjalan menuju ke padang bunga sekali lagi. Padang bunga dimana Hestia sendiri mengakui padang bunga ini begitu indah ketika ia pertama kali melihatnya. Meninggalkan Hera yang bingung dengan ucapan Hestia.

"Hestia? Apa maksudmu barusan?" tanya Hera dengan sedikit berteriak.

Dengan menoleh, Hestia tertawa kecil, "Kau akan tahu nanti."

'Waktu kalian berdua mulai berjalan. Sejalan dengan ancaman yang mulai akan datang.' Hestia kemudian memandang langit. ' Naruto-san. Kau pria yang menarik.'


-2-


Ketika dia pikir dia bisa pulang dengan cepat, Issei tidaklah menyangka dia harus menundanya dan malah berjalan ke arah bangunan tua di belakang sekolah yang merupakan tempat dari klub penelitian Supernatural atau sebuah klub kedok yang dipakai oleh kumpulan iblis yang dipimpin iblis berambut merah— Rias Gremory, untuk menyembunyikan eksistensi mereka di dunia manusia.

Sungguh! Tidak bisakah mereka membuat klub dengan nama dan kegiatan lain yang bersikap normal?

Untuk sekarang rasanya otak bodoh Issei baru memikirkan hal itu. Tapi masa bodoh dengan itu, itu urusan mereka dan urusan ia dengan ketua klub itu hanyalah mengantarkan sebuah surat pemberitahuan dari seorang Sensei bahasa Inggris yang mengajar kelasnya tadi untuk menyampaikan surat ini kepada Gremory. Entah surat pemberitahuan apa ini tapi Issei tak bisa menolak itu karena satu ancaman yang diberikan Sensei tersebut.

Nilai ujiannya yang diperbaiki atau ia bisa mengulang ujian sendirian kalau tidak mau mengantarkan surat ini.

Hey, tentu saja dia tidak mau ujian sendirian. Apalagi ketika di mata pelajaran dimana ia cukup bodoh dengan hanya mendapat nilai 60. Ujian sendirian itu tidak enak. Tidak ada yang bisa memberikannya contekan!

Jadi ... dengan rasa berat hati, ia diharuskan memilih dan ia memilih mengantarkan surat pemberitahuan ini. Hanya berjalan ke sana, minta ijin bertemu, menyerahkan surat ini dan pulang. Tidak sulit dan meskipun ia enggan melihat wajah para iblis itu, ia mengerti hal tersebut harus dikesampingkan dan ia harus berlaku sebagai sesama murid.

Langkah kakinya membawanya berjalan dengan cepat. Pemuda berambut coklat jabrik yang menenteng tas dengan satu pegangan di belakang punggung itu sementara satu tangan lainnya membawa surat pemberitahuan menyadari dia sudah sampai di depan pintu masuk ruang klub.

Ia berniat mengetuk pintu dengan sopan namun satu hal membuatnya langsung mengurungkan niatnya.

"Sudah kubilang aku tidak mau menikah denganmu Riser!"

Suara teriakan gadis yang Issei rasa berasal dari dalam terdengar hingga keluar. Suara dari Rias Gremory yang naik dengan nada marah penolakan menolak pernikahan. Hal itu pula yang membuat Issei menjadi bertanya.

'Gremory-san akan menikah?' Pikir Issei. ' Di usia sekolah sudah akan menikah? Dia kelas tiga bukan?'

Issei terdiam sejenak. Ia masih berpikir. Mungkin itu pernikahan yang direncanakan oleh kedua orang tua Rias Gremory dan itu dilakukan setelah lulus akademi atau apapun itu, Issei tidak peduli. Dan lagi kalau jika di dalam masih ada pertemuan bukankah tidak sopan jika ia masuk dan menganggu jalannya pertemuan? Apalagi jika masuk ketika tensi di dalam ruangan sepertinya sedang panas. Haruskah ia menunggu? Tapi jika menunggu, ia juga ada hal yang harus ia lakukan juga setelah pulang ini. Issei tidak tahu juga kalau yang ada di dalam masih lama dalam diskusi mereka atau tidak.

[Kau mungkin bisa masuk sekarang. Kau tahu guru pirangmu itu keras sekali kalau soal ketepatan waktu. Namun hati-hati. Di dalam ada iblis lain.]

Suara dari Draig menggema di kepalanya membuat Issei langsung teringat dan pucat. Issei bahkan mengabaikan kalimat terakhir Ddraig.

Sialan!

Ddraig benar. Naruto-sensei, entah sejak kapan ia memanggilnya begitu karena biasanya ia memanggil Naruto dengan sebutan Oyaji, pasti akan memberinya hukuman jika sampai ia terlambat nanti. Jika hukumannya ringan tentu Issei tidak peduli. Tapi jika hukumannya seperti hari kemarin disaat ia telat karena harus membeli kaset eroge terbaru dari seri Imouto-chan yang menampilkan adik lucu dengan pakaian bikini bergairah.

Katakanlah Issei tidak mau lagi belajar renang dengan memakai armor seberat lima puluh kilo! Itu sangat menguras tenaganya apalagi dia juga hampir tenggelam ke dasar!

Naruto-sensei… Dia itu seorang sadis kalau urusan latihan.

Jadi tidak perlu menunggu lagi. Persetan dengan mereka yang berdebat di dalam. Dengan cepat Issei langsung meraih gagang pintu dan membukanya.

"Maaf! Aku mencari Gremory-san karena ingin mengantarkan surat pemberitahuan dari Katagiri-sensei!"

Kedatangannya yang tiba-tiba tentu saja membuat semua pasang mata yang ada di sana tertuju padanya. Rias Gremory yang berada di belakang meja besar, Akeno Himejima yang memegang nampan di sudut ruangan, si pria tampan sialan, Yuuto Kiba yang terlihat tegang dan si maskot sekolah, Toujou Koneko yang duduk di sofa melihatnya dengan tatapan takut.

Ia juga mendapati seorang wanita dewasa dengan pakaian pelayan juga pria pirang dengan setelan jas yang rasanya dari wajahnya menunjukkan tanda ketidaksukaannya karena Issei tiba-tiba masuk ke dalam.

Apalagi tatapan tajam dari wanita berpakaian pelayan yang kini menatapnya tajam.

"Siapa kau yang lancang sekali masuk tanpa ijin?!" Si pria pirang dengan wajah kesal itu bertanya menghadap ke arah Issei.

"Maaf ... aku tidak berniat menganggu apapun. Aku kemari hanya ingin mengantarkan surat ini dari Katagiri-sensei untuk Gremory-san." Issei berusaha memberikan maksud tujuannya. "Dengar ... aku tahu ini sepertinya sedang ada pertemuan penting tapi aku juga sama pentingnya karena aku ada jadwal penting setelah ini dan aku tidak tahu kapan pertemuan kalian selesai jadi aku hanya meminta waktu sebentar untuk mengantarkan surat in-"

Ucapan Issei terhenti dan ia menghindar ke samping dengan cepat ketika sebuah bola api tiba-tiba datang dengan cepat menuju arahnya. Jika Issei adalah anak yang belum mendapatkan pelatihan dari Naruto, menghindari bola api tadi adalah perkara sulit.

"Riser!" Teriak Rias Gremory yang Issei lihat berteriak ketika ia berhasil menghindari bola api tadi.

Dengan tatapan yang berubah tajam, Issei menegakkan tubuhnya sembari memberikan pandangan datar.

"Apa maksudmu barusan?" Issei berucap dengan begitu dingin. Nada bicaranya berubah menjadi berat.

Dan ketika Issei mengatakan hal tersebut Rias Gremory dan anggota kelompoknya melihat dengan pandangan takut. Karena untuk mereka yang pernah bertemu dan bicara dengan pemuda berambut coklat itu, terakhir kali mereka melihat ketakutan terbesar mereka akan kematian.

"Apa maksudku barusan? Tentu saja karena kau sudah menganggu pertemuan penting ini, manusia rendahan, maka kau harus mati." Pria pirang yang Issei tahu bernama Riser dari Gremory tadi berteriak memanggil namanya kembali membuat bola api di telapak tangannya, berniat untuk melemparkannya kepada Issei yang melihat dengan wajah berubah kesal karena ucapan pria pirang itu.

"Riser, jangan!"

Mati? Manusia rendahan?

Yang benar saja, jangan bercanda sialan!

[Mau menunjukkan jika kepribadian kita bersatu pada mereka? Pada para iblis kecil ini?] Suara Ddraig kembali menggema di kepala Issei.

'Ya. Mari kita intimidasi mereka tanpa menahan apapun Ddraig!'

Mata hitam itu berubah, mata predator melihat dengan tatapan marah dan aura hewan buas keluar dari tubuh pemuda berambut coklat itu yang membuat semuanya berubah.


-3-


Ketika Rias Gremory berteriak untuk mencegah Riser Phoenix, iblis dari pillar Phoenix melemparkan bola api keduanya kepada pemuda berambut coklat bernama Issei Hyoudou yang merupakan pemegang sacred gear Boosted Gear, satu dari tiga belas Longinus atau senjata suci yang diperkirakan bisa melampaui kekuatan dewa itu sendiri, itu sudahlah sangat terlambat.

Dan iblis dengan sebutan Ruin Princess itu harus bergetar ketakutan kembali ketika merasakan aura naga keluar dari tubuh pemuda itu dengan begitu ganasnya, tidak terkendali seperti di awal mereka bertemu. Bukan! Ini bahkan lebih ganas lagi dan seolah membentuk siluet kepala naga merah di belakang Issei yang menatap tajam dengam hembusan api keluar dari mulutnya seperti predator yang mengunci mangsanya dan mangsanya tidak bisa berbuat apapun.

Rias mengakui, langkah yang di tempuhnya dulu salah dengan membiarkan Issei Hyoudou harus mati dahulu sebelum ia membangkitkan pemuda coklat itu sebagai budak karena ia berpikir jika dengan cara demikian ia bisa mendapatkan budak yang loyal karena Issei akan berhutang nyawa kepadanya.

Rencananya salah dan hancur. Hancur besar.

Ketika ia dan Sona yang meminta untuk menemaninya meski Rias tahu Sona berniat untuk tahu bagaimana Issei bisa selamat dari malaikat jatuh dimana gadis ketua Osis itu berspekulasi bahwa Issei diselamatkan oleh orang yang mengerti dunia supernatural, mereka semua menemui Issei yang telah berbeda. Tatapan mesum yang biasa ia lihat berubah menajam.

Bahkan Koneko yang merupakan ras Nekoushou yang memiliki sensor kuat begitu ketakutan ketika satu ruangan dengan pemuda berambut coklat itu. Koneko lebih sensitif terhadap sesuatu dan melihat Koneko seperti itu, dia masih mengabaikan hal tersebut.

Dan puncaknya adalah ketika pembicaraan mereka menjadi kacau lagi karena dirinya yang enggan meminta maaf, Rias harus melihat bagaimana dia hampir mati.

Benar! Ketika Issei saat itu melepaskan aura naganya, ia berani bersumpah ia melihat bagaimana ia akan mati. Ia melihat tubuhnya dikoyak dengan ganas dan tanpa ampun seperti daging tidak berharga. Hal itu membuatnya tak bisa bicara bahkan setelah Issei pergi dari ruang pembicaraan mereka kala itu, ia dan juga yang lainnya masih membeku takut. Tubuh mereka bergetar. Jadi sejak itu mereka benar-benar mencoba untuk menjauhi pemuda berambut coklat itu.

Karena mereka tahu memprovokasi naga itu sangatlah buruk. Mereka sudah mendengar bagaimana di dunia bawah Tuan dari pilar Phoenix dahulu mencoba mengalahkan Tannin, raja para naga yang termasuk kelas Ultimate tapi tuan dari pilar Phoenix yang juga masuk kelas Ultimate kalah begitu saja hingga babak belur sampai dibuat mainan saja. Jika raja para naga saja seperti itu, bagaimana dengan naga sekelas Naga surga yang peringkatnya dikabarkan jauh lebih tinggi dari Tannin? Memikirkan itu sudah membuat mereka merasakan ketakutan begitu hebat. Bahkan ketika dikatakan mereka tersegel di sacred gear mereka masihlah berbahaya.

Jadi ketika ia berharap kali ini ia melihat Issei yang tiba-tiba masuk untuk mengantarkan surat ke dalam ruangannya, ia tidak bisa terkejut dan ingatan ketakutannya terulang lagi. Baru ketika ia melihat bola api meluncur cepat ia mampu berteriak pada iblis Phoenix itu dan belum sempat ia akan mengatakan sesuatu, Riser sudah bicara lagi dan kali ini berkata akan membunuh Issei dengan membuat bola api yang siap dilemparkan yang dilihat Issei sebagai tanda tidak sukanya dia. Rias tahu ia harus memperingatkan itu namun sekali lagi ia katakan itu sudahlah terlambat.

Siluet naga itu memandang dengan tatapan tajamnya. Semua yang ada di sana, semuanya bergetar menahan takut. Grayfia, ratu dari peerage kakaknya yang merupakan seorang Maou yang termasuk iblis kelas Ultimate yang berpakaian pelayan dan bertindak sebagai mediator pertemuan ini, Rias bisa melihat butir-butir keringat dingin tanda melawan aura ini terlihat jelas turun dari dahi Grayfia.

Sedangkan untuk Riser? Rias bersumpah ia melihat wajah itu berubah menjadi pucat. Wajah arogan dari putra kedua tuan Phoenix yang terkenal selalu menyombongkan kekuatan regenerasinya yang begitu hebat juga kekuatan apinya kini terlihat menciut tanpa sebuah lilin yang tiba-tiba ditutup sebuah gelas kaca dan tinggal menunggu untuk mati saja, Riser kini hanya pucat saja wajahnya. Tubuh pria itu bergetar.

" Kau berkata ingin me mbunuhku?"

Suara yang berubah dan bercampur dengan suara sangat berat keluar dari mulut pemuda berambut coklat yang berdiri tegak itu. Sinar kehijauan keluar dari tangan kiri menyilaukan ruangan dan sacred gear yang termasuk tiga belas Longinus keluar dalam kejayaan.

Bagaimana hal ini bisa berubah menjadi lebih buruk?

" Mari kita lihat bagai mana iblis kecil sepertimu mela kukannya."


[...Awal mula konflik selesai...]


Fiuh ... chapter ini selesai juga.


Yahallo ... bertemu lagi dengan Sora dan Shiro yang sudah Henshin dan berubah, aku persembahkan chapter terbaru dari cerita ini. Semoga semakin membuat penasaran saja.

Untuk konflik Issei mungkin sudah mainstrem tapi aku mencoba membuat kejutan di chapter depan. Juga mengusahakan chapter yang lebih panjang karena akan berisi sedikit adegan fight awal dari problem Issei yang mulai masuk ke dunia supernatural.