"Kenapa diam?"
Suara itu berubah menjadi sangat berat. Seperti sebuah suara yang mengejek namun bukan hanya sekedar mengejek. Suara itu punya dukungan untuk berhak mengejek.
"Ke mana kesombonganmu ta di?"
Apa yang Riser lihat adalah sang naga yang mendekatkan diri ke arahnya. Melihat siluet naga merah besar dibelakang pemuda berambut coklat jabrik itu menatapnya dengan taring-taring tajam miliknya sembari menyeringai kejam dan haus darah.
Langkah kaki Issei yang mendekat ke arah Riser menjadi seperti sebuah langkah dewa kematian datang mendekat.
Tidak ada yang bisa bicara. Semuanya terlalu sulit hanya untuk mengeluarkan sebuah kata ketika tekanan dari seorang Hyodou Issei dengan Ddraig menguar tanpa batas di dalam ruangan.
Sangat liar dan tidak terkendali.
Seperti rasanya ditarik langsung ke dalam air yang sangat dalam dan ditekan dari segala arah. Bahkan bernafas-pun mulai menjadi sulit.
Bruk! Bruk! Bruk!
Bagi mereka yang lemah, beberapa mulai pingsan.
Dimulai dari Toujou Koneko lalu Yuuto Kiba dan kemudian Himejima Akeno, mereka yang mati-matian menahan aura ganas tidak terkendali ini sudah tidak mampu menahannya dan kesadaran mereka menghilang.
Sedang untuk seorang Rias Gremory?
Gadis dengan warna rambut merah pekat itu kini berlutut menahan aura yang semakin lama semakin membebani udara.
Lalu untuk Grayfia Lucifuge, ratu dari peerage seorang Maou itu kini mengeluarkan bulir keringat lebih banyak.
Grayfia harus bertindak. Jika tidak ini akan bertambah buruk.
Apalagi jika ini sampai melawan pengguna dari Boosted Gear yang mampu mengeluarkan aura naga sampai seperti ini.
Aura ini bahkan sama seperti aura naga yang benar-benar masih hidup.
Grayfia tidak menyangka bahwa apa yang diberitahukan Rias padanya beberapa hari lalu soal pengguna Sacred Gear kuat yang berdiam di Kuoh dan satu akademi dengan iblis iblis ini bukanlah bualan terlebih dengan apa yang sekarang ini dilihat dengan kedua matanya.
Siapa naga jika bukan mereka yang menduduki rantai puncak kekuatan? Makhluk yang terlahir untuk menjadi predator di dunia ini. Makhluk yang telah membuktikan dirinya berkali-kali dalam sebuah pertarungan. Bahkan saat ini puncak kekuatan tertinggi tetap disandang oleh kaum naga dengan perwakilannya yang berdiam di celah dimensi. Atau bagaimana dengan Ouroboros?
Dan ketika Grayfia merasakan aura ini dia harus mengakui. Ini bukanlah pengguna Boosted Gear yang normal.
Berapa kali iblis sudah bertemu dengan pengguna Boosted Gear di masa lalu? Berapa kali sampai ada pertarungan dengan mereka atau permusuhan dengan mereka karena setiap pengguna Boosted Gear ataupun pemilik Sacred Gear dengan jiwa naga cenderung tidak pernah mau menjadi bawahan siapapun? Naga dan kebanggaan mereka tidak pernah ingin menjadi bawahan siapapun.
Berbeda dengan Tannin sang raja naga yang menjadi iblis karena suatu hal yang berurusan dengan wilayah untuk para naga, naga lain tidak sepengertian Tannin.
Bahkan banyak di masa lalu pengguna Boosted Gear atau sacred gear dengan jiwa naga didalamnya tidak pernah mau membantu Host mereka ketika mereka menjadi bawahan siapapun. Naga hanya tunduk kepada sesama naga yang mereka akui kekuatannya di mata mereka.
Namun di masa lalu tidak ada pengguna Boosted Gear yang bisa mencapai tingkat dimana bisa mengeluarkan aura naganya sampai seperti ini. Tidak bahkan dengan pengguna terkuatnya yang sempat terekam sejarah.
Hal ini tidak masuk akal karena jika ada yang sampai bisa mengeluarkan aura sampai seperti ini, berarti pengguna sacred gear Boosted Gear itu sudah mencapai tingkat lebih tinggi lagi yang artinya mudah saja jika dipikirkan sederhana.
Hyoudou Issei bisa menggunakan sacred gearnya dengan sangat baik melebihi apa yang sudah dilakukan oleh pendahulunya yang dikatakan sebagai Sekiryutei terkuat.
Setidaknya itu adalah apa yang ada di pikiran Grayfia. Itu sangat mengerikan untuk dipikirkan apalagi ketika melihat wajah Hyoudou Issei yang masih sangat muda. Pemuda itu bahkan masih berusia satu tahun di bawah Rias Gremory.
Dan untuk mengetahui hal itu sekarang? Kemana selama ini mereka para iblis untuk membiarkan pengguna sacred gear seperti ini bisa lolos dari pengamatan?
Grayfia harus bertindak sekarang. Namun ketika bidak Ratu dari peerage Maou tersebut melihat dengan mata mengecil ketika tindakan yang akan dia ambil sudah terlambat.
"S ebagai kebaikanku, kubalas seranga nmu tadi sa mpah."
Duakhhhh!
Grayfia tidak sempat mengeluarkan sihir untuk menahan Hyoudou Issei yang sudah berdiri di depan Riser Phoenix yang tengah mematung tidak mampu berbuat apapun dan melakukan tendangan ke badan iblis pirang tunangan Rias Gremory, adik dari Maou tersebut.
Tendangan yang menimbulkan gelombang kejut udara itu membuat Riser terlempar ke dinding lalu membuat iblis pirang itu menghancurkan dinding bangunan yang ditabraknya akibat dari kuatnya tendangan Issei kepada iblis pirang Phoenix itu.
"Riser-sama!" Grayfia bersuara dengan sedikit berteriak.
Booommmm!
Grayfia melihat iblis pirang tunangan Rias Gremory yang ditendang Issei mendarat di halaman belakang gedung tempat klub Rias dengan sangat keras hingga asap debu berterbangan.
Harusnya tidak seperti ini. Ini sama sekali bukan seperti yang direncanakan Sirzech suaminya. Dia dikirim kemari hanya untuk mengawasi agar tidak terjadi permusuhan yang berlebih sekaligus menjaga perilaku kedua iblis kelas tinggi yang saling bertemu membahas pertunangan kontrak mereka. Sekalian juga menjaga agar tidak terjadi sesuatu pada keduanya.
Sedang untuk Issei, dia hanya bisa mengeluarkan tatapan bingung.
"Huh?"
Kata Naruto Oyaji, atau Naruto-sensei, dia menyebutkan begitu sekarang, iblis setidaknya punya fisik yang jauh lebih diatas manusia jadi tendangan biasa tidak akan mempan. Makanya dia tadi menendang dengan tiga perempat kekuatannya karena dia pikir Iblis itu setidaknya hanya akan menabrak dinding saja karena Naruto saja dia tendang begitu sama sekali tidak bergeming.
Jadi dia sedikit bingung dengan ini.
[Jangan bingung! Yang kau tendang itu hanya iblis kelas tinggi yang terlihat jelas dimataku kualitasnya sangat turun daripada mereka yang hidup di waktu perang antar tiga fraksi. Lagipula lupakan gurumu itu, dia itu tidak normal, kekuatannya tidak normal. Mungkin yang harus kau waspadai ada di belakangmu. Yang berpakaian Maid itu sangat kuat hingga bisa menahan aura yang sudah kulepaskan hampir setengah dari auraku ketika aku masih hidup.]
Issei menoleh ke belakang melihat ke arah Grayfia Lucifuge. Untuk Rias Gremory? Issei mendengar suara orang ambruk. Mungkin iblis itu pingsan.
'Kau bercanda Ddraig? Apa berarti Maid itu sangat kuat?'
[Dia masuk kelas Ultimate. Kelas iblis yang bisa sedikit membuat goresan di kulitku jika dia mengeluarkan kekuatan penuhnya ketika aku masih hidup. Tapi untuk melawanmu kau mungkin akan kalah telak. Kau masih kurang stamina meski kau bisa menggunakan Balance Breaker yang kau buka waktu latihan kemarin.]
'Lalu kenapa kau tidak memperingatkan sejak awal?!'
[Kau diserang duluan. Aku tidak punya waktu memperingatkan.]
'Kau bisa memperingatkan ketika aku menunggu di depan pintu masuk tadi sialan!'
[Aku malas. Lagipula aku ingin sedikit hiburan.]
'Hiburan apa yang kau maksud dengan ini sialan!'
[Jangan khawatir. Iblis berpakaian Maid itu tidak akan bertindak bodoh. Dia tahu kita bisa saja membunuh apa yang ada di sekitar kita. Iblis itu lebih peduli sekitarnya.]
Ya, yang dikatakan Ddraig benar.
Karena saat ini Grayfia memang lebih khawatir dengan iblis sekitar mereka. Terutama adik iparnya Rias Gremory.
Hal itu terlihat sedikit namun ditutupi dengan wajah yang berubah menjadi sangat waspada ketika Issei berbalik.
Pemuda itu tidak ingin membuat masalah tapi kenapa masalah datang menghampirinya?
Mata Grayfia melihat dengan sangat waspada. Maid itu melihat gerak gerik pemuda berambut coklat itu jika seandainya Issei akan menyerang lagi.
Namun hal itu tidak ada dalam pikiran seorang Hyoudou Issei.
'Ddraig. Bisa kita hentikan penyatuan kepribadian ini?' pinta Issei lewat komunikasi pikiran dengan patnernya itu.
[Kau yakin?]
'Kita sudah memberikan tendangan balasan pada iblis pirang arogan itu, kurasa itu sudah cukup. Lagipula aku tidak mau bertarung sekarang. Kau bilang aku akan kalah kan kalau bertarung sekarang? Setidaknya kita sudah membodohi Maid ini dengan aura kita yang membuat Maid ini berpikir kita ini kuat.'
[Baiklah jika begitu maumu.]
Dengan Issei menutup matanya. Aura naganya di tarik kembali. Udara yang berat kembali normal dan Issei mengambil nafas dalam sebelum membuka matanya untuk bicara.
"Aku tidak berniat bertarung." Ucapan jujur keluar dari mulut Issei. Hal itu tidak membuat kewaspadaan di dalam diri Grayfia menurun.
"Lalu kenapa anda menyerang salah satu dari kami?" Grayfia bertanya demikian namun Issei justru menaikkan alis.
Menyerang? Dia hanya membalas serangan yang dilancarkan ke arahnya.
"Kau bercanda?" Issei berkata dengan wajah yang memperlihatkan pandangan 'Apa kau itu bodoh?'
Dan sepertinya wajahnya itu sedikit menyinggung Grayfia karena perempatan kecil muncul di dahi wanita berpakaian Maid tersebut.
"Dia menyerangku duluan. Aku hanya membalas." Kata Issei memperjelas maksud ucapannya.
"Tapi itu melanggar aturan. Tidak ada yang memperbolehkan seseorang menyerang seorang iblis kelas tinggi dari keluarga Pillar."
"Aturan darimana itu? Kau pikir kau ada di mana? Dunia bawah?" Issei membalas dengan melipat tangannya di depan dada.
Ucapan Issei langsung menyadarkan Grayfia Lucifuge.
Benar. Ini adalah dunia manusia. Aturan itu tidak akan pernah terdengar di sini. Kenapa Grayfia bisa sampai lupa akan hal itu?
[Kau jadi sedikit pintar membalas setelah lama bergaul dengan guru monstermu itu Issei.]
Ddraig berkomentar lewat telepatinya dan Issei merasa dia ingin kesal.
Apa itu artinya dia selama ini bodoh?
[Tidak. Kau tidak bodoh. Kau hanya seorang idiot.]
'Sialan kau Ddraig!'
[Aku hanya bicara jujur. Kau jadi sedikit pintar setelah banyak bertukar banyak cerita dengan guru monstermu itu. Gurumu itu mengajarkan banyak hal padamu bukan?]
Melihat apa yang ada dibalik sesuatu dengan lebih baik.
Issei tidak mau mengakuinya tapi itu benar.
Naruto-sensei tidak hanya mengajarkan cara bertarung namun juga filosofi dan cara berpikir untuk orang bodoh sepertinya agar lebih mudah memahami dunia bekerja dan pandangannya.
Apalagi ketika Issei tahu dia hidup di dunia yang rumit. Dunia yang rusak.
"Anda benar Sekiryutei-sama. Lalu apa yang akan anda lakukan sekarang?" Grayfia berucap dengan sopan. Memanggil Issei dengan sebutan pengguna Boosted Gear yang membuat Issei menaikkan alis.
Apa-apaan dengan suffiks -sama itu? Itu berlebihan. Jika saja yang memanggilnya demikian adalah gadis manusia dengan pakaian Maid yang cantik mungkin Issei akan sangat bahagia. Sayang yang memanggilnya adalah wanita iblis.
Issei... Dia menaruh rasa tidak suka dengan para makhluk supernatural terutama iblis karena perbuatan Rias Gremory.
"Pergi pulang. Aku hanya datang mengantarkan surat untuk Gremory-san itu dari sensei. Tidak lebih tidak kur-..."
[Oi, serangan datang dari belakang.]
Ucapan Ddraig lewat telepati membuat Issei berhenti bicara dan menoleh.
Untuk melihat sebuah bola api dengan warna oranye yang bersuhu lebih panas mengarah kepadanya dengan sangat cepat.
Bernafas lelah... Issei ingat tendangan itu mungkin menerbangkan iblis pirang itu tapi tidak mungkin membuat iblis itu pingsan.
Pemuda pirang itu berbalik. Tangan yang bersinar dan terselimuti Boosted Gear menahan serangan bola api itu.
Lalu menghilangkannya dengan genggaman tangan.
"Sialan!"
Issei mendengar suara teriakan dari iblis yang terbang di luar. Iblis bernama Riser itu terlihat marah.
Sangat marah.
"Kau cuma pengguna Boosted Gear sialan! Kau cuma kadal!"
Oh dia mengenali sacred gear miliknya dan baru saja merasakan aura Ddraig sekarang dia malah tidak takut padahal tadi wajahnya pucat. Mungkinkah karena aura Ddraig sudah tidak ada jadi dia berani bertindak?
Dua tangan iblis bernama Riser itu mengarah ke atas, bola api dengan ukuran sangat besar tercipta di sana.
Ukuran yang sangat besar. Pasti itu banyak menghabiskan energi untuk membuatnya.
Dia berniat seperti akan meratakan bangunan klub ini.
Astaga. Issei tidak suka ini.
'Ddraig, kita buat pingsan saja?'
Jiwa dari kaisar naga merah itu menjawab lewat deklarasi permata hijau di Boosted Gear.
[Partial Equipment : Double Gauntlet and Leg Armor!]
Cahaya hijau bersinar dan kedua tangan serta kaki Issei sudah terlapisi armor merah.
[Boost! x3]
[Enchance : Speed!]
Issei merasakan energi menyeruak setelah tiga kali penggandaan dan energi itu dipakai untuk menaikkan kecepatannya.
Krak!
Lesatan Issei meninggalkan retakan di dalam ruang bangunan tempatnya berdiri tadi.
Jika Issei hanya mengandalkan kecepatannya yang biasa, dia pasti akan terlihat tapi dengan menggandakan kecepatan yang dia miliki, dia bisa mendapatkan kecepatan yang di butuhkan.
Kecepatan yang seperti seorang bidak Kuda dalam sebuah evil piece.
Seperti sebuah blur, Issei tiba-tiba sudah berada di depan Riser yang sangat terkejut.
[Hei, pukul keras wajahnya karena sudah mengatai kadal.]
'Dengan senang hati.'
Issei menyeringai. Boosted Gear bersinar.
[Boost! x3]
Dan tinjuan sarung tangan bersinar itu mengenai tepat tubuh dari iblis pirang bernama Riser, namun itu tidak berhenti disana karena itu meninggalkan tanda disana. Bola api yang dibuat iblis itu lenyap.
Mata Issei melihat tinjuannya yang kembali menghempaskan iblis itu kebawah dengan cepat hingga menabrak tanah dan menghasilkan dentuman. Mengabaikan itu Issei kemudian menjentikkan jarinya yang terlapisi oleh sarung tangan Boosted Gear.
Ledakan terjadi setelahnya karena Issei meledakkan tanda yang dia tinggalkan sewaktu memukul iblis itu.
[Explosion!]
Booom!
Tapi itu masih belum selesai. Mungkin ini sedikit berlebihan tapi Issei merasa ini bisa membuat iblis pirang itu pingsan.
Issei mengangkat satu tangannya. Dentuman energi terjadi. Mulanya itu sebuah bola kecil sebesar bola golf lalu kemudian membesar menjadi seukuran bola basket.
Itu dia lemparkan ke arah Riser yang masih ada di kumpulan asap debu.
"Dragon Shoot!"
Seperti sebuah lemparan pemain baseball, Issei melemparkan Dragon Shoot dengan kekuatan yang di tambahkan begitu kuat di tangannya untuk menambah kecepatan lemparan itu.
Booom!
Udara bergetar kali ini dan Issei tertegun setelahnya.
Dragon Shootnya menabrak kubah es tipis yang memerangkap Riser di dalamnya dan meskipun serangan Dragon Shoot Issei tepat mengenai kubah es itu, kubah es itu tidaklah terlihat retak.
Issei menoleh ke arah lubang dinding bangunan yang jebol dan melihat Maid dengan rambut peraknya yang berdiri di sana.
Maid itu melindungi iblis pirang bernama Riser tersebut. Iblis pirang itu masih hidup dengan wajah separuh hancur yang terlihat wajah yang separuh hancur itu mengeluarkan api dan meregenerasikan wajah baru. Mata iblis pirang itu terlihat marah namun dia tidak bisa berbuat apa-apa terlebih ketika berada dalam kungkungan kubah es tersebut yang entah bagaimana menahan pergerakan iblis pirang arogan tersebut.
Issei yang mendarat di tanah kemudian memandang ke atas.
"Anda menyerang berlebihan Sekiryutei-sama." Maid itu berucap dengan nada dingin. Wajah datar itu terlihat mengintimidasi.
Jika Issei belum pernah tahu intimidasi dari Naruto mungkin dia sekarang akan sudah kencing di celana.
"Dia menyerang duluan... Lagi. Aku hanya membalas." Issei mengangkat bahu. "Jika kau bisa menahannya untuk tidak membuat serangan maka aku akan pergi dalam damai."
Ucapan Issei membuat Maid itu menaikkan alis.
"Benarkah?"
"Apa aku harus mengatakannya lagi? Lagipula aku memang tidak ingin bertarung. Kalaupun bertarung kita tahu apa akibatnya Maid-san bagi sekitar kita."
Grayfia terdiam sejenak. Itu benar, Grayfia tahu dampaknya akan sangat buruk bagi sekitar apalagi dia tidak tahu sampai dimana Issei menguasai kekuatan Boosted Gearnya.
Mengalah untuk saat ini dan mencari informasi lebih lanjut tentang pemuda itu lebih penting setelah ini. Apalagi setelah Grayfia nanti akan melaporkan ini pada sang Maou.
"Kalau begitu akan aku pastikan anda akan pergi dengan tenang, Sekiryutei-sama."
Issei hanya mengangguk dan kemudian berjalan pergi. Dia tidak khawatir diserang dari belakang karena Ddraig pasti akan memperingatkannya.
Yah, gertakan tadi berhasil. Batin Issei saat dia sudah menjauhi gedung lokasi para iblis itu berada.
[Kau benar, tapi sekarang kita akan berada dalam masalah serius.]
Issei berhenti berjalan. Pemuda itu kemudian baru sadar.
'Kita menarik perhatian lebih jauh, Sialan!'
-2-
Zeus terlihat di dalam kuil-nya yang berada di wilayah Olympus dengan wajah yang menunjukkan bahwa dia tengah dalam keadaan suasana hati sedang sangat buruk.
Bagaimana tidak buruk?
Senjatanya diambil Hestia dan Hestia sekarang menjadi dewi yang tidak dia duga sama sekali mampu melakukan sesuatu yang sangat diluar perkiraan.
Apalagi dengan kekuatan Hestia yang seperti itu.
Lalu dengan mudahnya Hestia juga membatalkan pernikahan Hera dengan dirinya. Itu artinya Hera kini menjadi dewi yang bebas dan bisa berbuat apa yang dia inginkan.
Termasuk kemungkinan untuk membalas dendam kepada dirinya.
Zeus, dewa dengan perawakan orang tua berjanggut putih dengan tubuh seperti binaragawan yang mengenakan pakaian toga putih itu mulai berpikir paranoid lagi.
Atau semua ini memang sudah direncanakan Hestia untuk menggulingkan dirinya dari tahtanya?
Arrrrggghhhhh!
Zeus berteriak, meneriakkan semua rasa frustasinya. Ini tidak boleh terjadi, ini tidak boleh dibiarkan! Dia adalah Raja dan dia tidak bisa digulingkan. Bahkan oleh Hestia ataupun yang lainnya.
Tatapan mata dewa petir Olympus itu berubah menjadi sarat kebencian.
Hestia.
Saudari tertuanya itu harus dilenyapkan sebelum semua bertambah buruk. Atau bahkan sebelum semua apa yang mungkin Hestia rencanakan akan terjadi.
Tapi bagaimana caranya? Bagaimana caranya menandingi kekuatan Hestia yang sudah berubah tersebut? Apalagi ketika Zeus tida tahu sampai dimana batasan kekuatan Hestia.
Pikiran ini harus berpikir keras sebelum kemudian dewa petir itu menyeringai.
Ini mungkin berhasil. Jika Zeus menawan Hera, maka Hestia pasti akan terpancing dan jika Hestia terpancing dengan kemarahan, Zeus bisa menggunakan alat itu pada saudari tertuanya tersebut.
Dengan berdiri dari tahta di ruang kuilnya. Dewa petir itu kemudian berjalan menuju ke cermin penunjuk yang mampu menunjukkan semua lokasi para dewa dewi Olympus.
Pertama dia harus tahu dimana Hera berada.
Dan sebuah cermin besar di istana Zeus bersinar dan menunjukkan lokasi dari dewi pernikahan Olympus itu.
Pemandangan yang membuat Zeus bertambah marah.
Karena dia melihat Hera bersama seorang pria pirang dan seorang anak kecil pirang di sebuah padang bunga tengah tersenyum bahagia semua.
Bahkan Hera tersenyum begitu tulus ketika anak kecil pirang itu bercanda dengan dewi pernikahan Olympus tersebut!
Heraaaaa! Dia rupanya berselingkuh! Jadi apakah ini kenapa Hestia membatalkan pernikahannya dengan Hera! Apa karena ini!? Awalnya dia tidak perlu melihat dimana Hera berada karena dia tahu Hera pergi ke mitologi Jepang brengsek itu mungkin hanya untuk menenangkan diri karena dia menyakitinya. Tapi dia tidak menyangka ini!
Zeus benar-benar marah sekarang.
Pikirannya menjadi buta sekarang.
"Aressss!"
Zeus berteriak dan memanggil anaknya si dewa perang Olympus dengan teriakan keras.
Dan Ares, dewa perang Olympus menjawab panggilan dengan muncul di kuil Zeus melalui lingkaran sihir khas Olympus.
Apa yang dilihat Ares adalah wajah marah Zeus dan kekuatan milik dewa petir itu berkobar begitu hebatnya. Petir-petir di atas kuil milik Zeus bergemuruh.
Dan perintah yang Ares terima adalah jelas ketika dia melihat apa yang ada di cermin milik Zeus.
"Bawa Hera kemari dan bunuh anak serta selingkuhan Hera tanpa diketahui Hestia dan aku akan berikan tahta Olympus untukmu!"
Oh ini adalah perintah yang begitu berbahaya dengan bayaran yang sangat ingin Ares dengar selama milenia.
Tahta Olympus.
Itu adalah apa yang diinginkan Ares selama ini dan dengan ini dewa perang itu bisa mendapatkan apa yang dia inginkan.
Dan ketika melihat Zeus seperti ini, Ares jadi tahu bagaimana dia harus bertindak apalagi dengan suasana Olympus yang benar-benar kacau akibat Hestia.
Saatnya dewa perang itu bertindak dengan penuh gaya.
-3-
Angin mendesir di waktu sore, seperti membawa sesuatu peringatan kepada dirinya yang kini tengah duduk di depan rumah yang dia punyai setelah pulang dari pikniknya dengan dua orang dewi Olympus tadi.
Asia berada di dalam kamarnya, kelelahan karena terlalu banyak bermain dengan kedua dewi Olympus dan sekarang ini putri kecilnya tersebut tengah tertidur pulas di atas ranjangnya.
Untuk Naruto sendiri, dia menikmati secangkir kopi di sore hari dengan sebuah rokok tersulut di antara jemarinya. Ini seperti bukan apa yang biasa dia lakukan.
Jika mendiang ibu Asia melihatnya seperti ini maka dipastikan wanita itu akan sangat marah melihatnya merokok dan mengomel.
Tapi entah kenapa, setelah mengantarkan kedua dewi itu ke hotel dimana mereka tinggal selama di kota ini, Naruto, dia sangat ingin merokok.
Dan tentu saja pria pirang itu melakukannya setelah Asia tertidur.
Angin sore yang berdesir ini tidak seperti biasanya dan Naruto menghisap rokoknya dengan pelan, menikmati asap yang berada di mulut.
Cahaya oranye senja terlihat di ufuk barat yang mulai meredup. Gelap akan segera tiba dan Naruto merasa sesuatu yang teramat besar akan terjadi di dunia ini.
Ini sangat terasa. Aliran angin dan bumi seakan memberitahu bahwa bahaya segera datang. Tidak perlu terhubung dengan senjutsu yang menarik chakra alam yang kotor di dunia ini untuk mengetahui bahwa daerah Kuoh ini sudah berbahaya. Instingnya sebagai shinobi juga telah berteriak bahaya dengan keras beberapa hari.
Jika masalah datang telah mulai berjalan, hidupnya jelas tidak akan tenang.
Asia juga tidak akan pernah bisa tenang.
Dan itu sangat Naruto benci. Dia setidaknya ingin Asia hidup normal dahulu selama masa kecilnya namun takdir serasa berkata lain untuk hari-hari yang kian berlalu.
Takdir dan waktu adalah seperti aliran sungai yang sudah tercetak namun tidak pernah diketahui kemana akhirnya. Semua akhir berakhir dengan berbagai kemungkinan.
Lalu Naruto menghembuskan asap keluar dari mulutnya dengan pelan. Di atas langit dia melihat gerombolan orang bersayap hitam yang terbang cepat.
Malaikat jatuh.
Malaikat yang terusir dari surga dan kehilangan cahayanya karena dosa yang mereka perbuat. Malaikat yang kemudian sayapnya berubah menghitam setelah banyak melakukan kejahatan. Mungkin itulah yang dia lihat karena banyaknya pengguna sacred gear yang terbunuh karena mereka.
Manusia yang terlahir dengan sacred gear kebanyakan tidak tahu menahu apapun dan mereka tetap dibunuh, atau mungkin mereka yang menampakkan potensi kemudian diperalat. Bahkan untuk Gereja saja, di dunia ini Gereja sudahlah tidak murni lagi.
Sungguh dunia yang rusak. Benar-benar rusak.
Dan di dunia yang rusak inilah Naruto harus menghabiskan masa hidupnya.
Gerombolan Malaikat jatuh di kota yang dipinjam oleh iblis. Malaikat Seraph yang menjadi guru di sekolah Asia. Iblis di akademi Issei. Dan dua dewi Olympus tengah berada di sini.
Kira-kira jika ada konflik kecil saja bersinggungan maka bagaimana takdir dan waktu membawa aliran ini berjalan?
Apalagi ketika muridnya mengeluarkan aura naga berat yang terasa sampai di kota ketika Naruto memasuki kota tadi ketika kembali.
Semua sudah mulai berjalan.
Mata biru miliknya kemudian melihat ke arah depan. Seorang pemuda berambut coklat jabrik datang berjalan dengan wajah yang terlihat Naruto ketahui jelas bagaimana wajah tersebut.
Pemuda itu kemudian membuka pagar pintu rumahnya yang tidak dia kunci. Wajah pemuda itu terlihat gugup.
Dan Naruto hanya tertawa kecil sambil membuang rokoknya ke halaman berumput di sudut rumah.
Angin berdesir kembali.
"Uhm... Sensei..."
Issei, dia bahkan sampai tergagap bicara.
"Kau mengacau bukan?"
Issei tersentak. Pandangan bocah itu seperti mengatakam bagaimanakah Naruto tahu bahwa dia mengacau.
Dasar... Issei masihlah perlu banyak belajar tentang sesuatu.
Naruto melihatnya lalu menghela nafas.
Cepat atau lambat memang ini akan terjadi.
"Ayo masuk." Naruto berkata dengan nada tenang dan berdiri dari duduknya. Dia kemudian mengambil kopi yang ada di meja kecil di sampingnya untuk dibawa ke dalam. "Aku akan buatkan ramen di dalam dan kita akan bicara bagaimana kekacauan yang kau buat."
Nada itu bukan terdengar sebuah perintah tapi sebuah nada yang berisi bahwa seorang guru akan memberikan pemecahan solusi yang terbaik untuk masalah muridnya semampu guru tersebut.
Dan Issei tanpa banyak bicara kemudian mengekor di belakang pria pirang yang sudah masuk duluan untuk masuk ke dalam rumah.
-4-
Hera tidak mengerti kenapa dia tidak bisa berhenti tersenyum sampai sekarang. Bahkan ketika dia kini sedang duduk di atas balkon kamar hotelnya dengan secangkir teh dan panorama bintang bertabur di langit malam, suasana malam ini terasa membuat hatinya terasa semakin nyaman saja. Bayang-bayang ingatan menyenangkan yang dia alami hari ini di waktu piknik dengan putri kecil pirang yang begitu manis dengan ayahnya baik dan Hestia terasa begitu membahagiakan.
Hera tidak pernah merasa dia sebahagia ini.
Perasaan ini nyata. Semua yang dia lalui di hari ini nyata.
Apalagi dengan tingkah Asia kecil yang terus mengajaknya bermain dan tersenyum.
Gadis kecil itu... Tanpa Hera sadari, dewi pernikahan Olympus itu seperti telah menjalin sebuah ikatan dengan gadis kecil itu.
Atau mungkin Hera tanpa sadar memang seperti terikat dengan gadis itu lewat takdir? Asia terasa seperti seorang puteri yang selama ini jauh ada di bayang-bayang Hera selama dia hidup. Seorang puteri yang ingin dia miliki namun hanya mampu di imajinasikan semata.
Belum lagi dengan.
" Kalian seperti dewi yang baru turun dari surga."
Kalimat yang terucap dengan senyuman teduh yang membuat hati Hera berdegup.
Hera tidak bisa rasanya melupakan senyuman itu. Senyuman murni itu, Hera merasa dirinya telah terpikat. Bohong jika dia tidak mengatakan hal tersebut.
Hal yang seharusnya tidak boleh dia lakukan! Dia tidak boleh terpikat! Dia bahkan baru saja bercerai!
Tapi kenapa senyuman pria pirang itu tidak mau hilang sejak tadi?!
Kenapa!
Hera tidak mengerti.
Apa dia...
Gelengan kepala kembali dilakukan Hera.
Hera mengakui memang Naruto adalah pria yang menarik, ayah yang baik dan seorang pria yang mungkin saja bernilai bagus di mata Hera. Kata-kata yang sopan, pandai membawa pembicaraan, atau bahkan pemberi saran yang baik.
Wajah yang tampan miliknya mungkin hanya sebagai bonus yang membuatnya menjadi mempunyai nilai yang sangat lebih.
Tapi apakah mungkin dia...
"Percayai hatimu."
Kata-kata Hestia membuat Hera bimbang.
Mungkin mengenal sedikit tentang Naruto-san tidaklah masalah sebelum dia mengerti apa maksud dari semua ucapan Hestia.
Ya... Itu mungkin yang terbaik.
[...Waktu berjalan selesai...]
Maaf baru update. Kesibukan sedang ada ditambah daya tahan tubuh berkurang. Yah... Kalian semua tahu maksudku senpai.
Maaf untuk chapter yang sedikit masih pendek. Kurasa untuk menulis chapter yang panjang akan memakan waktu lebih dari dua hari. Semua urusanku kini telah selesai jadi kini akan lebih banyak waktu luang. Aku juga sedang asyik menulis sesuatu juga.
Terima kasih untuk dukungan banyak kalian atas fic sederhana ini. Dukungan kalian banyak sekali memberikan arti bagiku. Seperti semuan stimulasi untuk menulis terus menerus.
Konflik sudah ditata dalam catatan. Tinggal disusun dalam satu Arc. Silahkan dinikmati persembahan sederhana selanjutnya.
